[photo of the day] keberanian memulai kembali

image

Keberanian bukan tentang secara serta merta menyuarakan langsung apa yang ingin disampaikan. Ia akan samar dengan kenekatan jika ia diartikan seperti itu. Kenekatan adalah kondisi keacuhan yang tidak mempedulikan apa pun yang terjadi di sekitarnya. Menerjang apa pun yang menghalangi entah itu adalah pengingat yang berguna atau pengancam yang berupaya menghentikan. Nekat tidak sama dengan berani.

Keberanian itu butuh untuk mengetahui, memahami, dan menyesuaikan dengan apa yang pernah, sedang, dan akan terjadi. Berani tidak hanya ada pada satu titik sekarang ini. Ia dituntut untuk ada pada setiap lini. Masa lalu menjadi pertimbangan. Masa sekarang menjadi penentu. Masa depan menjadi harapan.

Tidaklah tepat jika ketika telah memutuskan sesuatu malah bertindak yang sebaliknya. Berani membutuhkan konsistensi apa yang diyakini, diucapkan, serta diperbuat. Berani tidak mesti tentang lantang bersuara. Berani adalah sebentuk karakter yang bertanggungjawab. Ia bisa berupa diam akan sesuatu, namun sarat akan makna.

Lalu, seberapakah tingkatan keberanian ada pada diri untuk memulai kembali?

(foto diambil dari patung Singo Edan di dekat alun-alun Kota Malang Baru)

bicara cinta

Cinta. Seperti apakah wujudnya? Bagaimanakah orang kemudian menyatakan pernah merasakannya? Lalu, pada batas-batas apakah cinta itu berbeda dari sekadar perasaan biasa lainnya?

Bisa jadi yang dirasakannya itu adalah tanda kekaguman. Sosok yang dulunya hanyalah dalam angan kemudian dapat ditemui dalam wujud nyata. Ideal, nyaris sempurna, begitu sangat diimpi-impikan sehingga senantiasa terbayang. Ketertarikan terus menerus menguat dengan hal-hal yang disukai ada pada sosok idaman.

Sayang, cinta jauh lebih rumit daripada tentang kekaguman semata. Dalam cinta tak ada tuntutan kesempurnaan. Tak perlu mencari yang begitu ideal untuk dapat saling dipersandingkan. Cinta lebih membutuhkan untuk saling melengkapi antar dua pribadi dengan setiap kelebihan dan kelemahannya. Jika tak mampu menerimanya, cinta hanyalah perkara yang sementara saja. Ketidaksempurnaan adalah keniscayaan.

Bisa jadi yang dirasakannya itu adalah gejolak nafsu. Gelora tubuh yang rentan tidak terkendali dapat membuat serangan membabibuta. Ketertarikan fisik akan menggerakkan imajinasi liar. Hasrat keinginan muncul untuk berbuat ini itu. Hingga bisa jadi terlewat dari batas-batas norma. Atas nama cinta, semacam ini sering didalihkan sebagai alasan pembenar.

Sayang, cinta bukan tentang gejolak nafsu naluriah yang ada pada manusia. Cinta berada pada tingkatan yang jauh lebih tinggi dan berderajat daripada itu. Kalau hanyalah tentang apa yang menggerakkan syahwat, apalah beda dengan apa yang dialami oleh binatang? Gejolak itu juga datangnya sesaat yang bisa jadi datang pada sosok lainnya dengan bentuk serupa yang menggoda. Padahal cinta membutuhkan kekhususan yang tidak memperkenankan permainan sesaat di dalamnya.

Jelasnya bicara cinta adalah bicara tentang perasaan. Perasaan itu seringkali tak mudah untuk dimengerti. Ia pun berubah-ubah sekehendaknya sendiri. Mengenalinya butuh pertanda yang kuat dan meyakinkan. Menyatakannya butuh kekuatan yang mengikatkan pada bukan sembarang konsekuensi. Maka dari itu, cinta perlu terus dibangun, ditumbuhkan, dan dikembangkan.

Cinta adalah refleksi jiwa. Tanyakan pada hati yang bisa menentukan darimanakah perasaan itu muncul. Dari akalkah, tubuhkah, atau jiwa? Jika ia muncul melewati dari sekadar kekaguman pikiran dan juga perasaan nafsu yang meluap-luap, maka ia datangnya dari kebutuhan jiwa.

Cinta adalah ibadah untuk pemujaan. Cinta menjadi pekerjaan hati yang dikaruniakan oleh Tuhan dengan adanya perasaan dan pikiran. Sudah sepatutnya cinta menjadi sebentuk balas budi kepada Sang Pencipta. Jika benar suatu rasa adalah cinta, maka ia harusnya akan lebih mempergiatkan ibadah mendekat pada-Nya. Tidak hanya memuja sang kekasih saja, tetapi dalam cinta itu ada asma Ilahi terucap meminta untuk dikekalkan ikatannya.

Hingga pada tingkatan akhirnya cinta yang sudah menjadi refleksi jiwa dan ibadah untuk pemujaan, akan sampai pada maksud dari kehidupan. Kehidupan tanpa cinta adalah kehampaan yang sangat lengang. Cinta itu fitrahnya menghidupkan. Dengan cinta, kebaikan demi kebaikan akan terus ada dan bersemi. Dunia menjadi indah dan manusia akan merasakan kebahagiaan dengannya.

Begitulah cinta jika kamu benar-benar telah merasakannya…

Pyar aatma ki parchhai hai… Ishq ishwar ki ibadat… aur Mohabbat zindagi ka maksad
Love (pyar) is the reflection of soul. – Love (ishq) is the worship of Lord. – And Love (mohabbat) is the purpose of life.
(a dialogue from Devdas (2002 film))

[photo of the day] menjelang petang

image

Ini sudah menjelang petang. Dunia akan segera berkabung dalam selimut kelam. Cahaya-cahaya buatan mulai berkerlipan menyambutnya. Sementara itu manusia hilir mudik melintas lalu dengan berbagai macam ekspresinya.

Pada momen seperti ini, sekilas hal rutin dan terus berulang terjadi. Adakah kemudian tersadar, di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas bagi yang memikirkan?

Jika kemudian sang surya berbalik arah. Jika tidak ada sama sekali petang yang menenangkan. Jika hanyalah panas mendera membuat tubuh derita.

Syukurlah untuk kesempatan hari mengecap rutinitas yang masih berulang. Berbagai nikmat masih melimpah. Namun, siapa yang tahu, esok masihkah jiwa pada raganya?

Luangkan sejenak saat untuk lirih mengucap zikir. Seiring doa yang kuat-kuat dipanjatkan “Ya Allah, sesungguhnya ini adalah malam-Mu yang telah menjelang dan siang-Mu yang tengah berlalu serta suara-suara dari para penyeru-Mu, maka ampunilah aku.”

Semoga hidup ini selalu dalam keberkahan karunia dari-Nya.

[photo of the day] daya yang menguatkan

image

Ada saat di mana sesak dan kesempitan itu begitu menjadi-jadi. Ada saat di mana pikiran terus menerus berkutat meminta pencerahan. Ada saat di mana beban kehidupan pada titik kulminasinya.

Saat itu. Merasa sangat rindu untuk kening ini bersujud. Pada rumah-Nya yang agung, dipanjatkan doa-doa dalam lirih yang syahdu. Penuh harapan dan upaya-upaya penyembuhan. Kemudian saat itu seketika beralih. Menjadi saat untuk bangkit. Kembali kuat. Kembali tegar. Siap untuk kesemuanya apa pun itu.

Tiada daya dan kekuatan selain dari Allah semata.

(foto diambil dari serambi Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia)

Kuncian Hati: Undangan untuk Pembaca

Manusia hidup dalam siklus yang tidak pernah berhenti tentang memilih. Berbagai kemungkinan telah tersaji di hadapan, tinggal menentukan manakah yang akan dipilih. Pada setiap hal yang kemudian telah dipilih, maka muncul konsekuensi yang menyertai.

Ada ketentuan Ilahi yang tidak bisa diutak-atik oleh manusia. Inilah yang disebut dengan takdir, ini yang menjadikan manusia tidak bisa sekehendaknya sendiri. Pada salah satunya itu, ada tentang jodoh. Jodoh itu seakan-akan manusia bisa menentukan pilihannya. Tetapi pilihan tentang jodoh adalah pilihan yang sebenarnya telah ditentukan oleh-Nya.

Tentang jodoh. Ini adalah salah satu pertanyaan yang misterius. Dengan siapakah nantinya diri akan dipasangkan? Bagaimanakah nantinya keharmonisan keluarga akan terjalin? Apakah memang seseorang yang dipilih itu adalah jodoh yang tepat?

Naluri manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan. Tidak akan sempurna agama jika seorang lelaki belum bersanding dengan perempuan membentuk keluarga. Tidak akan tenteram perasaan hati jika seorang perempuan belum menemukan sosok yang akan memimpinnya. Kesemuanya itu adalah bagian-bagian yang perlu ditata menjadi satu. Penataan itulah yang dimulai dengan ikatan pernikahan.

Menikah adalah suatu babak dalam kehidupan. Babak yang sangat kentara berbeda. Hidup tidak akan hanya menanggung tentang diri pribadi. Amanah itu kian berat, tetapi akan ada yang mendampingi. Seorang istri yang shalihah agamanya, cantik parasnya, dan baik perilakunya adalah sosok ideal untuk itu. Namun, tidak akan ada sosok istri yang sempurna. Setiap orang akan membawa kelebihan dan kekurangannya.

Aku, sebagai seorang lelaki yang telah berusia seperempat abad lebih, telah berada pada titik itu. Titik di mana pikiran mulai menatap lebih jauh ke depan dan keresahan hati meminta untuk dituntaskan. Pada titik itu, maka pilihan itu telah tersedia di hadapan. Dengan ini, dengan itu, oleh ini, oleh itu. Kebimbangan mendera bertubi-tubi. Ada kecemasan disertai dengan penuh harap agar suatu saat dapat dipertemukan dengan sosok yang tepat.

Ialah Afifah Az Zahra. Seorang perempuan jawa yang saat ini menjadi insan perbendaharaan bertugas di bumi Laskar Pelangi, KPPN Tanjung Pandan, Belitung. Pada halaman demi halaman dari Istaqoma Afifah yang dibuatnya itu menjadi kunci yang selama ini dicari. Kunci jawaban dari setiap pertanyaan yang selama ini berkelebat dalam penantian siapakah sosok yang membersamai hidup untuk selanjutnya.

Dengan izin dan perkenan dari Allah SWT, pada tanggal 7 Februari 2016 nantinya di kota Surakarta akan diadakan ikatan perjanjian agung antara seorang Anas Isnaeni dan Afifah Az Zahra. Pernikahan ini akan menggabungkan dua keluarga besar antara keluarga (alm.) Hasan Asror dari Salatiga dengan keluarga Joko Maryono dari Kartosuro.

publishPada masa-masa ini, hari demi hari terasa sangat anomali. Ia berjalan terasa begitu cepat dengan persiapan-persiapan yang perlu segera untuk ditunaikan. Akan tetapi, ia juga berjalan terasa begitu lamban karena ketidaksabaran untuk membangun cinta bersamanya. Doa senantiasa dipanjatkan untuk selalu mengukuhkan niat yang baik. Doa senantiasa dihaturkan untuk memohon keberkahan dan kelancaran akan semua proses yang dijalani. Doa dan hanyalah doa yang menjadi kekuatan di antara kami yang hendak menyempurnakan agama.

Kuncian hati itu telah ada. Dengannya, akan dibuka pintu yang bernama pernikahan. Yang di dalamnya terdapat berbagai macam pernak pernik kehidupan yang lebih beragam. Dengannya, semoga sakinah, mawaddah, dan rahmah akan tercapai. Yang di dalamnya terdapat keluarga madani sesuai tuntutan syariat dari Yang Maha Kuasa. Dengannya, semoga kucuran keberkahan yang terus melimpahi dan mewarnai kehidupan baik suka maupun duka. Yang kemudian menghantarkan pada kebahagiaan hakiki di akhirat kelak, tak hanya di dunia semata.

Segenap pembaca yang telah berkunjung pada halaman ini, mohon doa restunya atas pernikahan kami nantinya. Tulisan ini juga menjadi kabar sekaligus undangan bagi yang berkenan hadir pada pernikahan kami. Undangan lebih lengkapnya ada pada tautan yang dapat diklik di sini

Dari kami yang tengah menanti…

Anas dan Afifah…

kata-kata

“Boleh aku berkeluh padamu?”

Kupecahkan keheningan yang beberapa saat ini ada di antara kita. Kembali aku duduk di hadapanmu, dengan muka yang masih sama, dengan perasaan yang kembali gundah. Sekilas tampak keenggananmu untuk menanggapiku untuk kesekian kalinya lagi. Akan tetapi, dalam sekejap, dirimu mengubah ekspresi dan memberikan sepenuh perhatian untukku, untuk kesekian kalinya juga.

“Kamu masih mempunyai persoalan yang serupa dengan yang lalu?” balasmu dengan nada yang datar.

“Entahlah. Tentang persoalan ini ataukah yang itu. Kau sudah paham benar tentangku ini. Tetapi itu semua adalah muara dari apa yang sebenarnya berujung dari satu persoalan sepertinya.”

“Tentang apa itu?”

“Tentang kata-kata. Waktu telah berjalan begitu pesat dan meninggalkan kesadaran untuk memahaminya. Kata-kata telah lama hilang dariku.”

Mengucapkan kenyataan ini rasanya semakin memberikan sayatan tajam. Luruhlah ego yang membuat pertahanan semu untuk tidak berkehendak mengakui hal ini. Tercabik-cabik sudah kepura-puraan untuk beranggapan bahwa segala sesuatu wajar adanya.

Kehilangan, jika itu adalah tentang apa yang sebelumnya begitu lekat dengan diri, akan sangat memberikan pengaruh. Ada ganjalan perasaan yang terus menghantui. Kehilangan adalah bentuk lain dari ketidaklengkapan. Ada bagian dari sesuatu yang telah terbentuk dan tanpanya maka tiadalah menjadi sebagaimana mestinya.

Aku dan kata-kata. Aku merindu bagaimana dulu aku menuturkan kata-kata. Entah dalam lisan ataupun tulisan. Dengan sepenuh penghayatan tertuang ada di dalamnya. Ia adalah ekspresi yang terwujud benar menggambarkan kepribadian. Ada kekuatan yang terpancar darinya. Ia tidak menjadi hal yang dibuat-buat. Apa adanya, murni, dan bermakna.

Sorot mataku menerawang mencoba melakukan kilas balik di masa lalu. Susah. Sudah sejak kapan ini terjadi aku tak tahu. Dirimu berdeham memberikanku isyarat untuk memberikan penjelasan. Aku benarkan posisi dudukku, meminum segelas air untuk membasahi tenggorok yang terasa kering, dan memulai memberikan penjelasan tentang kata-kata ini.

“Kata-kata. Kata ada dalam apa yang terucap oleh lisan dan apa yang tergores dalam tulisan. Dulu, lisanku adalah tentang apa yang terlontar spontan dari hati yang bahagia. Dulu, hati ini akan menyembunyikan segala bentuk emosi yang menyedihkan dan menumpah-ruah-kan energi kebahagiaan. Dulu, tulisanku adalah tentang hasil pemikiran yang telah dipikir dengan matang. Dulu, pikiran ini terus menerus menangkap ide, menjabarkannya, mengolahnya, dan kemudian membentuknya dengan kata-kata,” kehampaan semakin kuat merasuki diri saat menjelaskannya lebih rinci lagi padamu.

“Sekarang kata-kata itu hilang. Lisanku kacau. Ia berbicara sekena dan semaunya. Tak memandang bagaimana situasinya dan sering membuat ricuh. Persoalan demi persoalan terjadi karena inilah yang rupanya menjadi penyebabnya,” kutundukkan kepalaku. Suaraku semakin rintih karena luka kehilangan ini semakin tak bisa kusembunyikan.

Aku sangat menyesali tentang apa yang baru kusadari. Banyak masalah yang terjadi dan diatasi hanya sekenanya saja. Satu masalah selesai dan kemudian beralihlah persoalan lainnya. Hampir-hampir tak ada sejenak waktu untuk benar-benar menilai ulang. Kesalahan serupa akan terus terjadi bilamana tak diketahui apa penyebabnya.

Kuhela nafas sembari melanjutkan, “Sedangkan tentang tulisan. Kau tahu sendiri. Lama sudah kumeninggalkannya. Terasa benar kata-kata sudah jauh dariku sekarang. Kala kucoba merangkainya menjadi jalinan cerita, hasilnya adalah kekacauan yang rumit untuk dibenahi. Ide-ide yang semula hinggap menunggu untuk diejawantahkan, sekejap menghilang dan sulit untuk didapat kembali. Aku ingin kata-kata itu kembali ada dalam benak pikiranku. Menari-nari dan saling berpasangan hingga kemudian baris demi baris, bait demi bait, penggalan demi penggalan akan terbentuk dan bersatu utuh menjadi tulisan.”

“Jadi, persoalannya adalah tentang kata-kata? Lalu, kenapa kata-kata meninggalkanmu? Seharusnya pikirkanlah apa yang menjadi penyebab kata-kata itu hilang darimu. Itulah persoalan utamamu,” timpalmu dengan tatapan mata yang tajam.

Aku terhenyak. Tak kusangka inilah tanggapanmu. Seperti tamparan yang berusaha untuk menyadarkan. Kemelut mendung yang merundungi pikiranku menjadi tersibak. Benar apa yang kaukatakan. Adalah tentang kenapa kata-kata itu tidak muncul kembali yang perlu untuk ditelusuri.

“Benar juga. Lalu, bagaimana aku untuk mengetahui apa penyebab utamanya?”

“Sederhana saja sepertinya. Dirimu sendiri yang telah lalai untuk menjaga kata-kata. Kata-kata itu adalah benih-benih yang tersemai. Ibaratkan saja seperti itu. Maka, jika ia adalah benih, ia perlu dirawat, dipelihara, dan selalu dijaga,” ucapanmu kusimak lekat-lekat. Dirimu adalah tempat yang selalu kupercaya untuk mengadu, berkeluh, dan mendalami hikmah akan sesuatu dari pengalamanmu.

“Bagaimana caranya untuk menjaga kata-kata? Pertama, niat itu harus ada pada permulaan dan terus diperbarui. Bahwa jika ada tekad untuk berkutat dengan kata-kata, maka hidupkanlah terus itu. Jangan biarkan ia layu sebelum berkembang. Kedua, berlatihlah. Jangan biarkan sekalipun kata-kata itu dibiarkan. Ia adalah aliran air yang tak dapat dibendung. Biarkanlah ia mengalir dengan salurannya. Walaupun bisa jadi tak sesuai yang diinginkan, biarkan saja. Mereka butuh perhatian, jika sekejap ditinggalkan maka besar usaha untuk dapat menangkapnya kembali. Maka, rajin-rajinlah berurusan dengannya, setiap hari, setiap ada waktu yang dapat diluangkan, setiap ada sekelebat ide yang datang untuk dituangkan.”

Kepalaku mengangguk-angguk mendengar nasehat darimu. Aku memahaminya sekarang. Tentang niat dan latihan, dua hal yang memang aku tinggalkan sehingga kata-kata kini tak lagi terjaga.

“Lalu, yang ketiga adalah tentang contoh. Janganlah terlalu sibuk mengurus diri sendiri dan terjebak dalam kesempitan wawasan. Kata-kata itu mempunyai jutaan rangkaian yang kemudian dapat dicontoh dari orang lain. Carilah contoh yang menurutmu tepat dan belajarlah darinya. Namun, ingat, keaslian kata-kata adalah hal penting. Kata-kata yang kaurangkai adalah jati dirimu yang tak akan sama dengan yang lain.”

Tentang contoh. Ya, ia juga berpengaruh. Lisan akan sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan karena lingkunganlah yang memberikan contoh. Jadi, guna mendapat tutur lisan yang baik haruslah memperhatikan bagaimana orang baik berbicara. Sedangkan tulisan, contoh didapat dari hasil membaca. Menulis dan membaca adalah dua hal yang saling berkaitan. Dengan membaca memberikan contoh bagaimana tulisan orang lain dibuat dan menginspirasi dalam tulisan yang dibuat sendiri.

“Bagaimana? Itu pendapatku. Apakah penjelasanku ini memberikan pencerahan bagimu?” ujarmu meminta tanggapanku.

“Tak ada satu hal pun yang dapat kusanggah darimu. Setiap perkataanmu itu sudah sesuai. Aku kini semakin memahami duduk persoalan yang kuhadapi. Kini semua kembali kepadaku. Apakah nasehat yang telah kauutarakan ini benar-benar kuterapkan,” balasku sembari memberikannya senyuman. Terasa lega dan lepas kini untuk tersenyum kembali. Pikiran yang semula seperti kabut kini telah terang benderang. Beban ganjalan berangsur-angsur menghilang.

“Percakapan kita ini sebenarnya juga adalah suatu bentuk rangkaian kata-kata, bukan?” ia membalas dengan senyuman yang lebih hangat. “Aku tunggu dirimu dengan kata-kata kebahagiaan yang menghidupkanmu kembali dalam lisan maupun tulisan. Ayo, bergeraklah!”

“Baiklah! Terima kasih kawan!”

Perjumpaan pun harus diakhiri. Semoga akan ada kesempatan bersua kembali untuk mendapatkan nasehat darimu. Aku sangat mengharapkan itu.

butuh contoh

Jika kau hanya sendiri, mungkin tak pernah kau dapati apa yang sebenarnya patut untuk dilakukan. Keadaan sekitar mungkin telah membentuk sedemikian rupa dirimu menjadi kian tidak peka. Sering memaklumi ini itu bahkan hingga terbiasa  dan tak perlu repot untuk peduli.

Padahal kesempatan-kesempatan itu ada jika memang mau dilihat lebih cermat. Kebaikan itu akan selalu ada di tengah berbagai macam upaya keburukan yang mengintai. Lalu, berdiam diri saja tak pernah mengambil kesempatan dalam kebaikan itu adalah opsi yang patut?

Butuh contoh. Butuh orang yang mencerahkan dan memberikan keluasan wawasan. Butuh untuk pengalaman dan membuka kemungkinan-kemungkinan lain yang sudah ada dan pernah terjadi di lain tempat. Jika hanya sendiri, kesempitan terasa nian. Ada kehendak untuk harus bertindak sesuatu namun terganjal karena tak tahu bagaimana caranya melakukan hal itu.

Contoh bisa menjadi penggerak yang ampuh. Karena dari contoh, dapat dilihat bagaimana caranya suatu kebaikan itu dilakukan. Dari contoh, akan terdorong keinginan berbuat serupa bahkan kalau bisa melampauinya. Apalagi jika hasil dari contoh itu menunjukkan kemanfaatan yang nyata terasa. Tentu akan ada dorongan untuk dapat mencapainya.

Contoh memang adalah hal tentang cara. Tentang tindakan jelas yang dapat dicermati lebih seksama dan kemudian ditiru dan diubah seperlunya menyesuaikan kondisi. Contoh datang dari hasil mengamati. Ia tidak datang dari diri sendiri, melainkan dari apa yang dilakukan oleh pihak lain.

Maka, lebih peka dengan keadaan sekitar perlu lebih diperhatikan. Jangan sampai terlalu fokus hanya tentang diri dan keterbatasan yang selama ini disangka diri. Bisa jadi ada kemampuan yang lebih namun tak pernah disadari jika tidak digali. Contoh membuktikan ternyata bisa dilakukan dari apa yang dikira tidak mungkin sebelumnya.

Peluang untuk melakukan kebaikan itu ada di mana pun dan kapan pun kita berada. Yang kemudian dipersoalkan adalah bagaimana cara untuk mengambilnya dan melaksanakannya. Cara itu dicari dari contoh yang sudah ada. Contoh adalah instrumen lengkap yang mengakomodasi lebih dari sekadar teori atau tataran konsep.

Sekarang jika sudah ada contoh tentang suatu kebaikan, masih bisa beralasankah lagi untuk enggan melakukannya?

(Painan, 13 Juli 2015)