campur aduk

Hari-hari seperti ini benar-benar telah membuatku bingung. Terlalu banyak kejadian. Terlalu banyak hal yang dialami. Terlalu banyak lintasan pertanyaan dalam pikiran. Namun, semua itu berusaha kusimpan hanya dalam diri. Kutampilkan wajah yang sekilas tampak tenang seolah tak ada apa pun yang terjadi.

Aku masih terkejut dengan berbagai hal yang ditemui pada lingkungan dan keadaan yang baru ini. Masih perlu banyak penyesuaian karena tentu ini sangatlah berbeda dengan apa yang dulu dihadapi. Sudah berjalan hari demi hari, namun tetap saja, apa yang diterima masihlah terasa mengagetkan. Aku akui benar sekarang tentang ketidaksiapanku beralih pada situasi ini. Jelaslah perasaan sesal yang senantiasa membayangi. Apalah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki, hanya bisa sekadar menjalani dan melanjutkan saja tanpa tahu akan dibawa ke mana arahnya.

Perasaan-perasaan ini diperparah apabila teringat tentang kesendirian di riuh kota nan ramai ini. Kepada siapakah gunda gulana ini bisa diceritakan? Bagaimanakah rasa yang tak nyaman ini dapat dialihkan? Apa yang bisa dijadikan sebagai penenang dari kericuhan yang tidak disukai ini? Hanya sendiri berkecamuk dengan berbagai pertanyaan itu dan tak tahu bagaimana menyikapi kesendirian ini.

Kesendirian ini sangatlah berbeda dari apa yang dulu pernah aku alami. Kini ada kekasih hati yang selalu berdoa dan menanti agar dapat dipertemukan kembali. Sekarang aku pahami apa yang banyak orang katakan bahwa keluargalah segalanya dan jika jauh dari mereka akan terasa kerinduan yang teramat sangat. Ratusan kilometer membentang sebagai jarak yang memisahkan dan itu menyiksa. Kecanggihan zaman pun belumlah bisa menggantikan pertemuan langsung dengan mereka. Terasa benar bahwa hal inilah yang sekarang menjadi sangat berharga.

Aku tahu mengeluh bukanlah hal yang baik. Namun, semua perasaan tak nyaman itu bercampur aduk pada satu wadah yang sepertinya tak bisa dibendung lagi. Sekujur tubuhku mulai berjalan tak normal. Dari kepala yang tiba-tiba sering terasa sakit, kelelahan yang kemudian mendera diri menjadi enggan untuk beranjak, dan sinyal-sinyal lainnya yang diberikan untuk memberitahuku tentang ketidaknormalan itu. Sejenak beristirahat mungkin akan menghilangkan gejala-gejala ini, tetapi jika apa yang dihadapi masihlah sama, bukankah tidak mungkin hal ini akan berulang kembali? Jika memang ada kesempatan untuk bersua kembali dengan orang-orang yang dicintai dan mengisi kembali energi, bukankah energi itu akan terkuras habis lagi? Oh masa depan, sampai kapan ini akan terus dialami?

Situasi sekarang ini tidak banyak memberikanku pilihan. Ada ikatan di luar kendali yang membatasi diri untuk patuh berdiam pada tempat yang ditentukan sebagai pencaharian hidup. Aku harus menentukan dengan tepat, merencanakan dengan matang, serta mempersiapkan dengan segala risikonya tentang apapun yang akan diputuskan. Jika memang sudah menjadi suratan takdir untuk menjadi penghuni kota yang memang sudah sangat padat dan menjemukan ini, maka aku harus semakin tahan dengan campur aduk perasaan yang semakin rumit.

Ada banyak orang yang mengalami hal yang sama di kota ini, terpisah dari apa-apa yang mereka harapkan dan cintai. Aku harus banyak belajar dari mereka. Memang harus ada yang dikorbankan demi menjaga kewarasan diri dan terlihat normal. Manusia hanya bisa berusaha, menyimpan harapan di dalam benak, dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk diberikan yang terbaik. Semoga saja cerita tentang kota ini hanyalah sementara, sesederhana itulah harapanku kini.

Jakarta, 2 Agustus 2019 23:27

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s