goliyon ki raasleela ram-leela: a love story like no other

Dari suatu kota yang tidak biasa, yang kesehariannya dipenuhi dengan desing bidikan peluru, yang selalu saja ada pertengkaran antarkubu tiada henti, yang sudah menganggap pertumpahan darah adalah hal biasa, muncul kisah yang bertolak belakang dari kesemuanya itu. Di tengah saratnya kebencian yang menyesaki udara kota Ranjar itu, bersemi cinta yang mencoba menyebarkan aroma kedamaian di antara dua kubu yang berselisih. Rajadi dan Sanera, pergelutan yang sudah sekian ratus tahun lamanya selalu didengungkan, kini memasuki babak barunya dengan sepasang kekasih yang mencoba menembus batas perbedaan.

19631-RamLeelacover-1384769494-176-640x480Cinta bukanlah hal yang istimewa sebenarnya. Semua orang juga akan mengalami perasaan yang begitu menggelorakan ini. Karena dengan cinta, hidup ini terasa begitu indah dan menyenangkan. Cinta memberikan nuansa lebih dalam kehidupan manusia yang sebentar saja ini. Hanya saja, untuk berseminya cinta yang menembus batas dua kubu yang tak henti berseteru itu, maka kisah cinta yang satu ini bukanlah kisah cinta seperti biasanya.

Bagaikan Tarian Cantik Sang Merak (interpretasi “Mor Bhani Thangat Kare”)

Semuanya terasa begitu indah jika ada cinta yang menyemarakkan setiap gerak dari hidup ini. Dunia seakan tidak akan berhenti bersemi terus. Ia akan menyebarkan ke seluruh penjuru gegap gempita perayaan cinta. Tidak sekalipun kesedihan atau duka sedalam apa pun itu yang bisa merusak kebahagiaan macam seperti ini. Jika ada kekasih hati yang sudah mengisi dan menggelorakan gairah hidup ini, maka mau apa pun keadaannya, semuanya akan terlewati dengan sendirinya.

Bagaikan tarian cantik sang merak. Saat mereka hendak menyatakan cintanya, mereka menarikan gerak yang lihai dan indah. Bulu mereka kembangkan selebar mungkin dan tampaklah hiasan-hiasan yang menarik mata. Hiasan itu menunjukkan keindahan niatan cinta mereka. Keanggunan gerak mereka menggambarkan kesyahduan persemian cinta di antara sepasang kekasih. Seperti itulah hatiku kini  menari karena berseminya cinta di dalam benak. Ada dia, sang kekasih, yang telah menyemarakkan kehidupan ini dengan pesona kecantikannya dan tentunya cinta yang dengan tulus ia berikan padaku.

Lihatlah Aku, Ram (interpretasi “Ramji Chal Dekho/Tattad Tattad”)

Maka, di antara segala setiap desing yang mengganggu itu, lihatlah pada diriku. Aku, Ram, adalah sosok yang tak peduli dengan kesemuanya itu. Hidup seharusnya tak perlu larut dalam perseteruan yang tiada habisnya menguras energi ini. Hidup itu lebih baik untuk dirayakan, disemarakkan, dinikmati dengan curahan kebahagiaan yang melimpah ruah.

Ayo, marilah kita lepaskan beban-beban yang membelenggu itu! Ikutilah bersamaku untuk menarikan setiap gegap gempita berseminya kebahagiaan pada kehidupan ini! Buang lepas jauh-jauh kebencian yang mampu merusakkan semarak perayaan ini! Curahkan semua pesona diri pada penjuru dunia dan lihatlah bagaimana mereka akan takluk sendirinya dengan kebahagiaan yang terpancar ini!

Lihatlah aku dan cukup sudahi pergelutan yang tiada manfaatnya. Kini saatnya untuk mencoba jalan keluar lain dari keadaan yang tidak pernah berubah menjadi lebih baik. Sudah saatnya cinta memasuki batas-batas kebencian ini, merobohkannya, dan kemudian menyatukannya.

Merasakan Merahnya Darah Itu (interpretasi “Lahu Munh Lag Gaya”)

Cinta itu datang dari arah yang tidak terduga. Tak disangka ternyata di antara kecantikan-kecantikan yang sudah acapkali ditemui, kali ini ada seorang gadis yang dengan beraninya mengarahkan pistolnya kepadaku. Tatapannya tajam, namun tak sedikit pun kutemui kebencian dan keraguan di dalamnya. Justru sebaliknya, di dalam mata itu terpancar keyakinan dan pesonanya yang begitu kuat.

Ia tidak hanya sekadar cantik, ia lebih dari itu, ia tidaklah seperti gadis lainnya. Ia adalah Leela, seorang Sanera yang kemudian menembakkan pelurunya ke atas langit dan menandai kegembiraan yang melimpah ruah dari perayaan bertaburnya warna warna.

Semarak warna itu berlanjut terus dan membuatku semakin ingin tahu. Di kediamannya yang tengah ramai merayakan selebrasi Holi, kudapati ia kembali dengan pesona yang semakin menguat dari dalam dirinya. Ia mendekatiku dan kucoba menggodanya. Entah macam apa perasaan ini, seakan kami sudah kenal dari sejak lama. Tiada kecanggungan yang membuat kikuk. Bahkan pun, tiada kata perlu terlontar di antara kami. Cukup gerak gerik canda dan tarian mesra yang sudah menggambarkan semeluapnya perasaan ini.

Aku merasakan merahnya darah itu. Ya, kala kecupan bibirnya membuatku tertegun itu, darah mengalir semakin deras dan membuatku begitu meluap-luap. Darah ini dan taburan warna merah yang memang semarak pada perayaan Holi sudah cukup menggambarkan bagaimana cinta telah tumbuh dan menyebarkan kebahagiaan pada setiap gerak, tari, dan perayaan di antara kami, Ram dan Leela.

 Tembakan Cinta dan Peluru (interpretasi “Ishqyaun Dhisqyaun”)

Aku dan dia berasal dari dua kubu yang berseteru. Menemuinya menjadi suatu kesulitan yang menghambat dan menampakkan kemesraan ini akan menjadi perseteruan yang lebih hebat dari sebelumnya. Maka, diam-diam pertemuan pun direncanakan. Di tempat yang tersembunyi itulah tembakan cinta meletus dengan bebas dan penuh gelora. Tembakan ini sama halnya seperti tembakan peluru yang terus berlangsung di antara dua kubu yang bermusuhan. Semakin bisingnya peluru itu bertebaran di antara Rajadi dan Sanera, semakin kuat pula tembakan di antara Ram dan Leela.

Kini aku sudah tak pedulikan lagi ia berasal dari kubu yang dimusuhi keluargaku. Leela telah menjadi kekasih hati yang juga telah meninggalkan segala kebenciannya untuk cintaku ini. Ia akan mencoba agar kisah cinta ini bisa menembus batas permusuhan yang sudah mengakar ini. Ia pun mengambil janjiku agar tak akan meninggalkannya. Bahkan pun, jika aku melanggar janji itu, maka tak segan ia akan menembakkan peluru dan menyudahi kisah cinta ini. Kisah cinta ini sepertinya hanyalah tentang dua hal, cinta dan peluru yang tidak pernah berhenti saling menembak.

Sentuh Tubuhku (interpretasi dari “Ang Laga De Re”)

Sayangnya, siapa yang sudi dengan kisah yang bersemi di antara desingan peluru dan semarak cinta ini. Permusuhan yang sudah lama berlangsung tak dapat disirnakan begitu saja dengan alasan romantisme di antara sepasang kekasih dari dua kubu yang berbeda. Peluru-peluru terus saja berdesing menghiasi kisah ini dan ia pun tak segan meregut nyawa. Kebencian telah membutakan mereka-mereka yang telah lama bermusuhan. Nyawa musuh bukanlah suatu persoalan, malah menjadi kebanggaan jika dapat menghabisinya dengan gagah. Kala dua kubu berhadapan, peluru sudah dianggap seperti mainan di antara keduanya. Saling ditembakkan tanpa peduli, hingga kemudian tanpa dikehendaki nyawa melayang begitu saja.

Hanya karena selongsong peluru yang ditembakkan menjurus ke tubuh saudarakulah penyebab kisah ini tak lagi indah. Nyawanya hilang begitu saja di tangan musuh. Aku meratapinya dan tanpa pikir panjang, membalas bertubi-tubi tembakan kepada mereka yang telah menembak saudaraku. Di antara mereka, ada satu orang juga yang sudah tidak bernyawa. Ia adalah saudara Leela, keluarganya yang ia sayangi.

Maka, cinta ini berada pada persimpangan jalan. Ia harus memilih apakah keluarga atau kekasihnya yang lebih utama. Ia harus memilih antara kebencian atas tragedi ini atau cinta yang sebenarnya masih ada di dalam hati. Aku mencoba meyakinkannya untuk memilihku, walau ada kekecewaan yang begitu dalam atas apa yang telah aku lakukan pada saudaranya. Ia memilih cinta dan untuk mempertahankan ini, kami harus lari dari kerumitan persoalan ini. Pergi jauh dari semua kebencian yang akan berubah menjadi lebih hebat dan mencoba membuka lembaran hidup baru jauh dari itu.

Leela, sentuh tubuhku dan rasakanlah ketenangan dari cinta ini. Masalah yang kita hadapi ini akan berhenti dengan sendirinya. Kita akan coba menyelesaikannya dengan baik dan semoga mereka dapat mengerti. Kini kita telah bersama, jauh dari mereka. Aku dan dirimu menjadi satu, terikat pada janji setia kekasih. Merahnya sindhoor menjadi saksi atas janji kita ini.  

Merahnya Cinta (interpretasi “Laal Ishq”)

Namaku cinta dan namanya adalah cinta. Bukan lagi Ram seorang Rajadi, ataupun Leela seorang Sanera. Nama, keluarga, atau latar belakang perbedaan apa pun itu sudah tidak akan bisa membedakan kebersatuan cinta antara Ram dan Leela. Kami adalah satu. Kami adalah cinta. Cinta yang merah membara dan akan terus bergelora walau kerunyaman persoalan dalam kisah cinta kami ini tak henti-hentinya terus berlanjut.

Akibat siasat licik dari mereka yang hatinya dipenuhi dengan kebencian, maka terpaksa kami berpisah. Aku mencoba menyelamatkannya dari keluarganya yang merenggut paksa Leela kembali. Akan tetapi, teman-teman culas dari Rajadi telah menjebakku untuk menjauhi Leela. Bahkan pun, mereka banggakan aku yang telah dianggap berhasil menodai kehormatan kubu Sanera dan menjadikanku sebagai pemimpin untuk menghancurkan Sanera.

Betapa perih takdir telah mempermainkan kisah kami ini. Namun, merahnya cinta ini tak akan pernah memudar. Sekuat apa pun prahara yang mencoba mengusik di antara kami, maka kebersatuan diri ini tetap tak akan tergoyahkan.

 Ram ataukah Leela (interpretasi “Ram Chahe Leela”)

Pada jarak yang terentang jauh di antara kami, masing-masing kubu berusaha sekuat tenaga semakin menyuburkan kebencian dan permusuhan. Kisah kami sudah tersebar dan menjadi buah bibir oleh banyak orang. Mereka bertanya-tanya tentang bagaimanakah kisah ini bermula, apakah Ram yang memulai, Leela yang lancang menerjang batas, ataukah keduanya yang menghendaki kisah cinta terlarang ini?

Hingga kemudian seorang penghibur menceritakan kisah ini dalam lagunya ke seluruh Rajadi yang sedang bersuka cita dan mabuk terlena. Ia ceritakan apakah Ram ataukah Leela yang bersalah atas semakin kacaunya perseteruan ini. Namun, baginya cerita ini tidak perlu jawaban atas pertanyaan itu. Karena buat apa dunia mempersoalkannya, jika hingga kini cinta Ram dan Leela masih ada dan tak mempedulikan segala kekacauan yang diakibatkan olehnya.

Ceritanya itu menghibur hatiku yang lara dan tariannya semakin membuatku tak sadarkan diri. Biar saja kesemrawutan itu terjadi, biar saja permusuhan itu terus berlanjut, dan biarkanlah cinta ini terus ada di antara kami.

Penutup Tabir (interpretasi “Dhoop”)

Berat bagi Leela untuk menjalani kesemuanya ini. Keluarganya terus menekannya untuk melupakanku, bahkan dalam waktu yang mendadak akan mempersuntingkannya dengan lelaki lain. Ibunya yang menjadi penguasa kubu telah mempersiapkan kesemuanya dengan tangan dinginnya. Tak ada yang berani untuk menggagalkan rencananya untuk menikahkan putrinya itu. Hanya Leela seorang diri dengan kekuatan cinta yang membara itu menolak dengan tegas perintah ibunya.

Janji setia telah terikat antara dirinya denganku. Tak bisa ada janji lain yang mengikatnya dengan lelaki lain selain aku. Cincin yang menjadi penanda janji setia itu menjadi bukti. Jika hendak memutus janji ini, maka cincin ini haruslah lepas dari jari Leela. Maka, ibunya dengan penuh amarah memutus jari putrinya sendiri. Cincin itu pun terlepas dan membuatnya lemas seketika. Janji itu tiada yang sudi mengakuinya, bahkan ibunya sendiri.

Penutup tabir itu kian menyelimutinya. Leela terkurung pada kekelaman kebencian keluarganya. Dunianya serasa suram tanpa kehadiran kekuatan cinta. Derita demi derita harus ia jalani jika cinta ini masih hendak ia pertahankan.

 Tabuhan Genderang Perayaan (interpretasi “Nagada Sang Dhol”)

Perseteruan semakin hari semakin rumit. Pertumpahan darah di antara kedua kubu terus saja berlangsung. Siasat ini siasat itu dimainkan untuk menjegal satu sama lain. Keadaan hanya akan terus bertambah buruk jika dibiarkan begitu saja. Tampuk kepemimpinan yang kini diampu oleh diri ini menjadi tanggung jawab yang besar. Sudah cukup pelik persoalan yang telah terjadi, upaya perdamaian perlu dilakukan untuk mengakhirinya.

Perayaan Navratri menjadi momen yang tepat untuk itu. Walau dengan undangan berupa merak yang mati sebagai tanda yang tidak baik dari Sanera, aku tetap menghadiri perhelatan itu. Di kediaman mereka, berlangsung dengan meriah tarian perayaan pemujaan. Para penari melakukan gharba berputar-putar mengitari tabuh nagadha.

Di antara para penari itu, Leela dengan lincahnya mengikuti tabuhan genderang perayaan. Disertai lagu pemujaan, ia tarikan dengan wajahnya yang sendu. Kala ia melihatku, maka ia menghampiriku, dan memberikan tanda penghormatan untukku. Ia kemudian melanjutkan tariannya dan larut dalam setiap gerakannya. Ia curahkan semua gundah perasaannya itu dalam tarian dan lagu yang ia lakukan. Pada tariannya itu, tampak jelas masih begitu kuat cintanya padaku.

Aku hanya mampu memandanginya lekat-lekat. Sampai tak kusadari ada bahaya mengintai, ada siasat licik dari Sanera untuk menghabisiku. Namun, tak ada yang menduga ternyata di akhir tarian itu, justru ibu Leela yang menjadi korban dari tembakan misterius. Sejak saat itu, kisah ini menghadapi persoalannya yang lebih rumit lagi.

Purnama yang Sempurna (interpretasi “Poore Chand”)

Kejutan tidak berhenti pada kejadian ditembaknya pemimpin kubu Sanera. Tidak yang dapat menduga kemudian siapa pengganti pimpinan tertinggi pada kubu lawan Rajadi ini. Leela, putri bungsunyalah, yang menjadi pengganti dan maju pada perundingan perdamaian dengan Rajadi yang dipimpin olehku. Semuanya terhenyak melihat fenomena ini. Tidak ada yang menyangka sepasang kekasih yang dulunya saling mencintai kini mereka harus beradu berhadapan mengusung kepentingan kubunya masing-masing.

Perih rasanya pada pertemuan itu. Cinta yang dulu bersemi ini harus disisihkan demi kepentingan kubu yang menjadi tanggung jawab masing-masing dari kami. Leela ditutupi oleh tabir yang memaksanya untuk tidak mempedulikan masa lalu kami. Aku tak tahan melihatnya seperti itu dan lebih baik mengalah dalam setiap kesepakatan perdamaian yang dirumuskan. Aku biarkan kubunya bertindak semau mereka agar Leela tidak terbebani dengan tuntutan dari kubu Sanera.

Selepas dari kesepakatan itu, rupanya ada yang tidak puas dengan hasil yang diperoleh. Ada makar dari saudaramu yang lain untuk menghabisi kubu Rajadi. Kesepakatan yang semula diharapkan menjadi momen perdamaian antara kedua kubu, malah menjadi semakin memanaskan perseteruan. Siasat licik dan tipu daya telah dipersiapkan dan mereka memanfaatkan Leela sebagai kambing hitam dari pelanggaran kesepakatan itu.

Entah berapa nyawa sudah yang dihabisi dan berapa peluru yang berdesing melayang mencari mangsa. Di saat purnama yang sempurna ini, seharusnya menjadi momen yang tepat untuk merayakan cinta. Namun, Ranjar justru merayakan sebaliknya. Kebencian semakin memuncak dan tak ada cinta lagi yang dapat dirayakan pada saat yang indah ini.

***

ramleelaLeela, di saat genting itu, aku menemuimu. Pada beranda ruangmu yang menjadi tempat kita sering bertemu dulu, aku meminta penjelasan darimu. Aku menanyakan bagaimana semuanya menjadi serumit ini dan begitu menyusahkan kita. Bukankah cinta adalah hal yang begitu indah dan sepatutnya menjadi pemersatu atas semua perbedaan? Salahkah jika kita mencintai satu sama lain? Apakah sudah menjadi ketentuan yang tak dapat diubah untuk orang-orang terdekat kita saling membenci?

Jika memang demikian adanya, maka apalah gunanya hidup ini. Kita percaya bahwa cintalah yang menyemarakkan hidup ini, yang memberikan kebahagiaan tiada terperi, yang selalu menggelorakan gairah untuk terus bersama. Kini, tidak ada lagi yang hendak sepakat dengan apa yang kita percayai itu. Biarlah mereka tetap pada pendirian kakunya itu dan marilah kita sudahi kisah perseteruan ini.

Kali ini tidak perlu ada nyawa-nyawa yang dihabisi percuma akibat persoalan kita. Kita korbankan saja nyawa kita ini sebagai penumpasan terakhir dan semoga jiwa kita menjadi bebas menari bagaikan tarian cantik sang merak yang dirundung cinta. Jiwa ini tidak akan peduli lagi macam apa batas pembeda yang akan menghalangi mereka. Jiwa ini akan menyatu pada dunia lain, jika pada dunia yang telah kita kecap ini rupanya tidak memberikan kesempatan untuk kita bersatu.

Biarlah itu semua terjadi dan menjadi pembelajaran bagi mereka yang mampu memahami bahwa cinta itu ada di atas segalanya dan menjadi penepis kebencian yang begitu merusak.  

Painan, 3 Februari 2014, 23.05

*tulisan ini terinspirasi oleh alur plot film dan urutan lagu soundtrack film Goliyon Ki Raasleela-Ram Leela (2013)

Iklan

8 thoughts on “goliyon ki raasleela ram-leela: a love story like no other

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s