hindi extravagant colors presented by sanjay leela bhansali

Sinema hindi memang menyajikan karakter khasnya yang kuat pada setiap adegan film-filmnya. Entah itu dari lagu-lagunya yang riuh akan berbagai instrumen tradisional khas, tariannya yang massal dan penuh energi, atau drama romantisme antara tokoh utamanya. Ada beberapa film yang terlalu memaksakan semua unsur bercampur jadi satu paket cerita film, tapi ada banyak lainnya yang dapat mengkombinasikan semua unsur kultur ini menjadi cerita apik yang patut ditonton.

Inilah yang menjadikan saya tertarik akan sinema hindi. Unsur kulturnya tidak akan pernah ditinggalkan. Lagu-lagu, tarian, dialognya, ceritanya akan selalu membawa identitas kultur mereka. Apalagi sebenarnya kemeriahan kultur hindi dengan keragaman corak budaya Indonesia juga mempunyai kemiripan, sehingga maklum saja banyak juga orang Indonesia yang menyukai sinema hindi, termasuk saya hehe.

Dari sekian sinema hindi yang pernah saya tonton, ada satu sutradara yang menjadi favorit saya. Menurut saya, film yang disajikannya dapat memberikan tema kultur Hindi dalam racikan yang pas. Sanjay Leela Bhansali, seorang sutradara sinema Hindi yang dikenal dengan ciri khas magnum opus setting kultur Hindi. Film-filmya memberikan kesan kemegahan budaya Hindi dengan coraknya yang beragam tiap daerah.

Entah itu “Devdas” dengan paduan kultur West Bengal di era British India; “Hum Dil De Chuke Sanam” kisah Gujarati yang berujung hingga ke Itali; “Saawariya” dengan cerita empat malam melankolis menjelang selebrasi Id Mubarak; “Black yang mengisahkan hubungan antara seorang guru dan muridnya; dan “Guzaarish” tentang perjuangan mercy-killing seorang pesulap cacat dalam sentuhan warna kultur Goa, kesemuanya itu menjadi suguhan yang mampu membuat saya kagum akan karya-karya besutan Sanjay Leela Bhansali. Warna ekstravaganza budaya Hindi benar-benar tersaji dengan mempesona pada film-filmnya.

Devdas… Bengali Tragedic Ending Love Story

devdas2Berbicara mengenai kesukaan saya akan sinema hindi, semua ini bermula dari ketertarikan saya akan satu film hindi bertajuk “Devdas”. Film inilah yang mengenalkan saya lebih dalam akan kekayaan warna kultur hindi yang disajikan di dalamnya. Semula saya mengira tipikal film Hindi condong ke arah drama yang bersifat populer dan mengharukan dengan diselingi beberapa tarian dan lagu yang hingar bingar meriah. Namun, Devdas memberikan paradigma baru tentang film Hindi bagi saya. Film ini membawakan nuansa lebih dalam daripada yang umumnya orang ketahui tentang stereotype film Hindi.

Film ini diangkat dari karya pujangga terkenal Bengali, Sarat Chandra Chattopandhay, berjudul sama dan sudah beberapa kali diadaptasi dalam bentuk film. Ceritanya merupakan karya yang melegenda seperti halnya Laila Majnu-nya Nizami Ganjavi. Kisah tentang seorang pecinta yang larut dalam kesedihannya akan cinta yang tak sampai dan tragedi yang menyertai hingga ajal menjemputnya. Dari ceritanya saja, akan didapatkan kesan emosi yang mendalam dan Bhansali mampu mengemasnya dalam sentuhan yang lebih megah, berwarna, dan meriah pada gubahan “Devdas” versinya.

Ber-setting-kan era British India dan kultur daerah Bengali, film ini marak akan visualisasi kemegahan para bangsawan Bengali di jaman itu. Bangunannya berarsitektur khas Eropa dilengkapi ornamen Hindi dengan ukiran pola tertentu. Tata busana para pemeran di film ini juga menampilkan corak budaya pada setiap bordir atau warna yang dipilih. Musik dan tarian yang disajikan juga tak luput dari sentuhan kultur dengan gaya tradisional khas hindi. Yang menarik bagi saya, tari dan lagu pada film ini tidak terkesan dipaksa untuk masuk dalam plot cerita. Tari dan lagu menjadi satu kesatuan cerita plot pada film ini.

Pada “Devdas” versi Sanjay Leela Bhansali ini, saya baru menyadari pertama kali betapa luar biasanya akting Shahrukh Khan dalam memainkan perannya sebagai pecinta yang kesakitan. Ia tampak begitu intens mendalami perannya. Aishwarya Rai dan Madhuri Dixit tentu juga menjadi sorotan pada film ini. Kombinasi keduanya, apalagi dalam tarian “Dola Re Dola” menjadi suguhan yang mempesona. Kekuatan film ini tidak hanya pada suguhan latar belakang kemegahan yang ditampilkan, tetapi juga pada kemampuan akting para pemerannya sehingga mampu menghadirkan nuansa mendalam bagi penontonnya.

Bagi saya, Devdas versi Bhansali yang satu ini tidak ada duanya, sangat spesial. Ini benar-benar a grand saga of timeless love. Saya sampai tak bosan menontonnya hingga berkali-kali. Film inilah yang menjadikan saya penasaran akan film Hindi lainnya, apakah ada lainnya yang mampu mengkombinasikan paduan kultur dan cerita yang bagus pada satu tampilan sinema…

Hum Dil De Chuke Sanam… When Gujarati Tried To Meet Italy

hddcsDari “Devdas”, saya kemudian baru mengetahui bahwa sebelum “Devdas” ditayangkan, Sanjay Leela Bhansali sudah menyajikan film dengan ciri khasnya bertajuk “Hum Dil De Chuke Sanam”. Kali ini, Bhansali memberikan nuansa kultur Gujarat yang kental pada plot yang disajikannya. Film ini berkisah tentang seorang gadis Gujarat yang jatuh cinta pada seorang pengembara dari Itali dan bagaimana mereka berusaha untuk saling bertemu walau pada akhirnya disadari ada suatu kesalahan pada kisah cinta mereka.

Ternyata film ini menghadirkan intensitas emosi antar pemerannya hampir sama dengan “Devdas”. Akting Salman Khan, Aishwarya Rai, dan Ajay Devgan mampu menghadirkan kerumitan kisah cinta di antara mereka. Nandini, tokoh wanita utama pada film ini, tampak dalam dilema yang memberatkannya untuk memilih antara Sameer , yang ia cari-cari hingga sampai ke Itali, atau Vanraj, suaminya dari ikatan pernikahan yang tak diinginkannya. Kisah berakhir pada suara hati Nandini yang mengantarkannya pada pilihan seseorang yang dengan murni dan kerelaannya mencintai Nandini.

Yang terkenal dari film ini, salah satunya dari performa tarian tradisional Gujarati yang dikenal dengan “Garba”. Aishwarya Rai dan Salman Khan dengan lincahnya dan penuh ekspresi menghentakkan panggung menyanyikan lagu “Dholi Taro Dhol Bajhe”. Lagu ini diwarnai dengan permainan musik tradisional dan tarian yang fantastis dan energik merayakan selebrasi. Inilah khasnya dari film Bhansali yang mampu mengenalkan tarian-tarian tradisional Hindi diangkat pada layar sinema, hal yang jarang didapati pada film Hindi kebanyakan.

Saawariya… Melancholic Eid Celebration

saawariya2Pada momen merayakan hari raya Idul Fitri (atau yang lebih disebut dengan Eid Mubarak di India), saya akan selalu teringat pada lirik lagu “dekho chaand aaya, chaand nazar aaya “ (lihatlah bulan telah tampak, ya bulan memang telah tampak, red). Lirik ini diambil dari salah satu lagu pada film Bhansali lainnya yang berjudul “Saawariya”. “Yoon Shabnami”, lagu inilah yang menyajikan nuansa yang tepat untuk selebrasi melihat tampaknya bulan (atau hilal) yang menandakan dimulainya perayaan Eid Mubarak.

Film Bhansali kali ini menghadirkan nuansa baru dengan diangkatnya warna kultur Islami, berbeda kontras dengan film-filmnya yang sebelumnya. Walaupun begitu, tentu saja kemegahan dan nuansa artistiknya yang khas tetap melekat pada karyanya yang satu ini.Tidak jelas sebenarnya daerah mana latar belakang cerita film ini dibuat. Bahkan sebenarnya terasa Bhansali membawakan dunia imajinasinya  sendiri ke dalam film ini dengan sentuhan kultur Islami yang terkenal pada beberapa daerah di India, seperti Lucknow atau Uttar Pradesh. Tampak keseluruhan film dibuat pada studio yang disulap menjadi negeri imajinasi Bhansali penuh dengan dekorasi etnis dan estetika seni di mana-mana.

Disadur dari cerita pendek Fyodor Dostoevsky berjudul “White Nights”, alur cerita pada “Saawariya” benar-benar total melankolis dari awal hingga akhir. Cerita bermula dari Sakina yang setiap malam menunggu kedatangan kekasihnya menepati janji bertemu dengannya kembali, bertemu dengan seorang pengembara bernama Ranbir yang kemudian jatuh cinta padanya, dan bagaimana kemudian Sakina putus asa dan mencoba beralih hati pada Ranbir, hingga kemudian kedatangan Imaan (kekasih yang ia tunggu) akhirnya menjadi pemungkas cerita.

Film ini menjadi film pasangan debutan Ranbir Kapoor dan Sonam Kapoor. Keduanya  berasal dari keluarga artis film Hindi dan tentu banyak ekspektasi atas peran perdana mereka. Memang masih tampak beberapa kecanggungan dan kurang intensnya interaksi pada keduanya di film ini, namun secara keseluruhan emosi yang tersaji pada film ini menurut saya dapat diantarkan sampai pada penonton. Apalagi dengan adanya peran pendukung oleh aktor yang sudah terkenal seperti Rani Mukherjee dan Salman Khan menjadikan film ini lebih terangkat intensitas emosinya hingga pada klimaks cerita.

Black… Goa Teacher-Student Complicated Bonding

25sli9Dari review sebelum saya menontonnya, saya mengira “Black” versi Sanjay Leela Bhansali akan mengangkat cerita biografi dari Helen Keller, tokoh wanita tunanetra yang fenomenal dan menginspirasi. Namun, setelah menontonnya, saya mendapati lebih dari itu. Cerita yang disampaikan pada film ini memuat komplikasi yang lebih intens walau pada dasarnya memang kisah yang diangkat berdasar pada cerita tentang kehidupan Helen Keller.

Saya malah mendapati bahwa sebenarnya yang menonjol dari film ini bukan perjuangan wanita tunanetra dalam upayanya mengenali dunia, tetapi hubungan emosional antara murid dengan gurunya pada kisah perjuangan itu yang menarik. Michelle McNally yang diperankan oleh Rani Mukherjee merupakan tokoh yang terinspirasi dari sosok Helen Keller yang sejak kecil mengalami buta bisu tuli. Ia dapat mengenali dunia dan berjuang meraih mimpinya berkat pengajaran oleh gurunya, Debraj Sahai (diperankan oleh Amitabh Bachchan) yang jelas menjadikan cerita ini memang bukan cerita gubahan dari kisah Helen Keller karena gurunya pada kisah aslinya adalah seorang wanita.

Ciri khas desain setting etnis khas Bhansali pada “Black” tidak terlalu menonjol sebagaimana film lainnya tampil penuh dengan warna warni. Walau begitu, film ini dapat memberikan gambaran keindahan Goa yang merupakan daerah Hindi yang sangat dipengaruhi oleh gaya Eropa. Film ini juga tidak diiringi oleh musik yang hingar bingar dan berbagai macam, tetapi diiringi dengan paduan background score yang pas mengiringi jalan cerita.

Yang menjadi kepatutan penghargaan salut untuk “Black” adalah akting pemerannya. Rani Mukherjee berhasil keluar dari peran lazimnya seorang heroine film Hindi dengan sempurna berperan seolah-olah wanita buta bisu tuli. Amitabh Bachchan sebagai sosok guru pada film ini juga sangat meyakinkan, apalagi ketika tokohnya mengalami penyakit Alzheimer. Saya tercengang akan perubahan drastis yang disajikan oleh para pemeran film ini. Alur ceritanya juga sangat mengunggah emosi dengan beberapa konflik klimaks yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Guzaarish… Another Goa Great Love Story

guzaarish“Guzaarish” menandakan ketiga kalinya kolaborasi antara Sanjay Leela Bhansali dengan aktris favoritnya, Aishwarya Rai. Jelas memang, akting terbaik Aishwarya Rai berpengaruh pada kesuksesan film Bhansali terdahulu yaitu “Hum Dil De Chuke Sanam” dan “Devdas”. Film ini juga cukup menghebohkan di saat tayangnya dengan pasangan untuk ketiga kalinya antara Aishwarya Rai dengan Hrithik Roshan setelah hits mereka, “Dhoom 2” dan “Jodha Akbar”, yang sukses dinikmati penonton sinema Hindi.

Cerita yang disajikan pada “Guzaarish” berlatarbelakangkan kultur yang sama dengan “Black”, yakni daerah Goa. Unsur etnis dan estetika khas Bhansali dirasakan lebih menonjol dan dieksplorasi pada “Guzaarish”. Busananya, gedung rumahnya, tariannya, dan pemandangan alamnya (satu hal yang baru tampil pada film Bhansali yang kebanyakan dibuat dari setting-an studio) kesemuanya menggambarkan warna khas Goa dalam perspektif yang lebih artistik. Selain nuansa kultural ini, juga disajikan atraksi sulap yang memukau sebagai bagian dari cerita.

“Guzaarish” adalah satu cerita unik yang jarang ditampilkan pada film Hindi umumnya. Film ini mengangkat tema tentang mercy killing atau Euthanasia yang diperjuangkan oleh Ethan Mascarenhas (diperankan oleh Hrithik Roshan). Sekali lagi, Bhansali dapat mengerahkan kemampuan terbaik aktor yang berperan pada filmnya dengan menampilkan sosok Hrithik tampak begitu meyakinkan sebagai pengidap Quadriplegic (kelumpuhan hampir di sekujur tubuh) sekaligus sebagai master pesulap anggun pada masa kejayaannya. Aishwarya Rai yang berperan sebagai Sofia D’Souza juga menjadi unsur utama film ini, peran yang menyertai perjuangan Ethan dan kemudian saling mencintai pada saat-saat terakhir.

Tidak seperti “Black” yang tidak terlalu diiringi dengan tarian dan lagu, Guzaarish menampilkan ciri khas film Hindi ini dengan komposisi yang tepat. Lagu “Udi” menjadi salah satu contoh yang menggambarkannya. Dengan iringan musik adopsi dari Eropa khas Goa dan juga tarian flamenco yang secara anggun dibawakan oleh Aishwarya Rai, menjadi suguhan yang menarik pada film ini. Satu catatan khusus pada film ini adalah Bhansali tidak hanya menyutradarai film ini, tetapi juga menjadi komposer musik dari film ini. Untuk kali pertamanya sebagai komposer, lagunya merupakan pengiring yang sesuai dengan jalan cerita, mampu membawakan emosi adegan yang divisualisasikan.

***

Sajian Sanjay Leela Bhansali selalu memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Akting pemerannya tidak diragukan lagi, penuh penghayatan dan pendalaman emosi. Latar belakang kultur etnis filmnya akan selalu ada dengan sentuhan estetika yang ada pada dekorasi tempatnya, busananya, iringan lagu, dan tariannya. Filmnya yang tidak saya bahas di sini adalah film perdananya, “Khamoshi”, yang belum terlalu menarik bagi saya. Sedangkan untuk filmnya terbaru, “Ram Leela”, yang sebentar lagi akan diterbitkan, menjadi ekspektasi untuk merasakan karyanya yang sepertinya akan menggabungkan elemen-elemen menarik pada film-filmnya terdahulu menjadi satu paket tontonan yang sangat ditunggu-tunggu….

Iklan

14 thoughts on “hindi extravagant colors presented by sanjay leela bhansali

    • Guzaarish dan Saawariya yang belum ya mbak? Guzaarish itu cerita yang unik, bikin berkesimpulan untuk lebih menghargai kehidupan dengan kasus euthanasianya.. Saawariya… Hmmm tidak terlalu spesial karena Ranbir dan Sonam chemistrynya kurang greget, tapi visualisasi settingnya lebih wah karena full studio filmnya…

      • Ahaha iya itu jadi kendala memang… Karena dua film ini yang sayangnya jadi flopnya SLB di tengah ekspektasi tinggi para penonton di sana… Tapi bagi saya tetep worthed nontonnya hehehe.

      • Nuansa Guzaarish hampir sama kek Saawariya yang sejak awal udah kerasa melankolis sendu gitu.. Kurang cocok bagi tipikal audiens Bollywood yang suka happy story dan massive entertainment… Ini film seperti SRK-nya Devdas, saya baru liat kekuatan akting Hrithik Roshan pada level terbaiknya…

        Ram leela, ada banyak faktor yang keknya bakal jadiin film ini lebih acceptable dari film sebelumnya sih hehehe

    • Seperti yang saya beberapa kali gambarkan di sini, ini film2 yang genrenya lebih dalam aktingnya dan sangat direkomendasikan untuk ditonton lo, mas, hehehe.. Komposisi yang pas untuk satu paket film Hindi dengan akting mumpuni plus nuansa kulturnya kental 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s