jelajah alam batangkapas

Daerah di selatan Painan memiliki banyak keindahan alam yang sepertinya belum begitu diketahui oleh khalayak luas. Salah satunya adalah daerah Batangkapas. Kecamatan yang berada persis di arah selatan dari daerah Painan ini mempunyai daerah luas dengan alam yang masih asri. Hampir sebagian besar wilayahnya terdiri dari alam yang belum dijamah oleh tangan dingin pembangunan manusia. Ada garis pantai panjang yang dapat disusuri di Pantai Taluak, ada juga tempat pemandian alami berupa air terjun kecil yang dikenal dengan Lubuak Kuali di daerah Teluk Betung. Keduanya adalah contoh dari sekian banyak pesona alam yang bisa dinikmati dari daerah Batangkapas.

pemandian lubuak kuali
pemandian lubuak kuali

Sudah beberapa kali saya melewati daerah Batangkapas dalam perjalanan menuju daerah selatan dari Kabupaten Pesisir Selatan. Waktu itu, saya belum sempat singgah mengunjungi dan mencari hal-hal yang menarik dari daerah ini. Hanya sekadar lewat saja dan menikmati pemandangan sepanjang perjalanan yang dilalui. Kesan yang selalu saya tangkap daerah ini hampir mirip dengan pemandangan daerah Teluk Bayur, kota Padang. Dua daerah ini sama-sama memiliki jalur jalan raya yang berada persis menyusuri garis pantai. Dengan konturnya yang seperti itu, maka tersaji pemandangan laut yang sangat meneduhkan untuk dipandang saat melewati jalur tersebut.

Daerah Batangkapas memang belum begitu terasa pamornya seperti Painan yang sudah menjadi ikon tempat-tempat wisata terkenal di Pesisir Selatan. Ada beberapa sumber informasi yang menyatakan bahwa ada beberapa tempat di Batangkapas yang dapat dikunjungi. Namun, sumber tersebut belumlah menceritakan hingga rinci petunjuk tentang keberadaan tempat-tempat yang berpotensi untuk wisata. Masih belum banyak orang yang bercerita tentang seperti apakah Batangkapas itu dan ada apa saja di sana.

Dari keterbatasan sumber ini, saya dan teman saya tertarik untuk mengunjungi dua objek yang masih mudah dijangkau dan tidak terlalu sulit untuk mengunjunginya. Dua objek itu adalah pemandian Lubuak Kuali dan Pantai Taluak.

Berbicara mengenai objek yang pertama, Lubuak Kuali, daerah ini tidak begitu jauh ditempuh dari Painan. Dibutuhkan perjalanan darat melalui kendaraaan dengan jarak sekitar 10 km untuk dapat mencapai daerah tersebut. Tidak perlu bingung jalur manakah yang harus dilalui, dari Painan menuju Batangkapas sendiri hanyalah ada satu jalur jalan raya yang menghubungkan. Secara administratif, Lubuak Kuali ini berada di nagari Teluk Betung, beberapa kilometer sebelum memasuki kota kecamatan, Pasar Kuok Batangkapas. Salah satu tanda penunjuk yang mudah diketahui dari daerah ini adalah banyaknya penjual durian (pada musimnya seperti sekarang ini) yang berjejer di pinggir jalan.

Dari arah Painan, perhatikan pada sebelah kiri jalan saat sudah memasuki daerah Batangkapas untuk mengetahui di manakah Lubuak Kuali berada. Tanda lainnya sebagai penunjuk arah berupa gerbang kecil sederhana yang di atasnya ada tulisan samar “Selamat Datang di Lubuak Kuali, Teluk Betung” yang dapat ditemui pada sebelah kiri jalan dan banyak berjejer pedagang durian di sekitarnya. Gerbang kecil ini sebagai awal dari jalan kecil seperti gang menuju Lubuak Kuali. Hanya dibutuhkan jalan kaki selama sekitar beberapa menit untuk kemudian sampai di pemandian Lubuak Kuali ini. Jangan sampai terkecoh untuk terus menyusuri jalan gang ini hingga ke ujungnya karena Lubuak Kuali ini berada pada jalur yang berupa jalan setapak di sebelah kiri pada salah satu lapau (warung, red) penduduk sekitar 500 m dari gerbang.

Hal ini yang disayangkan dari tempat ini. Masih belum ada petunjuk jalan yang jelas mengarahkan ke objek yang dituju, sehingga perlu banyak bertanya pada penduduk setempat.Seharusnya juga pada jalur yang masih jalan setapak ini sudah dibentuk jalan beton agar mudah menuju Lubuak Kuali. Hanya beberapa meter saja yang diperlukan untuk memperjelas arah selanjutnya. Semoga nantinya ada inisiatif pembangunan untuk memperluas jalan hingga menuju lokasi dan beberapa tanda petunjuk bagi pengunjung dari luar daerah seperti kami.

kolam dan air terjun kecil pada lubuak kuali
kolam dan air terjun kecil pada lubuak kuali

Memang tidak terlalu luas dan besar daerah Lubuak Kuali ini. Setibanya di sana suasana sekitar masih begitu sepi dan asri. Hanya ada beberapa orang penduduk setempat yang melintas guna keperluan berladang di daerah yang tidak jauh dari sana. Lubuak Kuali ini terdiri dari dua tingkat air terjun yang kecil dengan ketinggian tidak sampai dengan 3 meter. Pada masing-masing tingkat terdapat kolam air kecil dengan kedalaman sekitar lebih dari 1 meter berwarna kehijauan. Kolam-kolam ini bentuknya tampak menyerupai seperti kuali dengan pinggir berupa lingkaran dibatasi oleh bebatuan besar. Oleh karena itu, penduduk setempat menamainya dengan Lubuak Kuali yang artinya memang daerah sungai yang menyerupai bentuk kuali.

Apa yang sangat berkesan dari nuansa Lubuak Kuali adalah tentang airnya. Airnya ini begitu jernih dan terasa menyegarkan. Rimbunnya pepohonan sekitar dan bebatuan besar juga menjadikan tempat ini tidak terlalu terik oleh cahaya matahari. Dengan bentuk seperti kolam-kolam itu, Lubuak Kuali memang tempat yang cocok untuk dijadikan sebagai pemandian umum. Menurut informasi, banyak orang yang menjalankan ritual balimau paga (mandi bersama) di sini sebelum memasuki bulan puasa setiap tahunnya.

Selain pemandian Lubuak Kuali ini, Batangkapas juga memiliki pesona alam lainnya yang berupa pantai. Ya, bukanlah Pesisir Selatan namanya kalau wisata andalannya tidak ada pantainya sama sekali. Pun juga termasuk daerah Batangkapas. Dengan kontur geografis pesisir pantai yang memanjang, Batangkapas juga memiliki pantai-pantai yang indah untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Pantai Taluak.

Guna mencapai pantai yang satu ini, diperlukan perjalanan darat lebih jauh daripada Teluk Betung jika arahnya dari Painan. Jarak pantai ini dari Painan diperkirakan sekitar 20 km, melewati sekitar 2 km ke arah selatan dari kota kecamatan. Nama nagari dari pantai ini adalah Taluak Limpaso. Sebagai penunjuk menuju daerah ini adalah jalan kecil sebelum jembatan di sebelah kanan jalan dengan tanda pengarah ke SMP N 3 Batangkapas. Dari sini, jalan terus sekitar 500 meter dan akan disambut dengan hamparan luas Pantai Taluak.

pantai taluak batangkapas
pantai taluak batangkapas

Pantai ini merupakan kawasan dengan hamparan pasir yang begitu luas seperti padang gurun pasir. Garis pantainya sangat panjang berupa cekungan berbentuk huruf U sehingga dapat memberikan pemandangan panorama yang luas. Ombaknya sedang, tidak terlalu tinggi tetapi kekuatannya cukup untuk dapat membuat basah sekujur tubuh jika masuk ke dalam air laut. Di pantai ini juga ada area khusus yang ditumbuhi dengan pohon cemara pantai yang relatif pendek. Dari hamparan pasir yang luas dan gersang langsung diterpa terik matahari, pepohonan cemara ini menjadi peneduh yang tepat di pantai ini. Pohon ini tumbuh berjejer rapi sepanjang pantai yang sepertinya memang dimaksudkan untuk meneduhkan beberapa daerah dari pantai ini. Tak jauh dari pepohonan ini ada telaga yang merupakan muara dari sungai yang terputus di sini.

Bagi yang menyukai pantai dengan garis pantai panjang dan ombak yang tidak terlalu tinggi, Pantai Taluak menjadi tempat yang tepat untuk menikmati pemandangan alam. Walaupun terik matahari langsung menerpa badan, angin laut yang lumayan kencang memberikan penyeimbang kesejukan saat berada di sini. Pantai ini sepertinya juga menyuguhkan panorama matahari tenggelam yang bagus, walaupun saat saya mengunjunginya belum berkesempatan hingga momen matahari tenggelam saya rasakan.

Demikianlah dua objek wisata yang saya temukan dari alam Batangkapas yang masih begitu asri ini. Saya yakin tidak hanya Pantai Taluak dan pemandian Lubuak Kuali saja yang dapat dinikmati dari daerah ini. Dengan alamnya yang masih begitu luas, tentu masih ada sisi-sisi alam yang tersembunyi dan menyimpan keindahan yang memukau. Orang-orang yang memang bertujuan untuk dapat menikmati keindahan alam dalam perjalanannya, tidak akan kecewa dengan apa yang disuguhkan dari alam Batangkapas jika mengunjunginya di sana.

saya dan bibir pantai taluak
saya dan bibir pantai taluak

Alam adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang sungguh tidak akan tertandingi keindahannya. Walaupun manusia berusaha untuk menciptakan tempat-tempat yang nyaman dengan pembangunan masifnya, alam tak akan pernah tergantikan. Bahkan alam menjadi penyokong kehidupan banyak organisme, termasuk manusia sebenarnya. Maka, pesona alam, termasuk juga yang ada di Batangkapas ini, semoga terus asri dan terpelihara, sehingga dapat memberikan kebermanfaatan dalam kehidupan ini dan dapat dinikmati sebagai ungkapan syukur kepada sang Pencipta.

perjalanan menuju keindahan yang tersembunyi, air terjun lumpo

Jauh di dalam belantara yang rimbun pada alam hutan Pesisir Selatan tersembunyi keindahan yang jarang diceritakan oleh orang. Jaraknya yang begitu jauh dan medan yang terhitung sulit untuk dilewati orang menjadikannya terjaga sedemikian rupa. Kondisi yang demikian inilah yang menjadikan keindahannya seakan tak tersentuh, tercemar, ataupun terusakkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Keasriannya masihlah tampak begitu alami. Air Terjun Lumpo, salah satu pesona Pesisir Selatan yang rupanya ada di tengah-tengah belantara Taman Nasional Kerinci Seblat ini, menjadikan orang yang hendak menyambanginya haruslah benar-benar yang bernyali dan sanggup berpetualang menembus belantara untuk melihat keindahan yang tersembunyi darinya.

Lumpo adalah nama suatu daerah yang terletak pada Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan. Dibandingkan dengan tiga daerah lainnya pada satu kecamatan, daerah Lumpo ini termasuk daerah yang berbeda sendiri. Hanya Lumpolah satu-satu daerah yang tidak mempunyai garis pantai, justru kontur yang dimilikinya berupa dataran tinggi dan pegunungan. Bahkan daerah ini rupanya juga termasuk dalam area konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat yang terbentang luas pada tiga provinsi (Sumatera Barat, Jambi, dan Riau). Pada daerah dengan kontur pegunungan seperti inilah, pesona alam banyak yang tersebar di dalamnya. Salah satunya adalah Air Terjun Lumpo.

Dari media massa yang saya rujuk, rupanya belum banyak yang membahas tentang air terjun yang satu ini. Hanya ada beberapa artikel yang tersebar menggambarkan tentang pesona alam ini, itu pun banyak yang tulisannya berisikan hal yang persis, hanya disalin dari sumber yang sama. Hal ini membuat saya menyimpulkan secara sekilas bahwa Air Terjun Lumpo ini sepertinya belumlah banyak orang yang mengunjunginya. Barulah segelintir pengunjung saja yang pernah ke sana dan menceritakan pengalamannya pada media massa yang lebih luas. Hal seperti ini yang membuat saya dan teman saya semakin penasaran dengan rupa dari air terjun ini. Apalagi dari sekilas membaca artikel tersebut dan foto yang menggambarkan air terjun ini sepertinya air terjun ini berbeda dari lazimnya.

P1150796
objek batu biduak, limau gadang, lumpo

Tidak mudah mencapai air terjun yang satu ini berdasarkan informasi yang kami baca dari media massa. Karena letaknya yang memang berada di tengah belantara dan harus mendaki perbukitan yang melindunginya, maka dibutuhkan waktu perjalanan yang cukup lama untuk dapat mencapai tujuan. Artikel yang kami rujuk menyebutkan bahwa waktu perjalanan dibutuhkan sekitar 3 jam untuk sampai ke sana dengan medan yang berlika-liku. Semula sempat kami baca informasi lain yang menyebutkan bahwa hanya sekitar 1 jam perjalanan saja, namun belakangan kami ketahui rupanya informasi tersebut rupanya untuk objek yang lain, yaitu jeram sungai Batu Biduak, yang memang lebih dekat ketimbang Air Terjun Lumpo yang lebih jauh.

Bersama teman saya, Pak Amin, dengan perbekalan yang sudah dipersiapkan secukupnya, kami pun memulai perjalanan untuk dapat mengetahui keindahan tersembunyi yang satu ini. Teman saya yang satu ini merupakan sosok yang begitu antusias dengan petualangan alam. Pengalamannya dengan jelajah alam semacam pendakian gunung sudah berkali-kali ia ikuti. Berbeda dengan saya, untuk hal semacam ini saya masihlah sangat awam dan hal demikian yang membuat saya cemas dalam perjalanan ini, apakah saya sanggup menjalaninya atau tidak. Namun, dengan semangat dan panduan dari teman saya yang satu ini, membuat saya tidak melangkah mundur untuk perjalanan yang satu ini. Niat sudah dibulatkan dan perjalanan pun harus tetap dilakukan untuk dapat menyaksikan dengan mata sendiri Air Terjun Lumpo yang sangat membuat penasaran seperti apakah wujudnya.

Titik mula perjalanan kami dimulai dari tempat tinggal domisili kami di Painan. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam dari Painan menuju Lumpo. Jalur Painan ke Lumpo merupakan jalur yang mudah dilewati, hanya ada satu jalur yang terus mengarah hingga ke daerah perbukitan. Sepanjang jalan belumlah padat pemukiman dan banyak terbentang lahan sawah pertanian. Jalur ini nantinya akan mencapai akhirnya pada daerah Limau Gadang yang menjadi ujung jalur dan di sinilah menjadi titik perhentian sementara untuk melanjutkan perjalanan. Dari sini, kendaraan sudah tidak bisa dilewati, perjalanan mau tak mau harus dilakukan dengan jalan kaki.

Agar tidak tersesat dalam perjalanan selanjutnya, diperlukan pengarah jalan yang sudah berpengalaman ke Air Terjun Lumpo. Karena pada daerah Limau Gadang inilah pemukiman terakhir yang ditemui, maka kami bertanya terlebih dahulu kepada penduduk lokal dan meminta pengarah jalan. Sempat agak lama untuk mendapatkan pengarah jalan yang bersedia memandu kami melewati jalur yang tingkat kesulitannya mulai sulit pada titik ini karena baru setibanya di sanalah kami mencari, banyak yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, atau belum pernah ke sana. Beruntung kemudian ada dua orang pemuda setempat, Anton dan Rio, yang bersedia menjadi pengarah jalan kami. Keduanya mengaku sudah berulang kali menuju ke tempat yang kami sebut itu.

Perjalanan selanjutnya dari titik Limau Gadang dimulai pada sekitar pukul 12.00 siang. Waktu yang kurang tepat sebenarnya untuk memulai, seharusnya lebih awal lagi agar dalam sehari perjalanan ini dapat selesai. Namun, dengan perbekalan dan pengarah jalan yang sudah ada, rasanya begitu sayang membatalkan perjalanan ini hanya karena keterlambatan ini. Berempat kami menyusuri jalanan setapak yang perlahan mulai mendaki. Tidak jauh dari titik mulai kami, ada objek Batu Biduak yang terkenal sebagai tempat pemandian dengan arus sungai yang deras dan masih alami. Perjalanan mulai terasa berat setelah menyeberangi sungai daerah Batu Biduak ini. Jalur yang ada terus mendaki ke atas dan hanyalah berupa bebatuan yang tersusun berantakan sebagai pijakan menuju ke atas dibatasi oleh serabutan tanaman liar dan batang pepohonan yang semakin merapat.

Pendakian dengan jalur semacam ini benar-benar menguras energi saya yang masih belum terbiasa dengan kondisi alam seperti ini. Sementara yang lain masih kuat berjalan terus, saya sempat beberapa kali meminta waktu untuk beristirahat mengatur nafas. Saat saya beristirahat, yang lain menyempatkan berhenti agar rombongan tidak terpencar terlampau jauh. Ini adalah hal yang penting selama penjelajahan hutan seperti ini agar jangan sampai ada yang tertinggal, terpisah, dan tidak lagi terlihat di hutan. Hutan dengan segala macam makhluk yang ada di dalamnya menyimpan berbagai macam bahaya pula yang patut diwaspadai bersama oleh satu rombongan yang lengkap dan terus beriringan.

Jalur yang terus mendaki juga menguji seberapa tahan mental para pendakinya agar bisa sampai pada tujuan. Pada beberapa momen, terasa benar ada keinginan untuk menyerah dan kembali tidak perlu melanjutkan lagi karena merasa sudah tidak sanggup. Inilah yang perlu dilawan dan diatur agar semangat mental pendakian terus ada dan saling menyemangati pada satu rombongan. Selain itu juga, kehati-hatian juga menjadi hal utama. Dengan jalur sempit, tepi tebing curam, dan bebatuan licin yang rentan membuat tergelincir, salah-salah mengambil langkah bisa jadi hal yang fatal. Saya sendiri sempat mengalami beberapa kali tergelincir pada medan yang licin dan beruntungnya masih bisa selamat tetap pada jalur yang tepat berkat bantuan dari teman serombongan juga.

Pendakian pada jalur yang menanjak ini rupanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Bagi penduduk lokal seperti Anton dan Rio yang menjadi pengarah jalan kami, mereka hanya butuh waktu yang lebih singkat sekitar 1 jam hingga menuju atas bukit karena sudah terbiasa. Sedangkan, dengan kecepatan dan daya tahan kami yang baru kali ini mendaki jalur semacam ini, butuh sekitar dua kali alokasi waktu dari yang biasa mereka lewati. Setibanya di bagian atas bukit yang kami daki, jalur tidak lagi menanjak seekstrem jalur sebelumnya dan mulai mengitari bukit menuju daerah sebaliknya. Di sini, walaupun jalurnya tidak ekstrem, tantangan pada jalur ini adalah melewati jalur dengan tepian tebing yang curam dengan jalur setapak yang masih terbatas.

P1150810
panorama pemandangan dari bagian atas bukit

Bagian selanjutnya dari pendakian ini adalah jalur yang menurun menuju daerah lembah pada balik bukit. Saat kami sudah mencapai jalur ini, awan sudah terlihat mendung dan sempat ada gerimis yang menjadikan jalur cenderung becek dan semakin licin. Sebelumnya dari bagian atas bukit ini, pada sisi barat di area terbuka tampak dengan jelas pemandangan bawah bukit berupa pemukiman, sawah, dan juga laut dari kejauhan yang begitu memukau. Sedangkan pada arah sebelah timur, didapati dari kejauhan juga arus deras yang bertingkat-tingkat dari Air Terjun Lumpo sudah terlihat. Bunyi air menderu dari air terjun ini sudah terdengar. Ini menjadi penyemangat kami bahwa tidak lama lagi kami akan sampai.

Namun, tidak semudah itu rupanya jalur selanjutnya yang dilewati. Pada jalur yang menurun dengan kondisi yang seperti demikian tadi, menjadi tantangan selanjutnya. Sama halnya dengan pendakian yang menanjak, pada saat jalur turun ini juga perlu pijakan yang tepat agar tidak terperosok tergelincir. Kemiringan pada medan ini lebih curam dan jalurnya tidak lagi berbentuk jalan yang teratur, cenderung terjal. Kalau sebelumnya saya sempat tergelincir, pada jalur ini saya mengalami beberapa kali terperosok oleh kayu yang lapuk atau dedaunan yang membusuk sebagai pijakan yang salah dan kurang kuat. Harus diperhatikan benar ke mana kaki harus memijak dan bertumpu agar tidak terjadi apa yang saya alami.

Pada sekitar pukul 4 sorelah, akhirnya tempat yang kami tuju terlihat juga. Air Terjun Lumpo yang begitu deras turun mengalir menunjukkan keindahannya. Jalur menurun tadi merupakan bagian akhir dari pendakian ini dan berlanjut dengan penelusuran sungai sekitar beberapa ratus meter hingga menuju air terjun utama. Di sana, buih-buih air begitu kencang berhamburan di sekitaran air terjun. Angin berhembus kuat akibat derasnya aliran air dari atas. Empat jam perjalanan yang begitu melelahkan fisik ini memang tidak sia-sia. Air Terjun Lumpo sejauh pengalaman saya merupakan air terjun terderas yang pernah saya temui. Apalagi dengan baru saja hujan turun di daerah ini, debit air yang mengalir semakin banyak dan air terjun ini semakin deras alirannya.

Alam benar-benar masih terjaga pada daerah sekitar air terjun ini. Bahkan pun sepertinya pada saat itu hanyalah kami berempat yang ada di situ. Air terjun yang dapat kami lihat hanyalah pada tingkat pertama, kalau melihat dari bagian atas bukit tadi, ada banyak tingkatan lagi di atasnya. Tingginya memang tidak terlalu tinggi dengan kelebaran sekitar belasan meter, tetapi airnya turun dengan begitu deras bertumpuk-tumpuk membentuk buih dan angin yang kuat. Di seberang kanan dan kiri aliran sungai di bawah air terjun masih berupa hutan dengan pepohonan yang rapat. Ketika menengok ke atas, pada semua arah dibatasi oleh penghalang dikepung oleh perbukitan. Bebatuan berserakan di mana-mana dengan ukuran yang beragam membentuk jeram sungai yang deras. Tempat ini benar-benar terpencil dari hiruk pikuk kehidupan pemukiman manusia. Terasa jauh sekali dari kesemuanya itu dan hanyalah terdengar suara alam dengan derasnya air terjun yang turun dan suara binatang-binatang. Anton, pengarah jalan kami, bahkan dengan mudahnya dapat menangkap ikan-ikan yang begitu banyak berkumpul pada sungai di bawah air terjun. Inilah keindahan yang tersembunyi pada kenyataannya. Alam yang begitu megah tersaji sejauh mata memandang membuat manusia seakan tak ada apa-apanya di hadapan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa seperti ini.

P1150821
air terjun lumpo, keindahan yang tersembunyi

Hanya sebentar saja waktu yang tersisa untuk dapat menikmati pemandangan yang baru kali ini saya dapati. Dalam tempo sekitar kurang dari satu jam, kami makan, sholat dengan dilatari bebatuan sebagai tempat bersujud, dan istirahat sejenak. Dokumentasi foto pun tidak banyak yang bisa dilakukan karena buih-buih air terjun yang mengaburkan lensa kamera. Hari sudah menjelang petang dan kami harus kembali secepatnya. Jalur yang dilewati masih jalur yang sama dengan cara berkebalikan, mendaki menanjak dari yang sebelumnya menurun, melewati jalur datar, dan kemudian menuruni jalur yang tadinya ditanjaki. Tubuh kali ini sudah dapat menyesuaikan dengan beban yang tadi dihadapi sebelum sampai di air terjun. Walaupun begitu, tetap saja rasa lelah menjadi deraan selama perjalanan dan sempat terjadi beberapa insiden kecil seperti tergelincir, terperosok, dan sengatan tawon hutan yang menyerang teman saya.

Dengan malam yang sudah tiba di tengah hutan menjadikan kecepatan berkurang dan lebih mementingkan kehati-hatian daripada tergesa-gesa cepat sampai di tujuan. Ya, inilah kali pertama saya merasakan bagaimana gelapnya hutan di saat malam. Beruntungnya pengarah jalan kami sudah berpengalaman dan hafal jalur kembali walau hanya menggunakan senter kecil sebagai penerang jalur. Hujan yang turun sebelumnya menjadikan jalur yang sudah licin menjadi lebih licin dan becek lagi. Energi saya sendiri sudah agak melemah sehingga untuk jalan agak sempoyongan membutuhkan tongkat penegak dan digandeng oleh pengarah jalan. Mereka juga selalu mengingatkan untuk hati-hati dan terus memandu pada jalur yang tepat hingga akhirnya kami sampai pada sungai daerah Batu Biduak yang menandakan bahwa titik kembali sudah dekat. Sesampainya di sungai ini, terasa begitu lega karena jalur yang lumayan ekstrem ini sudah terlewati, jalur selanjutnya hanyalah berupa jalan setapak mendatar selama beberapa ratus meter hingga kembali ke pemukiman terdekat.

Sekitar pukul 9 malamlah akhirnya kami berempat sampai di titik kembali. Sama seperti perjalanan pergi ke Air Terjun Lumpo, untuk perjalanan pulang kembali ke titik awal membutuhkan waktu yang sama, 4 jam dengan kondisi cuaca dan waktu memulai pendakian seperti ini. Di rumah salah satu penduduk lokal, kami beristirahat sebentar sembari membersihkan diri, terutama dari pacet-pacet yang menempel dan tanpa disadari selama perjalanan menghisap darah tubuh kami. Oleh penghuni rumah, kami sempat ditanyai tentang bagaimana cerita perjalanan kami dan apa saja yang sudah kami temui. Dengan pengalaman kami selama perjalanan mendaki hingga ke air terjun dan kembali lagi, banyak hal yang dapat diceritakan. Apalagi untuk teman saya, Pak Amin, yang memang pandai bercerita.

Bagi saya sendiri, sesampainya di titik kembali, membuat saya merasakan kelegaan yang luar biasa dan rasa syukur yang teramat sangat. Tantangan pendakian yang semula membuat saya cemas akhirnya dapat saya lewati juga. Pendakian ini menjadi pembelajaran bagi saya yang baru kali ini merasakannya sampai sejauh ini. Pendakian ini juga menjadi titik pembuktian bahwa sesulit apa pun rintangan yang dihadapi, jika dihadapi bersama dan diiringi dengan tekad tidak menyerah, maka tujuan akan tercapai dengan sendirinya. Selain itu juga, tujuan utama dari penjelajahan ini adalah kejutan yang melebihi dari harapan semula diperkirakan. Air Terjun Lumpo adalah fenomena alam yang luar biasa dan menjadikan diri ini terasa lebih dekat lagi dengan alam.

Air Terjun Lumpo adalah keindahan yang tersembunyi di tengah belantara hutan yang jauh dari pemukiman manusia. Keindahan ini wajar masih tampak begitu alami terbebas dari campur tangan manusia. Saya membayangkan jika daerah ini sudah terjangkau oleh semua orang dengan mudahnya, maka bisa jadi kealamian yang begitu indah ini semakin lama semakin memudar. Tidak semua orang peduli dengan alam dan apa-apa yang diperlukan untuk melestarikannya. Kalau aksesnya semakin terjangkau dan orang-orang yang tidak peduli berduyun-duyun datang dan merusak keindahan alam ini, pesona Air Terjun Lumpo tidaklah seasli sebagaimana semula. Walaupun pada satu sisi lain, untuk tempat yang seindah ini harusnya dibuat akses yang memadai agar pesona Pesisir Selatan yang satu ini dapat dikenal lebih luas oleh khalayak masyarakat untuk pariwisata.

Dalam benak saya, biarlah keindahan air terjun tetap tersembunyi dalam padatnya belantara yang masih alami ini. Biarkan alam yang mengendalikan bagaimana sistemnya berjalan dengan sendirinya tanpa perlu manusia yang mengganggu. Kalaupun ada yang ingin tahu dan penasaran melihat keindahannya tersembunyi ini seperti kami ini, alam sudah membentuk penghalangnya tersendiri agar tidak sembarang orang mau dan mampu melewatinya. Seperti yang dikatakan oleh teman saya, sebenarnya perjalanan kami kali ini tidaklah hanya sekadar tentang tujuannya, yaitu air terjun. Perjalanan ini juga tentang proses yang menguji mental dan fisik seseorang lebih tertempa lagi. Ini adalah hal yang membuat saya lebih banyak belajar dan nantinya akan mencoba memahami meresapinya dalam nilai dan perilaku kehidupan.

P1150827
saya dan teman perjalanan yang super :), pak Amin

Perjalanan menuju Air Terjun Lumpo kali ini adalah perjalanan yang paling kompleks sejauh pengalaman saya selama ini menelusuri keindahan alam Pesisir Selatan. Banyak hal yang terjadi selama perjalanan dan banyak sisi-sisi wawasan yang membuat saya berpikir lebih terbuka. Belum seberapa memang pendakian ini yang barulah sebatas bukit, tetapi inilah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Terima kasih untuk Pak Amin yang menjadi teman penyemangat dan penasehat selama perjalanan dan juga para pengarah jalan yang sudah sangat membantu lancarnya perjalanan kami ini.

Untuk selanjutnya, semoga akan ada lagi keindahan tersembunyi yang dapat saya temui di Pesisir Selatan yang memang menyimpan beragam pesona ini…

semarak perayaan festival langkisau pesisir selatan

Setiap tahunnya, Kabupaten Pesisir Selatan mengadakan perayaan Festival Langkisau sebagai ajang hiburan, wisata, dan budaya yang mengangkat keunikan daerah yang satu ini. Festival yang dinamai dengan nama bukit yang namanya terkenal di Pesisir Selatan ini menjadi salah satu agenda yang menarik dengan perpaduan beberapa acara pada rentang waktu pelaksanaan festival selama sekitar seminggu. Pada festival ini, pertunjukan seni budaya, perlombaan olahraga, pameran hasil kerajinan masyarakat, dan masih banyak hal lainnya dapat ditemukan dan lebih mengenalkan lagi apa yang istimewa dari Pesisir Selatan.

Pertama kali saya mengikuti Festival Langkisau adalah saat awal-awal saya baru saja ditugaskan di Painan. Pada bulan Juni tahun 2011 itulah saya mendapati semacam pesta rakyatnya Kabupaten Pesisir Selatan yang diadakan di Gelanggang Olahraga Stadion Ilyas Yacob. Semula saya tidak menyangka pada kota kecil yang biasanya sepi di malam hari ini tiba-tiba berubah menjadi kota yang hingar bingar dengan kemeriahan suasana. Padatnya jalanan dipenuhi oleh tumpah ruahnya masyarakat yang mengunjungi dan berbagai macam tenda-tenda didirikan di sekitar. Memasuki area utama festival, terdapat panggung pementasan dan sejumlah stand-stand pameran yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, seperti UKM masyarakat, dinas-dinas pemerintahan, kecamatan, perbankan, dan lain sebagainya. Keramaian ini adalah hal yang jarang ditemui di sini dan bagi saya yang baru pertama kali merasakannya tentu tak ingin melewatkan momen-momen istimewa dari pelaksanaan festival ini.

Di tahun 2014 sekarang ini, sudah empat kali dari sejak saya berada di Painan untuk melihat dan menonton bagaimana Festival Langkisau ini berlangsung. Tahun 2011 menjadi tahun yang memperkenalkan saya dengan ajang ini dan saya masih ingat benar bagaimana antusiasnya saya mencari tahu apa yang menarik dari kegiatan ini. Tahun 2012 bersama teman dekat sekantor, saya lebih mengeksplorasi lagi keunikan-keunikan yang tersaji pada festival ini. Di tahun selanjutnya, 2013, terjadi perubahan lokasi tempat kegiatan yang semula berada di GOR Ilyas Yacob pindah tempat ke Pantai Carocok yang baru saja direklamasi. Ajang festival pada tahun ini juga bersamaan dan diawali dengan KPDT (Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal) Expo 2013. Hingga akhirnya untuk kali keempat saya masih dapat mengunjungi kegiatan tahunan ini kembali dan tentunya saya mengharapkan hal yang lebih istimewa lagi daripada penyelenggaraan di tahun sebelumnya.

P1030085
tarian piring festival langkisau 2011

Mengingat kenangan saya akan Festival Langkisau ini, yang selalu menjadi daya tarik bagi saya adalah pementasan seni budayanya. Kalaulah tidak ada kegiatan ini, boleh dibilang ajang festival yang satu ini tak ubahnya hanya seperti pesta rakyat atau pesta malam yang lazimnya ada di berbagai kota. Pada festival inilah, saya untuk pertama kalinya menyaksikan langsung salah satu pentas tari yang tersohor dari budaya Minang, yaitu Tari Piring. Anak-anak muda dengan lincah dan kompaknya menarikan gerakan gesit hingga piring yang mereka pegang seakan-akan lengket pada telapak tangan mereka dan tak pernah jatuh. Dendang musik tradisional pengiring dari tarian ini juga menjadi suguhan menarik dan membuat saya tak bisa beralih pandang dari pementasan Tari Piring ini.

Tak hanya Tari Piring saja yang saya dapati, ada juga tarian dari budaya Minang lainnya yang bisa ditonton selama festival ini. Bahkan, pada beberapa kesempatan, diundang juga tamu dari kabupaten lainnya, seperti Solok dan Sawahlunto yang menjadi langganan festival ini untuk mempertunjukkan tarian khas daerah-daerah ini. Pekan Seni Budaya pada Festival Langkisau juga diisi dengan bentuk ragam kesenian daerah lainnya seperti pementasan Rabab (alat musik khas Pesisir seperti Rebab gamelan jawa atau biola tradisional), tarian berkelompok Randai, debus, dan lainnya. Hal semacam inilah yang sangat patut diapresiasi dari penyelenggaraan Festival Langkisau. Ajang ini memberikan kesempatan untuk lebih memperkenalkan budaya Minang kepada khalayak luas dan tentu ini menjadi bukti bahwa kebudayaan setempat masih dijunjung tinggi dan dipertahankan keasliannya.

P1140226
terjun paralayang dari puncak langkisau

Festival ini juga menjadi kesempatan pertama kalinya bagi saya untuk melihat bagaimana atraksi paralayang terjun dari Puncak Bukit Langkisau. Dalam salah satu item acara Festival Langkisau, diagendakan juga perlombaan olahraga paralayang. Puncak Langkisau yang sudah terkenal dengan aktivitas olahraga paralayang ini menyajikan pemandangan indah dari atas bukit yang diramaikan oleh satu demi satu paralayang yang terbang melayang menurun hingga Pantai Salido. Jelasnya dengan nama yang disandang oleh festival ini, panorama Bukit Langkisau dan segala macam atraksi yang berhubungan dengannya tak bisa ditinggalkan dan harus menjadi bagian yang selalu ada pada Festival Langkisau.

Berbicara lebih lanjut tentang kegiatan olahraga yang menjadi rangkaian acara Festival Langkisau, item Selaju Sampan yang baru saya ketahui pada Festival Langkisau Tahun 2012 juga menjadi suguhan yang patut disaksikan. Selaju sampan merupakan perlombaan mendayung perahu sampan dalam jarak dekat dan berlangsung pada perairan tenang Teluk Painan. Pada lomba yang satu ini, tampak bagaimana kekompakan dan semangat berpacu dari tim peserta terlihat selama berlangsungnya lomba. Mereka berpacu mengayuh dayung sekuat dan secepat mungkin agar bisa sampai ke garis akhir dan menjadi pemenang. Sorak sorai penonton saat kedua tim hampir mendekati garis akhir begitu ramai dan masing-masing menyoraki tim yang menjadi andalannya. Keriuhan ini yang meramaikan suasana dan menjadikan Selaju Sampan termasuk kegiatan yang menarik untuk ditonton.

P1100410
perlombaan selaju sampan festival langkisau 2012

Dengan diusungnya tema yang sarat akan pengenalan budaya dan pariwisata, pada item acara Festival Langkisau juga diselenggarakan pemilihan Uda dan Uni Pesisir Selatan sebagai duta pariwisata Kabupaten Pesisir Selatan. Kontes yang satu ini menyaring para muda-mudi asli dari Pesisir Selatan untuk berlomba mempromosikan potensi wisata Pesisir Selatan. Item acara yang satu ini selalu menyedot perhatian banyak pengunjung dan oleh karenanya selalu dijadikan bagian penghujung penutup dari rangkaian Festival Langkisau. Grand Final Uda dan Uni Pesisir Selatan menjadi pementasan yang unik dengan diwajibkannya peserta lomba mengenakan busana daerah khas Minang lengkap dengan aksesorisnya termasuk untuk wanita dengan mahkota yang besar itu. Walaupun berjalannya acara ini menurut saya pribadi terkesan klise sebagaimana lazimnya pemilihan duta pariwisata, dengan diselingi pementasan tari atau nyanyian dendang khas Minang, tetaplah acara yang satu ini juga termasuk acara yang layak ditonton.

Beragamnya item kegiatan yang tersaji pada Festival Langkisau menunjukkan bahwa acara semacam ini menjadi hajatan penting yang tak boleh terlewatkan selama singgah di Pesisir Selatan. Potensinya yang mampu menarik perhatian banyak masyarakat menjadikannya acara yang strategis dan pada beberapa kali penyelenggaraannya dibarengi dengan kegiatan lainnya yang lebih semarak lagi. Seperti pada Festival Langkisau Tahun 2012, untuk pertama kalinya Pesisir Selatan menjadi tuan rumah yang dilewati pada jalur perlombaan sepeda yang sudah mendunia, yaitu Tour de Singkarak. Semarak Festival Langkisau yang saat itu tengah berlangsung di GOR Ilyas Yacob dialihkan ke ruas jalan depan Rumah Dinas Bupati. Di tempat itulah yang menjadi garis akhir etape VI Tour de Singkarak dari Pariaman hingga Painan dan seusainya seluruh pebalap tiba di Painan disambut dengan pagelaran meriah tarian sambutan yang ramai. Pada Festival Langkisau Tahun 2013, Painan juga ditunjuk sebagai salah satu kota penyelenggaraan KPDT Expo 2013. Adanya KPDT Expo ini menjadikan lebih banyak lagi stand-stand pameran yang ada di Festival Langkisau dan diikuti serta dipublikasikan lebih luas lagi tak hanya di Sumatera Barat, tetapi cangkupannya sudah menasional.

P1100280
tarian sambutan finish etape VI Tour de Singkarak 2012

Pada tahun 2014 ini, Festival Langkisau berlangsung dari tanggal 15 hingga 22 April 2014. Penyelenggaraan festival ini sebelumnya diadakan berkisar pada bulan Juni setiap tahunnya. Namun untuk lebih mendapatkan momentum perayaan yang tepat, maka sejak tahun 2013, Festival Langkisau diajukan pelaksanaannya pada bulan April bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Pesisir Selatan setiap tahunnya. Pada tahun keempat kesempatan saya mengikutinya, tampak ada sejumlah peningkatan kualitas dari penyelenggaraan di tahun sebelumnya. Walaupun memang tetap saja ada beberapa fasilitas yang masih perlu dibenahi seperti tidak beraturannya tempat parkir dan lalu lintas di sekitar tempat acara dan beceknya jalanan tanah yang disusuri pada area kegiatan.

Kegiatan Festival Langkisau di tahun 2014 baru saja berlangsung dan pada hari pertama saya menyambanginya semarak keramaian masih identik dengan acara yang satu ini. Acara ini menjadi momen yang tepat untuk merayakan hari jadi Pesisir Selatan dan membuat masyarakatnya merasakan keramaian meriah kota Painan yang kecil dan biasanya sepi ini. Harapannya acara semacam ini dengan pertunjukan identitas budaya yang khas dan hal-hal unik lainnya dari Pesisir Selatan ini lebih dapat dieksplorasi dan ditampilkan tidak hanya untuk masyarakat Pesisir Selatannya saja, tetapi untuk khalayak yang lebih luas. Festival Langkisau menjadi momen yang strategis untuk mengenalkan keunikan daerah Pesisir Selatan dan lebih menarik para wisatawan untuk datang dan berkunjung di sini.

Pada kali keempat penyelenggaraan festival ini, selalu saja ada hal baru yang saya temui dari Pesisir Selatan. Ya, Pesisir Selatan adalah daerah yang sudah tidak diragukan lagi keindahannya. Alamnya menyajikan pemandangan menyejukkan, budayanya masih terus langgeng dilestarikan dengan berbagai identitas khasnya, dan sarana olahraga yang khas seperti paralayang dan selaju sampan dapat ditemui di sini. Festival Langkisau menjadi ajang pesta rakyat yang menggabungkan ketiga faktor tersebut dan semarak perayaan yang didapati dari kegiatan semacam ini adalah hal yang menjadikan saya masih dapat terus terpesona akan keunikannya. Dirgahayu Pesisir Selatan, Semoga Terus Maju!

belitungnya pesisir selatan, bebatuan indah batu kalang

Belitung sudah begitu terkenal dengan bebatuan indahnya yang tampil pada layar sinema film “Laskar Pelangi”. Bebatuannya yang besar-besar dan terserak pada sepanjang pantai pulau ini menjadi pesona daya tarik para pelancong untuk mengunjunginya. Fenomena alam seperti ini tak selalu dapat ditemukan di tempat lain, namun daerah Pesisir Selatan rupanya memiliki susunan bebatuan yang mirip dan bisa membuat orang terpesona akannya. Batu Kalang, salah satu pantai di Pesisir Selatan inilah yang bisa dikatakan sebagai Belitungnya Pesisir Selatan tanpa perlu pergi ke Belitung untuk dapat melihat susunan bebatuan alamiah yang indah ini.

bk1 Saya sebenarnya belum berkesempatan untuk berwisata ke Belitung untuk dapat melihat langsung keindahan alam pantainya yang sudah menjadi perbincangan banyak orang. Belitung dengan keunikan pesona alam berupa bebatuan adalah penarik orang untuk mengunjunginya. Kalau suatu saat ada kesempatan bertandang ke pulau yang satu ini, tentu saya akan menyempatkan untuk mengabadikan momen berada di tempat yang indah itu. Namun, saat berada di Ranah Minang ini, rupanya tak perlu merepotkan saya untuk dapat menikmati pesona bebatuan alam serupa yang dimiliki Belitung itu. Saya mendapatkan kabar bahwa ada Belitungnya Pesisir Selatan yang harus dikunjungi selama masih berada di tempat rantau saya ini. Belitungnya Pesisir Selatan itu adalah Pantai Batu Kalang yang terletak di daerah Tarusan.

Daerah Tarusan memang dikenal sebagai tempat yang masih menyimpan berbagai pesona alam yang belum ter-ekspose ke khalayak umum. Belum banyak orang yang mengabarkan tentang pesonanya dan penduduk lokal sendiri kebanyakan masih belum memahami pesona alam yang sebenarnya mampu menarik orang mengunjunginya di tempat mereka sendiri. Ada Mandeh dengan panorama sebaran pulau-pulau yang dapat dinikmati dari kejauhan, ada Cubadak yang menyajikan karang-karang cantik untuk diselami, ada pulau-pulau kecil lainnya yang belum terjamah dan juga belantara alami hutan lindung di sana. Tentunya Batu Kalang tidak bisa ditinggalkan dalam daftar potensi wisata yang ada di Tarusan ini.

bk3Batu Kalang sendiri merupakan salah satu dari sekian banyaknya objek wisata Tarusan yang relatif mudah untuk dijangkau. Tidak seperti objek lainnya yang masih membutuhkan kemudahan akses untuk dapat mengunjunginya, jalanan menuju tempat ini masih terhitung mudah dijangkau dan tidak akan membuat tersesat bagi yang pertama kali menujunya. Dari kota Padang, daerah Tarusan berjarak sekitar 1 jam perjalanan dengan kendaraan mobil sebelum memasuki daerah Painan. Tarusan merupakan kota kecamatan terdekat dengan kota Padang di Pesisir Selatan. Pada jalur pertigaan utama yang disebut dengan Simpang Tarusan dari daerah ini ambil arah ke kanan (jika berangkat dari Padang) dan ikuti satu-satunya jalan yang sudah ada hingga menuju percabangan. Pada percabangan yang ditandai dengan semacam gardu pintu masuk yang masih dibangun, ambil arah kiri dan melaju hingga ujung buntu jalan. Pada ujung buntu jalan inilah, akan ditemukan pantai dengan garis pesisir yang panjang dan itulah Pantai Batu Kalang. Dari Simpang Tarusan hingga sampai ke pantai dibutuhkan waktu hanya sekitar 15 menit perjalanan mobil.

Rasa penasaranlah yang membuat saya tergerak untuk melihat langsung pesona dari Batu Kalang ini. Dari cerita yang saya dengar sebelumnya juga memang banyak yang menyerupakan Batu Kalang ini dengan bebatuan Belitung. Namun, waktu itu saya kurang mempercayainya dan butuh menyaksikan sendiri seperti apakah wujud nyata dari pantai ini dan apakah pantas untuk diserupakan dengan Belitung yang sudah teramat terkenal di nusantara. Bersama teman saya yang sudah lama menetap di Painan, kami mencoba untuk mengunjunginya. Sebelumnya saya pernah mencoba untuk ke sana, namun karena hari sudah hampir petang, saat itu saya mengurungkan untuk benar-benar sampai di pantai tersebut, hanya sampai setengah perjalanan saja. Pada kesempatan selanjutnya, saya rencanakan sebaik mungkin agar dapat lebih leluasa menikmati pemandangan pantai ini dan alhamdulillah perjalanan saat itu berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan.

Jujur pada kesempatan pertama tiba di pantai ini kesan saya sebenarnya biasa-biasa saja. Pantai ini hampir serupa dengan pantai yang ada pada umumnya. Garis pantainya lumayan panjang dan menekuk seperti huruf L. Ombaknya tidak terlalu besar dan airnya relatif dangkal sehingga aman untuk direnangi. Pada beberapa lokasi terdapat warung-warung yang lazimnya ada di tempat wisata, namun masih belum begitu banyak. Dari jumlah orang yang saat itu berada di pantai ini juga terhitung sedikit. Saya sempat mengalami keraguan apakah saya sudah berada di tempat yang saya inginkan atau salah arah waktu itu.

bk2Namun, keraguan itu sirna setelah saya menemukan bebatuan indah yang menjadi daya tarik utama pantai ini. Bebatuan itu rupanya baru dapat ditemukan setelah berjalan kaki hingga ke ujung pantai sebelah barat, maka akan tampak bukit yang semakin melandai dan di bawahnya berserakan bebatuan besar berwarna kekuningan. Inilah bebatuan yang sering dibandingkan dengan bebatuan Belitung itu. Saya langsung takjub melihat fenomena alam ini. Saya tidak menyangka bebatuan besar ini masih utuh tegak kokoh bertebaran di sepanjang ujung pantai ini. Air laut saat itu relatif dangkal dan menjadikan saya mudah melewati bebatuan itu dan menikmati pemandangan yang ada. Kombinasi warna biru laut serta pasir putih ditambah dengan kuningnya bebatuan ini adalah warna alam yang begitu sempurna di mata saya. Tak jauh dari batu-batu ini juga ada beberapa pohon bakau dengan akar-akarnya yang mencuat ke permukaan dan menambah kaya kombinasi warna alam yang ada.

Itu tadi kesempatan pertama saya dapat menikmati pesona Batu Kalang ini. Pada kesempatan selanjutnya, saya mengunjunginya lagi dan mendapati air laut pada saat itu lebih surut dari sebelumnya. Ternyata dari kunjungan kedua saya ini, saya mendapati kejutan tambahan dari pantai ini. Dari ujung barat pantai ini rupanya masih bisa dilewati pada arah sebaliknya menyusuri ujung perbukitan yang melandai. Surutnya air waktu itu menjadi kemudahan bagi saya dan teman untuk dapat lebih menjelajahi apa yang istimewa dari pantai ini. Pada balik bukit ini rupanya masih ada garis pantai yang memanjang dengan pasir yang lebih halus dan putih dari pantai sebelumnya. Ujung dari garis pantai ini juga didapati tumpukan bebatuan dengan warna yang lebih gelap dan besar.

Saya sangat menikmati pemandangan yang tersaji dari pantai Batu Kalang ini. Walau sebenarnya saya belum dapat membandingkan lebih seksama antara Belitung dengan Batu Kalang, namun untuk sementara ini, tentu Batu Kalang yang sudah saya kunjungi ini menorehkan kesan yang mendalam. Kebesaran Ilahi tampak benar di pantai ini. Bebatuan ini walaupun tertanam di dalam pasir, tetapi kokoh tetap berdiri. Sapuan ombak sering menerpa bebatuan ini, apalagi kalau air laut mengalami pasang. Namun, bebatuan ini tetap berada pada posisinya masing-masing. Tersebarnya tidak beraturan ini juga yang menjadikannya lebih berseni dan terlihat indah. Kalaupun air laut pada faktanya mengikis secara perlahan bebatuan ini, tetapi inilah keajaiban alam dengan alur waktunya yang sudah teratur.

Duduk di atas batu besar yang ada di sana dan menerawang pemandangan samudera jauh di depan mata menjadi satu momen yang hanya dapat dirasakan di sini. Batu Kalang yang artinya dalam bahasa setempat sebagai batu penghalang ini sebenarnya tidaklah menghalangi orang untuk lebih merasa dekat dengan alam, justru sebaliknya, siapa pun akan dapat merenungi keagungan ciptaan Tuhan yang tersaji langsung di hadapan kita.

Bebatuan Belitung boleh jadi ternyata lebih unggul dan indah dari Batu Kalang ini. Namun, mau apa pun bentuk pesona alam yang tersaji dari keduanya itu, kalau orang yang mengunjunginya belum dapat merasakan kenikmatan pesona alam ini, maka percumalah jauh-jauh melancong ke tempat semacam ini. Bebatuan indah ini menjadi satu tanda yang seharusnya mampu membuka benak kita untuk menyadari pesona alam dan semakin merasakan kebersatuan dengannya. Dengan kebersatuan ini, akan ada kesan yang mendalam, cinta yang merekah, dan kepedulian yang tumbuh pada tempat semacam ini.

P1140774Tuhan menciptakan bumi dengan berbagai pesona dan manusia diamanahi untuk menjaga dan memeliharanya. Tempat yang indah seperti Belitung dan juga Batu Kalang yang sudah saya kunjungi ini menjadi salah satu tanggung jawab bersama dari kita untuk tetap melestarikan kekayaan alam yang ada padanya. Berwisata menjadi hal yang kerap dilakukan dengan adanya tempat semacam ini. Ya, Batu Kalang saat ini belumlah sebegitunya ramai seperti Belitung, namun jika nantinya pamornya sudah melejit dan mampu menarik banyak orang mengunjunginya, semoga saja tidak ada kerusakan yang terjadi pada pesona alam yang begitu berharga seperti Batu Kalang ini.

serasa di atas segalanya, panorama puncak bukit langkisau

Nama bukit yang satu ini menjadi judul lagu yang terkenal dari penyanyi lagu Minang ternama, yaitu Elly Kasim. “Langkisau, bukik langkisau… Tanang aie di Talaok… Tangiang kampuang maimbau.. Taganang si aie mato..” Demikian sepenggal bait dari lagu tersebut yang berjudul “Bukik Langkisau” itu. Tentu dengan adanya syair lagu yang menceritakan tentang keindahan panorama dari Bukit Langkisau ini menjadikan bukit ini hal yang istimewa di Painan. Banyak orang yang sudah berdecak kagum dan mengakui bahwa memang ada keistimewaan tersendiri dari pesona bukit yang satu ini. Pesona itu menjadikan orang yang berada di puncaknya itu serasa berada di atas segalanya.

2013-04-27 10.30.38Pada masa awal-awal saya di Painan, selalu saja banyak orang di sekitar saya mendengungkan mengenai beberapa pesona painan. Mereka menceritakan bahwa pesona inilah yang menjadikan Painan dapat dikenal sebagai tempat yang tepat untuk berwisata menikmati keindahan alam. Salah satu di antaranya adalah panorama Puncak Bukit Langkisau. Bukit satu ini yang terlihat jelas saat sudah memasuki kota Painan menjadi tempat yang mesti dikunjungi oleh para pelancong wisatawan katanya.

Bukit Langkisau merupakan perbukitan yang berderet memanjang pada sisi sebelah utara kota Painan. Jika menyusuri jalan yang sudah tersedia di pinggir sebelah selatan bukit ini, maka pada penghujung jalan akan ditemui kawasan wisata Pantai Carocok. Tidak jauh sebelum kawasan pantai, akses menuju puncak Bukit Langkisau dapat dilalui melalui jalan beraspal yang menanjak. Jadi, tidak perlu bersusah payah mendaki bukit ini, Bukit Langkisau kini sudah bisa dinikmati dengan berkendara menuju puncak. Mudahnya akses ini menjadikan bukit ini lebih terbuka untuk semua orang, utamanya bagi yang tertantang untuk melakukan paralayang dari atas puncak bukit ini atau sekadar menikmati panoramanya.

Ya, Bukit Langkisau sudah menjadi nama yang sangat dikenal oleh para pecinta olahraga paralayang. Pada salah satu sisi puncaknya, sudah disediakan tempat khusus bagi paralayang sebagai tempat pacu landasnya. Di sinilah mereka yang menyukai olahraga satu ini meregangkan parasut paralayangnya dan mengayunkan diri terbang mengarungi pemandangan Painan hingga menuju tempat mendarat di Pantai Salido tidak jauh dari Bukit Langkisau.

P1080403Kenangan pertama saya mengunjungi Bukit Langkisau adalah pada momen yang tepat dan sangat mengenang bagi saya. Kedatangan saya ke sana saat itu diniatkan untuk dapat menonton salah satu perhelatan tahunan yang sedang ramai dibahas banyak orang, yaitu lomba paralayang dalam rangka memeriahkan Festival Langkisau Tahun 2011. Momen yang memancing penasaran saya ini ternyata memang sangat memuaskan harapan saya. Sebelumnya saya belum pernah sama sekali melihat langsung bagaimana orang berparalayang dari tempat tinggi dan Bukit Langkisau menjadi tempat pertama kalinya saya langsung menyaksikan fenomena ini. Saya melihat bagaimana parasut itu dikembangkan dan paralayang itu melayang meliuk-liuk di udara perlahan turun sampai ke darat.

P1140295Tidak hanya pada kesempatan pertama itulah saya dapat melihat aktivitas paralayang ini. Pada kesempatan-kesempatan lainnya saya mengunjungi puncak bukit ini kembali, rupanya memang sudah menjadi hal yang biasa ada di sini bagi pecinta paralayang untuk menikmati keindahan alam Painan ini. Bahkan, pada bulan April tahun 2013 dulu, di bukit ini dihelat lomba Paragliding World Accuracy Competition 2013. Ajang ini merupakan lomba berkelas internasional mengikutsertakan para pecinta paralayang dari mancanegara untuk menguji seberapa tepat mereka melakukan pendaratan di titik yang sudah ditentukan. Pada acara ini, satu per satu paralayang terbang berayun beriringan hingga sampai ke titik pendaratan dan banyak orang berkerumun untuk menontonnya. Tentu dari lomba akbar semacam ini, Painan sendiri sebenarnya sudah bisa dikatakan sebagai kota dengan pemandangan untuk paralayang yang bagus dan menjadikannya lebih terkenal lagi untuk hal ini.

Bukit Langkisau sebenarnya menjadi begitu terkenal bukan hanya karena paralayang yang ada di sana. Namun, panoramanyalah yang menjadi pesona dan membuat orang terus datang mengunjunginya. Dari puncaknya ini ada dua pemandangan yang dapat dinikmati. Pada sisi utara atau sisi pacu landas paralayang, akan dapat dilihat pesisir nagari Salido yang panjang melintang dan laut tenang di sampingnya bersebelahan. Sedangkan, pada sisi selatan mempunyai pemandangan berbeda dengan deretan bangunan-bangunan di pusat kota Painan yang tampak begitu kecil dan mengelompok pada satu area kota. Pemandangan pada jalanan sebelum memasuki kawasan puncak malah menyediakan dua sisi pemandangan itu bersebelahan pada sebelah kiri dan kanan jalan. Pada salah satu sisi jalanan ini juga dapat disaksikan pulau cingkuak dari kejauhan dan teluk painan yang memanjang melengkung sebagai batas pinggir kota Painan.

Dengan terkenalnya panorama bukit ini, beberapa fasilitas dapat dikatakan sudah lumayan lengkap tersedia di sana. Jalan beraspal yang menanjak menjadikan daerah ini mudah diakses dan tidak menjadi sulit untuk berwisata dalam waktu yang lama di sana. Beberapa penduduk pun ada yang tinggal di sana dan membuka warung makanan atau juga menyediakan penginapan. Pada kawasan puncaknya sendiri, lahan parkir sudah diatur dan juga ada taman beserta gazebo kecil sebagai tempat duduk-duduk menikmati pemandangan.

P1140705Berdasarkan pengalaman saya, pemandangan yang paling bagus dan indah selama saya mengunjungi Bukit Langkisau ini adalah di saat sore hari. Pada saat-saat seperti ini, bukit ini rupanya menyajikan pemandangan yang memukau dengan tenggelamnya sang mentari yang dapat dinikmati langsung tanpa penghalang dari puncak Bukit Langkisau. Beberapa kali sudah saya ke sana di saat seperti ini dan selalu saja meninggalkan saya terkesima dan terpukau melihat pemandangan menakjubkan bergantinya hari menjadi malam dari atas bukit ini. Luasnya jangkauan pandang dan terbentangnya lautan disertai dengan matahari yang mulai bersembunyi di balik garis batas dengan laut menjadikan tempat ini sebagai tempat yang cocok untuk menikmati nuansa senja.

Saat sekarang ini, kawasan Bukit Langkisau sedang mengalami penataan ulang untuk menjadi kawasan wisata terpadu bersama Pantai Carocok yang sangat dekat dengannya. Akses jalanan yang mengitari bukit ini sampai ke Carocok sudah diperbaiki dan lebih diperluas mengingat semakin banyaknya arus transportasi menuju dua kawasan wisata ini. Beberapa bulan ini juga baru saja dibuka akses jalan lain baru lingkar sebelah utara yang mengitari bukit ini hingga menuju Carocok rencananya. Jalan ini belum selesai benar hingga sampai ke Carocok, masih ada sedikit ruas jalan yang perlu diselesaikan, tetapi sudah dapat dilewati dan banyak orang yang mengunjunginya. Kabarnya juga di sekitar kawasan ini akan dibangun fasilitas penunjang lainnya seperti penginapan dan taman pemandangan untuk wisatawan.

Semakin banyak orang yang mengenal, tertarik, dan ingin mengunjungi Bukit Langkisau ini, semakin dituntut pula berkembangnya kawasan ini. Pembangunan yang belakangan ini semakin pesat di sekitar Bukit Langkisau pada dasarnya adalah suatu hal yang dapat dimaklumi, walaupun meninggalkan beberapa perkara yang membuat ironis. Dibandingkan dengan saat awal mula saya mengenal bukit ini, saat ini wilayah hijau bukit ini semakin terpangkas dengan kebijakan penambahan ruas akses jalanan. Pada beberapa titik akan dapat ditemui bongkahan besar pengerukan bukit guna kepentingan tersebut. Seringnya hampir menjadi suatu fenomena yang berulang tiap kali ada pemekaran kawasan wisata yang saya temui di sini, berkembangnya kawasan belum tentu diiringi dengan baik kebijakan yang menormalisasi efek dari pembangunan itu dan mengembalikannya tetap berkesan sama. Kalau terus-terusan bukit ini dipangkas dan dibangun ini itu tanpa dikendalikan dan diatur, apalagi keistimewaan dari Bukit Langkisau yang tersisa untuk dapat dinikmati?

P1080417Dari kantor saya (KPPN Painan), Bukit Langkisau tampak begitu jelas di hadapan kantor karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari bukit ini. Bukit ini terlihat seolah seperti dinding hijau yang memberikan ketenangan dan keasrian bagi siapa saja yang memandangnya. Pepohonan rimbun dengan daun-daunnya yang berwarna hijau segar menjadikannya tampak seperti itu. Sebagai seseorang yang sudah beberapa lamanya berdiam di sini, Langkisau menjadi salah satu tempat kesukaan saya. Saya berharap bahwa bukit ini dapat mempertahankan pesonanya dengan panoramanya yang indah itu walau pembangunan semakin giat dilakukan di sana. Sepertinya saya sendiri sudah merasakan benar apa yang didendangkan oleh Elly Kasim dalam lagunya “Bukik Langkisau” itu, bahwa bukit yang satu ini selalu saja membuat orang yang pernah terpesona dengannya terngiang terus akan panorama yang elok itu…

kesegaran itu dapat terasa di air terjun timbulun

Air alami yang mendinginkan di tengah panas terik matahari, rimbunan pepohonan lebat berwarna kehijauan yang meneduhkan pandang mata, dan bebatuan raksasa yang tersebar di mana-mana untuk tempat berpijak, tiga unsur inilah yang merangkai menjadi satu dalam mahakarya Tuhan bernama Air Terjun Timbulun. Salah satu pesona Painan yang memberikan kesegaran setelah berpenat diri atas kesibukan duniawi. Timbulun dan airnya yang segar itu membawa kebersihan diri dan kesejukan bagi siapa saja yang merasakannya.

P1030535Saya selalu menyukai tempat yang satu ini. Air Terjun Timbulun adalah suatu pemandangan yang senantiasa membuat saya tak habis-habis terpukau akannya. Airnya terus menerus turun dari atas ke bawah tanpa henti membentuk kolam air yang tenang dan berlanjut mengaliri sungai yang berhilir di laut. Kolam inilah yang menawarkan kesegaran khas Timbulun itu. Orang-orang dapat bermain air dan mandi di sana dengan asyiknya, pun termasuk saya yang sudah beberapa kali ke sana.

Timbulun termasuk air terjun yang unik. Yang saya ketahui, air terjun ini terdiri dari dua tingkatan. Tingkatan pertama merupakan air terjun dengan ketinggian yang cenderung rendah hanya sekitar belasan meter. Pada tingkatan ini, air terjun mengalir turun pada lazimnya tiga aliran utama yang bercabang. Kolam di bawahnya berupa cekungan yang dibatasi dengan berserakannya batu-batu besar sebelum kemudian air mengalir menuju sungai. Pada tingkatan kedua yang dapat ditempuh dengan jalan setapak mendaki di sebelah kiri daerah air terjun tingkat pertama, akan ditemukan air terjun yang lebih tinggi dengan air yang cenderung jatuh mengalir di antara bebatuan yang tersusun curam. Inilah yang lebih membuat mata tercengang akan keajaiban alam yang terbentuk di Timbulun. Selain air terjunnya sendiri, terdapat tebing bebatuan raksasa menjulang tinggi di sebelah kanan air terjun. Kolam air juga ada pada tingkatan ini dengan ukuran yang relatif sama pada tingkatan pertama. Kabarnya, selain dua tingkatan yang sudah saya ketahui ini, Timbulun masih mempunyai tingkatan lain di atas yang relatif sulit dijangkau. Air terjun bertingkat-tingkat ini jelas berbeda daripada jenis air terjun pada umumnya.

P1060306Adalah warna hijau yang sangat mendominasi pemandangan mata di daerah Timbulun. Pepohonan serta tanaman tumbuh dengan lebatnya di sini dan tentu dedaunanlah yang berperan memberikan kesan hijau. Tak hanya hijaunya pepohonan, air di kolamnya terwarnai dengan nuansa hijau. Ya, sepertinya lumut-lumut hijau di dasar kolam yang mewarnainya. Gradasi warna hijau pada kolam ini menunjukkan tanda kedalaman air. Semakin tua warna hijaunya, maka itu tandanya air di daerah itu sudah dalam. Warna hijau yang mendominasi ini memang layak berada di Timbulun. Warna yang identik dengan kesegaran dan kealamian ini sangatlah menggambarkan apa yang bisa diperoleh di sini.

Tak perlu susah payah untuk dapat pergi ke Air Terjun Timbulun. Letaknya yang sekitaran 4 km dari pusat kota ini mudah ditemukan. Sebelum memasuki daerah Perumnas di Painan Timur, akan ditemukan gerbang selamat datang pada Objek Wisata Air Terjun Timbulun beratap gonjong khas Rumah Gadang Minang. Dari gerbang ini, tinggal ikuti jalan beraspal lurus sekitar 1,5 km hingga akhirnya ada belokan setelah jalan menurun. Ambil arah ke kanan keluar dari jalan beraspal menuju jalan beton yang pendek. Jalan ini hanya sampai pada undakan tangga yang kemudian berlanjut dengan jalan setapak. Memasuki daerah jalanan setapak ini, pemandangan mulai berubah. Aliran sungai tampak di sebelah kiri dan alam mulai membentang dengan pepohonan nan rindang dan hijau. Ikuti saja jalur setapak satu-satunya ini yang akan mengantarkan hingga ke tujuan utama, Air Terjun Timbulun.

Kenangan pertama saya dengan Timbulun adalah suatu perjuangan ketika itu. Dengan berbekal info seadanya tentang arah Timbulun, saya berangkat dengan jalan kaki mempertimbangkan relatif dekatnya jarak yang sekitar 4 km itu. Walau sedekat itu, ternyata dengan cuaca terik panas khas Painan yang dekat pantai ini lumayan membuat deras peluh keringat bercucuran. Kepanasan saya ini seketikanya terhambur menguap begitu saja ketika menemukan aliran sungai sebelum air terjun utama. Peluh yang sedari tadi membanjiri tubuh dibasuh dengan air yang sangat menyegarkan dari Timbulun. Dari aliran sungai ini, saya susuri hingga menuju air terjun utama.

P1030519Dari kejauhan, sudah terdengar derasnya air yang terjun mengalir. Semakin mendekati arah suara ini, mata saya langsung terpana melihat langsung penampakan dari Air Terjun Timbulun tingkatan pertama. Jiwa kekanak-kanakan keluar dengan sendirinya dan asyik gembira riang bermain dengan air kolam di sekitar. Setelah puas dari situ, iseng-iseng menyusuri jalan mendaki ke atas dan lagi-lagi terdengar gemuruh derasnya air. Saya seakan diberikan kejutan level kedua di sini. Dengan ketinggian air yang lebih tinggi dan kolam yang relatif lebih dangkal serta banyaknya bebatuan untuk berpijak, tempat ini menjadi tempat kesukaan saya.

Sudah beberapa kali saya pergi ke tempat ini dan kesan pertama yang saya rasakan tak pernah berkurang. Saya akan selalu girang bermain air dan mengagumi pemandangan alam yang mengesankan ini. Bahkan pun, beberapa teman telah saya ajak ke tempat ini dan juga berpendapat hal yang serupa. Painan menjadi satu paket wisata yang lengkap dengan pesona pantainya, panorama bukitnya, dan ditambah dengan kesegaran air terjunnya.

Air Terjun Timbulun ini memang terhitung masih belum dikenalkan ke khalayak publik. Banyak orang yang sepertinya belum mengetahui adanya permata alam tersembunyi di daerah Painan Timur ini. Malah dulu saat pertama kali mengunjunginya, sepertinya hanya saya seorang saja yang berada di sana. Ahahaha seakan menjadi kesempatan pribadi yang eksklusif untuk dapat merasakan kesegaran ini sendiri.

Sepinya daerah ini ternyata selain dipengaruhi oleh belum dikenali oleh banyak orang, juga dipengaruhi oleh masih perawannya lingkungannya di sini. Hal ini berarti diperkirakan masih ada fauna-fauna liar yang berkeliaran di sekitar sini, termasuk yang berbahaya yaitu ular. Menyadari hal ini sempat membuat saya urung berkunjung ke sana selama beberapa bulan karena takut akan bahaya semacam itu. Namun, setelah dipertimbangkan dan kerinduan yang teramat sangat dapat merasakan kesegerannya itu, selama berhati-hati dan selalu waspada di sini, insya Allah tidak ada hal buruk yang terjadi. Belakangan ini juga saya baru tahu bahwa Timbulun ini menjadi daerah dilakukannya balimau paga, semacam tradisi bersih diri sebelum memasuki bulan puasa yang dilakukan oleh Orang Minang.

Namun, beberapa saat lalu, saya menghampirinya kembali, ada beberapa perubahan yang mengganggu tempat ini. Kealamian daerah Timbulun ini dirusak dengan semakin banyak sampah bertebaran di mana-mana. Jelaslah hal demikian akan merusak lingkungan, seharusnya ada kesadaran dan fasilitas agar sampah itu dibuang pada tempat semestinya. Selain itu, di samping daerah Timbulun ini sedang dikerjakan proyek pembangunan pipa penyaluran air yang besar-besar dan panjang menuju kota. Pada satu sisi ini adalah kabar baik dengan adanya penambahan kapasitas aliran air yang dialirkan untuk kebutuhan masyarakat, tetapi pada sisi sebaliknya pembangunan selalu membawa konsekuensi tidak ramah lingkungan jika tidak dilakukan analisis mendalam mengenai dampak lingkungan secara tepat.

Timbulun dengan kesegarannya itu selalu membuat saya ingin ke sana apalagi jika cuaca Painan sedang panas-panasnya. Airnya yang begitu jernih dan terasa dingin ini akan melepas kekotoran yang ada pada diri. Lebatnya hutan hijau yang terbentang di sekitarnya akan menjadi pemanja mata dengan keteduhannya. Bebatuannya dalam berbagai macam bentuk dan tersebar di mana-mana akan menjadi tempat untuk duduk dan menenangkan diri mengagumi karya alam ini. Di sinilah kesegaran akan dapat dirasa, melepas setiap penat entah itu dari cuaca bumi yang memang kian hari kian memanas atau juga dari setiap jenuh rutinitas kehidupan.

carocok, nama yang sudah masyhur

Satu hal yang pertama kali saya kenal tentang Painan adalah tentang pantainya, yaitu Pantai Carocok. Pada setiap informasi yang saya cari tentang Painan dari dunia maya sebelum saya benar-benar singgah di sana, hampir kesemuanya mengaitkan Painan dengan Pantai Carocok ini. Benar-benar membuat saya penasaran saat itu. Seperti apakah Pantai Carocok ini sampai begitu lekat sebagai ikon Painan? Ketika itu, saya yang terhitung jarang mengunjungi pantai, sangat antusias untuk dapat benar-benar merasakan langsung pesona pantai ini. Dari foto yang beredar saja, saya sudah merasakan betapa menyenangkannya jika ada kesempatan untuk ke sana.

P1070834Saya ingat awal-awal ketika saya pertama kali berada di Painan ini. Imaji tentang Pantai Carocok begitu sering mengusik saya. Informasi yang saya dapat dari pegawai sekantor mengatakan bahwa letak dari pantai ini terhitung masih dekat lokasinya dari kantor. Ya, kota Painan ini sebenarnya bisa dibilang kecil, ke mana-mana tidak membutuhkan jarak perjalanan yang jauh sampai ke batas kota. Hal sepertilah yang membuat saya terusik, kalau memang mudah untuk dapat menemukan pantai ini dan juga jarang-jarang ada pantai dalam jarak yang sepertinya terhitung masih dekat ini, kenapa tak bersegera saja mengunjunginya?

Sekitar dua kilometeran rasanya jarak antara kantor saya dengan pantai ini. Dua kilometeran! Jarak yang memang dekat sekali. Kesempatan pertama kali saya ke sana ketika itu iseng sendirian dan meminta petunjuk dengan diantarkan oleh tukang ojek setempat. Dengan ongkos Rp 2.000,- saat itu dan perjalanan yang hanya dalam hitungan menit, saya sudah sampai di pantai yang disebut-sebut ikonnya Kota Painan itu.

Melihat pantai ini, saya langsung kalap gembira keriangan. Saya yang memang bisa dibilang sudah terbiasa dengan alam lereng pegunungan khas Salatiga, begitu senang dapat menemukan pantai yang jarang-jarang saya lihat kalau bukan diniatkan untuk kesempatan wisata. Ya, kali ini tanpa harus merencanakan suatu wisata dalam perjalanan jauh pun, saya dapat mengunjungi suatu pantai dengan mudahnya di sini. Mungkin inilah juga yang menjadikan pantai ini sedemikiannya terkenal untuk Painan. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota dan akses transportasi ke sana pun juga mudah.

P1030114“Selamat datang di Objek Wisata Pantai Carocok” tulisan pada suatu lereng landai inilah yang menjadi penanda kalau sudah sampai di Pantai Carocok. Memasuki area pantai ini, ada jalan setapak yang sedikit menanjak kemudian berbelok menurun hingga menuju kawasan utama pantai. Ah, saya jadi teringat. Awal mula saya ke sini, saya malah mengira kawasan utama pantai ini adalah pada lahan area parkirnya. Ahahaha, beginilah jadinya kalau datang pertama kali sendirian tanpa pemandu. Lahan luas yang berbatasan laut dan dibatasi dengan bebatuan penahan ombak itu saya kira dulunya adalah area utama. Walau baru sebatas sampai di area parkir saja, saya sudah terpesona dengan pemandangan yang ada. Saya dapat melihat tampak jauh kota Painan ini yang rupanya berupa teluk dan Pantai Carocok ini berada pada semenanjung sebelah utaranya. Berhadapan persis dengan area parkir pantai ini ada barisan perbukitan hijau dan pelabuhan kecil Panasahan yang merupakan semenanjung sebelah selatan. Terlihat dari sini, air laut pada teluk ini yang ombaknya kecil menggoyang-goyangkan perahu-perahu bagan nelayan. Pemandangan yang masih orisinil menurut saya.

Itu baru area parkir saja yang sudah menyajikan pesonanya, saat masuk area utama, saya semakin kegirangan. Pantai ini layak memang menjadi ikon Painan! Pantai ini dihiasi dengan jembatan-jembatan dermaga yang dapat dilintasi untuk menyusuri pantai. Sayang pada saat itu jembatan yang masih berupa kayu-kayu ini tampaknya kurang meyakinkan dapat bertahan lama. Selain jembatan yang melingkari kawasan pantai, ada juga jembatan khusus yang menghubungkan pantai dengan pulau yang sangat dekat dengan pantai ini, yaitu Pulau Kereta. Pulau ini relatif kecil dan tampak seperti gundukan bebatuan yang penuh dengan pepohonan sebenarnya. Beberapa warung tampak berjejeran di pinggir pulau dan ada juga beberapa perahu kecil yang ditambatkan dekat dengan pulau ini. Adanya pulau kereta tampaknya juga menjadi keunikan dari Pantai Carocok.

P1030123Kesan pertama kali mengunjungi Pantai Carocok sangatlah berkenang bagi saya. Saya mendatanginya di saat yang tepat. Saat itu saya mendatanginya seusai pulang kantor dan bertepatan dengan momen matahari tenggelam yang tampak dari pantai ini. Seolah-olah di hadapan saya ketika itu tersaji lukisan alam yang tiada duanya dengan pulasan warna langit khas senja. Sayang, saya tak sempat menikmati momen ini sampai mentari benar-benar bersembunyi, ada urusan yang saya perlu benahi kala itu.

Jelasnya dengan pengalaman pertama kali seperti itu, membuat saya tak puas hanya mengunjungi pantai ini hanya sekali. Bahkan pun, hingga sekarang bisa dibilang saya sudah berkali-kali mengunjunginya, tetapi tetap saja tak ada kata bosan yang menghampiri benak saya saat berada di sana. Saya malah merasakan pada setiap kali kunjungan ke pantai ini, ada-ada saja pesona yang baru kali itu saya temukan dan membuat saya merasa dekat dengannya.

Bermain-main melewati air laut yang menggenang surut dan tampak batu karang ditumbuhi rumput-rumput laut itu adalah hal yang menjadi kesukaan saya untuk dilakukan di sini. Jernihnya air laut juga tak jarang membuat saya berkesempatan melihat banyak ikan-ikan unik khas tropis berenang dengan lincahnya. Sekadar iseng melintasi jembatan dermaga dan menikmati pemandangan juga sering saya lakukan. Beberapa tempat menjadi persinggahan kesukaan saya, seperti di sekitaran pinggir pulau Kereta yang berupa bebatuan atau gazebo kecil yang sayang kurang terawat. Menyantap serat kelapa muda dan airnya langsung dari buahnya juga merupakan kenikmatan tersendiri di tengah panasnya khas Pantai Carocok di siang hari.

Pantai Carocok bisa dibilang sebagai salah satu dari bagian kesatuan paket wisata Painan. Ya, dari pantai ini, tidak perlu jauh-jauh untuk dapat menikmati pesona Painan lainnya. Dengan menyeberang melalui perahu-perahu speedboat kecil selama sekitar 5 menit, maka Pulau Cingkuak sudah dapat dijangkau. Pulau ini malah menurut saya menyimpan lebih banyak pesona daripada Pantai Carocok. Pantainya yang putih, reruntuhan puing benteng Portugis, dan terumbu karang yang tersebar di sana merupakan hal yang masih asli dan alami yang dapat ditemukan. Selain Pulau Cingkuak, ada juga Bukit Langkisau yang masyhur juga sebagai ikon Painan. Melalui perjalanan menanjak menyusuri jalan beraspal, akan dapat disaksikan panorama khas dari ketinggian yang sering membuat takjub banyak orang.

Ada banyak perubahan memang yang saya dapati dengan membandingkan kenangan pertama ke sini dengan kondisi sekarang. Perluasan lahan areal parkir dengan penimbunan pantai secara masif, perbaikan jembatan dermaga dengan mengganti kayu-kayu yang sudah lapuk dengan beton yang lebih awet, pemangkasan perbukitan yang saya dengar katanya akan dibangun jalur jalan alternatif menuju ke pantai sini, dan berbagai macam pembangunan yang terus bergeliat memodifikasi pantai ini.

Ah, modifikasi pantai. Untuk saya yang sebenarnya pecinta orisinalitas suatu daerah, agak menyayangkan hal seperti ini. Kealamian yang saya temui dari pantai ini pertama kali sudah mulai berubah sekarang. Memang pada satu sisi ini adalah hal baik dengan pembenahan sarana-sarana penunjang untuk wisatawan dapat menikmati pantai. Namun, konsekuensi pembangunan yang sering tak ramah dengan lingkungan ini menggerus kealamian yang sebenarnya menjadi pesona tersendiri untuk Pantai Carocok.

Apalagi belakangan ini arus wisatawan yang datang ke sini dapat terbilang meningkat pesat. Bahkan pun, setiap akhir pekan saya ke sini, pantai sudah sesak dipenuhi oleh para wisatawan. Keramaian semacam ini yang malah sering membuat saya tak nyaman karena tak bisa bebas menikmati pesona pantai sepenuhnya. Akibat dari keramaian ini juga menimbulkan pemandangan sampah yang banyak berserakan di mana-mana dan jelaslah ini merusak kealamian dan keindahan Pantai Carocok.

Memang pembangunan ini masihlah dalam tahapan proses, belum rampung benar sehingga kekacauan-kekacauan ini sedikit mengganggu saat berada di sini. Dengan peningkatan arus wisatawan semacam ini memang dibutuhkan perluasan lahan dan pembenahan tata ruang pada pantai ini. Semoga saja pemerintah dapat mengatur kebijakan yang tepat untuk Pantai Carocok agar pesonanya itu tidak semakin memudar, bahkan akan lebih terkenal lagi tak hanya di Ranah Minang ini saja.

Saya yakin suatu saat jika pengelolaan kawasan wisata ini berjalan dengan penuh tanggung jawab, menyeimbangkan keharmonisan alam, tak hanya orientasi pada profit semata, dan juga dengan perencanaan tata ruang yang matang, maka Pantai Carocok ini akan terus menjadi ikonnya Kota Painan dan namanya juga akan masyhur menyebar luas ke seluruh Nusantara