kenangan di saat hujan

“Hujan membuatku terjebak. Terperangkap di tempat seperti ini. Lalu, apa yang bisa aku perbuat?”

Aku bergumam pada satu-satunya pojok ruangan yang diterangi oleh cahaya lampu. Sisi-sisi lain dari gedung ini sudah tidak tampak jelas lagi tertelan oleh kegelapan. Segelap sisi lain dari hatiku yang saat ini sedang melandaku rasanya.

“Seharusnya aku tidak bertindak seperti ini. Gegabah. Sudah tahu bakal turun hujan, kenapa aku masih bersikeras melewatinya untuk kemudian sampai di sini dan hanya duduk-duduk saja ujungnya.”

Semakin geram aku dengan diriku sendiri. Menyesali keputusan yang telah kuambil. Aku sedang tidak dalam berniat untuk bersahabat dengan hujan ini. Hujan kali ini benar-benar membuatku kesal.

Padahal hujan yang aku kenal sebelumnya tidak mengesalkan seperti sekarang ini. Aku tertawa mengenang masa di saat yang telah berlalu. Tiba-tiba aku teringat akan sosok-sosok yang dulu pernah mengiringi momen hidup bersama. Aku ingat tentang mereka yang dulu begitu senang akan hujan.

“San, coba kau hirup bau tanah setelah hujan. Segar rasanya. Setelah penat akan tugas-tugas tadi, bau hujan seperti membilas bersih semua kepenatan itu.”

Aku ingat betul perkataan salah satu dari mereka, Ifa, yang selalu antusias menyambut hujan karena ia suka dengan bau tanah setelah hujan.

Lain halnya dengan Ifa, Gamma mempunyai ketertarikan lain dari hujan. Ia selalu mendongakkan kepala memandang ke arah langit jika hujan turun.

“San, lihat ke arah langit jika hujan turun! Penglihatanmu akan mendapatkan pandangan bulir demi bulir titik hujan jatuh bertubi-tubi. Walau perih mata ini untuk melihat itu, bagiku ini sesuatu yang indah untuk dilihat.”

Gamma dan Ifa, dua sahabatku yang suka dengan hujan. Bahkan pun kala hujan turun, mereka akan gegap gempita bersorak sorai menyambutnya. Sedangkan aku bertingkah ala lazimnya, sebenarnya tak menganggap ada yang istimewa dari turunnya hujan. Yang istimewa bagiku saat itu adalah keceriaan mereka menyambut hujan. Aku sering tertular euforia mereka dan sama-sama menikmatinya kemudian.

Seusainya pulang sekolah dan hujan yang tiba-tiba turun, bagi kami inilah saatnya untuk bersenang-senang. Kami terobos hujan itu dan berlama-lama menikmatinya. Ya, pakaian pun akan basah dan tubuh kemudian menggigil kedinginan. Tetapi rasanya sangat menyenangkan turut menikmati turunnya hujan bersama mereka.

“Hujan adalah anugerah dari Tuhan. Seharusnya kita mensyukurinya. Pada bumi yang sebelumnya terbuat dari bola panas yang berpilin membulat ini, ada hujan turun yang mendinginkannya dan membentuknya semakin memadat,” kata-kata Ifa terngiang kembali pada memoriku. Sosok Ifa memang sangat filosofis menurutku. Ia selalu mencari makna dari apa yang ditemuinya dalam kehidupan. Aku sangat belajar darinya, walau masih banyak hal yang belum dapat aku pahami benar.

“Hujan adalah saat di mana manusia seharusnya bisa belajar. Bahwa ada saatnya dalam hidup bagi diri sendiri untuk butuh disegarkan, disejukkan, dibersihkan dengan air-air yang turun membasahi semua prahara yang aral melintang terjadi,” Gamma menambahkan dengan raut muka yang masih aku ingat jelas. Wajah bundar kehitaman dengan beberapa jerawat merah menyembul berserakan. Bibirnya yang lebar membuat senyuman tersungging merekah menghias wajahnya.

Kedua sahabatku ini tidak hanya suka dengan hujan, tetapi jauh di dalam benak mereka, bisa dibilang ada keterikatan batin dengan hujan. Perjalanan hidup dengan ruang dan waktu yang telah menjauhkan hubungan dengan mereka, membuatku teralihkan mengingat mereka. Entah bagaimana mereka sekarang ini dengan kecintaanya pada hujan. Masih samakah? Satu yang jelas, perkataan mereka di masa lalu terlintas kembali melewati batas yang telah memisahkan. Seakan mereka hadir saat ini bersamaku di ruang ini merasakan bersama keadaan seperti ini. Mereka akan mengajakku untuk bersenang-senang kembali menyambut hujan dan mengusir kekesalan yang tiada guna meratapi turunnya hujan.

Ah, hujan…

Kau mengantarkanku pada kenangan masa lalu. Akan mereka yang sangat menyukaimu. Kini aku di sini hendak menyumpah serapah tentangmu yang telah membuatku terjebak tak berkutit di sini. Dengan kenangan yang melintas sekejap ini bersamamu, membuatku terbersit, mungkin lebih baik aku menikmatimu kembali sama seperti dulu saat bersama mereka yang menyukaimu. Walau sendiri kini, aku tak ingin untuk menjadi orang yang justru membencimu.

Hujan adalah salah satu rahmat dari-Nya. Hujan sederas apa pun itu, selalu ada doa yang menyertai. Allahumma shoyyiban nafi’an” (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat). Hujan kali ini sempat semula membuat kesal terjadi, tetapi ada kenangan yang kembali teringat. Hujan bukan menjadi sesuatu yang patut untuk dibenci. Betul kan, Gamma, Ifa?

Painan, 29 November 2014

menerima realita

“Bagaimana bisa keadaan menjadi serunyam seperti ini?”

Sore ini aku mengeluhkan hal yang sama kembali. Aku merasa seakan terjebak. Aku tiada berdaya. Hal-hal tak terduga terjadi begitu saja di luar apa yang diperkirakan. Sedangkan kamu duduk dengan tenangnya di kursimu. Masih berekspresi datar saja menganggap kesemuanya itu tak ada dampaknya apa pun bagimu.

“Kamu tidak merasa terusik sama sekali? Bagaimana bisa dirimu setenang ini menghadapi persoalan bertubi-tubi seperti ini?”

Kepalamu mendongak ke arahku. Kertas-kertas yang sedari tadi membuatmu sibuk berkutat dengannya tak lagi kau urusi. Matamu menatap lekat beradu dengan mataku. Sikapmu kausempurnakan. Sikap duduk yang nyaris sempurna.

“Karena memang tidak ada yang menurutku perlu untuk aku hiraukan.”

Masih sedatar itu ekspresimu. Aku sudah menebaknya sebelum kamu memberitahukan jawabanmu itu. Namun, itu yang membuatku sangat heran. Macam apa sebenarnya kamu itu. Semacam batukah? Masak sama sekali tidak ada pengaruh apa pun kejadian yang baru saja terjadi? Persoalan rumit yang hampir-hampir saja mengacaukan kesemuanya itu bukan sesuatu yang patut kauhiraukan?

“Ini sudah pada batas yang menurutku sendiri sudah terlampaui. Dengan keadaan seperti ini, aku tak tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk kondisi sekarang ini.”

Aku mengalihkan pandanganku pada ruang kosong yang ada di antara kita. Pikiranku semakin berkelana entah ke mana membayangkan selanjutnya apa yang terjadi. Aku sudah sedari tadi cemas dan sangat perlu menenangkan diri. Ketenangan yang kamu miliki itu membuatku iri. Ah, andai saja ketenangan itu menulariku sekarang ini. Aku begitu gusar.

“Masalahmu yang sebenarnya bukanlah tentang persoalan yang tengah kita hadapi. Persoalan itu wajar terjadi karena semuanya sudah kita prediksi sebelumnya. Ada tindakan yang membawa konsekuensi atas opsi yang kita pilih.”

“Iya, aku tahu itu. Dulu kamulah yang mengucapkannya juga. Aku masih ingat itu. Aku masih ingat kalau kau bilang akan ada kondisi terburuk yang akan kita hadapi. Tetapi dengan kejadian yang lebih buruk seperti ini? Sungguh-sungguh tak kuduga menjadi seperti ini. Keterlaluan.”

Aku menenggak segelas air minum yang ada di sampingku. Tekak sekali rasanya tenggorokan ini. Persoalan ini menguras energiku benar. Tak hanya pikiran yang terus berkutat, tubuh ini juga merasakan capai yang diakibatkan olehnya.Segelas air ini semoga dapat mengalirkan kesejukan yang kuharapkan. Aku masih perlu melanjutkan perbincangan ini.

“Lalu, menurutmu sebenarnya apa persoalanku?”

Kamu semakin menyempurnakan posisi dudukmu. Tatapan matamu semakin tajam. Namun, kali ini dihiasi dengan senyuman yang entah apa itu maksudnya.

“Persoalanmu itu adalah tentang menerima realita.”

Menerima realita? Hah? Kamu anggap aku seseorang yang tidak menerima realita? Apa maksud ucapanmu? Aku tersentak dengan jawabanmu itu. Sesederhana itukah kamu menganggap masalah ini? Adalah hanya tentang menerima realita belaka?

“Apa maksudmu?” aku menekankan pertanyaanku ini. Sampai-sampai aku tak sempat mengucapkan apa yang tergumam di pikiranku. Aku masih tertegun dengan jawabanmu yang singkat itu.

“Ya beginilah yang harus kita hadapi. Apa perlu kemudian kita persoalkan kembali bagaimana ini bisa terjadi? Apa perlu kita mengungkit-ungkit siapa yang sebenarnya bersalah akan kesemuanya ini? Jika terlalu sibuk dengan pikiran seperti itu, tidak ada gunanya,” kali ini kamu menjawab dengan nada suara yang lebih tinggi. Ketegasanmu tampak dari suara dan perkataan yang kauucapkan.

“Masalah masihlah tetap ada. Masalah perlu diselesaikan dengan baik dan menyelesaikannya itu perlu dengan pikiran yang tenang. Pikiran yang tidak terusik oleh apa yang telah lalu. Akan tetapi, pikiran yang fokus pada apa yang harus dilakukan selanjutnya.”

“Aku justru sedang memikirkan apa yang harus kita lakukan. Aku terusik dengan hal itu,” aku menyela sebelum kau pungkas perkataanmu. Aku saingi nada suaramu yang tinggi itu.

“Lalu, apa hasilnya? Sudah kaurumuskan benar-benar? Aku tidak melihatnya. Aku masih ingat apa yang kau katakan tadi. Kamu menanyakan bagaimana bisa keadaan menjadi serunyam ini. Itu tanda yang jelas kalau kau masih mempersoalkan realita yang terjadi. Kamu tidak menerimanya.”

Lemas seketika tubuh ini. Mendengar timpalanmu itu membuat ketegangan yang sempat merasukiku kini menguap begitu saja. Perkataanmu itu menyadarkanku. Satu demi satu ucapanmu itu mulai dapat kupahami. Dengan sendirinya aku kemudian menyimpulkan. Ya, aku tidak menerima realita yang sedang kuhadapi sekarang ini.

“Memang tampak sepertinya aku begitu. Ini adalah hal yang tidak aku harapkan sama sekali. Aku menolaknya. Pikiranku bersikeras terus mempersoalkan tentang apa yang terjadi. Tak ada yang bisa kusimpulkan untuk menyelesaikannya. Bingung jadinya.”

“Begitulah. Sekarang kau tahu apa yang sebenarnya menjadi persoalanmu itu. Kamu memerlukan ketenangan. Jangan rumitkan masalah yang sudah ada dengan memikirkan hal yang tidak perlu.”

“Jadi ini yang membuatmu setenang ini? Energiku habis rasanya hanya untuk persoalan ini.”

“Ya begitulah adanya. Aku tidak berkehendak menjadikan persoalan ini sampai-sampai mengalihkanku pada hal-hal lain yang juga membutuhkan perhatianku. Seperti kertas-kertas di hadapanku ini. Ini lebih penting untuk aku urusi segera ketimbang mempersoalkan masalah yang mengganggumu itu.”

Aku menundukkan kepalaku. Adalah perasaan konyol yang kemudian aku alami. Semua yang kau katakan itu benar. Aku telah terporsir untuk mempersoalkan hal yang bisa ditunda penyelesaiannya sekarang ini. Persoalan ini rumit memang. Tetapi untuk menyelesaikannya jangan sampai terburu-buru sehingga tidak tuntas atau bahkan menjadi tambah rumit jika dipaksakan selesai sekarang.

“Tenangkan dirimu dulu. Cari hal kesukaanmu yang dapat mengalihkanmu dari persoalan ini. Kalau kau sudah tenang, mari kita bahas bersama apa yang perlu kita lakukan untuk menyelesaikannya. Bagaimana?”

Aku menghela nafas sembari menegakkan kembali sikap dudukku menghadapmu. Wajahmu terlihat menyeruakkan kebijakan yang menenangkan. Tak salah aku mengajakmu berbincang. Aku perlu belajar darimu. Ada hikmah pada setiap apa yang kudapati dari perkataanmu.

Menerima realita. Kukira aku sudah menerima apa yang terjadi padaku saat ini. Rupanya tidak. Lebih tepatnya aku malah menyesali apa yang terjadi dan terus menerus mengeluhkan begitu tidak kusukainya apa yang kuhadapi ini. Seperti yang kamu katakan, masalah itu masihlah tetap ada. Ia ada bukan untuk selalu dipikirkan saja kenapa bisa terjadi. Ia ada untuk diselesaikan dengan tenang dan bijak. Realita memang tak akan pernah semanis apa yang selalu kita bayangkan.

(Painan, 21 November 2014)

benci sendiri

“Sendiri itu tidak mudah,” kalimatmu meluncur begitu saja di hadapanku. Spontanitas keluar tersampaikan dan membuyarkan diam yang ada di antara kita.

Warna jingga senja semakin memulas kuat seantero langit. Deburan ombak semakin kuat menderu bibir pantai. Pasir yang kita pijak membekaskan jejak-jejak langkah. Kita duduk berdua saja di situ. Hening. Hanya ada suara alam. Perkataanmu itulah yang memecahkan keheningan ini.

“Aku kira sendiri itu adalah saat yang terbaik. Saat untuk lebih memahami dan memudahkan mengerti.”

Kata-katamu seketika terhenti. Seperti ada yang tersendat di tenggorokanmu untuk mengeluarkan suara. Pandanganmu masih jauh ke seberang lautan. Menerawang sesuatu yang tidak jelas. Kehampaan merasuk dirimu dan membuat dirimu tercekat untuk bersuara. Mungkin seperti itu.

Kamu berdeham beberapa kali. Mencoba untuk melegakan tubuh untuk meleluasakan dirimu berkata-kata.

“Kalau sedang sendiri, bukankah kita mempunyai kesempatan untuk sejenak lepas dari kesemrawutan hiruk pikuk duniawi kan? Lepas.. Bebas dari siapa pun.. Melakukan sepenuh hati apa yang kita kehendaki…”

Aku tertegun. Apa yang kamu sampaikan membuatku terhenyak. Kehampaaan yang ada pada dirimu begitu kuat dan hendak mencoba menulariku. Aku berpaling dari menatap wajahmu. Menghadap ke arah yang sama seperti yang kau tuju. Sudut antah berantah tidak berujung pada garis cakrawala.

Aku larut dalam lamunan acak yang menguasaiku. Kata-katamu membawaku ke dunia lain. Dunia yang hanya ada aku saja di sana. Sendiri saja seperti burung yang melintas lalu di hadapan kita. Dia melayang begitu pelan. Kepak sayapnya ia sesekali lakukan. Mengayun pelan kadang rendah kadang tinggi.

Burung itu sendiri. Pemandangan yang tepat menggambarkan apa yang baru saja kau ucapkan. Tentang bebas, lepas, semau apa pun yang disukai. Betapa burung itu membuatku merasa iri. Ingin rasanya terbang setenang itu mengarungi alam yang terbentang luas. Kamu mungkin memikirkan hal yang sama juga.

“Seperti burung itu ya. Iri aku dibuatnya. Saat ini ia sendiri dan begitu menikmati terbangnya itu,” aku mencoba menanggapi ucapanmu itu.

“Namun, setiap burung akan kembali ke peraduannya bukan? Ia akan pulang seperti manusia. Berkumpul dengan sesamanya menghabiskan sisa hari,” lanjutku.
Mendengar apa yang aku ucapkan membuatmu menoleh menghadapku langsung. Sorot matamu tajam. Kehampaan tidak lagi tampak menguasaimu.

“Ah, manusia! Selalu ada saja yang membuat di antara sesamanya itu saling membutuhkan. Kesendirian menjadi hal yang seakan tidak mungkin. Sejenak saja pasti sudah terasa tidak nyaman. Terlalu mudah bergantung,” balasmu dengan semakin menyungutkan wajah dan meninggikan suara.

“Ya, begitulah. Itulah yang memang telah Tuhan desain. Seperti itu. Seperti saat ini. Ada aku, ada kamu.”

Kamu menghela nafasmu dan kepalamu menunduk pelan.

“Aku begitu ingin sendiri. Aku begitu mengharap banyak darinya. Aku begitu berangan tidak ada kerumitan bertubi-tubi menghardikku. Biarkan aku mempunyai ruang sendiri. Namun, susah. Susah sekali mewujudkannya.”

Kata-katamu mengalir menyampaikan emosi kekecewaan yang hendak kau tunjukkan padaku. Di saat seperti ini, lebih baik aku menyimak seksama akan ceritamu. Luapkan saja apa yang telah kaubendung. Ada aku yang sebenarnya tidak membuatmu sendiri dan memberikanmu pandangan lain.

“Seperti saat ini. Ya, aku naif dengan apa yang aku utarakan ini. Membahas tentang kesendirian tetapi paradoksnya aku bersamamu kini,” sepertinya emosimu mulai tertata kembali dan membuatmu lebih logis dalam berpikir.

“Aku mengajakmu bertemu kembali setelah sekian lama kita tak pernah bersua. Kamu menduga ada alasan apa bukan? Hal ini kulakukan karena aku belum jua menemukan kesendirian yang aku cari.”

“Hingga pada satu kesimpulan yang akhirnya aku coba pahami. Sendiri itu tidak mudah. Aku…”

Semilir angin pantai menerpa wajah kami. Sejuk rasanya. Pepohonan kelapa tampak melambai-lambai dibuatnya. Apa itu yang membuatmu tercekat kembali?

“Aku membutuhkanmu bersamaku. Menemaniku. Seperti inilah persis yang aku inginkan. Jika hanya sendiri, maka aku terjerumus pada sempitnya pikiranku. Kamu membukakan sisi lain yang seharusnya aku buka lebar-lebar untuk bisa lebih memahami segala sesuatunya.”

Angin semakin kencang menerpa. Deburan ombak bergulung-gulung kemudian pecah dan menyuarakan keriuhan. Samar kudengar perkataanmu itu. Suara alam membuatku tidak yakin akan apa yang baru saja kau sampaikan.

“Kamu benci sendiri? Apakah seperti itu maksudmu?” Aku mencoba meyakinkan simpulan akan perkataanmu. Aku malu jika langsung memastikan benar-benar apa yang kudengar tadi.

Wajahmu tersenyum. Cantik seperti cantiknya jingga senja ini. Ada semburat merah merona yang aku lihat pada dirimu.

“Benci sendiri. Simpulan yang tepat untuk apa yang telah kita bahas saat ini. Apa kau tak dengar aku bilang aku membutuhkan bersamamu? Sendiri yang telah lalu itu membuatku membencinya karena begitu sulit untuk menjalaninya.”

Entah apa yang menyeruak di dalam benak seketika. Begitu berbuncah melimpah ruah. Aku serasa melambung begitu tinggi seperti burung tadi yang telah melanglang di angkasa. Aku senang akan perkataanmu itu. Yakin sudah apa yang kudengar tadi. Tidak salah sepenggal kata pun.

“Maka, akan tiba saatnya sendiri itu harus segera diakhiri. Mungkin nantinya terbersit keinginan untuk kembali sendiri. Biarkan saja, tidak apa-apa. Tapi sadarlah bahwa akan selalu ada yang menantimu untuk bersama. Itulah aku yang siap menggantikan kesendirianmu,” seruku dengan begitu percaya diri.

“Berarti memang ini sudah saatnya,” katamu sambil menatapku lekat-lekat.

“Ya. Aku juga merasa begitu. Aku sangat yakin,” kupegang tanganmu dan kuajak melangkahkan kaki beranjak dari tempat pelamunan kita ini.

Kita melangkah bersama lagi. Menyusuri jalan yang entah apa pun terjadi nantinya. Ada tujuan yang jelas kita ingin capai bersama. Satu hal yang jelas. Kita akan bersama untuk itu, tidak bisa sendiri lagi…

(Painan, 4 September 2014)