untuk ananda sholeh kami yang pertama

Ananda yang sholeh,
Baru saja Ayah telah mengetahui dan menyaksikan betapa perjalanan Ibunda melahirkanmu ke dunia ini penuh dengan perjuangan. Sembilan bulan bukanlah waktu yang sebentar. Mungkin nantinya kau akan menganggap cerita semacam ini adalah hal lazim yang sering diutarakan oleh khalayak orang. Akan tetapi, setiap orang tua memiliki ceritanya tersendiri tentang kelahiran buah cintanya.

Perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya memang merupakan pergulatan fisik, emosi, ruhani yang sangat dahsyat. Namun, jika kau berada pada posisi seorang suami yang mendampingi istrinya dalam proses itu, akan terasa bahwa momen melahirkan buah hati adalah perjuangan yang betul-betul luar biasa nan istimewa untuk kami kedua orang tuamu.

Kami sebagai orang tuamu sangat menantikan hadirmu dalam keluarga kita ini dari sejak awal mula pernikahan. Bermula dari dua garis merah pada uji tes kehamilan di hari Senin, 9 Januari 2017, antusiasme kami bertambah dan kegembiraan menyeruak di dalam benak kami. Bentukmu ketika diperiksa oleh dokter ahli kandungan barulah berupa kantong janin yang begitu kecil. Terhitung hari pertama hari haid ibundamu adalah 27 November 2016 yang nantinya diperkirakan 3 September 2017 adalah hari perkiraan lahirmu.

Ananda yang sholeh,
Sejak kami mengetahui ada kehadiranmu di tengah-tengah kami, maka kami berusaha menjaga keberadaanmu. Pada bulan-bulan pertama, Ayah mendampingi Ibundamu yang kesakitan dengan mual dan muntah yang hampir selalu datang. Sempat kami mengkhawatirkan bagaimana asupan gizi untukmu, namun selalu kami usahakan agar dirimu dapat berkembang tumbuh di dalam rahim dengan baik.

Kesulitan yang dijumpai pada saat itu adalah tentang pekerjaan ibundamu. Dengan mual muntah yang sering terjadi mengakibatkan ibundamu tidak dapat bekerja sepenuhnya. Aktivitas banyak yang terganggu dan ibumu lebih banyak untuk beristirahat.

Bulan demi bulan kami terus memantau tumbuh kembangmu. Masya Allah kami selalu takjub dengan gerakan-gerakanmu di dalam rahim sana setiap kali terpantau. Doa demi doa selalu teriring agar kau senantiasa sehat dan kuat.

Masa-masa mual muntah kemudian berganti dengan masa yang lebih tenang untuk ibundamu. Tubuh ibundamu sudah kuat menyesuaikan keberadaanmu dan gerakanmu kini benar-benar terlihat oleh indera kami tak hanya sekadar dari pantauan hasil tes suatu mesin. Kami pun mempersiapkan barang-barang kebutuhanmu nantinya. Selain itu juga, menata rumah yang kita huni ini agar semakin nyaman dengan kehadiranmu.

Ananda yang sholeh,
Kami berusaha untuk memantau pergerakan tumbuh kembangmu kepada ahlinya. Sebagai orang tua tentu kami berusaha memberikan yang terbaik. Dari satu opini ke opini lainnya, dari satu wawasan ke wawasan lainnya. Kami serap itu, bahkan ibundamu menyempatkan di sela kesibukan pekerjaan untuk menimba ilmu terkait dengan kehadiranmu.

Usia kehamilan ibundamu semakin bertambah. Sudah hampir mendekati empat puluh minggu keberadaanmu di dalam rahim ibundamu. Masa-masa inilah yang menegangkan dan menjadi klimaks dari perjalanan mengantarkanmu ke dunia.

Kamis siang, 31 Agustus 2017, ibundamu mulai merasakan kram di perutnya. Awalnya dikira sakit biasa namun seiring waktu bertambah sakit dan rutin. Malamnya adalah malam takbiran menjelang perayaan Idul Adha dan rasa sakit itu semakin sering. Malamnya kami tak bisa tidur karena gelombang cintamu yang terus hadir di perut ibundamu. Hingga kemudian Ayah putuskan untuk membawa ibundamu pada rumah bidan dan rupanya per Jumat, 1 September 2017 pukul 03.30 barulah bukaan satu.

Kami dihimbau pulang oleh bidan karena waktu persalinan masih lama. Di rumah, ibundamu berusaha susah payah untuk mengelola gelombang cinta yang kau berikan. Gelombang itu jelas semakin bertambah dan intens. Jumat petang ibundamu semakin gundah dan kami kembali menuju ke rumah bidan kembali.

Ananda yang sholeh,
Adalah Bidan Rina namanya, bidan inilah yang menjadi rujukan tempat yang kami pilih untuk menyambut kehadiranmu. Kami dapatkan info mengenai praktek Bidan Rina yang mengkhususkan pada metode gentle-birth. Suatu konsep yang mengutamakan persalinan dengan cara yang natural, ketenangan, serta perawatan pascapersalinan yang tepat. Dengan Bidan Rina, kami sempat mengikuti kelas persiapan kelahiran yang sangat membuka wawasan dan memantapkan kami untuk menerapkan metode persalinan ini.

Per Jumat, 1 September 2017 pukul 20.30 kami dapatkan kabar kemajuan bahwa sudah bukaan empat. Setelah pengecekan, kami beranjak pada kamar nifas dan Ayah saksikan semakin bertambah gelombang cintamu. Malam hening itu dihiasi oleh suara ibundamu yang mencoba bertahan dan Ayah berusaha selalu menenangkan.

Bukaan demi bukaan terjadi pada mulut rahim ibundamu. Waktu yang lama dalam upaya bertahan atas gelombang cintamu. Dalam metode gentle-birth, calon orang tua harus bersabar, berpikiran positif, serta terus mengupayakan proses persalinan dijalani dengan senyaman mungkin. Teorinya mungkin sekilas mudah, namun realitanya sering ditemukan titik-titik di mana sulit mempraktekkannya, tetapi kami terus berusaha menerapkan sebaiknya untukmu.

20170903_081530Setelah melewati berjam-jam masa penantian kehadiranmu, lahirlah kemudian dirimu, ananda sholeh kami yang pertama, ke dunia pada hari Sabtu, 2 September 2017 pukul 12.57 di kota Malang. Kami pilihkan nama yang baik bagimu yaitu “Ahsanul Khuluq Affan” yang artinya “yang baik akhlaknya di Keluarga Affan”. Namamu ini terinspirasi dari beberapa penggalan hadits

“Ya Allah, Engkau telah memperindah rupaku, maka perindahlah juga akhlakku (HR Ibnu Hibban)”
“Mukmin yang sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Abu Daud)”

Dari penggalan ini, telah menginspirasi kami untuk mendoakanmu melalui pilihan nama sebagai ananda sholeh yang indah akhlaknya dan yang paling baik. Allahumma aamiin.

Untukmu ananda sholeh kami yang pertama, Ayah ulas cerita ini. Kelahiranmu di dunia adalah momen yang sangat berharga dan tak ingin untuk dilupakan. Melalui cerita ini, Ayah harap bahwa dirimu dapat mengetahui sejarah kelahiranmu serta hikmah pelajaran yang dapat dirimu selalu ingat. Berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu keharusan dengan perjuangan serta tanggungan amanat besar untuk merawat anak menghadapi dunia.

Sebagaimana terlantun doa yang selalu kami panjatkan dalam menyongsong kehadiranmu

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Semoga doa ini dikabulkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Selamat datang ke dunia, ananda Ahsan yang sholeh. Semoga Allah merahmati keluarga kita selalu.

Dari kedua orang tuamu,
Ayah dan Ibunda Keluarga Affan

Anas Isnaeni dan Afifah Az Zahra

Malang, 3 September 2017

Iklan

kuliah kembali : bertemu lagi dengan akuntansi

Alhamdulillah sudah berjalan satu tahun masa pendidikan tugas belajar S-1 yang sedang saya jalani pada jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Menempuh jenjang pendidikan ini setelah sekitar 6 tahun tidak mengecap bangku kuliah, ada suka-duka tersendiri yang saya alami. Sebelumnya saya lulus dari jenjang Diploma III spesialisasi Akuntansi pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (Politeknik Keuangan Negara STAN, sekarang) di tahun 2010. Perjalanan hidup yang kemudian mengantarkan saya bertemu kembali dengan akuntansi ini merupakan satu bagian yang hendak saya kenang bagaimana hingga saya dapat meraih kesempatan ini.

Melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dulu termasuk hal yang membuat saya banyak berpikir untuk memutuskannya. Banyak kesempatan dan alternatif yang tersedia untuk dapat diambil, namun seringnya terjadi tarik-ulur untuk berusaha meraihnya hingga tanpa disadari waktu berjalan hingga 6 tahun lamanya. Sebagai lulusan STAN yang terikat dengan peraturan mengenai kedinasan dan instansi tempat saya bekerja, saya tidak diperbolehkan untuk langsung melanjutkan pendidikan setelah tamat program diploma. Menurut aturan saat itu, saya baru diperbolehkan melanjutkan kuliah setelah dua tahun dari masa kerja.

Pada tahun 2012-lah, kesempatan itu datang pertama kalinya dengan dibukanya seleksi program diploma IV STAN. Saya mengikutinya dengan persiapan yang belum optimal karena saat itu pekerjaan begitu masif pada akhir tahun anggaran. Hasilnya saya tidak lolos pada seleksi tersebut. Sangat mengecewakan bagi saya saat itu, apalagi dengan adanya rekan sejawat yang dinyatakan lolos. Memang kemudian pada tahun selanjutnya, tahun 2013, seleksi DIV STAN dibuka kembali dan lagi-lagi pada penghujung tahun. Saya mengikutinya kembali dan mengalami kegagalan juga.

Tahun 2014, pengumuman mengenai seleksi penerimaan mahasiswa tugas belajar/beasiswa semakin banyak, baik itu DIV STAN, S-1 STAR BPKP, dan lainnya. Di tahun inilah juga berdasarkan aturan, saya diperbolehkan untuk menjalani pendidikan ke jenjang lebih tinggi atas inisiatif sendiri, bukan tugas belajar atau sederhananya kerja sambil kuliah yang nantinya diakui oleh instansi. Namun sayangnya pada saat itu, saya kurang bersemangat untuk dapat bangkit belajar kembali setelah dua kali kegagalan berturut-turut. Pada tahun itu pula, pekerjaan saya semakin bertambah dan kompleks, sehingga seringkali saya terlampau fokus pada pekerjaan.

Barulah kemudian pada tahun selanjutnya, 2015, saya tertarik dengan seleksi penerimaan beasiswa internal instansi saya. Sebelumnya di tahun 2014 juga sudah diumumkan seleksi serupa, namun saya belum memenuhi persyaratan, yaitu dua tahun masa PNS. Seleksi penerimaan ini bekerjasama dengan beberapa universitas ternama di Indonesia dan skemanya juga masih tugas belajar. Saya cenderung untuk mengejar skema tugas belajar karena saya tidak yakin apabila mengambil skema pendidikan atas inisiatif sendiri apakah saya mampu membagi waktu dan tenaga untuk bekerja sekaligus kuliah.

Seleksi penerimaan beasiswa internal S-1 Direktorat Jenderal Perbendaharaan tahun 2015 pun saya ikuti. Bentuknya hampir serupa dengan tes seleksi DIV STAN pada saat itu dengan  ujian TOEFL dan Tes Potensi Akademik (TPA) menjadi bahan ujian ditambah psikotes. Perbedaan yang cukup menjadi kendala adalah lokasi ujiannya. Untuk ujian DIV biasanya diselenggarakan di Padang (yang lebih dekat dengan kota tempat saya tugas saat itu, Painan), sedangkan seleksi S-1 ini diselenggarakan di Medan dengan ongkos perjalanan ditanggung oleh peserta sendiri. Perbedaan lainnya pada kekuatan persaingan, seleksi DIV merupakan seleksi yang ketat dengan jumlah peminat yang lebih banyak dan meliputi seluruh eselon I pada Kementerian Keuangan, sedangkan pada seleksi internal peminatnya lebih sedikit dengan kemungkinan diterima yang lebih besar (peserta hanya dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan saja).

Walaupun saya sudah membekali diri dengan persiapan yang lebih baik daripada pengalaman saya ikut seleksi DIV dulu, sayangnya saya dinyatakan tidak lolos dalam seleksi internal pada tahun ini. Menanggapi kegagalan ini, saya tidak terlalu ambil pusing dan kembali sibuk dengan pekerjaan. Barulah pada tahun 2016, seleksi penerimaan beasiswa internal dibuka kembali dan saya mengikutinya. Tahun ini adalah tahun spesial bagi saya dengan status saya yang sudah tidak single lagi, sudah ada pendamping hidup yang selalu mendukung saya.

Memang pada tahun 2016 ini, persiapan saya lebih santai dan saya sudah lebih legowo dengan apapun hasilnya dari seleksi ini. Pada seleksi-seleksi sebelumnya saya selalu dihantui dengan ketakutan akan kegagalan, namun pada tes kali ini tidak saya temui hal serupa. Dukungan psikis dan doa dari istri selalu menguatkan saya. Dari tes pertama pada seleksi ini, yaitu seleksi administratif, berlanjut ujian tertulis, dan akhirnya seleksi wawancara saya lalui, selalu ada keoptimisan yang menjadi penyemangat saya. Hingga kemudian diumumkan kandidat final untuk penerima beasiswa internal S-1 pada tahun 2016, nama saya muncul di dalamnya dengan jurusan yang diterima pada Akuntansi Universitas Brawijaya (UB), Malang.

Ya, saya memilih Akuntansi kembali. Padahal untuk seleksi S-1 ini jurusan yang ditawarkan tidak hanya akuntansi saja. Sengaja saya memilih akuntansi karena dalam urusan pekerjaan saya rupanya sangat bersinggungan dengan urusan akuntansi ini. Pada masa-masa awal saya bekerja dulu sebagai bendahara sekaligus penyusun laporan keuangan kantor, jelas pemahaman akuntansi sangat dibutuhkan untuk dapat melakukannya. Kemudian saat saya dipindahkan pada seksi Verifikasi, Akuntansi, dan Kepatuhan Internal, dari namanya saja pekerjaan saya hampir selalu berkaitan dengan akuntansi. Bahkan saat itu, saya pun ditugaskan untuk berbagi ilmu dan wawasan mengenai akuntansi yang diterapkan pemerintah untuk operator satuan kerja dalam bentuk sosialisasi/pendampingan/bimbingan teknis. Walaupun ada kalanya akuntansi terasa menjemukan dan rumit, tetapi saya merasakan akuntansi adalah pilihan yang tepat.

Dalam perjalanan pendidikan lanjutan ini, saya temui akuntansi lebih luas lagi cakupannya dan lebih menantang. Dengan jeda selama sekitar 6 tahun tidak kuliah, seringkali membuat saya susah menyesuaikan dengan pola akademis yang sangat intens dengan diskusi, penugasan, dan media olah pikiran lainnya. Materi-materi yang saya dapati untuk perkuliahan S-1 ini juga lebih kompleks dari yang saya pelajari dulu di D-III STAN. Walaupun hampir serupa konsentrasi/spesialisasinya untuk akuntansi sektor publik/pemerintahan, materi akuntansi STAN sangat dominan dengan praktek terapan baku dari akuntansi pemerintahan yang ada di Indonesia, sedangkan materi akuntansi S-1 UB ini lebih luas cakupannya dengan memperkenalkan keterkaitan dengan materi-materi lainnya. Hal yang cukup memberikan perbedaan lainnya adalah pengalaman pekerjaan saya dulu dengan akuntansi menjadikan saya lebih paham dan terbuka mengenai bagaimana penerapan teori akuntansi pada prakteknya ketimbang dulu saat D-III hanya mengenal teorinya saja, belum dapat membandingkan dengan praktek yang ada di lapangan.

Sekarang tersisa dua semester (satu tahun) lagi yang harus saya jalani untuk dapat menyelesaikan jenjang S-1 ini. Dalam perjalanan menuju akhir ini, semakin intens dan rasanya hampir mendekati klimaks. Walaupun skema tugas belajar membebaskan pegawai untuk fokus pada kuliah tidak perlu bekerja, tetap saja membutuhkan perhatian yang khusus untuk mendapatkan hasil yang optimal. Beberapa waktu yang lalu, sempat tubuh saya drop dan mengalami sakit demam berdarah sekaligus typhus yang sepertinya disebabkan oleh bertubi-tubinya beban akademik. Dari pengalaman ini, menjadikan saya harus lebih menyeimbangkan sesuatunya.

Saya menginginkan hasil yang terbaik dari perkuliahan yang saya tempuh pada beasiswa internal S-1 ini, tidak semata mengenai IPK yang bagus, tetapi juga pemahaman yang lebih mumpuni untuk diterapkan pada dunia pekerjaan selanjutnya. Mengingat kesempatan beasiswa ini juga merupakan kesempatan yang berharga dan saya dapatkan setelah penantian yang lama, sehingga tidak boleh disia-siakan tentunya. Semoga untuk bagian selanjutnya dapat saya jalani lebih lancar dan baik lagi hingga pada akhirnya nanti.

(dalam hitungan hari sebelum Semester 3 dari program 4 semester akan dimulai)

Malang, 24 Agustus 2017

kalimat pertama

Kalimat pertama itu penentu. Sebagai permulaan dari sebuah tulisan, ia membutuhkan energi. Energi yang akan memacu munculnya kalimat-kalimat yang baru. Atas suatu ide yang tiba-tiba tercetus dan perlu untuk dijabarkan, kalimat pertamalah yang menjadi kunci untuk lebih mudah menguraikannya.

Kalimat pertama adalah tanda kecocokan untuk dapat berketerusan mengulas suatu ide. Perlu berulang kali untuk mengubahnya disesuaikan dengan ide cemerlang yang menjadi intisari dari suatu tulisan. Untuk menarik para pembaca tulisan, jelas kalimat pertamalah yang menjadi kesan pertama. Kesan pertama ini juga berlaku bagi sang penulis agar ia lebih bersemangat mengulas ide yang dimilikinya.

Mencari kalimat pertama itu sulit. Memadu kata untuk disusun menjadi kalimat penggugah untuk kalimat-kalimat selanjutnya adalah tantangan bagi sang penulis. Dari sekian banyaknya perbendaharaan kata, perlu dipilih mana yang terbaik untuk dapat menggambarkan kecemerlangan ide yang hendak dipaparkan. Tentang memilih kata itu, wawasan yang luas dapat membantu dengan membaca berbagai macam tulisan menginspirasi yang tersebar di mana-mana.

Sayangnya kalimat pertama bukanlah penjamin sepenuhnya atas suatu tulisan dapat dilanjutkan hingga selesai. Tuntasnya suatu tulisan tergantung pada jabaran ide yang terus mengalir di dalamnya. Jika ide tiba-tiba lenyap di tengah jalan, maka sulit untuk melanjutkannya kembali karena tak ada lagi yang bisa diulas di dalamnya.

Tak disangka memang dari satu kalimat saja dengan disertai kerangka ide yang sudah begitu menggebu di pikiran akhirnya dapat membentuk suatu jenis tulisan. Walaupun sebenarnya semua kalimat mempunyai ruhnya masing-masing, tetapi kalimat pertama sangat berbeda. Dengan bermula dari suatu awal yang bagus, maka hal-hal yang baik akan menyertai. Suatu tulisan, walau tak selalu,  dapat dituntaskan dan memuaskan sang penulisnya dengan kalimat pertama yang tepat. 

Ah, mungkin ini kesulitan yang sedang kualami.. Kalimat pertamalah yang selalu kucari-cari.. Untuk dapat memulai dan mengurai ide menjadi sebuah tulisan…

Malang, 20 Juli 2017

untuk menulis kembali

Sudah lama saya membiarkan blog ini seperti rumah kosong yang ditinggalkan oleh penghuninya. Tercatat postingan saya terakhir pada bulan Januari 2017 lalu, yang berarti hampir tujuh bulan lamanya blog ini terbengkalai. Sangat disayangkan memang. Semula saya menginginkan untuk dapat rajin mengisi blog ini dalam basis harian, nyatanya terlampau lama ditinggal hingga berbulan-bulan baru dapat diisi kembali.

Sebenarnya ada banyak hal yang hendak saya ceritakan dan dituangkan dalam postingan blog, namun kesemuanya berhenti pada sebatas gagasan saja. Tidak dikembangkan, ditindaklanjuti, dilakukan, hingga kemudian gagasan itu pergi lenyap entah ke mana. Pun untuk sekadar bercerita berbagi pengalaman peristiwa-peristiwa yang saya alami pun juga urung direalisasikan. Padahal dulunya berbagi cerita semacam ini begitu mudah saya lakukan dan bagi melalui blog. Apalagi niatan saya untuk mendokumentasikan kenangan peristiwa berharga dalam kehidupan saya melalui blog begitu kuat di jaman dulu. Sekarang ini? Perlu berpikir sampai berkali-kali untuk dapat menuangkan tulisan yang sekadar berbagi kenangan dan pengalaman.

Hal inilah yang membuat saya perlu melakukan introspeksi. Ada apakah yang terjadi? Kenapa sangat jarang mengisi blog lagi? Belakangan saya merasa malu dan tidak relevan lagi jika saya menyebutkan hobi saya adalah menulis melalui media blog. Itu hobi saya yang sudah dulu lama ditinggalkan dan sekarang terhenti sayangnya. Memang kalau dicari-cari alasan kenapa tidak rajin mengisi blog lagi, ada saja yang dapat dijadikan sebagai pembenaran. Padahal sebenarnya ada waktu yang dapat diluangkan untuk dapat bertutur tulisan melalui blog setiap harinya.

Memang saya merasakan mulai menurun aktivitas menulis saat saya sudah menikah. Awalnya saya berkeinginan untuk lebih produktif sesudah beristri, tetapi banyak peristiwa yang terjadi dalam sekejap hingga akhirnya rasanya tak ada waktu untuk menulis. Mungkin inilah hal yang terjadi kepada beberapa teman-teman saya sesama penulis saat dulu pernah saya komentari semakin jarang menulis semenjak mereka menikah. Dengan berkeluarga dan juga rutinitas kehidupan lainnya, menjadikan waktu luang untuk menulis sangatlah berharga. Walaupun begitu, masih ada banyak teman saya penulis yang menjadi contoh teladan tetap rutin menulis sesibuk apapun mereka. Saya sangat salut kepada mereka.

Pada catatan yang saya simpan, banyak terdapat gagasan yang terserak untuk dapat dikembangkan menjadi tulisan. Setelah menikah juga, sebenarnya ada banyak sekali hal yang dapat diceritakan. Banyak momen perubahan yang saya alami sebagai bahan cerita yang dapat digali, dari pernikahan (dari kisah bagaimana perikatan terjadi, awal penyesuaian hidup berdua, dan banyak kisah lainnya cukup dari tema ini), beasiswa pendidikan S-1 yang saya dapatkan, kesan tentang kota Malang yang saya tinggali sekarang ini, dan berbagai macam momen lainnya. Saya sangat menyayangkan jika momen-momen seperti itu berlalu tanpa ada jejak tulisan yang suatu saat nanti akan mengingatkan kepada saya kembali bagaimana momen itu terjadi.

Untuk dapat menulis sebuah gagasan ataupun sekadar cerita pengalaman sekarang ini rasanya agak susah. Menilik ulang isi blog saya selama ini, memang ada perubahan gaya dalam menulis. Perubahan ini seiring dengan perkembangan pemahaman saya akan idealnya suatu tulisan yang dapat dipublikasikan melalui blog. Dulu postingan saya terhitung lumayan banyak dengan gaya tulisan yang kelewat santai, ringan, bahkan kalau dalam istilah sekarang ini cenderung ‘alay’. Belakangan ini saya mencoba mengarahkan blog saya dengan tema yang spesifik seperti introspeksi harian dan juga makna dari suatu foto. Tema ini rupanya membuat saya lebih berpikir dalam mengisi blog dan tentu membutuhkan alokasi waktu serta tenaga yang lebih banyak untuk dapat menyelesaikannya.

Dengan perlu waktu yang lebih lama dalam menuntaskan suatu tulisan yang menurut saya pantas untuk diposting pada blog, hal ini sepertinya yang menjadikan saya lebih banyak menggunakan platform media sosial lainnya ketimbang blogging. Padahal pada media sosial lain sebenarnya belumlah memberikan kepuasan yang setara dari blogging. Saya cenderung lebih menyukai tulisan yang panjang baik sebagai penulis maupun pembaca. Dari blogwalking sering didapati banyak inspirasi dan juga tambahan wawasan serta interaksi yang lebih sehat. Dengan sering blogging pada saat dulu, saya merasakan hangatnya budaya saling mengunjungi postingan antar-blogger dan komentar  yang akrab darinya. Namun, seiring dengan intensitas blogging saya yang berkurang,maka hal ini semakin berkurang juga.

Era sekarang ini juga membuat saya perlu lebih hati-hati dalam membuat tulisan. Dengan memuat suatu tulisan, akan ada konsekuensi yang menyertai walaupun itu tulisan ringan sebenarnya. Kebanyakan pembaca tulisan sekarang ini lebih ganas dan pedas dalam berkomentar. Jika mengangkat suatu gagasan dan belum siap untuk dikomentari, maka lebih baik untuk urung dalam mempublikasikannya. Sering saya ingin mengangkat dan membahas isu hangat terkini yang berkembang di masyarakat, tetapi mengingat pada platform media sosial sering terjadi benturan pendapat, saya belum siap untuk menghadapi hal semacam itu pada blog saya sendiri. Saya lebih menginginkan blog saya ini menjadi media untuk berbagi wawasan yang positif bukan menjadi media untuk berdebat dan malah memicu perseteruan.

Saya rindu untuk dapat merasakan aktivitas blogging seperti dulu lagi. Butuh komitmen, niat, dan tekad yang kuat sebagai kunci yang selalu harus dipegang untuk dapat lebih giat dalam blogging. Menulis dan berbagi memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Seringkali saya lupa bahwa menulis itu sebenarnya adalah proses yang ditujukan untuk kepentingan pribadi, sebagai media untuk menyimpan memori dan media aktualisasi diri. Walaupun memang dengan berbagi tulisan melalui blog mengubah suatu tulisan menjadi konsumsi publik, tetaplah blog adalah media privat yang menjadi ruang pribadi bagi penulisnya. Dengan begitu, melalui blog, seharusnya seorang penulis lebih bebas untuk mengungkapkan berbagai macam gagasan dan ceritanya.

Tema semacam ini yang berusaha untuk meneguhkan kembali kebiasaan menulis sudah berkali-kali saya wacanakan dalam berbagai tulisan. Perlu sering ada pengingat memang untuk dapat konsisten melakukan sesuatu. Naik turunnya suatu aktivitas adalah hal yang wajar, tetapi perlu dikendalikan agar tetap pada jalur yang tepat. Begitu juga dengan menulis pada platform blog ini. Saya sangat tertarik dengan dunia tulis menulis dan mempunyai cita-cita untuk berkarya dalam media tulisan. Setidaknya blog menjadi wadah yang tepat untuk dapat melatih diri dalam meraih hal tersebut. Oleh karena itu, saya mulai kembali bangkit untuk menata semangat agar dapat menulis kembali. Semoga saja tidak perlu lagi ada tulisan yang saya buat untuk mengingatkan pada suatu saat nantinya tentang betapa pentingnya menulis itu. Jika semangat menulis meredup, kiranya cukup mencamkan satu nasehat yang pernah saya tulis dan selalu menampar saya untuk bangkit kembali…

“Sempatkanlah menulis sebagaimana kamu lebih menyempatkan hal-hal yang sebenarnya tak jauh lebih penting dari menulis…”

Malang, 11 Juli 2017

tiga bagian dalam perjalanan hidup

​Terlahir bayi dari rahim seorang wanita. Ini menjadi penanda awal mula kehidupan. Bayi yang semula tumbuh berkembang di dalam perut ibundanya, telah keluar menghadapi dunia yang sesungguhnya. Dikenalkan kepadanya perangai dunia beserta pernak perniknya oleh orang di sekitarnya. Semua orang tua berharap sangat anak yang telah mereka besarkan menjadi sosok yang terbaik dalam urusan dunia maupun akhiratnya. Doa demi doa dipanjatkan di awal mula dilahirkannya seorang bayi yang masihlah tak tahu apapun agar siap untuk memahami hidup beranjak dewasa.

Terjalin hubungan dengan seseorang yang menjadi pilihan hati. Ini adalah bagian yang mesti menjadi babak baru dalam hidup seorang manusia. Ia tak hanya berpikir tentang dirinya seorang, tetapi harus meluas, mencari pasangan hidup, memutuskan pilihannya, dan membentuk keluarga. Ia juga tak bisa lagi bergantung pada orang tua yang telah membesarkannya. Kemandirian sangat dituntut pada bagian ini, apalagi kedewasaan menghayati persatuan dua insan dalam satu mahligai rumah tangga. Hubungan yang terjalin dinyatakan jelas dan terikrar dalam akad pernikahan. Semua hadirin menyaksikan perjanjian agung dan darinya tak bisa lagi menjadi setengah-setengah dalam bertindak apalagi bermain-main. Doa demi doa dipanjatkan di awal mula diselesaikannya akad yang mengguncang singgasana Ilahi agar keberkahan senantiasa menaungi dua insan untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Terenggut nyawa oleh malaikat pencabut nyawa atas takdir yang sudah ditentukan.  Ini merupakan titik dari kisah hidup manusia. Titik yang memisahkan antara dunia dan hidup setelahnya. Ada berbagai macam hal yang mampu merenggangkan nyawa. Kematian menjadi sosok yang selalu menakutkan karena tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan bagaimana hal itu terjadi, kecuali Sang Maha Menentukan. Sudah sepatutnya, manusia mengingat-ingat hidupnya hanyalah sementara dan amalan di dunia itu menentukan apa yang ia dapati untuk akhiratnya. Doa demi doa dipanjatkan oleh para pelayat saat melihat sosok yang terbujur kaku diselimuti kafan putih, tak lagi ada nyawa di dalamnya, dan ruhnya telah berada di alam yang menanyakan apa yang dikerjakannya selama di dunia.

Tiga bagian dalam hidup (kelahiran, pernikahan, dan kematian) adalah titik-titik yang menentukan. Tiap bagian itu, dituliskan lembaran yang baru, tak bisa sama dengan bagian yang sebelumnya dijalani. Pada tiga bagian ini, selalu menjadi momen untuk berdoa memanjatkan hal-hal yang baik untuk terjadi selanjutnya. Titik-titik ini menjadi penting untuk didoakan agar tak ada salah cacat yang merusak dalam perjalanan hidup insan manusia hingga bertemu dengan Rabb-nya di hari akhir kelak.

(sebuah memoar pengingat akan tiga peristiwa beriringan yang terjadi dalam waktu begitu dekat.. kematian sosok panutan masyarakat di lingkungan tempat yang ditinggali, kelahiran bayi lelaki sholeh dari saudari kandung, dan pernikahan sepasang kawan)

Malang, 30 Januari 2017

bicara cinta

Cinta. Seperti apakah wujudnya? Bagaimanakah orang kemudian menyatakan pernah merasakannya? Lalu, pada batas-batas apakah cinta itu berbeda dari sekadar perasaan biasa lainnya?

Bisa jadi yang dirasakannya itu adalah tanda kekaguman. Sosok yang dulunya hanyalah dalam angan kemudian dapat ditemui dalam wujud nyata. Ideal, nyaris sempurna, begitu sangat diimpi-impikan sehingga senantiasa terbayang. Ketertarikan terus menerus menguat dengan hal-hal yang disukai ada pada sosok idaman.

Sayang, cinta jauh lebih rumit daripada tentang kekaguman semata. Dalam cinta tak ada tuntutan kesempurnaan. Tak perlu mencari yang begitu ideal untuk dapat saling dipersandingkan. Cinta lebih membutuhkan untuk saling melengkapi antar dua pribadi dengan setiap kelebihan dan kelemahannya. Jika tak mampu menerimanya, cinta hanyalah perkara yang sementara saja. Ketidaksempurnaan adalah keniscayaan.

Bisa jadi yang dirasakannya itu adalah gejolak nafsu. Gelora tubuh yang rentan tidak terkendali dapat membuat serangan membabibuta. Ketertarikan fisik akan menggerakkan imajinasi liar. Hasrat keinginan muncul untuk berbuat ini itu. Hingga bisa jadi terlewat dari batas-batas norma. Atas nama cinta, semacam ini sering didalihkan sebagai alasan pembenar.

Sayang, cinta bukan tentang gejolak nafsu naluriah yang ada pada manusia. Cinta berada pada tingkatan yang jauh lebih tinggi dan berderajat daripada itu. Kalau hanyalah tentang apa yang menggerakkan syahwat, apalah beda dengan apa yang dialami oleh binatang? Gejolak itu juga datangnya sesaat yang bisa jadi datang pada sosok lainnya dengan bentuk serupa yang menggoda. Padahal cinta membutuhkan kekhususan yang tidak memperkenankan permainan sesaat di dalamnya.

Jelasnya bicara cinta adalah bicara tentang perasaan. Perasaan itu seringkali tak mudah untuk dimengerti. Ia pun berubah-ubah sekehendaknya sendiri. Mengenalinya butuh pertanda yang kuat dan meyakinkan. Menyatakannya butuh kekuatan yang mengikatkan pada bukan sembarang konsekuensi. Maka dari itu, cinta perlu terus dibangun, ditumbuhkan, dan dikembangkan.

Cinta adalah refleksi jiwa. Tanyakan pada hati yang bisa menentukan darimanakah perasaan itu muncul. Dari akalkah, tubuhkah, atau jiwa? Jika ia muncul melewati dari sekadar kekaguman pikiran dan juga perasaan nafsu yang meluap-luap, maka ia datangnya dari kebutuhan jiwa.

Cinta adalah ibadah untuk pemujaan. Cinta menjadi pekerjaan hati yang dikaruniakan oleh Tuhan dengan adanya perasaan dan pikiran. Sudah sepatutnya cinta menjadi sebentuk balas budi kepada Sang Pencipta. Jika benar suatu rasa adalah cinta, maka ia harusnya akan lebih mempergiatkan ibadah mendekat pada-Nya. Tidak hanya memuja sang kekasih saja, tetapi dalam cinta itu ada asma Ilahi terucap meminta untuk dikekalkan ikatannya.

Hingga pada tingkatan akhirnya cinta yang sudah menjadi refleksi jiwa dan ibadah untuk pemujaan, akan sampai pada maksud dari kehidupan. Kehidupan tanpa cinta adalah kehampaan yang sangat lengang. Cinta itu fitrahnya menghidupkan. Dengan cinta, kebaikan demi kebaikan akan terus ada dan bersemi. Dunia menjadi indah dan manusia akan merasakan kebahagiaan dengannya.

Begitulah cinta jika kamu benar-benar telah merasakannya…

Pyar aatma ki parchhai hai… Ishq ishwar ki ibadat… aur Mohabbat zindagi ka maksad
Love (pyar) is the reflection of soul. – Love (ishq) is the worship of Lord. – And Love (mohabbat) is the purpose of life.
(a dialogue from Devdas (2002 film))

butuh contoh

Jika kau hanya sendiri, mungkin tak pernah kau dapati apa yang sebenarnya patut untuk dilakukan. Keadaan sekitar mungkin telah membentuk sedemikian rupa dirimu menjadi kian tidak peka. Sering memaklumi ini itu bahkan hingga terbiasa  dan tak perlu repot untuk peduli.

Padahal kesempatan-kesempatan itu ada jika memang mau dilihat lebih cermat. Kebaikan itu akan selalu ada di tengah berbagai macam upaya keburukan yang mengintai. Lalu, berdiam diri saja tak pernah mengambil kesempatan dalam kebaikan itu adalah opsi yang patut?

Butuh contoh. Butuh orang yang mencerahkan dan memberikan keluasan wawasan. Butuh untuk pengalaman dan membuka kemungkinan-kemungkinan lain yang sudah ada dan pernah terjadi di lain tempat. Jika hanya sendiri, kesempitan terasa nian. Ada kehendak untuk harus bertindak sesuatu namun terganjal karena tak tahu bagaimana caranya melakukan hal itu.

Contoh bisa menjadi penggerak yang ampuh. Karena dari contoh, dapat dilihat bagaimana caranya suatu kebaikan itu dilakukan. Dari contoh, akan terdorong keinginan berbuat serupa bahkan kalau bisa melampauinya. Apalagi jika hasil dari contoh itu menunjukkan kemanfaatan yang nyata terasa. Tentu akan ada dorongan untuk dapat mencapainya.

Contoh memang adalah hal tentang cara. Tentang tindakan jelas yang dapat dicermati lebih seksama dan kemudian ditiru dan diubah seperlunya menyesuaikan kondisi. Contoh datang dari hasil mengamati. Ia tidak datang dari diri sendiri, melainkan dari apa yang dilakukan oleh pihak lain.

Maka, lebih peka dengan keadaan sekitar perlu lebih diperhatikan. Jangan sampai terlalu fokus hanya tentang diri dan keterbatasan yang selama ini disangka diri. Bisa jadi ada kemampuan yang lebih namun tak pernah disadari jika tidak digali. Contoh membuktikan ternyata bisa dilakukan dari apa yang dikira tidak mungkin sebelumnya.

Peluang untuk melakukan kebaikan itu ada di mana pun dan kapan pun kita berada. Yang kemudian dipersoalkan adalah bagaimana cara untuk mengambilnya dan melaksanakannya. Cara itu dicari dari contoh yang sudah ada. Contoh adalah instrumen lengkap yang mengakomodasi lebih dari sekadar teori atau tataran konsep.

Sekarang jika sudah ada contoh tentang suatu kebaikan, masih bisa beralasankah lagi untuk enggan melakukannya?

(Painan, 13 Juli 2015)