mengulas tugas perbendaharaan di tahun kedelapan

Rupanya sudah berjalan delapan tahun. Rasanya memang sudah banyak hal yang telah terjadi, tetapi aku tidak menyangka sudah berjalan selama itu. Delapan tahun sudah terikat pada suatu institusi yang bernama Direktorat Jenderal Perbendaharaan, unit eselon I pada Kementerian Keuangan yang tidak setenar Pajak maupun Bea Cukai.

Aku mencoba mengulas kembali apa yang telah berlalu. Pada delapan tahun yang lalu itu, tanggal 20 Oktober 2010, aku mengunduh sebuah berkas dari official website STAN di rumahku. Berkas itu adalah berkas yang sangat penting untuk menentukan pada instansi manakah nantinya ikatan dinas selepas masa kuliah di STAN akan dilaksanakan. Ya, berkas itulah yang memberikan keterikatan pada suatu instansi untuk mengabdi sebagai PNS selama 10 tahun atau lebih masa ikatan.

Pada berkas itu tertampang judulnya dengan huruf kapital “Pengumuman Biro Sumber Daya Manusia Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan No. PENG-02/SJ.5/2010 tanggal 19 Oktober 2010 tentang Pengumuman Penempatan Lulusan Program Diploma I dan III  STAN Tahun 2010 pada Kemenkeu, BPK, dan BPKP”. Lalu, pada lampiran 1 dan baris ke-81 barulah muncul namaku, Anas Isnaeni D-III Akuntansi Pemerintah, dan pada sisi sebelah kanan tertera “DJPB”.

c8dba113-7e98-4706-be53-9c22aa8aa928

DJPB, singkatan dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Ekspresiku terkejut saat membaca namaku bersebelahan dengan nama instansi ini. Terasa asing karena dari pengalaman senior-senior pada tahun sebelumnya tak pernah ada yang ditempatkan pada instansi ini. Baru pada tahun 2010 itulah, DJPB merekrut kembali lulusan D-III STAN. Terasa kecewa juga, walau tidak begitu menjadi persoalan, karena pilihan dan harapanku tidak sesuai dengan realita yang diterima. Aku merasa beruntung pada satu sisi lainnya, aku tidak masuk pada unit instansi yang tidak aku sukai/harapkan. DJPB berada pada tengah-tengah itu, instansi yang tidak begitu aku harapkan dan juga tidak menjadi daftar hitam instansi yang tidak aku sukai.

Singkat cerita, bulan Oktober tahun 2010 menjadi bulan yang berkenang dengan segala hiruk-pikuk yang terjadi pada saat itu. Yudisium, wisuda, pengumuman penempatan instansi, dan pemberkasan di kantor pusat semuanya dilalui pada bulan ini. Aku harus bolak-balik antara Salatiga dan Jakarta selama beberapa kali. Hingga kemudian pada awal bulan selanjutnya, proses internalisasi sebagai pegawai baru di DJPB berlangsung dengan kegiatan orientasi, motivasi, dan magang selama sekitar 7 bulan lamanya. Selang waktu ini, tidak banyak cerita yang terkenang karena pegawai magang bisa dibilang belum menjadi pegawai yang sepenuhnya, baru sebatas mengenali apa saja yang ada di dalam DJPB dan tugas-tugas yang terkait dengannya.

Bulan Juni 2011, statusku sebagai pegawai magang berubah. Sebuah Surat Keputusan menetapkan aku untuk pindah dari Jakarta dan menjadi pegawai tetap pada suatu kantor yang bernama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Painan. Painan adalah kota yang sebelumnya tidak aku kenali. Saat itu, aku sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di luar pulau Jawa, bahkan pun tidak ada kerabat di sana. Demi pengabdian sebagai PNS, aku pindah ke sana dan memulai pekerjaan baru. Di ranah Minang inilah banyak asam garam kehidupan yang sesungguhnya dirasakan hingga 5 tahun lebih masa penugasan.

Di KPPN Painan, mulanya aku ditugaskan sebagai front office Subbagian Umum. Masih aku ingat pekerjaan itu membuat aku tidak merasa nyaman. Sebagai pegawai baru minim pengalaman, aku sudah harus berhadapan dan berinteraksi langsung melakukan pelayanan kepada mitra kerja. Yang bisa kulakukan pada waktu itu adalah mengamati bagaimana senior bekerja dan membantu apa yang bisa dibantu. Rupanya tugas front office ini kemudian lebih dispesifikkan lagi dengan penugasan sebagai Customer Servicer Officer (CSO), pekerjaan yang lebih berat lagi.

Tantangan dari tugas sebagai CSO adalah harus mempunyai penguasaan aplikasi dan pemahaman peraturan tentang perbendaharaan untuk dapat membantu mitra kerja dalam menangani permasalahan perbendaharaan terkait hal itu. Aku butuh banyak belajar dan menyerap informasi seluas-luasnya. Beruntung dalam penugasan ini tidak sendirian, masih ada senior yang mendampingi dan menjadi tempat untuk belajar. Bersama senior ini, tidak semua masalah dapat diselesaikan, tetapi minimal jadi bahan pembelajaran untuk selalu mengedepankan pelayanan terbaik untuk mitra kerja.

Sebagai pegawai baru dan muda di kantor, penugasan saat itu tidak hanya tentang CSO, tetapi juga merangkap pekerjaan lainnya. Ada penugasan pengurusan website kantor, pencetakan kartu identitas, dokumentasi kegiatan kantor, dan lain sebagainya. Aku berusaha menjalankan tugas itu sebaik mungkin, tidak mengeluh dengan beban pekerjaan yang diberikan, dan cenderung menjadi penurut.

Akhir tahun 2011 menjadi kejutan bagiku. Aku dipanggil menghadap Kasubbag Umum dan beliau menyampaikan bahwa ada penugasan baru untukku. Penugasan itu adalah sebagai bendahara mulai awal tahun 2012. Aku terkejut karena tugas menjadi bendahara saat itu adalah tugas yang kuanggap berat dan sangat serius. Melihat pendahuluku yang bertugas sebagai bendahara sebelumnya, beliau sering lembur dan hampir selalu terlihat sibuk di back office. Menjadi bendahara juga berarti harus benar-benar menjaga pengelolaan keuangan kantor agar kegiatan operasional dapat berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun sedemikian beratnya tugas bendahara ini, dengan pengalaman CSO yang sudah dienyam, menjadikan pekerjaan yang harus dilakukan sudah cukup familiar. Bendahara di instansi perbendaharaan tentunya sudah mahir tentang aplikasi dan peraturan perbendaharaan.

Tugas menjadi bendahara ini berlangsung dari tahun 2012 hingga pertengahan tahun 2014. Selang waktu itu, pekerjaan memang terasa lebih berat daripada sebelumnya. Harus sering lembur hingga malam hari, harus lebih teliti dalam membukukan transaksi keuangan, dan harus selalu sigap jika kantor membutuhkan dana segera. Kerumitan pekerjaan tidak hanya terasa pada urusan teknis saja, tetapi permasalahan kantor semakin beragam. Banyak masalah pelik yang terjadi di kantor diakibatkan karena persoalan keuangan. Jika dulu tugas sebagai CSO harus melayani mitra kerja eksternal, maka sebagai bendahara orientasinya berubah harus melayani pegawai atau internal kantor. Menuruti keinginan pegawai rupanya lebih sulit dan kompleks apalagi jika berhubungan dengan kompensasi keuangan. Hal ini menyebabkanku lebih sering mengeluh dan berusaha meminta untuk digantikan.

Bulan Juni 2014, penugasan sebagai bendahara berakhir. Permintaanku untuk digantikan penugasan bendahara kepada pegawai lain disetujui oleh atasan. Aku masih di Subbagian Umum dan beralih pada tugas pengelolaan kinerja dan penyusunan laporan-laporan. Tugas baru ini bukanlah tugas yang lebih mudah, tetapi tidak beresiko tinggi seperti tugas bendahara. Pada tugas baru ini juga lebih beragam lagi detail dan teknis yang harus dipelajari dan dikuasai. Hal ini menjadikanku wawasanku bertambah dan tidak terjebak dengan pekerjaan klerikal lagi karena lebih sering dituntut dengan analisis data dan penyajian laporan. Saat itu, posisi ini membuat lebih betah dalam bekerja di kantor dan terasa lebih nyaman.

Namun yang tak kuduga pada setahun selanjutnya rupanya tugas ini harus berganti lagi. Terjadi mutasi internal pada bulan Juni 2015 yang menugaskanku pada seksi yang baru yaitu Seksi Verifikasi Akuntansi dan Kepatuhan Internal atau VERAKI. Aku harus keluar dari zona nyaman yang telah terbentuk di Subbagian Umum. Tantangan baru kembali harus dihadapi. Penugasan di seksi VERAKI ini diberikan saat seksi ini tengah mengalami permasalahan. Dengan dipindahkannya aku pada seksi ini, pimpinan kantor berharap permasalahan yang terjadi dapat diatasi. Pengalaman teknis yang didapat dari tugas di Subbagian Umum rupanya sangat membantuku dalam menyelesaikan penugasan pada seksi VERAKI.

Di seksi VERAKI ini, salah satu tugas yang harus dikerjakan adalah penyusunan Laporan Keuangan Unit Kuasa Bendahara Umum Negara-Daerah (LK UAKBUN-D). Penyusunan laporan adalah hal yang sudah familiar bagiku saat di Subbagian Umum. Dulu pekerjaan penyusunan laporan yang sejenis yaitu Laporan Keuangan Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (LK UAKPA) sudah dilakukan beberapa kali dari tahun 2012 hingga tahun 2014. Dua jenis laporan ini memang berbeda, tetapi mempunyai kemiripan format dan juga alur penyusunan yang hampir sama. Selain itu juga, seperti tugas terakhir di Subbagian Umum, pada seksi VERAKI ini juga ada banyak pelaporan manajerial yang harus disampaikan. Aku tidak membutuhkan banyak penyesuaian dengan perpindahan posisi ini.

Hanya setahun lebih sedikit saja tugas di Seksi VERAKI ini berlangsung. Per Agustus 2016, tugas yang kuemban berubah lagi menjadi tugas yang sangat berbeda, tugas belajar. Setelah melalui proses seleksi beasiswa internal, aku ditugaskan untuk menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang S-1 di jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya selama 3 tahun. Tugas belajar ini menjadikanku tidak lagi bermukim di Painan dan kembali ke pulau Jawa menetap sementara waktu di kota Malang. Wawasan dan pengetahuan tentang akuntansi pemerintah semakin didalami dari para akademisi. Hingga sekarang ini tugas inilah yang masih belum diselesaikan. Karya tulis skripsi sebagai persyaratan kelulusan masih dalam proses penyelesaian.

Begitulah perjalanan tugas-tugas yang pernah kulakukan selama delapan tahun berada di DJPB. Sudah banyak hal yang dilakukan dan memberikan pengalaman yang berharga. Namun, masih ada banyak hal lain yang belum diketahui dan perlu dipelajari. Delapan tahun adalah usia yang tanggung, tidak dapat dikatakan sudah lama, tetapi juga tidak bisa dikatakan baru sebentar. Saat ini berada pada penghujung penugasan tugas belajar membuatku mengulas kembali semua yang telah dilalui. Hikmah yang dapat diambil dari silih bergantinya penugasan demi penugasan adalah pengalaman yang memberikan pengayaan untuk dapat mempermudah dilakukannya tugas berikutnya.

Nantinya setelah selesai tugas belajar ini, aku harus lapor ke kantor pusat DJPB dan menjalani program re-entry hingga kemudian ditetapkan penempatan ulang. Pekerjaan yang ada di kantor pusat tentu pekerjaan yang levelnya lebih tinggi daripada apa yang dulu pernah dilakukan di KPPN. Hal ini membutuhkan penyesuaian dan ritme kerja yang lebih intens lagi. Apakah kemudian nantinya aku dapat menjalaninya dengan baik? Teringat masa-masa magang di kantor pusat dan melihat beban tugas yang dihadapi oleh pegawai tetap membuat diri merasa rendah diri dan pesimis bisa menjalaninya. Apalagi tantangan menjalani kerasnya kehidupan ibu kota dan jauh dari keluarga.

Dari ulasan peristiwa-peristiwa yang telah berlalu, pergantian tugas itu memang momok yang tidak mudah. Akan tetapi, dengan berbekalkan pengalaman yang memadai dari tugas-tugas sebelumnya, insya Allah penugasan yang diamanahkan nantinya bisa dilalui dengan lancar. Sebagai insan perbendaharaan di tahun kedelapan ini, terbersit harapan untuk dapat memberikan yang terbaik dalam setiap penugasan dan turut serta dalam pencapaian tujuan organisasi, Menjadi Pengelola Perbendaharaan Unggul Tingkat Dunia. Semoga dapat terlaksana dengan baik.

Malang, 21 Oktober 2018 00:56

Iklan

berdamai dengan apa yang telah terjadi

Kecewa itu wajar muncul ketika realita tak sesuai dengan harapan. Walaupun sudah bersiap akan segala kemungkinan yang terjadi, realita bisa jadi menghantam lebih keras di luar dugaan. Persiapan yang sematang atau serinci apa pun itu tetaplah tak bisa memastikan tentang bagaimana hasil yang akan diperoleh. Ada kuasa-kuasa lain yang turut berpengaruh terhadap suatu hasil selain apa yang telah diusahakan diri.

Bukanlah hal yang mudah untuk dapat menyikapi kegagalan. Apalagi jika kegagalan atas apa yang telah diusahakan itu telah menyisakan perasaan kecewa yang begitu dalam. Tidak semua kegagalan itu bisa dianggap seperti angin yang telah berlalu begitu saja. Pada beberapa kejadian yang sangat sentimental, kekecewaan yang membekas dapat membentuk trauma. Pahitnya kegagalan membuat tak ingin untuk dirasakan kembali. Hal inilah yang membuat trauma itu muncul.

Bangkit dari kegagalan membutuhkan usaha yang keras apalagi jika ada trauma yang menghantui. Bayangan masa lalu tentang apa yang sudah terjadi akan terus mengintai dalam setiap langkah mencoba memulai kembali perjuangan. Seringnya dampak dari suatu kegagalan mengantarkan pada kelelahan, kemuraman, dan kepasrahan dengan apa yang telah diterima. Lelah muncul dengan energi yang sudah terkuras dinilai sia-sia tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Muram terjadi dengan menerawang masa depan yang tak lagi indah dan berat untuk dijalani. Kelelahan dan kemuraman ini rentan menyebabkan kepasrahan. Pasrah menerima inilah garis suratan takdir sebagai orang yang gagal, tak perlu lagi berusaha untuk memperbaiki, dan semakin acuh dengan keadaan sekitar.

Trauma yang membekas dalam tentang kegagalan akibat dari rasa kecewa yang berlebihan itu menyebabkan orang yang mengalaminya hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Kemampuan untuk berempati dengan lingkungan sekitar semakin berkurang. Bahkan, tak jarang terbentuk pikiran bahwa tak ada satu orang pun yang berempati dengan kegagalan yang telah terjadi. Inilah bentuk kesendirian yang tidak baik, terkungkung dengan sempitnya cara berpikir dan asumsi liar yang dibentuk sendiri. Jika sudah terjadi demikian, nasihat dari orang lain akan ditolak mentah-mentah dan diri tetap bertahan dengan konyolnya untuk berkabung atas kegagalan yang entah kapan akan berakhir.

Tidak baik untuk meratapi kegagalan dalam waktu yang lama. Semakin lama waktu untuk bertahan dengan keadaan yang sama atas kegagalan yang terjadi, semakin menguatkan trauma yang terbentuk jauh di dalam benak alam bawah sadar. Pikiran harus kembali dibuka untuk melihat peluang-peluang perbaikan yang bisa dilakukan. Tidak ada kegagalan yang abadi dan terus menerus terjadi. Percayalah, sebagaimana pepatah menyebutkan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Perlu usaha kesekian kalinya untuk dapat bangkit dari kegagalan karena kegagalan adalah hal yang sebenarnya biasa dan maklum terjadi. Tidak ada yang sia-sia dalam usaha yang telah dilakukan, semua itu telah memberikan pelajaran berharga tersendiri.

Yang menentukan untuk dapat mengakhiri masa berduka atas kegagalan adalah diri sendiri. Bisa jadi dengan dibukanya pikiran akan menghadirkan inspirasi-inspirasi dari pihak lain untuk berubah, tetapi kesemuanya itu kembali pada diri sendiri. Hal penting yang perlu dilakukan untuk pertama kali adalah berdamai dengan apa yang telah terjadi. Damai yang dimaksud ini bukanlah tentang kepasrahan. Damai ini adalah mengarifi dengan bijak bahwa kegagalan telah terjadi dan sesegeranya untuk beranjak bangkit kembali memulai lembaran baru.

Yang telah terjadi biarlah terjadi. Yang lalu tak akan bisa diubah lagi, tetapi untuk selanjutnya harus bersemangat kembali untuk mengupayakan keadaan yang lebih baik dan harus tetap percaya bahwa harapan itu masih ada. Keberhasilan itu suatu saat akan terjadi, hanyalah persoalan waktunya saja yang tak tahu kapan akan dirasakan. Usaha demi usaha harus selalu diupayakan untuk memperbaiki keadaan. Jangan mau untuk terjebak pada kubangan kekalahan. Lawan arus negativitas yang selalu mencoba memengaruhi untuk tak melakukan usaha apa pun. Terus bangun dan bakar semangat memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.

Damai itu indah. Akan ada kelegaan dan kenikmatan tersendiri dalam berdamai dengan apa yang telah terjadi. Hasil yang didapat tak lagi menjadi persoalan, realita dapat diterima walau ia kentara jauh dari harapan. Keikhlasan menjadi sikap utama yang ditonjolkan. Menyadari tentang apa yang salah dan konsekuensi apa yang menyertai adalah bentuk kedewasaan diri. Tak perlu mengungkit-ungkit kesalahan atau menyesal secara berlebihan karena itu akan menguras energi. Cukup menyadarinya saja dan berusaha untuk tak mengulanginya saja.

Tersenyumlah pada masa lalu walau ia pernah memberikan luka yang menyayat. Dengan lukanya itu telah membekas guratan hikmah yang dikenang dengan sebaik-baiknya sikap. Mengingatnya kembali tak akan menghadirkan sakit yang sama karena semua telah disudahi dengan perdamaian yang indah.

Malang, 27 Juni 2018 22.24

dua sembilan : untuk terus memperbaiki diri

Angka itu telah bertambah kini. Hanya bertambah satu saja sebenarnya, tetapi dalam penambahannya itu telah banyak hal yang terjadi. Terasa ada kontradiksi yang nyata pada rentang periode waktu yang telah dilewati. Ia cepat berlalu. Akan tetapi dengan kepadatan segala macam peristiwa di dalamnya, lamban rasanya untuk dapat mengurainya kembali. Pada kenyataannya, bertambahnya angka ini adalah berkurangnya kesempatan jatah hidup dari yang telah ditentukan. Angka demi angka dari usia yang terus berjalan, menunjukkan bahwa pada kehidupan yang telah dijalani telah sedemikian banyaknya hal yang telah terjadi.

Dua sembilan. Angka itulah yang kini dienyam oleh diri. Pada usia yang nyaris menginjak tiga dasawarsa lamanya, perlu ada satu titik untuk berhenti dan menerawang kembali semua kilasan kejadian dalam hidup. Seperti kumpulan benang-benang yang kusut, mengurai kejadian demi kejadian itu tidaklah mudah. Sangat mungkin ada yang terlewat dan terlalu rumit untuk dapat diurai menjadi suatu garis lurus kesimpulan. Garis ini yang dibutuhkan untuk dapat menghubungkan antara apa yang telah berlalu dengan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pada titik pemberhentian sementara ini, dibutuhkan garis lurus yang menjadi pedoman agar tak goyah dalam berpribadi, memperkaya diri dengan hikmah pengalaman yang berharga, dan selalu berusaha menjadi insan terbaik dalam segala langkah yang dihadapi.

Lalu, apa yang didapati dari kilasan peristiwa lampau di masa dahulu?

Pada kilasan yang pertama, muncul bayangan tentang apa yang telah dilakukan diri sebagai seorang ayah dan pemimpin keluarga. Ini menjadi perubahan drastis yang kentara berbeda daripada usia sebelumnya. Kehadiran buah hati untuk pertama kalinya telah memberikan semarak dalam hidup. Peranan yang baru membutuhkan pembelajaran berkelanjutan. Dalam melakukannya seringkali ada kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan atau kurangnya perhatian. Walaupun begitu, sungguh kebahagiaan yang tidak ada duanya manakala melihat perkembangannya hari demi hari.

Anak adalah amanah Tuhan yang harus dirawat dengan baik. Anak menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya yang terus dikumandangkan dalam doa. Anak merupakan generasi pelanjut yang diharapkan menjadi insan yang terbaik. Dengan demikian, seorang ayah harus benar-benar mendedikasikan pengajaran nilai kehidupan dan limpahan kasih sayang yang terbaik untuk anaknya. Walaupun untuk melakukannya, tentu akan menguras banyak energi baik itu dari secara fisik maupun mental. Pesan yang berharga untuk perjalanan kehidupan selanjutnya adalah harus lebih banyak berkorban lagi demi kebahagiaan keluarga, perlu totalitas dengan lebih menyediakan waktu dan metode terbaik membersamai keluarga. Pesan ini menjadi satu simpulan yang dapat dirangkai untuk menjadi suatu garis yang lurus.

Pada kilasan yang kedua, muncul bayangan tentang apa yang telah dijalani diri dari jenjang pendidikan terkini. Saat ini sudah memasuki masa akhir dari pendidikan. Dua tahun telah berjalan dengan sekian banyak hal-hal baru yang harus dipelajari. Wawasan keilmuan telah berkembang dan membutuhkan pembuktian dengan adanya tugas akhir. Dalam pengerjaannya, diperlukan kesungguhan untuk memastikan selalu ada kemajuan yang telah diperoleh. Tahap demi tahap harus ditempuh dengan sebaik mungkin. Jika ada kesalahan harus segera diperbaiki, jangan sampai menunda-nunda untuk dikerjakan. Selain itu, harus senantiasa sabar dalam berkomunikasi dengan pihak lain dan tidak boleh tergesa-gesa.

Tugas akhir menjadi penentu kelulusan dari jenjang pendidikan yang telah ditempuh. Tugas akhir menuntut adanya kontribusi nyata untuk perbaikan organisasi yang diteliti. Tugas akhir adalah rangkuman yang menguji pemahaman akademis dari seluruh proses pembelajaran yang telah diperoleh. Sehingga, dalam menyusunnya perlu tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikannya dengan baik, lancar, dan tepat pada waktunya. Ada kalanya memang ditemui berbagai hambatan yang mengganggu penyelesaian tugas ini, tetapi harus segera berbenah dan bangkit kembali untuk mengatasinya. Ini menjadi pesan dalam simpulan yang kedua pada rangkaian garis lurus yang telah terurai.

Pada kilasan yang ketiga, muncul bayangan tentang peran-peran apa yang telah dilakukan diri pada masyarakat. Dalam mengembangkan kapasitas dan potensi diri, tak bisa hanya terus berkutat pada peranan yang telah dilakukan pada keluarga dan pekerjaan semata. Ada tuntutan peran yang lebih luas daripada hal itu, yaitu pada masyarakat. Sebagai bagian di dalamnya, harus ada kebaikan dalam diri yang dibagikan kepada khalayak umum yang lebih luas. Bentuknya adalah dengan keterlibatan pada kegiatan-kegiatan positif, saling berinteraksi dan berbagi dalam kebaikan. Keterlibatan itu tentunya membutuhkan pengasahan potensi dan keterampilan yang sesuai. Keahlian semacam mampu berbicara di hadapan publik dengan baik, mengungkapkan opini dalam bentuk tulisan, dan melakukan aksi nyata lainnya untuk memberikan perubahan itu perlu dilatih dan terus dikembangkan.

Melatih diri untuk lebih terbuka dengan lingkungan sekitar merupakan hal yang sepatutnya dilakukan untuk dapat diakui keberadaan diri pada masyarakat. Memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapat dengan penuturan yang terbaik adalah salah satu upaya terlibat dalam memberikan kontribusi perubahan kepada masyarakat ke arah yang lebih baik. Dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial akan menjadikan diri lebih kaya dengan pengalaman-pengalaman berharga dan patut untuk dikenang. Masyarakat yang madani terbentuk dari berkumpulnya insan-insan yang aktif terlibat dalam gerakan kebaikan. Tentu ada harapan besar pada diri untuk menjadi salah satu insan yang dimaksud tersebut. Harapan ini menjadi pesan yang perlu untuk senantiasa diingat dan diperhatikan untuk ditindaklanjuti. Peranan dalam masyarakat yang lebih aktif lagi disertai dengan pelatihan yang memadai menjadi pesan simpulan ketiga yang didapati.

Pemberhentian sementara ini telah menyimpulkan tiga pesan yang tertaut pada suatu garis lurus. Mungkin masih banyak pesan yang bisa diambil dalam kekusutan peristiwa yang belum terurai. Namun, tidak boleh berlama-lama dalam pemberhentian ini. Waktu terus berjalan dan semakin bertumpuknya peristiwa-peristiwa yang terjadi rentan menyebabkan keruwetan yang lebih bermasalah. Cukup tiga simpulan pesan ini dulu saja. Dari ketiganya itu, sebenarnya bisa disederhanakan menjadi satu pesan utama. Pesan utama itu adalah teruslah belajar pada angka-angka usia yang terus bertambah.

Tidak ada sosok yang sempurna, pasti di dalam dirinya terdapat satu paket berupa kelebihan dan kekurangan. Paket inilah yang menjadi bekal untuk belajar. Kelebihan yang dimiliki dijadikan untuk belajar berbagi kepada sesama dan kekurangan yang ada dijadikan untuk belajar terus menerus mengatasinya dengan cara yang tepat. Bisa jadi akan ada banyak peristiwa yang membuat diri terhentak dan jatuh dengan kekurangan yang ada. Walaupun begitu, harus dibangun kepercayaan diri untuk bangkit kembali dan belajar untuk menangani apa yang bisa diperbaiki.

Kesiapan diri juga menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Tanpa persiapan akan ditemui lebih rumit permasalahan yang dihadapi. Apa pun yang terjadi dalam hidup, harus siap untuk dihadapi. Permasalahan yang muncul kemudian bukan untuk dikeluhkan atau diratapi kesulitannya. Lebih tegarlah untuk menghadapi semuanya dan yakinlah untuk dapat melewati semua rintangan yang ada.

Angka dua sembilan inilah yang sekarang ada pada diri. Apakah angka usia ini masih akan bertambah lagi selanjutnya? Tak ada yang tahu kecuali Yang Maha Kuasa. Jika dengan rahmat dan izin-Nya masih diberikan kesempatan untuk melewati angka usia yang selanjutnya, semoga diri memperhatikan benar tiga simpulan pesan yang telah diperoleh. Hingga kemudian pada angka usia yang selanjutnya, tiga dasawarsa, semoga terbentuk karakter insan yang lebih baik lagi pada diri.

Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, jangan disia-siakan karena dialah ladang untuk dunia akhirat. Hidup bukan untuk hanya mengalir saja mengikuti arus, tetapi dikendalikan menuju arah mau dibawa ke mana tujuan pamungkas yang diinginkan. Angka usia sepatutnya menjadi patokan untuk terus memperbaiki diri. Berhenti untuk introspeksi pada angka usia yang bertambah, liat kembali kilasan peristiwa yang terjadi, dan ambil pesan simpulan apa yang menjadi pegangan untuk masa mendatang.

Malang, 2 Juni 2018 14.46

untuk ananda sholeh kami yang pertama

Ananda yang sholeh,
Baru saja Ayah telah mengetahui dan menyaksikan betapa perjalanan Ibunda melahirkanmu ke dunia ini penuh dengan perjuangan. Sembilan bulan bukanlah waktu yang sebentar. Mungkin nantinya kau akan menganggap cerita semacam ini adalah hal lazim yang sering diutarakan oleh khalayak orang. Akan tetapi, setiap orang tua memiliki ceritanya tersendiri tentang kelahiran buah cintanya.

Perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya memang merupakan pergulatan fisik, emosi, ruhani yang sangat dahsyat. Namun, jika kau berada pada posisi seorang suami yang mendampingi istrinya dalam proses itu, akan terasa bahwa momen melahirkan buah hati adalah perjuangan yang betul-betul luar biasa nan istimewa untuk kami kedua orang tuamu.

Kami sebagai orang tuamu sangat menantikan hadirmu dalam keluarga kita ini dari sejak awal mula pernikahan. Bermula dari dua garis merah pada uji tes kehamilan di hari Senin, 9 Januari 2017, antusiasme kami bertambah dan kegembiraan menyeruak di dalam benak kami. Bentukmu ketika diperiksa oleh dokter ahli kandungan barulah berupa kantong janin yang begitu kecil. Terhitung hari pertama hari haid ibundamu adalah 27 November 2016 yang nantinya diperkirakan 3 September 2017 adalah hari perkiraan lahirmu.

Ananda yang sholeh,
Sejak kami mengetahui ada kehadiranmu di tengah-tengah kami, maka kami berusaha menjaga keberadaanmu. Pada bulan-bulan pertama, Ayah mendampingi Ibundamu yang kesakitan dengan mual dan muntah yang hampir selalu datang. Sempat kami mengkhawatirkan bagaimana asupan gizi untukmu, namun selalu kami usahakan agar dirimu dapat berkembang tumbuh di dalam rahim dengan baik.

Kesulitan yang dijumpai pada saat itu adalah tentang pekerjaan ibundamu. Dengan mual muntah yang sering terjadi mengakibatkan ibundamu tidak dapat bekerja sepenuhnya. Aktivitas banyak yang terganggu dan ibumu lebih banyak untuk beristirahat.

Bulan demi bulan kami terus memantau tumbuh kembangmu. Masya Allah kami selalu takjub dengan gerakan-gerakanmu di dalam rahim sana setiap kali terpantau. Doa demi doa selalu teriring agar kau senantiasa sehat dan kuat.

Masa-masa mual muntah kemudian berganti dengan masa yang lebih tenang untuk ibundamu. Tubuh ibundamu sudah kuat menyesuaikan keberadaanmu dan gerakanmu kini benar-benar terlihat oleh indera kami tak hanya sekadar dari pantauan hasil tes suatu mesin. Kami pun mempersiapkan barang-barang kebutuhanmu nantinya. Selain itu juga, menata rumah yang kita huni ini agar semakin nyaman dengan kehadiranmu.

Ananda yang sholeh,
Kami berusaha untuk memantau pergerakan tumbuh kembangmu kepada ahlinya. Sebagai orang tua tentu kami berusaha memberikan yang terbaik. Dari satu opini ke opini lainnya, dari satu wawasan ke wawasan lainnya. Kami serap itu, bahkan ibundamu menyempatkan di sela kesibukan pekerjaan untuk menimba ilmu terkait dengan kehadiranmu.

Usia kehamilan ibundamu semakin bertambah. Sudah hampir mendekati empat puluh minggu keberadaanmu di dalam rahim ibundamu. Masa-masa inilah yang menegangkan dan menjadi klimaks dari perjalanan mengantarkanmu ke dunia.

Kamis siang, 31 Agustus 2017, ibundamu mulai merasakan kram di perutnya. Awalnya dikira sakit biasa namun seiring waktu bertambah sakit dan rutin. Malamnya adalah malam takbiran menjelang perayaan Idul Adha dan rasa sakit itu semakin sering. Malamnya kami tak bisa tidur karena gelombang cintamu yang terus hadir di perut ibundamu. Hingga kemudian Ayah putuskan untuk membawa ibundamu pada rumah bidan dan rupanya per Jumat, 1 September 2017 pukul 03.30 barulah bukaan satu.

Kami dihimbau pulang oleh bidan karena waktu persalinan masih lama. Di rumah, ibundamu berusaha susah payah untuk mengelola gelombang cinta yang kau berikan. Gelombang itu jelas semakin bertambah dan intens. Jumat petang ibundamu semakin gundah dan kami kembali menuju ke rumah bidan kembali.

Ananda yang sholeh,
Adalah Bidan Rina namanya, bidan inilah yang menjadi rujukan tempat yang kami pilih untuk menyambut kehadiranmu. Kami dapatkan info mengenai praktek Bidan Rina yang mengkhususkan pada metode gentle-birth. Suatu konsep yang mengutamakan persalinan dengan cara yang natural, ketenangan, serta perawatan pascapersalinan yang tepat. Dengan Bidan Rina, kami sempat mengikuti kelas persiapan kelahiran yang sangat membuka wawasan dan memantapkan kami untuk menerapkan metode persalinan ini.

Per Jumat, 1 September 2017 pukul 20.30 kami dapatkan kabar kemajuan bahwa sudah bukaan empat. Setelah pengecekan, kami beranjak pada kamar nifas dan Ayah saksikan semakin bertambah gelombang cintamu. Malam hening itu dihiasi oleh suara ibundamu yang mencoba bertahan dan Ayah berusaha selalu menenangkan.

Bukaan demi bukaan terjadi pada mulut rahim ibundamu. Waktu yang lama dalam upaya bertahan atas gelombang cintamu. Dalam metode gentle-birth, calon orang tua harus bersabar, berpikiran positif, serta terus mengupayakan proses persalinan dijalani dengan senyaman mungkin. Teorinya mungkin sekilas mudah, namun realitanya sering ditemukan titik-titik di mana sulit mempraktekkannya, tetapi kami terus berusaha menerapkan sebaiknya untukmu.

20170903_081530Setelah melewati berjam-jam masa penantian kehadiranmu, lahirlah kemudian dirimu, ananda sholeh kami yang pertama, ke dunia pada hari Sabtu, 2 September 2017 pukul 12.57 di kota Malang. Kami pilihkan nama yang baik bagimu yaitu “Ahsanul Khuluq Affan” yang artinya “yang baik akhlaknya di Keluarga Affan”. Namamu ini terinspirasi dari beberapa penggalan hadits

“Ya Allah, Engkau telah memperindah rupaku, maka perindahlah juga akhlakku (HR Ibnu Hibban)”
“Mukmin yang sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Abu Daud)”

Dari penggalan ini, telah menginspirasi kami untuk mendoakanmu melalui pilihan nama sebagai ananda sholeh yang indah akhlaknya dan yang paling baik. Allahumma aamiin.

Untukmu ananda sholeh kami yang pertama, Ayah ulas cerita ini. Kelahiranmu di dunia adalah momen yang sangat berharga dan tak ingin untuk dilupakan. Melalui cerita ini, Ayah harap bahwa dirimu dapat mengetahui sejarah kelahiranmu serta hikmah pelajaran yang dapat dirimu selalu ingat. Berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu keharusan dengan perjuangan serta tanggungan amanat besar untuk merawat anak menghadapi dunia.

Sebagaimana terlantun doa yang selalu kami panjatkan dalam menyongsong kehadiranmu

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Semoga doa ini dikabulkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Selamat datang ke dunia, ananda Ahsan yang sholeh. Semoga Allah merahmati keluarga kita selalu.

Dari kedua orang tuamu,
Ayah dan Ibunda Keluarga Affan

Anas Isnaeni dan Afifah Az Zahra

Malang, 3 September 2017

kuliah kembali : bertemu lagi dengan akuntansi

Alhamdulillah sudah berjalan satu tahun masa pendidikan tugas belajar S-1 yang sedang saya jalani pada jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Menempuh jenjang pendidikan ini setelah sekitar 6 tahun tidak mengecap bangku kuliah, ada suka-duka tersendiri yang saya alami. Sebelumnya saya lulus dari jenjang Diploma III spesialisasi Akuntansi pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (Politeknik Keuangan Negara STAN, sekarang) di tahun 2010. Perjalanan hidup yang kemudian mengantarkan saya bertemu kembali dengan akuntansi ini merupakan satu bagian yang hendak saya kenang bagaimana hingga saya dapat meraih kesempatan ini.

Melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dulu termasuk hal yang membuat saya banyak berpikir untuk memutuskannya. Banyak kesempatan dan alternatif yang tersedia untuk dapat diambil, namun seringnya terjadi tarik-ulur untuk berusaha meraihnya hingga tanpa disadari waktu berjalan hingga 6 tahun lamanya. Sebagai lulusan STAN yang terikat dengan peraturan mengenai kedinasan dan instansi tempat saya bekerja, saya tidak diperbolehkan untuk langsung melanjutkan pendidikan setelah tamat program diploma. Menurut aturan saat itu, saya baru diperbolehkan melanjutkan kuliah setelah dua tahun dari masa kerja.

Pada tahun 2012-lah, kesempatan itu datang pertama kalinya dengan dibukanya seleksi program diploma IV STAN. Saya mengikutinya dengan persiapan yang belum optimal karena saat itu pekerjaan begitu masif pada akhir tahun anggaran. Hasilnya saya tidak lolos pada seleksi tersebut. Sangat mengecewakan bagi saya saat itu, apalagi dengan adanya rekan sejawat yang dinyatakan lolos. Memang kemudian pada tahun selanjutnya, tahun 2013, seleksi DIV STAN dibuka kembali dan lagi-lagi pada penghujung tahun. Saya mengikutinya kembali dan mengalami kegagalan juga.

Tahun 2014, pengumuman mengenai seleksi penerimaan mahasiswa tugas belajar/beasiswa semakin banyak, baik itu DIV STAN, S-1 STAR BPKP, dan lainnya. Di tahun inilah juga berdasarkan aturan, saya diperbolehkan untuk menjalani pendidikan ke jenjang lebih tinggi atas inisiatif sendiri, bukan tugas belajar atau sederhananya kerja sambil kuliah yang nantinya diakui oleh instansi. Namun sayangnya pada saat itu, saya kurang bersemangat untuk dapat bangkit belajar kembali setelah dua kali kegagalan berturut-turut. Pada tahun itu pula, pekerjaan saya semakin bertambah dan kompleks, sehingga seringkali saya terlampau fokus pada pekerjaan.

Barulah kemudian pada tahun selanjutnya, 2015, saya tertarik dengan seleksi penerimaan beasiswa internal instansi saya. Sebelumnya di tahun 2014 juga sudah diumumkan seleksi serupa, namun saya belum memenuhi persyaratan, yaitu dua tahun masa PNS. Seleksi penerimaan ini bekerjasama dengan beberapa universitas ternama di Indonesia dan skemanya juga masih tugas belajar. Saya cenderung untuk mengejar skema tugas belajar karena saya tidak yakin apabila mengambil skema pendidikan atas inisiatif sendiri apakah saya mampu membagi waktu dan tenaga untuk bekerja sekaligus kuliah.

Seleksi penerimaan beasiswa internal S-1 Direktorat Jenderal Perbendaharaan tahun 2015 pun saya ikuti. Bentuknya hampir serupa dengan tes seleksi DIV STAN pada saat itu dengan  ujian TOEFL dan Tes Potensi Akademik (TPA) menjadi bahan ujian ditambah psikotes. Perbedaan yang cukup menjadi kendala adalah lokasi ujiannya. Untuk ujian DIV biasanya diselenggarakan di Padang (yang lebih dekat dengan kota tempat saya tugas saat itu, Painan), sedangkan seleksi S-1 ini diselenggarakan di Medan dengan ongkos perjalanan ditanggung oleh peserta sendiri. Perbedaan lainnya pada kekuatan persaingan, seleksi DIV merupakan seleksi yang ketat dengan jumlah peminat yang lebih banyak dan meliputi seluruh eselon I pada Kementerian Keuangan, sedangkan pada seleksi internal peminatnya lebih sedikit dengan kemungkinan diterima yang lebih besar (peserta hanya dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan saja).

Walaupun saya sudah membekali diri dengan persiapan yang lebih baik daripada pengalaman saya ikut seleksi DIV dulu, sayangnya saya dinyatakan tidak lolos dalam seleksi internal pada tahun ini. Menanggapi kegagalan ini, saya tidak terlalu ambil pusing dan kembali sibuk dengan pekerjaan. Barulah pada tahun 2016, seleksi penerimaan beasiswa internal dibuka kembali dan saya mengikutinya. Tahun ini adalah tahun spesial bagi saya dengan status saya yang sudah tidak single lagi, sudah ada pendamping hidup yang selalu mendukung saya.

Memang pada tahun 2016 ini, persiapan saya lebih santai dan saya sudah lebih legowo dengan apapun hasilnya dari seleksi ini. Pada seleksi-seleksi sebelumnya saya selalu dihantui dengan ketakutan akan kegagalan, namun pada tes kali ini tidak saya temui hal serupa. Dukungan psikis dan doa dari istri selalu menguatkan saya. Dari tes pertama pada seleksi ini, yaitu seleksi administratif, berlanjut ujian tertulis, dan akhirnya seleksi wawancara saya lalui, selalu ada keoptimisan yang menjadi penyemangat saya. Hingga kemudian diumumkan kandidat final untuk penerima beasiswa internal S-1 pada tahun 2016, nama saya muncul di dalamnya dengan jurusan yang diterima pada Akuntansi Universitas Brawijaya (UB), Malang.

Ya, saya memilih Akuntansi kembali. Padahal untuk seleksi S-1 ini jurusan yang ditawarkan tidak hanya akuntansi saja. Sengaja saya memilih akuntansi karena dalam urusan pekerjaan saya rupanya sangat bersinggungan dengan urusan akuntansi ini. Pada masa-masa awal saya bekerja dulu sebagai bendahara sekaligus penyusun laporan keuangan kantor, jelas pemahaman akuntansi sangat dibutuhkan untuk dapat melakukannya. Kemudian saat saya dipindahkan pada seksi Verifikasi, Akuntansi, dan Kepatuhan Internal, dari namanya saja pekerjaan saya hampir selalu berkaitan dengan akuntansi. Bahkan saat itu, saya pun ditugaskan untuk berbagi ilmu dan wawasan mengenai akuntansi yang diterapkan pemerintah untuk operator satuan kerja dalam bentuk sosialisasi/pendampingan/bimbingan teknis. Walaupun ada kalanya akuntansi terasa menjemukan dan rumit, tetapi saya merasakan akuntansi adalah pilihan yang tepat.

Dalam perjalanan pendidikan lanjutan ini, saya temui akuntansi lebih luas lagi cakupannya dan lebih menantang. Dengan jeda selama sekitar 6 tahun tidak kuliah, seringkali membuat saya susah menyesuaikan dengan pola akademis yang sangat intens dengan diskusi, penugasan, dan media olah pikiran lainnya. Materi-materi yang saya dapati untuk perkuliahan S-1 ini juga lebih kompleks dari yang saya pelajari dulu di D-III STAN. Walaupun hampir serupa konsentrasi/spesialisasinya untuk akuntansi sektor publik/pemerintahan, materi akuntansi STAN sangat dominan dengan praktek terapan baku dari akuntansi pemerintahan yang ada di Indonesia, sedangkan materi akuntansi S-1 UB ini lebih luas cakupannya dengan memperkenalkan keterkaitan dengan materi-materi lainnya. Hal yang cukup memberikan perbedaan lainnya adalah pengalaman pekerjaan saya dulu dengan akuntansi menjadikan saya lebih paham dan terbuka mengenai bagaimana penerapan teori akuntansi pada prakteknya ketimbang dulu saat D-III hanya mengenal teorinya saja, belum dapat membandingkan dengan praktek yang ada di lapangan.

Sekarang tersisa dua semester (satu tahun) lagi yang harus saya jalani untuk dapat menyelesaikan jenjang S-1 ini. Dalam perjalanan menuju akhir ini, semakin intens dan rasanya hampir mendekati klimaks. Walaupun skema tugas belajar membebaskan pegawai untuk fokus pada kuliah tidak perlu bekerja, tetap saja membutuhkan perhatian yang khusus untuk mendapatkan hasil yang optimal. Beberapa waktu yang lalu, sempat tubuh saya drop dan mengalami sakit demam berdarah sekaligus typhus yang sepertinya disebabkan oleh bertubi-tubinya beban akademik. Dari pengalaman ini, menjadikan saya harus lebih menyeimbangkan sesuatunya.

Saya menginginkan hasil yang terbaik dari perkuliahan yang saya tempuh pada beasiswa internal S-1 ini, tidak semata mengenai IPK yang bagus, tetapi juga pemahaman yang lebih mumpuni untuk diterapkan pada dunia pekerjaan selanjutnya. Mengingat kesempatan beasiswa ini juga merupakan kesempatan yang berharga dan saya dapatkan setelah penantian yang lama, sehingga tidak boleh disia-siakan tentunya. Semoga untuk bagian selanjutnya dapat saya jalani lebih lancar dan baik lagi hingga pada akhirnya nanti.

(dalam hitungan hari sebelum Semester 3 dari program 4 semester akan dimulai)

Malang, 24 Agustus 2017

kalimat pertama

Kalimat pertama itu penentu. Sebagai permulaan dari sebuah tulisan, ia membutuhkan energi. Energi yang akan memacu munculnya kalimat-kalimat yang baru. Atas suatu ide yang tiba-tiba tercetus dan perlu untuk dijabarkan, kalimat pertamalah yang menjadi kunci untuk lebih mudah menguraikannya.

Kalimat pertama adalah tanda kecocokan untuk dapat berketerusan mengulas suatu ide. Perlu berulang kali untuk mengubahnya disesuaikan dengan ide cemerlang yang menjadi intisari dari suatu tulisan. Untuk menarik para pembaca tulisan, jelas kalimat pertamalah yang menjadi kesan pertama. Kesan pertama ini juga berlaku bagi sang penulis agar ia lebih bersemangat mengulas ide yang dimilikinya.

Mencari kalimat pertama itu sulit. Memadu kata untuk disusun menjadi kalimat penggugah untuk kalimat-kalimat selanjutnya adalah tantangan bagi sang penulis. Dari sekian banyaknya perbendaharaan kata, perlu dipilih mana yang terbaik untuk dapat menggambarkan kecemerlangan ide yang hendak dipaparkan. Tentang memilih kata itu, wawasan yang luas dapat membantu dengan membaca berbagai macam tulisan menginspirasi yang tersebar di mana-mana.

Sayangnya kalimat pertama bukanlah penjamin sepenuhnya atas suatu tulisan dapat dilanjutkan hingga selesai. Tuntasnya suatu tulisan tergantung pada jabaran ide yang terus mengalir di dalamnya. Jika ide tiba-tiba lenyap di tengah jalan, maka sulit untuk melanjutkannya kembali karena tak ada lagi yang bisa diulas di dalamnya.

Tak disangka memang dari satu kalimat saja dengan disertai kerangka ide yang sudah begitu menggebu di pikiran akhirnya dapat membentuk suatu jenis tulisan. Walaupun sebenarnya semua kalimat mempunyai ruhnya masing-masing, tetapi kalimat pertama sangat berbeda. Dengan bermula dari suatu awal yang bagus, maka hal-hal yang baik akan menyertai. Suatu tulisan, walau tak selalu,  dapat dituntaskan dan memuaskan sang penulisnya dengan kalimat pertama yang tepat. 

Ah, mungkin ini kesulitan yang sedang kualami.. Kalimat pertamalah yang selalu kucari-cari.. Untuk dapat memulai dan mengurai ide menjadi sebuah tulisan…

Malang, 20 Juli 2017

untuk menulis kembali

Sudah lama saya membiarkan blog ini seperti rumah kosong yang ditinggalkan oleh penghuninya. Tercatat postingan saya terakhir pada bulan Januari 2017 lalu, yang berarti hampir tujuh bulan lamanya blog ini terbengkalai. Sangat disayangkan memang. Semula saya menginginkan untuk dapat rajin mengisi blog ini dalam basis harian, nyatanya terlampau lama ditinggal hingga berbulan-bulan baru dapat diisi kembali.

Sebenarnya ada banyak hal yang hendak saya ceritakan dan dituangkan dalam postingan blog, namun kesemuanya berhenti pada sebatas gagasan saja. Tidak dikembangkan, ditindaklanjuti, dilakukan, hingga kemudian gagasan itu pergi lenyap entah ke mana. Pun untuk sekadar bercerita berbagi pengalaman peristiwa-peristiwa yang saya alami pun juga urung direalisasikan. Padahal dulunya berbagi cerita semacam ini begitu mudah saya lakukan dan bagi melalui blog. Apalagi niatan saya untuk mendokumentasikan kenangan peristiwa berharga dalam kehidupan saya melalui blog begitu kuat di jaman dulu. Sekarang ini? Perlu berpikir sampai berkali-kali untuk dapat menuangkan tulisan yang sekadar berbagi kenangan dan pengalaman.

Hal inilah yang membuat saya perlu melakukan introspeksi. Ada apakah yang terjadi? Kenapa sangat jarang mengisi blog lagi? Belakangan saya merasa malu dan tidak relevan lagi jika saya menyebutkan hobi saya adalah menulis melalui media blog. Itu hobi saya yang sudah dulu lama ditinggalkan dan sekarang terhenti sayangnya. Memang kalau dicari-cari alasan kenapa tidak rajin mengisi blog lagi, ada saja yang dapat dijadikan sebagai pembenaran. Padahal sebenarnya ada waktu yang dapat diluangkan untuk dapat bertutur tulisan melalui blog setiap harinya.

Memang saya merasakan mulai menurun aktivitas menulis saat saya sudah menikah. Awalnya saya berkeinginan untuk lebih produktif sesudah beristri, tetapi banyak peristiwa yang terjadi dalam sekejap hingga akhirnya rasanya tak ada waktu untuk menulis. Mungkin inilah hal yang terjadi kepada beberapa teman-teman saya sesama penulis saat dulu pernah saya komentari semakin jarang menulis semenjak mereka menikah. Dengan berkeluarga dan juga rutinitas kehidupan lainnya, menjadikan waktu luang untuk menulis sangatlah berharga. Walaupun begitu, masih ada banyak teman saya penulis yang menjadi contoh teladan tetap rutin menulis sesibuk apapun mereka. Saya sangat salut kepada mereka.

Pada catatan yang saya simpan, banyak terdapat gagasan yang terserak untuk dapat dikembangkan menjadi tulisan. Setelah menikah juga, sebenarnya ada banyak sekali hal yang dapat diceritakan. Banyak momen perubahan yang saya alami sebagai bahan cerita yang dapat digali, dari pernikahan (dari kisah bagaimana perikatan terjadi, awal penyesuaian hidup berdua, dan banyak kisah lainnya cukup dari tema ini), beasiswa pendidikan S-1 yang saya dapatkan, kesan tentang kota Malang yang saya tinggali sekarang ini, dan berbagai macam momen lainnya. Saya sangat menyayangkan jika momen-momen seperti itu berlalu tanpa ada jejak tulisan yang suatu saat nanti akan mengingatkan kepada saya kembali bagaimana momen itu terjadi.

Untuk dapat menulis sebuah gagasan ataupun sekadar cerita pengalaman sekarang ini rasanya agak susah. Menilik ulang isi blog saya selama ini, memang ada perubahan gaya dalam menulis. Perubahan ini seiring dengan perkembangan pemahaman saya akan idealnya suatu tulisan yang dapat dipublikasikan melalui blog. Dulu postingan saya terhitung lumayan banyak dengan gaya tulisan yang kelewat santai, ringan, bahkan kalau dalam istilah sekarang ini cenderung ‘alay’. Belakangan ini saya mencoba mengarahkan blog saya dengan tema yang spesifik seperti introspeksi harian dan juga makna dari suatu foto. Tema ini rupanya membuat saya lebih berpikir dalam mengisi blog dan tentu membutuhkan alokasi waktu serta tenaga yang lebih banyak untuk dapat menyelesaikannya.

Dengan perlu waktu yang lebih lama dalam menuntaskan suatu tulisan yang menurut saya pantas untuk diposting pada blog, hal ini sepertinya yang menjadikan saya lebih banyak menggunakan platform media sosial lainnya ketimbang blogging. Padahal pada media sosial lain sebenarnya belumlah memberikan kepuasan yang setara dari blogging. Saya cenderung lebih menyukai tulisan yang panjang baik sebagai penulis maupun pembaca. Dari blogwalking sering didapati banyak inspirasi dan juga tambahan wawasan serta interaksi yang lebih sehat. Dengan sering blogging pada saat dulu, saya merasakan hangatnya budaya saling mengunjungi postingan antar-blogger dan komentar  yang akrab darinya. Namun, seiring dengan intensitas blogging saya yang berkurang,maka hal ini semakin berkurang juga.

Era sekarang ini juga membuat saya perlu lebih hati-hati dalam membuat tulisan. Dengan memuat suatu tulisan, akan ada konsekuensi yang menyertai walaupun itu tulisan ringan sebenarnya. Kebanyakan pembaca tulisan sekarang ini lebih ganas dan pedas dalam berkomentar. Jika mengangkat suatu gagasan dan belum siap untuk dikomentari, maka lebih baik untuk urung dalam mempublikasikannya. Sering saya ingin mengangkat dan membahas isu hangat terkini yang berkembang di masyarakat, tetapi mengingat pada platform media sosial sering terjadi benturan pendapat, saya belum siap untuk menghadapi hal semacam itu pada blog saya sendiri. Saya lebih menginginkan blog saya ini menjadi media untuk berbagi wawasan yang positif bukan menjadi media untuk berdebat dan malah memicu perseteruan.

Saya rindu untuk dapat merasakan aktivitas blogging seperti dulu lagi. Butuh komitmen, niat, dan tekad yang kuat sebagai kunci yang selalu harus dipegang untuk dapat lebih giat dalam blogging. Menulis dan berbagi memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Seringkali saya lupa bahwa menulis itu sebenarnya adalah proses yang ditujukan untuk kepentingan pribadi, sebagai media untuk menyimpan memori dan media aktualisasi diri. Walaupun memang dengan berbagi tulisan melalui blog mengubah suatu tulisan menjadi konsumsi publik, tetaplah blog adalah media privat yang menjadi ruang pribadi bagi penulisnya. Dengan begitu, melalui blog, seharusnya seorang penulis lebih bebas untuk mengungkapkan berbagai macam gagasan dan ceritanya.

Tema semacam ini yang berusaha untuk meneguhkan kembali kebiasaan menulis sudah berkali-kali saya wacanakan dalam berbagai tulisan. Perlu sering ada pengingat memang untuk dapat konsisten melakukan sesuatu. Naik turunnya suatu aktivitas adalah hal yang wajar, tetapi perlu dikendalikan agar tetap pada jalur yang tepat. Begitu juga dengan menulis pada platform blog ini. Saya sangat tertarik dengan dunia tulis menulis dan mempunyai cita-cita untuk berkarya dalam media tulisan. Setidaknya blog menjadi wadah yang tepat untuk dapat melatih diri dalam meraih hal tersebut. Oleh karena itu, saya mulai kembali bangkit untuk menata semangat agar dapat menulis kembali. Semoga saja tidak perlu lagi ada tulisan yang saya buat untuk mengingatkan pada suatu saat nantinya tentang betapa pentingnya menulis itu. Jika semangat menulis meredup, kiranya cukup mencamkan satu nasehat yang pernah saya tulis dan selalu menampar saya untuk bangkit kembali…

“Sempatkanlah menulis sebagaimana kamu lebih menyempatkan hal-hal yang sebenarnya tak jauh lebih penting dari menulis…”

Malang, 11 Juli 2017