devdas : a grand saga of timeless love

gal-1293530214devdas_posterBagai Pelita yang Tak Pernah Padam

Selang jarak dan waktu telah memisahkan kita dan selama itu pula kau tetap menungguku. Kesetiaan itu begitu naif, polos, dan lugu. Kau wujudkan kesetiaanmu itu dalam nyala pelita yang kau jaga. Ah, sungguh aku tak mengerti. Bagaimana rasa ini terjalin di antara kita, tumbuh dan berkembang seiring waktu. Padahal jarak dan waktu telah menjadi dinding pembatas yang begitu jelas, tetapi tetap saja ia terus menembus batas. Rasa itulah menghubungkan kita dan seakan terus menyala bagai pelita yang terus kau jaga untuk tak pernah padam…

Kekasih yang Sungguh Kejam

Maka takdir pun mempertemukan kita kembali. Di saat kita sudah paham dan memahami bahwa apa yang telah lalu bukanlah sekadar keluguan belaka. Rasa itu jelas bertambah menguat dan menjadikan setiap momen bersamamu adalah hal yang begitu kukenang. Namun, adakalanya kau begitu mempermainkan perasaanku. Keangkuhanmu sesekali membuyarkan tanda-tanda rasa di antara kita. Entah sengaja atau tidak, kau buat aku seakan tak berdaya oleh pesonamu. Takluk dan tunduk. Dan kau pun sangat pandai mempermainkanku. Sungguh, dirimu adalah kekasih yang sungguh kejam.

Adakah kau tahu bahwa sebenar-benarnya diriku sangat mendamba dirimu? Seraya kupanjatkan keluh kepada Tuhan, bagaimanakah aku menyampaikan ini padanya? Kepada siapakah aku dapat mengutarakan kegundahan ini? Ah, tidak ada satu pun yang mengetahuinya. Lebih baiknya kupendam saja ini sendiri…

Kaulah Milikku

Lihatlah kemudian, betapa hatiku ini penuh dengan rasa ketakutan. Hari demi hari, aku kupupuk perasaan ini dengan hati-hati. Ada ketakutan membayangi diri. Akankah kau benar-benar nantinya menjadi milikku? Aku begitu takut kehilangan dirimu, begitu takut apabila tak bisa memiliki dirimu. Dan rasa itu pun menyeruak merasuk ke dalam lubuk kalbu. Sekelebat pikiran terus menggelayuti dan angan-angan semakin menguat bahwa engkaulah milikku nantinya. Aku terbutakan oleh perasaanku tanpa kusadari. Aku begitu posesif untuk menginginkan dirimu…

Kenapa Dia Menggodaku

Semuanya seakan berputar terbalik. Angan tinggallah sekadar menjadi angan belaka. Apa yang kuimpikan menjadi sirna. Ternyata takdir tak ingin menyatukan kita berdua. Ketakutanku telah mewujud menjadi nyata kala kutahu bahwa tak ada yang menghendaki hubungan di antara kita berdua ini. Sudahlah, aku memilih lari dari kenyataan. Cukup penat kurasakan begitu peliknya takdir ini. Aku begitu kalah dalam semua hal ini. Aku menjadi pecundang.

Dan entahlah tiba-tiba dari mana datangnya sosok penghibur itu. Dia menari-nari dan bersenandung akan kisah cinta yang begitu syahdu. Kisah tentang Khrisna yang tergoda oleh pesona kecantikan sang Radha. Ah, apa sang penghibur itu berpikir bahwa dirinya seolah-olah sang Radha yang sedang menggodaku? Tak tahukah dia bahwa karena cintalah diriku merana? Terlalu, dirinya sungguh terlalu. Aku juga tak mau digoda oleh penghibur picisan seperti dirinya. Walau sempat terlintas pertanyaan di benakku, kenapa dia mau menggodaku? Apa yang bisa ia harapkan dari seorang pecundang seperti aku ini?

Aku Akan Mencintaimu Selamanya

Aku pun memberanikan diri untuk menghampiri dirimu sekali lagi kala momen itu sudah pasti akan memisahkan kita. Aku tak peduli sebenarnya sudah seterlambat apakah aku ini, yang jelas aku masih melihat ada kesempatan untuk kita bersatu nantinya. Aku memegang harapan semu itu dan ya sekali lagi kenaifanku akanmu begitu menguasaiku.

Kau pun berbicara padaku. Dengan getir terasa pada setiap ucapanmu, kau utarakan bahwa semuanya sudah terlambat. Kesempatan itu adalah hal yang sungguh mustahil untuk tercapai. Pemisah yang jelas sudah berada di antara kita. Momen itu akan segera tiba dan kau pun memilih untuk tetap menjalaninya. Luka-luka di masa lalu masih begitu menganga bagimu, walau kutahu semburat cinta itu masih ada di matamu.

Semburat cinta itulah yang kubekaskan padamu dengan sebentuk tanda nyata. Tanda yang menjadi pengenang akan apa yang selama ini telah kita lalui, tanda yang menjadi pengenang akan rasa yang dulu pernah tumbuh. Kenangan itu janganlah kau hapus dalam memorimu. Bagaimanapun jua aku adalah bagian dari masa lalumu dan aku memilih untuk mencintaimu selamanya walau pembatas yang jelas itu benar-benar menjadi halangan untuk kita bersatu. Aku akan mencintaimu selamanya…

Kenikmatan ini Membunuhku

Hahaha aku sungguh terbutakan oleh cintaku padamu. Ironi kelam ini menjadi suatu hal yang terus menghantui diriku. Aku begitu rapuh olehnya, tak kuasa kutahan semua derita karena cinta yang bertepuk sebelah tangan ini.

Maka sang penghibur pun kembali di hadapanku. Dia pun bersenandung sembari menari gemulai untuk menghibur pesakitanku. Sungguh seakan-akan tariannya menjadi hal yang manjur untukku melupakan dirimu. Namun, kemanjuran itu sebenar-benarnya adalah petaka manakala kupilih diriku untuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Sembari menikmati tarian penghibur itu, aku nikmati pula sedikit demi sedikit tetes-tetes minuman keras.

Kenikmatan inilah yang membunuhku. Dengan cara seperti ini, sekilas aku bisa melupakan sengsara karenamu. Nikmat rasanya, namun perlahan tapi pasti, ia menggerogoti kesempatan hidupku. Aku sungguh tak peduli dengan kehidupan ini. Biar kenikmatan haram ini menjadikan pembunuh bagiku, asal aku dapat melupakan sengsara ini.

Wajahmu Serupa Rembulan Membayangi Anganku

Kesadaranku kian hari kian payah. Di pikiranku yang tersisa hanyalah angan-angan untuk bersama dirimu. Wajahmu terus terbayang. Apalagi di saat malam purnama nan terang benderang, sosokmu seakan hadir di hadapanku. Ya, wajahmu serupa rembulan itu. Sungguh cantik dan mempesona. Hanya saja, aku sadari kemudian diriku hanyalah ibarat pungguk yang merindukan rembulan. Tak akan pernah bersatu…

Berdebar dan Bergejolak

Dirimu dan sang penghibur pun bertemu, membicarakan tentangku, dan saling bertutur cerita. Kau tak rela aku berkubang dalam kenistaan ini. Kau pun datang menghampiri sang penghibur dan memintanya untuk mengembalikanku. Hahaha percuma saja apa yang kau lakukan. Aku tak ada bersamanya, aku menghilang sementara waktu ini karena sebenarnya pula aku tak tahan terus berlama-lama bersama sang penghibur itu. Kenikmatan bersamanya itu kurasakan menjadi alat pembunuh bagiku.

Usahamu gagal, tetapi kau dapatkan arti pertemanan dengan sang penghibur itu. Kau menemukan sosok yang sama sepertimu, terperangkap dalam masa lalu cinta dengan sang pecundang seperti diriku ini. Maka kau dan dia pun saling mengutarakan isi hati, menyanyi dalam gegap gempita perayaan cinta, menebarkan setiap debaran dan gejolak yang kalian rasa.

Tak tahukah kalian, debaran dan gejolak yang kalian nyanyikan itu nun jauh dari tempatku berada itu hanyalah kesia-siaan belaka karena begitu kurasa tak ada gunanya aku hidup di dunia ini? Sedari awal sudah terlanjur aku menenggelamkan diri dalam sengsara ini dan inginku sengsara ini cepat kuakhiri…

Semarak Bunyi-bunyian

Sepertinya aku hanya tinggal menghitung hari lagi. Semakin singkat rasanya nafas ini masih dapat terhembus. Ah, dalam waktu yang tinggal sedikit ini, baiklah kiranya aku bersenang-senang diri saja. Menyanyikan suatu senandung pelipur lara bersama teman-teman sembari menikmati berdencingnya bunyian botol-botol minuman keras yang saling beradu sehabis kami minum bersama.

Semarak bunyi-bunyian itu menggembirakan kami. Senandung pun melantun dengan sendirinya mengisahkan tentang sengsaranya kisah cintaku. Sungguh suatu bentuk pelampiasan diri yang tepat untuk meluapkan semua ini. Aku gembira walau sesaat dengan gegap gempitanya suasana, aku sedih melantukan kisah akan diriku. Hahaha semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Sang penghibur pun datang kembali. Ah, dirinya kini seakan-akan sosok Meera, sang pemuja Khrisna, walau dirinya tahu Khrisna dan Radha adalah pasangan sejati. Seperti Meera, dia pun menyenandungkan kegembiraannya bersamaku. Menari, bercanda, tertawa, menghibur diriku.

Aku pun larut dalam suasana itu sampai tak kusadari kesakitanku sudah berada pada puncaknya. Tubuhku ini tidak kuat lagi menahan binasa dari minuman keras yang masuk ke dalamnya. Aku pun sekarat dan sudah merasakan ajal ini begitu dekat.

Saat Terakhir

Sebagaimana janji yang pernah terucap, aku akan datang menghampirimu di saat akhir kehidupanku. Menemuimu dan memberikanmu kesempatan untuk merawatku di saat-saat terakhirku sebagaimana yang kau pinta. Aku kira inilah waktunya, aku pun menuju tempatmu dalam keadaan sangat sekarat. Aku pun sampai di depan pintu kediamanmu dan tergeletak menunggu kehadiranmu.

Begitu lama kumenunggu kau hadir di hadapanku. Kesadaranku timbul tenggelam dalam penantian ini. Ah, apakah kau tak sadar aku menunggumu? Aku menyahutmu dengan rintih dan energi yang masih tersisa. Hanya itu yang bisa kulakukan dan semoga kau mendengarnya.

Maka kau pun merasa ada keganjalan di hari itu. Kau pun mencari tahu dan akhirnya kau mengetahui keberadaanku pula. Seketikanya itu, kau pun berlari, mengejar kesempatan yang mungkin saja tak akan bisa terkejar lagi. Sekilas dari kejauhan kulihat dirimu menghampiriku, akan tetapi pintu kediamanmu mulai ditutup.

Kau terus berlari dan mengencangkan langkah demi langkah untuk menggapaiku. Teriakanmu dan tangismu menggema ke seluruh penjuru. Namun, pintu itu semakin tertutup, hingga akhirnya menjadi pembatas yang jelas sebagaimana jarak dan waktu yang dulu pernah memisahkan kita.

Pelita itu pun seketikanya padam dan hembusan nafas pun sudah menjadi yang terakhir kalinya…

images2Painan, 23 Agustus 2011, 23.40

*tulisan ini terinspirasi oleh alur plot film dan urutan lagu soundtrack film Devdas (2002)

Iklan

6 thoughts on “devdas : a grand saga of timeless love

    • sebenare saya lebih tepat mengagumi si Sutradaranya…
      Sanjay Leela Bhansali… he’s the man that make a fabolous work in this film hohoho…
      jadi yo amit-amit dah terlalu ngefans-in sosok tertentu hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s