desember berdesir

Kudengar desiran kembali dari kehadiranmu, Desember… Kau selalu saja datang di akhir kesempatan, pada penghujung dari sekian banyak kawan yang bertemu dan bercerita bersama kisah-kisah unik mereka masing-masing. Kedatanganmu selalu kunanti karena cerita bersamamu bisa dibilang adalah “last but no least”… Terakhir, tetapi bukanlah yang tidak menarik sama sekali..

desember berdesirDesember… Desiran yang kudengar bersama kehadiranmu kali ini mengingatkanku akan betapa cerita-cerita kawan yang telah berlalu seperti Hari-hari di Januari, Memori Februari, Meretas Maret, Kerikil April, My May, Kejutan Juni, Lilitan Juli, Kusutnya Agustus, Sekaliber September, Tertohok Oktober, dan Fenomena November… Desiran itu membuatku begitu merasa lega, puas, dan sangat menyenangkan seperti desiran angin sepoi-sepoi yang menyejukkan… Tahun ini benar terasa istimewa bersama dirimu dan kawan-kawanmu itu.

Apa yang terjadi pada kesempatan bersamamu mendesirkan secara sekelebat dan serta merta dari keseluruhan cerita pada tahun yang istimewa ini. Sudah sepantasnya dirimu menjadi penghujung dari kisah bicara bulan ini. Kau desirkan warna warni kehidupan yang begitu berharga dan ya jika masih diberikan jua kesempatan menyambangimu lagi, kuharap dengan sangat agar kau menjadi lebih istimewa dari apa yang kita lewati di tahun ini. 2013 semoga menjadi lebih baik dari segala sisinya…

5 – 6 Desember 2012, “Menempuh Ujian (Seleksi DIV STAN)”

Bersama November sudah kuceritakan tentang kesempatan untuk belajar kembali. Ah, Desember, sungguh cepat rasanya waktu berlalu sejak awal pertama kali berita itu terdengar. Tiba-tiba saja kemudian ujian untuk kesempatan itu pun harus dijalani. Dua hari di awal kebersamaanku denganmu menjadi hari pembuktian apakah diriku pantas untuk diberikan kesempatan belajar kembali. Aku akui dengan jujur memang dengan terpukau dan terlenanya aku oleh kemalasan dan berdalih pada kesibukan rutinitasku, aku tak begitu siap menghadapi ujian itu. Desember, aku ingat betapa kau menasehatiku berulang kali untuk benar-benar mempersiapkan hajat yang satu ini. Kau bilang aku seakan-akan hanya bermodalkan angan-angan belaka tanpa memperjuangkannya sepenuh hati. Ya, seperti itulah menyedihkan diriku. Entah, keluguan macam apa yang kali ini ada pada diriku. Namun, ya tetap saja angan-angan itu ada hingga kini menunggu kabar hasil dari ujian itu. Semoga saja hasil terbaiklah yang terjadi padaku. Kuharap dengan sangat.

8 – 9 Desember 2012, “Kegiatan Kantor Bersama (Internalisasi SPAN)”

Di penghujung tahun kala tiba waktu bersamamu seperti ini sebenarnya merupakan waktu-waktu yang begitu sibuk dengan urusan hal ihwal pekerjaan. Kau menjadi saksi atas bagaimana kelakuanku yang serba runyam dengan bertubi-tubinya tugas demi tugas yang harus dikerjakan, Desember. Mulai dari hal pertama yang harus kuhadapi adalah persiapan kegiatan bersama pada tempatku bekerja. Para pimpinan menghendaki untuk mengadakan kegiatan berupa Internalisasi, Teambuilding, dan Motivasi tentang sistem baru yang sedang menjadi hangat-hangatnya dibicarakan, yakni Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN).

Kegiatan ini sungguh melelahkan karena diadakan di luar kota selama dua hari. Persiapan juga begitu singkat karena gagasan ini begitu cepat digelontorkan, disetujui, dan kemudian tak terasa sudah harus dilaksanakan. Kau juga tahu mau tak mau dengan posisiku seperti ini di tempatku bekerja, jelaslah pasti ikut serta dalam seluk beluk kegiatan ini.

Melelahkan memang, tetapi jika dipandang pada sudut pandang lain banyak manfaat yang bisa aku rasakan, Desember. Kegiatan ini menjadikanku lebih paham akan gambaran sistem baru yang sangat diidam-idamkan itu, memberikan motivasi dengan pikiran yang lebih jernih lagi pada sesi motivasinya, dan kesempatan untuk sejenak bergembira berlibur bersama di tempat rekreasi pada akhir rangkaian acara itu.

Tak sesal diri telah ikut serta dalam kegiatan ini dan mengikutinya. Walau sayang, setelah acara ini berakhir, ada beberapa orang di tempat bekerjaku ini sepertinya tak berubah secara signifikan. Materi-materi positif yang diberikan sepertinya cepat sekali dilupakan. Malah sempat terjadi pertikaian hal remeh temeh dan bisikan tak baik yang seharusnya tak perlu terjadi. Sayang sekali, Desember.

13 – 14 Desember 2012, “Mengajari Lebih Intensif (Aplikasi Perbendaharaan Baru)”

Kesibukan kedua yang kuhadapi selanjutnya adalah mengenai salah satu tugasku dalam mengajari para mitra kerja dalam mengoperasikan aplikasi perbendaharan. Tentang hal ini sebenarnya selalu saja terjadi manakala kisah bersamamu dimulai, Desember. Kau sudah memaklumi dengan kondisi aplikasi perbendaharaan yang berbasis tahunan itu pasti harus segera diganti atau diperbarui menyongsong masuknya tahun anggaran yang baru. Tugas rutinku ini rasanya mencapai klimaksnya. Karena dalam waktu yang singkat untuk seluruh mitra kerja diharuskan mampu memahami dan mengoperasikan aplikasi baru ini. Sosialisasi menjadi keharusan dan mengajari lebih intensif jelas diperlukan.

Tuntutannya tak sekadar mengajari saja sebenarnya, Desember. Proses ini bisa dibilang tak bisa sesegera itu untuk dijalani. Mulai dari awalnya dengan mengunduh komponen-komponen aplikasi baru itu, kemudian melakukan uji coba terlebih dahulu dengan mempelajari melalui manual dan berdiskusi dengan teman kerja. Barulah ketika aplikasi itu sudah dapat dikenali dengan baik, diundanglah para mitra kerja untuk sosialisasi aplikasi baru itu. Pada tahapan inilah, kerumitan pekerjaan sering terjadi. Berbagai macam masalah bisa terjadi karena banyak hal dan harus segera ditangani agar tidak menghambat proses perbendaharaan pada mitra kerja. Dalam dua hari kegiatan mengajar itu, sungguh, Desember, waktu bekerjaku didominasi oleh hal semacam ini.

Pada kegiatan ini jelas terasa kemudian, walau terasa pelik dalam menghadapi tugas ini, namun aku menikmatinya. Ya, pekerjaan ini sama rasanya seperti yang dulu. Menantang dan sangat membuka wawasan. Menjadikanku terbersit sekelebat seandainya pekerjaanku cukup seperti ini saja, meninggalkan tugas pokok yang semakin lama membuatku jenuh. Ah, andai saja itu terjadi seperti dulu kala…

17 Desember 2012, “Lembur Terparah karena Keteledoran (Tenggat Waktu Pengajuan SPM LS Terakhir)”

Dua kesibukan tadi belumlah berakhir jua, Desember. Masih ada banyak kesibukan lain yang terjadi saat bersamamu. Malah pada kesibukan yang ketiga ini bisa dikatakan sebagai klimaks dari kesemuanya itu. Kesibukan ketiga ini adalah tenggat waktu pengajuan terakhir dari dokumen perbendaharaan yang bernama Surat Perintah Membayar mekanisme Langsung (SPM LS). Di mana pun kantor cabang semacam tempat bekerjaku ini pasti mencapai kesibukan yang teramat sangat tentang hal ini.

Pola penyerapan anggaran sangatlah tak normal di penghujung tahun memang. Imbas dari hal ini adalah betapa pekerjaan semakin meningkat dan menggila rasa-rasanya. Para mitra kerja seperti tak habis-habisnya datang mengunjungi tempat kerjaku untuk mengurusi SPM LS pada batas waktu yang terakhir, bahkan hingga melewati batas jam kerja lazimnya, mereka masih bertahan di sana.

Ya bisa dibilang inilah yang menjadi tradisi yang masih belum bisa diubah. Dapat dimaklumi sebenarnya dan dari jauh-jauh hari hal semacam ini sudah dapat diprediksi akan terjadi. Tetapi, kali ini berbeda, Desember. Kali ini aku harus merasakan kepayahan dan kekonyolan atas apa yang aku lakukan pada momen yang penting ini. Aku berbuat kesalahan dan itu menjadikan proses pekerjaan menjadi terhambat dan terlambat diselesaikan. Aku yang mana kala waktu itu menjadi penanggung jawab aplikasi berbuat kecerobohan dengan mengoperasikan aplikasi terbaru sebelum waktunya. Aplikasi lama menjadi tak lancar berjalan sebagaimana mestinya dan aku baru menyadari kesalahanku setelah berkutit bergelut mencari apa penyebabnya. Ah, sungguh betapa rasanya konyol sekali mengingat apa yang terjadi hingga larut dini hari itu. Hal semacam ini menjadi benar-benar pembelajaran untukku, Desember.

18 Desember 2012, “Sendirian, Rehat, dan Reward Setelah Semalam”

Klimaks atas kesibukan itu telah terasa dan betapa sungguh dibutuhkannya rehat sejenak agar bisa melanjutkan aktivitas rutin keseharian dalam pekerjaan. Akan tetapi, sayangnya pada keesokan harinya aku harus mengemban tugas rangkap mengingat penanggung jawab utama atas sistem dan aplikasi di kantor adalah aku. Atasan juga sedang menjalankan dinas luar bersama senior yang tugasnya aku gantikan. Ah, terasa sekali kesendirian itu di hari setelah klimaks itu, terasa juga kelelahan kepayahan yang masih menempel sejak peristiwa semalam, Desember.

Sebelumnya begitu terbayang keluhan yang akan terasa oleh diri akibat kesendirian ini dan juga pekerjaan-pekerjaan yang akan menanti. Namun, ternyata sehari setelah klimaks kesibukan itu terjadi, nyatanya tak seburuk apa yang diduga. Hari itu relatif tenang dan tidak menyulitkan. Bahkan pun diri sempat mengunduh film yang sejak dari dulu ingin ditonton dan akhirnya seusainya kerja di hari itu dapat jua ditonton. Hahaha anggap saja ini semacam reward setelah semalam, Desember…

20 Desember 2012, “Anggaran Di Tahun yang Baru (Sosialisasi PMK Mekanisme Pembayaran APBN Terbaru dan Penyerahan DIPA TA 2013)”

Rehat yang dapat dinikmati hanyalah sejenak saja, Desember. Sungguh betapa dinamisnya ritme pekerjaan ini. Belum berselang klimaks kesibukan yang lalu, sekarang sudah mulai menggeliat lagi kesibukan-kesibukan lainnya. Kali ini, ada perhelatan bertajuk Sosialisasi PMK Mekanisme Pembayaran APBN Terbaru dan Penyerahan DIPA TA 2013. Acara ini merupakan kegiatan yang mesti dilaksanakan tiap menjelang tahun anggaran baru. Yang berbeda dari pelaksanaan kegiatan ini di tahun ini adalah tempat pelaksanaannya yang berada di aula kantor, tidak seperti tahun sebelumnya yang bertempat di Kantor Bupati. Hal ini karena efisiensi dana dan juga kemudahan penyelenggaraan. Selebihnya acara ini tidak berbeda dari kegiatan biasanya dan diriku juga seperti biasa menjadi juru foto untuk mendokumentasi setiap momen pada acara ini, Desember.

21 Desember 2012, “Kesalahan Sekian Kalinya (Ketidakcukupan Kas)”

Entahlah kenapa selalu saja terjadi ketidakberesan pekerjaan yang dari jauh-jauh hari sebenarnya sudah dapat ditebak akan terjadi. Ya, begitulah aku sekarang ini, Desember. Sangat jauh rasanya dari ideal rasanya apa yang telah kukerjakan. Kian lama kian terasa tak menyenangkan amanah yang ditugaskan kepadaku dan sepertinya ketidaksenangan ini kian lama kian menyebabkan banyak ketidakberesan terjadi.

Dan lagi, ketidakberesan itu ada, kesalahan kesekian kalinya terjadi. Akibat dari kurang pengawasan atas arus keluar masuk dana yang menjadi tanggung jawabku, pada satu titik saat diperiksa oleh atasan, aku dinyatakan kebobolan. Ternyata dana yang keluar untuk belanja sudah melebihi dari dana yang tersedia dan sisanya tak akan cukup untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang harus dibayar hingga akhir tahun ini.

Oh sungguh, Desember. Kamu tahu sekali apa yang kurasakan saat menyadari hal ini. Sangat amat tertohok diriku. Apalagi melihat kekecewaan dari atasan yang sudah tahu akan keteledoranku ini. Aku yang terlampau masih kalut atas kesalahan ini pun tak tahu harus berbuat apa, namun syukurnya walau ada kekecewaan dan kemarahan atasanku atas apa yang kuperbuat ini, dirinya memberikan arahan dan solusi atas masalah ini dan akhirnya dapat teratasi jua.

Entah kesalahan apa lagi yang akan terjadi jika kehampaan dalam menghayati amanah dan pekerjaan yang kuemban ini semakin mengabur…

22 – 25 Desember 2012, “Mengisi Libur yang Panjang”

Tibalah kemudian masa liburan akhir tahun, Desember. Kali ini tentu aku tidak bisa seenaknya berliburan pada masa-masa seperti ini mengingat kesalahan yang baru saja aku sadari. Akan tetapi, liburan kali ini kuharap menjadi momen penyegar atas segala kepenatan yang terasa belakangan ini. Aku butuh sekali berlibur dengan melakukan aktivitas yang ingin aku lakukan. Aku ingin jalan-jalan menikmati pemandangan, aku ingin menikmati waktu kesendirianku merenung, aku ingin memberesi hal-hal pribadiku yang belum sempat kuurusi dengan baik.

Namun aku tak bisa terlampau jauh pergi dari kota rantau ini. Banyak hal yang masih harus diberesi di kota ini. Maka, opsi yang ada untuk berlibur adalah menikmati momen-momen liburan yang tersedia di kota ini. Yah, walau bisa dibilang sudah sering diri ini berkelana dan menyusuri seluk beluk kota ini untuk dinikmati, tak ada salahnya untuk menikmatinya ulang. Siapa tahu ada hal yang berbeda.

Tempat favoritku di kota rantau ini ada beberapa dan aku kembali mengunjunginya pada kesempatan ini. Yang pertama adalah kanal sungai yang berada di kawasan perbukitan sebelah timur kota ini. Sungai alami ini airnya begitu jernih dan dangkal sehingga asyik rasanya untuk sekadar bermain air di sana. Kanal-kanal penahan banjir tampak baru saja dibangun di sana sehingga memperluas aliran sungai. Masyarakat sekitar sana sangat memanfaatkan aliran sungai ini untuk mandi, cuci, atau sekadar bermain seperti anak-anak kecil. Selain kejernihan dan kesegaran airnya, daerah ini juga menampilkan pemandangan menakjubkan dengan perbukitan nan hijau penuh pepohonan dan langit biru membentang seakan tanpa penghalang.

Yang kedua berada di kawasan selatan. Lokasinya terletak di pinggir jalan lalu lintas menuju arah kota Bengkulu. Jalanan di sana merupakan jalanan yang berbatas langsung dengan laut dan pada beberapa lokasi terdapat bebatuan alami yang cocok untuk digunakan singgah sebentar menikmati pemandangan laut lepas. Kemudian ada juga bangunan shelter tsunami di kawasan utara yang memberikan pemandangan seluruh kota dari atas jarak pandang.

Carocok dan Langkisau yang sudah sedemikian terkenal dan melekat dengan identitas kota ini juga kukunjungi kembali. Kali ini untuk mengantarkan dan menemani tamu kenalan pegawai kantor. Tempat ini walau sudah sekian kali mengunjunginya, terasa olehku seperti baru pertama kali mengunjunginya dan ketakjuban itu selalu ada.

27 Desember 2012, “Kehebohan yang Sama Setiap Ada Kabar Mutasi Pegawai”

Mutasi pegawai itu selalu menghebohkan, Desember. Sebagaimana yang belakangan ini diisukan akan adanya mutasi, akhirnya saat kabar itu benar-benar terjadi, tetap saja kehebohan itu terasa. Padahal tak ada satu pun akhirnya yang pindah jua dari kantor ini. Pegawai atau pejabat yang dipindah masuk ke sini pun juga tak ada. Hahaha terasa lucu rasanya, sepertinya kantor di sini tak diperhitungkan dalam penentuan kebijakan mutasi di akhir tahun ini.

Padahal begitu banyak pegawai dan juga pejabat yang berharap dirinya akan dipindah dari tempat ini. Awal mula mengetahui kabar ini pun, aku terasa begitu sungkan mengabarkannya kepada para pejabat dan pegawai yang aku tahu mereka sangat berharap akan dipindah dengan mutasi kali ini. Namun, kabar ini pasti akan sampai kepada mereka dengan sendirinya karena kehebohan dan penasarannya semua orang akan nama-nama yang dipindah walau tak ada satu pun nama mereka muncul pada surat sakti itu.

28 Desember 2012, “Kehebohan yang Lain (Tunjangan Kinerja di Akhir Tahun)”

Kehebohan akan mutasi pada sehari sebelumnya masih belum reda sebenarnya, tetapi kemudian tiba-tiba dikejutkan oleh kehebohan lainnya. Kali ini ada kabar mengenai tunjangan kinerja yang baru pertama kali ini dibayarkan kepada seluruh pegawai. Tunjangan baru ini diberikan dengan berdasarkan penilaian kinerja pegawai pada tahun 2011. Ya, agak mengherankan sebenarnya, kenapa baru sekarang ini bisa dibayarkan tunjangan atas kinerja yang telah begitu lampau. Namun, keheranan ini tak begitu dipersoalkan oleh kebanyakan orang karena kabar akan kepastian tunjangan ini diberikan sudah menjadi angin yang begitu segar dan membahagiakan bagi mereka.

Bahagia memang dan sangat dinantikan jadinya tunjangan ini. Namun, bagi petugas administrasi tunjangan ini seperti aku, kabar ini tak terlalu membuat diri senang. Beban kerja jelasnya menjadi bertambah. Apalagi adanya keterdesakan waktu untuk siap mengurusinya. Belum lagi, ini adalah hal baru yang sebenarnya membutuhkan banyak penjelasan dalam teknis pembayaran dan pelaporannya. Para pegawai pun juga kadang mengganggu dengan menanyakan kapan tunjangan ini benar-benar sampai kepada mereka. Ah, begitulah memang konsekuensi atas tugasku ini, Desember.

29 – 30 Desember 2012, “Painan yang Mati dan Alami”

Akhir tahun pun semakin dekat dan peralihan ke tahun baru pun akan terjadi. Apa yang terjadi di kota rantau kecil ini di saat seperti ini? Menyedihkannya adalah semakin seringnya pemadaman listrik di sini. Pada masa akhir tahun ini yang sebenarnya begitu banyak hari libur menjadi suram karena terlampau seringnya pemadaman listrik yang menjadikan banyak aktivitas terhambat. Kebosanan dan kejenuhan pun menjadi kian bertambah dengan persoalan satu ini. Untung saja, kealamian kota ini menjadi penawar sesaat atas pahitnya realitas ini. Berkelana dengan sepeda kesayangan mengunjungi tempat-tempat favorit sejenak menjadikan diri tak terlampau mempersoalkan pemadaman listrik yang sebenarnya sudah lazim terjadi, tetapi belakangan ini sayangnya menjadi kian parah.

31 Desember 2012, “Padang, Kota Pelarian”

Persoalan pemadaman listrik nyatanya kemudian semakin membuat diri tak betah berada di kota rantau ini. Berkeliling dan singgah ke tempat favorit di kota ini juga tidak mampu sepenuhnya menetralisasi kedongkolan atas masalah ini. Sangat ingin lari dan lepas dari realita kota ini rasanya. Diambillah keputusan untuk pergi meninggalkannya dan mengunjungi kota lainnya yang lebih manusiawi untuk dihuni sementara waktu. Ibukota provinsi tentunya memberikan banyak kesempatan untuk beraktivitas tanpa kendala persoalan listrik semacam ini di saat liburan.

Padang menjadi kota pelarian. Walau sebenarnya tak begitu berkesan apa yang diri lakukan di sana. Hanya sekadar berkunjung ke tempat favorit di sana, toko buku dan juga mencoba macam-macam kuliner. Kota ini menyajikan sarana yang lebih lengkap daripada kota rantau yang memang kondisinya serba terbatas…

***

Akhir tahun pun telah berlalu. Tahun yang baru kini sedang menjalankan roda-roda waktunya. Inilah kisah bicara bulan yang terakhir di tahun yang istimewa ini. Desiranmu, Desember, selalu saja memberikan sekelebat ringkasan kisah-kisah bersama kawan-kawanmu yang mempunyai keunikannya masing-masing.

Kini kisah bicara bulan harus dimulai lagi dengan babak dan giliran yang baru. Desember dan kawan-kawan bulan yang unik, terima kasih telah menemaniku untuk mengenang setiap momen kehidupan yang penuh warna ini. Semoga tahun baru ini akan menjadikan kisah-kisah yang lebih baik daripada apa yang telah kita lalui bersama…

Painan, 2 Februari 2013, 22.46

fenomena november

Ada beragam fenomena pada cerita bersamamu, November. Fenomena-fenomena semacam ini adalah hal baru yang pertama kali ini kurasakan. Kalaupun ada hal serupa yang sebelumnya pernah terjadi, tetapi fenomena pada ceritamu ini sungguh terasa berbeda sekali. Pada waktu yang berbeda, tempat yang berbeda, bersama orang yang berbeda, fenomena itu menjadi unik dengan sendirinya. Sepertinya tidak akan dapat terjadi hal yang serupa persis sedemikian itu.

Karenanya itu, cerita tentang fenomena-fenomena yang terjadi bersamamu, November, tak boleh luput untuk ditorehkan dalam sebentuk tulisan seperti  Hari-Hari di Januari, Memori Februari, Meretas Maret, Kerikil April, My May, Kejutan Juni, Lilitan Juli, Kusutnya Agustus, Sekaliber September, dan Tertohok oleh Oktober Kau berikan kepadaku kesan yang mendalam akan setiap fenomena yang kujalani bersama dirimu.Sebentuk tulisan ini semoga dapat menjadi kenangan pengingat manis pada setiap fenomena itu…

fenomena novemberNovember, simaklah cerita kita kembali di saat yang sudah lalu itu…

4 November 2012, “Sewa untuk Setahun Lagi”

Sudah hampir setahun berjalan dari keputusan untuk menyewa sepetak bangunan sebagai tempat domisili di kota perantauan ini. Mengingat sekilas apa yang telah dilewati dalam jangka waktu itu, memang tak bisa dibilang semuanya berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan. Ada kesulitan yang harus dihadapi, ada keengganan yang hinggap sejenak, ada kebosanan yang sering tak dapat dielakkan.

Namun, pada sepetak bangunan itu, tak bisa dipungkiri jua ada hal-hal yang menjadikannya susah untuk beranjak lepas dari sana. Di sana, November, aku bisa lebih menjadi diriku sendiri, aku bisa berlatih untuk mengurus kehidupanku sendiri secara mandiri, dan aku lebih leluasa dalam menjalankan keseharianku lepas dari dunia pekerjaan yang sudah terlalu mendominasi.

Oleh karena itulah, November. Sudah diputuskan lebih baik untuk memperlama waktu untuk berada di sana. Semoga saja keputusan ini membawa berkah dan apa yang selanjutnya terjadi adalah hal yang semakin lebih baik di tempat ini…

8 November 2012, “Pertama Menjadi Pembicara”

Menurutku seorang pembicara dalam suatu acara mestilah orang yang harus mumpuni dalam bidang yang ia ampu dalam presentasi materi yang dibawakan olehnya. Betul demikian ‘kan, November? Jadi, suatu hal yang terasa janggal pada mulanya saat diriku ditunjuk menjadi pembicara mewakili tempatku bertugas dalam suatu acara yang sepertinya masih belum aku mumpuni dalam bidangnya.

Namun apa daya. Tak seorang pun yang lebih terlihat dapat menguasai materi yang hendak disajikan di tempatku bekerja daripada aku sendiri. Awalnya kucoba menolak dan berdalih berbagai macam alasan. Akan tetapi, kian lama aku berdalih, semakin terasa bahwa aku menghindar dan cenderung tak memberikan solusi alternatif pengganti daripada aku ditugaskan untuk itu.

Maka kemudian dengan berat hati, aku terima saja penugasan itu. Mulailah aku mempersiapkan diri dan belajar dalam waktu yang teramat singkat mempelajari bahan materi yang akan disampaikan. Dengan masih terganjal gerutu, kekesalan, dan keengganan, persiapan itu aku lakukan. Namun, hal semacam ini dapat ditepis dengan persepsi bahwa ini adalah kesempatan pertama yang berharga dan menjadi pembelajaran. Memang ini sudah saatnya untuk mengambil peluang kesempatan ini.

Dan tibalah fenomena itu terjadi. Saat diriku menjadi seorang pembicara yang menyampaikan materi “Administrasi Keuangan Pendapatan Nikah-Rujuk untuk Kantor Urusan Agama se-Kabupaten Pesisir Selatan”. Memang urusan hal ihwal keuangan ibarat kata sudah menjadi makanan keseharianku dalam bekerja, namun dengan hal lebih teknis semacam materi ini tentu menjadi tantangan tersendiri untuk lebih mendalaminya dan membagi ilmu yang terkait dengannya kepada para peserta yang hadir.

Pada pengalaman pertama ini, tak dapat dipungkiri masih ada kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada penyampaian materi dari diriku, November. Namun, pengalaman pertama memang sangat berharga dengan adanya pembelajaran untuk kesempatan selanjutnya menjadi lebih baik lagi. Semoga…

12 – 15 November 2012, “Mengikuti Sosialisasi di Bandung”

Tak dapat disangka aku mendapat kesempatan bersua kembali dengan kota cantik yang bernama Bandung lagi, November. Ini menjadi kali ketiga aku menyambanginya dan tentu masih terasa betapa antusiasnya diriku untuk hal ini. Kali ini penugasan untukku dalam rangka mengikuti kegiatan “Sosialisasi dan Penyegaran Sistem Akuntansi Instansi untuk Satuan Kerja Instansi Vertikal DJPB” tentu tak hanya menjadi kewajibanku untuk menjalaninya, kuharap akan ada momen-momen yang menyenangkan selama berada di kota ini sama seperti sebelumnya.

Berbicara tentang kewajibanku pada penugasan ini, ya memang aku harus berangkat untuk hal ini. Kegiatan ini akan menjadikanku lebih berwawasan dan mempunyai pengetahuan mumpuni dalam menjalankan salah satu tugas di tempat bekerja sebagai petugas yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Sistem Akuntansi Instansi. Walau kegiatan ini terasa begitu ekspres dengan banyak materi yang disampaikan pada waktu kegiatan yang hanya sebentar saja, namun jelas efeknya jika diperbandingkan dengan sebelumnya, pengetahuan dan wawasanku menjadi bertambah, November.

Semoga saja kegiatan ini akan berdampak baik pada pekerjaan yang aku ampu di tempat bekerja dan tentu dalam setiap kegiatan yang ditugaskan untuk diikuti pasti akan diiringi dengan bertambahnya beban tanggung jawab karena menjadi orang yang terlebih mengetahui mengenai bahan kegiatan tersebut…

15 – 17 November 2012, “Menikmati Momen di Bandung”

Bagaimana aku tidak seantusias seperti ini, November, jika kesempatan bertandang ke Bandung ini rupanya akan lebih leluasa dengan adanya hari libur yang mengikuti seusainya kegiatan penugasan yang kujalani? Ya, sempat sebelum beranjak menyambangi kota cantik ini, ada beragam rencana yang hendak dilakukan. Momen liburan yang tepat setelah kegiatan usai menjadi kesempatan yang tak dapat diabaikan. Bagaimana tidak? Sebelumnya jua terasa penat sekali urusan beban pekerjaan, tentu wajar adanya jika diri membutuhkan sejenak momen untuk dapat berlibur ria lepas dari urusan-urusan semacam itu dan Bandung menyajikan perbagai cara untuk itu.

Kalaupun sebelumnya sempat bimbang apakah lebih baik untuk pulang ke rumah kembali bersama keluarga, tetapi opsi ini ditolak mengingat baru beberapa waktu yang lalu aku sudah pulang ke rumah. Rasanya terlalu cepat untuk kembali ke rumah, lagipula waktunya hanya sebentar saja. Akan lebih baik jika lebih menikmati momen selepas tugas di kota ini.

Maka hal pertama yang dilakukan untuk ini adalah bersua dengan kawan-kawan lama yang ada di kota itu. Perbincangan hangat terjadi bersama mereka. Ah, sungguh kerenggangan akibat jarak dan waktu yang terjadi selama ini ternyata dapat ditepis begitu saja kala kami bertemu.

Pada hal kedua yang dilakukan adalah mengunjungi daerah wisata yang belum sempat dikunjungi pada kesempatan sebelumnya, yaitu Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, daerah Dago Pakar. Tempat ini menyajikan pemandangan hijau yang begitu asri dan alami. Menyusuri gelapnya Gua Jepang dan Gua Belanda di dalam kawasan wisata ini juga menjadi kesan yang mengenang pada kunjungan kali ini. Curug Maribaya yang deras mengalir juga menambah kesan itu walau sayang begitu banyak sampah berserakan di tempat seindah itu.

Hal ketiga yang dilakukan di Bandung adalah sekadar menyusuri seluk-beluk sendirian dan merasakan momen-momen yang tersisa untuk dapat dinikmati di kota ini. Ah, sebenarnya belum puas rasanya untuk sejenak di Bandung ini. Nyatanya waktu yang tersedia cepat sekali berlalu dan mengharuskanku untuk kembali, November. Kembali ke kota rantau tempatku bertugas dan menjalani keseharian pada lazimnya…

17 – 18 November 2012, “Sejenak Bertemu Keluarga”

Untuk kembali ke kota rantau, aku perlu sejenak singgah di Ibukota untuk melanjutkan perjalanan karena tak dapat ditempuh secara sekaligus dalam satu kali rute. Pada kesempatan kali ini rupanya, walau sebelumnya telah diputuskan untuk tidak pulang ke rumah bertemu dengan keluarga, ada kesempatan sejenak bertemu dengan keluarga. Sesampainya aku di ibukota, kakakku sudah terlebih dahulu singgah di ibukota sementara waktu di tempat mertuanya. Ia menawariku untuk sementara singgah bersamanya di sana, maka aku pun tak menolaknya.

Sejenak memang untuk dapat bertemu dengannya dan anaknya yang lucu itu kembali. Akan tetapi, liburan kali ini menjadi ibarat pepatah sekali dayuh, dua tiga pulau terlampaui. Ada kesempatan untuk bersilaturahim dengan keluarga mertua kakak juga dan lebih mengakrabi dengan kakak ipar pada kunjungan kali ini. Beruntungnya juga karena kakak hendak kembali ke kota lahir, maka aku juga diantarkan sekalian menuju bandara. Ah, sayang tapi sebenarnya. Andai saja penerbangan yang kutempuh bukanlah menuju kota rantau, tetapi kembali ke kota lahir bersama kakak, tentu itu akan lebih menyenangkan. Tapi ya sudahlah, beginilah adanya tuntutan kehidupan. Tak selamanya apa yang diinginkan diri itu seketikanya terjadi, November…

20 November 2012, “Tourguide Painan Ekspres”

Sekembalinya aku berada di kota rantau dan menjalani keseharian dalam bertugas, aku mendapati kabar yang tak dapat disangka-sangka. Ada seorang kawan yang penasaran hendak mengunjungi kota rantauku ini dan bertemu denganku. Maka, pada setiap waktu yang dinanti untuk kedatangan kawan ini sungguh mendebarkan. Terbayang berbagai rencana akan disambut seperti apa nantinya kawan ini dan cerita-cerita apa yang hendak dibagi. Baru kali ini memang ada kawan dari kota yang jauh sedemikiannya berniat untuk mengunjungi kota rantauku ini.

Tibalah dia dengan tak hanya sendiri seperti yang kusangka, November. Rupanya dia bersama dua kawannya yang juga sudah kukenal sebelumnya. Mereka telah mengarungi perjalanan yang panjang sebelumnya bermula dari Kota Medan. Cerita akan perjalanan mereka sungguh menarik dan membuatku merasa ingin juga melakukannya. Mereka telah singgah dan mengunjungi berbagai kota seperti Parapat Toba, Padang Sidempuan, Bukittinggi, Padang dalam perjalanan Medan-Painan ini. Kesempatan rehat dengan cuti tidak bertugas, mereka optimalkan untuk menjalani perjalanan bertemu dengan kawan-kawannya. Sungguh luar biasa.

Maka, seketikanya mereka bertemu denganku, aku seakan menjadi pemandu wisata bagi mereka. Dalam waktu singkat yang mereka punya untuk menikmati pesona kota rantauku ini, mereka sangat antusias ingin mengetahui apa saja pesona itu. Lalu, kuajak mereka menikmati pantai yang menjadi ikon terkenal dari kota ini, yakni Pantai Carocok, dan mereka pun terpesona sebagaimana yang kuharapkan. Melihat reaksi mereka menjadikanku teringat bagaimana kesan pertamaku mengunjungi pantai yang indah ini, November…

Dari Pantai ini, aku ajak mereka menyeberang sebentar ke pulau yang tak jauh dari Carocok, yakni Pulau Cingkuak. Pulau dengan hamparan pasir putih, sisa Benteng Portugis yang bersejarah, dan pemandangan yang lebih menakjubkan lagi. Ekspresi mereka masih tetap saja terkagum-kagum dengan pemandangan yang tersaji di hadapan mereka. Sisa waktu yang ada untuk mereka kemudian dialihkan untuk mengajak mereka ke Puncak Bukit Langkisau tak jauh dari kawasan pantai. Ya memang, tiga objek dalam satu kawasan ini adalah keharusan bagi para pelancong jika hendak menikmati pesona Painan. Di sana, mereka dapati atraksi terjun paralayang dan pemandangan kota kecil Painan dari puncak atas bukit.

Testimoni mereka setelah menjalani tourguide ekspres ini rupanya sangat positif. Mereka menyatakan bahwa memang kota ini mempunyai pesona dan ketertarikan yang belum begitu dieksplor oleh media. Sayang mereka hanya dapat menikmati tiga objek itu saja, padahal masih banyak pesona tersembunyi dari alam Pesisir Selatan ini. Penerbangan kembali menuju tempat mereka masing-masing ketika itu hampir saja nyaris berangkat tanpa mereka karena menyempatkan sejenak waktu di Painan ini. Kawan, andai waktumu masih banyak untuk menelusuri indahnya kota rantauku ini, maka aku bersedia mengantarkan dan memandumu ke mana pun kau mau…

22 November 2012, “Kesempatan untuk Belajar Kembali”

Hasrat untuk belajar dan menjalani proses pendidikan tak dapat dipungkiri sudah semakin tinggi dalam diriku, November. Dengan sudah begitu lamanya diri tak mengenyam pendidikan formal terasa sekali ada kehilangan. Entah itu dengan nuansa lingkungannya, ilmu pengetahuan yang menjadi tuntutan untuk lebih dikuasai, atau karena begitu jenuhnya keseharian rutin pekerjaan ini, menjadikan kesempatan untuk belajar kembali begitu dinanti-nanti.

Maka, tak dapat diduga rupanya. Manakala kampus almamater hendak membuka kesempatan para alumninya untuk menempuh strata pendidikan yang lebih tinggi, begitu diri tak menyangka kesempatan itu datang secepat itu. Semula diri tidak terlalu antusias mengingat ada hal pengganjal dalam penerimaan mahasiswa baru ini karena adanya isu bahwa sudah lama instansi mengambil kebijakan untuk tidak mengusulkan para pegawainya mengikuti program ini.

Hingga kemudian suatu surat menjadi kabar gembira dan meningkatkan antusias yang sebelumnya redup terasa. Instansi tempatku bekerja ternyata mengeluarkan surat yang menawarkan program ini kepada para pegawainya. Dengan demikian, secara serta merta tertepislah isu yang sebelumnya itu. Maka tidak hanya aku saja yang antusias akan hal ini kembali, tetapi teman-temanku yang lain juga seperti itu. Ah, kawan, semoga kita akan dipertemukan kembali di kampus penuh kenangan itu… Selamat berjuang untuk seleksi program ini, aku dan kawan-kawan semuanya…

23 November 2012, “Tak Ada Gunanya Menjelaskan kepada Sang Penghasut”

Pada tugas yang kuemban sekarang ini, ada satu hal yang menjadi keenggananku dalam melakukannya. Walau ada keengganan itu, mau tak mau karena hal ini adalah kewajibanku yang menyangkut hak orang lain, maka harus ditunaikan secepatnya. Lalu, bagaimana bisa muncul keengganan itu?

Hal ini karena pada setiap kali aku melakukannya, selalu saja muncul berbagai isu miring yang tidak sedap aku dengarkan dan harus kuhadapi. Ya, hal ini selain menyangkut hak orang banyak, ia juga merupakan isu strategis yang diatur dalam suatu kebijakan dan tak semua orang puas dengan kebijakan yang telah ditentukan itu. Malah terlampau banyak yang tidak puas dan menjadikannya sebagai bahan untuk bisikan yang tidak baik.

Apalagi jika harus berhadapan dengan namanya Sang Penghasut. Dirinya pasti akan secara intens dan penuh praduga yang macam-macam untuk menyalahkan kebijakan yang sudah diatur itu. Memang sudah bawaannya bahwa ia selalu cari gara-gara dan masalah, apalagi jika ia sudah menggunakan senjata ampuhnya itu, yakni hasutannya kepada yang lain.

Dan entah apa yang masih terbersit di benakku saat berhadapan dengannya kembali untuk tugas itu. Sepertinya aku terlalu berasumsi bahwa ia adalah manusia normal dengan pemikiran yang seharusnya masih baik dan logis. Akan tetapi, akal pikirannya sendiri sudah tertutupi gelap dengan praduga negatif yang ia punya dan herannya begitu ia sangat bersikukuh akan hal itu padahal ia tidak dapat menyandarkan argumennya pada bukti yang konkrit.

Tak ada gunanya menjelaskan berbagai macam pertimbangan yang digunakan untuk kebijakan akan hal ini. Ia sudah memvonis mentah-mentah bahwa apa yang sudah diputuskan para pengampu kebijakan itu adalah salah. Ia memang sudah menjadi Sang Penghasut sejatinya, tiada belang lagi yang kentara pada dirinya. Ia sudah seutuhnya menunjukkan wujud perangai jeleknya itu. Dan aku, jelas bersalah masih menganggapnya normal dan malah mengutarakan hal-hal yang sensitif baginya untuk ia sebarkan sebagai bahan hasutan lagi…

24 – 25 November 2012, “Perjalanan Kembali Bersama Special Travelmate”

Setelah sekian lama tidak menjalani suatu perjalanan yang menyenangkan bersama Special Travelmate lagi, maka pada penghujung kehadiranmu, November, kuajak dirinya untuk mengunjungi tempat-tempat yang menjadi keinginan kami namun belum dikunjungi. Awalnya kuajak dirinya menikmati pesona alam Air Terjun Bayang Sani yang pernah aku rasakan sebelumnya. Namun, karena ketersediaan waktu yang ada saat itu, malah dirinya yang mengajakku terlebih dahulu mengunjungi tempat yang lebih terjangkau, yakni Pantai Sago dan Lubuk Larangan.

Pada Pantai Sago, aku terpukau dengan garis pantainya yang panjang dan deretan pohon pinus pantai. Cuaca saat itu juga begitu cerah sehingga kombinasi warna hijau pohon pinus, cokelatnya pasir, dan birunya pantai begitu indah terasa. Pada Lubuk Larangan, daerah ini menyajikan pemandangan tepi sungai yang tenang dengan latar belakang pegunungan hijau nan asri. Sungai ini rupanya dihuni oleh ikan-ikan yang begitu berkerumun saat dilemparkan makanan untuk mereka. Cocok sekali tempat ini sebagai tempat pelepas penat dengan menikmati pemandangan pegunungan dan sungai serta bercengkrama memberi makanan kepada kerumunan ikan.

Setelah sebelumnya Special Travelmate telah memandu untuk menikmati Pantai Sago dan Lubuk Larangan yang pernah ia singgahi, maka pada hari selanjutnya akulah yang memandunya menuju tempat yang begitu ia ingin ketahui yakni, Air Terjun Bayang Sani. Semula aku agak lupa di manakah tempatnya sehingga sempat tersesat melampaui jarak yang seharusnya, hingga akhirnya sampailah jua di tujuan dan ya Air Terjun Bayang Sani ini masih memukau seperti yang dulu aku temui. Sesampainya di sana, Special Travelmate langsung secara totalitas menikmati segarnya air di sana dengan mandi dan berenang. Sedangkan bagiku saat itu, cukuplah puas dengan mencari objek foto dokumentasi keindahan tempat itu dan menangkap momen menyenangkan bersamanya.

27 – 28 November 2012, “Untuk Akhir Tahun yang Lebih Baik”

Fenomena terakhir pada penghujung kisah bersamamu, November, ditutup dengan kegiatan kantor bertajuk Sosialisasi Langkah-langkah Akhir Tahun. Ya, kegiatan ini rutin dilakukan pada penghujung tutup tahun agar mitra kerja dapat mengkondisikan dengan kekhususan kejadian yang selalu terjadi di akhir tahun. Untukku sendiri, ini menjadi permulaan akan klimaks beban yang nantinya akan kuhadapi. Akhir tahun akan berimbas pada semakin meningkatnya beban pekerjaan. Pada kegiatan ini juga aku juga harus berperan serta menyelenggarakannya  walau sebenarnya tidak ada kewajiban tertulis akan hal itu.

Ah, akhir tahun ini, semoga lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan segala macam tantangan dapat dilampaui dengan baik dan lancar…

 

***

Fenomena-fenomena itu telah kutuliskan, November. Seiring proses dalam menuliskan kesemuanya ini, begitu tersirat bahwa fenomena bersamamu ini menjadi suatu pembelajaran akan hal baru bagiku, November.

Hidup akan senantiasa terus berkembang dan menjadikanku merasakan fenomena-fenomena yang berbeda dan unik entah kuhendaki atau tidak. Hal baru inilah yang menuntutku untuk mempelajarinya, mengenangnya, dan memanfaatkannya untuk memantapkan nilai-nilai acuan dalam kehidupan.

Pada fenomena-fenomena itu, aku semakin menemui dan mampu menggambarkan lebih jelas lagi seperti apakah kepribadianku sebenarnya dalam menghadapi perbagai warna-warni kehidupan…

Painan, 16 Desember 2012, 23.55

tertohok oleh oktober

Oh, Oktober… Tohokan demi tohokan yang kau torehkan dalam perjalananku bersamamu sungguh terlalu… Bagaimana bisa kau setega itu memberikanku bertubi-tubi tohokan di kala aku tak dapat menyangka satu pun dari tingkah lakumu itu? Adakah aku memang sudah sepantasnya untuk kautohok agar aku menjadi orang yang menyadari tiap momen kehidupan seringkali tak dapat diduga?

Sungguh perjalanan kali ini bersamamu terasa kian berat daripada cerita akan Hari-Hari di Januari, Memori Februari, Meretas Maret, Kerikil April, My May, Kejutan Juni, Lilitan Juli, Kusutnya Agustus, dan Sekaliber September Sungguh terasa sekali bahwa seiring berjalannya waktu, tiap bulan yang berbicara menyajikan progresivitas cerita yang semakin kompleks…

Hingga aku kemudian mengambil pelajaran dari kisah tertohok olehmu, Oktober… Bahwa dalam setiap tohokan kehidupan yang terjadi, tak semuanya itu mesti menjadi hal yang tak menyenangkan dan harus disingkirkan. Kau beri aku pelajaran bahwa ada kalanya tohokan itu bisa jadi suatu kejutan yang kemudian akan membahagiakan atau suatu aral rintang menghadang yang jika dapat dilalui dengan baik akan bermuara pada kebahagiaan pula…

10_oktoberPada setiap tohokan yang kautorehkan ini, Oktober, aku mencoba belajar memahami…

1 Oktober 2012, “Launching Kantor Percontohan, Tambahan Tunjangan, dan Lembur yang Keterlaluan”

Serangkaian persiapan yang telah ditempuh pada sekian periode yang lalu kini menempuh babak lembaran yang baru, Oktober. Kantorku kini telah berganti status, ia kini menjadi salah satu jajaran kantor yang diakui sebagai kantor percontohan. Walau tidak ada perayaan berarti untuk ini, hanya sekadar selebrasi sederhana, itu pun pergantian status diwakilkan melalui kantor percontohan di tempat lainnya, namun beralihnya status kantor ini memberikan harapan masa depan yang baru. Bahwa era pelayanan harus semakin lebih prima lagi, fokus pada tujuan pencapaian visi dan misi bersama, dan totalitas dalam bekerja.

Dengan bergantinya status ini pula, secara tak terduga dan tanpa diprediksi sebelumnya, terbitlah peraturan baru untuk diberikannya tambahan tunjangan kepada para pegawai kantor percontohan yang baru. Suatu kabar yang membahagiakan tentunya untuk semua, walau hal ini cukup merepotkan bagiku, Oktober, karena tugas menjadi otomatis bertambah mendadak untuk mempersiapkan perhitungannya. Ah, tak apalah bersusah payah menghitung untuk kebahagiaan seperti ini, bukan?

Rupanya susah payah perhitungan ini tak cukup pada hal tambahan tunjangan saja, Oktober. Besok akan ada pembinaan dari kantor wilayah atasan. Hal ini masih menjadi momok walau sudah dipersiapkan beberapa hari yang lalu. Ah, sungguh betapa bertubi-tubinya urusan yang urung jua belum terselesaikan, sementara sisa waktu terasa menyempit, hingga konsekuensinya harus ada dicari waktu tambahan hingga dini hari untuk menyelesaikannya semampu mungkin…

2 – 4 Oktober 2012, “Pembinaan untuk Kedua Kalinya dan Kesalahan yang Ditemukan Lagi”

Semua susah payah pemberesan pekerjaan akhirnya akan dinilai juga. Tim penilai pembinaan dari kantor wilayah sudah datang dan seperti biasa mereka meminta dokumen-dokumen yang menjadi keseharianku dalam pengurusannya sehubungan dengan tugas dan fungsiku, Oktober. Semoga saja tak ada permasalahan yang muncul dari kesalahanku dalam bekerja pada penilaian ini.

Hingga kemudian seiring proses penilaian ini berlangsung, bukannya mereka (tim penilai)lah yang menemukan kesalahan pekerjaan, melainkan aku sendirilah yang menemukannya. Kesalahan ini tidak pada objek dokumen yang tengah diperiksa oleh tim, melainkan ini terjadi pada dokumen lainnya yang belum menjadi objek penilaian karena menjadi pemeriksaan pada periode selanjutnya. Ah, sungguh terasa beban itu, Oktober. Betapa sesal dan kecewanya aku kembali menemukan kesalahan atas pekerjaanku sendiri. Menjadi sebuah pertanyaan yang terus mengusikku kemudian, apa memang aku ini tak pernah dapat belajar dari pengalaman kesalahan-kesalahan sebelumnya ya?

Namun, aku tak boleh larut dalam kekecewaan atas kesalahan ini, aku harus melihat ke depan, Oktober. Kesalahan ini harus diperbaiki segera dan beruntungnya pula kesalahan ini masih dapat diperbaiki dengan langkah yang sederhana. Sedangkan untuk hasil penilaian dan pemeriksaan pembinaan sendiri, tidak terlalu materiil ketidaktepatan yang ditemukan. Hanya sekadar format yang harus disesuaikan dengan peraturan pada satu dokumen, tidak bermasalah pada unsur substansinya.

8 Oktober 2012, “Bujukan dan Tuduhan Si Penghutang”

Hingga sekarang aku masih tak bisa memahami, Oktober, bagaimana ada beberapa orang yang memaksakan pengeluaran atas biaya kehidupannya melebihi dari pemasukan yang mereka dapatkan dari penghasilan mereka, hingga kemudian terpaksalah mereka mencari jalan pintas untuk memenuhinya, yaitu dengan berhutang.

Hutang, entah ketika terbersit kata ini di benakku, maka yang kemudian muncul adalah gambaran akan kesulitan, kerumitan, dan runtutan domino permasalahan yang bisa beruntut terjadi. Ya memang tak bisa dipungkiri, berhutang menjadi salah satu solusi yang bisa diambil untuk meregangkan kesulitan malah bagi mereka yang berhutang atau setidaknya menjadikan peralihan penangguhan pembiayaan di kemudian hari. Tidak apa-apa kalau memang harus berhutang jika ini menjadi solusi yang lebih realistis untuk masalah keuangan karena hutang bukanlah hal yang menjadi terlarang sebenarnya. Namun, jika kemudian berhutang sudah menjadi kebiasaan, bagaimana akan hal itu, Oktober?

Dialah Si Penghutang contoh nyatanya. Pada catatanku, sudah ada rentetan hutang pada pihak ketiga yang harus ia lunasi melalui pelunasan denganku. Entah ia seakan lupa atau memang menyengaja mengabaikan daftar hutangnya itu, pada suatu hari ia dengan percaya diri mengajukan permohonan untuk berhutang lagi kepada pihak lainnya melalui persetujuan dan data dariku.

Sungguh terlalu bukan, Oktober? Aku tak habis pikir dengan Si Penghutang ini. Dari manakah lagi potongan penghasilan yang bisa kutarik untuk melunasi hutangnya jika ia terus saja menambah hutang. Hal inilah yang menjadikanku begitu enggan memberikan persetujuan dan data untuk permohonan hutangnya yang baru itu. Namun, lihatlah usahanya, Oktober, betapa gigihnya ia berjuang untuk hutang yang sebenarnya kulihat tak sebegitu penting, tetapi jumlahnya sedemikian besar. Ia membujukku dan aku pun terpaksa memberikan data. Namun, tentu tak bisa semudah itu, aku berikan keterangan akan hutang-hutang yang sudah berjalan dan persyaratan untuknya.

Tak cukup sampai di situ, permasalahan dengan Si Penghutang itu, Oktober. Oleh karena suatu hari pihak ketiga pemberi hutang pernah meminta konfirmasi padaku dan kujawab seadanya berdasar data yang ada, tiba-tiba si Penghutang menghampiriku dan menunjukkan gurat kekecewaan sembari menyampaikan berita tak menyenangkan kepadaku, Oktober. Dia bercerita, yang kemudian aku sadari bahwa ini menjadi suatu tuduhan darinya, bahwa aku memberikan data fiktif kepada pihak ketiga pemberi hutang sehingga mereka tak mau menyalurkan pinjaman kepadanya.

Ya memang kuakui ada kesalahpahaman yang terjadi karena ternyata akan ada pengalihan hutang sehingga data yang kuberikan masih belum lengkap ke pihak ketiga. Namun, sudah terasa sakit di dalam hati ini saat tersirat ada tuduhan bahwa aku menghalanginya untuk berhutang dengan memberikan data yang salah. Padahal bukankah ia baru menjelaskan pengalihan hutang belakangan waktu ini.

Hutang telah menjadikan si Penghutang ini begitu gampang menuduh dan jelas semakin terasa bagiku bahwa hutang itu semakin membuat sulit akan segala hal yang terkait dengannya…

16 Oktober 2012, “Menjadi Pengganti Sebelum Pergi”

Hanya tinggal hitungan hari lagi aku akan rehat dari pekerjaan yang semakin lama semakin mengabur hasrat dan semangat akannya ini. Ah, betapa hari-hari ingin terasa berlalu dengan cepat agar tiba kemudian kesempatan berharga untuk itu. Namun, perjalanan menuju rehat yang demikian ini ternyata tak bisa semulus yang diduga. Mendadak ada kabar bahwa seorang rekan kerja senior harus terlebih dahulu rehat karena kepentingan keluarganya. Lalu, kepada siapakah pekerjaan rekan tersebut beralih sementara waktu ia tidak bekerja? Akulah yang kemudian ditunjuk untuk menggantikannya.

Pekerjaan yang diampu oleh beliau ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Jadilah dengan urusan keuangan yang tiada henti ada saja yang harus diurusi ditambah pula dengan pengalihan pekerjaan ini, terasa semakin rumit pekerjaan yang kulakukan, Oktober. Tohokan semacam ini adalah tantangan dan pembelajaran baru bagiku. Kusadari bahwa masih banyak hal yang kurang dari wawasan dan pengalaman kerjaku, sehingga pengalihan pekerjaan ini memberikan efek positif untuk hal itu.

17 – 19  Oktober 2012, “Sungguh Betapa Berharganya Air Itu”

Air itu begitu berharga jika kau sangat sulit untuk mendapatinya, Oktober. Tohokan permasalahan ini yang baru kali ini kualami tentang masalah perairan. Memang sudah lazim untuk diketahui sebelumnya bahwa perairan di kota kecil ini masih sering tersendat, sehingga tak setiap waktu air lancar mengalir. Namun, bagaimana halnya jika saluran perairan terhambat dan tak bisa mengalirkan air selama berhari-hari? Jika hanya setengah hari, ini sudah biasa. Namun, kabar yang tersiar karena hambatan ini mengakibatkan akan ada pemutusan aliran air selama 5 hari.

Apa yang harus dilakukan kemudian? Lihatlah kemudian, Oktober, kau mendapati berbondong-bondongnya orang mencari air entah dari sungai, laut, atau depot pengisian air. Tak hanya itu, dicari dan disedot pula sumber air dari dalam tanah. Ada juga yang menanti-nanti hujan dan segera menampung airnya jika turun. Ah, sungguh terasa benar air ini seperti kebutuhan pokok yang harus dipenuhi dan susah payah semacam ini berakhir lebih cepat hanya sekitar 3 hari berlangsung. Sesaat sebelum aku meninggalkan kota kecil ini, aku dapati bahwa perairan sudah lancar kembali dan air dapat menghidupi kebutuhan manusia lagi.

20 – 27 Oktober 2012, “Sejenak Berhari Raya dengan Keluarga”

Kerumitan pekerjaan karena ada tambahan pengalihan tugas dan kesulitan masalah perairan yang terjadi menjadikanku semakin mantap untuk pergi dari kota kecil ini untuk sejenak. Semua persiapan untuk pulang sudah dilakukan dan ya keinginan begitu menggebu untuk rehat sejenak dan dapat melepaskan diri dari kesulitan-kesulitan semacam ini.

Maka, pulanglah aku kembali ke kota lahir dengan harapan untuk dapat rehat sejenak dan juga merasakan momen berhari Raya dengan keluarga kembali. Hari-hariku terisi kembali oleh kebersamaan keluarga, tidak lagi didominasi oleh jam kerja ataupun kegalauan sendiri saat berada di rumah pada kota kecil itu. Walau badan terasa sedikit tidak enak karena efek berlanjut dari perjalanan, tetaplah hal ini tertutupi dengan kebahagiaan akan momen rehat seperti ini. Betapa sungguh diri sangat memerlukannya, Oktober…

28 Oktober 2012, “Sambutan Jakarta dan Kopdar Tak Terduga”

Waktu terasa cepat di kota lahir hingga kemudian mengantarkanku untuk harus kembali ke perantauan. Pada perjalanan kembali inilah, kusempatkan singgah di ibukota, tempatku dulu pernah beradu nasib. Kemegahan bangunan dan kesemrawutan kota metropolitan ini langsung tersaji di hadapanku saat pertama kali kusambanginya. Mengejutkannya pada kesempatan kali ini adalah aku mendapati pagelaran unik parade kirab budaya para pelajar dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda. Kemeriahan semacam ini seakan-akan terasa sambutan Jakarta untukku, Oktober.

Tak hanya kejutan itu saja yang Jakarta berikan. Ia juga memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan sosok yang begitu aku ingin tahu untuk bertatap langsung. Selama ini perkenalan dan jalinan pertemanan yang terjadi di dunia maya telah menjadi nyata dengan bertemunya aku dengan orang yang bernama Romel Panarta ini. Tak ada rencana sebelumnya, tak ada niatan untuk bertemu sebelumnya, dan tak ada komunikasi terjalin sebelumnya. Semuanya terjadi begitu saja, kami bertemu begitu saja, tanpa terduga. Sungguh kejutan yang menyenangkan…

30 Oktober 2012, “Peringatan Hari Oeang ke-66”

Enam puluh enam tahun yang silam terbitlah uang kertas pertama resmi dari Pemerintah Republik Indonesia sebagai alat pembayaran yang sah bernama Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Momentum ini menjadi tonggak penting dan bersejarah pada keuangan negara, sehingga kemudian diperingati tiap tahunnya sebagai Hari Oeang dan selebrasi dirgahayu oleh Kementerian Keuangan.

Dalam rangka memperingati Hari Oeang inilah, setiap kantor Kementerian Keuangan diminta untuk mengadakan kegiatan selebrasi dalam berbagai bentuk perayaan. Kantor memilih untuk mengadakan upacara peringatan sebagaimana tatanan baku dan seusainya upacara diadakan makan-makan bersama berupa nasi tumpeng kuning untuk merayakannya. Tugasku pada kegiatan selebrasi ini cukup sederhana dan dapat kunikmati pekerjaannya, mengambil jepretan foto-foto kegiatan untuk dikenang…

31 Oktober 2012, “Memandu Berjalannya Suatu Acara”

Setelah bertugas menjadi fotografer pada kegiatan selebrasi Hari Oeang, kantor menugaskanku untuk menjadi pemandu acara sekaligus moderator untuk kegiatan sosialisasi kepada mitra kerja kantor. Baru pertama kalinya aku diberikan tugas semacam ini dan jujur masih terasa kegugupan dalam menjalaninya. Walau sempat salah-salah dan beberapa kekurangan terjadi, secara garis besar acara sosialisasi ini berjalan lancar. Pengalaman pertama senantiasa menjadi pengalaman berharga untuk dijadikan pembelajaran untuk pengalaman hal serupa selanjutnya. Semoga saja di kesempatan selanjutnya aku dapat menjalankan tugas ini lebih baik dan lancar lagi…

***

Ternyata melalui reka ulang memori akan setiap tohokan yang kauberikan saat kaubersamaku, memang benar terasa sekali bahwa tohokan itu bukanlah hal yang acapkali mesti memberi perih dan menyakitkan, Oktober. Kau beri aku pemahaman baru akan tohokan peristiwa yang terjadi pada momen kehidupan ini. Sakit memang rasanya ditohok secara tiba-tiba atau tak terduga sebelumnya, namun sakit itu perlu segera untuk diobati kemudian agar menjadikan semangat baru lahir dari bekas tohokan itu.

Begitulah, Oktober… Tohokan yang kauberi ini justru sangat berharga bagiku. Aku tak akan menjadikannya suatu alasan untuk membencimu, malah semakin menjadikanku semakin menghormatimu karena seakan kau kini menjadi guru bagiku… Terima kasih, Oktober…

Painan, 20 November 2012, 23.25

sekaliber september

Oktober sebentar lagi akan berlalu, namun kisah akanmu belum jua aku selesaikan. September, alasan apalagikah yang pantas aku utarakan untuk meminta maafmu yang sebenarnya bermuara pada satu persoalan belaka yang berlarut-larut, yakni kemalasanku untuk menuliskan kisah akanmu.

Ini bukan berarti setiap momen yang ada bersamamu telah kuabaikan begitu saja, September. Sungguh tak ada secuil pun niatan seperti itu muncul di benakku. Kau adalah spesial sebagaimana spesialnya tiap-tiap bulan yang sudah berlalu seperti  Januari dengan Hari-harinya, Februari dengan Memorinya, Maret dengan Retasannya, April dengan Kerikilnya, Mei dengan Kemilikannya, Juni dengan Kejutannya, Juli dengan Lilitannya, dan Agustus dengan Kekusutannya.  Sekaliber dirimu tak patut sekali aku abaikan untuk tak kuceritakan.

sekaliber septemberMomen-momen bersamamu terjadi dan nyatanya ia sekaliber dirimu, September. Ia tangguh, tahan banting, dan begitu sarat akan ujian yang membuktikan seberapa kuat dirinya. Simaklah kembali cerita bersama kita yang telah lewat dan jadilah nanti saat kubertemu kembali denganmu, kau akan tumbuh bahkan melampaui kemampuanmu yang sekaliber ini di saat ini…

1-2 September 2012, “Berlatih Pelayanan Prima”

Persiapan kantor percontohan ternyata masih belum usai jua. Bahkan pun masih banyak tahapan yang harus diselesaikan dalam tempo waktu yang singkat sebelum dideklarasikan secara tegas untuk status yang satu ini. Kali ini, tuntutan yang harus dipenuhi adalah adanya pelatihan pelayanan prima. Ya seperti itulah, September, kantor percontohan mengharuskan sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya mempunyai pemahaman akan pelayanan prima dan mampu mengimplementasikannya dalam bekerja melayani tugas perbendaharaan.

Bertempatkan di Aula KPPN Padang, bersama seluruh pegawai KPPN Painan dan KPPN Padang, dengan disampaikan materi oleh pembicara dari Kanwil BRI Sumatera Barat, acara pelatihan ini berlangsung. Diri menempuh pembelajaran mengenai pelayanan prima yang sudah lazim diterapkan pada pelayanan perbankan yang terkenal sudah teruji dan bagaimana untuk menyesuaikannya ke dalam kultur budaya kerja kantor sendiri.

Hal-hal sederhana dalam pelayanan seperti etika bertemu dan berkomunikasi begitu ditekankan dalam pelatihan ini. Ternyata hal sederhana semacam inilah kemudian baru dipahami dan disadari apabila dilakukan dengan benar dan seoptimal mungkin akan memberikan efek samping pelayanan yang begitu prima sebagaimana yang diharapkan.

Ya, semangat pelayanan memang harus ada untuk hajat kantor percontohan ini. Tuntutan publik pada era sekarang ini tak hanya sekadar puas telah diberikan produk layanan atas hasil kerja, namun harus diberikan lebih dari itu untuk kinerja dan performa yang terbaik.

6 September 2012, “Interogasi Karena Suatu Surat”

Tiba-tiba saja, September, ada beberapa orang yang mendatangi kantor di tanggal enam. Engkau tentu masih ingat akan kejadian itu, bukan? Banyak orang yang bertanya-tanya akan maksud kedatangan tim ini, sampai-sampai menimbulkan berbagai macam praduga. Bahkan pun kemudian mereka meminta disediakan ruang khusus untuk wawancara dan setiap pegawai dipanggil satu demi satu berbincang dengan tim itu.

Ada apakah gerangan? Adakah sesuatu yang salah telah terjadi di kantor ini? Tak pernah kejadian semacam ini terjadi sebelumnya. Lazimnya pula jika ada tim semacam ini datang, mereka sudah memberitahukan sebelumnya maksud kedatangannya dan mengadakan tatap muka dengan seluruh pegawai menjelaskan agenda mereka. Namun kali ini hal itu tidak dilakukan.

Hingga kemudian tibalah giliranku setelah serentetan pegawai dipanggil dan diwawancara oleh mereka. Aku masuk ke dalam ruang khusus itu dan mereka pun akhirnya menyampaikan duduk persoalan alasan mengapa mereka ke kantor ini.

September, sungguh tak kusangka dan kaget mengetahui alasan mengapa mereka datang dan apa yang tengah mereka lakukan ternyata. Mereka mengungkapkan bahwa ada suatu surat dari salah seorang pegawai kantor ini yang ditujukan kepada Menteri Keuangan dan isinya mengenai laporan bahwa telah terjadinya konfrontasi antara dirinya dengan pimpinan kantor ini yang sudah berlalu dulu. Pada surat itu, pegawai itu terkesan begitu menyudutkan dan menyalahkan pimpinan atas terjadinya konfrontasi yang memalukan dulu itu.

Ah, sungguh terlalu. Padahal kukira permasalahan itu cukuplah dianggap sudah berlalu. Ternyata walau api konflik tidak tampak lagi di permukaan, bara-bara itu masih begitu menyala di dalamnya dan kini tampak kembali ke permukaan.

Dan kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Memang kalau ditelisik kembali masalah itu semua pihak ada salahnya. Namun kau tahu, September, siapa yang nyatanya kemudian menjadikan masalah ini semakin berlarut dan dikobar-kobarkan. Perilakunya yang semacam ini terasa benar kelewat batas dan terlihat begitu frontal menantang konflik lagi.

Ah, kau pun sendirinya sudah tahu. Orang yang sudah kita juluki sebagai Sang Penghasut ini memang terlalu banyak ulahnya meresahkan. Semoga kita terlindungi dari bahaya hasutannya itu.

8-9 September 2012, “Muaro Untuk yang Kesekian Kalinya”

Muaro adalah tempat favoritku memang, September. Berapa kali sudah kukunjunginya dan ia tetaplah memberikan kesan yang sama bagiku. Panjangnya bibir pantai, ombak yang tidak terlalu besar, bebatuan pemecah ombak, dan aktivitas nelayan di tempat itu adalah hal yang berkesan akannya. Ternyata dalam kesekian kalinya aku mengunjunginya baru kusadari selama ini Muaro menjadi tempatku berkelana dan menikmati sendiri. Cukup dengan diriku saja, tanpa ditemani siapa pun, terasa sangat kesan-kesan yang ada padanya.

Hingga kemudian, ajakan spesial travelmate membuatku mengunjunginya lagi. Kali ini tentu ada hal yang berbeda. Dengan ditemani spesial travelmate, maka aku tak sendiri di sana. Kesan dan pesona Muaro pun kami nikmati bersama, tak berkurang jika dibandingkan dengan kesan yang didapati saat sendiri, bahkan pun lebih dari itu. Ya, spesial travelmate-ku ini memang mampu membuat suatu perjalanan bernilai lebih. Terima kasih, Bapak J

10 September 2012, “Hasil yang Menggemparkan”

Memang tiada habisnya bahan cerita untuk mengutarakan hal-hal yang terjadi serangkaian dengan persiapan kantor percontohan. Engkau masih ingat akan betapa gemparnya hampir seluruh pegawai mengetahui hasil akan tes assessment kantor percontohan, bukan, September?

Ya, bagaimana tidak menggemparkan. Tes yang sudah berlalu di bulan Mei itu akhirnya terpampang jua bagaimana hasilnya. Tes yang menjadi momok sebagai kepatutan pegawai dalam menyandang status pegawai kantor percontohan tentu begitu penasaran ingin diketahui hasilnya oleh pegawai yang mengikutinya. Apalagi hasil tes ini baru keluar setelah berbulan-bulan lamanya semenjak tes ini telah berlangsung. Kau tentu ingat pula cerita dengan Maret dan April akan betapa tes ini dipersiapkan sebegitunya dengan proses pembelajaran yang intensif.

Gemparlah kemudian saat hasil itu dibaca oleh setiap pegawai. Ekspresi bahagia tampak mendominasi di antara mereka karena sebagian besar telah dinyatakan lulus. Walau ya ada kekecewaan yang jelas tersirat dengan masih adanya tiga orang yang mengalami ketidaklulusan.

Sebagaimana yang telah kuceritakan, aku tak perlu mengikuti tes yang dilakukan bulan Mei ini karena sudah dinyatakan lulus pada tes semacam ini sebelumnya. Jadi, ya pada kegemparan pengumuman ini tidak terlalu berimbas banyak padaku, September. Ketidaklulusan beberapa pegawai untuk tes ini juga ternyata akan dites ulang sebagai kesempatan untuk dapat dinyatakan lulus dan berhak sebagai pegawai kantor percontohan.

14 September2012, “Kekaguman yang Lain”

Berbicara tentang setiap momen bersama spesial travelmate juga sepertinya tidak akan habisnya untuk dibahas kembali. September, kau bisa mengingat kembali bagaimana momen berkesan kali ini terjadi. Ya, momen ini cukup unik karena ia bukanlah perjalanan yang kerap kami lakukan bersama. Momen ini terjadi berupa hadirnya dirinya bersama aku pada suatu undangan acara dari penjual warung favorit tempat nongkrong kami.

Tak kusangka, ternyata ia begitu sangat mementingkan untuk menghadirkan undangan yang ditujukan kepada kami dalam rangka peringatan hari kematian pihak keluarga dari penjual warung favorit kami. Beliau memberikan nasehat berharga kepadaku agar selalu mementingkan dipenuhinya suatu undangan karena itu merupakan salah satu hak Muslim yang harus dipenuhi. Kau tahu sendiri juga pastinya, September, ajaran agama memang mengajarkan demikian dan nasehat itu begitu praktisnya beliau terapkan di hadapanku.

Memang saat itu, kami datang terlambat karena salah informasi waktu. Namun, sambutan tuan rumah begitu hangat dan obrolan mengalir seperti biasanya kami nongkrong di warung mereka. Momen yang berkesan kemudian adalah saat spesial travelmate ini berinisiatif memimpin memberikan doa untuk almarhum walau acara sudah berakhir. Kata beliau, tujuan utama memenuhi undangan ini, yakni mendoakan almarhum yang diperingati kematiannya jangan sampai terlupa.

Ah, sungguh, September. Tak habis pikir bagaimana bisa ada orang seunik spesial travelmate yang satu ini. Beliau begitu mudah mengakrabkan diri dengan masyarakat sekitar dan kemudian memberikan pelajaran-pelajaran berharga dalam berinteraksi sosial. Betapa kekaguman ini sepertinya terus bertambah kepada dirinya dan ya tentu aku berharap sangat bisa mencontoh perilaku teladannya itu, September…

16 September 2012, “Perlunya Menenangkan Diri”

Kehidupan semakin terasa penat saat-saat tiap pertikaian terasa begitu menajam di tempat aku bekerja, September. Menenangkan diri atas gejolak-gejolak itu menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau tidak, bisa jadi aku ikut larut terjebak dalam himpitan kepenatan persoalan-persoalan yang ada, September.

Maka dari itu, pergi kembali bersama spesial travelmate menikmati Muaro di pagi hari, pergi menelusuri sungai dekat daerah Timbulun yang sedang dibangun kanal-kanal penahan banjirnya di sore hari, dan duduk sendiri menerawang pesona bintang-bintang gemerlapan di malam hari menjadi suatu langkah penetralisasi menenangkan diri atas gejolak yang tengah begitu tak ingin kualami terjadi ini.

Aku pun bisa kembali tenang dan mampu untuk bersiap diri menghadapi apa pun yang kemudian bisa terjadi di tengah gelayut konflik berkepanjangan ini. Semoga saja masih ada kekuatan hingga nantinya konflik ini kemudian bisa berakhir dengan baik.

18 September 2012, “Terkejar oleh Pekerjaan”

Aku kembali terkejar oleh sedemikian menumpuknya pekerjaaan yang harus diselesaikan dalam waktu segera, September. Ya aku akui memang sebelumnya tak kuperkirakan hal ini akan terjadi. Namun bagaimana lagi memang kondisi kemudian berubah dan hanya sedikit waktu untuk mempersiapkan. Kondisi berubah karena pimpinan kantor hendak menjalankan ibadah haji, sehingga kemudian setiap berkas yang harus beliau setujui sudah harus siap sebelum beliau berangkat.

Dan ternyata, September, dua hari sebelum keberangkatan beliau itulah aku dapati ada beban berkas yang sedemikian banyak untuk aku buat dan ajukan persetujuannya kepada beliau. Mau tak mau harus aku kerjakan karena persetujuan berkas itu tak dapat ditunda, apalagi berhubungan dengan keuangan yang mana juga menjadi hajat kepentingan banyak pihak terkait.

Maka, kemudian kau saksikan sendiri, September. Betapa baru kali inilah aku berdiam diri terlalu lama di kantor untuk mempersiapkan semua berkas itu hingga larut malam. Urusan ini pun juga tak bisa sembarang dibantu oleh pegawai yang lain, ada banyak dokumen yang memang sangat bergantung pada kedudukanku untuk penyusunannya. Jadilah, kesendirian dalam mengerjakan pekerjaan menumpuk ini terasa membebani pada awalnya. Namun, September, kau tahu kemudian aku menjalaninya dengan tenang dan santai, hingga akhirnya semua tuntutan pekerjaan itu alhamdulillah bisa selesai dengan sendirinya.

30 September 2012, “Sebelum Diperiksa Kembali”

Pekerjaan yang telah kulakukan pada tempo waktu tertentu akan menjalani proses pemeriksaan atas ketepatan dan kesesuaian dengan prosedur yang berlaku. Proses pemeriksaan inilah yang lebih lazim disebut dengan pembinaan oleh unit instansi atasan langsung. Pembinaan menjadi suatu momok yang dipersepsikan membebani karena segala dokumen dan berkas yang hendak diperiksa tentunya sudah dipastikan tidak ada masalah agar kemudian dilaporkan hasil yang memuaskan.

Kau tahu sendiri, September, bagaimana pola aku bekerja selama ini. Tampak masih sebegitunya serampangan dan belum teratur menemukan pola yang tepat. Sehingga, tentu berdampak pada belum beresnya dipersiapkan dokumen-dokumen itu untuk siap diperiksa. Ah, harusnya aku bersiap dari jauh-jauh hari dan mengubah pola bekerjaku ini agar tak perlu terlampau ribet mempersiapkan pemeriksaan ini dalam waktu yang terbilang singkat ini.

Semoga saja tidak ada masalah yang tak bisa ditangani kalau nantinya selama proses pembinaan ini berlangsung dan tentunya segalanya sudah siap untuk diperiksa oleh tim sebelum mereka melakukan proses ini.

***

Sekaliber itulah dirimu, September. Cerita bersamamu telah menyiratkan begitu banyak pergolakan entah itu suka atau duka terjadi. Sekaliber inilah yang harus dijalani dalam warna warni kehidupan yang semakin menegaskan semburatnya untuk dipahami dan dipelajari. Pada kisah ini, tersirat pesan bahwa hidup menuntut diri untuk lebih bertahan lagi menjadi sekaliber September atau lebih dari itu…

Painan, 30 Oktober 2012, 00.52

kusutnya agustus

Oh Agustus, kenapa kau begitu kusut? Apakah dunia telah berhasil membuatmu pening untuk berurusan dengannya? Saat bersamamu telah kulihat kian beragam hal yang telah terjadi pada dunia kita. Macam-macam rasa telah kita geluti bersama. Tentunya hal demikianlah yang menjadikanmu kusut sedemikian rupa kini. Aku maklumi itu.

Karena bila kau diperbandingkan dengan lainnya, seperti Hari-hari di Januari, Memori Februari, Meretas Maret, Kerikil April, My May, Kejutan Juni, Lilitan Juli, dirimu semakin lebih berwarna dari mereka. Waktu ternyata telah menjadikan dalam tiap beralihnya bulan,maka pengalaman hidup kan bertambah kaya dengan sendirinya…

kusutnya agustus4 Agustus 2012, “Monza, Teman Kelana Yang Baru”

Monza adalah suatu nama yang cantik, bukan, Agustus? Namun, nama yang cantik itu terkemas dalam fisik yang tangguh rupanya. Ketangguhannya akan diuji bersamaku karena ia akan menjadi teman kelana baruku. Ya, teman kelana baru, untuk lebih menikmati saat-saat yang ada di kota kecil rantau ini. Berkelana untuk menyusuri seluk-beluk tempat yang belum dikunjungi. Kupilih dia karena dia ramah pada lingkungan. Dia mampu meyakinkanku bahwa berkelana bersamanya akan memberikan nilai tambah tersendiri.

Tentu, sepeda baru yang memang nama jenis produknya Monza ini akan menjadi teman kelana yang sangat bermanfaat.

8 Agustus 2012, “Thanks Mulpid For Closing Blogging Section in MP!”

Apa salah ya, Agustus, kalau orang berbagi tulisan tentang cerita kehidupannya sendiri? Apa salah ya, Agustus, kalau orang menjalin suatu pertemanan di dunia maya melalui komentar-komentar percakapan? Apa salah ya, Agustus, kalau orang telah menjadi sedemikiannya nyaman untuk berinteraksi sehingga apa yang ada di dunia maya seakan begitu terasa pada dunia nyata?

Entahlah. Memang katanya kepentingan duniawi bisa membuat orang sudah tak pedulikan hal-hal semacam itu lagi. Baginya yang terpenting adalah bagaimana tujuan utamanya tercapai, jangan sampai hal-hal yang bukan fokus menjadi hal utama. Buang apa yang sudah tak diperlukan lagi, walau apa yang dibuang itu sebenarnya adalah hal yang sangat membuatnya berjaya di masa lampau.

Thanks Mulpid. Setidaknya memang apa yang hingga kini telah terasa bersamanya adalah suatu kenangan yang sangat berharga. Walau tetap saja tentunya, keputusan untuk tidak lagi tersedianya tempat untuk berbagi adalah suatu hal yang sangat disayangkan…

Satu Desember nanti, entah apa yang akan kita rasa di saat itu… Tanggal di mana semua interaksi yang telah begitu membekas dan berkesan akan terhapus sendirinya secara sepihak… L

14 Agustus 2012, “Tarawih yang Syahdu Bersamanya”

Di suatu malam pada bulan yang berkah ini akan menjadi hal yang akan kuingat terus nantinya, Agustus. Sebenarnya tidak ada yang spesial pada mulanya pada hari itu. Semuanya berjalan sebagaimana biasanya. Namun, kala beranjak malam, kau dapati bahwa kesibukan masih menggangguku hingga tak sempat bersiap untuk beralih fokus pada ibadah. Malam itu malam yang berbeda. Kau lihat aku baru pertama kalinya untuk terpaksa memilih ibadah di tempat bekerja.

Kecewa tentunya pada mulanya. Ah, kenapa urusan dunia lagi-lagi menggangguku hingga menjadi begini? Ya sudahlah kemudian, aku terima dan jalani saja nasib semacam ini. Malam itu hanya ada aku dan seorang sosok yang sudah dekat denganku. Kau tentu sudah mengenalnya, Agustus, sosok yang selalu kuceritakan sebagai sosok bukan travelmate biasa J…

Dia, ternyata memang sosok yang begitu membuatku semakin terperangah dan takjub kian hari. Dia sungguh pribadi yang istimewa, berbeda dengan tipikal orang pada seusianya. Di malam itu, Agustus, aku dapati dia menjadi imam bagiku untuk beribadah dan dia memberikanku nasehat-nasehat untuk kehidupan yang begitu mudah kucerna.

Sungguh, betapa bersyukur diri ini telah dipertemukan sosok yang spesial seperti dirinya…

16-17 Agustus 2012, “Menempuh Perjalanan Mudik”

Setiap orang wajar untuk mempunyai hasrat untuk kembali ke tempat di mana dulu ia dibesarkan dan tempat di mana orang-orang yang ia sayangi berada. Begitu pula denganku. Momen semacam menjelang hari raya yang mana orang berbondong-bondong untuk kembali ke kampung halamannya tentu menjadi hal yang dinanti-nanti. Aku, jelas juga begitu. Apalagi bagi seorang perantau yang terpisah jarak ribuan kilometer dari kampungnya.

Maka, ditempuhlah perjalanan untuk mudik kembali. Biaya, tenaga, dan waktu mungkin akan habis terkuras dengan sendirinya untuk hajat yang satu ini. Akan tetapi, kau tahu dan paham akan konsekuensi semacam ini adalah hal yang harus terasa karena ada hal berharga yang kau kejar untuk itu.

19 Agustus 2012, “Idul Fitri di Kota Lahir”

Apa yang berbeda pada hari raya di tahun ini? Bukankah selalu kita dapati hal-hal yang berjalan seperti tahun-tahun yang sebelumnya? Sholat Ied, sajian khas hari raya, ziarah dan mendoakan keluarga yang telah meninggal, silaturahim dengan keluarga dan tetangga, dan lainnya, bukan, Agustus?

Namun, kala dalam satu keluarga itu ada yang tidak lengkap, tentu terasa kehilangan. Di tahun ini, hari raya terasa sepi, Agustus, karena saudaraku tak berlebaran bersama. Dirinya berada di kota lain bersama dengan keluarga suaminya. Ah, suatu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa seorang wanita akan menjadi milik seorang pria dan keluarganya jika ia telah menikah. Kita dapat memahami itu dan menjadikan itu hal yang tidak apa-apa walau hingga kemudian aku harus beranjak kembali ke rantau, aku belum dapat menemuinya…

22 Agustus 2012, “Menyusuri Kenangan di Kota Lahir”

Sejenak saja di kota lahir menjadikan kita selalu penasaran seperti apakah kota ini berkembang selang waktu aku tak menyambangi dalam tempo yang lama. Agustus, kiranya Salatiga adalah suatu kota yang masih sama pada dasarnya, tetapi tetap saja kita melihat adanya perubahan di sana.

Kau dapati betapa megahnya Masjid Agung Darul Amal yang kini telah benar-benar jadi. Masjid yang dulunya hanya masjid kampus yang relatif sederhana kini telah berubah menjadi masjid ikon kota dengan kekhasan arsitekturnya dan kemegahannya yang belum tertandingi oleh masjid lainnya di kota ini. Di depan masjid ini, masih terbentang Lapangan Pancasila alun-alun kota yang menjadi tempat nyaman untuk rehat sejenak dan bercengkrama. Pepohonan yang rimbun dan berbagai macam kuliner makanan tersedia di sana.

Lalu, kau masih ingat kan, Agustus, akan keisengan kita mengunjungi kembali bangunan SMP tempat aku pernah bersekolah, SMP N 1 Salatiga. Ya, bangunan yang kini telah berwarna serba hijau itu tidak tampak terlalu kusam dengan gaya bangunan peninggalan jaman Belanda. Beberapa bangunan dan kelas baru tampak di kompleks sekolah itu yang dulu di masaku belum didirikan. Ah, sayang tak bisa kita masuki area kompleks itu karena pintu gerbang tertutup, jadi hanya penampilan luar saja yang bisa kita lihat. Semoga saja ada kesempatan untuk dapat berkunjung di dalamnya dan mengais-ais memori yang dulu pernah tertinggal di dalamnya.

Jalanan kota ini tak terlalu berubah pula. Masih senyaman yang dulu aku dapati. Cocok untuk seorang pejalan kaki yang tengah berhasrat menyusuri kenangannya di kota lahirnya.

22 Agustus 2012, “Thanks For Your Coffee, Dudes”

Mungkin hari semacam ini patut untuk disandangkan sebagai hari untuk mengenang memang. Tak hanya untuk menyusuri kenangan dengan sekadar jalan-jalan menyusuri kota, pada hari semacam ini ada kesempatan tak terduga untuk mengalirkan secara deras memori-memori yang tersimpan rapat.

Hari itu tak disangka sebelumnya ada ajakan untuk berkumpul bersama. Ya, berkumpul bersama teman-teman sekolahku dulu, Agustus. Ajakan yang begitu tiba-tiba dan spontan terjadi. Hari itu menjadi satu hari persis sebelum aku harus kembali ke perantauan dan mereka sudah tahu akan hal itu, oleh karenanya diusahakannya acara berkumpul bersama.

Ah, sungguh padahal tak terencana sekilas di benakku untuk mengagendakan berkumpul bersama teman semasa aku sekolah dulu, Agustus. Pada hari yang teralokasikan sejenak untuk hari raya ini, sebenarnya aku inginkan cukup untuk keluarga saja. Akan tetapi, mereka masih ingat akan diriku, Agustus. Sungguh kemudian, kesempatan semacam ini tak boleh kulewatkan. Aku jelasnya merasa tersanjung untuk masih dapat dikenang oleh mereka dan diajak berkumpul kembali.

Sajian kopi di malam itu oleh mereka kemudian menghantarkan obrolan-obrolan tentang kehidupan di masa lalu, masa di mana kami pernah bersama. Ah, begitu banyak cerita yang terlontar, bahkan pun ada kisah yang baru kuketahui di saat ini tentang mereka. Pembicaraan lebih pun didominasi oleh nuansa keceriaan dan gelak tawa akan kisah-kisah lampau yang diutarakan masing-masing. Pada tiap pribadi yang kini telah berubah entah secara fisik dan perilakunya, termasuk juga aku, kita dapati bahwa masing-masing masih menyimpan karakter kepribadiannya yang masih kuat sebagaimana yang dulu kukenal.

Meminum kopi sembari bermain kartu serta mengobrol kisah-kisah dulu di warung kopi hingga tengah malam tak terasa adalah hal yang baru kali ini aku lakukan bersama mereka. Canggung memang pada awalnya karena ini bukan hal yang lazim kulakukan, tetapi canggung itu tertutupi kemudian oleh aliran deras memori yang sangat menyenangkan bagiku untuk kurasakan kembali.

23 Agustus 2012, “Kembali ke Perantauan”

Hanya sementara saja, terhitung hanya beberapa hari saja, keberadaan diri di kota lahir untuk menikmati momen hari raya bersama orang yang disayangi, Agustus. Terasa pahit memang jika terus dipikirkan karena banyak orang lainnya yang mendapatkan kesempatan lebih lama untuk itu. Namun, kau ingatkan aku akan tanggung jawabku di rantau. Ya, aku harus kembali. Peranku cukup penting di sana sebagai penjaga harta. Keengganan yang sempat hinggap di benak diri ini harus segera ditepis. Anggaplah saja ini semacam pengorbanan dan tuntutan untuk lebih mengikhlaskan diri…

***

Begitulah, Agustus. Dengan aku utarakan cerita saat kita bersama ini, sudah terasa dan hadir kembali tiap-tiap dari kekusutan pada cerita itu. Kekusutan ini tak boleh kita biarkan seperti itu berketerusan. Kekusutan itu hendaknya kita uraikan kembali dan buat jalinan yang rapi. Jalinan yang rapi akan memudahkan kita mengambil pengalaman berharga dari setiap momen yang telah kita lalui bersama, Agustus.

Dan cerita ini adalah suatu bentuk untuk merapikan kekusutan bersamamu…

Painan, 14 September, 00.19

lilitan juli

Tulislah semua yang sudah kita alami, Juli. Maka kau akan mengingat kembali bagaimana sungguh terasa bertubi-tubi lilitan demi lilitan yang ada dalam perjalanan kita bersama. Kita paham bahwa lilitan itu bisa menjadikan kian sulit menempuh perjalanan bernama kehidupan ini. Akan tetapi, bersamamu, Juli, kau jadikan aku lebih tangguh daripada apa yang kukira, hingga akhirnya perjalanan ini beralih pada tahapan yang selanjutnya.

Juli, walau perjalanan denganmu dihiasi lilitan, tetapi kau sebagaimana Februari dengan memorinya (Memori Februari), Maret dengan retasannya (Meretas Maret), April dengan kerikilnya (Kerikil April), Meiku tersayang (My May), dan Juni yang penuh kejutan (Kejutan Juni), kesemuanya itu merupakan satu bagian perpaduan dari harmonisasi kehidupan yang terus akan berjalan hingga menuju akhirnya kelak.

lilitan juliJuli, inilah kisah kita bersama…

1 Juli 2012, “Lilitan Perpisahan: Selamat Tinggal, Medan”

Tugas telah berakhir dan kesempatan untuk berkunjung di kota yang satu ini akhirnya sudah habis jua, Juli. Di kota ini, kita dapati pengalaman baru menyambangi daerah yang belum pernah kita jejaki sebelumnya. Kita berlagak seakan-akan seorang wisatawan yang begitu antusias menelusuri keunikan dan pesona-pesona dari kota yang satu ini. Medan memang patut dibilang sebagai kota yang besar di Pulau Sumatera ini. Tak hanya tentang menunaikan tugas semata, Medan telah memberikan kesan perjalanan dengan tempat-tempat baru dan jua ikatan silaturahim dengan beberapa kawan yang dulu begitu akrab di masa yang lampau.

Terima kasih, Medan. Semoga ada kesempatan lagi untuk menyambangimu. Selamat tinggal.

3-5 Juli 2012, “Lilitan Pekerjaan: Laporan Keuangan Kantor Semester I”

Setengah tahun sudah berlangsung tugas sebagai penjaga harta. Pada satu periode waktu inilah kemudian, Juli, kau tahu ada kewajiban yang harus dilaksanakan. Penyusunan Laporan Keuangan Kantor Semester I. Suatu tugas yang kita perkirakan menjadi hal yang berat mengingat waktu dan sumber daya yang begitu terbatas untuk mengerjakannya. Kita begitu terpacu oleh tuntutan, apalagi dari berbagai kehendak untuk dapat menyelesaikannya lebih cepat dari tenggat waktu yang telah ditentukan.

Ah, sungguh, Juli, aku tak dapat mengira kekuatan macam apa yang kemudian dapat mendorongku sehingga kemudian tak kusadari laporan itu tiba-tiba selesai begitu saja. Padahal kau tahu, dengan keadaanku yang baru saja selesai dari tugas di luar kota, tentu hanya mempunyai waktu teramat sedikit untuk dapat selesaikan semua itu. Tak disangka memang, walau kemudian laporan itu harus diperbaiki beberapa kali, tetapi merupakan pencapaian yang memuaskan dapat selesai lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Tentunya tak bisa diabaikan besar pengaruh dari kinerja anggota tim penyusun lainnya, tak hanya aku sendiri, dalam pembuatan laporan ini. Kerja sama menjadi satu hal yang penting agar suatu tugas dapat diselesaikan. Itu menjadi pembelajaran sekali bagiku, Juli…

14-15 Juli 2012, “Lilitan Perjalanan: Ke Lubuk Sikaping”

Dari satu tugas beralihlah pula ke tugas lainnya. Satu tugas selesai, menunggu sudah tugas selanjutnya. Begitulah demikian yang kita alami, Juli. Terasa sekali melilit semua tugas-tugas itu. Akan tetapi, di tengah serba lilitan itu, kita sadari ada begitu banyak pembelajaran atau hal baru yang kita dapatkan, bukan, Juli?

Kau tentu ingat akan perjalanan dalam suatu tugas menuju suatu kota bernama Lubuk Sikaping. Kota yang cukup jauh itu. Kau dapati bahwa dunia ini nyatanya begitu masih luas terhampar dan ada banyak daerah yang belum kita sambangi. Lubuk Sikaping, di sanalah kita kemudian menunaikan tugas selanjutnya, tak hanya sekadar bersenang-senang atau berwisata saja.

Studi antarkantor, inilah tugas yang kita emban di kota ini. Mempelajari bagaimana kantor di kota ini sudah menerapkan standar-standar dari kantor percontohan yang merupakan hajat besar instansi tempat kubekerja di tahun ini. Tak hanya itu tentunya, kita dapati bersama bertambahnya kenalan dari rekan sejawat dan pertukaran pengalaman yang bermanfaat. Tentang kotanya sendiri, tak begitu jauh berbeda dari Painan, kota kecil yang masih belum tersentuh oleh keramaian manusia dan alamnya tampak masih begitu asri…

21 Juli 2012, “Lilitan Perantauan: Ramadhan in Painan Chapter 2”

Inilah kali kedua, bukan lagi untuk pertama kalinya dalam merasakan nuansa Ramadhan di ranah rantau Minang ini. Kita dapati diri kita begitu lebih mempersiapkan diri karena sudah ada pengalaman pertama setahun lalu dalam menjalaninya. Kau dapat lihat, Juli, bahwa ada perbedaan dalam edisi kedua kali ini. Kau dapati diriku lebih berusaha mandiri, tak mau terlalu bergantung dengan orang lain. Walau memang dengan keputusan semacam itu, acapkali terasa berat bebanmu untuk menjalaninya. Sungguh Ramadhan di rantau edisi kedua ini merupakan suatu tantangan dan semoga saja kita dapat menjalaninya sebaik yang kita bisa, Juli…

24 Juli 2012, “Lilitan Cuaca: Malam yang Mencekam”

Juli, kau tentu ingat ada suatu malam mencekam yang kita alami bersama. Malam itu, hujan badai turun begitu menderu serbu di kota yang kita tinggali. Kita tak bisa berkutik, hanya diam di tempat perlindungan kita. Tak ada cahaya menerangi kala itu karena listrik dipadamkan. Cuaca sungguh menampakkan perubahan drastis dari yang semula dikira tak akan terjadi apa-apa.

Maka, kita dapati di keesokan pagi harinya, berita di media massa mulai menceritakan bahwa lilitan cuaca ini menimbulkan petaka di kota Padang dan sekitarnya. Banjir bandang telah terjadi akibat hujan badai semalam dan tentu ini menjadi ujian yang sangat berat bagi para penduduk di sana dalam menjalankan bulan nan suci ini.

Di kota yang kita tinggali, untung saja tak terjadi kerusakan atau petaka semacam itu. Akan tetapi, tetap saja, bukankah kita harusnya perih pula merasakan penderitaan para korban dan mampu memberikan pertolongan, pun sekecil-kecilnya doa, untuk mereka, bukan, Juli?

31 Juli 2012, “Lilitan Perseteruan: Kala Sang Penghasut Berulah Lagi”

Alur kisah parodi dunia kerja ternyata tak sudah cukup pada beberapa bagian yang sudah kita ketahui bersama, Juli. Ternyata, pada satu tokoh yang bernama Sang Penghasut itu, rasa-rasanya tak cukup baginya hanya sekadar tampil pada satu atau dua bagian babak belaka. Kali ini ia lebih menggelegarkan hasutannya, lebih menjadi-menjadi perangainya, dan lebih menunjukkan kehasutannya itu.

Hanyalah bermula pada suatu kekecewaan akan kebijakan tertentu dari pimpinan tempat kubekerja menjadi suatu bahan pancingan yang begitu menggoda bagi Sang Penghasut, Juli. Ia sangat memanfaatkan peluang itu dan menjadikan kondisi yang ada semakin keruh. Permusuhan semakin terlihat nyata. Emosi bergejolak bermain tiap antar satu lakon sama lain.

Juli, padahal kita sadar bulan nan penuh berkah ini tak seharusnya dihiasi semacam lilitan perseteruan ini. Sungguh terlalu. Dalam benak kita, selalu saja mempertanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi. Bagaimana manusia terlalu mengedepankan egonya. Bagaimana manusia terlalu menonjolkan emosinya. Bagaimana manusia terlalu merasa benar atas pendapatnya sendiri.

Dan dialah Sang Penghasut memang penyebab semua ini. Dia bagaikan serigala berbulu domba. Terlihat oleh kebanyakan orang, dia macam domba yang baik. Sosok yang dianggap memperjuangkan kepentingan bersama, menjunjung tinggi keadilan, dan berani lantang mengungkapkan apa yang ia anggap benar.

Namun, kita tahu, bulu dombanya kian lama kian menipis sehingga terlihat kulit aslinya sebagai serigala. Gigi taringnya semakin tajam dengan hasutannya. Seusai perseteruan itu pun, kau dapati bahwa dia semakin mengganas dengan hasutannya itu. Ceracau ocehan semakin mengaburkan sosok kedombaannya itu.

Yang mengherankan hingga sekarang adalah bagaimana ia berhasil dengan hasutannya itu dan banyak yang masih terpedaya akannya. Ia mampu menangkap kekecewaan-kekecewaan yang terpendam di benak tiap lakon dan kemudian ia kemas dengan cantik menjadi suatu bumbu perseteruan. Sungguh, Juli, hal demikian inilah yang menjadikanku kian takut dan menjauh dari dirinya. Bisa jadi di suatu saat nanti, taring hasutannya yang berbisa itu menusukku. Semoga saja tidak akan terjadi…

***

Juli, demikianlah lilitan-lilitan itu membelit perjalanan kita bersama. Lilitan itu memang terasa menyesakkan pada satu sisi, tetapi kita dapat pahami sekali lagi bahwa lilitan itulah yang menjadikan semakin belajar akan kehidupan ini. Hingga kemudian pada saatnya kita dapat terbebas dari lilitan itu dan menjadikan kita lebih leluasa lagi dalam menempuh perjalanan bersama, di saat itulah nanti seharusnya tak boleh kita lupakan jua lilitan-lilitan yang mendewasakan kita kini…

Painan, 13 Agustus, 22.41

kejutan juni

Terasa begitu cepat sekali momen bersamamu, Juni. Sungguh kau dengan segala daya tarik dan keunikanmu yang sudah kukenal sebelumnya rupanya masih membuatku tak menyangka apa-apa yang akan terjadi kala kubersamamu.

kejutan juniJuni, kau benar-benar pandai membuatku terkejut. Kejutan yang kau berikan itu terasa bertubi-tubi di hadapanku dan membuatku semakin takjub dengan dirimu. Kau terus menerus berikan aku kejutan pada setiap momen bersamamu dan tentu hal inilah yang membuatmu spesial sebagaimana Februari dengan memorinya (Memori Februari), Maret dengan retasannya (Meretas Maret), April dengan kerikilnya (Kerikil April), dan Meiku tersayang (My May)…

2-3 Juni 2012, “Sisi Lain Kota Padang”

Awal mula kubertemu denganmu kembali, aku masih ingat akan kejutanmu yang pertama. Kau mengenalkan aku lebih dekat dengan Kota Padang, kota yang sudah kusinggahi kesekian kalinya. Kita mencoba bersama menelusuri sisi lain kota Padang yang sudah dari sejak dulu membuat penasaran dan belum sempat kita coba.

Maka, sungguh diriku benar-benar terkejut dengan pemandangan matahari terbenam di Ulak Karang, aktivitas masyarakat kota Padang di pagi hari di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol, menikmati air kelapa muda di Pantai Padang, dan bertambahnya koleksi Museum Adityawarman yang semakin memperkenalkan lebih dekat dengan budaya Ranah Minang.

Padang, walau belum sebegitunya istimewa di mata kita, tetapi bisa menjadi pelipur lara dari kesederhanaan dan keterbatasan Painan. Kejutan inilah yang menjadi suatu pembelajaran bagiku tentang itu.

6 Juni 2012, “Festival Langkisau: Lomba Tarian Minang”

Hanya setahun sekali diadakan perhelatan budaya yang kita tunggu-tunggu. Dan kala momen bersamamu, Juni, perhelatan yang bernama Festival Langkisau itu akhirnya datang jua. Kala pertama kalinya menyaksikannya, kita lihat bersama pagelaran tarian tradisional khas Ranah Minang. Para anak-anak muda dengan kostum adatnya dengan lincah beradu tari di pentas panggung utama. Nyanyian disertai bunyian alat musik pun menjadi pelengkap yang membuat kita semakin terpana akan betapa kayanya budaya negeri yang kita tinggali kini.

7 Juni 2012, “Sang Penghasut yang Membuat Geram”

Tak semua kejutan darimu adalah kejutan yang menyenangkan, Juni. Satu kejutan yang kusayangkan darimu adalah manakala kau beri kejutan padaku tentang Sang Penghasut. Ya, kali ini tanpa diduga-duga, Sang Penghasut mulai menembakkan sasarannya padaku dan jelas itu membuatku geram serta menguji benar kesabaranku akannya.

9 Juni 2012, “Perhelatan Akbar: Tour De Singkarak Etape VI Finish di Painan”

Tiada henti memang kau memberikanku kejutan, Juni. Kejutan yang benar-benar sangat mengenang bagiku adalah perhelatan akbar yang baru kali ini diadakan di kota kecil ini. Tour de Singkarak, suatu ajang kelas internasional bagi para pesepeda balap dunia untuk beradu dan juga promo wisata keindahan alam dari Ranah Minang ini. Painan sebagai salah satu kota penyelenggara yang baru di tahun ini berhasil menyulap kesederhanaannya menjadi hingar bingar kemeriahan suasana dengan tarian sambutan yang begitu atraktif dan sambutan masyarakat yang begitu massif pada ajang yang satu ini.

10 Juni 2012, “Festival Langkisau: Adu Selaju Sampan”

Festival Langkisau tidak hanya tentang lomba tarian, musik tradisional, pameran, atau lomba paralayang yang pernah kita dapati di tahun sebelumnya. Ada satu acara yang belum sempat kita saksikan dari perhelatan yang sama di tahun lalu. Acara itu adalah adu selaju sampan yang mana dua sampan beradu balap siapakah yang tercepat mengayuh hingga ke titik terakhir.

Dengan acara yang baru kita saksikan kali ini, kau berikan aku kejutan dengan serunya sorak sorai penonton menjagokan sampan yang beradu, kegesitan serta kekompakan pengayuh sampan untuk sampai hingga ke titik tujuan, dan juga ekspresi lelah, puas, menang, kalah dari para pengayuh sesudah mereka tiba.

11 Juni 2012, “Festival Langkisau: Ramainya Pemilihan Uni-Uda Pessel”

Ahahaha yang sempat membuatku terkejut juga dengan Festival Langkisau pada tahun ini bersamamu adalah saat kita menyaksikan bersama Pemilihan Uni-Uda Pesisir Selatan. Yap, tak disangka-sangka, rupanya pada perhelatan tahunan ini diselenggarakan juga ajang pemilihan duta wisata untuk mempromosikan pariwisata Pesisir Selatan. Klise memang acara ini layaknya pemilihan duta wisata di daerah lainnya, namun tetap ada kejutan tersendiri dengan tampilnya para peserta dengan busana khas tradisional Ranah Minang dan atraksi seni budaya pada selingan acara tersebut.

20 Juni 2012, “Setahun Sudah di Kota ini”

Bagaimana bisa aku melupakan kejutanmu di tahun yang dulu yang benar-benar menjadi sesuatu bagiku kala itu? Ya, setahun sudah memang sejak kejadian itu dan kini melalui tulisan Setahun Sudah, kukenang setiap penggalan memorimu bersamamu dulu, Juni..

24 Juni 2012, “Menikmati Medan, Kota Metropolitan”

Tak hanya tentang Sumatera Barat, kau berikan aku kejutan, Juni. Pada kesempatan pertama kalinya pula, kau berikan aku kejutan spesial dengan suatu tempat baru di Sumatera Utara, di kota Medan khususnya. Menyambangi kota ini untuk pertama kalinya jelas terasa spesial bagiku dan menyaksikan dengan mata sendiri akan ramainya aktivitas pagi di Lapangan Merdeka, pelajaran budaya di Museum Negeri Sumatera Utara, kemegahan Masjid Raya Al Mahsun dan Istana Maimun, keunikan Tjong A Fie Mansion sungguh menjadi memori yang tak akan terlupakan.

25-28 Juni 2012, “Mempelajari Ilmu Kebendaharaan Semakin Dalam”

Medan bukanlah tentang kesempatanku untuk dapat menikmati pesona kota yang satu ini saja. Di kota Medan inilah pula aku harus mengemban tugas belajar untuk lebih memahami mengenai profesi yang tengah kujalankan sebagai penjaga harta. Ya, proses belajar itu harus didalami dan semoga banyak pembelajaran bermanfaat yang kudapatkan agar semakin amanah aku dalam mengemban profesi yang berat ini.

29-30 Juni 2012, “Menginjakkan kaki di Bumi Aceh, Kota Langsa”

Apa yang terlintas darimu saat kau dengar tentang Bumi Aceh? Tentang Serambi Mekkah? Tentang Syar’iat Islam? Tentang usaha gerilya di masa lalu? Semua pertanyaan itu kemudian mendapatkan jawaban dengan nyata manakala kau berikan kejutan dengan kesempatan untuk melancong ke Kota Langsa di Bumi Aceh.

Empat jam perjalanan yang kita tempuh dari kota Medan menuju kota yang satu ini. Melewati perbatasan antarprovinsi dan jalanan yang mulus dengan beberapa pemandangan perkebunan kelapa sawit yang begitu mendominasi. Suatu perjalanan yang kita tempuh untuk penyambung silaturahmi, bertemu dengan kawan-kawan yang dulu pernah bersama dan juga untuk mengobati rasa penasaran akan seperti apakah bumi Aceh itu.

Kita dapati kemudian kota yang relatif lebih besar dan ramai dari Painan. Sempat membuatmu kikuk dan tercengang akan kota yang satu ini. Masjid-masjid yang besar dengan arsitekturnya yang khas membuat kita terkagum-kagum, bangunan-bangunannya yang menonjolkan lambang pintu aceh di mana-mana, nuansa rumah makan yang unik di tengah-tengah rapatnya hutan bakau, begitu luasnya terhampar perkebunan kelapa sawit, dan tentu kuliner khasnya mie aceh serta sate matang (lembu) sempat tercicip oleh lidah ini.

Langsa menjadi kota yang istimewa tidak hanya dengan serangkaian kejutan-kejutan yang kita alami bersama itu. Langsa menjadi istimewa karena adanya pertemuan dan suasana keakraban yang dulu pernah terasa…

***

Juni, begitulah kejutan demi kejutan kau berikan padaku. Kau menjadikan dirimu sendiri sungguh patut dikenang. Kuharap pada pertemuan selanjutnya dengan kau nantinya, kau berikanku kejutan-kejutan yang lebih menakjubkan lagi ya… C’est La Vie, June…

Painan, 8 Juli 2012, 20.45