Kuncian Hati: Undangan untuk Pembaca

Manusia hidup dalam siklus yang tidak pernah berhenti tentang memilih. Berbagai kemungkinan telah tersaji di hadapan, tinggal menentukan manakah yang akan dipilih. Pada setiap hal yang kemudian telah dipilih, maka muncul konsekuensi yang menyertai.

Ada ketentuan Ilahi yang tidak bisa diutak-atik oleh manusia. Inilah yang disebut dengan takdir, ini yang menjadikan manusia tidak bisa sekehendaknya sendiri. Pada salah satunya itu, ada tentang jodoh. Jodoh itu seakan-akan manusia bisa menentukan pilihannya. Tetapi pilihan tentang jodoh adalah pilihan yang sebenarnya telah ditentukan oleh-Nya.

Tentang jodoh. Ini adalah salah satu pertanyaan yang misterius. Dengan siapakah nantinya diri akan dipasangkan? Bagaimanakah nantinya keharmonisan keluarga akan terjalin? Apakah memang seseorang yang dipilih itu adalah jodoh yang tepat?

Naluri manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan. Tidak akan sempurna agama jika seorang lelaki belum bersanding dengan perempuan membentuk keluarga. Tidak akan tenteram perasaan hati jika seorang perempuan belum menemukan sosok yang akan memimpinnya. Kesemuanya itu adalah bagian-bagian yang perlu ditata menjadi satu. Penataan itulah yang dimulai dengan ikatan pernikahan.

Menikah adalah suatu babak dalam kehidupan. Babak yang sangat kentara berbeda. Hidup tidak akan hanya menanggung tentang diri pribadi. Amanah itu kian berat, tetapi akan ada yang mendampingi. Seorang istri yang shalihah agamanya, cantik parasnya, dan baik perilakunya adalah sosok ideal untuk itu. Namun, tidak akan ada sosok istri yang sempurna. Setiap orang akan membawa kelebihan dan kekurangannya.

Aku, sebagai seorang lelaki yang telah berusia seperempat abad lebih, telah berada pada titik itu. Titik di mana pikiran mulai menatap lebih jauh ke depan dan keresahan hati meminta untuk dituntaskan. Pada titik itu, maka pilihan itu telah tersedia di hadapan. Dengan ini, dengan itu, oleh ini, oleh itu. Kebimbangan mendera bertubi-tubi. Ada kecemasan disertai dengan penuh harap agar suatu saat dapat dipertemukan dengan sosok yang tepat.

Ialah Afifah Az Zahra. Seorang perempuan jawa yang saat ini menjadi insan perbendaharaan bertugas di bumi Laskar Pelangi, KPPN Tanjung Pandan, Belitung. Pada halaman demi halaman dari Istaqoma Afifah yang dibuatnya itu menjadi kunci yang selama ini dicari. Kunci jawaban dari setiap pertanyaan yang selama ini berkelebat dalam penantian siapakah sosok yang membersamai hidup untuk selanjutnya.

Dengan izin dan perkenan dari Allah SWT, pada tanggal 7 Februari 2016 nantinya di kota Surakarta akan diadakan ikatan perjanjian agung antara seorang Anas Isnaeni dan Afifah Az Zahra. Pernikahan ini akan menggabungkan dua keluarga besar antara keluarga (alm.) Hasan Asror dari Salatiga dengan keluarga Joko Maryono dari Kartosuro.

publishPada masa-masa ini, hari demi hari terasa sangat anomali. Ia berjalan terasa begitu cepat dengan persiapan-persiapan yang perlu segera untuk ditunaikan. Akan tetapi, ia juga berjalan terasa begitu lamban karena ketidaksabaran untuk membangun cinta bersamanya. Doa senantiasa dipanjatkan untuk selalu mengukuhkan niat yang baik. Doa senantiasa dihaturkan untuk memohon keberkahan dan kelancaran akan semua proses yang dijalani. Doa dan hanyalah doa yang menjadi kekuatan di antara kami yang hendak menyempurnakan agama.

Kuncian hati itu telah ada. Dengannya, akan dibuka pintu yang bernama pernikahan. Yang di dalamnya terdapat berbagai macam pernak pernik kehidupan yang lebih beragam. Dengannya, semoga sakinah, mawaddah, dan rahmah akan tercapai. Yang di dalamnya terdapat keluarga madani sesuai tuntutan syariat dari Yang Maha Kuasa. Dengannya, semoga kucuran keberkahan yang terus melimpahi dan mewarnai kehidupan baik suka maupun duka. Yang kemudian menghantarkan pada kebahagiaan hakiki di akhirat kelak, tak hanya di dunia semata.

Segenap pembaca yang telah berkunjung pada halaman ini, mohon doa restunya atas pernikahan kami nantinya. Tulisan ini juga menjadi kabar sekaligus undangan bagi yang berkenan hadir pada pernikahan kami. Undangan lebih lengkapnya ada pada tautan yang dapat diklik di sini

Dari kami yang tengah menanti…

Anas dan Afifah…

Iklan

kata-kata

“Boleh aku berkeluh padamu?”

Kupecahkan keheningan yang beberapa saat ini ada di antara kita. Kembali aku duduk di hadapanmu, dengan muka yang masih sama, dengan perasaan yang kembali gundah. Sekilas tampak keenggananmu untuk menanggapiku untuk kesekian kalinya lagi. Akan tetapi, dalam sekejap, dirimu mengubah ekspresi dan memberikan sepenuh perhatian untukku, untuk kesekian kalinya juga.

“Kamu masih mempunyai persoalan yang serupa dengan yang lalu?” balasmu dengan nada yang datar.

“Entahlah. Tentang persoalan ini ataukah yang itu. Kau sudah paham benar tentangku ini. Tetapi itu semua adalah muara dari apa yang sebenarnya berujung dari satu persoalan sepertinya.”

“Tentang apa itu?”

“Tentang kata-kata. Waktu telah berjalan begitu pesat dan meninggalkan kesadaran untuk memahaminya. Kata-kata telah lama hilang dariku.”

Mengucapkan kenyataan ini rasanya semakin memberikan sayatan tajam. Luruhlah ego yang membuat pertahanan semu untuk tidak berkehendak mengakui hal ini. Tercabik-cabik sudah kepura-puraan untuk beranggapan bahwa segala sesuatu wajar adanya.

Kehilangan, jika itu adalah tentang apa yang sebelumnya begitu lekat dengan diri, akan sangat memberikan pengaruh. Ada ganjalan perasaan yang terus menghantui. Kehilangan adalah bentuk lain dari ketidaklengkapan. Ada bagian dari sesuatu yang telah terbentuk dan tanpanya maka tiadalah menjadi sebagaimana mestinya.

Aku dan kata-kata. Aku merindu bagaimana dulu aku menuturkan kata-kata. Entah dalam lisan ataupun tulisan. Dengan sepenuh penghayatan tertuang ada di dalamnya. Ia adalah ekspresi yang terwujud benar menggambarkan kepribadian. Ada kekuatan yang terpancar darinya. Ia tidak menjadi hal yang dibuat-buat. Apa adanya, murni, dan bermakna.

Sorot mataku menerawang mencoba melakukan kilas balik di masa lalu. Susah. Sudah sejak kapan ini terjadi aku tak tahu. Dirimu berdeham memberikanku isyarat untuk memberikan penjelasan. Aku benarkan posisi dudukku, meminum segelas air untuk membasahi tenggorok yang terasa kering, dan memulai memberikan penjelasan tentang kata-kata ini.

“Kata-kata. Kata ada dalam apa yang terucap oleh lisan dan apa yang tergores dalam tulisan. Dulu, lisanku adalah tentang apa yang terlontar spontan dari hati yang bahagia. Dulu, hati ini akan menyembunyikan segala bentuk emosi yang menyedihkan dan menumpah-ruah-kan energi kebahagiaan. Dulu, tulisanku adalah tentang hasil pemikiran yang telah dipikir dengan matang. Dulu, pikiran ini terus menerus menangkap ide, menjabarkannya, mengolahnya, dan kemudian membentuknya dengan kata-kata,” kehampaan semakin kuat merasuki diri saat menjelaskannya lebih rinci lagi padamu.

“Sekarang kata-kata itu hilang. Lisanku kacau. Ia berbicara sekena dan semaunya. Tak memandang bagaimana situasinya dan sering membuat ricuh. Persoalan demi persoalan terjadi karena inilah yang rupanya menjadi penyebabnya,” kutundukkan kepalaku. Suaraku semakin rintih karena luka kehilangan ini semakin tak bisa kusembunyikan.

Aku sangat menyesali tentang apa yang baru kusadari. Banyak masalah yang terjadi dan diatasi hanya sekenanya saja. Satu masalah selesai dan kemudian beralihlah persoalan lainnya. Hampir-hampir tak ada sejenak waktu untuk benar-benar menilai ulang. Kesalahan serupa akan terus terjadi bilamana tak diketahui apa penyebabnya.

Kuhela nafas sembari melanjutkan, “Sedangkan tentang tulisan. Kau tahu sendiri. Lama sudah kumeninggalkannya. Terasa benar kata-kata sudah jauh dariku sekarang. Kala kucoba merangkainya menjadi jalinan cerita, hasilnya adalah kekacauan yang rumit untuk dibenahi. Ide-ide yang semula hinggap menunggu untuk diejawantahkan, sekejap menghilang dan sulit untuk didapat kembali. Aku ingin kata-kata itu kembali ada dalam benak pikiranku. Menari-nari dan saling berpasangan hingga kemudian baris demi baris, bait demi bait, penggalan demi penggalan akan terbentuk dan bersatu utuh menjadi tulisan.”

“Jadi, persoalannya adalah tentang kata-kata? Lalu, kenapa kata-kata meninggalkanmu? Seharusnya pikirkanlah apa yang menjadi penyebab kata-kata itu hilang darimu. Itulah persoalan utamamu,” timpalmu dengan tatapan mata yang tajam.

Aku terhenyak. Tak kusangka inilah tanggapanmu. Seperti tamparan yang berusaha untuk menyadarkan. Kemelut mendung yang merundungi pikiranku menjadi tersibak. Benar apa yang kaukatakan. Adalah tentang kenapa kata-kata itu tidak muncul kembali yang perlu untuk ditelusuri.

“Benar juga. Lalu, bagaimana aku untuk mengetahui apa penyebab utamanya?”

“Sederhana saja sepertinya. Dirimu sendiri yang telah lalai untuk menjaga kata-kata. Kata-kata itu adalah benih-benih yang tersemai. Ibaratkan saja seperti itu. Maka, jika ia adalah benih, ia perlu dirawat, dipelihara, dan selalu dijaga,” ucapanmu kusimak lekat-lekat. Dirimu adalah tempat yang selalu kupercaya untuk mengadu, berkeluh, dan mendalami hikmah akan sesuatu dari pengalamanmu.

“Bagaimana caranya untuk menjaga kata-kata? Pertama, niat itu harus ada pada permulaan dan terus diperbarui. Bahwa jika ada tekad untuk berkutat dengan kata-kata, maka hidupkanlah terus itu. Jangan biarkan ia layu sebelum berkembang. Kedua, berlatihlah. Jangan biarkan sekalipun kata-kata itu dibiarkan. Ia adalah aliran air yang tak dapat dibendung. Biarkanlah ia mengalir dengan salurannya. Walaupun bisa jadi tak sesuai yang diinginkan, biarkan saja. Mereka butuh perhatian, jika sekejap ditinggalkan maka besar usaha untuk dapat menangkapnya kembali. Maka, rajin-rajinlah berurusan dengannya, setiap hari, setiap ada waktu yang dapat diluangkan, setiap ada sekelebat ide yang datang untuk dituangkan.”

Kepalaku mengangguk-angguk mendengar nasehat darimu. Aku memahaminya sekarang. Tentang niat dan latihan, dua hal yang memang aku tinggalkan sehingga kata-kata kini tak lagi terjaga.

“Lalu, yang ketiga adalah tentang contoh. Janganlah terlalu sibuk mengurus diri sendiri dan terjebak dalam kesempitan wawasan. Kata-kata itu mempunyai jutaan rangkaian yang kemudian dapat dicontoh dari orang lain. Carilah contoh yang menurutmu tepat dan belajarlah darinya. Namun, ingat, keaslian kata-kata adalah hal penting. Kata-kata yang kaurangkai adalah jati dirimu yang tak akan sama dengan yang lain.”

Tentang contoh. Ya, ia juga berpengaruh. Lisan akan sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan karena lingkunganlah yang memberikan contoh. Jadi, guna mendapat tutur lisan yang baik haruslah memperhatikan bagaimana orang baik berbicara. Sedangkan tulisan, contoh didapat dari hasil membaca. Menulis dan membaca adalah dua hal yang saling berkaitan. Dengan membaca memberikan contoh bagaimana tulisan orang lain dibuat dan menginspirasi dalam tulisan yang dibuat sendiri.

“Bagaimana? Itu pendapatku. Apakah penjelasanku ini memberikan pencerahan bagimu?” ujarmu meminta tanggapanku.

“Tak ada satu hal pun yang dapat kusanggah darimu. Setiap perkataanmu itu sudah sesuai. Aku kini semakin memahami duduk persoalan yang kuhadapi. Kini semua kembali kepadaku. Apakah nasehat yang telah kauutarakan ini benar-benar kuterapkan,” balasku sembari memberikannya senyuman. Terasa lega dan lepas kini untuk tersenyum kembali. Pikiran yang semula seperti kabut kini telah terang benderang. Beban ganjalan berangsur-angsur menghilang.

“Percakapan kita ini sebenarnya juga adalah suatu bentuk rangkaian kata-kata, bukan?” ia membalas dengan senyuman yang lebih hangat. “Aku tunggu dirimu dengan kata-kata kebahagiaan yang menghidupkanmu kembali dalam lisan maupun tulisan. Ayo, bergeraklah!”

“Baiklah! Terima kasih kawan!”

Perjumpaan pun harus diakhiri. Semoga akan ada kesempatan bersua kembali untuk mendapatkan nasehat darimu. Aku sangat mengharapkan itu.

kenangan di saat hujan

“Hujan membuatku terjebak. Terperangkap di tempat seperti ini. Lalu, apa yang bisa aku perbuat?”

Aku bergumam pada satu-satunya pojok ruangan yang diterangi oleh cahaya lampu. Sisi-sisi lain dari gedung ini sudah tidak tampak jelas lagi tertelan oleh kegelapan. Segelap sisi lain dari hatiku yang saat ini sedang melandaku rasanya.

“Seharusnya aku tidak bertindak seperti ini. Gegabah. Sudah tahu bakal turun hujan, kenapa aku masih bersikeras melewatinya untuk kemudian sampai di sini dan hanya duduk-duduk saja ujungnya.”

Semakin geram aku dengan diriku sendiri. Menyesali keputusan yang telah kuambil. Aku sedang tidak dalam berniat untuk bersahabat dengan hujan ini. Hujan kali ini benar-benar membuatku kesal.

Padahal hujan yang aku kenal sebelumnya tidak mengesalkan seperti sekarang ini. Aku tertawa mengenang masa di saat yang telah berlalu. Tiba-tiba aku teringat akan sosok-sosok yang dulu pernah mengiringi momen hidup bersama. Aku ingat tentang mereka yang dulu begitu senang akan hujan.

“San, coba kau hirup bau tanah setelah hujan. Segar rasanya. Setelah penat akan tugas-tugas tadi, bau hujan seperti membilas bersih semua kepenatan itu.”

Aku ingat betul perkataan salah satu dari mereka, Ifa, yang selalu antusias menyambut hujan karena ia suka dengan bau tanah setelah hujan.

Lain halnya dengan Ifa, Gamma mempunyai ketertarikan lain dari hujan. Ia selalu mendongakkan kepala memandang ke arah langit jika hujan turun.

“San, lihat ke arah langit jika hujan turun! Penglihatanmu akan mendapatkan pandangan bulir demi bulir titik hujan jatuh bertubi-tubi. Walau perih mata ini untuk melihat itu, bagiku ini sesuatu yang indah untuk dilihat.”

Gamma dan Ifa, dua sahabatku yang suka dengan hujan. Bahkan pun kala hujan turun, mereka akan gegap gempita bersorak sorai menyambutnya. Sedangkan aku bertingkah ala lazimnya, sebenarnya tak menganggap ada yang istimewa dari turunnya hujan. Yang istimewa bagiku saat itu adalah keceriaan mereka menyambut hujan. Aku sering tertular euforia mereka dan sama-sama menikmatinya kemudian.

Seusainya pulang sekolah dan hujan yang tiba-tiba turun, bagi kami inilah saatnya untuk bersenang-senang. Kami terobos hujan itu dan berlama-lama menikmatinya. Ya, pakaian pun akan basah dan tubuh kemudian menggigil kedinginan. Tetapi rasanya sangat menyenangkan turut menikmati turunnya hujan bersama mereka.

“Hujan adalah anugerah dari Tuhan. Seharusnya kita mensyukurinya. Pada bumi yang sebelumnya terbuat dari bola panas yang berpilin membulat ini, ada hujan turun yang mendinginkannya dan membentuknya semakin memadat,” kata-kata Ifa terngiang kembali pada memoriku. Sosok Ifa memang sangat filosofis menurutku. Ia selalu mencari makna dari apa yang ditemuinya dalam kehidupan. Aku sangat belajar darinya, walau masih banyak hal yang belum dapat aku pahami benar.

“Hujan adalah saat di mana manusia seharusnya bisa belajar. Bahwa ada saatnya dalam hidup bagi diri sendiri untuk butuh disegarkan, disejukkan, dibersihkan dengan air-air yang turun membasahi semua prahara yang aral melintang terjadi,” Gamma menambahkan dengan raut muka yang masih aku ingat jelas. Wajah bundar kehitaman dengan beberapa jerawat merah menyembul berserakan. Bibirnya yang lebar membuat senyuman tersungging merekah menghias wajahnya.

Kedua sahabatku ini tidak hanya suka dengan hujan, tetapi jauh di dalam benak mereka, bisa dibilang ada keterikatan batin dengan hujan. Perjalanan hidup dengan ruang dan waktu yang telah menjauhkan hubungan dengan mereka, membuatku teralihkan mengingat mereka. Entah bagaimana mereka sekarang ini dengan kecintaanya pada hujan. Masih samakah? Satu yang jelas, perkataan mereka di masa lalu terlintas kembali melewati batas yang telah memisahkan. Seakan mereka hadir saat ini bersamaku di ruang ini merasakan bersama keadaan seperti ini. Mereka akan mengajakku untuk bersenang-senang kembali menyambut hujan dan mengusir kekesalan yang tiada guna meratapi turunnya hujan.

Ah, hujan…

Kau mengantarkanku pada kenangan masa lalu. Akan mereka yang sangat menyukaimu. Kini aku di sini hendak menyumpah serapah tentangmu yang telah membuatku terjebak tak berkutit di sini. Dengan kenangan yang melintas sekejap ini bersamamu, membuatku terbersit, mungkin lebih baik aku menikmatimu kembali sama seperti dulu saat bersama mereka yang menyukaimu. Walau sendiri kini, aku tak ingin untuk menjadi orang yang justru membencimu.

Hujan adalah salah satu rahmat dari-Nya. Hujan sederas apa pun itu, selalu ada doa yang menyertai. Allahumma shoyyiban nafi’an” (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat). Hujan kali ini sempat semula membuat kesal terjadi, tetapi ada kenangan yang kembali teringat. Hujan bukan menjadi sesuatu yang patut untuk dibenci. Betul kan, Gamma, Ifa?

Painan, 29 November 2014

menerima realita

“Bagaimana bisa keadaan menjadi serunyam seperti ini?”

Sore ini aku mengeluhkan hal yang sama kembali. Aku merasa seakan terjebak. Aku tiada berdaya. Hal-hal tak terduga terjadi begitu saja di luar apa yang diperkirakan. Sedangkan kamu duduk dengan tenangnya di kursimu. Masih berekspresi datar saja menganggap kesemuanya itu tak ada dampaknya apa pun bagimu.

“Kamu tidak merasa terusik sama sekali? Bagaimana bisa dirimu setenang ini menghadapi persoalan bertubi-tubi seperti ini?”

Kepalamu mendongak ke arahku. Kertas-kertas yang sedari tadi membuatmu sibuk berkutat dengannya tak lagi kau urusi. Matamu menatap lekat beradu dengan mataku. Sikapmu kausempurnakan. Sikap duduk yang nyaris sempurna.

“Karena memang tidak ada yang menurutku perlu untuk aku hiraukan.”

Masih sedatar itu ekspresimu. Aku sudah menebaknya sebelum kamu memberitahukan jawabanmu itu. Namun, itu yang membuatku sangat heran. Macam apa sebenarnya kamu itu. Semacam batukah? Masak sama sekali tidak ada pengaruh apa pun kejadian yang baru saja terjadi? Persoalan rumit yang hampir-hampir saja mengacaukan kesemuanya itu bukan sesuatu yang patut kauhiraukan?

“Ini sudah pada batas yang menurutku sendiri sudah terlampaui. Dengan keadaan seperti ini, aku tak tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk kondisi sekarang ini.”

Aku mengalihkan pandanganku pada ruang kosong yang ada di antara kita. Pikiranku semakin berkelana entah ke mana membayangkan selanjutnya apa yang terjadi. Aku sudah sedari tadi cemas dan sangat perlu menenangkan diri. Ketenangan yang kamu miliki itu membuatku iri. Ah, andai saja ketenangan itu menulariku sekarang ini. Aku begitu gusar.

“Masalahmu yang sebenarnya bukanlah tentang persoalan yang tengah kita hadapi. Persoalan itu wajar terjadi karena semuanya sudah kita prediksi sebelumnya. Ada tindakan yang membawa konsekuensi atas opsi yang kita pilih.”

“Iya, aku tahu itu. Dulu kamulah yang mengucapkannya juga. Aku masih ingat itu. Aku masih ingat kalau kau bilang akan ada kondisi terburuk yang akan kita hadapi. Tetapi dengan kejadian yang lebih buruk seperti ini? Sungguh-sungguh tak kuduga menjadi seperti ini. Keterlaluan.”

Aku menenggak segelas air minum yang ada di sampingku. Tekak sekali rasanya tenggorokan ini. Persoalan ini menguras energiku benar. Tak hanya pikiran yang terus berkutat, tubuh ini juga merasakan capai yang diakibatkan olehnya.Segelas air ini semoga dapat mengalirkan kesejukan yang kuharapkan. Aku masih perlu melanjutkan perbincangan ini.

“Lalu, menurutmu sebenarnya apa persoalanku?”

Kamu semakin menyempurnakan posisi dudukmu. Tatapan matamu semakin tajam. Namun, kali ini dihiasi dengan senyuman yang entah apa itu maksudnya.

“Persoalanmu itu adalah tentang menerima realita.”

Menerima realita? Hah? Kamu anggap aku seseorang yang tidak menerima realita? Apa maksud ucapanmu? Aku tersentak dengan jawabanmu itu. Sesederhana itukah kamu menganggap masalah ini? Adalah hanya tentang menerima realita belaka?

“Apa maksudmu?” aku menekankan pertanyaanku ini. Sampai-sampai aku tak sempat mengucapkan apa yang tergumam di pikiranku. Aku masih tertegun dengan jawabanmu yang singkat itu.

“Ya beginilah yang harus kita hadapi. Apa perlu kemudian kita persoalkan kembali bagaimana ini bisa terjadi? Apa perlu kita mengungkit-ungkit siapa yang sebenarnya bersalah akan kesemuanya ini? Jika terlalu sibuk dengan pikiran seperti itu, tidak ada gunanya,” kali ini kamu menjawab dengan nada suara yang lebih tinggi. Ketegasanmu tampak dari suara dan perkataan yang kauucapkan.

“Masalah masihlah tetap ada. Masalah perlu diselesaikan dengan baik dan menyelesaikannya itu perlu dengan pikiran yang tenang. Pikiran yang tidak terusik oleh apa yang telah lalu. Akan tetapi, pikiran yang fokus pada apa yang harus dilakukan selanjutnya.”

“Aku justru sedang memikirkan apa yang harus kita lakukan. Aku terusik dengan hal itu,” aku menyela sebelum kau pungkas perkataanmu. Aku saingi nada suaramu yang tinggi itu.

“Lalu, apa hasilnya? Sudah kaurumuskan benar-benar? Aku tidak melihatnya. Aku masih ingat apa yang kau katakan tadi. Kamu menanyakan bagaimana bisa keadaan menjadi serunyam ini. Itu tanda yang jelas kalau kau masih mempersoalkan realita yang terjadi. Kamu tidak menerimanya.”

Lemas seketika tubuh ini. Mendengar timpalanmu itu membuat ketegangan yang sempat merasukiku kini menguap begitu saja. Perkataanmu itu menyadarkanku. Satu demi satu ucapanmu itu mulai dapat kupahami. Dengan sendirinya aku kemudian menyimpulkan. Ya, aku tidak menerima realita yang sedang kuhadapi sekarang ini.

“Memang tampak sepertinya aku begitu. Ini adalah hal yang tidak aku harapkan sama sekali. Aku menolaknya. Pikiranku bersikeras terus mempersoalkan tentang apa yang terjadi. Tak ada yang bisa kusimpulkan untuk menyelesaikannya. Bingung jadinya.”

“Begitulah. Sekarang kau tahu apa yang sebenarnya menjadi persoalanmu itu. Kamu memerlukan ketenangan. Jangan rumitkan masalah yang sudah ada dengan memikirkan hal yang tidak perlu.”

“Jadi ini yang membuatmu setenang ini? Energiku habis rasanya hanya untuk persoalan ini.”

“Ya begitulah adanya. Aku tidak berkehendak menjadikan persoalan ini sampai-sampai mengalihkanku pada hal-hal lain yang juga membutuhkan perhatianku. Seperti kertas-kertas di hadapanku ini. Ini lebih penting untuk aku urusi segera ketimbang mempersoalkan masalah yang mengganggumu itu.”

Aku menundukkan kepalaku. Adalah perasaan konyol yang kemudian aku alami. Semua yang kau katakan itu benar. Aku telah terporsir untuk mempersoalkan hal yang bisa ditunda penyelesaiannya sekarang ini. Persoalan ini rumit memang. Tetapi untuk menyelesaikannya jangan sampai terburu-buru sehingga tidak tuntas atau bahkan menjadi tambah rumit jika dipaksakan selesai sekarang.

“Tenangkan dirimu dulu. Cari hal kesukaanmu yang dapat mengalihkanmu dari persoalan ini. Kalau kau sudah tenang, mari kita bahas bersama apa yang perlu kita lakukan untuk menyelesaikannya. Bagaimana?”

Aku menghela nafas sembari menegakkan kembali sikap dudukku menghadapmu. Wajahmu terlihat menyeruakkan kebijakan yang menenangkan. Tak salah aku mengajakmu berbincang. Aku perlu belajar darimu. Ada hikmah pada setiap apa yang kudapati dari perkataanmu.

Menerima realita. Kukira aku sudah menerima apa yang terjadi padaku saat ini. Rupanya tidak. Lebih tepatnya aku malah menyesali apa yang terjadi dan terus menerus mengeluhkan begitu tidak kusukainya apa yang kuhadapi ini. Seperti yang kamu katakan, masalah itu masihlah tetap ada. Ia ada bukan untuk selalu dipikirkan saja kenapa bisa terjadi. Ia ada untuk diselesaikan dengan tenang dan bijak. Realita memang tak akan pernah semanis apa yang selalu kita bayangkan.

(Painan, 21 November 2014)

benci sendiri

“Sendiri itu tidak mudah,” kalimatmu meluncur begitu saja di hadapanku. Spontanitas keluar tersampaikan dan membuyarkan diam yang ada di antara kita.

Warna jingga senja semakin memulas kuat seantero langit. Deburan ombak semakin kuat menderu bibir pantai. Pasir yang kita pijak membekaskan jejak-jejak langkah. Kita duduk berdua saja di situ. Hening. Hanya ada suara alam. Perkataanmu itulah yang memecahkan keheningan ini.

“Aku kira sendiri itu adalah saat yang terbaik. Saat untuk lebih memahami dan memudahkan mengerti.”

Kata-katamu seketika terhenti. Seperti ada yang tersendat di tenggorokanmu untuk mengeluarkan suara. Pandanganmu masih jauh ke seberang lautan. Menerawang sesuatu yang tidak jelas. Kehampaan merasuk dirimu dan membuat dirimu tercekat untuk bersuara. Mungkin seperti itu.

Kamu berdeham beberapa kali. Mencoba untuk melegakan tubuh untuk meleluasakan dirimu berkata-kata.

“Kalau sedang sendiri, bukankah kita mempunyai kesempatan untuk sejenak lepas dari kesemrawutan hiruk pikuk duniawi kan? Lepas.. Bebas dari siapa pun.. Melakukan sepenuh hati apa yang kita kehendaki…”

Aku tertegun. Apa yang kamu sampaikan membuatku terhenyak. Kehampaaan yang ada pada dirimu begitu kuat dan hendak mencoba menulariku. Aku berpaling dari menatap wajahmu. Menghadap ke arah yang sama seperti yang kau tuju. Sudut antah berantah tidak berujung pada garis cakrawala.

Aku larut dalam lamunan acak yang menguasaiku. Kata-katamu membawaku ke dunia lain. Dunia yang hanya ada aku saja di sana. Sendiri saja seperti burung yang melintas lalu di hadapan kita. Dia melayang begitu pelan. Kepak sayapnya ia sesekali lakukan. Mengayun pelan kadang rendah kadang tinggi.

Burung itu sendiri. Pemandangan yang tepat menggambarkan apa yang baru saja kau ucapkan. Tentang bebas, lepas, semau apa pun yang disukai. Betapa burung itu membuatku merasa iri. Ingin rasanya terbang setenang itu mengarungi alam yang terbentang luas. Kamu mungkin memikirkan hal yang sama juga.

“Seperti burung itu ya. Iri aku dibuatnya. Saat ini ia sendiri dan begitu menikmati terbangnya itu,” aku mencoba menanggapi ucapanmu itu.

“Namun, setiap burung akan kembali ke peraduannya bukan? Ia akan pulang seperti manusia. Berkumpul dengan sesamanya menghabiskan sisa hari,” lanjutku.
Mendengar apa yang aku ucapkan membuatmu menoleh menghadapku langsung. Sorot matamu tajam. Kehampaan tidak lagi tampak menguasaimu.

“Ah, manusia! Selalu ada saja yang membuat di antara sesamanya itu saling membutuhkan. Kesendirian menjadi hal yang seakan tidak mungkin. Sejenak saja pasti sudah terasa tidak nyaman. Terlalu mudah bergantung,” balasmu dengan semakin menyungutkan wajah dan meninggikan suara.

“Ya, begitulah. Itulah yang memang telah Tuhan desain. Seperti itu. Seperti saat ini. Ada aku, ada kamu.”

Kamu menghela nafasmu dan kepalamu menunduk pelan.

“Aku begitu ingin sendiri. Aku begitu mengharap banyak darinya. Aku begitu berangan tidak ada kerumitan bertubi-tubi menghardikku. Biarkan aku mempunyai ruang sendiri. Namun, susah. Susah sekali mewujudkannya.”

Kata-katamu mengalir menyampaikan emosi kekecewaan yang hendak kau tunjukkan padaku. Di saat seperti ini, lebih baik aku menyimak seksama akan ceritamu. Luapkan saja apa yang telah kaubendung. Ada aku yang sebenarnya tidak membuatmu sendiri dan memberikanmu pandangan lain.

“Seperti saat ini. Ya, aku naif dengan apa yang aku utarakan ini. Membahas tentang kesendirian tetapi paradoksnya aku bersamamu kini,” sepertinya emosimu mulai tertata kembali dan membuatmu lebih logis dalam berpikir.

“Aku mengajakmu bertemu kembali setelah sekian lama kita tak pernah bersua. Kamu menduga ada alasan apa bukan? Hal ini kulakukan karena aku belum jua menemukan kesendirian yang aku cari.”

“Hingga pada satu kesimpulan yang akhirnya aku coba pahami. Sendiri itu tidak mudah. Aku…”

Semilir angin pantai menerpa wajah kami. Sejuk rasanya. Pepohonan kelapa tampak melambai-lambai dibuatnya. Apa itu yang membuatmu tercekat kembali?

“Aku membutuhkanmu bersamaku. Menemaniku. Seperti inilah persis yang aku inginkan. Jika hanya sendiri, maka aku terjerumus pada sempitnya pikiranku. Kamu membukakan sisi lain yang seharusnya aku buka lebar-lebar untuk bisa lebih memahami segala sesuatunya.”

Angin semakin kencang menerpa. Deburan ombak bergulung-gulung kemudian pecah dan menyuarakan keriuhan. Samar kudengar perkataanmu itu. Suara alam membuatku tidak yakin akan apa yang baru saja kau sampaikan.

“Kamu benci sendiri? Apakah seperti itu maksudmu?” Aku mencoba meyakinkan simpulan akan perkataanmu. Aku malu jika langsung memastikan benar-benar apa yang kudengar tadi.

Wajahmu tersenyum. Cantik seperti cantiknya jingga senja ini. Ada semburat merah merona yang aku lihat pada dirimu.

“Benci sendiri. Simpulan yang tepat untuk apa yang telah kita bahas saat ini. Apa kau tak dengar aku bilang aku membutuhkan bersamamu? Sendiri yang telah lalu itu membuatku membencinya karena begitu sulit untuk menjalaninya.”

Entah apa yang menyeruak di dalam benak seketika. Begitu berbuncah melimpah ruah. Aku serasa melambung begitu tinggi seperti burung tadi yang telah melanglang di angkasa. Aku senang akan perkataanmu itu. Yakin sudah apa yang kudengar tadi. Tidak salah sepenggal kata pun.

“Maka, akan tiba saatnya sendiri itu harus segera diakhiri. Mungkin nantinya terbersit keinginan untuk kembali sendiri. Biarkan saja, tidak apa-apa. Tapi sadarlah bahwa akan selalu ada yang menantimu untuk bersama. Itulah aku yang siap menggantikan kesendirianmu,” seruku dengan begitu percaya diri.

“Berarti memang ini sudah saatnya,” katamu sambil menatapku lekat-lekat.

“Ya. Aku juga merasa begitu. Aku sangat yakin,” kupegang tanganmu dan kuajak melangkahkan kaki beranjak dari tempat pelamunan kita ini.

Kita melangkah bersama lagi. Menyusuri jalan yang entah apa pun terjadi nantinya. Ada tujuan yang jelas kita ingin capai bersama. Satu hal yang jelas. Kita akan bersama untuk itu, tidak bisa sendiri lagi…

(Painan, 4 September 2014)

writing camps DJPB: “sharing kepenulisan bersama a. fuadi”

Ahmad Fuadi. Siapa yang tak tahu tentang pencerita terkenal satu ini? Dia menuliskan pengalaman hidupnya yang diolah menjadi fiksi dalam trilogi novel Negera 5 Menara. Pada Writing Camps DJPB, pencerita yang satu ini menyempatkan diri berbagi pengalamannya tentang tulis menulis.

“Menulis Untuk Bermanfaat dan Mendunia” begitulah paparan awal dari Ahmad Fuadi saat memulai berbagi. Kalimat sederhana ini yang diutarakannya menjadi alasan kuat baginya untuk menuliskan kisah trilogi novelnya. Alasan yang kuat akan mendorong lahirnya tulisan yang punya pesan kuat. Alasan menulis bisa jadi sering berubah bagi seorang pencerita, tetapi yang mengantarkannya sampai pada akhir kisah yang utuh adalah kuatnya alasan tadi.

Lebih lanjut, selama berbagi pengalamannya, ada beberapa kutipan menarik dari Ahmad Fuadi yang sangat menginspirasi…

Kata lebih hebat dari peluru”. Dari pepatah ini ia simpulkan bahwa suatu cerita itu yang baik mengandung tiga unsur, menginformasikan suatu pesan, menginspirasikan banyak pembacanya, dan menggerakkan mereka untuk melakukan pesan itu.

Menulis membuat awet muda”. Ini yang menggerakkannya lebih kuat menulis lagi karena pepatah yang dikutipnya menyadarkan bahwa karya tulisan melintasi batas ruang dan waktu. Sosok seorang pencerita akan abadi dengan karyanya walaupun dirinya telah tiada di dunia.

Menulis mendunia”. Dengan terkenalnya karya Ahmad Fuadi hingga ke mancanegara, tema yang menggali tentang kekayaan khasanah budaya Indonesia adalah hal yang membuatnya seperti itu. Gali budaya, terjemahkan dalam bahasa lain, kenalkan karya, gerakkan dengan media sosial, dan pelajari jalan penulis terkenal. Maka, tulisan akan mendunia dengan sendirinya.

Creating content first, then the content will transform to many forms”. Suatu tulisan pada intinya mengandung suatu isi cerita yang bentuknya bisa berubah menjadi media lain. Negara Lima Menara contohnya, dari tulisan novel ini sudah berubah bentuk menjadi film, musik, aplikasi, dan berbagai bentuk lainnya yang terinspirasi dari satu isi cerita yang sama.

Menulis adalah proses menemukan diri”. Seorang penulis saat menuangkan idenya dalam bentuk cerita memudahkannya untuk menyimpulkan pesan-pesan bermakna yang dapat dikaitkannya dengan pengalaman hidupnya.

Writing is Art and Craft”. Tulisan adalah salah satu bentuk seni. Tulisan sangat dipengaruhi oleh keberuntungan, bakat, dan kerja keras dari penulisnya. Pada sisi lainnya, tulisan adalah bentuk dari keterampilan yang bisa dipelajari bagi siapa pun yang mau belajar untuk menulis.

Menulis adalah seni melumatkan ego”. Cerita yang bagus sayang untuk hanya dikonsumsi oleh penulisnya sendiri. Buat tulisan yang memang ditujukan untuk dibaca oleh banyak orang. Dengan orientasi ini, maka tulisan perlu diedit dan disesuaikan dengan keadaan pembaca. Ego penulis yang menganggap bahwa suatu cerita sudah sempurna adalah hal yang tidak tepat jika ingin tulisannya menjadi diterima.

Tulis cerita yang menggerakkan diri sendiri dan jatuh cinta tentangnya. Tulislah cerita dari hati dan yang membuatmu tak sabar menuliskannya segera

Tentang proses menulis cerita, Ahmad Fuadi memberikan pelajaran singkat untuk dapat menulis novel seperti yang telah ia susun…

Ask Why. Tanyakan kepada diri sendiri alasan apa yang mendasari dibuatnya suatu cerita. Sebagaimana yang telah diutarakan pada awal pemaparannya, semakin kuat alasan kenapa harus menuliskan suatu cerita, maka semakin kuat isi cerita itu.

Ask What. Tulis hal-hal yang paling dikenal, dipedulikan, familiar, dan diketahui untuk dituangkan dan dikaitkan pada tulisan sehingga menjadikan cerita lebih nyata dan meyakinkan.

Ask How. Menulis adalah hal yang dapat dipelajari dari teori-teori kedisiplinan ilmu yang sudah membahas bagaimana cara untuk membuatnya. Referensi sangat diperlukan agar tulisan yang dibuat tidak terkesan ngawur tanpa panduan. Kamus, thesaurus kata, dan buku panduan adalah referensi yang tepat untuk membuat cerita menjadi kaya. Selain mempelajari teori, untuk lebih mengembangkan cerita melalui tulisan dapat dilakukan dengan pengamatan dan penelitian sederhana. Caranya dapat berupa membongkar catatan-catatan lama tentang pengalaman pribadi, cerita dari orang lain yang menginspirasi, atau arsip foto-foto yang mampu membangkitkan kembali kenangan lama.

Ask When. Jika memang sudah siap dengan isi cerita dan sudah meluruskan niat dengan alasan yang kuat, maka untuk hanya ada satu jawaban tentang kapan suatu cerita itu dibuat. Sekarang! Jangan menunda waktu untuk bercerita. Lakukan sedikit demi sedikit untuk mengurai cerita dalam bentuk tulisan. Jangan sampai menyerah untuk bertutur cerita. Jika benar-benar menjaga konsistensi untuk tetap bertutur cerita melalui tulisan, suatu buku cerita (novel) sudah jadi dengan sendirinya.

writing camps DJPB: “dari angka menjadi kata”

Angka-angka sudah menjadi makanan keseharian bagi insan Perbendaharaan. Dengan digitnya beragam itu, segala macam kerumitan sudah lazim dihadapi oleh mereka. Akan tetapi, tahukah Anda? Dari angka itu rupanya ada kata-kata yang terangkai menjadi banyak kisah yang tersembunyi di dalamnya.

Kisah-kisah dari angka, inilah yang hendak diangkat oleh Perbendaharaan kali ini. Tidak banyak yang tahu tentang kisah semacam ini. Yang banyak orang tahu hanyalah sebatas tentang angka-angka yang diolah darinya, bukan kata yang terurai menceritakan tentang sesuatu.

Siapa pun pastilah mempunyai ceritanya masing-masing. Begitu juga dengan para insan Perbendaharaan. Mereka yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia mempunyai pengalaman, pergolakan emosi, peristiwa-peristiwa unik terjadi pada kehidupan mereka selama bertugas. Cerita mereka hanyalah sekadar menjadi perbincangan sesaat di antara sesamanya. Cerita semacam ini mudah terabaikan jika tak ada pencerita menuangkannya dalam bentuk tulisan yang membekas abadi.

Writing Camps DJPB, pada kegiatan inilah segelintir pencerita terpilih dilatih dan berkumpul bersama membahas mengenai cerita-cerita para insan perbendaharaan. Cerita yang baik dan dapat memberikan pengaruh yang begitu kuat tidaklah dapat tercipta dengan instan dan melalui proses yang singkat. Ada hal yang harus dipelajari terlebih dahulu. Oleh karenanya, ada hal semacam ini untuk menjadikan para pencerita lebih terlatih dapat mengemas cerita sesuai dengan apa yang diharapkan dan bisa dipahami oleh khalayak luas.

hoho
Sharing Kepenulisan Bersama Ahmad Fuadi

Kepada para pencerita ini, Writing Camps DJPB mempertemukan mereka dengan sosok penulis terkenal, Ahmad Fuadi, yang telah membuat trilogi kisah Negeri Lima Menara. Pencerita yang satu ini memberikan inspirasi dari pengalamannya menyusun tulisan ceritanya sendiri dengan pemaparannya berjudul “Menulis untuk Bermanfaat dan Mendunia”.

(Ringkasan materi tentang sharing kepenulisan bersama Ahmad Fuadi lebih rincinya dapat dibaca pada tautan https://nazhalitsnaen.wordpress.com/2014/08/20/writing-camps-djpb-sharing-kepenulisan-bersama-a-fuadi/)

Menulis cerita adalah suatu proses yang dapat dipelajari. Bahkan, yang mungkin tidak diketahui banyak orang, ada teori yang dapat membuat seorang pencerita dapat mengemas tulisan ceritanya menjadi lebih baik lagi. Teori tentang elemen fiksi menjadi salah satu bekal penting bagi para pencerita pada Writing Camps DJPB yang disampaikan oleh Bapak Harry Suryadi, seorang jurnalis yang aktif bergerak di bidang lingkungan hidup dan mempunyai kompetensi tentang teori tulis menulis. Teori tidak hanya diberikan dengan pemaparan materi, tetapi juga melalui praktek langsung dengan beberapa studi kasus seperti analisa karakter, konflik, dan pesan cerita, serta teknik penulisan deskriptif.

(Materi tentang teori elemen fiksi dapat diunduh pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rRVNuaFN1NWdZc2s/edit?usp=sharing)

Rencana besar dari Writing Camps DJPB adalah adanya karya berupa novel cerita dan antologi cerita pendek kehidupan insan perbendaharaan yang diterbitkan secara nasional melalui penerbit percetakan buku yang handal. Oleh karena itu, perlu ada pemahaman mendasar mengenai dunia penerbitan melalui praktisi ahli di bidangnya. Melalui pemaparan dari Mirna Yulistianti, editor cerita fiksi Gramedia Pustaka Utama, dan Gina S. Noer, co-founder Plot Point, para pencerita memahami proses dan kriteria suatu karya tulisan dapat diterbikan secara massif menyebar luas pada banyak lapisan pembaca.

(Materi tentang sharing penerbitan dari Gramedia Pustaka Utama dapat diunduh pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rYU5PSUwxSnN2ME0/edit?usp=sharing dan Plot Point pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rek9HWmI1QzgzQnc/edit?usp=sharing)

Tidak mudah untuk menyajikan cerita yang layak untuk dicerna oleh khalayak luas jika tidak ada proses pembelajaran yang diberikan oleh Writing Camps DJPB ini. Adanya penulis terkenal yang berbagi tentang inspirasi dan prosesnya dalam menulis cerita, pemberian bekal teori dan praktek teknik menulis cerita, dan informasi mengenai bagaimana proses diterbitkannya suatu buku oleh para praktisinya adalah bekal yang cukup untuk para pencerita terpilih mengunjukkan kisah nusantara insan perbendaharaan dalam tulisannya.

Dalam tempo waktu yang padat kesemuanya itu disampaikan selama sepekan pada tempat yang eksklusif, Novus Giri Resort and Spa, Puncak. Pencerita ini digembleng benar-benar untuk dapat merealisasikan hasil akhir tujuan dari Writing Camps DJPB dilaksanakan, suatu novel dan antologi insan perbendaharaan.

Foto bersama para pencerita bersama salah seorang praktisi penerbit, Gina S. Noer, co-founder Plot Point
Foto bersama para pencerita bersama salah seorang praktisi penerbit, Gina S. Noer, co-founder Plot Point

Selebrasi Dekade Perbendaharaan akan menjadi momen untuk memperkenalkan karya final dari Writing Camps DJPB ini. Dengan sejarahnya yang telah melintasi sekian lamanya waktu, Perbendaharaan sudah mencapai kedudukannyan seperti ini sekarang. Angka-angka sudah menjadi kelaziman produk yang dihasilkan olehnya. Namun, pada rentang waktu selama itu, ada kisah-kisah yang begitu banyak terjadi dan mempunyai warna yang sangat beragam. Beberapa kisah itu diambil dan disajikan dalam bentuk kata-kata tulisan cerita untuk khalayak luas.

Dari angka menjadi kata. Semangat inilah yang menggerakkan para pencerita untuk menyajikan kemampuan terbaiknya dalam bercerita melalui tulisan. Semoga apa yang menjadi tujuan utama seluruh rangkaian kegiatan dimaksudkan, yakni untuk memperkenalkan kisah-kisah nusantara insan perbendaharaan dapat tercapai.

Agar semua orang tahu bahwa Perbendaharaan mempunyai cerita, cerita tentang para insannya yang begitu berwarna-warni. Tidak sekadar angka, tetapi mewujud dalam tulisan kata…

*catatan dari salah seorang pencerita*