solo travelling menuju sawahlunto

Melihat dari peta Sumatera Barat sekilas, jarak antara Painan dan Sawahlunto bisa dibilang cukup jauh. Dari informasi yang saya dapatkan, jarak yang dibutuhkan untuk dilalui ada sekitar  172 km. Jalur pada jarak tersebut sepertinya hanya ada satu dengan melewati ibukota provinsi, kota Padang. Itu pun dari Painan, belum ada jasa transportasi yang menyediakan perjalanan langsung menuju ke kota tersebut. Perjalanan harus dilalui dengan menggunakan beberapa kali oper kendaraan. Dengan belum pernah berpengalaman dan bermodalkan informasi seadanya, saya coba untuk melakukan solo traveling ini, perjalanan menuju kota tua, tambang, dan kereta di Sumatera Barat, Sawahlunto.

P1150348Tanggal 30 Maret 2013 menjadi tanggal yang saya pilih untuk perjalanan Painan ke Sawahlunto yang sedari dulu sudah membuat saya penasaran. Ya, Sawahlunto dengan daya tarik keunikannya dari informasi yang saya ketahui, membuat saya begitu ingin untuk mengunjunginya dan merasakan langsung nuansa kota sejarahnya itu. Sebelum melakukan perjalanan ini, saya kumpulkan dulu informasi mengenai jalur tempuh menuju ke sana mengingat pada perjalanan ini akan saya lakukan dengan cara solo-traveling.

Cukup beresiko sebenarnya melakukan perjalanan ke kota yang masih asing dengan cara solo traveling. Cara seperti ini membutuhkan keberanian menepis keraguan selama perjalanan dan juga dibutuhkan komunikasi yang baik dengan orang setempat untuk menanyakan rute perjalanan agar tidak tersesat. Bagi saya, ada beberapa momen saat solo traveling menjadi cara yang terbaik dan paling menyenangkan untuk dijalani. Solo traveling menuju Sawahlunto menjadi salah satu momen perjalanan yang berkenang bagi saya. Dengan cara ini, saya dapat lebih fokus pada perjalanan, tujuan, dan kegiatan yang saya kehendaki tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Dengan cara ini juga, lebih membuka kesempatan saya untuk berani berinteraksi dengan masyarakat setempat dan momen kesendirian itu menjadi perenungan saya lebih memaknai perjalanan yang saya tempuh.

Dari informasi yang saya dapatkan, Painan-Sawahlunto diperkirakan dapat ditempuh pada rentang waktu sekitar 6-7 jam perjalanan. Perjalanan yang cukup jauh ini terpaksa tidak dapat dilakukan dalam sehari jadi atau one-day-trip. Apalagi dengan terbatasnya waktu liburan yang saya miliki untuk wisata kali ini, hanya ada dua hari saja sebenarnya. Perlu ada rencana untuk menginap saat perjalanan dan saya memilih untuk akan mencari penginapan di Sawahlunto agar lebih puas merasakan nuansa kota yang satu ini.

Rute Painan-Padang tidak terlalu mencemaskan bagi saya karena sudah terbiasa melaluinya. Yang menjadi kecemasan saya adalah belum adanya gambaran riil tentang rute selanjutnya, yaitu Padang-Sawahlunto. Selain informasi dari internet, memang sempat saya bertanya pada teman saya di Painan yang paham tentang rute antarkota di Sumatera Barat ini, namun rupanya kebanyakan melaluinya dengan kendaraan pribadi, tidak naik kendaraan umum seperti yang saya rencanakan. Hal ini menjadi tantangan untuk dapat mengetahui bagaimana caranya berkendaraan umum dari Painan ke Sawahlunto.

Beruntung kemudian, saya mendapatkan info bahwa di salah satu area di Kota Padang, Lubuk Begalung atau yang sering disebut Lubek, menjadi tempat pusatnya jasa travel kendaraan umum dari Padang menuju berbagai kota di Sumatera Barat. Di sana, saya cukup bertanya manakah jasa travel yang akan berangkat menuju Sawahlunto.

Malu bertanya, sesat di jalan. Peribahasa ini terus saya camkan selama solo traveling ini. Jika saya tidak bertanya dan hanya mengandalkan perkiraan semata, bisa jadi jalan menuju ke Sawahlunto akan ditempuh terlalu rumit. Selama perjalanan pun juga perlu bertanya untuk tahu saatnya jika nanti sudah sampai di tujuan agar tidak terlewat melampaui jarak yang seharusnya.

Dengan ongkos sekitar Rp 15.000 pada waktu itu dari Padang, saya berangkat menuju Sawahlunto setelah menempuh 2 jam perjalanan Painan-Padang. Estimasi waktu yang ditempuh adalah 3 jam. Perjalanan ini cukup lama, tetapi suguhan pemandangan sepanjang rute membuat saya tidak merasa bosan. Melewati daerah perbatasan Padang-Solok, ada kawasan Taman Hutan Raya Bung Hatta yang hutannya masih begitu lebat dan memberikan hawa dingin sejuk. Melewati daerah kelokan Sitinjau Lauik, tersaji pemandangan dari jalanan di tepi pegunungan yang menawan. Melewati daerah Kabupaten Solok, ada pemandangan lembah yang masih asri dengan pemukiman yang masih jarang.

Menjelang pukul 2 siang pada hari itu, akhirnya tanda-tanda yang menunjukkan sudah berada di kota Sawahlunto pun terlihat. Tak perlu susah mencari tanda semacam ini. Di daerah perbatasan kota, kota ini akan menyambut pengunjungnya dengan ikon tulisan besar SAWAHLUNTO  sebagai penunjuk daerah. Mulai dari daerah perbatasan ini, perjalanan hanya tinggal beberapa kilometer lagi menuju pusat kota. Dari daerah perbatasan yang konturnya berada di bukit, pusat kota yang ada di cekungan lembah sudah dapat terlihat saat sudah di sana. Ini menjadi sambutan yang memukau bagi saya.

sawahlunto3Solo traveling menuju Sawahlunto yang saya lakukan pada saat itu alhamdulillah berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Tidak ada kendala yang begitu berarti selama perjalanan dan tidak terjadi pula sesat tak tahu arah. Arus kendaraan dari Padang-Sawahlunto relatif ramai sehingga tidak perlu susah juga mencari sarana ke sana. Bahkan, saat perjalanan pulang menuju Painan, sempat harus mengantri pesanan jasa travel karena menumpuknya penumpang yang hendak pulang dari Sawahlunto.

Dengan pengalaman semacam ini dan kemudahan sarana yang ada, sepertinya pada kesempatan selanjutnya, tak bisa hanya sekali saja berkunjung di sana. Kalau ada waktu berwisata kembali, tak ada salahnya berkunjung kembali di Kota Tua, Kereta, dan Tambang yang satu ini…

prelude: kota tua, kereta, dan tambang

sawahlunto2Sawahlunto. Mendengar nama kota yang satu ini, terlintas di benak saya akan tiga hal. Tiga hal itu adalah kota tua, kota kereta, dan kota tambang. Pencitraan kota ini begitu kuat akan tiga hal tersebut. Sudah banyak cerita tentang Sawahlunto yang kesemuanya akan dapat disederhanakan menjadi hal itu. Kota ini menjadi unik dan memiliki daya tarik tersendiri karena hanyalah kota ini saja yang menyajikan ketiga macam wisata ini dalam satu paket.

Di sana, nuansa jaman dahulu dengan bangunan-bangunan era kolonial Belanda masih dapat dilihat. Bahkan sepertinya tetap dijaga orisinalitasnya, tidak dipugar disesuaikan dengan gaya masa kini. Walaupun tentu bangunan itu tampak rapuh dengan sudah sedemikian tuanya. Beberapa dari gedung itu masih digunakan  dan sudah diperbaiki bagian-bagian yang sudah lapuk dimakan jaman, tetapi tetap kesan kota tua Sawahlunto ini masih begitu kental terasa. Menyusuri jalanan pusat kota yang dipenuhi bangunan jaman dahulu semacam ini seakan terbawa oleh mesin pemutar waktu kembali ke masa-masa di mana bangunan ini dulu berjaya.

Mengenai kesannya sebagai kota kereta, Sawahlunto terkenal dengan museum kereta. Di sini, akan disajikan sejarah dan informasi mengenai perkembangan perkeretaapian dari sejak jaman awal mulanya hingga keadaan sekarang. Tidak hanya tentang pengetahuan yang diberikan oleh museum ini, pengunjung juga diberikan kesempatan untuk merasakan perjalanan berkereta api. Museum Kereta Api Sawahlunto, yang masih berfungsi sebagai stasiun kereta, juga menyediakan perjalanan jarak pendek menuju salah satu ikon wisata terkenal di Sumatera Barat, yaitu Danau Singkarak. Dengan jalur kereta yang akan menyusuri pinggir Danau Singkarak, pengunjung diberikan suguhan pemandangan kecantikan alam Ranah Minang.

Berbicara mengenai Sawahlunto, hal yang tidak dapat dilepas untuk dibahas adalah tentang penambangan di sana. Kota ini dari dulu sudah dikenal sebagai pemasok mineral kekayaan alam semacam batubara, emas, dan bahan galian lainnya. Walau sudah tidak seintens jaman dahulu, proses penambangan masih dilakukan di kota ini. Bahkan salah satu kantor pusat penambangan, PT Bukit Asam Tbk, masih beroperasi di Sawahlunto. Sejarah dari awal mula penambangan dilakukan di kota ini juga tersimpan terawat dengan baik pada Museum Goedang Ransoem yang dulunya adalah tempat penyiapan makanan bagi para penambang. Ada juga Lubang Mbah Suro sebagai bukti nyata betapa kerasnya kerja rodi penambangan di jaman kolonial dahulu kala.

sawahlunto1Jika dirunut tiga hal tentang Sawahlunto yang saya lontarkan ini, kesemuanya akan menuju pada tema umum yaitu mengenai kuatnya sejarah melekat pada kota ini. Kesan kota tuanya muncul karena sejarah bangunan-bangunan dari jaman dulu yang dipelihara hingga sekarang. Kesan kota keretanya muncul karena ada museum yang setia menjaga arsip sejarah perkeretaapian di sana. Kesan kota tambangnya muncul karena kota ini hidup dan berkembang dari penambangan bahan galian dari penduduknya di jaman dulu dan jejak-jejak sejarahnya masih tampak jelas di jaman sekarang.

Sebenarnya masih ada banyak hal istimewa lainnya yang bisa ditelusuri dari kota Sawahlunto ini. Namun, tetap kesan sejarah yang kuat dari kota ini dengan tiga hal tersebutlah yang menjadi kesan membekas bagi saya saat berkunjung di sana. Kota yang relatif kecil ini memang berbeda dan punya ciri khasnya sendiri daripada kota wisata lainnya di Ranah Minang. Tidak sia-sia perjalanan yang saya tempuh sekitar 6 jam dari Painan untuk menuju kota yang satu ini. Unsur sejarahnya memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi saya sekaligus sebagai penyegar suasana dengan kesan jaman dahulunya yang istimewa.