monas dan aktivitas-aktivitas yang menghidupkannya

Kebanyakan orang berkata bahwa belum berkunjung ke Jakarta tandanya kalau belum pernah menyambangi Monumen Nasional atau yang kerap dipanggil singkat dengan julukan “Monas”. Monumen yang tampak menyerupai sebatang lilin  dengan cawannya ini jelasnya memang sudah dianggap sebagai landmark icon Ibukota. Kesan yang saya dapatkan di sana, yang menghidupkan dan menjadikan Monas ini spesial sebenarnya bukan pada bentuk bangunannya, melainkan pada aktivitas-aktivitas unik dari orang-orang yang berada di situ.

P1120661edSaya masih ingat bagaimana kesan pertama kali saat saya mengunjungi kawasan Monas pada tahun 2009. Monas bagi saya adalah tantangan saat itu. Bagaimana tidak? Sudah hampir menjelang tiga tahun keberadaan saya kuliah di Ibukota rupanya belum saya sempatkan untuk mengunjunginya. Dengan persepsi banyak orang yang mengatakan bahwa belum ke Jakarta namanya kalau belum pernah ke Monas, maka saya benar-benar merasa keterlaluan jika sama sekali tak pernah ke sana.

Saya yang masih jadi mahasiswa waktu itu bisa dibilang jarang sekali namanya untuk berkelana sendirian melihat objek-objek yang menarik di Ibukota. Sepertinya malah Monas inilah yang menjadi kesan pertama saya untuk lebih ingin tahu lagi dengan pernak-pernik Ibukota. Monas selalu saja saya lewati dalam perjalanan saya dari Stasiun Senen menuju kampus saat perjalanan mudik dari Salatiga, kota asal saya. Entahlah, dengan kemegahannya yang tampak dari jendela bis yang saya tumpangi, seakan-akan ada daya tarik keingintahuan yang begitu membuncah untuk dapat mengunjunginya suatu saat nanti.

Adanya waktu senggang dengan tidak adanya perkuliahan di hari aktif kerja menjadi suatu keberuntungan bagi saya waktu itu. Pada hari-hari yang demikian rupanya jumlah pengunjung Monas relatif sedikit. Hanya tampak beberapa orang lalu lalang di sana dan ini menjadi kesempatan sepuas-puasnya saya untuk dapat menikmati kawasan ini. Ya, walaupun panas terik menyengat khas Ibukota terasa, namun dengan sepinya Monas waktu itu membuat saya benar-benar leluasa menelusuri kawasan itu. Malah saat berada di daerah cawan Monas dan puncaknya angin begitu kencang menerpa, sehingga kesejukan terasa.

Satu hal konyol yang masih saya ingat saat pertama kali mengunjungi Monas adalah kebingungan saya bagaimana caranya agar bisa sampai ke puncak Monas. Rupanya ada lorong bawah tanah yang letaknya berada pada salah satu sudut kawasan guna masuk ke dalam area bangunan dan menuju puncak. Saya salah mengira untuk menuju puncak jalannya langsung  saja ke area cawannya, sayangnya mendekati area cawan ada pagar-pagar pembatas yang menghalangi masuk ke dalamnya. Kebingungan ini terjadi karena saya masih malu-malu bertanya saat itu dan saya lihat belum banyak semacam tourist information center untuk memandu pengelana macam amatir seperti saya ini. Sayang memang, seharusnya untuk kawasan yang begitu terkenal sebagai lambang Ibukota, pusat informasi seharusnya tersebar di beberapa tempat.

Kesan pertama memang begitu memukau di sana. Salah satu momen favorit saya adalah saat memandang city view dari puncak Monas. Arah pandang menjadi sedemikian luas dan tampak gambaran Ibukota secara menyeluruh dari sini. Dengan cukup mengitari selayang pandang dari puncak Monas ini seakan-akan seluruh pelosok Ibukota ini sudah dapat dijangkau sekali waktu. Pantaslah memang jika Monas menjadi simbol Ibukota karena ia menyajikan pemandangan semacam ini.

Itulah cerita bagaimana pertama kalinya saya mengunjungi Monas. Pada kesempatan lainnya di saat saya menempuh proses magang bekerja di daerah Ibukota, Monas kembali menjadi salah satu hal yang menarik bagi saya. Dekatnya kos dan tempat saya bekerja saat itu dengan Monas menjadikan saya berulang kali mengunjunginya.

Awalnya memang kemegahan bangunan Monas yang menjadi perhatian dan ketertarikan saya. Namun, kesan ini hanyalah bertahan sementara, hal yang jauh menarik bagi saya setiap kali mengunjungi Monas kembali adalah aktivitas orang-orang di sekitar Monas. Berbeda dengan saat pertama yang masih sepi pengunjung, pada momen selanjutnya saya sering mengunjungi Monas di akhir pekan yang mana menjadi waktu padatnya para pengunjung.

Berbagai macam orang melakukan kegiatannya masing-masing. Ada yang berolahraga dengan macam-macam jenisnya, entah sepakbola, jalan sehat, senam pagi, bersepeda, dan lainnya. Ada yang bercengkerama bersama keluarga, kekasih, atau teman-teman. Tentu juga banyak para pedagang dan penjual cenderamata, makanan, minuman, dan lainnya berseliweran menjajakan dagangan mereka itu. Salah satu kegiatan menarik yang saya sangat nikmati adalah memperhatikan meliuk-liuknya berbagai macam layang-layang yang unik dan beraneka ragam memenuhi area kawasan Monas pada suatu sore. Pemandangan semacam ini belum pernah saya temui dan membuat saya takjub. Layang-layang ternyata bisa juga terbang dengan leluasanya di langit-langit ibukota ini.

Hingga kemudian, di saat saya sudah berada di rantau menjauh dari ibukota dan diberikan kesempatan kembali untuk merasakan keramaian aktivitas Monas, ya sekali lagi yang membuat saya nyaman di sana adalah beragamnya aktivitasnya itu, bukan lagi pada kemegahan bangunannya. Rasanya saat berada di sana semua orang melepas penat kejenuhan dan kebencian akan kesemrawutan ibukota dengan beraktivitas sesuka hati. Energi-energi positif terasa menyeruak di udara dan Monas dengan sendirinya telah memberikan sejenak angin segar untuk kemudian bergelut kembali bagi para pejuang tangguh di Ibukota…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s