back to work

Aku tahu kalau mengubah pola hidup kembali pada rutinitas yang dulu pernah dijalani itu tidak akan mudah. Dua setengah tahun lamanya jeda yang telah diterima. Jeda selama itu mungkin saja tidak akan pernah diterima kembali, sudah sepatutnya aku bersyukur atas kesempatan yang telah diberikan kepadaku ini. Kesempatan untuk mengembangkan diri dan menambah wawasan keilmuan kini perlu pembuktian dan juga balasan kontribusi atas apa yang telah diberikan oleh organisasi. Aku harus kembali bekerja, tidak bisa berlama-lama dengan jeda yang diberikan hanya untuk sementara waktu ini.

Ada suka duka dalam hal tentang kembalinya bekerja ini. Hal yang paling berat untuk dijalani adalah berpisahnya dengan keluarga. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk lebih baik berpisah. Aku di ibukota, istri dan anakku tercinta di kota bunga. Hidup sendirian saja di ibukota tentu tidak mudah, apalagi jika harus terngiang rindu dengan keluarga yang terpisah jauh ratusan kilometer di sana. Getir rasanya. Tak bisa dipungkiri berat rasanya saat hari itu tiba, hari di mana harus berangkat menuju kota yang sudah terkenal dengan keberingasannya dan meninggalkan keluarga yang dicintai. Saat itu, sangat berharap semoga ini hanya sementara saja, tidak akan lama untuk kemudian bisa berkumpul kembali. Harapan inilah yang menguatkan untuk melangkah, tak boleh mundur melihat ke belakang.

Dengan kembali bekerja, maka penghasilan yang diterima menjadi lebih besar. Ini adalah hal yang diakui memang menjadi salah satu alasan untuk kembali bekerja. Sudah jengah rasanya menghadapi keterbatasan keuangan yang pernah dialami. Nilai uang semakin hari semakin naik, beban tanggungan untuk menghidupi keluarga juga semakin bertambah. Bekerja juga berkaitan tentang aktualisasi diri. Pada masa-masa terakhir dari penugasan belajar, tak sabar rasanya untuk mengetahui perkembangan organisasi terkini dan peran apa yang bisa dilakukan untuk ikut andil urun tangan.

Aku masih ingat bagaimana hari pertamaku bekerja kembali berlangsung. Aku jelas merasa canggung, gagap, dan bingung dengan apa yang harus dilakukan. Pengalaman lima tahun lebih bekerja sebelum tugas belajar seakan tak ada apa-apanya. Semuanya kembali menjadi nol, berhadapan dengan hal-hal baru, dan perlu menyesuaikan dengan orang-orang yang baru juga. Kantor pusat tidak lagi sama seperti sembilan tahun yang lalu saat aku magang dulu, sudah banyak perubahan terjadi.

Dengan perubahan-perubahan yang telah terjadi itu, ada satu hal yang tetap sama. Kenangan atas status magang di masa lalu terasa kembali. Pegawai magang adalah pegawai dengan status yang belum jelas. Satu sisi dinyatakan sebagai pegawai yang ikut bekerja dalam satu unit tertentu, tetapi dengan status kantor asal yang masih menempel. Pegawai magang tak bisa diberikan pekerjaan yang sifatnya permanen, strategis, dan melekat pada personel tertentu. Yang bisa dikerjakan oleh pegawai magang adalah hal yang sifatnya berbentuk dukungan teknis ataupun administrasi rutin klerikal.

Tak masalah sebenarnya dengan status magang ini. Hal ini dapat dimaklumi karena bagaimanapun juga ada jeda yang cukup lama sejak terakhir kalinya bekerja. Justru inilah menjadi permulaan yang tidak menjadikan diri kaget, perlahan memulai kembali dengan urusan-urusan yang ringan. Ada waktu yang diberikan juga untuk mengamati, belajar kembali, dan mengejar ketertinggalan perkembangan yang selama ini terjadi.

Kegiatan magang ini berlangsung pada satu unit yang sama selama satu setengah bulan. Lebih lama dari yang dulu pernah dijalani sembilan tahun yang lalu. Dulu, berpindah-pindah dari satu unit ke unit lain dalam hanya hitungan beberapa minggu saja, sehingga tidak terdapat kesan atau momen yang teringat jelas. Satu setengah bulan rasanya sudah menjadi waktu yang cukup sebagai pembelajaran, sudah saatnya untuk beranjak pada unit lainnya untuk belajar hal yang lain.

Rupanya apa yang kemudian dialami pada unit lainnya adalah hal yang berbeda kontras. Kali ini pada unit yang berbeda, perlakuan yang diterima adalah pengalaman yang benar-benar baru dirasakan. Unit ini adalah sebenarnya unit yang tepat dan sesuai dengan latar belakang pendidikan yang telah ditempuh. Pengalaman kerja sebelumnya juga sangat berkaitan erat dengan apa yang menjadi tugas pokok dari unit ini. Unit ini tidak memperlakukanku sebagaimana pegawai magang biasa, justru bagi mereka aku seakan menjadi pegawai yang dinanti-nantikan untuk bergabung memperkuat lini kinerja unit ini.

Dalam hitungan hari, pekerjaan-pekerjaan yang spesifik mulai diberikan dan intensitas mulai meningkat. Sudah hampir dianggap seperti pegawai yang memang ditempatkan pada unit ini. Interaksi dengan pegawai lainnya juga lebih dekat dan hangat. Beberapa kawan lama yang sudah dikenali dan ada di situ juga membantu dan berbagi cerita tentang apa saja yang perlu diketahui. Tak ada rentang kendali yang jauh dan kaku antara atasan dan bawahan. Setiap personel memiliki tugas yang spesifik, wawasan keahlian yang sudah teruji, dan mau bekerja sama dalam satu tim yang solid. Tugas unit ini yang sangat strategis juga memberikan kesempatan untuk dapat bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi yang dulu hanya bisa diketahui dari media massa. Ada kalanya terjadi intrik-intrik kecil, tetapi itu tidaklah berarti dan dapat dimaklumi karena tidak ada organisasi yang sempurna.

Satu setengah bulan yang kedua di unit ini hampir berakhir. Begitu cepat terasa, banyak hal yang terjadi. Memang sepertinya unit terakhir ini menjadi tempat yang ideal. Akan tetapi, jika memang untuk selanjutnya ditugaskan benar di unit ini, akankah ini menjadi tempat yang terbaik bagiku? Padahal tetap saja, hidup di ibukota ini sungguh membuat hati sering merasa kacau, lelah, dan galau. Ibukota bukanlah tempat yang ramah untuk hidup berkeluarga juga, ada banyak tantangan menanti jika membawa serta keluarga nantinya ke kota ini. Beban kerja juga sudah dapat diperkirakan bahwa nantinya akan ada konsekuensi tuntutan yang lebih berat, sigap, dan aktif. Dengan sifatnya yang strategis, maka harus siap juga mengorbankan lebih banyak tenaga, waktu, dan pikiran.

Saat ini aku hanya bisa berdoa, berharap atas penempatan yang terbaik. Dengan total tiga bulan yang telah dijalani sebagai pegawai magang sebagaimana yang telah diatur oleh ketentuan, sepertinya status magang ini sudah cukup untuk dijalani. Ada dua sisi berlawanan yang telah dirasakan, memang belum sepenuhnya pengalaman ini dapat dikatakan sudah memadai dan membuat diri layak dinyatakan siap benar-benar bekerja kembali, tetapi berlama-lama dengan status magang ini pun juga tidak nyaman. Perlu ada kepastian dan kejelasan di manakah nantinya tempat untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang agar bisa ditentukan rencana aksi yang tepat untuk hidup yang lebih baik dan terarah.

Bekerja itu memang sudah menjadi fase bagian hidup yang harus dilakukan. Bekerja juga menjadi bentuk pengabdian yang telah mengikat diri untuk berbakti pada negara. Bekerja mengangkat status hidup yang lebih layak. Kini sudah saatnya untuk kembali bekerja setelah jeda yang sementara. Tugas belajar telah menjadi momen yang sangat disyukuri sebagai jeda yang sesuai untuk berkembang. Apa yang dulu pernah dipelajari semoga bisa bermanfaat untuk pelaksanaan tugas selanjutnya. Ini sudah menjadi saat yang tepat, tidak boleh lagi menyesal untuk kembali, dan semoga juga tidak berapa lama kemudian bisa diberikan kesempatan untuk tugas belajar pada jenjang yang lebih tinggi.

Jakarta, 29 Juli 2019 23:55

5 respons untuk ‘back to work

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s