excellent act of amitabh bachchan

Amitabh Bachchan adalah nama yang sudah melegenda di sinema Hindi. Siapa yang tidak mengenalnya? Film-filmnya baik di masa dulu ataupun sekarang merupakan film yang mampu membesarkan namanya di industri film Hindi. Peran yang ia mainkan dalam setiap film memberikan kesan yang mendalam bagi penontonnya. Sampai-sampai di era 1970-an, Amitabh Bachchan dikenal dengan julukan “Angry Young Man”. Perannya yang sering terlihat sebagai sosok muda yang heroik dan penuh aksi di masa lalu menjadikannya banyak yang mengidolakannya.

Kini, walaupun sudah melewati kejayaannya di masa muda, Amitabh Bachchan tetap menjadi legenda dan ia terus mempertahankannya dengan baik. Ia masih aktif berperan pada film-film di masa kini dan citranya sebagai legenda sinema Hindi masih membekas di hati para penontonnya. Kalau dulu di masa mudanya dikenal dengan jago akting yang membutuhkan aksi laga pertempuran dan semacamnya, di masa tuanya ia memilih film-film yang menunjukkan kualitas aktingnya dalam mendalami peran.

Kematangan dan pemilihan yang lebih selektif pada peran-peran yang hendak Amitabh Bachchan lakoni tampak terlihat pada film-filmnya era 2000-an. Ada tiga film yang menurut saya sangat menunjukkan kualitas yang prima dari akting Amitabh Bachchan. Ketiga film itu adalah “Black” di tahun 2005, “Bhoothnath” di tahun 2008, dan “Paa” di tahun 2009. Ketiga film ini menjadikannya sebagai tokoh utama dan dari ketiganya pula mendapat pengakuan penghargaan sebagai aktor terbaik dari berbagai ajang festival film sinema Hindi.

Black – Eccentric Passionate Teacher Who Lost His Memory

blackSanjay Leela Bhansali selalu dapat mengerahkan kemampuan akting terbaik tokoh utama dalam filmnya. Tak terkecuali untuk Amitabh Bachchan yang memerankan Debraj Sahai dalam film “Black”. Pada film ini, Debraj Sahai digambarkan sebagai sosok yang begitu bersemangat membantu anak yang buta tuli bernama Michelle McNally (diperankan oleh Rani Mukherjee) untuk mengenal dunia yang lebih luas dengan cara-caranya yang eksentrik. Sekilas tokoh satu ini begitu mirip dengan tokoh terkenal Anne Sullivan, guru Helen Keller, namun kisah pada film “Black” ini berbeda dari kisah tersebut. Kisah film ini jauh lebih kompleks dengan adanya pergolakan emosi perasaan yang intens di antara guru dan muridnya.

Kemampuan akting Amitabh Bachchan tampak sangat memukau dan meyakinkan saat tokoh yang diperankannya mengalami penyakit Alzheimer. Debraj yang sebelumnya digambarkan begitu semangat berubah menjadi sosok tua yang ingatannya mengalami gangguan. Perubahan drastis penampilannya, raut mukanya, dan gestur tubuhnya sangat jelas menggambarkan bagaimana menderitanya seorang pengidap Alzheimer yang akut. Pada bagian akhir dari film “Black” ini, adegan saat Michelle memberitahukan kelulusannya sebagai wisudawati dan Debraj yang perlahan kembali teringat akan memori Michelle begitu mengharukan. Siapa pun yang menonton film ini, khususnya pada adegan ini, akan menyatakan bahwa akting Amitabh Bachchan ini tak bisa dimainkan dengan lebih baik lagi oleh siapa pun. Hanya Amitabh Bachchan dengan performanya itulah yang bisa memerankannya.

Paa – Abnormal Kid Who Uniting His Parent Again

paaPada saat release dari salah satu film Amitabh Bachchan, yaitu “Paa”, banyak yang menjadikannya sorotan karena keistimewaannya yang jarang ada pada film Hindi lainnya. Film ini menjadi perbincangan waktu itu karena Amitabh Bachchan berperan bersama anak kandungnya sendiri yang juga aktor, yaitu Abhishek Bachchan. Ayah-anak berperan dalam satu film sebenarnya sudah biasa di sinema Hindi, tetapi pada film “Paa” ini yang menjadikannya lebih istimewa karena pada film ini Amitabh dan Abhishek bertukar peran dari hubungan ayah-anak mereka. Film ini menceritakan tentang Auro (diperankan oleh Amitabh Bachchan) yang menemukan ayahnya kembali yaitu Amol Arte yang justru diperankan oleh Abhishek Bachchan.

Film ini juga mengangkat tema khusus dengan menceritakan seorang anak yang mengidap penyakit progeria, penyakit yang menjadikan seorang anak cepat menua. Oleh karena itulah, sekali lagi hanyalah Amitabh Bachchan yang mampu memerankan peran semacam ini. Selain aktingnya itu, tim make-up artis pada film ini juga telah berhasil mengubah penampilan gagah seorang Amitabh Bachchan menjadi seorang anak kecil yang mengalami penyakit progeria ini, sehingga tampil meyakinkan pada layar sinema. “Paa” menjadi salah satu film drama keluarga yang sangat direkomendasikan untuk ditonton. Tokoh Auro pada film ini begitu menginspirasi  walau di tengah penyakit yang menderanya dan yang paling mengharukan darinya adalah upayanya untuk menyatukan kembali orang tuanya kembali setelah lama berpisah.

Bhoothnath – A Friendly Wiseful Angelic Ghost

bhoothnath“Bhoothnath” adalah salah satu film Amitabh Bachchan yang sangat menghibur. Walaupun tidak menjadikannya memperoleh penghargaan seperti “Paa” dan “Black”, namun sosok yang diperankannya sangat mengenang, bahkan pada tahun 2014 ini akan tayang sekuel dari film ini, yaitu “Bhoothnath Returns”. Cerita tentang hantu bernama Bhoothnath ini tidak seseram judul filmnya, malah isi ceritanya jauh dari hal-hal yang seram. Film ini sebenarnya bergenre komedi dengan tema kekeluargaan yang kuat.

Film ini juga sangat cocok untuk ditonton bersama sekeluarga dengan tema itu. Ada beberapa pelajaran moral tentang memaafkan dan tidak curang untuk anak-anak yang digambarkan dengan adegan yang tepat. Sosok Bhoothnath yang diperankan Amitabh Bachchan ini digambarkan sebagai sosok yang bersahabat dan bijaksana, sampai-sampai tidak lagi dianggap sebagai hantu oleh si anak tokoh utama pada film ini. Hantu yang satu ini malah dianggap sebagai malaikat yang selalu membantu dan memberikan pelajaran kehidupan kepada si anak. Uniknya pada paruh kedua film ini, justru kemudian Bhoothnath inilah yang belajar dari kepolosan dan kesucian anak-anak dalam memaafkan masa lalunya. Semua adegan dalam film ini dikemas dengan cara yang mudah dipahami, menghibur, dan ya memberikan banyak pelajaran moral tentang keluarga.

***

Ketiga film inilah yang saya pilih sebagai film yang menggambarkan kualitas akting mumpuni dari seorang Amitabh Bachchan. Jejak rekamnya yang sudah malang melintang dari generasi ke generasi  film Hindi menjadikannya seorang bintang sinema. Banyak orang yang mengidolakannya dan pada salah satu bagian dari film “Bombay Talkies” tahun 2013 diceritakan tentang pergulatan seorang penggemarnya yang rela menantinya untuk memakan murabba (asinan, red.) yang ia bawa. Kalau tidak karena kemampuan aktingnya yang cemerlang itu, maka sangat mungkin namanya hanyalah sepintas lalu pada sejarah film Hindi. Namun, kenyataannya ialah sang legenda yang masih terus bertahan hingga jaman sekarang ini, bahkan dengan film-filmnya di masa kinilah yang sangat berbobot dan menjadikannya memang sangat layak disebut sebagai legenda sinema Hindi.

goliyon ki raasleela ram-leela: a love story like no other

Dari suatu kota yang tidak biasa, yang kesehariannya dipenuhi dengan desing bidikan peluru, yang selalu saja ada pertengkaran antarkubu tiada henti, yang sudah menganggap pertumpahan darah adalah hal biasa, muncul kisah yang bertolak belakang dari kesemuanya itu. Di tengah saratnya kebencian yang menyesaki udara kota Ranjar itu, bersemi cinta yang mencoba menyebarkan aroma kedamaian di antara dua kubu yang berselisih. Rajadi dan Sanera, pergelutan yang sudah sekian ratus tahun lamanya selalu didengungkan, kini memasuki babak barunya dengan sepasang kekasih yang mencoba menembus batas perbedaan.

19631-RamLeelacover-1384769494-176-640x480Cinta bukanlah hal yang istimewa sebenarnya. Semua orang juga akan mengalami perasaan yang begitu menggelorakan ini. Karena dengan cinta, hidup ini terasa begitu indah dan menyenangkan. Cinta memberikan nuansa lebih dalam kehidupan manusia yang sebentar saja ini. Hanya saja, untuk berseminya cinta yang menembus batas dua kubu yang tak henti berseteru itu, maka kisah cinta yang satu ini bukanlah kisah cinta seperti biasanya.

Bagaikan Tarian Cantik Sang Merak (interpretasi “Mor Bhani Thangat Kare”)

Semuanya terasa begitu indah jika ada cinta yang menyemarakkan setiap gerak dari hidup ini. Dunia seakan tidak akan berhenti bersemi terus. Ia akan menyebarkan ke seluruh penjuru gegap gempita perayaan cinta. Tidak sekalipun kesedihan atau duka sedalam apa pun itu yang bisa merusak kebahagiaan macam seperti ini. Jika ada kekasih hati yang sudah mengisi dan menggelorakan gairah hidup ini, maka mau apa pun keadaannya, semuanya akan terlewati dengan sendirinya.

Bagaikan tarian cantik sang merak. Saat mereka hendak menyatakan cintanya, mereka menarikan gerak yang lihai dan indah. Bulu mereka kembangkan selebar mungkin dan tampaklah hiasan-hiasan yang menarik mata. Hiasan itu menunjukkan keindahan niatan cinta mereka. Keanggunan gerak mereka menggambarkan kesyahduan persemian cinta di antara sepasang kekasih. Seperti itulah hatiku kini  menari karena berseminya cinta di dalam benak. Ada dia, sang kekasih, yang telah menyemarakkan kehidupan ini dengan pesona kecantikannya dan tentunya cinta yang dengan tulus ia berikan padaku.

Lihatlah Aku, Ram (interpretasi “Ramji Chal Dekho/Tattad Tattad”)

Maka, di antara segala setiap desing yang mengganggu itu, lihatlah pada diriku. Aku, Ram, adalah sosok yang tak peduli dengan kesemuanya itu. Hidup seharusnya tak perlu larut dalam perseteruan yang tiada habisnya menguras energi ini. Hidup itu lebih baik untuk dirayakan, disemarakkan, dinikmati dengan curahan kebahagiaan yang melimpah ruah.

Ayo, marilah kita lepaskan beban-beban yang membelenggu itu! Ikutilah bersamaku untuk menarikan setiap gegap gempita berseminya kebahagiaan pada kehidupan ini! Buang lepas jauh-jauh kebencian yang mampu merusakkan semarak perayaan ini! Curahkan semua pesona diri pada penjuru dunia dan lihatlah bagaimana mereka akan takluk sendirinya dengan kebahagiaan yang terpancar ini!

Lihatlah aku dan cukup sudahi pergelutan yang tiada manfaatnya. Kini saatnya untuk mencoba jalan keluar lain dari keadaan yang tidak pernah berubah menjadi lebih baik. Sudah saatnya cinta memasuki batas-batas kebencian ini, merobohkannya, dan kemudian menyatukannya.

Merasakan Merahnya Darah Itu (interpretasi “Lahu Munh Lag Gaya”)

Cinta itu datang dari arah yang tidak terduga. Tak disangka ternyata di antara kecantikan-kecantikan yang sudah acapkali ditemui, kali ini ada seorang gadis yang dengan beraninya mengarahkan pistolnya kepadaku. Tatapannya tajam, namun tak sedikit pun kutemui kebencian dan keraguan di dalamnya. Justru sebaliknya, di dalam mata itu terpancar keyakinan dan pesonanya yang begitu kuat.

Ia tidak hanya sekadar cantik, ia lebih dari itu, ia tidaklah seperti gadis lainnya. Ia adalah Leela, seorang Sanera yang kemudian menembakkan pelurunya ke atas langit dan menandai kegembiraan yang melimpah ruah dari perayaan bertaburnya warna warna.

Semarak warna itu berlanjut terus dan membuatku semakin ingin tahu. Di kediamannya yang tengah ramai merayakan selebrasi Holi, kudapati ia kembali dengan pesona yang semakin menguat dari dalam dirinya. Ia mendekatiku dan kucoba menggodanya. Entah macam apa perasaan ini, seakan kami sudah kenal dari sejak lama. Tiada kecanggungan yang membuat kikuk. Bahkan pun, tiada kata perlu terlontar di antara kami. Cukup gerak gerik canda dan tarian mesra yang sudah menggambarkan semeluapnya perasaan ini.

Aku merasakan merahnya darah itu. Ya, kala kecupan bibirnya membuatku tertegun itu, darah mengalir semakin deras dan membuatku begitu meluap-luap. Darah ini dan taburan warna merah yang memang semarak pada perayaan Holi sudah cukup menggambarkan bagaimana cinta telah tumbuh dan menyebarkan kebahagiaan pada setiap gerak, tari, dan perayaan di antara kami, Ram dan Leela.

 Tembakan Cinta dan Peluru (interpretasi “Ishqyaun Dhisqyaun”)

Aku dan dia berasal dari dua kubu yang berseteru. Menemuinya menjadi suatu kesulitan yang menghambat dan menampakkan kemesraan ini akan menjadi perseteruan yang lebih hebat dari sebelumnya. Maka, diam-diam pertemuan pun direncanakan. Di tempat yang tersembunyi itulah tembakan cinta meletus dengan bebas dan penuh gelora. Tembakan ini sama halnya seperti tembakan peluru yang terus berlangsung di antara dua kubu yang bermusuhan. Semakin bisingnya peluru itu bertebaran di antara Rajadi dan Sanera, semakin kuat pula tembakan di antara Ram dan Leela.

Kini aku sudah tak pedulikan lagi ia berasal dari kubu yang dimusuhi keluargaku. Leela telah menjadi kekasih hati yang juga telah meninggalkan segala kebenciannya untuk cintaku ini. Ia akan mencoba agar kisah cinta ini bisa menembus batas permusuhan yang sudah mengakar ini. Ia pun mengambil janjiku agar tak akan meninggalkannya. Bahkan pun, jika aku melanggar janji itu, maka tak segan ia akan menembakkan peluru dan menyudahi kisah cinta ini. Kisah cinta ini sepertinya hanyalah tentang dua hal, cinta dan peluru yang tidak pernah berhenti saling menembak.

Sentuh Tubuhku (interpretasi dari “Ang Laga De Re”)

Sayangnya, siapa yang sudi dengan kisah yang bersemi di antara desingan peluru dan semarak cinta ini. Permusuhan yang sudah lama berlangsung tak dapat disirnakan begitu saja dengan alasan romantisme di antara sepasang kekasih dari dua kubu yang berbeda. Peluru-peluru terus saja berdesing menghiasi kisah ini dan ia pun tak segan meregut nyawa. Kebencian telah membutakan mereka-mereka yang telah lama bermusuhan. Nyawa musuh bukanlah suatu persoalan, malah menjadi kebanggaan jika dapat menghabisinya dengan gagah. Kala dua kubu berhadapan, peluru sudah dianggap seperti mainan di antara keduanya. Saling ditembakkan tanpa peduli, hingga kemudian tanpa dikehendaki nyawa melayang begitu saja.

Hanya karena selongsong peluru yang ditembakkan menjurus ke tubuh saudarakulah penyebab kisah ini tak lagi indah. Nyawanya hilang begitu saja di tangan musuh. Aku meratapinya dan tanpa pikir panjang, membalas bertubi-tubi tembakan kepada mereka yang telah menembak saudaraku. Di antara mereka, ada satu orang juga yang sudah tidak bernyawa. Ia adalah saudara Leela, keluarganya yang ia sayangi.

Maka, cinta ini berada pada persimpangan jalan. Ia harus memilih apakah keluarga atau kekasihnya yang lebih utama. Ia harus memilih antara kebencian atas tragedi ini atau cinta yang sebenarnya masih ada di dalam hati. Aku mencoba meyakinkannya untuk memilihku, walau ada kekecewaan yang begitu dalam atas apa yang telah aku lakukan pada saudaranya. Ia memilih cinta dan untuk mempertahankan ini, kami harus lari dari kerumitan persoalan ini. Pergi jauh dari semua kebencian yang akan berubah menjadi lebih hebat dan mencoba membuka lembaran hidup baru jauh dari itu.

Leela, sentuh tubuhku dan rasakanlah ketenangan dari cinta ini. Masalah yang kita hadapi ini akan berhenti dengan sendirinya. Kita akan coba menyelesaikannya dengan baik dan semoga mereka dapat mengerti. Kini kita telah bersama, jauh dari mereka. Aku dan dirimu menjadi satu, terikat pada janji setia kekasih. Merahnya sindhoor menjadi saksi atas janji kita ini.  

Merahnya Cinta (interpretasi “Laal Ishq”)

Namaku cinta dan namanya adalah cinta. Bukan lagi Ram seorang Rajadi, ataupun Leela seorang Sanera. Nama, keluarga, atau latar belakang perbedaan apa pun itu sudah tidak akan bisa membedakan kebersatuan cinta antara Ram dan Leela. Kami adalah satu. Kami adalah cinta. Cinta yang merah membara dan akan terus bergelora walau kerunyaman persoalan dalam kisah cinta kami ini tak henti-hentinya terus berlanjut.

Akibat siasat licik dari mereka yang hatinya dipenuhi dengan kebencian, maka terpaksa kami berpisah. Aku mencoba menyelamatkannya dari keluarganya yang merenggut paksa Leela kembali. Akan tetapi, teman-teman culas dari Rajadi telah menjebakku untuk menjauhi Leela. Bahkan pun, mereka banggakan aku yang telah dianggap berhasil menodai kehormatan kubu Sanera dan menjadikanku sebagai pemimpin untuk menghancurkan Sanera.

Betapa perih takdir telah mempermainkan kisah kami ini. Namun, merahnya cinta ini tak akan pernah memudar. Sekuat apa pun prahara yang mencoba mengusik di antara kami, maka kebersatuan diri ini tetap tak akan tergoyahkan.

 Ram ataukah Leela (interpretasi “Ram Chahe Leela”)

Pada jarak yang terentang jauh di antara kami, masing-masing kubu berusaha sekuat tenaga semakin menyuburkan kebencian dan permusuhan. Kisah kami sudah tersebar dan menjadi buah bibir oleh banyak orang. Mereka bertanya-tanya tentang bagaimanakah kisah ini bermula, apakah Ram yang memulai, Leela yang lancang menerjang batas, ataukah keduanya yang menghendaki kisah cinta terlarang ini?

Hingga kemudian seorang penghibur menceritakan kisah ini dalam lagunya ke seluruh Rajadi yang sedang bersuka cita dan mabuk terlena. Ia ceritakan apakah Ram ataukah Leela yang bersalah atas semakin kacaunya perseteruan ini. Namun, baginya cerita ini tidak perlu jawaban atas pertanyaan itu. Karena buat apa dunia mempersoalkannya, jika hingga kini cinta Ram dan Leela masih ada dan tak mempedulikan segala kekacauan yang diakibatkan olehnya.

Ceritanya itu menghibur hatiku yang lara dan tariannya semakin membuatku tak sadarkan diri. Biar saja kesemrawutan itu terjadi, biar saja permusuhan itu terus berlanjut, dan biarkanlah cinta ini terus ada di antara kami.

Penutup Tabir (interpretasi “Dhoop”)

Berat bagi Leela untuk menjalani kesemuanya ini. Keluarganya terus menekannya untuk melupakanku, bahkan dalam waktu yang mendadak akan mempersuntingkannya dengan lelaki lain. Ibunya yang menjadi penguasa kubu telah mempersiapkan kesemuanya dengan tangan dinginnya. Tak ada yang berani untuk menggagalkan rencananya untuk menikahkan putrinya itu. Hanya Leela seorang diri dengan kekuatan cinta yang membara itu menolak dengan tegas perintah ibunya.

Janji setia telah terikat antara dirinya denganku. Tak bisa ada janji lain yang mengikatnya dengan lelaki lain selain aku. Cincin yang menjadi penanda janji setia itu menjadi bukti. Jika hendak memutus janji ini, maka cincin ini haruslah lepas dari jari Leela. Maka, ibunya dengan penuh amarah memutus jari putrinya sendiri. Cincin itu pun terlepas dan membuatnya lemas seketika. Janji itu tiada yang sudi mengakuinya, bahkan ibunya sendiri.

Penutup tabir itu kian menyelimutinya. Leela terkurung pada kekelaman kebencian keluarganya. Dunianya serasa suram tanpa kehadiran kekuatan cinta. Derita demi derita harus ia jalani jika cinta ini masih hendak ia pertahankan.

 Tabuhan Genderang Perayaan (interpretasi “Nagada Sang Dhol”)

Perseteruan semakin hari semakin rumit. Pertumpahan darah di antara kedua kubu terus saja berlangsung. Siasat ini siasat itu dimainkan untuk menjegal satu sama lain. Keadaan hanya akan terus bertambah buruk jika dibiarkan begitu saja. Tampuk kepemimpinan yang kini diampu oleh diri ini menjadi tanggung jawab yang besar. Sudah cukup pelik persoalan yang telah terjadi, upaya perdamaian perlu dilakukan untuk mengakhirinya.

Perayaan Navratri menjadi momen yang tepat untuk itu. Walau dengan undangan berupa merak yang mati sebagai tanda yang tidak baik dari Sanera, aku tetap menghadiri perhelatan itu. Di kediaman mereka, berlangsung dengan meriah tarian perayaan pemujaan. Para penari melakukan gharba berputar-putar mengitari tabuh nagadha.

Di antara para penari itu, Leela dengan lincahnya mengikuti tabuhan genderang perayaan. Disertai lagu pemujaan, ia tarikan dengan wajahnya yang sendu. Kala ia melihatku, maka ia menghampiriku, dan memberikan tanda penghormatan untukku. Ia kemudian melanjutkan tariannya dan larut dalam setiap gerakannya. Ia curahkan semua gundah perasaannya itu dalam tarian dan lagu yang ia lakukan. Pada tariannya itu, tampak jelas masih begitu kuat cintanya padaku.

Aku hanya mampu memandanginya lekat-lekat. Sampai tak kusadari ada bahaya mengintai, ada siasat licik dari Sanera untuk menghabisiku. Namun, tak ada yang menduga ternyata di akhir tarian itu, justru ibu Leela yang menjadi korban dari tembakan misterius. Sejak saat itu, kisah ini menghadapi persoalannya yang lebih rumit lagi.

Purnama yang Sempurna (interpretasi “Poore Chand”)

Kejutan tidak berhenti pada kejadian ditembaknya pemimpin kubu Sanera. Tidak yang dapat menduga kemudian siapa pengganti pimpinan tertinggi pada kubu lawan Rajadi ini. Leela, putri bungsunyalah, yang menjadi pengganti dan maju pada perundingan perdamaian dengan Rajadi yang dipimpin olehku. Semuanya terhenyak melihat fenomena ini. Tidak ada yang menyangka sepasang kekasih yang dulunya saling mencintai kini mereka harus beradu berhadapan mengusung kepentingan kubunya masing-masing.

Perih rasanya pada pertemuan itu. Cinta yang dulu bersemi ini harus disisihkan demi kepentingan kubu yang menjadi tanggung jawab masing-masing dari kami. Leela ditutupi oleh tabir yang memaksanya untuk tidak mempedulikan masa lalu kami. Aku tak tahan melihatnya seperti itu dan lebih baik mengalah dalam setiap kesepakatan perdamaian yang dirumuskan. Aku biarkan kubunya bertindak semau mereka agar Leela tidak terbebani dengan tuntutan dari kubu Sanera.

Selepas dari kesepakatan itu, rupanya ada yang tidak puas dengan hasil yang diperoleh. Ada makar dari saudaramu yang lain untuk menghabisi kubu Rajadi. Kesepakatan yang semula diharapkan menjadi momen perdamaian antara kedua kubu, malah menjadi semakin memanaskan perseteruan. Siasat licik dan tipu daya telah dipersiapkan dan mereka memanfaatkan Leela sebagai kambing hitam dari pelanggaran kesepakatan itu.

Entah berapa nyawa sudah yang dihabisi dan berapa peluru yang berdesing melayang mencari mangsa. Di saat purnama yang sempurna ini, seharusnya menjadi momen yang tepat untuk merayakan cinta. Namun, Ranjar justru merayakan sebaliknya. Kebencian semakin memuncak dan tak ada cinta lagi yang dapat dirayakan pada saat yang indah ini.

***

ramleelaLeela, di saat genting itu, aku menemuimu. Pada beranda ruangmu yang menjadi tempat kita sering bertemu dulu, aku meminta penjelasan darimu. Aku menanyakan bagaimana semuanya menjadi serumit ini dan begitu menyusahkan kita. Bukankah cinta adalah hal yang begitu indah dan sepatutnya menjadi pemersatu atas semua perbedaan? Salahkah jika kita mencintai satu sama lain? Apakah sudah menjadi ketentuan yang tak dapat diubah untuk orang-orang terdekat kita saling membenci?

Jika memang demikian adanya, maka apalah gunanya hidup ini. Kita percaya bahwa cintalah yang menyemarakkan hidup ini, yang memberikan kebahagiaan tiada terperi, yang selalu menggelorakan gairah untuk terus bersama. Kini, tidak ada lagi yang hendak sepakat dengan apa yang kita percayai itu. Biarlah mereka tetap pada pendirian kakunya itu dan marilah kita sudahi kisah perseteruan ini.

Kali ini tidak perlu ada nyawa-nyawa yang dihabisi percuma akibat persoalan kita. Kita korbankan saja nyawa kita ini sebagai penumpasan terakhir dan semoga jiwa kita menjadi bebas menari bagaikan tarian cantik sang merak yang dirundung cinta. Jiwa ini tidak akan peduli lagi macam apa batas pembeda yang akan menghalangi mereka. Jiwa ini akan menyatu pada dunia lain, jika pada dunia yang telah kita kecap ini rupanya tidak memberikan kesempatan untuk kita bersatu.

Biarlah itu semua terjadi dan menjadi pembelajaran bagi mereka yang mampu memahami bahwa cinta itu ada di atas segalanya dan menjadi penepis kebencian yang begitu merusak.  

Painan, 3 Februari 2014, 23.05

*tulisan ini terinspirasi oleh alur plot film dan urutan lagu soundtrack film Goliyon Ki Raasleela-Ram Leela (2013)

spiritual arrangement of a.r. rahman’s music

Sinema hindi menyajikan berbagai macam ekspresi yang tertuang dalam setiap lagunya. Bukan hanya tentang romantisme yang kerap tampil dalam sinema hindi, tetapi ada juga unsur spiritual yang dapat ditemui pada beberapa lagu. Tema spiritual yang diangkat memang kebanyakan didominasi oleh kultur budaya Hindu, namun tak sedikit juga item lagu yang mengangkat kultur budaya dari hal yang lain.

Salah satu corak budaya lain yang tampil di sinema hindi adalah corak kultur Islami. Walaupun sejarah mencatat terjadinya pemisahan negara (antara India dan Pakistan) yang dilatarbelakangi oleh faktor agama, namun di India tidak serta merta menghapus secara paksa jejak-jejak budaya kultur Islam pada beberapa daerahnya. Uttar Pardesh, Hyderabad, Delhi, dan beberapa daerah lainnya yang berbatasan langsung dengan Pakistan termasuk daerah yang masih kental  budaya Islamnya. Sinema hindi tak sedikit yang telah memberikan tampilan corak budaya Islami sebagai representasi kultur dari beberapa daerah ini.

Qawwali menjadi salah satu bentuk musik bercorak Islami yang kerap diadaptasi menjadi lagu-lagu pada sinema Hindi. Jenis musik ini kaya dengan tabuhan perkusi, irama tepuk tangan, harmonika, dan juga alunan merdu suara penyanyinya. Pada beberapa hari peringatan keagamaan, Qawwali menjadi musik yang sering dimainkan oleh sekelompok pria penyanyi dan pemain alat musik. Dari lirik dan juga nada-nada yang dinyanyikan, corak Sufi tampak sangat kental pada permainan Qawwali. Beberapa syair diambil dari penggalan ayat suci Al Qur’an atau hadits yang memberikan nuansa sakral pada lagu yang dinyanyikan. Dengan corak sufi ini, kesan spiritual yang begitu kuat dapat terasa bagi setiap pendengar musik jenis ini.

Dari sekian banyak lagu-lagu bercorak Islami yang ditampilkan pada sinema Hindi, lagu-lagu Qawwali-lah yang mampu mengantarkan pesan dengan sangat kuat tentang spiritualitas. AR Rahman, sebagai salah satu komposer musik kenamaan sinema Hindi, termasuk komposer yang mampu memberikan sentuhan spiritual mendalam pada lagu-lagu Qawwali yang disajikannya. Alunan musik yang berirama rapi disertai dengan syair lirik yang begitu kental dengan tema pendekatan kepada Illahi menjadi penguat visualisasi dari adegan film sinema hindi. Beberapa adegan yang menampilkan pergolakan spiritualitas pemerannya diiringi dengan lagu semacam ini mampu mengantarkan nuansa spirit rohani tersebut pada para penontonnya.

Berikut beberapa lagu yang saya sukai dan memberikan citraan kuat spiritualitas dari aransemen musik AR Rahman…

Arziyan – Delhi 6

“Arziyaan saari main, chehre pe likh ke laaya hoon. Tumse kya maangu main, tum khud hi samjah lo .Ya maula…, maula maula maula mere maul.. Dararein dararein hain maathe pe maula… Marammat mukaddar ki kar do maula, mere maula..”

(Segala permintaanku telah tertulis jelas di wajahku. Apalagi yang bisa aku pinta dari-Mu, Kau Maha Tahu dan Mengerti tentang semua. Oh Tuhan, Tuhanku. Kerutan demi kerutan tampak pada dahiku, Tuhan. Perbaikilah nasibku, Tuhan…)

arziyanSepenggal  lirik lagu “Arziyan” di atas sangat menampilkan tema kepasrahan diri seseorang kepada Tuhan. Pada film “Delhi 6” karya Rakesh Omprakash Mehra, lagu “Arziyan” ini menjadi latar belakang saat tokoh utamanya, Roshan, menjalani ibadahnya. Yang menjadi menarik dari visualisasi lagu ini adalah tampilan adegan ibadah sholat berjamaah di Masjid Jama’ Delhi yang megah dan ramai pada hari raya. Pada adegan yang lain, ditunjukkan juga para pemain Qawwali yang tengah ditonton oleh Roshan dan jama’ah lainnya.

Ibadah yang hakikatnya memang bentuk kepasrahan diri kepada Sang Illahi disajikan dengan apik oleh sineas hindi pada visualisasi lagu “Arziyan” ini. Penggalan syair yang berulang-ulang kali dinyanyikan khas Qawwali menjadi penguat pengantar nuansa spirit pada lagu ini. Mendengar lagu ini dengan seksama seolah-olah mendengarkan pembicaraan seseorang dengan Tuhan secara langsung. Sang manusia menceritakan tentang segala gundah gulana dalam hidupnya dan mengiba sangat rahmat dan petunjuk dari-Nya.

Kun Faya Kun – Rockstar

“Jab Kahin Pe Kuch Nahi  Bhi Nahi Tha, Wahi Tha, Wahi Tha, Wahi Tha, Wahi Tha… Kun Faya Kun, Kun Faya Kun… SadaqAllahul-alliyul-Azeem”

(Ketika segala sesuatunya tidak berarti, Dialah Yang Maha Esa, Dialah satu-satunya. Jadi, maka jadilah. Jadi, maka jadilah. Maha Benar Allah yang Maha Tinggi dan Agung)

kun faya kunLagu lain dari AR Rahman yang sangat mengena dari sisi spiritualitasnya adalah Kun Faya Kun dari film Rockstar. Lagu ini, sebagaimana ciri dari Qawwali pada umumnya, sarat mengutip penggalan ayat suci, bahkan dari judulnya sendiri terinspirasi dari sana. Beberapa ungkapan lazim bernuansa Islam seperti salawat Rasul dan penutup pembaca Al Qur’an tampil pada lirik lagu ini. Secara umum, liriknya sendiri masih menggambarkan tema kepasrahan diri pada Illahi khas Sufi.

Visualisasi dari lagu ini digambarkan dengan pergolakan batin tokoh utamanya, Jordan, dalam menghadapi kesulitan hidupnya setelah diusir dari rumahnya sendiri. Ia berkelana mengembara tanpa tujuan dan terhenti pada suatu tempat sakral yang sering mengumandangkan Qawwali. Di sinilah Jordan hanyut dalam spiritualitas lagu “Kun Faya Kun” dan menampilkan kepasrahan diri sebagaimana liriknya dengan tepat.

“Kun Faya Kun” menampilkan pengagungan Illahi secara kuat seperti Qawwali lain pada lazimnya. Nuansa rohani yang intens dapat dirasakan dengan meresapi setiap makna syairnya dan larut dalam pemaknaan tersebut. Bagi yang mendengarkan lagu ini, kegundahan dan kepasrahan yang dialami oleh Jordan, sang tokoh utama, pasti juga dapat dirasakan apabila mampu menempatkan diri sebagaimana kesulitan tokoh ini.

Piya Milenge – Raanjhanaa

“Jisko dhoondhe baahar baahar. Woh baitha hai bheetar chhupke. Tere andar ek samandar kyoon dhoondhe tubke tubke. Akal ke parde peeche kar de. Ghoonghat ke pat khol de. Orey piya, piya. Tohe piya milenge, milenge, milenge…”

(Satu hal yang sedang kaucari sebenarnya ada di dalam hatimu. Ada lautan yang luas di dalam hatimu, tak perlu kau cari tetesan yang tidak perlu. Singkirkan keraguanmu. Singkapkan tabirmu. Dan dirimu akan menemukan kekasih yang kaucintai..)

piya milengeAlunan suara merdu dari Sukhwinder Singh dan ensambel kelompok Sufi menjadikan Qawwali berjudul “Piya Milenge” dari film “Raanjhanaa” menjadi istimewa. Vokal suara yang tertata apik dari not yang rendah hingga yang tertinggi dapat dinyanyikan dengan tepat dan serentak. Uniknya lagu ini juga memperdendangkan irama do-re-mi khas India, yakni sa-re-ga-ma dengan cepat tanpa ada kekeliruan. Lagu ini juga tidak hanya mempergunakan alat musik tradisional, tetapi sudah menggunakan beberapa instrumen modern, sehingga terdengar seperti Qawwali kontemporer. AR Rahman mengkombinasikan berbagai unsur melodi itu dan mengharmonikannya dengan komposisi yang pas.

“Piya Milenge” merupakan penutur cerita dari adegan yang ada pada film “Raanjhanaa”. Tanpa perlu ada dialog apa pun, cukup dengan lagu yang mengiringi, makna jalannya adegan ini dapat disampaikan. Perjalanan Zoya yang ditemani oleh Kundan dalam usahanya bertemu kembali dengan pria yang ia cintai terangkum semuanya dalam lirik lagu ini.

Walaupun lagu ini menceritakan tentang perjalanan seseorang menemukan kekasihnya, tetapi pada beberapa penggalan lirik menampilkan corak Qawwali dengan ungkapan syahadat. Nuansa rohani akan terasa jika dapat menganalogikan perjalanan tersebut dengan perjalanan seseorang mencari Tuhannya (yang dicintainya). Visualisasi adegan ini juga menampilkan perjalanan melewati beberapa tempat sakral yang menyimpulkan para tokoh ini tidak hanya mencari kekasih, tetapi juga mencari cintanya pada Tuhan semesta alam.

***

Itulah beberapa lagu dari AR Rahman yang dapat mengantarkan nuansa spiritualitas dalam corak Islami kepada para pendengarnya. Lirik-lirik yang menceritakan hubungan manusia dengan Tuhan, ungkapan-ungkapan Islami, dan alunan merdu para penyanyi merupakan hal-hal yang menjadi penguat unsur spiritualitas pada Qawwali. Rahman dengan musikalitasnya yang sudah tak diragukan lagi mampu mengangkat musik yang sebelumnya hanya terdengar pada peringatan hari raya keagamaan tertentu menjadi pengantar visualisasi adegan sinema hindi.

Lagu Qawwali memang menjadi pilihan yang tepat untuk adegan yang memang membutuhkan nuansa spiritual. Melalui musik semacam ini, bukan hanya kenikmatan duniawi saja dengan lantunan suara dan musik merdu yang terasa, tetapi jauh di dalam batin akan terasa kedamaian dan intensitas emosi yang kuat mengantarkan hubungan manusia dengan Penciptanya…

hindi extravagant colors presented by sanjay leela bhansali

Sinema hindi memang menyajikan karakter khasnya yang kuat pada setiap adegan film-filmnya. Entah itu dari lagu-lagunya yang riuh akan berbagai instrumen tradisional khas, tariannya yang massal dan penuh energi, atau drama romantisme antara tokoh utamanya. Ada beberapa film yang terlalu memaksakan semua unsur bercampur jadi satu paket cerita film, tapi ada banyak lainnya yang dapat mengkombinasikan semua unsur kultur ini menjadi cerita apik yang patut ditonton.

Inilah yang menjadikan saya tertarik akan sinema hindi. Unsur kulturnya tidak akan pernah ditinggalkan. Lagu-lagu, tarian, dialognya, ceritanya akan selalu membawa identitas kultur mereka. Apalagi sebenarnya kemeriahan kultur hindi dengan keragaman corak budaya Indonesia juga mempunyai kemiripan, sehingga maklum saja banyak juga orang Indonesia yang menyukai sinema hindi, termasuk saya hehe.

Dari sekian sinema hindi yang pernah saya tonton, ada satu sutradara yang menjadi favorit saya. Menurut saya, film yang disajikannya dapat memberikan tema kultur Hindi dalam racikan yang pas. Sanjay Leela Bhansali, seorang sutradara sinema Hindi yang dikenal dengan ciri khas magnum opus setting kultur Hindi. Film-filmya memberikan kesan kemegahan budaya Hindi dengan coraknya yang beragam tiap daerah.

Entah itu “Devdas” dengan paduan kultur West Bengal di era British India; “Hum Dil De Chuke Sanam” kisah Gujarati yang berujung hingga ke Itali; “Saawariya” dengan cerita empat malam melankolis menjelang selebrasi Id Mubarak; “Black yang mengisahkan hubungan antara seorang guru dan muridnya; dan “Guzaarish” tentang perjuangan mercy-killing seorang pesulap cacat dalam sentuhan warna kultur Goa, kesemuanya itu menjadi suguhan yang mampu membuat saya kagum akan karya-karya besutan Sanjay Leela Bhansali. Warna ekstravaganza budaya Hindi benar-benar tersaji dengan mempesona pada film-filmnya.

Devdas… Bengali Tragedic Ending Love Story

devdas2Berbicara mengenai kesukaan saya akan sinema hindi, semua ini bermula dari ketertarikan saya akan satu film hindi bertajuk “Devdas”. Film inilah yang mengenalkan saya lebih dalam akan kekayaan warna kultur hindi yang disajikan di dalamnya. Semula saya mengira tipikal film Hindi condong ke arah drama yang bersifat populer dan mengharukan dengan diselingi beberapa tarian dan lagu yang hingar bingar meriah. Namun, Devdas memberikan paradigma baru tentang film Hindi bagi saya. Film ini membawakan nuansa lebih dalam daripada yang umumnya orang ketahui tentang stereotype film Hindi.

Film ini diangkat dari karya pujangga terkenal Bengali, Sarat Chandra Chattopandhay, berjudul sama dan sudah beberapa kali diadaptasi dalam bentuk film. Ceritanya merupakan karya yang melegenda seperti halnya Laila Majnu-nya Nizami Ganjavi. Kisah tentang seorang pecinta yang larut dalam kesedihannya akan cinta yang tak sampai dan tragedi yang menyertai hingga ajal menjemputnya. Dari ceritanya saja, akan didapatkan kesan emosi yang mendalam dan Bhansali mampu mengemasnya dalam sentuhan yang lebih megah, berwarna, dan meriah pada gubahan “Devdas” versinya.

Ber-setting-kan era British India dan kultur daerah Bengali, film ini marak akan visualisasi kemegahan para bangsawan Bengali di jaman itu. Bangunannya berarsitektur khas Eropa dilengkapi ornamen Hindi dengan ukiran pola tertentu. Tata busana para pemeran di film ini juga menampilkan corak budaya pada setiap bordir atau warna yang dipilih. Musik dan tarian yang disajikan juga tak luput dari sentuhan kultur dengan gaya tradisional khas hindi. Yang menarik bagi saya, tari dan lagu pada film ini tidak terkesan dipaksa untuk masuk dalam plot cerita. Tari dan lagu menjadi satu kesatuan cerita plot pada film ini.

Pada “Devdas” versi Sanjay Leela Bhansali ini, saya baru menyadari pertama kali betapa luar biasanya akting Shahrukh Khan dalam memainkan perannya sebagai pecinta yang kesakitan. Ia tampak begitu intens mendalami perannya. Aishwarya Rai dan Madhuri Dixit tentu juga menjadi sorotan pada film ini. Kombinasi keduanya, apalagi dalam tarian “Dola Re Dola” menjadi suguhan yang mempesona. Kekuatan film ini tidak hanya pada suguhan latar belakang kemegahan yang ditampilkan, tetapi juga pada kemampuan akting para pemerannya sehingga mampu menghadirkan nuansa mendalam bagi penontonnya.

Bagi saya, Devdas versi Bhansali yang satu ini tidak ada duanya, sangat spesial. Ini benar-benar a grand saga of timeless love. Saya sampai tak bosan menontonnya hingga berkali-kali. Film inilah yang menjadikan saya penasaran akan film Hindi lainnya, apakah ada lainnya yang mampu mengkombinasikan paduan kultur dan cerita yang bagus pada satu tampilan sinema…

Hum Dil De Chuke Sanam… When Gujarati Tried To Meet Italy

hddcsDari “Devdas”, saya kemudian baru mengetahui bahwa sebelum “Devdas” ditayangkan, Sanjay Leela Bhansali sudah menyajikan film dengan ciri khasnya bertajuk “Hum Dil De Chuke Sanam”. Kali ini, Bhansali memberikan nuansa kultur Gujarat yang kental pada plot yang disajikannya. Film ini berkisah tentang seorang gadis Gujarat yang jatuh cinta pada seorang pengembara dari Itali dan bagaimana mereka berusaha untuk saling bertemu walau pada akhirnya disadari ada suatu kesalahan pada kisah cinta mereka.

Ternyata film ini menghadirkan intensitas emosi antar pemerannya hampir sama dengan “Devdas”. Akting Salman Khan, Aishwarya Rai, dan Ajay Devgan mampu menghadirkan kerumitan kisah cinta di antara mereka. Nandini, tokoh wanita utama pada film ini, tampak dalam dilema yang memberatkannya untuk memilih antara Sameer , yang ia cari-cari hingga sampai ke Itali, atau Vanraj, suaminya dari ikatan pernikahan yang tak diinginkannya. Kisah berakhir pada suara hati Nandini yang mengantarkannya pada pilihan seseorang yang dengan murni dan kerelaannya mencintai Nandini.

Yang terkenal dari film ini, salah satunya dari performa tarian tradisional Gujarati yang dikenal dengan “Garba”. Aishwarya Rai dan Salman Khan dengan lincahnya dan penuh ekspresi menghentakkan panggung menyanyikan lagu “Dholi Taro Dhol Bajhe”. Lagu ini diwarnai dengan permainan musik tradisional dan tarian yang fantastis dan energik merayakan selebrasi. Inilah khasnya dari film Bhansali yang mampu mengenalkan tarian-tarian tradisional Hindi diangkat pada layar sinema, hal yang jarang didapati pada film Hindi kebanyakan.

Saawariya… Melancholic Eid Celebration

saawariya2Pada momen merayakan hari raya Idul Fitri (atau yang lebih disebut dengan Eid Mubarak di India), saya akan selalu teringat pada lirik lagu “dekho chaand aaya, chaand nazar aaya “ (lihatlah bulan telah tampak, ya bulan memang telah tampak, red). Lirik ini diambil dari salah satu lagu pada film Bhansali lainnya yang berjudul “Saawariya”. “Yoon Shabnami”, lagu inilah yang menyajikan nuansa yang tepat untuk selebrasi melihat tampaknya bulan (atau hilal) yang menandakan dimulainya perayaan Eid Mubarak.

Film Bhansali kali ini menghadirkan nuansa baru dengan diangkatnya warna kultur Islami, berbeda kontras dengan film-filmnya yang sebelumnya. Walaupun begitu, tentu saja kemegahan dan nuansa artistiknya yang khas tetap melekat pada karyanya yang satu ini.Tidak jelas sebenarnya daerah mana latar belakang cerita film ini dibuat. Bahkan sebenarnya terasa Bhansali membawakan dunia imajinasinya  sendiri ke dalam film ini dengan sentuhan kultur Islami yang terkenal pada beberapa daerah di India, seperti Lucknow atau Uttar Pradesh. Tampak keseluruhan film dibuat pada studio yang disulap menjadi negeri imajinasi Bhansali penuh dengan dekorasi etnis dan estetika seni di mana-mana.

Disadur dari cerita pendek Fyodor Dostoevsky berjudul “White Nights”, alur cerita pada “Saawariya” benar-benar total melankolis dari awal hingga akhir. Cerita bermula dari Sakina yang setiap malam menunggu kedatangan kekasihnya menepati janji bertemu dengannya kembali, bertemu dengan seorang pengembara bernama Ranbir yang kemudian jatuh cinta padanya, dan bagaimana kemudian Sakina putus asa dan mencoba beralih hati pada Ranbir, hingga kemudian kedatangan Imaan (kekasih yang ia tunggu) akhirnya menjadi pemungkas cerita.

Film ini menjadi film pasangan debutan Ranbir Kapoor dan Sonam Kapoor. Keduanya  berasal dari keluarga artis film Hindi dan tentu banyak ekspektasi atas peran perdana mereka. Memang masih tampak beberapa kecanggungan dan kurang intensnya interaksi pada keduanya di film ini, namun secara keseluruhan emosi yang tersaji pada film ini menurut saya dapat diantarkan sampai pada penonton. Apalagi dengan adanya peran pendukung oleh aktor yang sudah terkenal seperti Rani Mukherjee dan Salman Khan menjadikan film ini lebih terangkat intensitas emosinya hingga pada klimaks cerita.

Black… Goa Teacher-Student Complicated Bonding

25sli9Dari review sebelum saya menontonnya, saya mengira “Black” versi Sanjay Leela Bhansali akan mengangkat cerita biografi dari Helen Keller, tokoh wanita tunanetra yang fenomenal dan menginspirasi. Namun, setelah menontonnya, saya mendapati lebih dari itu. Cerita yang disampaikan pada film ini memuat komplikasi yang lebih intens walau pada dasarnya memang kisah yang diangkat berdasar pada cerita tentang kehidupan Helen Keller.

Saya malah mendapati bahwa sebenarnya yang menonjol dari film ini bukan perjuangan wanita tunanetra dalam upayanya mengenali dunia, tetapi hubungan emosional antara murid dengan gurunya pada kisah perjuangan itu yang menarik. Michelle McNally yang diperankan oleh Rani Mukherjee merupakan tokoh yang terinspirasi dari sosok Helen Keller yang sejak kecil mengalami buta bisu tuli. Ia dapat mengenali dunia dan berjuang meraih mimpinya berkat pengajaran oleh gurunya, Debraj Sahai (diperankan oleh Amitabh Bachchan) yang jelas menjadikan cerita ini memang bukan cerita gubahan dari kisah Helen Keller karena gurunya pada kisah aslinya adalah seorang wanita.

Ciri khas desain setting etnis khas Bhansali pada “Black” tidak terlalu menonjol sebagaimana film lainnya tampil penuh dengan warna warni. Walau begitu, film ini dapat memberikan gambaran keindahan Goa yang merupakan daerah Hindi yang sangat dipengaruhi oleh gaya Eropa. Film ini juga tidak diiringi oleh musik yang hingar bingar dan berbagai macam, tetapi diiringi dengan paduan background score yang pas mengiringi jalan cerita.

Yang menjadi kepatutan penghargaan salut untuk “Black” adalah akting pemerannya. Rani Mukherjee berhasil keluar dari peran lazimnya seorang heroine film Hindi dengan sempurna berperan seolah-olah wanita buta bisu tuli. Amitabh Bachchan sebagai sosok guru pada film ini juga sangat meyakinkan, apalagi ketika tokohnya mengalami penyakit Alzheimer. Saya tercengang akan perubahan drastis yang disajikan oleh para pemeran film ini. Alur ceritanya juga sangat mengunggah emosi dengan beberapa konflik klimaks yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Guzaarish… Another Goa Great Love Story

guzaarish“Guzaarish” menandakan ketiga kalinya kolaborasi antara Sanjay Leela Bhansali dengan aktris favoritnya, Aishwarya Rai. Jelas memang, akting terbaik Aishwarya Rai berpengaruh pada kesuksesan film Bhansali terdahulu yaitu “Hum Dil De Chuke Sanam” dan “Devdas”. Film ini juga cukup menghebohkan di saat tayangnya dengan pasangan untuk ketiga kalinya antara Aishwarya Rai dengan Hrithik Roshan setelah hits mereka, “Dhoom 2” dan “Jodha Akbar”, yang sukses dinikmati penonton sinema Hindi.

Cerita yang disajikan pada “Guzaarish” berlatarbelakangkan kultur yang sama dengan “Black”, yakni daerah Goa. Unsur etnis dan estetika khas Bhansali dirasakan lebih menonjol dan dieksplorasi pada “Guzaarish”. Busananya, gedung rumahnya, tariannya, dan pemandangan alamnya (satu hal yang baru tampil pada film Bhansali yang kebanyakan dibuat dari setting-an studio) kesemuanya menggambarkan warna khas Goa dalam perspektif yang lebih artistik. Selain nuansa kultural ini, juga disajikan atraksi sulap yang memukau sebagai bagian dari cerita.

“Guzaarish” adalah satu cerita unik yang jarang ditampilkan pada film Hindi umumnya. Film ini mengangkat tema tentang mercy killing atau Euthanasia yang diperjuangkan oleh Ethan Mascarenhas (diperankan oleh Hrithik Roshan). Sekali lagi, Bhansali dapat mengerahkan kemampuan terbaik aktor yang berperan pada filmnya dengan menampilkan sosok Hrithik tampak begitu meyakinkan sebagai pengidap Quadriplegic (kelumpuhan hampir di sekujur tubuh) sekaligus sebagai master pesulap anggun pada masa kejayaannya. Aishwarya Rai yang berperan sebagai Sofia D’Souza juga menjadi unsur utama film ini, peran yang menyertai perjuangan Ethan dan kemudian saling mencintai pada saat-saat terakhir.

Tidak seperti “Black” yang tidak terlalu diiringi dengan tarian dan lagu, Guzaarish menampilkan ciri khas film Hindi ini dengan komposisi yang tepat. Lagu “Udi” menjadi salah satu contoh yang menggambarkannya. Dengan iringan musik adopsi dari Eropa khas Goa dan juga tarian flamenco yang secara anggun dibawakan oleh Aishwarya Rai, menjadi suguhan yang menarik pada film ini. Satu catatan khusus pada film ini adalah Bhansali tidak hanya menyutradarai film ini, tetapi juga menjadi komposer musik dari film ini. Untuk kali pertamanya sebagai komposer, lagunya merupakan pengiring yang sesuai dengan jalan cerita, mampu membawakan emosi adegan yang divisualisasikan.

***

Sajian Sanjay Leela Bhansali selalu memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Akting pemerannya tidak diragukan lagi, penuh penghayatan dan pendalaman emosi. Latar belakang kultur etnis filmnya akan selalu ada dengan sentuhan estetika yang ada pada dekorasi tempatnya, busananya, iringan lagu, dan tariannya. Filmnya yang tidak saya bahas di sini adalah film perdananya, “Khamoshi”, yang belum terlalu menarik bagi saya. Sedangkan untuk filmnya terbaru, “Ram Leela”, yang sebentar lagi akan diterbitkan, menjadi ekspektasi untuk merasakan karyanya yang sepertinya akan menggabungkan elemen-elemen menarik pada film-filmnya terdahulu menjadi satu paket tontonan yang sangat ditunggu-tunggu….

Melancholic Sounds from Vishal Bhardwaj

Vishal Bhardwaj adalah salah satu sutradara pada film-film Bollywood. Tak hanya mengatur mengenai akting para pemainnya, sutradara yang satu ini juga mengatur aransemen komposisi musik pada hampir seluruh filmnya.

Industri film Bollywood memang tak bisa lepas dari lagu-lagu khas Hindi pada setiap filmnya. Pada beberapa film tertentu yang mengangkat tema kuat dalam ceritanya, bahkan tata lagu atau musik menjadi pengaruh penting dalam penguatan alur cerita. Pada film yang dibuat oleh Vishal Bhardwaj, lagu yang disajikan bukanlah sekadar penarik perhatian semata, tapi juga membawakan inti dari cerita filmnya.

bekaraanSalah satu yang menjadi favorit saya adalah lagu “Bekaraan” pada filmnya yang berjudul “7 Khoon Maaf”. Lirik lagu ini menceritakan tentang betapa takluknya seorang pria tokoh film ini (dimainkan oleh Irrfan Khan yang terkenal sebagai inspektur pada film “Slumdog Millionaire”) pada wanita yang dicintainya (diperankan oleh Priyanka Chopra). Visualisasi dari lirik lagu ini ditampakkan dengan penghayatan kemesraan antara pemeran film ini. Tatapan mata dan bahasa tubuh yang tidak vulgar disajikan sesuai dengan liriknya. Alunan suara merdu dari penyanyinya yang ternyata Vishal Bhardwaj sendiri rasanya sudah dapat mengantarkan nuansa romantisme yang ada pada film ini.

khamakhaPada film Bhardwaj bertajuk “Matru Ki Bijlee Ka Mandola”, saya kembali menemukan lagu yang setipikal dengan “Bekaraan”. Kali ini dengan visualisasi lagu oleh Imran Khan dan Anushka Sharma sebagai pemeran film ini, lagi-lagi Bhardwaj menyanyikan lagu romantis yang menjadi penanda bahwa salah seorang tokoh baru menyadari dirinya telah jatuh cinta. “Khamakha” sendiri yang berarti “alasan” ini mempunyai lirik yang menggambarkan bahwa cinta yang tumbuh di antara kedua tokoh telah terjadi bukan tanpa alasan yang menyertai.

Film “7 Khoon Maaf” dan “Matru Ki Bijlee Ka Mandola” merupakan film terkini dari Vishal Bhardwaj. Dua film ini bukanlah tipe populer yang temanya sering diangkat pada film Bollywood. Keduanya mengangkat tema yang unik. “7 Khoon Maaf” mengisahkan tentang seorang wanita yang gagal menjalin cinta pada ke-6 lelaki dan kekecewaannya membuatnya membunuh setiap lelaki itu hingga ia menemukan lelaki ke-7 yang misterius. Pada “Matru Ki Bijlee Ka Mandola” dikisahkan hubungan rumit dengan pengaruh intrik politik, keserakahan bisnis, kepribadian ganda, antara tokoh pengusaha sukses bernama Mandola, anaknya Bijlee, dan orang kepercayaannya Matru.

kaminey2Selain dua film itu, baru saja kemarin saya menonton film Bhardwaj yang sudah tayang sebelum keduanya. Filmnya yang berjudul “Kaminey” membuat saya tertarik karena ulasan tentang film ini yang telah mendapat apresiasi penghargaan pada ajang bergengsi perfilman Bollywood.

Tak salah rupanya banyak penghargaan diberikan pada film Bhardwaj yang satu ini. Film yang diperankan Shahid Kapoor dan Priyanka Chopra ini menceritakan tema yang unik lagi, tentang dua bersaudara kembar yang terlibat permasalahan masing-masing dan kemudian menjadi tambah kacau dengan mafia gangster narkoba, politik kotor, kerakusan akan kekuasaan.

Kali ini musik yang disajikan Bhardwaj juga menjadi elemen penting dalam menggambarkan secara ringkas dan padat inti cerita dari film “Kaminey” ini. Lagu yang diberi judul seperti judul filmnya ini dinyanyikan oleh Bhardwaj dengan penuh penghayatan. Lirik dari lagu ini mengisahkan betapa kepasrahan telah dialami oleh tokoh utamanya akan kekurangajaran lingkungan sekitar yang menjadikannya sulit mengejar impiannya. Tipe lagu yang berbeda dengan “Bekaraan” dan “Khamakha”, tetapi suara merdu melankolis khas Bhardwaj menjadikan pendengarnya mengalami takluk dan keluluhan yang sama, entah itu karena pesona, cinta, atau kepasrahan hidup.

Tiga lagu inilah yang menurut saya menjadi masterpiece dari penyanyi, komposer, sekaligus sutradara yang bernama Vishal Bhardwaj ini. Walaupun memang banyak tema filmnya yang selalu menyajikan sisi realita yang gelap dari kehidupan, namun keindahan penyajian alunan suara dan musiknya dapat mengubah kesan film pada sisi melankolisnya. Mendengarkannya saja tanpa perlu visualisasi adegan dari filmnya dan mengetahui arti lirik sebelumnya, vokal suara Bhardwaj sudah tampak jelas mengantarkan nuansa melankolis yang kuat. Apalagi ketika sudah mengetahui makna liriknya akan ditemukan kesesuaian yang tepat pada visualisasi adegan di filmnya. Suatu kombinasi dengan racikan yang pas pada setiap filmnya, cerita dengan tema dan komplikasi plot yang kuat serta alunan musik yang menjiwai setiap alur cerita hingga pada akhirnya.

Saya jadi penasaran pada rencana film berikutnya nanti apakah suara merdu Bhardwaj akan memberikan kesan yang sama dengan tiga lagu favorit saya ini atau lebih dahsyat lagi? Kita lihat saja selanjutnya…