Cerobohnya Pemblokiran Situs-Situs Islam

Iwan Yuliyanto

Hidayatullah

Bismillah …

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui suratnya nomor 149/K.BNPT/3/2015 memberikan rekomendasi penutupan 19 situs / website Islam yang dianggap “penggerak paham radikalisme dan/atau sebagai simpatisan radikalisme”. Pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) kemudian menindak-lanjutinya dengan memerintahkan Internet Service Provider (ISP) memblokir sejumlah situs / website tersebut.

Berikut ini adalah 19 situs yang diblokir Kemenkominfo:

Lihat pos aslinya 886 kata lagi

Iklan

writing camps DJPB: “dari angka menjadi kata”

Angka-angka sudah menjadi makanan keseharian bagi insan Perbendaharaan. Dengan digitnya beragam itu, segala macam kerumitan sudah lazim dihadapi oleh mereka. Akan tetapi, tahukah Anda? Dari angka itu rupanya ada kata-kata yang terangkai menjadi banyak kisah yang tersembunyi di dalamnya.

Kisah-kisah dari angka, inilah yang hendak diangkat oleh Perbendaharaan kali ini. Tidak banyak yang tahu tentang kisah semacam ini. Yang banyak orang tahu hanyalah sebatas tentang angka-angka yang diolah darinya, bukan kata yang terurai menceritakan tentang sesuatu.

Siapa pun pastilah mempunyai ceritanya masing-masing. Begitu juga dengan para insan Perbendaharaan. Mereka yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia mempunyai pengalaman, pergolakan emosi, peristiwa-peristiwa unik terjadi pada kehidupan mereka selama bertugas. Cerita mereka hanyalah sekadar menjadi perbincangan sesaat di antara sesamanya. Cerita semacam ini mudah terabaikan jika tak ada pencerita menuangkannya dalam bentuk tulisan yang membekas abadi.

Writing Camps DJPB, pada kegiatan inilah segelintir pencerita terpilih dilatih dan berkumpul bersama membahas mengenai cerita-cerita para insan perbendaharaan. Cerita yang baik dan dapat memberikan pengaruh yang begitu kuat tidaklah dapat tercipta dengan instan dan melalui proses yang singkat. Ada hal yang harus dipelajari terlebih dahulu. Oleh karenanya, ada hal semacam ini untuk menjadikan para pencerita lebih terlatih dapat mengemas cerita sesuai dengan apa yang diharapkan dan bisa dipahami oleh khalayak luas.

hoho
Sharing Kepenulisan Bersama Ahmad Fuadi

Kepada para pencerita ini, Writing Camps DJPB mempertemukan mereka dengan sosok penulis terkenal, Ahmad Fuadi, yang telah membuat trilogi kisah Negeri Lima Menara. Pencerita yang satu ini memberikan inspirasi dari pengalamannya menyusun tulisan ceritanya sendiri dengan pemaparannya berjudul “Menulis untuk Bermanfaat dan Mendunia”.

(Ringkasan materi tentang sharing kepenulisan bersama Ahmad Fuadi lebih rincinya dapat dibaca pada tautan https://nazhalitsnaen.wordpress.com/2014/08/20/writing-camps-djpb-sharing-kepenulisan-bersama-a-fuadi/)

Menulis cerita adalah suatu proses yang dapat dipelajari. Bahkan, yang mungkin tidak diketahui banyak orang, ada teori yang dapat membuat seorang pencerita dapat mengemas tulisan ceritanya menjadi lebih baik lagi. Teori tentang elemen fiksi menjadi salah satu bekal penting bagi para pencerita pada Writing Camps DJPB yang disampaikan oleh Bapak Harry Suryadi, seorang jurnalis yang aktif bergerak di bidang lingkungan hidup dan mempunyai kompetensi tentang teori tulis menulis. Teori tidak hanya diberikan dengan pemaparan materi, tetapi juga melalui praktek langsung dengan beberapa studi kasus seperti analisa karakter, konflik, dan pesan cerita, serta teknik penulisan deskriptif.

(Materi tentang teori elemen fiksi dapat diunduh pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rRVNuaFN1NWdZc2s/edit?usp=sharing)

Rencana besar dari Writing Camps DJPB adalah adanya karya berupa novel cerita dan antologi cerita pendek kehidupan insan perbendaharaan yang diterbitkan secara nasional melalui penerbit percetakan buku yang handal. Oleh karena itu, perlu ada pemahaman mendasar mengenai dunia penerbitan melalui praktisi ahli di bidangnya. Melalui pemaparan dari Mirna Yulistianti, editor cerita fiksi Gramedia Pustaka Utama, dan Gina S. Noer, co-founder Plot Point, para pencerita memahami proses dan kriteria suatu karya tulisan dapat diterbikan secara massif menyebar luas pada banyak lapisan pembaca.

(Materi tentang sharing penerbitan dari Gramedia Pustaka Utama dapat diunduh pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rYU5PSUwxSnN2ME0/edit?usp=sharing dan Plot Point pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rek9HWmI1QzgzQnc/edit?usp=sharing)

Tidak mudah untuk menyajikan cerita yang layak untuk dicerna oleh khalayak luas jika tidak ada proses pembelajaran yang diberikan oleh Writing Camps DJPB ini. Adanya penulis terkenal yang berbagi tentang inspirasi dan prosesnya dalam menulis cerita, pemberian bekal teori dan praktek teknik menulis cerita, dan informasi mengenai bagaimana proses diterbitkannya suatu buku oleh para praktisinya adalah bekal yang cukup untuk para pencerita terpilih mengunjukkan kisah nusantara insan perbendaharaan dalam tulisannya.

Dalam tempo waktu yang padat kesemuanya itu disampaikan selama sepekan pada tempat yang eksklusif, Novus Giri Resort and Spa, Puncak. Pencerita ini digembleng benar-benar untuk dapat merealisasikan hasil akhir tujuan dari Writing Camps DJPB dilaksanakan, suatu novel dan antologi insan perbendaharaan.

Foto bersama para pencerita bersama salah seorang praktisi penerbit, Gina S. Noer, co-founder Plot Point
Foto bersama para pencerita bersama salah seorang praktisi penerbit, Gina S. Noer, co-founder Plot Point

Selebrasi Dekade Perbendaharaan akan menjadi momen untuk memperkenalkan karya final dari Writing Camps DJPB ini. Dengan sejarahnya yang telah melintasi sekian lamanya waktu, Perbendaharaan sudah mencapai kedudukannyan seperti ini sekarang. Angka-angka sudah menjadi kelaziman produk yang dihasilkan olehnya. Namun, pada rentang waktu selama itu, ada kisah-kisah yang begitu banyak terjadi dan mempunyai warna yang sangat beragam. Beberapa kisah itu diambil dan disajikan dalam bentuk kata-kata tulisan cerita untuk khalayak luas.

Dari angka menjadi kata. Semangat inilah yang menggerakkan para pencerita untuk menyajikan kemampuan terbaiknya dalam bercerita melalui tulisan. Semoga apa yang menjadi tujuan utama seluruh rangkaian kegiatan dimaksudkan, yakni untuk memperkenalkan kisah-kisah nusantara insan perbendaharaan dapat tercapai.

Agar semua orang tahu bahwa Perbendaharaan mempunyai cerita, cerita tentang para insannya yang begitu berwarna-warni. Tidak sekadar angka, tetapi mewujud dalam tulisan kata…

*catatan dari salah seorang pencerita*