kekacauan

Apa yang terjadi setelah perasaanku bercampur aduk? Tak disangka muncullah rentetan peristiwa yang tidak terduga padahal aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Pada satu sisi ini semakin kuatlah perasaan yang tak nyaman di dalam benak. Namun, ada hal yang tetap dapat dijadikan sebagai pembelajaran jika dilihat pada sisi lainnya. Apalagi peristiwa semacam ini bukanlah hal yang paling parah pernah dialami diri sebelumnya.

Tentang guncangan yang membuat diri segera beranjak menyelamatkan diri itu mengungkit perasaan yang sama di masa lalu. Dulu guncangan-guncangan semacam itu kerap dialami dan membuat diri lebih bersiaga dengan segala kemungkinan. Saat-saat itu terasa benar tak ada lagi yang bisa diperbuat, sangat tak berdaya akan kuasa Tuhan, dan hanya bisa pasrah akan ketentuan-Nya.

Saat seperti itu datang pada waktu yang tak dapat ditentukan, tiba-tiba saja, dan membuat semua manusia berhamburan menyelamatkan diri. Kekhawatiran menyeruak bertanya-tanya apakah akan terjadi peristiwa yang serupa atau yang lebih parah lagi. Semuanya bersiaga dan tidak berani  ke mana-mana hingga dinyatakan telah aman untuk kembali.

Guncangan adalah suatu bentuk peringatan. Ingat bahwa bisa jadi dalam sekejap saja semua menjadi hancur. Ingat bahwa kesempatan hidup itu benar-benar sesuatu yang patut disyukuri. Ingat bahwa ada kendali di luar jangkauan yang menentukan nasib manusia. Peringatan-peringatan ini sepatutnya menjadi tamparan keras bagi mereka yang masih terlena, lupa, dan tidak peduli seperti aku.

Guncangan itu menamparku. Guncangan itu membuatku merasakan kembali kepanikan dan ketidakberdayaan itu. Guncangan itu hadir kembali di saat aku memang telah lama tak ingat bagaimana rasanya. Jantung berdebar kencang, napas yang tersengal-sengal, dan pikiran yang berkecamuk. Kacau benar rasanya.

Lalu, tak berselang lama dari guncangan itu tadi, terjadi pemutusan sumber daya energi yang sering digunakan. Jam demi jam berlalu dilampaui dengan kebingungan. Ketergantungan pada sumber daya energi itu telah pada tataran yang mencemaskan. Seketikanya terjadi gangguan, lumpuhlah semua yang berhubungan. Lagi-lagi kekacauan tampak jelas di mana-mana.

Aku pun termasuk dalam kerumunan manusia yang mengeluh atas kejadian tadi. Komunikasi jarak jauh menjadi susah karena terputus penghubungnya yang menggunakan energi itu. Panas mentari siang yang biasa dapat ditangkal oleh mesin pengatur udara pun tak dapat digunakan. Menjelang malam secercah cahaya menjadi barang yang dicari-cari untuk dapat menyibakkan kegelapan yang mencekam. Semua orang sibuk berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang terbatas.

Dulu kejadian semacam ini adalah hal yang kerap dialami. Pada daerah yang sangat jauh tertinggal dari kemajuan ibukota, pemutusan sumber daya sudah seperti hal yang dimaklumi. Ketidakmerataan pembangunan tentu menyebabkan keterbatasan sumber daya. Dengan keterbatasan ini maka apalagi yang bisa dilakukan, tidak ada jaminan bahwa energi akan terus menerus disalurkan dengan baik di daerah ini.

Hari-hari itu adalah hari di mana tidak banyak hal yang bisa dilakukan pernah dialami. Mengeluh menggugat keadaan itu hanya membuang-buang energi. Yang kemudian dilakukan adalah mengalihkan pada kegiatan yang memang tak membutuhkan pemanfaatan sumber energi. Ketidakberdayaan itu mengingatkan kembali untuk berhubungan langsung dengan manusia lainnya tanpa perantara teknologi ataupun menikmati keindahan alam yang belum disentuh oleh modernisasi zaman.

Kekacauan demi kekacauan ini telah memberikan banyak pelajaran sebenarnya di masa lalu. Ketika ia terjadi lagi, maka seharusnya diri ini bisa menyesuaikan dengan segera. Namun, hati ini masihlah tidak tenang dengan perasaan yang bercampur aduk. Jika tempat ini sudah sedemikiannya tidak nyaman ditambah dengan kekacauan ini, bukankah lebih baik untuk tidak lagi berada di sini?

Jakarta, 6 Agustus 2019 22:25

Iklan

back to work

Aku tahu kalau mengubah pola hidup kembali pada rutinitas yang dulu pernah dijalani itu tidak akan mudah. Dua setengah tahun lamanya jeda yang telah diterima. Jeda selama itu mungkin saja tidak akan pernah diterima kembali, sudah sepatutnya aku bersyukur atas kesempatan yang telah diberikan kepadaku ini. Kesempatan untuk mengembangkan diri dan menambah wawasan keilmuan kini perlu pembuktian dan juga balasan kontribusi atas apa yang telah diberikan oleh organisasi. Aku harus kembali bekerja, tidak bisa berlama-lama dengan jeda yang diberikan hanya untuk sementara waktu ini.

Ada suka duka dalam hal tentang kembalinya bekerja ini. Hal yang paling berat untuk dijalani adalah berpisahnya dengan keluarga. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk lebih baik berpisah. Aku di ibukota, istri dan anakku tercinta di kota bunga. Hidup sendirian saja di ibukota tentu tidak mudah, apalagi jika harus terngiang rindu dengan keluarga yang terpisah jauh ratusan kilometer di sana. Getir rasanya. Tak bisa dipungkiri berat rasanya saat hari itu tiba, hari di mana harus berangkat menuju kota yang sudah terkenal dengan keberingasannya dan meninggalkan keluarga yang dicintai. Saat itu, sangat berharap semoga ini hanya sementara saja, tidak akan lama untuk kemudian bisa berkumpul kembali. Harapan inilah yang menguatkan untuk melangkah, tak boleh mundur melihat ke belakang.

Dengan kembali bekerja, maka penghasilan yang diterima menjadi lebih besar. Ini adalah hal yang diakui memang menjadi salah satu alasan untuk kembali bekerja. Sudah jengah rasanya menghadapi keterbatasan keuangan yang pernah dialami. Nilai uang semakin hari semakin naik, beban tanggungan untuk menghidupi keluarga juga semakin bertambah. Bekerja juga berkaitan tentang aktualisasi diri. Pada masa-masa terakhir dari penugasan belajar, tak sabar rasanya untuk mengetahui perkembangan organisasi terkini dan peran apa yang bisa dilakukan untuk ikut andil urun tangan.

Aku masih ingat bagaimana hari pertamaku bekerja kembali berlangsung. Aku jelas merasa canggung, gagap, dan bingung dengan apa yang harus dilakukan. Pengalaman lima tahun lebih bekerja sebelum tugas belajar seakan tak ada apa-apanya. Semuanya kembali menjadi nol, berhadapan dengan hal-hal baru, dan perlu menyesuaikan dengan orang-orang yang baru juga. Kantor pusat tidak lagi sama seperti sembilan tahun yang lalu saat aku magang dulu, sudah banyak perubahan terjadi.

Dengan perubahan-perubahan yang telah terjadi itu, ada satu hal yang tetap sama. Kenangan atas status magang di masa lalu terasa kembali. Pegawai magang adalah pegawai dengan status yang belum jelas. Satu sisi dinyatakan sebagai pegawai yang ikut bekerja dalam satu unit tertentu, tetapi dengan status kantor asal yang masih menempel. Pegawai magang tak bisa diberikan pekerjaan yang sifatnya permanen, strategis, dan melekat pada personel tertentu. Yang bisa dikerjakan oleh pegawai magang adalah hal yang sifatnya berbentuk dukungan teknis ataupun administrasi rutin klerikal.

Tak masalah sebenarnya dengan status magang ini. Hal ini dapat dimaklumi karena bagaimanapun juga ada jeda yang cukup lama sejak terakhir kalinya bekerja. Justru inilah menjadi permulaan yang tidak menjadikan diri kaget, perlahan memulai kembali dengan urusan-urusan yang ringan. Ada waktu yang diberikan juga untuk mengamati, belajar kembali, dan mengejar ketertinggalan perkembangan yang selama ini terjadi.

Kegiatan magang ini berlangsung pada satu unit yang sama selama satu setengah bulan. Lebih lama dari yang dulu pernah dijalani sembilan tahun yang lalu. Dulu, berpindah-pindah dari satu unit ke unit lain dalam hanya hitungan beberapa minggu saja, sehingga tidak terdapat kesan atau momen yang teringat jelas. Satu setengah bulan rasanya sudah menjadi waktu yang cukup sebagai pembelajaran, sudah saatnya untuk beranjak pada unit lainnya untuk belajar hal yang lain.

Rupanya apa yang kemudian dialami pada unit lainnya adalah hal yang berbeda kontras. Kali ini pada unit yang berbeda, perlakuan yang diterima adalah pengalaman yang benar-benar baru dirasakan. Unit ini adalah sebenarnya unit yang tepat dan sesuai dengan latar belakang pendidikan yang telah ditempuh. Pengalaman kerja sebelumnya juga sangat berkaitan erat dengan apa yang menjadi tugas pokok dari unit ini. Unit ini tidak memperlakukanku sebagaimana pegawai magang biasa, justru bagi mereka aku seakan menjadi pegawai yang dinanti-nantikan untuk bergabung memperkuat lini kinerja unit ini.

Dalam hitungan hari, pekerjaan-pekerjaan yang spesifik mulai diberikan dan intensitas mulai meningkat. Sudah hampir dianggap seperti pegawai yang memang ditempatkan pada unit ini. Interaksi dengan pegawai lainnya juga lebih dekat dan hangat. Beberapa kawan lama yang sudah dikenali dan ada di situ juga membantu dan berbagi cerita tentang apa saja yang perlu diketahui. Tak ada rentang kendali yang jauh dan kaku antara atasan dan bawahan. Setiap personel memiliki tugas yang spesifik, wawasan keahlian yang sudah teruji, dan mau bekerja sama dalam satu tim yang solid. Tugas unit ini yang sangat strategis juga memberikan kesempatan untuk dapat bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi yang dulu hanya bisa diketahui dari media massa. Ada kalanya terjadi intrik-intrik kecil, tetapi itu tidaklah berarti dan dapat dimaklumi karena tidak ada organisasi yang sempurna.

Satu setengah bulan yang kedua di unit ini hampir berakhir. Begitu cepat terasa, banyak hal yang terjadi. Memang sepertinya unit terakhir ini menjadi tempat yang ideal. Akan tetapi, jika memang untuk selanjutnya ditugaskan benar di unit ini, akankah ini menjadi tempat yang terbaik bagiku? Padahal tetap saja, hidup di ibukota ini sungguh membuat hati sering merasa kacau, lelah, dan galau. Ibukota bukanlah tempat yang ramah untuk hidup berkeluarga juga, ada banyak tantangan menanti jika membawa serta keluarga nantinya ke kota ini. Beban kerja juga sudah dapat diperkirakan bahwa nantinya akan ada konsekuensi tuntutan yang lebih berat, sigap, dan aktif. Dengan sifatnya yang strategis, maka harus siap juga mengorbankan lebih banyak tenaga, waktu, dan pikiran.

Saat ini aku hanya bisa berdoa, berharap atas penempatan yang terbaik. Dengan total tiga bulan yang telah dijalani sebagai pegawai magang sebagaimana yang telah diatur oleh ketentuan, sepertinya status magang ini sudah cukup untuk dijalani. Ada dua sisi berlawanan yang telah dirasakan, memang belum sepenuhnya pengalaman ini dapat dikatakan sudah memadai dan membuat diri layak dinyatakan siap benar-benar bekerja kembali, tetapi berlama-lama dengan status magang ini pun juga tidak nyaman. Perlu ada kepastian dan kejelasan di manakah nantinya tempat untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang agar bisa ditentukan rencana aksi yang tepat untuk hidup yang lebih baik dan terarah.

Bekerja itu memang sudah menjadi fase bagian hidup yang harus dilakukan. Bekerja juga menjadi bentuk pengabdian yang telah mengikat diri untuk berbakti pada negara. Bekerja mengangkat status hidup yang lebih layak. Kini sudah saatnya untuk kembali bekerja setelah jeda yang sementara. Tugas belajar telah menjadi momen yang sangat disyukuri sebagai jeda yang sesuai untuk berkembang. Apa yang dulu pernah dipelajari semoga bisa bermanfaat untuk pelaksanaan tugas selanjutnya. Ini sudah menjadi saat yang tepat, tidak boleh lagi menyesal untuk kembali, dan semoga juga tidak berapa lama kemudian bisa diberikan kesempatan untuk tugas belajar pada jenjang yang lebih tinggi.

Jakarta, 29 Juli 2019 23:55

mengulas tugas perbendaharaan di tahun kedelapan

Rupanya sudah berjalan delapan tahun. Rasanya memang sudah banyak hal yang telah terjadi, tetapi aku tidak menyangka sudah berjalan selama itu. Delapan tahun sudah terikat pada suatu institusi yang bernama Direktorat Jenderal Perbendaharaan, unit eselon I pada Kementerian Keuangan yang tidak setenar Pajak maupun Bea Cukai.

Aku mencoba mengulas kembali apa yang telah berlalu. Pada delapan tahun yang lalu itu, tanggal 20 Oktober 2010, aku mengunduh sebuah berkas dari official website STAN di rumahku. Berkas itu adalah berkas yang sangat penting untuk menentukan pada instansi manakah nantinya ikatan dinas selepas masa kuliah di STAN akan dilaksanakan. Ya, berkas itulah yang memberikan keterikatan pada suatu instansi untuk mengabdi sebagai PNS selama 10 tahun atau lebih masa ikatan.

Pada berkas itu tertampang judulnya dengan huruf kapital “Pengumuman Biro Sumber Daya Manusia Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan No. PENG-02/SJ.5/2010 tanggal 19 Oktober 2010 tentang Pengumuman Penempatan Lulusan Program Diploma I dan III  STAN Tahun 2010 pada Kemenkeu, BPK, dan BPKP”. Lalu, pada lampiran 1 dan baris ke-81 barulah muncul namaku, Anas Isnaeni D-III Akuntansi Pemerintah, dan pada sisi sebelah kanan tertera “DJPB”.

c8dba113-7e98-4706-be53-9c22aa8aa928

DJPB, singkatan dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Ekspresiku terkejut saat membaca namaku bersebelahan dengan nama instansi ini. Terasa asing karena dari pengalaman senior-senior pada tahun sebelumnya tak pernah ada yang ditempatkan pada instansi ini. Baru pada tahun 2010 itulah, DJPB merekrut kembali lulusan D-III STAN. Terasa kecewa juga, walau tidak begitu menjadi persoalan, karena pilihan dan harapanku tidak sesuai dengan realita yang diterima. Aku merasa beruntung pada satu sisi lainnya, aku tidak masuk pada unit instansi yang tidak aku sukai/harapkan. DJPB berada pada tengah-tengah itu, instansi yang tidak begitu aku harapkan dan juga tidak menjadi daftar hitam instansi yang tidak aku sukai.

Singkat cerita, bulan Oktober tahun 2010 menjadi bulan yang berkenang dengan segala hiruk-pikuk yang terjadi pada saat itu. Yudisium, wisuda, pengumuman penempatan instansi, dan pemberkasan di kantor pusat semuanya dilalui pada bulan ini. Aku harus bolak-balik antara Salatiga dan Jakarta selama beberapa kali. Hingga kemudian pada awal bulan selanjutnya, proses internalisasi sebagai pegawai baru di DJPB berlangsung dengan kegiatan orientasi, motivasi, dan magang selama sekitar 7 bulan lamanya. Selang waktu ini, tidak banyak cerita yang terkenang karena pegawai magang bisa dibilang belum menjadi pegawai yang sepenuhnya, baru sebatas mengenali apa saja yang ada di dalam DJPB dan tugas-tugas yang terkait dengannya.

Bulan Juni 2011, statusku sebagai pegawai magang berubah. Sebuah Surat Keputusan menetapkan aku untuk pindah dari Jakarta dan menjadi pegawai tetap pada suatu kantor yang bernama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Painan. Painan adalah kota yang sebelumnya tidak aku kenali. Saat itu, aku sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di luar pulau Jawa, bahkan pun tidak ada kerabat di sana. Demi pengabdian sebagai PNS, aku pindah ke sana dan memulai pekerjaan baru. Di ranah Minang inilah banyak asam garam kehidupan yang sesungguhnya dirasakan hingga 5 tahun lebih masa penugasan.

Di KPPN Painan, mulanya aku ditugaskan sebagai front office Subbagian Umum. Masih aku ingat pekerjaan itu membuat aku tidak merasa nyaman. Sebagai pegawai baru minim pengalaman, aku sudah harus berhadapan dan berinteraksi langsung melakukan pelayanan kepada mitra kerja. Yang bisa kulakukan pada waktu itu adalah mengamati bagaimana senior bekerja dan membantu apa yang bisa dibantu. Rupanya tugas front office ini kemudian lebih dispesifikkan lagi dengan penugasan sebagai Customer Servicer Officer (CSO), pekerjaan yang lebih berat lagi.

Tantangan dari tugas sebagai CSO adalah harus mempunyai penguasaan aplikasi dan pemahaman peraturan tentang perbendaharaan untuk dapat membantu mitra kerja dalam menangani permasalahan perbendaharaan terkait hal itu. Aku butuh banyak belajar dan menyerap informasi seluas-luasnya. Beruntung dalam penugasan ini tidak sendirian, masih ada senior yang mendampingi dan menjadi tempat untuk belajar. Bersama senior ini, tidak semua masalah dapat diselesaikan, tetapi minimal jadi bahan pembelajaran untuk selalu mengedepankan pelayanan terbaik untuk mitra kerja.

Sebagai pegawai baru dan muda di kantor, penugasan saat itu tidak hanya tentang CSO, tetapi juga merangkap pekerjaan lainnya. Ada penugasan pengurusan website kantor, pencetakan kartu identitas, dokumentasi kegiatan kantor, dan lain sebagainya. Aku berusaha menjalankan tugas itu sebaik mungkin, tidak mengeluh dengan beban pekerjaan yang diberikan, dan cenderung menjadi penurut.

Akhir tahun 2011 menjadi kejutan bagiku. Aku dipanggil menghadap Kasubbag Umum dan beliau menyampaikan bahwa ada penugasan baru untukku. Penugasan itu adalah sebagai bendahara mulai awal tahun 2012. Aku terkejut karena tugas menjadi bendahara saat itu adalah tugas yang kuanggap berat dan sangat serius. Melihat pendahuluku yang bertugas sebagai bendahara sebelumnya, beliau sering lembur dan hampir selalu terlihat sibuk di back office. Menjadi bendahara juga berarti harus benar-benar menjaga pengelolaan keuangan kantor agar kegiatan operasional dapat berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun sedemikian beratnya tugas bendahara ini, dengan pengalaman CSO yang sudah dienyam, menjadikan pekerjaan yang harus dilakukan sudah cukup familiar. Bendahara di instansi perbendaharaan tentunya sudah mahir tentang aplikasi dan peraturan perbendaharaan.

Tugas menjadi bendahara ini berlangsung dari tahun 2012 hingga pertengahan tahun 2014. Selang waktu itu, pekerjaan memang terasa lebih berat daripada sebelumnya. Harus sering lembur hingga malam hari, harus lebih teliti dalam membukukan transaksi keuangan, dan harus selalu sigap jika kantor membutuhkan dana segera. Kerumitan pekerjaan tidak hanya terasa pada urusan teknis saja, tetapi permasalahan kantor semakin beragam. Banyak masalah pelik yang terjadi di kantor diakibatkan karena persoalan keuangan. Jika dulu tugas sebagai CSO harus melayani mitra kerja eksternal, maka sebagai bendahara orientasinya berubah harus melayani pegawai atau internal kantor. Menuruti keinginan pegawai rupanya lebih sulit dan kompleks apalagi jika berhubungan dengan kompensasi keuangan. Hal ini menyebabkanku lebih sering mengeluh dan berusaha meminta untuk digantikan.

Bulan Juni 2014, penugasan sebagai bendahara berakhir. Permintaanku untuk digantikan penugasan bendahara kepada pegawai lain disetujui oleh atasan. Aku masih di Subbagian Umum dan beralih pada tugas pengelolaan kinerja dan penyusunan laporan-laporan. Tugas baru ini bukanlah tugas yang lebih mudah, tetapi tidak beresiko tinggi seperti tugas bendahara. Pada tugas baru ini juga lebih beragam lagi detail dan teknis yang harus dipelajari dan dikuasai. Hal ini menjadikanku wawasanku bertambah dan tidak terjebak dengan pekerjaan klerikal lagi karena lebih sering dituntut dengan analisis data dan penyajian laporan. Saat itu, posisi ini membuat lebih betah dalam bekerja di kantor dan terasa lebih nyaman.

Namun yang tak kuduga pada setahun selanjutnya rupanya tugas ini harus berganti lagi. Terjadi mutasi internal pada bulan Juni 2015 yang menugaskanku pada seksi yang baru yaitu Seksi Verifikasi Akuntansi dan Kepatuhan Internal atau VERAKI. Aku harus keluar dari zona nyaman yang telah terbentuk di Subbagian Umum. Tantangan baru kembali harus dihadapi. Penugasan di seksi VERAKI ini diberikan saat seksi ini tengah mengalami permasalahan. Dengan dipindahkannya aku pada seksi ini, pimpinan kantor berharap permasalahan yang terjadi dapat diatasi. Pengalaman teknis yang didapat dari tugas di Subbagian Umum rupanya sangat membantuku dalam menyelesaikan penugasan pada seksi VERAKI.

Di seksi VERAKI ini, salah satu tugas yang harus dikerjakan adalah penyusunan Laporan Keuangan Unit Kuasa Bendahara Umum Negara-Daerah (LK UAKBUN-D). Penyusunan laporan adalah hal yang sudah familiar bagiku saat di Subbagian Umum. Dulu pekerjaan penyusunan laporan yang sejenis yaitu Laporan Keuangan Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (LK UAKPA) sudah dilakukan beberapa kali dari tahun 2012 hingga tahun 2014. Dua jenis laporan ini memang berbeda, tetapi mempunyai kemiripan format dan juga alur penyusunan yang hampir sama. Selain itu juga, seperti tugas terakhir di Subbagian Umum, pada seksi VERAKI ini juga ada banyak pelaporan manajerial yang harus disampaikan. Aku tidak membutuhkan banyak penyesuaian dengan perpindahan posisi ini.

Hanya setahun lebih sedikit saja tugas di Seksi VERAKI ini berlangsung. Per Agustus 2016, tugas yang kuemban berubah lagi menjadi tugas yang sangat berbeda, tugas belajar. Setelah melalui proses seleksi beasiswa internal, aku ditugaskan untuk menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang S-1 di jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya selama 3 tahun. Tugas belajar ini menjadikanku tidak lagi bermukim di Painan dan kembali ke pulau Jawa menetap sementara waktu di kota Malang. Wawasan dan pengetahuan tentang akuntansi pemerintah semakin didalami dari para akademisi. Hingga sekarang ini tugas inilah yang masih belum diselesaikan. Karya tulis skripsi sebagai persyaratan kelulusan masih dalam proses penyelesaian.

Begitulah perjalanan tugas-tugas yang pernah kulakukan selama delapan tahun berada di DJPB. Sudah banyak hal yang dilakukan dan memberikan pengalaman yang berharga. Namun, masih ada banyak hal lain yang belum diketahui dan perlu dipelajari. Delapan tahun adalah usia yang tanggung, tidak dapat dikatakan sudah lama, tetapi juga tidak bisa dikatakan baru sebentar. Saat ini berada pada penghujung penugasan tugas belajar membuatku mengulas kembali semua yang telah dilalui. Hikmah yang dapat diambil dari silih bergantinya penugasan demi penugasan adalah pengalaman yang memberikan pengayaan untuk dapat mempermudah dilakukannya tugas berikutnya.

Nantinya setelah selesai tugas belajar ini, aku harus lapor ke kantor pusat DJPB dan menjalani program re-entry hingga kemudian ditetapkan penempatan ulang. Pekerjaan yang ada di kantor pusat tentu pekerjaan yang levelnya lebih tinggi daripada apa yang dulu pernah dilakukan di KPPN. Hal ini membutuhkan penyesuaian dan ritme kerja yang lebih intens lagi. Apakah kemudian nantinya aku dapat menjalaninya dengan baik? Teringat masa-masa magang di kantor pusat dan melihat beban tugas yang dihadapi oleh pegawai tetap membuat diri merasa rendah diri dan pesimis bisa menjalaninya. Apalagi tantangan menjalani kerasnya kehidupan ibu kota dan jauh dari keluarga.

Dari ulasan peristiwa-peristiwa yang telah berlalu, pergantian tugas itu memang momok yang tidak mudah. Akan tetapi, dengan berbekalkan pengalaman yang memadai dari tugas-tugas sebelumnya, insya Allah penugasan yang diamanahkan nantinya bisa dilalui dengan lancar. Sebagai insan perbendaharaan di tahun kedelapan ini, terbersit harapan untuk dapat memberikan yang terbaik dalam setiap penugasan dan turut serta dalam pencapaian tujuan organisasi, Menjadi Pengelola Perbendaharaan Unggul Tingkat Dunia. Semoga dapat terlaksana dengan baik.

Malang, 21 Oktober 2018 00:56

dua sembilan : untuk terus memperbaiki diri

Angka itu telah bertambah kini. Hanya bertambah satu saja sebenarnya, tetapi dalam penambahannya itu telah banyak hal yang terjadi. Terasa ada kontradiksi yang nyata pada rentang periode waktu yang telah dilewati. Ia cepat berlalu. Akan tetapi dengan kepadatan segala macam peristiwa di dalamnya, lamban rasanya untuk dapat mengurainya kembali. Pada kenyataannya, bertambahnya angka ini adalah berkurangnya kesempatan jatah hidup dari yang telah ditentukan. Angka demi angka dari usia yang terus berjalan, menunjukkan bahwa pada kehidupan yang telah dijalani telah sedemikian banyaknya hal yang telah terjadi.

Dua sembilan. Angka itulah yang kini dienyam oleh diri. Pada usia yang nyaris menginjak tiga dasawarsa lamanya, perlu ada satu titik untuk berhenti dan menerawang kembali semua kilasan kejadian dalam hidup. Seperti kumpulan benang-benang yang kusut, mengurai kejadian demi kejadian itu tidaklah mudah. Sangat mungkin ada yang terlewat dan terlalu rumit untuk dapat diurai menjadi suatu garis lurus kesimpulan. Garis ini yang dibutuhkan untuk dapat menghubungkan antara apa yang telah berlalu dengan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pada titik pemberhentian sementara ini, dibutuhkan garis lurus yang menjadi pedoman agar tak goyah dalam berpribadi, memperkaya diri dengan hikmah pengalaman yang berharga, dan selalu berusaha menjadi insan terbaik dalam segala langkah yang dihadapi.

Lalu, apa yang didapati dari kilasan peristiwa lampau di masa dahulu?

Pada kilasan yang pertama, muncul bayangan tentang apa yang telah dilakukan diri sebagai seorang ayah dan pemimpin keluarga. Ini menjadi perubahan drastis yang kentara berbeda daripada usia sebelumnya. Kehadiran buah hati untuk pertama kalinya telah memberikan semarak dalam hidup. Peranan yang baru membutuhkan pembelajaran berkelanjutan. Dalam melakukannya seringkali ada kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan atau kurangnya perhatian. Walaupun begitu, sungguh kebahagiaan yang tidak ada duanya manakala melihat perkembangannya hari demi hari.

Anak adalah amanah Tuhan yang harus dirawat dengan baik. Anak menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya yang terus dikumandangkan dalam doa. Anak merupakan generasi pelanjut yang diharapkan menjadi insan yang terbaik. Dengan demikian, seorang ayah harus benar-benar mendedikasikan pengajaran nilai kehidupan dan limpahan kasih sayang yang terbaik untuk anaknya. Walaupun untuk melakukannya, tentu akan menguras banyak energi baik itu dari secara fisik maupun mental. Pesan yang berharga untuk perjalanan kehidupan selanjutnya adalah harus lebih banyak berkorban lagi demi kebahagiaan keluarga, perlu totalitas dengan lebih menyediakan waktu dan metode terbaik membersamai keluarga. Pesan ini menjadi satu simpulan yang dapat dirangkai untuk menjadi suatu garis yang lurus.

Pada kilasan yang kedua, muncul bayangan tentang apa yang telah dijalani diri dari jenjang pendidikan terkini. Saat ini sudah memasuki masa akhir dari pendidikan. Dua tahun telah berjalan dengan sekian banyak hal-hal baru yang harus dipelajari. Wawasan keilmuan telah berkembang dan membutuhkan pembuktian dengan adanya tugas akhir. Dalam pengerjaannya, diperlukan kesungguhan untuk memastikan selalu ada kemajuan yang telah diperoleh. Tahap demi tahap harus ditempuh dengan sebaik mungkin. Jika ada kesalahan harus segera diperbaiki, jangan sampai menunda-nunda untuk dikerjakan. Selain itu, harus senantiasa sabar dalam berkomunikasi dengan pihak lain dan tidak boleh tergesa-gesa.

Tugas akhir menjadi penentu kelulusan dari jenjang pendidikan yang telah ditempuh. Tugas akhir menuntut adanya kontribusi nyata untuk perbaikan organisasi yang diteliti. Tugas akhir adalah rangkuman yang menguji pemahaman akademis dari seluruh proses pembelajaran yang telah diperoleh. Sehingga, dalam menyusunnya perlu tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikannya dengan baik, lancar, dan tepat pada waktunya. Ada kalanya memang ditemui berbagai hambatan yang mengganggu penyelesaian tugas ini, tetapi harus segera berbenah dan bangkit kembali untuk mengatasinya. Ini menjadi pesan dalam simpulan yang kedua pada rangkaian garis lurus yang telah terurai.

Pada kilasan yang ketiga, muncul bayangan tentang peran-peran apa yang telah dilakukan diri pada masyarakat. Dalam mengembangkan kapasitas dan potensi diri, tak bisa hanya terus berkutat pada peranan yang telah dilakukan pada keluarga dan pekerjaan semata. Ada tuntutan peran yang lebih luas daripada hal itu, yaitu pada masyarakat. Sebagai bagian di dalamnya, harus ada kebaikan dalam diri yang dibagikan kepada khalayak umum yang lebih luas. Bentuknya adalah dengan keterlibatan pada kegiatan-kegiatan positif, saling berinteraksi dan berbagi dalam kebaikan. Keterlibatan itu tentunya membutuhkan pengasahan potensi dan keterampilan yang sesuai. Keahlian semacam mampu berbicara di hadapan publik dengan baik, mengungkapkan opini dalam bentuk tulisan, dan melakukan aksi nyata lainnya untuk memberikan perubahan itu perlu dilatih dan terus dikembangkan.

Melatih diri untuk lebih terbuka dengan lingkungan sekitar merupakan hal yang sepatutnya dilakukan untuk dapat diakui keberadaan diri pada masyarakat. Memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapat dengan penuturan yang terbaik adalah salah satu upaya terlibat dalam memberikan kontribusi perubahan kepada masyarakat ke arah yang lebih baik. Dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial akan menjadikan diri lebih kaya dengan pengalaman-pengalaman berharga dan patut untuk dikenang. Masyarakat yang madani terbentuk dari berkumpulnya insan-insan yang aktif terlibat dalam gerakan kebaikan. Tentu ada harapan besar pada diri untuk menjadi salah satu insan yang dimaksud tersebut. Harapan ini menjadi pesan yang perlu untuk senantiasa diingat dan diperhatikan untuk ditindaklanjuti. Peranan dalam masyarakat yang lebih aktif lagi disertai dengan pelatihan yang memadai menjadi pesan simpulan ketiga yang didapati.

Pemberhentian sementara ini telah menyimpulkan tiga pesan yang tertaut pada suatu garis lurus. Mungkin masih banyak pesan yang bisa diambil dalam kekusutan peristiwa yang belum terurai. Namun, tidak boleh berlama-lama dalam pemberhentian ini. Waktu terus berjalan dan semakin bertumpuknya peristiwa-peristiwa yang terjadi rentan menyebabkan keruwetan yang lebih bermasalah. Cukup tiga simpulan pesan ini dulu saja. Dari ketiganya itu, sebenarnya bisa disederhanakan menjadi satu pesan utama. Pesan utama itu adalah teruslah belajar pada angka-angka usia yang terus bertambah.

Tidak ada sosok yang sempurna, pasti di dalam dirinya terdapat satu paket berupa kelebihan dan kekurangan. Paket inilah yang menjadi bekal untuk belajar. Kelebihan yang dimiliki dijadikan untuk belajar berbagi kepada sesama dan kekurangan yang ada dijadikan untuk belajar terus menerus mengatasinya dengan cara yang tepat. Bisa jadi akan ada banyak peristiwa yang membuat diri terhentak dan jatuh dengan kekurangan yang ada. Walaupun begitu, harus dibangun kepercayaan diri untuk bangkit kembali dan belajar untuk menangani apa yang bisa diperbaiki.

Kesiapan diri juga menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Tanpa persiapan akan ditemui lebih rumit permasalahan yang dihadapi. Apa pun yang terjadi dalam hidup, harus siap untuk dihadapi. Permasalahan yang muncul kemudian bukan untuk dikeluhkan atau diratapi kesulitannya. Lebih tegarlah untuk menghadapi semuanya dan yakinlah untuk dapat melewati semua rintangan yang ada.

Angka dua sembilan inilah yang sekarang ada pada diri. Apakah angka usia ini masih akan bertambah lagi selanjutnya? Tak ada yang tahu kecuali Yang Maha Kuasa. Jika dengan rahmat dan izin-Nya masih diberikan kesempatan untuk melewati angka usia yang selanjutnya, semoga diri memperhatikan benar tiga simpulan pesan yang telah diperoleh. Hingga kemudian pada angka usia yang selanjutnya, tiga dasawarsa, semoga terbentuk karakter insan yang lebih baik lagi pada diri.

Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, jangan disia-siakan karena dialah ladang untuk dunia akhirat. Hidup bukan untuk hanya mengalir saja mengikuti arus, tetapi dikendalikan menuju arah mau dibawa ke mana tujuan pamungkas yang diinginkan. Angka usia sepatutnya menjadi patokan untuk terus memperbaiki diri. Berhenti untuk introspeksi pada angka usia yang bertambah, liat kembali kilasan peristiwa yang terjadi, dan ambil pesan simpulan apa yang menjadi pegangan untuk masa mendatang.

Malang, 2 Juni 2018 14.46

untuk ananda sholeh kami yang pertama

Ananda yang sholeh,
Baru saja Ayah telah mengetahui dan menyaksikan betapa perjalanan Ibunda melahirkanmu ke dunia ini penuh dengan perjuangan. Sembilan bulan bukanlah waktu yang sebentar. Mungkin nantinya kau akan menganggap cerita semacam ini adalah hal lazim yang sering diutarakan oleh khalayak orang. Akan tetapi, setiap orang tua memiliki ceritanya tersendiri tentang kelahiran buah cintanya.

Perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya memang merupakan pergulatan fisik, emosi, ruhani yang sangat dahsyat. Namun, jika kau berada pada posisi seorang suami yang mendampingi istrinya dalam proses itu, akan terasa bahwa momen melahirkan buah hati adalah perjuangan yang betul-betul luar biasa nan istimewa untuk kami kedua orang tuamu.

Kami sebagai orang tuamu sangat menantikan hadirmu dalam keluarga kita ini dari sejak awal mula pernikahan. Bermula dari dua garis merah pada uji tes kehamilan di hari Senin, 9 Januari 2017, antusiasme kami bertambah dan kegembiraan menyeruak di dalam benak kami. Bentukmu ketika diperiksa oleh dokter ahli kandungan barulah berupa kantong janin yang begitu kecil. Terhitung hari pertama hari haid ibundamu adalah 27 November 2016 yang nantinya diperkirakan 3 September 2017 adalah hari perkiraan lahirmu.

Ananda yang sholeh,
Sejak kami mengetahui ada kehadiranmu di tengah-tengah kami, maka kami berusaha menjaga keberadaanmu. Pada bulan-bulan pertama, Ayah mendampingi Ibundamu yang kesakitan dengan mual dan muntah yang hampir selalu datang. Sempat kami mengkhawatirkan bagaimana asupan gizi untukmu, namun selalu kami usahakan agar dirimu dapat berkembang tumbuh di dalam rahim dengan baik.

Kesulitan yang dijumpai pada saat itu adalah tentang pekerjaan ibundamu. Dengan mual muntah yang sering terjadi mengakibatkan ibundamu tidak dapat bekerja sepenuhnya. Aktivitas banyak yang terganggu dan ibumu lebih banyak untuk beristirahat.

Bulan demi bulan kami terus memantau tumbuh kembangmu. Masya Allah kami selalu takjub dengan gerakan-gerakanmu di dalam rahim sana setiap kali terpantau. Doa demi doa selalu teriring agar kau senantiasa sehat dan kuat.

Masa-masa mual muntah kemudian berganti dengan masa yang lebih tenang untuk ibundamu. Tubuh ibundamu sudah kuat menyesuaikan keberadaanmu dan gerakanmu kini benar-benar terlihat oleh indera kami tak hanya sekadar dari pantauan hasil tes suatu mesin. Kami pun mempersiapkan barang-barang kebutuhanmu nantinya. Selain itu juga, menata rumah yang kita huni ini agar semakin nyaman dengan kehadiranmu.

Ananda yang sholeh,
Kami berusaha untuk memantau pergerakan tumbuh kembangmu kepada ahlinya. Sebagai orang tua tentu kami berusaha memberikan yang terbaik. Dari satu opini ke opini lainnya, dari satu wawasan ke wawasan lainnya. Kami serap itu, bahkan ibundamu menyempatkan di sela kesibukan pekerjaan untuk menimba ilmu terkait dengan kehadiranmu.

Usia kehamilan ibundamu semakin bertambah. Sudah hampir mendekati empat puluh minggu keberadaanmu di dalam rahim ibundamu. Masa-masa inilah yang menegangkan dan menjadi klimaks dari perjalanan mengantarkanmu ke dunia.

Kamis siang, 31 Agustus 2017, ibundamu mulai merasakan kram di perutnya. Awalnya dikira sakit biasa namun seiring waktu bertambah sakit dan rutin. Malamnya adalah malam takbiran menjelang perayaan Idul Adha dan rasa sakit itu semakin sering. Malamnya kami tak bisa tidur karena gelombang cintamu yang terus hadir di perut ibundamu. Hingga kemudian Ayah putuskan untuk membawa ibundamu pada rumah bidan dan rupanya per Jumat, 1 September 2017 pukul 03.30 barulah bukaan satu.

Kami dihimbau pulang oleh bidan karena waktu persalinan masih lama. Di rumah, ibundamu berusaha susah payah untuk mengelola gelombang cinta yang kau berikan. Gelombang itu jelas semakin bertambah dan intens. Jumat petang ibundamu semakin gundah dan kami kembali menuju ke rumah bidan kembali.

Ananda yang sholeh,
Adalah Bidan Rina namanya, bidan inilah yang menjadi rujukan tempat yang kami pilih untuk menyambut kehadiranmu. Kami dapatkan info mengenai praktek Bidan Rina yang mengkhususkan pada metode gentle-birth. Suatu konsep yang mengutamakan persalinan dengan cara yang natural, ketenangan, serta perawatan pascapersalinan yang tepat. Dengan Bidan Rina, kami sempat mengikuti kelas persiapan kelahiran yang sangat membuka wawasan dan memantapkan kami untuk menerapkan metode persalinan ini.

Per Jumat, 1 September 2017 pukul 20.30 kami dapatkan kabar kemajuan bahwa sudah bukaan empat. Setelah pengecekan, kami beranjak pada kamar nifas dan Ayah saksikan semakin bertambah gelombang cintamu. Malam hening itu dihiasi oleh suara ibundamu yang mencoba bertahan dan Ayah berusaha selalu menenangkan.

Bukaan demi bukaan terjadi pada mulut rahim ibundamu. Waktu yang lama dalam upaya bertahan atas gelombang cintamu. Dalam metode gentle-birth, calon orang tua harus bersabar, berpikiran positif, serta terus mengupayakan proses persalinan dijalani dengan senyaman mungkin. Teorinya mungkin sekilas mudah, namun realitanya sering ditemukan titik-titik di mana sulit mempraktekkannya, tetapi kami terus berusaha menerapkan sebaiknya untukmu.

20170903_081530Setelah melewati berjam-jam masa penantian kehadiranmu, lahirlah kemudian dirimu, ananda sholeh kami yang pertama, ke dunia pada hari Sabtu, 2 September 2017 pukul 12.57 di kota Malang. Kami pilihkan nama yang baik bagimu yaitu “Ahsanul Khuluq Affan” yang artinya “yang baik akhlaknya di Keluarga Affan”. Namamu ini terinspirasi dari beberapa penggalan hadits

“Ya Allah, Engkau telah memperindah rupaku, maka perindahlah juga akhlakku (HR Ibnu Hibban)”
“Mukmin yang sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Abu Daud)”

Dari penggalan ini, telah menginspirasi kami untuk mendoakanmu melalui pilihan nama sebagai ananda sholeh yang indah akhlaknya dan yang paling baik. Allahumma aamiin.

Untukmu ananda sholeh kami yang pertama, Ayah ulas cerita ini. Kelahiranmu di dunia adalah momen yang sangat berharga dan tak ingin untuk dilupakan. Melalui cerita ini, Ayah harap bahwa dirimu dapat mengetahui sejarah kelahiranmu serta hikmah pelajaran yang dapat dirimu selalu ingat. Berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu keharusan dengan perjuangan serta tanggungan amanat besar untuk merawat anak menghadapi dunia.

Sebagaimana terlantun doa yang selalu kami panjatkan dalam menyongsong kehadiranmu

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Semoga doa ini dikabulkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Selamat datang ke dunia, ananda Ahsan yang sholeh. Semoga Allah merahmati keluarga kita selalu.

Dari kedua orang tuamu,
Ayah dan Ibunda Keluarga Affan

Anas Isnaeni dan Afifah Az Zahra

Malang, 3 September 2017

writing camps DJPB: “sharing kepenulisan bersama a. fuadi”

Ahmad Fuadi. Siapa yang tak tahu tentang pencerita terkenal satu ini? Dia menuliskan pengalaman hidupnya yang diolah menjadi fiksi dalam trilogi novel Negera 5 Menara. Pada Writing Camps DJPB, pencerita yang satu ini menyempatkan diri berbagi pengalamannya tentang tulis menulis.

“Menulis Untuk Bermanfaat dan Mendunia” begitulah paparan awal dari Ahmad Fuadi saat memulai berbagi. Kalimat sederhana ini yang diutarakannya menjadi alasan kuat baginya untuk menuliskan kisah trilogi novelnya. Alasan yang kuat akan mendorong lahirnya tulisan yang punya pesan kuat. Alasan menulis bisa jadi sering berubah bagi seorang pencerita, tetapi yang mengantarkannya sampai pada akhir kisah yang utuh adalah kuatnya alasan tadi.

Lebih lanjut, selama berbagi pengalamannya, ada beberapa kutipan menarik dari Ahmad Fuadi yang sangat menginspirasi…

Kata lebih hebat dari peluru”. Dari pepatah ini ia simpulkan bahwa suatu cerita itu yang baik mengandung tiga unsur, menginformasikan suatu pesan, menginspirasikan banyak pembacanya, dan menggerakkan mereka untuk melakukan pesan itu.

Menulis membuat awet muda”. Ini yang menggerakkannya lebih kuat menulis lagi karena pepatah yang dikutipnya menyadarkan bahwa karya tulisan melintasi batas ruang dan waktu. Sosok seorang pencerita akan abadi dengan karyanya walaupun dirinya telah tiada di dunia.

Menulis mendunia”. Dengan terkenalnya karya Ahmad Fuadi hingga ke mancanegara, tema yang menggali tentang kekayaan khasanah budaya Indonesia adalah hal yang membuatnya seperti itu. Gali budaya, terjemahkan dalam bahasa lain, kenalkan karya, gerakkan dengan media sosial, dan pelajari jalan penulis terkenal. Maka, tulisan akan mendunia dengan sendirinya.

Creating content first, then the content will transform to many forms”. Suatu tulisan pada intinya mengandung suatu isi cerita yang bentuknya bisa berubah menjadi media lain. Negara Lima Menara contohnya, dari tulisan novel ini sudah berubah bentuk menjadi film, musik, aplikasi, dan berbagai bentuk lainnya yang terinspirasi dari satu isi cerita yang sama.

Menulis adalah proses menemukan diri”. Seorang penulis saat menuangkan idenya dalam bentuk cerita memudahkannya untuk menyimpulkan pesan-pesan bermakna yang dapat dikaitkannya dengan pengalaman hidupnya.

Writing is Art and Craft”. Tulisan adalah salah satu bentuk seni. Tulisan sangat dipengaruhi oleh keberuntungan, bakat, dan kerja keras dari penulisnya. Pada sisi lainnya, tulisan adalah bentuk dari keterampilan yang bisa dipelajari bagi siapa pun yang mau belajar untuk menulis.

Menulis adalah seni melumatkan ego”. Cerita yang bagus sayang untuk hanya dikonsumsi oleh penulisnya sendiri. Buat tulisan yang memang ditujukan untuk dibaca oleh banyak orang. Dengan orientasi ini, maka tulisan perlu diedit dan disesuaikan dengan keadaan pembaca. Ego penulis yang menganggap bahwa suatu cerita sudah sempurna adalah hal yang tidak tepat jika ingin tulisannya menjadi diterima.

Tulis cerita yang menggerakkan diri sendiri dan jatuh cinta tentangnya. Tulislah cerita dari hati dan yang membuatmu tak sabar menuliskannya segera

Tentang proses menulis cerita, Ahmad Fuadi memberikan pelajaran singkat untuk dapat menulis novel seperti yang telah ia susun…

Ask Why. Tanyakan kepada diri sendiri alasan apa yang mendasari dibuatnya suatu cerita. Sebagaimana yang telah diutarakan pada awal pemaparannya, semakin kuat alasan kenapa harus menuliskan suatu cerita, maka semakin kuat isi cerita itu.

Ask What. Tulis hal-hal yang paling dikenal, dipedulikan, familiar, dan diketahui untuk dituangkan dan dikaitkan pada tulisan sehingga menjadikan cerita lebih nyata dan meyakinkan.

Ask How. Menulis adalah hal yang dapat dipelajari dari teori-teori kedisiplinan ilmu yang sudah membahas bagaimana cara untuk membuatnya. Referensi sangat diperlukan agar tulisan yang dibuat tidak terkesan ngawur tanpa panduan. Kamus, thesaurus kata, dan buku panduan adalah referensi yang tepat untuk membuat cerita menjadi kaya. Selain mempelajari teori, untuk lebih mengembangkan cerita melalui tulisan dapat dilakukan dengan pengamatan dan penelitian sederhana. Caranya dapat berupa membongkar catatan-catatan lama tentang pengalaman pribadi, cerita dari orang lain yang menginspirasi, atau arsip foto-foto yang mampu membangkitkan kembali kenangan lama.

Ask When. Jika memang sudah siap dengan isi cerita dan sudah meluruskan niat dengan alasan yang kuat, maka untuk hanya ada satu jawaban tentang kapan suatu cerita itu dibuat. Sekarang! Jangan menunda waktu untuk bercerita. Lakukan sedikit demi sedikit untuk mengurai cerita dalam bentuk tulisan. Jangan sampai menyerah untuk bertutur cerita. Jika benar-benar menjaga konsistensi untuk tetap bertutur cerita melalui tulisan, suatu buku cerita (novel) sudah jadi dengan sendirinya.

writing camps DJPB: “dari angka menjadi kata”

Angka-angka sudah menjadi makanan keseharian bagi insan Perbendaharaan. Dengan digitnya beragam itu, segala macam kerumitan sudah lazim dihadapi oleh mereka. Akan tetapi, tahukah Anda? Dari angka itu rupanya ada kata-kata yang terangkai menjadi banyak kisah yang tersembunyi di dalamnya.

Kisah-kisah dari angka, inilah yang hendak diangkat oleh Perbendaharaan kali ini. Tidak banyak yang tahu tentang kisah semacam ini. Yang banyak orang tahu hanyalah sebatas tentang angka-angka yang diolah darinya, bukan kata yang terurai menceritakan tentang sesuatu.

Siapa pun pastilah mempunyai ceritanya masing-masing. Begitu juga dengan para insan Perbendaharaan. Mereka yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia mempunyai pengalaman, pergolakan emosi, peristiwa-peristiwa unik terjadi pada kehidupan mereka selama bertugas. Cerita mereka hanyalah sekadar menjadi perbincangan sesaat di antara sesamanya. Cerita semacam ini mudah terabaikan jika tak ada pencerita menuangkannya dalam bentuk tulisan yang membekas abadi.

Writing Camps DJPB, pada kegiatan inilah segelintir pencerita terpilih dilatih dan berkumpul bersama membahas mengenai cerita-cerita para insan perbendaharaan. Cerita yang baik dan dapat memberikan pengaruh yang begitu kuat tidaklah dapat tercipta dengan instan dan melalui proses yang singkat. Ada hal yang harus dipelajari terlebih dahulu. Oleh karenanya, ada hal semacam ini untuk menjadikan para pencerita lebih terlatih dapat mengemas cerita sesuai dengan apa yang diharapkan dan bisa dipahami oleh khalayak luas.

hoho
Sharing Kepenulisan Bersama Ahmad Fuadi

Kepada para pencerita ini, Writing Camps DJPB mempertemukan mereka dengan sosok penulis terkenal, Ahmad Fuadi, yang telah membuat trilogi kisah Negeri Lima Menara. Pencerita yang satu ini memberikan inspirasi dari pengalamannya menyusun tulisan ceritanya sendiri dengan pemaparannya berjudul “Menulis untuk Bermanfaat dan Mendunia”.

(Ringkasan materi tentang sharing kepenulisan bersama Ahmad Fuadi lebih rincinya dapat dibaca pada tautan https://nazhalitsnaen.wordpress.com/2014/08/20/writing-camps-djpb-sharing-kepenulisan-bersama-a-fuadi/)

Menulis cerita adalah suatu proses yang dapat dipelajari. Bahkan, yang mungkin tidak diketahui banyak orang, ada teori yang dapat membuat seorang pencerita dapat mengemas tulisan ceritanya menjadi lebih baik lagi. Teori tentang elemen fiksi menjadi salah satu bekal penting bagi para pencerita pada Writing Camps DJPB yang disampaikan oleh Bapak Harry Suryadi, seorang jurnalis yang aktif bergerak di bidang lingkungan hidup dan mempunyai kompetensi tentang teori tulis menulis. Teori tidak hanya diberikan dengan pemaparan materi, tetapi juga melalui praktek langsung dengan beberapa studi kasus seperti analisa karakter, konflik, dan pesan cerita, serta teknik penulisan deskriptif.

(Materi tentang teori elemen fiksi dapat diunduh pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rRVNuaFN1NWdZc2s/edit?usp=sharing)

Rencana besar dari Writing Camps DJPB adalah adanya karya berupa novel cerita dan antologi cerita pendek kehidupan insan perbendaharaan yang diterbitkan secara nasional melalui penerbit percetakan buku yang handal. Oleh karena itu, perlu ada pemahaman mendasar mengenai dunia penerbitan melalui praktisi ahli di bidangnya. Melalui pemaparan dari Mirna Yulistianti, editor cerita fiksi Gramedia Pustaka Utama, dan Gina S. Noer, co-founder Plot Point, para pencerita memahami proses dan kriteria suatu karya tulisan dapat diterbikan secara massif menyebar luas pada banyak lapisan pembaca.

(Materi tentang sharing penerbitan dari Gramedia Pustaka Utama dapat diunduh pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rYU5PSUwxSnN2ME0/edit?usp=sharing dan Plot Point pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rek9HWmI1QzgzQnc/edit?usp=sharing)

Tidak mudah untuk menyajikan cerita yang layak untuk dicerna oleh khalayak luas jika tidak ada proses pembelajaran yang diberikan oleh Writing Camps DJPB ini. Adanya penulis terkenal yang berbagi tentang inspirasi dan prosesnya dalam menulis cerita, pemberian bekal teori dan praktek teknik menulis cerita, dan informasi mengenai bagaimana proses diterbitkannya suatu buku oleh para praktisinya adalah bekal yang cukup untuk para pencerita terpilih mengunjukkan kisah nusantara insan perbendaharaan dalam tulisannya.

Dalam tempo waktu yang padat kesemuanya itu disampaikan selama sepekan pada tempat yang eksklusif, Novus Giri Resort and Spa, Puncak. Pencerita ini digembleng benar-benar untuk dapat merealisasikan hasil akhir tujuan dari Writing Camps DJPB dilaksanakan, suatu novel dan antologi insan perbendaharaan.

Foto bersama para pencerita bersama salah seorang praktisi penerbit, Gina S. Noer, co-founder Plot Point
Foto bersama para pencerita bersama salah seorang praktisi penerbit, Gina S. Noer, co-founder Plot Point

Selebrasi Dekade Perbendaharaan akan menjadi momen untuk memperkenalkan karya final dari Writing Camps DJPB ini. Dengan sejarahnya yang telah melintasi sekian lamanya waktu, Perbendaharaan sudah mencapai kedudukannyan seperti ini sekarang. Angka-angka sudah menjadi kelaziman produk yang dihasilkan olehnya. Namun, pada rentang waktu selama itu, ada kisah-kisah yang begitu banyak terjadi dan mempunyai warna yang sangat beragam. Beberapa kisah itu diambil dan disajikan dalam bentuk kata-kata tulisan cerita untuk khalayak luas.

Dari angka menjadi kata. Semangat inilah yang menggerakkan para pencerita untuk menyajikan kemampuan terbaiknya dalam bercerita melalui tulisan. Semoga apa yang menjadi tujuan utama seluruh rangkaian kegiatan dimaksudkan, yakni untuk memperkenalkan kisah-kisah nusantara insan perbendaharaan dapat tercapai.

Agar semua orang tahu bahwa Perbendaharaan mempunyai cerita, cerita tentang para insannya yang begitu berwarna-warni. Tidak sekadar angka, tetapi mewujud dalam tulisan kata…

*catatan dari salah seorang pencerita*