Kuncian Hati: Undangan untuk Pembaca

Manusia hidup dalam siklus yang tidak pernah berhenti tentang memilih. Berbagai kemungkinan telah tersaji di hadapan, tinggal menentukan manakah yang akan dipilih. Pada setiap hal yang kemudian telah dipilih, maka muncul konsekuensi yang menyertai.

Ada ketentuan Ilahi yang tidak bisa diutak-atik oleh manusia. Inilah yang disebut dengan takdir, ini yang menjadikan manusia tidak bisa sekehendaknya sendiri. Pada salah satunya itu, ada tentang jodoh. Jodoh itu seakan-akan manusia bisa menentukan pilihannya. Tetapi pilihan tentang jodoh adalah pilihan yang sebenarnya telah ditentukan oleh-Nya.

Tentang jodoh. Ini adalah salah satu pertanyaan yang misterius. Dengan siapakah nantinya diri akan dipasangkan? Bagaimanakah nantinya keharmonisan keluarga akan terjalin? Apakah memang seseorang yang dipilih itu adalah jodoh yang tepat?

Naluri manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan. Tidak akan sempurna agama jika seorang lelaki belum bersanding dengan perempuan membentuk keluarga. Tidak akan tenteram perasaan hati jika seorang perempuan belum menemukan sosok yang akan memimpinnya. Kesemuanya itu adalah bagian-bagian yang perlu ditata menjadi satu. Penataan itulah yang dimulai dengan ikatan pernikahan.

Menikah adalah suatu babak dalam kehidupan. Babak yang sangat kentara berbeda. Hidup tidak akan hanya menanggung tentang diri pribadi. Amanah itu kian berat, tetapi akan ada yang mendampingi. Seorang istri yang shalihah agamanya, cantik parasnya, dan baik perilakunya adalah sosok ideal untuk itu. Namun, tidak akan ada sosok istri yang sempurna. Setiap orang akan membawa kelebihan dan kekurangannya.

Aku, sebagai seorang lelaki yang telah berusia seperempat abad lebih, telah berada pada titik itu. Titik di mana pikiran mulai menatap lebih jauh ke depan dan keresahan hati meminta untuk dituntaskan. Pada titik itu, maka pilihan itu telah tersedia di hadapan. Dengan ini, dengan itu, oleh ini, oleh itu. Kebimbangan mendera bertubi-tubi. Ada kecemasan disertai dengan penuh harap agar suatu saat dapat dipertemukan dengan sosok yang tepat.

Ialah Afifah Az Zahra. Seorang perempuan jawa yang saat ini menjadi insan perbendaharaan bertugas di bumi Laskar Pelangi, KPPN Tanjung Pandan, Belitung. Pada halaman demi halaman dari Istaqoma Afifah yang dibuatnya itu menjadi kunci yang selama ini dicari. Kunci jawaban dari setiap pertanyaan yang selama ini berkelebat dalam penantian siapakah sosok yang membersamai hidup untuk selanjutnya.

Dengan izin dan perkenan dari Allah SWT, pada tanggal 7 Februari 2016 nantinya di kota Surakarta akan diadakan ikatan perjanjian agung antara seorang Anas Isnaeni dan Afifah Az Zahra. Pernikahan ini akan menggabungkan dua keluarga besar antara keluarga (alm.) Hasan Asror dari Salatiga dengan keluarga Joko Maryono dari Kartosuro.

publishPada masa-masa ini, hari demi hari terasa sangat anomali. Ia berjalan terasa begitu cepat dengan persiapan-persiapan yang perlu segera untuk ditunaikan. Akan tetapi, ia juga berjalan terasa begitu lamban karena ketidaksabaran untuk membangun cinta bersamanya. Doa senantiasa dipanjatkan untuk selalu mengukuhkan niat yang baik. Doa senantiasa dihaturkan untuk memohon keberkahan dan kelancaran akan semua proses yang dijalani. Doa dan hanyalah doa yang menjadi kekuatan di antara kami yang hendak menyempurnakan agama.

Kuncian hati itu telah ada. Dengannya, akan dibuka pintu yang bernama pernikahan. Yang di dalamnya terdapat berbagai macam pernak pernik kehidupan yang lebih beragam. Dengannya, semoga sakinah, mawaddah, dan rahmah akan tercapai. Yang di dalamnya terdapat keluarga madani sesuai tuntutan syariat dari Yang Maha Kuasa. Dengannya, semoga kucuran keberkahan yang terus melimpahi dan mewarnai kehidupan baik suka maupun duka. Yang kemudian menghantarkan pada kebahagiaan hakiki di akhirat kelak, tak hanya di dunia semata.

Segenap pembaca yang telah berkunjung pada halaman ini, mohon doa restunya atas pernikahan kami nantinya. Tulisan ini juga menjadi kabar sekaligus undangan bagi yang berkenan hadir pada pernikahan kami. Undangan lebih lengkapnya ada pada tautan yang dapat diklik di sini

Dari kami yang tengah menanti…

Anas dan Afifah…

kata-kata

“Boleh aku berkeluh padamu?”

Kupecahkan keheningan yang beberapa saat ini ada di antara kita. Kembali aku duduk di hadapanmu, dengan muka yang masih sama, dengan perasaan yang kembali gundah. Sekilas tampak keenggananmu untuk menanggapiku untuk kesekian kalinya lagi. Akan tetapi, dalam sekejap, dirimu mengubah ekspresi dan memberikan sepenuh perhatian untukku, untuk kesekian kalinya juga.

“Kamu masih mempunyai persoalan yang serupa dengan yang lalu?” balasmu dengan nada yang datar.

“Entahlah. Tentang persoalan ini ataukah yang itu. Kau sudah paham benar tentangku ini. Tetapi itu semua adalah muara dari apa yang sebenarnya berujung dari satu persoalan sepertinya.”

“Tentang apa itu?”

“Tentang kata-kata. Waktu telah berjalan begitu pesat dan meninggalkan kesadaran untuk memahaminya. Kata-kata telah lama hilang dariku.”

Mengucapkan kenyataan ini rasanya semakin memberikan sayatan tajam. Luruhlah ego yang membuat pertahanan semu untuk tidak berkehendak mengakui hal ini. Tercabik-cabik sudah kepura-puraan untuk beranggapan bahwa segala sesuatu wajar adanya.

Kehilangan, jika itu adalah tentang apa yang sebelumnya begitu lekat dengan diri, akan sangat memberikan pengaruh. Ada ganjalan perasaan yang terus menghantui. Kehilangan adalah bentuk lain dari ketidaklengkapan. Ada bagian dari sesuatu yang telah terbentuk dan tanpanya maka tiadalah menjadi sebagaimana mestinya.

Aku dan kata-kata. Aku merindu bagaimana dulu aku menuturkan kata-kata. Entah dalam lisan ataupun tulisan. Dengan sepenuh penghayatan tertuang ada di dalamnya. Ia adalah ekspresi yang terwujud benar menggambarkan kepribadian. Ada kekuatan yang terpancar darinya. Ia tidak menjadi hal yang dibuat-buat. Apa adanya, murni, dan bermakna.

Sorot mataku menerawang mencoba melakukan kilas balik di masa lalu. Susah. Sudah sejak kapan ini terjadi aku tak tahu. Dirimu berdeham memberikanku isyarat untuk memberikan penjelasan. Aku benarkan posisi dudukku, meminum segelas air untuk membasahi tenggorok yang terasa kering, dan memulai memberikan penjelasan tentang kata-kata ini.

“Kata-kata. Kata ada dalam apa yang terucap oleh lisan dan apa yang tergores dalam tulisan. Dulu, lisanku adalah tentang apa yang terlontar spontan dari hati yang bahagia. Dulu, hati ini akan menyembunyikan segala bentuk emosi yang menyedihkan dan menumpah-ruah-kan energi kebahagiaan. Dulu, tulisanku adalah tentang hasil pemikiran yang telah dipikir dengan matang. Dulu, pikiran ini terus menerus menangkap ide, menjabarkannya, mengolahnya, dan kemudian membentuknya dengan kata-kata,” kehampaan semakin kuat merasuki diri saat menjelaskannya lebih rinci lagi padamu.

“Sekarang kata-kata itu hilang. Lisanku kacau. Ia berbicara sekena dan semaunya. Tak memandang bagaimana situasinya dan sering membuat ricuh. Persoalan demi persoalan terjadi karena inilah yang rupanya menjadi penyebabnya,” kutundukkan kepalaku. Suaraku semakin rintih karena luka kehilangan ini semakin tak bisa kusembunyikan.

Aku sangat menyesali tentang apa yang baru kusadari. Banyak masalah yang terjadi dan diatasi hanya sekenanya saja. Satu masalah selesai dan kemudian beralihlah persoalan lainnya. Hampir-hampir tak ada sejenak waktu untuk benar-benar menilai ulang. Kesalahan serupa akan terus terjadi bilamana tak diketahui apa penyebabnya.

Kuhela nafas sembari melanjutkan, “Sedangkan tentang tulisan. Kau tahu sendiri. Lama sudah kumeninggalkannya. Terasa benar kata-kata sudah jauh dariku sekarang. Kala kucoba merangkainya menjadi jalinan cerita, hasilnya adalah kekacauan yang rumit untuk dibenahi. Ide-ide yang semula hinggap menunggu untuk diejawantahkan, sekejap menghilang dan sulit untuk didapat kembali. Aku ingin kata-kata itu kembali ada dalam benak pikiranku. Menari-nari dan saling berpasangan hingga kemudian baris demi baris, bait demi bait, penggalan demi penggalan akan terbentuk dan bersatu utuh menjadi tulisan.”

“Jadi, persoalannya adalah tentang kata-kata? Lalu, kenapa kata-kata meninggalkanmu? Seharusnya pikirkanlah apa yang menjadi penyebab kata-kata itu hilang darimu. Itulah persoalan utamamu,” timpalmu dengan tatapan mata yang tajam.

Aku terhenyak. Tak kusangka inilah tanggapanmu. Seperti tamparan yang berusaha untuk menyadarkan. Kemelut mendung yang merundungi pikiranku menjadi tersibak. Benar apa yang kaukatakan. Adalah tentang kenapa kata-kata itu tidak muncul kembali yang perlu untuk ditelusuri.

“Benar juga. Lalu, bagaimana aku untuk mengetahui apa penyebab utamanya?”

“Sederhana saja sepertinya. Dirimu sendiri yang telah lalai untuk menjaga kata-kata. Kata-kata itu adalah benih-benih yang tersemai. Ibaratkan saja seperti itu. Maka, jika ia adalah benih, ia perlu dirawat, dipelihara, dan selalu dijaga,” ucapanmu kusimak lekat-lekat. Dirimu adalah tempat yang selalu kupercaya untuk mengadu, berkeluh, dan mendalami hikmah akan sesuatu dari pengalamanmu.

“Bagaimana caranya untuk menjaga kata-kata? Pertama, niat itu harus ada pada permulaan dan terus diperbarui. Bahwa jika ada tekad untuk berkutat dengan kata-kata, maka hidupkanlah terus itu. Jangan biarkan ia layu sebelum berkembang. Kedua, berlatihlah. Jangan biarkan sekalipun kata-kata itu dibiarkan. Ia adalah aliran air yang tak dapat dibendung. Biarkanlah ia mengalir dengan salurannya. Walaupun bisa jadi tak sesuai yang diinginkan, biarkan saja. Mereka butuh perhatian, jika sekejap ditinggalkan maka besar usaha untuk dapat menangkapnya kembali. Maka, rajin-rajinlah berurusan dengannya, setiap hari, setiap ada waktu yang dapat diluangkan, setiap ada sekelebat ide yang datang untuk dituangkan.”

Kepalaku mengangguk-angguk mendengar nasehat darimu. Aku memahaminya sekarang. Tentang niat dan latihan, dua hal yang memang aku tinggalkan sehingga kata-kata kini tak lagi terjaga.

“Lalu, yang ketiga adalah tentang contoh. Janganlah terlalu sibuk mengurus diri sendiri dan terjebak dalam kesempitan wawasan. Kata-kata itu mempunyai jutaan rangkaian yang kemudian dapat dicontoh dari orang lain. Carilah contoh yang menurutmu tepat dan belajarlah darinya. Namun, ingat, keaslian kata-kata adalah hal penting. Kata-kata yang kaurangkai adalah jati dirimu yang tak akan sama dengan yang lain.”

Tentang contoh. Ya, ia juga berpengaruh. Lisan akan sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan karena lingkunganlah yang memberikan contoh. Jadi, guna mendapat tutur lisan yang baik haruslah memperhatikan bagaimana orang baik berbicara. Sedangkan tulisan, contoh didapat dari hasil membaca. Menulis dan membaca adalah dua hal yang saling berkaitan. Dengan membaca memberikan contoh bagaimana tulisan orang lain dibuat dan menginspirasi dalam tulisan yang dibuat sendiri.

“Bagaimana? Itu pendapatku. Apakah penjelasanku ini memberikan pencerahan bagimu?” ujarmu meminta tanggapanku.

“Tak ada satu hal pun yang dapat kusanggah darimu. Setiap perkataanmu itu sudah sesuai. Aku kini semakin memahami duduk persoalan yang kuhadapi. Kini semua kembali kepadaku. Apakah nasehat yang telah kauutarakan ini benar-benar kuterapkan,” balasku sembari memberikannya senyuman. Terasa lega dan lepas kini untuk tersenyum kembali. Pikiran yang semula seperti kabut kini telah terang benderang. Beban ganjalan berangsur-angsur menghilang.

“Percakapan kita ini sebenarnya juga adalah suatu bentuk rangkaian kata-kata, bukan?” ia membalas dengan senyuman yang lebih hangat. “Aku tunggu dirimu dengan kata-kata kebahagiaan yang menghidupkanmu kembali dalam lisan maupun tulisan. Ayo, bergeraklah!”

“Baiklah! Terima kasih kawan!”

Perjumpaan pun harus diakhiri. Semoga akan ada kesempatan bersua kembali untuk mendapatkan nasehat darimu. Aku sangat mengharapkan itu.

butuh contoh

Jika kau hanya sendiri, mungkin tak pernah kau dapati apa yang sebenarnya patut untuk dilakukan. Keadaan sekitar mungkin telah membentuk sedemikian rupa dirimu menjadi kian tidak peka. Sering memaklumi ini itu bahkan hingga terbiasa  dan tak perlu repot untuk peduli.

Padahal kesempatan-kesempatan itu ada jika memang mau dilihat lebih cermat. Kebaikan itu akan selalu ada di tengah berbagai macam upaya keburukan yang mengintai. Lalu, berdiam diri saja tak pernah mengambil kesempatan dalam kebaikan itu adalah opsi yang patut?

Butuh contoh. Butuh orang yang mencerahkan dan memberikan keluasan wawasan. Butuh untuk pengalaman dan membuka kemungkinan-kemungkinan lain yang sudah ada dan pernah terjadi di lain tempat. Jika hanya sendiri, kesempitan terasa nian. Ada kehendak untuk harus bertindak sesuatu namun terganjal karena tak tahu bagaimana caranya melakukan hal itu.

Contoh bisa menjadi penggerak yang ampuh. Karena dari contoh, dapat dilihat bagaimana caranya suatu kebaikan itu dilakukan. Dari contoh, akan terdorong keinginan berbuat serupa bahkan kalau bisa melampauinya. Apalagi jika hasil dari contoh itu menunjukkan kemanfaatan yang nyata terasa. Tentu akan ada dorongan untuk dapat mencapainya.

Contoh memang adalah hal tentang cara. Tentang tindakan jelas yang dapat dicermati lebih seksama dan kemudian ditiru dan diubah seperlunya menyesuaikan kondisi. Contoh datang dari hasil mengamati. Ia tidak datang dari diri sendiri, melainkan dari apa yang dilakukan oleh pihak lain.

Maka, lebih peka dengan keadaan sekitar perlu lebih diperhatikan. Jangan sampai terlalu fokus hanya tentang diri dan keterbatasan yang selama ini disangka diri. Bisa jadi ada kemampuan yang lebih namun tak pernah disadari jika tidak digali. Contoh membuktikan ternyata bisa dilakukan dari apa yang dikira tidak mungkin sebelumnya.

Peluang untuk melakukan kebaikan itu ada di mana pun dan kapan pun kita berada. Yang kemudian dipersoalkan adalah bagaimana cara untuk mengambilnya dan melaksanakannya. Cara itu dicari dari contoh yang sudah ada. Contoh adalah instrumen lengkap yang mengakomodasi lebih dari sekadar teori atau tataran konsep.

Sekarang jika sudah ada contoh tentang suatu kebaikan, masih bisa beralasankah lagi untuk enggan melakukannya?

(Painan, 13 Juli 2015)

kesungguhan

Jika kau bicara tentang kesungguhan, maka tanyakanlah pada dirimu sendiri. Apa-apa saja yang telah kau benar-benar lakukan untuk mencapai yang dikehendaki? Sudahkah jelas tujuan tercanang di hadapan? Ia seharusnya dapat terbayang dalam wujud bernama harapan atas keinginan.

Karena kesungguhan menjadi hal yang lahir dari niat. Niat itu pasti ada. Tetapi seberapa kuatnya niat tergantung pada kesungguhan untuk menggapai harapan atas keinginan. Niat itu perlu senantiasa diulang dan diperbarui. Dengan begitu terbentuk pribadi yang prinsipil dan terarah menuju keinginan itu.

Teguh pada prinsip adalah tanda dari kesungguhan. Prinsip mengatur pada batas-batas yang tidak boleh dilampaui. Sesekali bisa jadi ada sesuatu yang ditoleransi sebagai pengecualian. Akan tetapi, keteguhan prinsip akan meluruskan kembali arah manakala ada langkah yang menyimpang.

Memegang prinsip akan menunjukkan siapa yang setengah-setengah dan siapa yang benar-benar totalitas. Prinsip membutuhkan keseriusan. Prinsip bukan perkara yang sering diabaikan malah kemudian dilupakan. Tidak ada saatnya untuk bermain-main, berleha-leha, ataupun bersenang-senang. Ada tenaga yang harus dikerahkan dan tercipta dalam bentuk perjuangan.

Kesungguhan hanya untuk orang yang memang berkeinginan kuat. Keinginan hanyalah sekadar menjadi angan jika tidak ada hal apa pun yang dilakukan. Apa yang dilakukan harus dengan totalitas bukan setengah-setengah, dengan perjuangan sepenuh tenaga yang bisa dikerahkan. Niat menjadi doktrin utama yang apa pun itu harus dituruti dan pengingat dalam pelbagai kondisi.

Jadi, sudahkah kau nilai kesungguhanmu mencapai apa yang kamu inginkan?

Jika kau ingin berubah lebih baik lagi, maka kesungguhan haruslah benar-benar ada pada dirimu…

(Salatiga, 18 Mei 2015)

Cerobohnya Pemblokiran Situs-Situs Islam

Iwan Yuliyanto

Hidayatullah

Bismillah …

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui suratnya nomor 149/K.BNPT/3/2015 memberikan rekomendasi penutupan 19 situs / website Islam yang dianggap “penggerak paham radikalisme dan/atau sebagai simpatisan radikalisme”. Pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) kemudian menindak-lanjutinya dengan memerintahkan Internet Service Provider (ISP) memblokir sejumlah situs / website tersebut.

Berikut ini adalah 19 situs yang diblokir Kemenkominfo:

Lihat pos aslinya 886 kata lagi

[photo of the day] menghunjam sekuat akar

image

Akan menjadi rentan untuk goyah, jika tak ada penguat yang menjadi tumpuan berkumpulnya energi. Penguat itu ada pada bagian dasarnya, pada bagian yang permulaan, pada sesuatu yang sebenarnya tak terlihat.

Niat. Seberapa kuatkah niat yang ada? Niat itu ibarat akar yang menghunjam sedalam-dalamnya. Darinya ia akan menyebar mencabang mengokohkan ke setiap penjuru untuk terus tumbuh dan berkembang.

Niat adalah penguat yang perlu untuk selalu diperhatikan. Sebagaimana akar yang terus menjalar mencari-cari sumber energi untuk diserap, niat haruslah diisi dan diperbarui terus menerus.

Jika ada sesuatu yang terasa tidak beres kemudian, periksalah pada niatnya mula-mula. Niat, jika dari awalnya sudah salah dan rapuh, segala sesuatunya yang lain tidak akan bisa menjadi jaminan keberhasilan…

*foto diambil dari objek wisata Jembatan Akar, Pesisir Selatan

maaf kawan, aku lama tak memberikanmu kabar

Dunia ini penuh hiruk pikuk dengan beragam laku manusia yang semakin lama terus bertambah bagai buih di lautan. Aku dan kamu adalah segelintir bagian yang teramat kecil dari kumpulan buih-buih itu.

Dulu kita bisa begitu lekat bersama, namun gelombang ombak senantiasa riuh timbul tenggelam tak tentu. Hingga di suatu titik tanpa kita sadari, kini telah terentang jauh jarak antara aku dan dirimu. Kumpulan buih yang dulu mengumpul satu itu, terpencar ke segala penjuru tak tentu di manakah itu. Tidak ada yang bisa memastikan kelanggengan kebersamaan, selain kehendak mutlak dari Yang Maha Kuasa untuk merenggang dan mempereratkannya kembali..

Lalu, dunia ini lucunya juga mengalihkanku penuh untuk  benar-benar mengacuhkanmu berbeda dengan jaman yang dulu ada. Aku terdampar pada bagian dunia yang antah berantah, disibukkan dengan berbagai persoalan yang kian rumit dan sering bertambah menjadi-jadi. Aku mendadak lupa. Namun, pada kala tertentu sekelebat memori melintas mengusikku menggodaku untuk mengingat kenangan lama.

Aku rindu bersamamu, kawan. Teramat sangat. Aku baru pahami itu sekarang ini. Ah, dulu betapa berharganya masa yang kita lalui bersama. Aku jadi sering melamun. Andaikah yang dulu bisa kembali terasa dan terbangkitkan lagi?

Pedih untuk mengungkit hal ini di saat dunia memperlihatkan kebengisannya yang sebenar-benarnya. Maka, aku tepis kepedihan ini dengan mengalihkannya. Sekejap aku ingat akan kebersamaan dalam memori dan seketikanya pula kucampakkannya kembali.

Aku kembali pada pola keseharian yang terus menerus dijalani. Jalani dan biar waktu melintas cepat tanpa terasa. Aku tergerus dalam pergerakan masa yang kian kencang. Aku hampa, kawan. Dalam bergerak itu aku tak menentukan tujuan, pun untuk berkuasa mengendalikannya. Aku biarkan saja keadaan memperlakukanku sekenanya.

Apa yang salah. Aku selalu menanyakan hal ini. Aku terjebak pada sempitnya cara berpikirku sendiri. Ya, kesendirian itu perlahan membunuhku. Aku butuh kawan sepertimu untuk mengingatkan di saat ada salah terbuat, mendorong kekuatan untuk membangun kebaikan, atau setidaknya bersama menikmati fitrah alami manusia untuk berkumpul sesamanya.

Aku teramat egois. Yang kupikirkan rupanya hanyalah tentang aku, aku, dan semua hal yang berkutat tentang keakuan ini. Aku sadar satu kesalahan yang teramat fatal padahal ia adalah hal yang sederhana saja sebenarnya.

Aku tidak menanyakan bagaimana kabarmu, kawan. Kabar tentangku juga urung takkusampaikan kepadamu. Jika antara kita tak saling mengetahui kabar satu dengan lainnya, bagaimanakah suatu jalinan itu masih bertahan?

Kita biarkan keadaan diri kita bagai buih yang tersebar sporadis memencar dan tak tahu bagaimana, di mana, dan seperti apa keadaan yang lainnya. Aku paham bahwa jarak dan segala hal yang memang tak dinyana menjauhkan kita itu mau tak mau harus dipahami dan dijalani. Bahkan pun sangat mungkin waktu memberikan rentang perubahan yang drastis antara kondisi kita dulu dengan sekarang.

Lewat tulisan pengiba hati ini, aku sadurkan permohonan maaf kepadamu, kawan. Begitu lama kita telah abai bertukar kabar dan saling bercerita. Akulah yang seharusnya berniat untuk memulai menanyakannya terlebih dahulu. Di saat seperti ini terasa benar betapa berharganya peran kawan dalam kehidupan.

Pada dunia yang kita jalani ini, kawan, tak bisa hanya terus-terusan berpikir tentang kepentingan pribadi saja. Manusia tercipta untuk saling membutuhkan dan tak bisa hidup sendiri. Kawan akan ada di saat suka untuk berbagi dan duka untuk bangkit bersama.

Maaf kawan, sekali lagi aku haturkan. Kabarmu kini bagaimanakah? Semoga tak sesendiri seperti yang kurasakan kini…

(Painan, 2 Maret 2015)