kekacauan

Apa yang terjadi setelah perasaanku bercampur aduk? Tak disangka muncullah rentetan peristiwa yang tidak terduga padahal aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Pada satu sisi ini semakin kuatlah perasaan yang tak nyaman di dalam benak. Namun, ada hal yang tetap dapat dijadikan sebagai pembelajaran jika dilihat pada sisi lainnya. Apalagi peristiwa semacam ini bukanlah hal yang paling parah pernah dialami diri sebelumnya.

Tentang guncangan yang membuat diri segera beranjak menyelamatkan diri itu mengungkit perasaan yang sama di masa lalu. Dulu guncangan-guncangan semacam itu kerap dialami dan membuat diri lebih bersiaga dengan segala kemungkinan. Saat-saat itu terasa benar tak ada lagi yang bisa diperbuat, sangat tak berdaya akan kuasa Tuhan, dan hanya bisa pasrah akan ketentuan-Nya.

Saat seperti itu datang pada waktu yang tak dapat ditentukan, tiba-tiba saja, dan membuat semua manusia berhamburan menyelamatkan diri. Kekhawatiran menyeruak bertanya-tanya apakah akan terjadi peristiwa yang serupa atau yang lebih parah lagi. Semuanya bersiaga dan tidak berani  ke mana-mana hingga dinyatakan telah aman untuk kembali.

Guncangan adalah suatu bentuk peringatan. Ingat bahwa bisa jadi dalam sekejap saja semua menjadi hancur. Ingat bahwa kesempatan hidup itu benar-benar sesuatu yang patut disyukuri. Ingat bahwa ada kendali di luar jangkauan yang menentukan nasib manusia. Peringatan-peringatan ini sepatutnya menjadi tamparan keras bagi mereka yang masih terlena, lupa, dan tidak peduli seperti aku.

Guncangan itu menamparku. Guncangan itu membuatku merasakan kembali kepanikan dan ketidakberdayaan itu. Guncangan itu hadir kembali di saat aku memang telah lama tak ingat bagaimana rasanya. Jantung berdebar kencang, napas yang tersengal-sengal, dan pikiran yang berkecamuk. Kacau benar rasanya.

Lalu, tak berselang lama dari guncangan itu tadi, terjadi pemutusan sumber daya energi yang sering digunakan. Jam demi jam berlalu dilampaui dengan kebingungan. Ketergantungan pada sumber daya energi itu telah pada tataran yang mencemaskan. Seketikanya terjadi gangguan, lumpuhlah semua yang berhubungan. Lagi-lagi kekacauan tampak jelas di mana-mana.

Aku pun termasuk dalam kerumunan manusia yang mengeluh atas kejadian tadi. Komunikasi jarak jauh menjadi susah karena terputus penghubungnya yang menggunakan energi itu. Panas mentari siang yang biasa dapat ditangkal oleh mesin pengatur udara pun tak dapat digunakan. Menjelang malam secercah cahaya menjadi barang yang dicari-cari untuk dapat menyibakkan kegelapan yang mencekam. Semua orang sibuk berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang terbatas.

Dulu kejadian semacam ini adalah hal yang kerap dialami. Pada daerah yang sangat jauh tertinggal dari kemajuan ibukota, pemutusan sumber daya sudah seperti hal yang dimaklumi. Ketidakmerataan pembangunan tentu menyebabkan keterbatasan sumber daya. Dengan keterbatasan ini maka apalagi yang bisa dilakukan, tidak ada jaminan bahwa energi akan terus menerus disalurkan dengan baik di daerah ini.

Hari-hari itu adalah hari di mana tidak banyak hal yang bisa dilakukan pernah dialami. Mengeluh menggugat keadaan itu hanya membuang-buang energi. Yang kemudian dilakukan adalah mengalihkan pada kegiatan yang memang tak membutuhkan pemanfaatan sumber energi. Ketidakberdayaan itu mengingatkan kembali untuk berhubungan langsung dengan manusia lainnya tanpa perantara teknologi ataupun menikmati keindahan alam yang belum disentuh oleh modernisasi zaman.

Kekacauan demi kekacauan ini telah memberikan banyak pelajaran sebenarnya di masa lalu. Ketika ia terjadi lagi, maka seharusnya diri ini bisa menyesuaikan dengan segera. Namun, hati ini masihlah tidak tenang dengan perasaan yang bercampur aduk. Jika tempat ini sudah sedemikiannya tidak nyaman ditambah dengan kekacauan ini, bukankah lebih baik untuk tidak lagi berada di sini?

Jakarta, 6 Agustus 2019 22:25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s