mengulas tugas perbendaharaan di tahun kedelapan

Rupanya sudah berjalan delapan tahun. Rasanya memang sudah banyak hal yang telah terjadi, tetapi aku tidak menyangka sudah berjalan selama itu. Delapan tahun sudah terikat pada suatu institusi yang bernama Direktorat Jenderal Perbendaharaan, unit eselon I pada Kementerian Keuangan yang tidak setenar Pajak maupun Bea Cukai.

Aku mencoba mengulas kembali apa yang telah berlalu. Pada delapan tahun yang lalu itu, tanggal 20 Oktober 2010, aku mengunduh sebuah berkas dari official website STAN di rumahku. Berkas itu adalah berkas yang sangat penting untuk menentukan pada instansi manakah nantinya ikatan dinas selepas masa kuliah di STAN akan dilaksanakan. Ya, berkas itulah yang memberikan keterikatan pada suatu instansi untuk mengabdi sebagai PNS selama 10 tahun atau lebih masa ikatan.

Pada berkas itu tertampang judulnya dengan huruf kapital “Pengumuman Biro Sumber Daya Manusia Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan No. PENG-02/SJ.5/2010 tanggal 19 Oktober 2010 tentang Pengumuman Penempatan Lulusan Program Diploma I dan III  STAN Tahun 2010 pada Kemenkeu, BPK, dan BPKP”. Lalu, pada lampiran 1 dan baris ke-81 barulah muncul namaku, Anas Isnaeni D-III Akuntansi Pemerintah, dan pada sisi sebelah kanan tertera “DJPB”.

c8dba113-7e98-4706-be53-9c22aa8aa928

DJPB, singkatan dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Ekspresiku terkejut saat membaca namaku bersebelahan dengan nama instansi ini. Terasa asing karena dari pengalaman senior-senior pada tahun sebelumnya tak pernah ada yang ditempatkan pada instansi ini. Baru pada tahun 2010 itulah, DJPB merekrut kembali lulusan D-III STAN. Terasa kecewa juga, walau tidak begitu menjadi persoalan, karena pilihan dan harapanku tidak sesuai dengan realita yang diterima. Aku merasa beruntung pada satu sisi lainnya, aku tidak masuk pada unit instansi yang tidak aku sukai/harapkan. DJPB berada pada tengah-tengah itu, instansi yang tidak begitu aku harapkan dan juga tidak menjadi daftar hitam instansi yang tidak aku sukai.

Singkat cerita, bulan Oktober tahun 2010 menjadi bulan yang berkenang dengan segala hiruk-pikuk yang terjadi pada saat itu. Yudisium, wisuda, pengumuman penempatan instansi, dan pemberkasan di kantor pusat semuanya dilalui pada bulan ini. Aku harus bolak-balik antara Salatiga dan Jakarta selama beberapa kali. Hingga kemudian pada awal bulan selanjutnya, proses internalisasi sebagai pegawai baru di DJPB berlangsung dengan kegiatan orientasi, motivasi, dan magang selama sekitar 7 bulan lamanya. Selang waktu ini, tidak banyak cerita yang terkenang karena pegawai magang bisa dibilang belum menjadi pegawai yang sepenuhnya, baru sebatas mengenali apa saja yang ada di dalam DJPB dan tugas-tugas yang terkait dengannya.

Bulan Juni 2011, statusku sebagai pegawai magang berubah. Sebuah Surat Keputusan menetapkan aku untuk pindah dari Jakarta dan menjadi pegawai tetap pada suatu kantor yang bernama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Painan. Painan adalah kota yang sebelumnya tidak aku kenali. Saat itu, aku sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di luar pulau Jawa, bahkan pun tidak ada kerabat di sana. Demi pengabdian sebagai PNS, aku pindah ke sana dan memulai pekerjaan baru. Di ranah Minang inilah banyak asam garam kehidupan yang sesungguhnya dirasakan hingga 5 tahun lebih masa penugasan.

Di KPPN Painan, mulanya aku ditugaskan sebagai front office Subbagian Umum. Masih aku ingat pekerjaan itu membuat aku tidak merasa nyaman. Sebagai pegawai baru minim pengalaman, aku sudah harus berhadapan dan berinteraksi langsung melakukan pelayanan kepada mitra kerja. Yang bisa kulakukan pada waktu itu adalah mengamati bagaimana senior bekerja dan membantu apa yang bisa dibantu. Rupanya tugas front office ini kemudian lebih dispesifikkan lagi dengan penugasan sebagai Customer Servicer Officer (CSO), pekerjaan yang lebih berat lagi.

Tantangan dari tugas sebagai CSO adalah harus mempunyai penguasaan aplikasi dan pemahaman peraturan tentang perbendaharaan untuk dapat membantu mitra kerja dalam menangani permasalahan perbendaharaan terkait hal itu. Aku butuh banyak belajar dan menyerap informasi seluas-luasnya. Beruntung dalam penugasan ini tidak sendirian, masih ada senior yang mendampingi dan menjadi tempat untuk belajar. Bersama senior ini, tidak semua masalah dapat diselesaikan, tetapi minimal jadi bahan pembelajaran untuk selalu mengedepankan pelayanan terbaik untuk mitra kerja.

Sebagai pegawai baru dan muda di kantor, penugasan saat itu tidak hanya tentang CSO, tetapi juga merangkap pekerjaan lainnya. Ada penugasan pengurusan website kantor, pencetakan kartu identitas, dokumentasi kegiatan kantor, dan lain sebagainya. Aku berusaha menjalankan tugas itu sebaik mungkin, tidak mengeluh dengan beban pekerjaan yang diberikan, dan cenderung menjadi penurut.

Akhir tahun 2011 menjadi kejutan bagiku. Aku dipanggil menghadap Kasubbag Umum dan beliau menyampaikan bahwa ada penugasan baru untukku. Penugasan itu adalah sebagai bendahara mulai awal tahun 2012. Aku terkejut karena tugas menjadi bendahara saat itu adalah tugas yang kuanggap berat dan sangat serius. Melihat pendahuluku yang bertugas sebagai bendahara sebelumnya, beliau sering lembur dan hampir selalu terlihat sibuk di back office. Menjadi bendahara juga berarti harus benar-benar menjaga pengelolaan keuangan kantor agar kegiatan operasional dapat berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun sedemikian beratnya tugas bendahara ini, dengan pengalaman CSO yang sudah dienyam, menjadikan pekerjaan yang harus dilakukan sudah cukup familiar. Bendahara di instansi perbendaharaan tentunya sudah mahir tentang aplikasi dan peraturan perbendaharaan.

Tugas menjadi bendahara ini berlangsung dari tahun 2012 hingga pertengahan tahun 2014. Selang waktu itu, pekerjaan memang terasa lebih berat daripada sebelumnya. Harus sering lembur hingga malam hari, harus lebih teliti dalam membukukan transaksi keuangan, dan harus selalu sigap jika kantor membutuhkan dana segera. Kerumitan pekerjaan tidak hanya terasa pada urusan teknis saja, tetapi permasalahan kantor semakin beragam. Banyak masalah pelik yang terjadi di kantor diakibatkan karena persoalan keuangan. Jika dulu tugas sebagai CSO harus melayani mitra kerja eksternal, maka sebagai bendahara orientasinya berubah harus melayani pegawai atau internal kantor. Menuruti keinginan pegawai rupanya lebih sulit dan kompleks apalagi jika berhubungan dengan kompensasi keuangan. Hal ini menyebabkanku lebih sering mengeluh dan berusaha meminta untuk digantikan.

Bulan Juni 2014, penugasan sebagai bendahara berakhir. Permintaanku untuk digantikan penugasan bendahara kepada pegawai lain disetujui oleh atasan. Aku masih di Subbagian Umum dan beralih pada tugas pengelolaan kinerja dan penyusunan laporan-laporan. Tugas baru ini bukanlah tugas yang lebih mudah, tetapi tidak beresiko tinggi seperti tugas bendahara. Pada tugas baru ini juga lebih beragam lagi detail dan teknis yang harus dipelajari dan dikuasai. Hal ini menjadikanku wawasanku bertambah dan tidak terjebak dengan pekerjaan klerikal lagi karena lebih sering dituntut dengan analisis data dan penyajian laporan. Saat itu, posisi ini membuat lebih betah dalam bekerja di kantor dan terasa lebih nyaman.

Namun yang tak kuduga pada setahun selanjutnya rupanya tugas ini harus berganti lagi. Terjadi mutasi internal pada bulan Juni 2015 yang menugaskanku pada seksi yang baru yaitu Seksi Verifikasi Akuntansi dan Kepatuhan Internal atau VERAKI. Aku harus keluar dari zona nyaman yang telah terbentuk di Subbagian Umum. Tantangan baru kembali harus dihadapi. Penugasan di seksi VERAKI ini diberikan saat seksi ini tengah mengalami permasalahan. Dengan dipindahkannya aku pada seksi ini, pimpinan kantor berharap permasalahan yang terjadi dapat diatasi. Pengalaman teknis yang didapat dari tugas di Subbagian Umum rupanya sangat membantuku dalam menyelesaikan penugasan pada seksi VERAKI.

Di seksi VERAKI ini, salah satu tugas yang harus dikerjakan adalah penyusunan Laporan Keuangan Unit Kuasa Bendahara Umum Negara-Daerah (LK UAKBUN-D). Penyusunan laporan adalah hal yang sudah familiar bagiku saat di Subbagian Umum. Dulu pekerjaan penyusunan laporan yang sejenis yaitu Laporan Keuangan Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (LK UAKPA) sudah dilakukan beberapa kali dari tahun 2012 hingga tahun 2014. Dua jenis laporan ini memang berbeda, tetapi mempunyai kemiripan format dan juga alur penyusunan yang hampir sama. Selain itu juga, seperti tugas terakhir di Subbagian Umum, pada seksi VERAKI ini juga ada banyak pelaporan manajerial yang harus disampaikan. Aku tidak membutuhkan banyak penyesuaian dengan perpindahan posisi ini.

Hanya setahun lebih sedikit saja tugas di Seksi VERAKI ini berlangsung. Per Agustus 2016, tugas yang kuemban berubah lagi menjadi tugas yang sangat berbeda, tugas belajar. Setelah melalui proses seleksi beasiswa internal, aku ditugaskan untuk menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang S-1 di jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya selama 3 tahun. Tugas belajar ini menjadikanku tidak lagi bermukim di Painan dan kembali ke pulau Jawa menetap sementara waktu di kota Malang. Wawasan dan pengetahuan tentang akuntansi pemerintah semakin didalami dari para akademisi. Hingga sekarang ini tugas inilah yang masih belum diselesaikan. Karya tulis skripsi sebagai persyaratan kelulusan masih dalam proses penyelesaian.

Begitulah perjalanan tugas-tugas yang pernah kulakukan selama delapan tahun berada di DJPB. Sudah banyak hal yang dilakukan dan memberikan pengalaman yang berharga. Namun, masih ada banyak hal lain yang belum diketahui dan perlu dipelajari. Delapan tahun adalah usia yang tanggung, tidak dapat dikatakan sudah lama, tetapi juga tidak bisa dikatakan baru sebentar. Saat ini berada pada penghujung penugasan tugas belajar membuatku mengulas kembali semua yang telah dilalui. Hikmah yang dapat diambil dari silih bergantinya penugasan demi penugasan adalah pengalaman yang memberikan pengayaan untuk dapat mempermudah dilakukannya tugas berikutnya.

Nantinya setelah selesai tugas belajar ini, aku harus lapor ke kantor pusat DJPB dan menjalani program re-entry hingga kemudian ditetapkan penempatan ulang. Pekerjaan yang ada di kantor pusat tentu pekerjaan yang levelnya lebih tinggi daripada apa yang dulu pernah dilakukan di KPPN. Hal ini membutuhkan penyesuaian dan ritme kerja yang lebih intens lagi. Apakah kemudian nantinya aku dapat menjalaninya dengan baik? Teringat masa-masa magang di kantor pusat dan melihat beban tugas yang dihadapi oleh pegawai tetap membuat diri merasa rendah diri dan pesimis bisa menjalaninya. Apalagi tantangan menjalani kerasnya kehidupan ibu kota dan jauh dari keluarga.

Dari ulasan peristiwa-peristiwa yang telah berlalu, pergantian tugas itu memang momok yang tidak mudah. Akan tetapi, dengan berbekalkan pengalaman yang memadai dari tugas-tugas sebelumnya, insya Allah penugasan yang diamanahkan nantinya bisa dilalui dengan lancar. Sebagai insan perbendaharaan di tahun kedelapan ini, terbersit harapan untuk dapat memberikan yang terbaik dalam setiap penugasan dan turut serta dalam pencapaian tujuan organisasi, Menjadi Pengelola Perbendaharaan Unggul Tingkat Dunia. Semoga dapat terlaksana dengan baik.

Malang, 21 Oktober 2018 00:56

Iklan

3 respons untuk ‘mengulas tugas perbendaharaan di tahun kedelapan

  1. Bekerja di bagian yang berbeda itu membuat kita kaya pengalaman dan ilmu.. Semoga sukses utk tugas selanjutnya ya… Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s