kekacauan

Apa yang terjadi setelah perasaanku bercampur aduk? Tak disangka muncullah rentetan peristiwa yang tidak terduga padahal aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Pada satu sisi ini semakin kuatlah perasaan yang tak nyaman di dalam benak. Namun, ada hal yang tetap dapat dijadikan sebagai pembelajaran jika dilihat pada sisi lainnya. Apalagi peristiwa semacam ini bukanlah hal yang paling parah pernah dialami diri sebelumnya.

Tentang guncangan yang membuat diri segera beranjak menyelamatkan diri itu mengungkit perasaan yang sama di masa lalu. Dulu guncangan-guncangan semacam itu kerap dialami dan membuat diri lebih bersiaga dengan segala kemungkinan. Saat-saat itu terasa benar tak ada lagi yang bisa diperbuat, sangat tak berdaya akan kuasa Tuhan, dan hanya bisa pasrah akan ketentuan-Nya.

Saat seperti itu datang pada waktu yang tak dapat ditentukan, tiba-tiba saja, dan membuat semua manusia berhamburan menyelamatkan diri. Kekhawatiran menyeruak bertanya-tanya apakah akan terjadi peristiwa yang serupa atau yang lebih parah lagi. Semuanya bersiaga dan tidak berani  ke mana-mana hingga dinyatakan telah aman untuk kembali.

Guncangan adalah suatu bentuk peringatan. Ingat bahwa bisa jadi dalam sekejap saja semua menjadi hancur. Ingat bahwa kesempatan hidup itu benar-benar sesuatu yang patut disyukuri. Ingat bahwa ada kendali di luar jangkauan yang menentukan nasib manusia. Peringatan-peringatan ini sepatutnya menjadi tamparan keras bagi mereka yang masih terlena, lupa, dan tidak peduli seperti aku.

Guncangan itu menamparku. Guncangan itu membuatku merasakan kembali kepanikan dan ketidakberdayaan itu. Guncangan itu hadir kembali di saat aku memang telah lama tak ingat bagaimana rasanya. Jantung berdebar kencang, napas yang tersengal-sengal, dan pikiran yang berkecamuk. Kacau benar rasanya.

Lalu, tak berselang lama dari guncangan itu tadi, terjadi pemutusan sumber daya energi yang sering digunakan. Jam demi jam berlalu dilampaui dengan kebingungan. Ketergantungan pada sumber daya energi itu telah pada tataran yang mencemaskan. Seketikanya terjadi gangguan, lumpuhlah semua yang berhubungan. Lagi-lagi kekacauan tampak jelas di mana-mana.

Aku pun termasuk dalam kerumunan manusia yang mengeluh atas kejadian tadi. Komunikasi jarak jauh menjadi susah karena terputus penghubungnya yang menggunakan energi itu. Panas mentari siang yang biasa dapat ditangkal oleh mesin pengatur udara pun tak dapat digunakan. Menjelang malam secercah cahaya menjadi barang yang dicari-cari untuk dapat menyibakkan kegelapan yang mencekam. Semua orang sibuk berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang terbatas.

Dulu kejadian semacam ini adalah hal yang kerap dialami. Pada daerah yang sangat jauh tertinggal dari kemajuan ibukota, pemutusan sumber daya sudah seperti hal yang dimaklumi. Ketidakmerataan pembangunan tentu menyebabkan keterbatasan sumber daya. Dengan keterbatasan ini maka apalagi yang bisa dilakukan, tidak ada jaminan bahwa energi akan terus menerus disalurkan dengan baik di daerah ini.

Hari-hari itu adalah hari di mana tidak banyak hal yang bisa dilakukan pernah dialami. Mengeluh menggugat keadaan itu hanya membuang-buang energi. Yang kemudian dilakukan adalah mengalihkan pada kegiatan yang memang tak membutuhkan pemanfaatan sumber energi. Ketidakberdayaan itu mengingatkan kembali untuk berhubungan langsung dengan manusia lainnya tanpa perantara teknologi ataupun menikmati keindahan alam yang belum disentuh oleh modernisasi zaman.

Kekacauan demi kekacauan ini telah memberikan banyak pelajaran sebenarnya di masa lalu. Ketika ia terjadi lagi, maka seharusnya diri ini bisa menyesuaikan dengan segera. Namun, hati ini masihlah tidak tenang dengan perasaan yang bercampur aduk. Jika tempat ini sudah sedemikiannya tidak nyaman ditambah dengan kekacauan ini, bukankah lebih baik untuk tidak lagi berada di sini?

Jakarta, 6 Agustus 2019 22:25

Iklan

campur aduk

Hari-hari seperti ini benar-benar telah membuatku bingung. Terlalu banyak kejadian. Terlalu banyak hal yang dialami. Terlalu banyak lintasan pertanyaan dalam pikiran. Namun, semua itu berusaha kusimpan hanya dalam diri. Kutampilkan wajah yang sekilas tampak tenang seolah tak ada apa pun yang terjadi.

Aku masih terkejut dengan berbagai hal yang ditemui pada lingkungan dan keadaan yang baru ini. Masih perlu banyak penyesuaian karena tentu ini sangatlah berbeda dengan apa yang dulu dihadapi. Sudah berjalan hari demi hari, namun tetap saja, apa yang diterima masihlah terasa mengagetkan. Aku akui benar sekarang tentang ketidaksiapanku beralih pada situasi ini. Jelaslah perasaan sesal yang senantiasa membayangi. Apalah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki, hanya bisa sekadar menjalani dan melanjutkan saja tanpa tahu akan dibawa ke mana arahnya.

Perasaan-perasaan ini diperparah apabila teringat tentang kesendirian di riuh kota nan ramai ini. Kepada siapakah gunda gulana ini bisa diceritakan? Bagaimanakah rasa yang tak nyaman ini dapat dialihkan? Apa yang bisa dijadikan sebagai penenang dari kericuhan yang tidak disukai ini? Hanya sendiri berkecamuk dengan berbagai pertanyaan itu dan tak tahu bagaimana menyikapi kesendirian ini.

Kesendirian ini sangatlah berbeda dari apa yang dulu pernah aku alami. Kini ada kekasih hati yang selalu berdoa dan menanti agar dapat dipertemukan kembali. Sekarang aku pahami apa yang banyak orang katakan bahwa keluargalah segalanya dan jika jauh dari mereka akan terasa kerinduan yang teramat sangat. Ratusan kilometer membentang sebagai jarak yang memisahkan dan itu menyiksa. Kecanggihan zaman pun belumlah bisa menggantikan pertemuan langsung dengan mereka. Terasa benar bahwa hal inilah yang sekarang menjadi sangat berharga.

Aku tahu mengeluh bukanlah hal yang baik. Namun, semua perasaan tak nyaman itu bercampur aduk pada satu wadah yang sepertinya tak bisa dibendung lagi. Sekujur tubuhku mulai berjalan tak normal. Dari kepala yang tiba-tiba sering terasa sakit, kelelahan yang kemudian mendera diri menjadi enggan untuk beranjak, dan sinyal-sinyal lainnya yang diberikan untuk memberitahuku tentang ketidaknormalan itu. Sejenak beristirahat mungkin akan menghilangkan gejala-gejala ini, tetapi jika apa yang dihadapi masihlah sama, bukankah tidak mungkin hal ini akan berulang kembali? Jika memang ada kesempatan untuk bersua kembali dengan orang-orang yang dicintai dan mengisi kembali energi, bukankah energi itu akan terkuras habis lagi? Oh masa depan, sampai kapan ini akan terus dialami?

Situasi sekarang ini tidak banyak memberikanku pilihan. Ada ikatan di luar kendali yang membatasi diri untuk patuh berdiam pada tempat yang ditentukan sebagai pencaharian hidup. Aku harus menentukan dengan tepat, merencanakan dengan matang, serta mempersiapkan dengan segala risikonya tentang apapun yang akan diputuskan. Jika memang sudah menjadi suratan takdir untuk menjadi penghuni kota yang memang sudah sangat padat dan menjemukan ini, maka aku harus semakin tahan dengan campur aduk perasaan yang semakin rumit.

Ada banyak orang yang mengalami hal yang sama di kota ini, terpisah dari apa-apa yang mereka harapkan dan cintai. Aku harus banyak belajar dari mereka. Memang harus ada yang dikorbankan demi menjaga kewarasan diri dan terlihat normal. Manusia hanya bisa berusaha, menyimpan harapan di dalam benak, dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk diberikan yang terbaik. Semoga saja cerita tentang kota ini hanyalah sementara, sesederhana itulah harapanku kini.

Jakarta, 2 Agustus 2019 23:27

 

 

 

 

perlu kendali

Aku perlu selalu mengingatkan diriku tentang keberadaanku di sini. Tempat ini belum tentu menjadi tempat menetapku. Tingkah laku dan kinerja masihlah dalam masa penilaian. Tidak bisa sembarangan dan seenaknya sendiri. Posisi sekarang ini bisa jadi ada yang memandangnya hanya sebelah mata.

Ada yang suka dan memberikan sambutan yang hangat, tetapi pada sisi lainnya, ada juga yang tidak suka dan menyambut dengan dingin. Wajarlah jika ini terjadi karena pada lingkungan yang baru, beragam reaksi yang bisa jadi muncul. Aku terlampau merasa nyaman dengan kehadiran beberapa orang yang telah diakrabi, tetapi lupa rupanya ada orang yang masih menganggap kehadiranku sebagai orang asing.

Maka seharusnya aku pandai untuk menempatkan diri. Pada satu situasi bersama orang-orang yang diakrabi, tak apa jika memang bisa membaur berinteraksi. Sedangkan, pada sebagian kalangan yang memang tak ingin diusik keberadaannya, jagalah jarak sepatutnya agar tidak mengganggu.

Waktu telah berlalu sekian lama, pesan penting ini sempat terlupa. Lalu, terjadilah hal yang tidak menyenangkan manakala aku terlalu merasa dapat berinteraksi dengan semua pihak di tempat baru ini. Rupanya ada penolakan yang nyata-nyata disampaikan, ketidaksenangan yang menyeruak, dan menjadi pengingat kembali bahwa status posisi ini masihlah belum menjadi personel tetap di sana.

Masa percobaan ini memang sungguh melelahkan. Status yang belum ditetapkan ini memang menjadikan banyak batasan-batasan yang tidak boleh dilampaui. Aku perlu kendali yang kuat untuk terus ingat akan hal ini dan bisa menyesuaikan diri dengan baik. Semogalah masa ini cepat berakhir dan situasi akan menjadi lebih baik untuk selanjutnya.

Jakarta, 30 Juli 2019 22:42

back to work

Aku tahu kalau mengubah pola hidup kembali pada rutinitas yang dulu pernah dijalani itu tidak akan mudah. Dua setengah tahun lamanya jeda yang telah diterima. Jeda selama itu mungkin saja tidak akan pernah diterima kembali, sudah sepatutnya aku bersyukur atas kesempatan yang telah diberikan kepadaku ini. Kesempatan untuk mengembangkan diri dan menambah wawasan keilmuan kini perlu pembuktian dan juga balasan kontribusi atas apa yang telah diberikan oleh organisasi. Aku harus kembali bekerja, tidak bisa berlama-lama dengan jeda yang diberikan hanya untuk sementara waktu ini.

Ada suka duka dalam hal tentang kembalinya bekerja ini. Hal yang paling berat untuk dijalani adalah berpisahnya dengan keluarga. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk lebih baik berpisah. Aku di ibukota, istri dan anakku tercinta di kota bunga. Hidup sendirian saja di ibukota tentu tidak mudah, apalagi jika harus terngiang rindu dengan keluarga yang terpisah jauh ratusan kilometer di sana. Getir rasanya. Tak bisa dipungkiri berat rasanya saat hari itu tiba, hari di mana harus berangkat menuju kota yang sudah terkenal dengan keberingasannya dan meninggalkan keluarga yang dicintai. Saat itu, sangat berharap semoga ini hanya sementara saja, tidak akan lama untuk kemudian bisa berkumpul kembali. Harapan inilah yang menguatkan untuk melangkah, tak boleh mundur melihat ke belakang.

Dengan kembali bekerja, maka penghasilan yang diterima menjadi lebih besar. Ini adalah hal yang diakui memang menjadi salah satu alasan untuk kembali bekerja. Sudah jengah rasanya menghadapi keterbatasan keuangan yang pernah dialami. Nilai uang semakin hari semakin naik, beban tanggungan untuk menghidupi keluarga juga semakin bertambah. Bekerja juga berkaitan tentang aktualisasi diri. Pada masa-masa terakhir dari penugasan belajar, tak sabar rasanya untuk mengetahui perkembangan organisasi terkini dan peran apa yang bisa dilakukan untuk ikut andil urun tangan.

Aku masih ingat bagaimana hari pertamaku bekerja kembali berlangsung. Aku jelas merasa canggung, gagap, dan bingung dengan apa yang harus dilakukan. Pengalaman lima tahun lebih bekerja sebelum tugas belajar seakan tak ada apa-apanya. Semuanya kembali menjadi nol, berhadapan dengan hal-hal baru, dan perlu menyesuaikan dengan orang-orang yang baru juga. Kantor pusat tidak lagi sama seperti sembilan tahun yang lalu saat aku magang dulu, sudah banyak perubahan terjadi.

Dengan perubahan-perubahan yang telah terjadi itu, ada satu hal yang tetap sama. Kenangan atas status magang di masa lalu terasa kembali. Pegawai magang adalah pegawai dengan status yang belum jelas. Satu sisi dinyatakan sebagai pegawai yang ikut bekerja dalam satu unit tertentu, tetapi dengan status kantor asal yang masih menempel. Pegawai magang tak bisa diberikan pekerjaan yang sifatnya permanen, strategis, dan melekat pada personel tertentu. Yang bisa dikerjakan oleh pegawai magang adalah hal yang sifatnya berbentuk dukungan teknis ataupun administrasi rutin klerikal.

Tak masalah sebenarnya dengan status magang ini. Hal ini dapat dimaklumi karena bagaimanapun juga ada jeda yang cukup lama sejak terakhir kalinya bekerja. Justru inilah menjadi permulaan yang tidak menjadikan diri kaget, perlahan memulai kembali dengan urusan-urusan yang ringan. Ada waktu yang diberikan juga untuk mengamati, belajar kembali, dan mengejar ketertinggalan perkembangan yang selama ini terjadi.

Kegiatan magang ini berlangsung pada satu unit yang sama selama satu setengah bulan. Lebih lama dari yang dulu pernah dijalani sembilan tahun yang lalu. Dulu, berpindah-pindah dari satu unit ke unit lain dalam hanya hitungan beberapa minggu saja, sehingga tidak terdapat kesan atau momen yang teringat jelas. Satu setengah bulan rasanya sudah menjadi waktu yang cukup sebagai pembelajaran, sudah saatnya untuk beranjak pada unit lainnya untuk belajar hal yang lain.

Rupanya apa yang kemudian dialami pada unit lainnya adalah hal yang berbeda kontras. Kali ini pada unit yang berbeda, perlakuan yang diterima adalah pengalaman yang benar-benar baru dirasakan. Unit ini adalah sebenarnya unit yang tepat dan sesuai dengan latar belakang pendidikan yang telah ditempuh. Pengalaman kerja sebelumnya juga sangat berkaitan erat dengan apa yang menjadi tugas pokok dari unit ini. Unit ini tidak memperlakukanku sebagaimana pegawai magang biasa, justru bagi mereka aku seakan menjadi pegawai yang dinanti-nantikan untuk bergabung memperkuat lini kinerja unit ini.

Dalam hitungan hari, pekerjaan-pekerjaan yang spesifik mulai diberikan dan intensitas mulai meningkat. Sudah hampir dianggap seperti pegawai yang memang ditempatkan pada unit ini. Interaksi dengan pegawai lainnya juga lebih dekat dan hangat. Beberapa kawan lama yang sudah dikenali dan ada di situ juga membantu dan berbagi cerita tentang apa saja yang perlu diketahui. Tak ada rentang kendali yang jauh dan kaku antara atasan dan bawahan. Setiap personel memiliki tugas yang spesifik, wawasan keahlian yang sudah teruji, dan mau bekerja sama dalam satu tim yang solid. Tugas unit ini yang sangat strategis juga memberikan kesempatan untuk dapat bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi yang dulu hanya bisa diketahui dari media massa. Ada kalanya terjadi intrik-intrik kecil, tetapi itu tidaklah berarti dan dapat dimaklumi karena tidak ada organisasi yang sempurna.

Satu setengah bulan yang kedua di unit ini hampir berakhir. Begitu cepat terasa, banyak hal yang terjadi. Memang sepertinya unit terakhir ini menjadi tempat yang ideal. Akan tetapi, jika memang untuk selanjutnya ditugaskan benar di unit ini, akankah ini menjadi tempat yang terbaik bagiku? Padahal tetap saja, hidup di ibukota ini sungguh membuat hati sering merasa kacau, lelah, dan galau. Ibukota bukanlah tempat yang ramah untuk hidup berkeluarga juga, ada banyak tantangan menanti jika membawa serta keluarga nantinya ke kota ini. Beban kerja juga sudah dapat diperkirakan bahwa nantinya akan ada konsekuensi tuntutan yang lebih berat, sigap, dan aktif. Dengan sifatnya yang strategis, maka harus siap juga mengorbankan lebih banyak tenaga, waktu, dan pikiran.

Saat ini aku hanya bisa berdoa, berharap atas penempatan yang terbaik. Dengan total tiga bulan yang telah dijalani sebagai pegawai magang sebagaimana yang telah diatur oleh ketentuan, sepertinya status magang ini sudah cukup untuk dijalani. Ada dua sisi berlawanan yang telah dirasakan, memang belum sepenuhnya pengalaman ini dapat dikatakan sudah memadai dan membuat diri layak dinyatakan siap benar-benar bekerja kembali, tetapi berlama-lama dengan status magang ini pun juga tidak nyaman. Perlu ada kepastian dan kejelasan di manakah nantinya tempat untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang agar bisa ditentukan rencana aksi yang tepat untuk hidup yang lebih baik dan terarah.

Bekerja itu memang sudah menjadi fase bagian hidup yang harus dilakukan. Bekerja juga menjadi bentuk pengabdian yang telah mengikat diri untuk berbakti pada negara. Bekerja mengangkat status hidup yang lebih layak. Kini sudah saatnya untuk kembali bekerja setelah jeda yang sementara. Tugas belajar telah menjadi momen yang sangat disyukuri sebagai jeda yang sesuai untuk berkembang. Apa yang dulu pernah dipelajari semoga bisa bermanfaat untuk pelaksanaan tugas selanjutnya. Ini sudah menjadi saat yang tepat, tidak boleh lagi menyesal untuk kembali, dan semoga juga tidak berapa lama kemudian bisa diberikan kesempatan untuk tugas belajar pada jenjang yang lebih tinggi.

Jakarta, 29 Juli 2019 23:55

mengulas tugas perbendaharaan di tahun kedelapan

Rupanya sudah berjalan delapan tahun. Rasanya memang sudah banyak hal yang telah terjadi, tetapi aku tidak menyangka sudah berjalan selama itu. Delapan tahun sudah terikat pada suatu institusi yang bernama Direktorat Jenderal Perbendaharaan, unit eselon I pada Kementerian Keuangan yang tidak setenar Pajak maupun Bea Cukai.

Aku mencoba mengulas kembali apa yang telah berlalu. Pada delapan tahun yang lalu itu, tanggal 20 Oktober 2010, aku mengunduh sebuah berkas dari official website STAN di rumahku. Berkas itu adalah berkas yang sangat penting untuk menentukan pada instansi manakah nantinya ikatan dinas selepas masa kuliah di STAN akan dilaksanakan. Ya, berkas itulah yang memberikan keterikatan pada suatu instansi untuk mengabdi sebagai PNS selama 10 tahun atau lebih masa ikatan.

Pada berkas itu tertampang judulnya dengan huruf kapital “Pengumuman Biro Sumber Daya Manusia Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan No. PENG-02/SJ.5/2010 tanggal 19 Oktober 2010 tentang Pengumuman Penempatan Lulusan Program Diploma I dan III  STAN Tahun 2010 pada Kemenkeu, BPK, dan BPKP”. Lalu, pada lampiran 1 dan baris ke-81 barulah muncul namaku, Anas Isnaeni D-III Akuntansi Pemerintah, dan pada sisi sebelah kanan tertera “DJPB”.

c8dba113-7e98-4706-be53-9c22aa8aa928

DJPB, singkatan dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Ekspresiku terkejut saat membaca namaku bersebelahan dengan nama instansi ini. Terasa asing karena dari pengalaman senior-senior pada tahun sebelumnya tak pernah ada yang ditempatkan pada instansi ini. Baru pada tahun 2010 itulah, DJPB merekrut kembali lulusan D-III STAN. Terasa kecewa juga, walau tidak begitu menjadi persoalan, karena pilihan dan harapanku tidak sesuai dengan realita yang diterima. Aku merasa beruntung pada satu sisi lainnya, aku tidak masuk pada unit instansi yang tidak aku sukai/harapkan. DJPB berada pada tengah-tengah itu, instansi yang tidak begitu aku harapkan dan juga tidak menjadi daftar hitam instansi yang tidak aku sukai.

Singkat cerita, bulan Oktober tahun 2010 menjadi bulan yang berkenang dengan segala hiruk-pikuk yang terjadi pada saat itu. Yudisium, wisuda, pengumuman penempatan instansi, dan pemberkasan di kantor pusat semuanya dilalui pada bulan ini. Aku harus bolak-balik antara Salatiga dan Jakarta selama beberapa kali. Hingga kemudian pada awal bulan selanjutnya, proses internalisasi sebagai pegawai baru di DJPB berlangsung dengan kegiatan orientasi, motivasi, dan magang selama sekitar 7 bulan lamanya. Selang waktu ini, tidak banyak cerita yang terkenang karena pegawai magang bisa dibilang belum menjadi pegawai yang sepenuhnya, baru sebatas mengenali apa saja yang ada di dalam DJPB dan tugas-tugas yang terkait dengannya.

Bulan Juni 2011, statusku sebagai pegawai magang berubah. Sebuah Surat Keputusan menetapkan aku untuk pindah dari Jakarta dan menjadi pegawai tetap pada suatu kantor yang bernama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Painan. Painan adalah kota yang sebelumnya tidak aku kenali. Saat itu, aku sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di luar pulau Jawa, bahkan pun tidak ada kerabat di sana. Demi pengabdian sebagai PNS, aku pindah ke sana dan memulai pekerjaan baru. Di ranah Minang inilah banyak asam garam kehidupan yang sesungguhnya dirasakan hingga 5 tahun lebih masa penugasan.

Di KPPN Painan, mulanya aku ditugaskan sebagai front office Subbagian Umum. Masih aku ingat pekerjaan itu membuat aku tidak merasa nyaman. Sebagai pegawai baru minim pengalaman, aku sudah harus berhadapan dan berinteraksi langsung melakukan pelayanan kepada mitra kerja. Yang bisa kulakukan pada waktu itu adalah mengamati bagaimana senior bekerja dan membantu apa yang bisa dibantu. Rupanya tugas front office ini kemudian lebih dispesifikkan lagi dengan penugasan sebagai Customer Servicer Officer (CSO), pekerjaan yang lebih berat lagi.

Tantangan dari tugas sebagai CSO adalah harus mempunyai penguasaan aplikasi dan pemahaman peraturan tentang perbendaharaan untuk dapat membantu mitra kerja dalam menangani permasalahan perbendaharaan terkait hal itu. Aku butuh banyak belajar dan menyerap informasi seluas-luasnya. Beruntung dalam penugasan ini tidak sendirian, masih ada senior yang mendampingi dan menjadi tempat untuk belajar. Bersama senior ini, tidak semua masalah dapat diselesaikan, tetapi minimal jadi bahan pembelajaran untuk selalu mengedepankan pelayanan terbaik untuk mitra kerja.

Sebagai pegawai baru dan muda di kantor, penugasan saat itu tidak hanya tentang CSO, tetapi juga merangkap pekerjaan lainnya. Ada penugasan pengurusan website kantor, pencetakan kartu identitas, dokumentasi kegiatan kantor, dan lain sebagainya. Aku berusaha menjalankan tugas itu sebaik mungkin, tidak mengeluh dengan beban pekerjaan yang diberikan, dan cenderung menjadi penurut.

Akhir tahun 2011 menjadi kejutan bagiku. Aku dipanggil menghadap Kasubbag Umum dan beliau menyampaikan bahwa ada penugasan baru untukku. Penugasan itu adalah sebagai bendahara mulai awal tahun 2012. Aku terkejut karena tugas menjadi bendahara saat itu adalah tugas yang kuanggap berat dan sangat serius. Melihat pendahuluku yang bertugas sebagai bendahara sebelumnya, beliau sering lembur dan hampir selalu terlihat sibuk di back office. Menjadi bendahara juga berarti harus benar-benar menjaga pengelolaan keuangan kantor agar kegiatan operasional dapat berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun sedemikian beratnya tugas bendahara ini, dengan pengalaman CSO yang sudah dienyam, menjadikan pekerjaan yang harus dilakukan sudah cukup familiar. Bendahara di instansi perbendaharaan tentunya sudah mahir tentang aplikasi dan peraturan perbendaharaan.

Tugas menjadi bendahara ini berlangsung dari tahun 2012 hingga pertengahan tahun 2014. Selang waktu itu, pekerjaan memang terasa lebih berat daripada sebelumnya. Harus sering lembur hingga malam hari, harus lebih teliti dalam membukukan transaksi keuangan, dan harus selalu sigap jika kantor membutuhkan dana segera. Kerumitan pekerjaan tidak hanya terasa pada urusan teknis saja, tetapi permasalahan kantor semakin beragam. Banyak masalah pelik yang terjadi di kantor diakibatkan karena persoalan keuangan. Jika dulu tugas sebagai CSO harus melayani mitra kerja eksternal, maka sebagai bendahara orientasinya berubah harus melayani pegawai atau internal kantor. Menuruti keinginan pegawai rupanya lebih sulit dan kompleks apalagi jika berhubungan dengan kompensasi keuangan. Hal ini menyebabkanku lebih sering mengeluh dan berusaha meminta untuk digantikan.

Bulan Juni 2014, penugasan sebagai bendahara berakhir. Permintaanku untuk digantikan penugasan bendahara kepada pegawai lain disetujui oleh atasan. Aku masih di Subbagian Umum dan beralih pada tugas pengelolaan kinerja dan penyusunan laporan-laporan. Tugas baru ini bukanlah tugas yang lebih mudah, tetapi tidak beresiko tinggi seperti tugas bendahara. Pada tugas baru ini juga lebih beragam lagi detail dan teknis yang harus dipelajari dan dikuasai. Hal ini menjadikanku wawasanku bertambah dan tidak terjebak dengan pekerjaan klerikal lagi karena lebih sering dituntut dengan analisis data dan penyajian laporan. Saat itu, posisi ini membuat lebih betah dalam bekerja di kantor dan terasa lebih nyaman.

Namun yang tak kuduga pada setahun selanjutnya rupanya tugas ini harus berganti lagi. Terjadi mutasi internal pada bulan Juni 2015 yang menugaskanku pada seksi yang baru yaitu Seksi Verifikasi Akuntansi dan Kepatuhan Internal atau VERAKI. Aku harus keluar dari zona nyaman yang telah terbentuk di Subbagian Umum. Tantangan baru kembali harus dihadapi. Penugasan di seksi VERAKI ini diberikan saat seksi ini tengah mengalami permasalahan. Dengan dipindahkannya aku pada seksi ini, pimpinan kantor berharap permasalahan yang terjadi dapat diatasi. Pengalaman teknis yang didapat dari tugas di Subbagian Umum rupanya sangat membantuku dalam menyelesaikan penugasan pada seksi VERAKI.

Di seksi VERAKI ini, salah satu tugas yang harus dikerjakan adalah penyusunan Laporan Keuangan Unit Kuasa Bendahara Umum Negara-Daerah (LK UAKBUN-D). Penyusunan laporan adalah hal yang sudah familiar bagiku saat di Subbagian Umum. Dulu pekerjaan penyusunan laporan yang sejenis yaitu Laporan Keuangan Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (LK UAKPA) sudah dilakukan beberapa kali dari tahun 2012 hingga tahun 2014. Dua jenis laporan ini memang berbeda, tetapi mempunyai kemiripan format dan juga alur penyusunan yang hampir sama. Selain itu juga, seperti tugas terakhir di Subbagian Umum, pada seksi VERAKI ini juga ada banyak pelaporan manajerial yang harus disampaikan. Aku tidak membutuhkan banyak penyesuaian dengan perpindahan posisi ini.

Hanya setahun lebih sedikit saja tugas di Seksi VERAKI ini berlangsung. Per Agustus 2016, tugas yang kuemban berubah lagi menjadi tugas yang sangat berbeda, tugas belajar. Setelah melalui proses seleksi beasiswa internal, aku ditugaskan untuk menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang S-1 di jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya selama 3 tahun. Tugas belajar ini menjadikanku tidak lagi bermukim di Painan dan kembali ke pulau Jawa menetap sementara waktu di kota Malang. Wawasan dan pengetahuan tentang akuntansi pemerintah semakin didalami dari para akademisi. Hingga sekarang ini tugas inilah yang masih belum diselesaikan. Karya tulis skripsi sebagai persyaratan kelulusan masih dalam proses penyelesaian.

Begitulah perjalanan tugas-tugas yang pernah kulakukan selama delapan tahun berada di DJPB. Sudah banyak hal yang dilakukan dan memberikan pengalaman yang berharga. Namun, masih ada banyak hal lain yang belum diketahui dan perlu dipelajari. Delapan tahun adalah usia yang tanggung, tidak dapat dikatakan sudah lama, tetapi juga tidak bisa dikatakan baru sebentar. Saat ini berada pada penghujung penugasan tugas belajar membuatku mengulas kembali semua yang telah dilalui. Hikmah yang dapat diambil dari silih bergantinya penugasan demi penugasan adalah pengalaman yang memberikan pengayaan untuk dapat mempermudah dilakukannya tugas berikutnya.

Nantinya setelah selesai tugas belajar ini, aku harus lapor ke kantor pusat DJPB dan menjalani program re-entry hingga kemudian ditetapkan penempatan ulang. Pekerjaan yang ada di kantor pusat tentu pekerjaan yang levelnya lebih tinggi daripada apa yang dulu pernah dilakukan di KPPN. Hal ini membutuhkan penyesuaian dan ritme kerja yang lebih intens lagi. Apakah kemudian nantinya aku dapat menjalaninya dengan baik? Teringat masa-masa magang di kantor pusat dan melihat beban tugas yang dihadapi oleh pegawai tetap membuat diri merasa rendah diri dan pesimis bisa menjalaninya. Apalagi tantangan menjalani kerasnya kehidupan ibu kota dan jauh dari keluarga.

Dari ulasan peristiwa-peristiwa yang telah berlalu, pergantian tugas itu memang momok yang tidak mudah. Akan tetapi, dengan berbekalkan pengalaman yang memadai dari tugas-tugas sebelumnya, insya Allah penugasan yang diamanahkan nantinya bisa dilalui dengan lancar. Sebagai insan perbendaharaan di tahun kedelapan ini, terbersit harapan untuk dapat memberikan yang terbaik dalam setiap penugasan dan turut serta dalam pencapaian tujuan organisasi, Menjadi Pengelola Perbendaharaan Unggul Tingkat Dunia. Semoga dapat terlaksana dengan baik.

Malang, 21 Oktober 2018 00:56

berdamai dengan apa yang telah terjadi

Kecewa itu wajar muncul ketika realita tak sesuai dengan harapan. Walaupun sudah bersiap akan segala kemungkinan yang terjadi, realita bisa jadi menghantam lebih keras di luar dugaan. Persiapan yang sematang atau serinci apa pun itu tetaplah tak bisa memastikan tentang bagaimana hasil yang akan diperoleh. Ada kuasa-kuasa lain yang turut berpengaruh terhadap suatu hasil selain apa yang telah diusahakan diri.

Bukanlah hal yang mudah untuk dapat menyikapi kegagalan. Apalagi jika kegagalan atas apa yang telah diusahakan itu telah menyisakan perasaan kecewa yang begitu dalam. Tidak semua kegagalan itu bisa dianggap seperti angin yang telah berlalu begitu saja. Pada beberapa kejadian yang sangat sentimental, kekecewaan yang membekas dapat membentuk trauma. Pahitnya kegagalan membuat tak ingin untuk dirasakan kembali. Hal inilah yang membuat trauma itu muncul.

Bangkit dari kegagalan membutuhkan usaha yang keras apalagi jika ada trauma yang menghantui. Bayangan masa lalu tentang apa yang sudah terjadi akan terus mengintai dalam setiap langkah mencoba memulai kembali perjuangan. Seringnya dampak dari suatu kegagalan mengantarkan pada kelelahan, kemuraman, dan kepasrahan dengan apa yang telah diterima. Lelah muncul dengan energi yang sudah terkuras dinilai sia-sia tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Muram terjadi dengan menerawang masa depan yang tak lagi indah dan berat untuk dijalani. Kelelahan dan kemuraman ini rentan menyebabkan kepasrahan. Pasrah menerima inilah garis suratan takdir sebagai orang yang gagal, tak perlu lagi berusaha untuk memperbaiki, dan semakin acuh dengan keadaan sekitar.

Trauma yang membekas dalam tentang kegagalan akibat dari rasa kecewa yang berlebihan itu menyebabkan orang yang mengalaminya hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Kemampuan untuk berempati dengan lingkungan sekitar semakin berkurang. Bahkan, tak jarang terbentuk pikiran bahwa tak ada satu orang pun yang berempati dengan kegagalan yang telah terjadi. Inilah bentuk kesendirian yang tidak baik, terkungkung dengan sempitnya cara berpikir dan asumsi liar yang dibentuk sendiri. Jika sudah terjadi demikian, nasihat dari orang lain akan ditolak mentah-mentah dan diri tetap bertahan dengan konyolnya untuk berkabung atas kegagalan yang entah kapan akan berakhir.

Tidak baik untuk meratapi kegagalan dalam waktu yang lama. Semakin lama waktu untuk bertahan dengan keadaan yang sama atas kegagalan yang terjadi, semakin menguatkan trauma yang terbentuk jauh di dalam benak alam bawah sadar. Pikiran harus kembali dibuka untuk melihat peluang-peluang perbaikan yang bisa dilakukan. Tidak ada kegagalan yang abadi dan terus menerus terjadi. Percayalah, sebagaimana pepatah menyebutkan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Perlu usaha kesekian kalinya untuk dapat bangkit dari kegagalan karena kegagalan adalah hal yang sebenarnya biasa dan maklum terjadi. Tidak ada yang sia-sia dalam usaha yang telah dilakukan, semua itu telah memberikan pelajaran berharga tersendiri.

Yang menentukan untuk dapat mengakhiri masa berduka atas kegagalan adalah diri sendiri. Bisa jadi dengan dibukanya pikiran akan menghadirkan inspirasi-inspirasi dari pihak lain untuk berubah, tetapi kesemuanya itu kembali pada diri sendiri. Hal penting yang perlu dilakukan untuk pertama kali adalah berdamai dengan apa yang telah terjadi. Damai yang dimaksud ini bukanlah tentang kepasrahan. Damai ini adalah mengarifi dengan bijak bahwa kegagalan telah terjadi dan sesegeranya untuk beranjak bangkit kembali memulai lembaran baru.

Yang telah terjadi biarlah terjadi. Yang lalu tak akan bisa diubah lagi, tetapi untuk selanjutnya harus bersemangat kembali untuk mengupayakan keadaan yang lebih baik dan harus tetap percaya bahwa harapan itu masih ada. Keberhasilan itu suatu saat akan terjadi, hanyalah persoalan waktunya saja yang tak tahu kapan akan dirasakan. Usaha demi usaha harus selalu diupayakan untuk memperbaiki keadaan. Jangan mau untuk terjebak pada kubangan kekalahan. Lawan arus negativitas yang selalu mencoba memengaruhi untuk tak melakukan usaha apa pun. Terus bangun dan bakar semangat memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.

Damai itu indah. Akan ada kelegaan dan kenikmatan tersendiri dalam berdamai dengan apa yang telah terjadi. Hasil yang didapat tak lagi menjadi persoalan, realita dapat diterima walau ia kentara jauh dari harapan. Keikhlasan menjadi sikap utama yang ditonjolkan. Menyadari tentang apa yang salah dan konsekuensi apa yang menyertai adalah bentuk kedewasaan diri. Tak perlu mengungkit-ungkit kesalahan atau menyesal secara berlebihan karena itu akan menguras energi. Cukup menyadarinya saja dan berusaha untuk tak mengulanginya saja.

Tersenyumlah pada masa lalu walau ia pernah memberikan luka yang menyayat. Dengan lukanya itu telah membekas guratan hikmah yang dikenang dengan sebaik-baiknya sikap. Mengingatnya kembali tak akan menghadirkan sakit yang sama karena semua telah disudahi dengan perdamaian yang indah.

Malang, 27 Juni 2018 22.24

dua sembilan : untuk terus memperbaiki diri

Angka itu telah bertambah kini. Hanya bertambah satu saja sebenarnya, tetapi dalam penambahannya itu telah banyak hal yang terjadi. Terasa ada kontradiksi yang nyata pada rentang periode waktu yang telah dilewati. Ia cepat berlalu. Akan tetapi dengan kepadatan segala macam peristiwa di dalamnya, lamban rasanya untuk dapat mengurainya kembali. Pada kenyataannya, bertambahnya angka ini adalah berkurangnya kesempatan jatah hidup dari yang telah ditentukan. Angka demi angka dari usia yang terus berjalan, menunjukkan bahwa pada kehidupan yang telah dijalani telah sedemikian banyaknya hal yang telah terjadi.

Dua sembilan. Angka itulah yang kini dienyam oleh diri. Pada usia yang nyaris menginjak tiga dasawarsa lamanya, perlu ada satu titik untuk berhenti dan menerawang kembali semua kilasan kejadian dalam hidup. Seperti kumpulan benang-benang yang kusut, mengurai kejadian demi kejadian itu tidaklah mudah. Sangat mungkin ada yang terlewat dan terlalu rumit untuk dapat diurai menjadi suatu garis lurus kesimpulan. Garis ini yang dibutuhkan untuk dapat menghubungkan antara apa yang telah berlalu dengan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pada titik pemberhentian sementara ini, dibutuhkan garis lurus yang menjadi pedoman agar tak goyah dalam berpribadi, memperkaya diri dengan hikmah pengalaman yang berharga, dan selalu berusaha menjadi insan terbaik dalam segala langkah yang dihadapi.

Lalu, apa yang didapati dari kilasan peristiwa lampau di masa dahulu?

Pada kilasan yang pertama, muncul bayangan tentang apa yang telah dilakukan diri sebagai seorang ayah dan pemimpin keluarga. Ini menjadi perubahan drastis yang kentara berbeda daripada usia sebelumnya. Kehadiran buah hati untuk pertama kalinya telah memberikan semarak dalam hidup. Peranan yang baru membutuhkan pembelajaran berkelanjutan. Dalam melakukannya seringkali ada kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan atau kurangnya perhatian. Walaupun begitu, sungguh kebahagiaan yang tidak ada duanya manakala melihat perkembangannya hari demi hari.

Anak adalah amanah Tuhan yang harus dirawat dengan baik. Anak menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya yang terus dikumandangkan dalam doa. Anak merupakan generasi pelanjut yang diharapkan menjadi insan yang terbaik. Dengan demikian, seorang ayah harus benar-benar mendedikasikan pengajaran nilai kehidupan dan limpahan kasih sayang yang terbaik untuk anaknya. Walaupun untuk melakukannya, tentu akan menguras banyak energi baik itu dari secara fisik maupun mental. Pesan yang berharga untuk perjalanan kehidupan selanjutnya adalah harus lebih banyak berkorban lagi demi kebahagiaan keluarga, perlu totalitas dengan lebih menyediakan waktu dan metode terbaik membersamai keluarga. Pesan ini menjadi satu simpulan yang dapat dirangkai untuk menjadi suatu garis yang lurus.

Pada kilasan yang kedua, muncul bayangan tentang apa yang telah dijalani diri dari jenjang pendidikan terkini. Saat ini sudah memasuki masa akhir dari pendidikan. Dua tahun telah berjalan dengan sekian banyak hal-hal baru yang harus dipelajari. Wawasan keilmuan telah berkembang dan membutuhkan pembuktian dengan adanya tugas akhir. Dalam pengerjaannya, diperlukan kesungguhan untuk memastikan selalu ada kemajuan yang telah diperoleh. Tahap demi tahap harus ditempuh dengan sebaik mungkin. Jika ada kesalahan harus segera diperbaiki, jangan sampai menunda-nunda untuk dikerjakan. Selain itu, harus senantiasa sabar dalam berkomunikasi dengan pihak lain dan tidak boleh tergesa-gesa.

Tugas akhir menjadi penentu kelulusan dari jenjang pendidikan yang telah ditempuh. Tugas akhir menuntut adanya kontribusi nyata untuk perbaikan organisasi yang diteliti. Tugas akhir adalah rangkuman yang menguji pemahaman akademis dari seluruh proses pembelajaran yang telah diperoleh. Sehingga, dalam menyusunnya perlu tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikannya dengan baik, lancar, dan tepat pada waktunya. Ada kalanya memang ditemui berbagai hambatan yang mengganggu penyelesaian tugas ini, tetapi harus segera berbenah dan bangkit kembali untuk mengatasinya. Ini menjadi pesan dalam simpulan yang kedua pada rangkaian garis lurus yang telah terurai.

Pada kilasan yang ketiga, muncul bayangan tentang peran-peran apa yang telah dilakukan diri pada masyarakat. Dalam mengembangkan kapasitas dan potensi diri, tak bisa hanya terus berkutat pada peranan yang telah dilakukan pada keluarga dan pekerjaan semata. Ada tuntutan peran yang lebih luas daripada hal itu, yaitu pada masyarakat. Sebagai bagian di dalamnya, harus ada kebaikan dalam diri yang dibagikan kepada khalayak umum yang lebih luas. Bentuknya adalah dengan keterlibatan pada kegiatan-kegiatan positif, saling berinteraksi dan berbagi dalam kebaikan. Keterlibatan itu tentunya membutuhkan pengasahan potensi dan keterampilan yang sesuai. Keahlian semacam mampu berbicara di hadapan publik dengan baik, mengungkapkan opini dalam bentuk tulisan, dan melakukan aksi nyata lainnya untuk memberikan perubahan itu perlu dilatih dan terus dikembangkan.

Melatih diri untuk lebih terbuka dengan lingkungan sekitar merupakan hal yang sepatutnya dilakukan untuk dapat diakui keberadaan diri pada masyarakat. Memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapat dengan penuturan yang terbaik adalah salah satu upaya terlibat dalam memberikan kontribusi perubahan kepada masyarakat ke arah yang lebih baik. Dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial akan menjadikan diri lebih kaya dengan pengalaman-pengalaman berharga dan patut untuk dikenang. Masyarakat yang madani terbentuk dari berkumpulnya insan-insan yang aktif terlibat dalam gerakan kebaikan. Tentu ada harapan besar pada diri untuk menjadi salah satu insan yang dimaksud tersebut. Harapan ini menjadi pesan yang perlu untuk senantiasa diingat dan diperhatikan untuk ditindaklanjuti. Peranan dalam masyarakat yang lebih aktif lagi disertai dengan pelatihan yang memadai menjadi pesan simpulan ketiga yang didapati.

Pemberhentian sementara ini telah menyimpulkan tiga pesan yang tertaut pada suatu garis lurus. Mungkin masih banyak pesan yang bisa diambil dalam kekusutan peristiwa yang belum terurai. Namun, tidak boleh berlama-lama dalam pemberhentian ini. Waktu terus berjalan dan semakin bertumpuknya peristiwa-peristiwa yang terjadi rentan menyebabkan keruwetan yang lebih bermasalah. Cukup tiga simpulan pesan ini dulu saja. Dari ketiganya itu, sebenarnya bisa disederhanakan menjadi satu pesan utama. Pesan utama itu adalah teruslah belajar pada angka-angka usia yang terus bertambah.

Tidak ada sosok yang sempurna, pasti di dalam dirinya terdapat satu paket berupa kelebihan dan kekurangan. Paket inilah yang menjadi bekal untuk belajar. Kelebihan yang dimiliki dijadikan untuk belajar berbagi kepada sesama dan kekurangan yang ada dijadikan untuk belajar terus menerus mengatasinya dengan cara yang tepat. Bisa jadi akan ada banyak peristiwa yang membuat diri terhentak dan jatuh dengan kekurangan yang ada. Walaupun begitu, harus dibangun kepercayaan diri untuk bangkit kembali dan belajar untuk menangani apa yang bisa diperbaiki.

Kesiapan diri juga menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Tanpa persiapan akan ditemui lebih rumit permasalahan yang dihadapi. Apa pun yang terjadi dalam hidup, harus siap untuk dihadapi. Permasalahan yang muncul kemudian bukan untuk dikeluhkan atau diratapi kesulitannya. Lebih tegarlah untuk menghadapi semuanya dan yakinlah untuk dapat melewati semua rintangan yang ada.

Angka dua sembilan inilah yang sekarang ada pada diri. Apakah angka usia ini masih akan bertambah lagi selanjutnya? Tak ada yang tahu kecuali Yang Maha Kuasa. Jika dengan rahmat dan izin-Nya masih diberikan kesempatan untuk melewati angka usia yang selanjutnya, semoga diri memperhatikan benar tiga simpulan pesan yang telah diperoleh. Hingga kemudian pada angka usia yang selanjutnya, tiga dasawarsa, semoga terbentuk karakter insan yang lebih baik lagi pada diri.

Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, jangan disia-siakan karena dialah ladang untuk dunia akhirat. Hidup bukan untuk hanya mengalir saja mengikuti arus, tetapi dikendalikan menuju arah mau dibawa ke mana tujuan pamungkas yang diinginkan. Angka usia sepatutnya menjadi patokan untuk terus memperbaiki diri. Berhenti untuk introspeksi pada angka usia yang bertambah, liat kembali kilasan peristiwa yang terjadi, dan ambil pesan simpulan apa yang menjadi pegangan untuk masa mendatang.

Malang, 2 Juni 2018 14.46