kesejukan dan keasrian yang dirindukan di lapangan pancasila

Pagi di Salatiga dengan udara dingin yang masih menyertai merupakan satu kesan tersendiri. Kota kecil yang ada di lereng Gunung Merbabu ini memberikan nuansa keasrian yang masih terjaga dan kenyamanan menjalani keseharian kehidupan. Apalagi jika melakukan aktivitas pemulai hari di daerah Lapangan Pancasila, lapangan yang menjadi sentra perkumpulan warga untuk olahraga pagi, bercengkrama bersama keluarga, atau kegiatan lainnya. Akhir pekan menjadi waktu ramainya tempat ini dikunjungi dengan banyaknya warga yang melepas penat rutinitas keseharian dan dibutuhkannya ruang terbuka hijau untuk menyegarkan diri sejenak.

P1090604Lapangan Pancasila merupakan tempat yang sudah melekat dengan keberadaan kota Salatiga. Tanpa adanya lapangan ini akan terasa ada yang kurang dengan Salatiga. Kesejukan khas lereng pegunungan sulit didapatkan jika di kota satu ini tidak diberikan ruang luas berupa kawasan tertentu untuk merasakannya. Beruntunglah Salatiga telah memiliki Lapangan Pancasila ini. Suatu tempat yang relatif luas berbentuk lapangan semacam alun-alun dan dikelilingi oleh pepohonan rimbun yang memberikan nuansa kesejukan tersebut.

P1090610Saya tidak tahu persis alasan mengapa lapangan ini dinamakan dengan Lapangan Pancasila. Warga Salatiga sudah sedemikian lazim menyebut lapangan ini dengan nama seperti itu alih-alih dengan menyebutnya sebagai alun-alun kota. Memang pada pinggir lapangan ini terdapat sebuah tugu monumen dengan bagian atasnya adalah lambang Garuda Pancasila. Tugu ini merupakan penanda khas dari lapangan ini dan juga sebagai bentuk penghargaan serta mengenang jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan. Pada monumen ini, berdiri tegak dengan gagahnya patung tiga tokoh pahlawan yang berasal dari Kota Salatiga ini, yaitu Brigjen Sudiarto, Marsekal Muda Adi Sutjipto, dan Laksamana Madya Yos Sudarso. Uniknya masing-masing dari pahlawan ini mewakili satu bagian dari armada tentara dengan Brigjen Sudiarto yang aktif dengan angkatan daratnya, Marsekal Muda Adi Sutjipto dengan angkatan udaranya, dan Laksamana Madya Yos Sudarso dengan angkatan lautnya. Seragam dinas yang digambarkan pada patung tersebut juga menampilkan kekhasan dari masing-masing bagian armadanya.

Lapangan Pancasila terletak pada daerah yang strategis di pusat kota Salatiga. Sebagaimana lazimnya alun-alun pada kota lainnya, lapangan ini berada tidak jauh dari sentra pemerintahan kota. Jalan Letjend Sukowati yang berada di timur lapangan ini merupakan jalan dengan bangunan pemerintah kota yang berjejer rapi, termasuk Kantor Walikota yang letaknya ada di seberang persis Lapangan Pancasila. Jalan ini juga merupakan penghubung lapangan dengan pusat keramaian kota. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan jalan kaki untuk dapat sampai menuju pusat kota dari Lapangan Pancasila. Tak hanya Kantor Walikota yang berada di sekeliling lapangan ini, bangunan penting lainnya seperti Masjid Raya Darul Amal dan Kantor Polres Salatiga juga ada di sana.

P1090592Banyak hal yang dapat dilakukan saat berada di Lapangan Pancasila. Apalagi saat akhir pekan di pagi hari menjadi momen padat berkumpulnya warga. Ada yang melakukan olahraga pagi berupa jogging lari-lari kecil, ini yang menjadi aktivitas favorit sebagian besar warga. Ada yang mengajak anak-anak kecilnya untuk bermain kendaraan mobil-mobilan semacam ATV yang disewakan untuk berkeliling mengitari lapangan. Ada yang bercengkerama sekadar menikmati udara hijau di pagi hari bersama keluarga atau teman terdekat. Warung-warung yang menjajakan sarapan atau panganan tersebar di sekitar lapangan dan menjadi tempat nongkrong yang pas.

Saya sendiri lebih menyukai untuk membaca informasi dan berita terkini pada papan koran dan pengumuman yang disediakan di salah satu bagian pinggir lapangan ini. Papan ini termasuk papan yang sering dikunjungi oleh warga dengan tujuan yang sama. Tidak hanya membaca papan ini saja, hal lain yang menjadi favorit saya adalah menikmati pemandangan Gunung Merbabu yang tampak memukau di sebelah selatan Lapangan Pancasila jika cuaca sedang cerah. Dengan hanya nongkrong pada salah satu warung yang tersedia sembari menikmati jajanan dan disuguhi pemandangan cantik semacam itu sudah menjadi kepuasan sendiri bagi saya. Biasanya saya juga menyempatkan untuk mampir ke toko buku langganan saya yang ada di area samping Kantor Polres dan kalau sudah waktunya sholat akan singgah ke Masjid Raya Darul Amal yang megah itu.

P1090591Lapangan Pancasila memang memberikan ruang terbuka hijau yang dibutuhkan warga Salatiga. Pepohonan besar dan rimbun masih dipelihara sekeliling pinggir lapangan. Ini yang menjadi keunggulan lapangan ini. Warga yang hendak melakukan aktivitas olahraga pagi akan merasa sejuk dan sekarang ini sudah ditunjang juga dengan jalur track jogging yang cukup lebar di pinggir lapangan. Pengaturan pedagang jajanan juga sudah rapi dengan dilokalisasikan pada satu area tertentu sehingga tidak membuat semrawut pemandangan. Gunung Merbabu juga masih dapat terlihat tidak tertutupi oleh pembangunan gedung-gedung yang belakangan ini semakin memadati area sekitar lapangan.

Kota Salatiga saat ini tengah mengalami pembangunan yang masif di mana-mana. Semoga Lapangan Pancasila akan selalu memberikan nuansa hijau yang menyejukkan dan menyegarkan Salatiga selalu di tengah arus modernisasi yang seringkali tidak ramah dengan lingkungan. Bagi saya yang sekarang ini merantau jauh dari kota asal saya ini, tiap kali pulang ke Salatiga, pastilah saya akan menyempatkan diri untuk merasakan nuansa khas yang diberikan oleh Lapangan Pancasila ini, kesejukan dan keasriannya itu yang begitu dirindukan…

Iklan

inilah kota kesayanganku, salatiga

Sudah sekian lamanya saya pernah bermukim pada suatu kota kecil yang bernama Salatiga. Terhitung semenjak lahir hingga saya menyelesaikan pendidikan SMA, saya tinggal dan menetap di sana. Tentu selama kurang lebih 18 tahun itu, ada berbagai kenangan yang tertorehkan antara saya dengan kota itu.

salatigaSalatiga telah menjadi kota kenangan bagi saya yang kini menjadi perantau di ibu kota sementara waktu ini. Begitu banyak interaksi telah terjadi selama rentang waktu yang cukup lama selama saya berada di sana. Bersama keluarga saya yang mendiami rumah sederhana di Jalan Veteran no 29, kehangatan dan kebersamaan keluarga jelas kental terasa. Bersama teman-teman dari SD Negeri Ledok 2 Salatiga, SMP Negeri 1 Salatiga, dan SMA Negeri 1 Salatiga, saya mempunyai berbagai macam kisah pertemanan dengan suka-dukanya masing-masing. Bersama masyarakat Salatiga, saya rasakan keberagaman dan kebersamaan khas orang Jawa.

Kali ini, sehubungan dengan momen saya kembali pulang lagi ke kota ini, maka saya hendak berbagi cerita tentang Salatiga. Menyusuri perjalanan dari ibu kota menuju kota kecil ini, membuat saya begitu ingin membahas tentang kota ini. Karena kota ini telah menjadi bagian dari sejarah saya dengan kenangan-kenangan yang menjadikannya saksi bisu atas semua itu.

Well, baiklah kita akan mulai dari pengetahuan umum tentang kota Salatiga.

Salatiga dapat dikatakan sebagai kota yang cukup identik dengan posisi tengah menurut saya. Kota ini termasuk dalam jajaran pemerintah tingkat II setara dengan kabupaten di provinsi yang ada nama “tengah”-nya, yakni Jawa Tengah. Selain itu, kota ini berada di tengah-tengah daerah Kabupaten Semarang yang mengelilinginya. Letak geografisnya sering dikatakan cukup strategis karena berada pada tengah jalur jalan negara antara Kota Semarang dengan Kota Surakarta, dua kota besar di provinsi Jawa Tengah. Uniknya lagi, bila disinggung kembali tentang letak geografisnya, kota ini juga berada di bagian tengah dari Gunung Merbabu. Maksud tengah di sini sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai lereng, sekadar memaksakan korelasi hubungan antara Salatiga dengan kata tengah he ^_^.

Tentang nama kota ini, kebanyakan orang sering menjadikannya sebagai bahan lelucon yang sudah lazim. Setiap kali ada tebakan, “kota apa yang nilai ujiannya selalu tujuh?”, pasti langsung dijawab, “Salatiga” :D. Hm namanya yang unik dan bisa dijadikan lelucon ini tentu punya sejarah tersendiri bagaimana ia berasal mula. Bukan karena penduduk kota ini kalau ada ujian nilainya mesti tujuh terus. Saya sebagai penduduknya bisa saja mendapatkan nilai 97 karena soalnya ada 100 :P, tidak mesti nilainya tujuh terus he.

Menurut wikipedia, asal usul kota ini ditandakan dengan adanya suatu prasasti yaitu Prasasti Plumpungan yang menyebutkan sudah adanya kota ini sejak tahun 750 Masehi silam. Bisa dikatakan Salatiga ini kota yang cukup tua di Indonesia dengan adanya bukti demikian. Tanggal tertulisnya prasasti tersebut, 24 Juli 750 Masehi, dijadikan sebagai hari jadi kota Salatiga, sehingga sekarang kota ini sudah berusia 1250 tahun (wah, tuanya). Munculnya nama Salatiga karena diduga adanya penyerapan istilah dari nama kota ini sebelumnya, seperti trisala.

Itu versi yang dapat dipercaya karena merupakan sejarah hasil penelitian. Nah, yang lebih terkenal di kalangan masyarakat adalah versi asal-usul kota Salatiga berdasarkan legenda. Disebutkan dalam legenda bahwa nama Salatiga muncul dari kisah perjalanan Ki Ageng Pandanaran, seorang bupati daerah yang kini dikenal dengan nama Semarang dan juga merupakan murid dari Sunan Kalijaga. Alkisah, suatu hari Ki Ageng Pandanaran diberikan tugas oleh gurunya untuk pergi ke suatu tempat. Dalam perjalanannya menuju tempat yang dituju itu, ia bertemu dengan tiga orang perampok yang hendak merebut paksa harta yang dia bawa. Namun, karena salah satu persyaratan dari gurunya yang tidak memperbolehkannya membawa harta selama perjalanan, maka dia dengan lantang menyerukan kepada tiga orang perampok itu dengan ucapan “salah telu” (salah tiga, red.). Dari kisah inilah kemudian tempat bertemunya Ki Ageng Pandanaran dengan tiga perampok itu tadi disebut dengan Salatiga, hasil serapan istilah dari “salah telu”.

Seperti itulah tadi cuplikan sejarah asal-usul kota Salatiga. Beranjak dari topik sejarah, maka selanjutnya kita bahas mengenai apa saja hal-hal yang terkenal dari Salatiga.

Hm tentang apa yang terkenal dari Salatiga ini, dulu sewaktu penjajahan Belanda, kota ini dijadikan obyek peristirahatan dengan nuansanya begitu asri dan sejuk khas daerah pegunungan, sampai-sampai mendapatkan julukan “Kota Salatiga yang Terindah di Jawa Tengah”. Hingga sekarang pun, masih dapat ditemui beberapa obyek peristirahatan yang menyuguhkan pemandangan khas pegunungan, contohnya di daerah Kopeng. Jejak-jejak penjajahan Belanda pun kini masih dapat disaksikan dengan masih adanya beberapa bangunan kuno khas Belanda yang dijadikan sebagai cagar budaya. SMP saya pun, SMP Negeri 1 Salatiga, hingga kini masih mempergunakan bangunan warisan Belanda juga lo, jadi agak serem gimana gitu he.

Bila dilihat dari sisi sejarah lagi, kota ini juga menjadi saksi bisu perjanjian antara antara Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said (kelak menjadi KGPAA Mangkunegara I) di satu pihak dan Kasunanan Surakarta dan VOC di pihak lain. Perjanjian ini menjadi dasar hukum berdirinya Kadipaten Mangkunegaran, sebuah kerajaan pecahan kecil dari Kerajaan Mataram Islam akibat politik devide et impera Belanda.

Hm kalau disinggung tentang obyek terkenal berupa obyek wisata, jujur kalau menurut saya, Salatiga itu hanya ada sedikit obyek wisatanya. Kebanyakan berupa obyek wisata alam karena kontur geografisnya yang cukup mendukung untuk wisata semacam ini. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ada Kopeng yang menawarkan wisata pegunungan, selain itu ada juga wisata perkebunan di daerah Tlogo (Tuntang) dan Banaran (perkebunan kopi), pemancingan dan mata air di daerah Senjoyo dan Muncul. Padahal sebenarnya itu obyek-obyek itu tadi lebih tepatnya di daerah Kabupaten Semarang perbatasan dengan daerah Kota Salatiga he.

Walaupun sedikit obyek wisatanya, kota Salatiga dapat membuat orang nyaman berada di sana. Nuansanya yang masih asri dan sejuk khas daerah lereng pegunungan menjadikannya tempat yang cocok untuk peristirahatan atau tempat tinggal untuk menetap. Airnya masih murni dan jernih, rasanya juga dingin, makanya banyak obyek wisata perairan juga di sini. Penghijauan kota ini juga tampaknya masih dijaga dengan adanya pohon-pohon peneduh di sekitar jalanan. Ini yang membuat saya terkadang nyaman jalan ke sana ke mari walaupun di saat siang hari. Begitulah kealamian Salatiga yang telah membuat saya terpesona.

Dari segi kehidupan sosialnya pun, selama ini saya tidak pernah mendapati kejadian rusuh yang sampai sebegitunya terjadi di kota kecil ini. Di sini, relatif semuanya tenang, tertib, dan terkendali keadaannya. Ada berbagai macam keberagaman yang saya lihat dari berbagai macam suku, ras, agama, dan budaya. Bahkan, kalau menurut saya, budaya Salatiga adalah budaya campuran, tidak ada aslinya karena sudah tercampur-baur dengan perpaduan budaya yang ada. Really, this city has became so cozy according to myself.

Akan tetapi, bagaimana pun jua, kota ini juga memiliki beberapa kekurangan. Sentral ekonomi di sini masih dikuasai dan didominasi oleh masyarakat etnis Tionghoa. Sebenarnya sih tidak apa-apa dengan fenomena ini, asalkan dominasi tersebut dalam relatif kewajaran. Namun, saya lihat fenomena yang ada, malah semakin lama semakin memarjinalkan kalangan pribumi. Kita tentunya akan lebih bangga apabila sektor ekonomi daerah kita cukup berdaya dengan kekuatan sendiri, bukan dari kalangan pendatang. Tentunya saya juga mengharap demikian untuk kota saya ini.

Satu lagi fenomena yang membuat ironi. Gerakan kristiani terlihat begitu menonjol di kota saya ini, apalagi dengan adanya walikota yang agamanya juga kristen (walikota yang sebenarnya beragama Islam, tetapi sudah meninggal dunia dalam masa jabatan, sehingga digantikan oleh wakilnya kini yang beragama kristen tersebut). Hal ini juga ditunjang dengan adanya universitas kristen yang sangat terkenal dan memberikan pengaruh yang cukup kuat di Salatiga, yaitu UKSW. Saya ingat dulu banyak teman SMA saya yang muslim hanya karena terpukau dengan reputasi serta keterjangkauan universitas tersebut kemudian malah masuk kuliah di sana.

Fenomena ini mungkin muncul akibat masih kurangnya pengaruh Islam di kota saya ini. Menurut saya pribadi, pergerakan ormas-ormas Islam di sini masih kurang kentara hasilnya. Apalagi masyarakat Salatiga kebanyakan lebih berpaham nasionalis daripada agamis, sehingga celah ini juga yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan kristiani.

Timpangnya penerapan nilai agama dengan perubahan budaya juga semakin terasa di kota saya. Sempat beberapa waktu yang lalu, ada kasus pornografi yang dilakukan oleh pelajar dari kota saya. Ini merupakan indikasi kuat betapa semakin lama kota saya ini tercemari dengan budaya-budaya asing yang tidak baik. Jelas dengan adanya ini, seharusnya lebih ditekankan lagi filterisasi budaya dengan penerapan nilai agama yang lebih intens lagi di Salatiga.

Hal ini terkadang yang membuat saya berpikir, apa yang sudah saya lakukan untuk kebaikan kota saya tercinta ini. Di saat saya semakin menyadari kerentanan posisinya itu, saat itu pula saya tahu bahwa semakin lama semakin tipis kemungkinan saya dapat berkontribusi pada perubahan karena minimnya interaksi saya sekarang ini di sini.

Saya sebagai orang yang pernah tinggal lama di dalamnya hanya bisa berharap dan berdoa. Harapan saya agar Salatiga masih menjadi kota yang asri dan benar-benar mencerminkan semboyannya, yakni HATTI BERIMAN (sehat, tertib, bersih, indah, dan nyaman) dan juga doa yang tengah saya panjatkan agar Salatiga dipimpin oleh sosok yang amanah dan dapat memberikan perubahan yang lebih baik dengan adanya Pemilihan Walikota yang insya Alloh akan diselenggarakan pada bulan Mei 2011 mendatang.

Saat-saat seperti sekarang ini, bisa merasakan kenangan kembali bersama kota ini, sungguh begitu berharga. Adanya kemungkinan bahwa nantinya saya akan ditempatkan di tempat yang jauh dari Salatiga, membuat saya ingin memiliki waktu sebanyak mungkin yang saya bisa untuk berada di sini selama kesempatan itu masih ada. Keberadaan yang walau sejenak itu juga, saya inginkan menjadi hal yang bermanfaat, minimalnya untuk saya sendiri agar dapat merecharge kembali semangat.

Salatiga akan selalu ada di hati saya (wah, melo banget ya). Silakan berkunjung langsung ke kota ini apabila ada rasa penasaran untuk membuktikan apa yang telah saya tulis ini he. Insya Alloh kalau saya sedang berada di sini, saya bersedia menjadi guide tour untuk multiply-ers yang mampir he. Jadi inget juga, salah satu plesetan nama kota Salatiga dari teman SMA saya, yakni Salatiga itu Seoulotiga, saking dia juga begitu cinta dengan kota ini dan juga sedang seneng-senengnya dengan hal-hal berbau Korea. So, visit Seoulotiga ya hehehe… ^_^b

Salatiga, 18 Februari 2011, 23.32 (edited in 29 April 2013)