writing camps DJPB: “sharing kepenulisan bersama a. fuadi”

Ahmad Fuadi. Siapa yang tak tahu tentang pencerita terkenal satu ini? Dia menuliskan pengalaman hidupnya yang diolah menjadi fiksi dalam trilogi novel Negera 5 Menara. Pada Writing Camps DJPB, pencerita yang satu ini menyempatkan diri berbagi pengalamannya tentang tulis menulis.

“Menulis Untuk Bermanfaat dan Mendunia” begitulah paparan awal dari Ahmad Fuadi saat memulai berbagi. Kalimat sederhana ini yang diutarakannya menjadi alasan kuat baginya untuk menuliskan kisah trilogi novelnya. Alasan yang kuat akan mendorong lahirnya tulisan yang punya pesan kuat. Alasan menulis bisa jadi sering berubah bagi seorang pencerita, tetapi yang mengantarkannya sampai pada akhir kisah yang utuh adalah kuatnya alasan tadi.

Lebih lanjut, selama berbagi pengalamannya, ada beberapa kutipan menarik dari Ahmad Fuadi yang sangat menginspirasi…

Kata lebih hebat dari peluru”. Dari pepatah ini ia simpulkan bahwa suatu cerita itu yang baik mengandung tiga unsur, menginformasikan suatu pesan, menginspirasikan banyak pembacanya, dan menggerakkan mereka untuk melakukan pesan itu.

Menulis membuat awet muda”. Ini yang menggerakkannya lebih kuat menulis lagi karena pepatah yang dikutipnya menyadarkan bahwa karya tulisan melintasi batas ruang dan waktu. Sosok seorang pencerita akan abadi dengan karyanya walaupun dirinya telah tiada di dunia.

Menulis mendunia”. Dengan terkenalnya karya Ahmad Fuadi hingga ke mancanegara, tema yang menggali tentang kekayaan khasanah budaya Indonesia adalah hal yang membuatnya seperti itu. Gali budaya, terjemahkan dalam bahasa lain, kenalkan karya, gerakkan dengan media sosial, dan pelajari jalan penulis terkenal. Maka, tulisan akan mendunia dengan sendirinya.

Creating content first, then the content will transform to many forms”. Suatu tulisan pada intinya mengandung suatu isi cerita yang bentuknya bisa berubah menjadi media lain. Negara Lima Menara contohnya, dari tulisan novel ini sudah berubah bentuk menjadi film, musik, aplikasi, dan berbagai bentuk lainnya yang terinspirasi dari satu isi cerita yang sama.

Menulis adalah proses menemukan diri”. Seorang penulis saat menuangkan idenya dalam bentuk cerita memudahkannya untuk menyimpulkan pesan-pesan bermakna yang dapat dikaitkannya dengan pengalaman hidupnya.

Writing is Art and Craft”. Tulisan adalah salah satu bentuk seni. Tulisan sangat dipengaruhi oleh keberuntungan, bakat, dan kerja keras dari penulisnya. Pada sisi lainnya, tulisan adalah bentuk dari keterampilan yang bisa dipelajari bagi siapa pun yang mau belajar untuk menulis.

Menulis adalah seni melumatkan ego”. Cerita yang bagus sayang untuk hanya dikonsumsi oleh penulisnya sendiri. Buat tulisan yang memang ditujukan untuk dibaca oleh banyak orang. Dengan orientasi ini, maka tulisan perlu diedit dan disesuaikan dengan keadaan pembaca. Ego penulis yang menganggap bahwa suatu cerita sudah sempurna adalah hal yang tidak tepat jika ingin tulisannya menjadi diterima.

Tulis cerita yang menggerakkan diri sendiri dan jatuh cinta tentangnya. Tulislah cerita dari hati dan yang membuatmu tak sabar menuliskannya segera

Tentang proses menulis cerita, Ahmad Fuadi memberikan pelajaran singkat untuk dapat menulis novel seperti yang telah ia susun…

Ask Why. Tanyakan kepada diri sendiri alasan apa yang mendasari dibuatnya suatu cerita. Sebagaimana yang telah diutarakan pada awal pemaparannya, semakin kuat alasan kenapa harus menuliskan suatu cerita, maka semakin kuat isi cerita itu.

Ask What. Tulis hal-hal yang paling dikenal, dipedulikan, familiar, dan diketahui untuk dituangkan dan dikaitkan pada tulisan sehingga menjadikan cerita lebih nyata dan meyakinkan.

Ask How. Menulis adalah hal yang dapat dipelajari dari teori-teori kedisiplinan ilmu yang sudah membahas bagaimana cara untuk membuatnya. Referensi sangat diperlukan agar tulisan yang dibuat tidak terkesan ngawur tanpa panduan. Kamus, thesaurus kata, dan buku panduan adalah referensi yang tepat untuk membuat cerita menjadi kaya. Selain mempelajari teori, untuk lebih mengembangkan cerita melalui tulisan dapat dilakukan dengan pengamatan dan penelitian sederhana. Caranya dapat berupa membongkar catatan-catatan lama tentang pengalaman pribadi, cerita dari orang lain yang menginspirasi, atau arsip foto-foto yang mampu membangkitkan kembali kenangan lama.

Ask When. Jika memang sudah siap dengan isi cerita dan sudah meluruskan niat dengan alasan yang kuat, maka untuk hanya ada satu jawaban tentang kapan suatu cerita itu dibuat. Sekarang! Jangan menunda waktu untuk bercerita. Lakukan sedikit demi sedikit untuk mengurai cerita dalam bentuk tulisan. Jangan sampai menyerah untuk bertutur cerita. Jika benar-benar menjaga konsistensi untuk tetap bertutur cerita melalui tulisan, suatu buku cerita (novel) sudah jadi dengan sendirinya.

writing camps DJPB: “dari angka menjadi kata”

Angka-angka sudah menjadi makanan keseharian bagi insan Perbendaharaan. Dengan digitnya beragam itu, segala macam kerumitan sudah lazim dihadapi oleh mereka. Akan tetapi, tahukah Anda? Dari angka itu rupanya ada kata-kata yang terangkai menjadi banyak kisah yang tersembunyi di dalamnya.

Kisah-kisah dari angka, inilah yang hendak diangkat oleh Perbendaharaan kali ini. Tidak banyak yang tahu tentang kisah semacam ini. Yang banyak orang tahu hanyalah sebatas tentang angka-angka yang diolah darinya, bukan kata yang terurai menceritakan tentang sesuatu.

Siapa pun pastilah mempunyai ceritanya masing-masing. Begitu juga dengan para insan Perbendaharaan. Mereka yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia mempunyai pengalaman, pergolakan emosi, peristiwa-peristiwa unik terjadi pada kehidupan mereka selama bertugas. Cerita mereka hanyalah sekadar menjadi perbincangan sesaat di antara sesamanya. Cerita semacam ini mudah terabaikan jika tak ada pencerita menuangkannya dalam bentuk tulisan yang membekas abadi.

Writing Camps DJPB, pada kegiatan inilah segelintir pencerita terpilih dilatih dan berkumpul bersama membahas mengenai cerita-cerita para insan perbendaharaan. Cerita yang baik dan dapat memberikan pengaruh yang begitu kuat tidaklah dapat tercipta dengan instan dan melalui proses yang singkat. Ada hal yang harus dipelajari terlebih dahulu. Oleh karenanya, ada hal semacam ini untuk menjadikan para pencerita lebih terlatih dapat mengemas cerita sesuai dengan apa yang diharapkan dan bisa dipahami oleh khalayak luas.

hoho
Sharing Kepenulisan Bersama Ahmad Fuadi

Kepada para pencerita ini, Writing Camps DJPB mempertemukan mereka dengan sosok penulis terkenal, Ahmad Fuadi, yang telah membuat trilogi kisah Negeri Lima Menara. Pencerita yang satu ini memberikan inspirasi dari pengalamannya menyusun tulisan ceritanya sendiri dengan pemaparannya berjudul “Menulis untuk Bermanfaat dan Mendunia”.

(Ringkasan materi tentang sharing kepenulisan bersama Ahmad Fuadi lebih rincinya dapat dibaca pada tautan https://nazhalitsnaen.wordpress.com/2014/08/20/writing-camps-djpb-sharing-kepenulisan-bersama-a-fuadi/)

Menulis cerita adalah suatu proses yang dapat dipelajari. Bahkan, yang mungkin tidak diketahui banyak orang, ada teori yang dapat membuat seorang pencerita dapat mengemas tulisan ceritanya menjadi lebih baik lagi. Teori tentang elemen fiksi menjadi salah satu bekal penting bagi para pencerita pada Writing Camps DJPB yang disampaikan oleh Bapak Harry Suryadi, seorang jurnalis yang aktif bergerak di bidang lingkungan hidup dan mempunyai kompetensi tentang teori tulis menulis. Teori tidak hanya diberikan dengan pemaparan materi, tetapi juga melalui praktek langsung dengan beberapa studi kasus seperti analisa karakter, konflik, dan pesan cerita, serta teknik penulisan deskriptif.

(Materi tentang teori elemen fiksi dapat diunduh pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rRVNuaFN1NWdZc2s/edit?usp=sharing)

Rencana besar dari Writing Camps DJPB adalah adanya karya berupa novel cerita dan antologi cerita pendek kehidupan insan perbendaharaan yang diterbitkan secara nasional melalui penerbit percetakan buku yang handal. Oleh karena itu, perlu ada pemahaman mendasar mengenai dunia penerbitan melalui praktisi ahli di bidangnya. Melalui pemaparan dari Mirna Yulistianti, editor cerita fiksi Gramedia Pustaka Utama, dan Gina S. Noer, co-founder Plot Point, para pencerita memahami proses dan kriteria suatu karya tulisan dapat diterbikan secara massif menyebar luas pada banyak lapisan pembaca.

(Materi tentang sharing penerbitan dari Gramedia Pustaka Utama dapat diunduh pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rYU5PSUwxSnN2ME0/edit?usp=sharing dan Plot Point pada tautan https://drive.google.com/file/d/0BwZskFRCAy5rek9HWmI1QzgzQnc/edit?usp=sharing)

Tidak mudah untuk menyajikan cerita yang layak untuk dicerna oleh khalayak luas jika tidak ada proses pembelajaran yang diberikan oleh Writing Camps DJPB ini. Adanya penulis terkenal yang berbagi tentang inspirasi dan prosesnya dalam menulis cerita, pemberian bekal teori dan praktek teknik menulis cerita, dan informasi mengenai bagaimana proses diterbitkannya suatu buku oleh para praktisinya adalah bekal yang cukup untuk para pencerita terpilih mengunjukkan kisah nusantara insan perbendaharaan dalam tulisannya.

Dalam tempo waktu yang padat kesemuanya itu disampaikan selama sepekan pada tempat yang eksklusif, Novus Giri Resort and Spa, Puncak. Pencerita ini digembleng benar-benar untuk dapat merealisasikan hasil akhir tujuan dari Writing Camps DJPB dilaksanakan, suatu novel dan antologi insan perbendaharaan.

Foto bersama para pencerita bersama salah seorang praktisi penerbit, Gina S. Noer, co-founder Plot Point
Foto bersama para pencerita bersama salah seorang praktisi penerbit, Gina S. Noer, co-founder Plot Point

Selebrasi Dekade Perbendaharaan akan menjadi momen untuk memperkenalkan karya final dari Writing Camps DJPB ini. Dengan sejarahnya yang telah melintasi sekian lamanya waktu, Perbendaharaan sudah mencapai kedudukannyan seperti ini sekarang. Angka-angka sudah menjadi kelaziman produk yang dihasilkan olehnya. Namun, pada rentang waktu selama itu, ada kisah-kisah yang begitu banyak terjadi dan mempunyai warna yang sangat beragam. Beberapa kisah itu diambil dan disajikan dalam bentuk kata-kata tulisan cerita untuk khalayak luas.

Dari angka menjadi kata. Semangat inilah yang menggerakkan para pencerita untuk menyajikan kemampuan terbaiknya dalam bercerita melalui tulisan. Semoga apa yang menjadi tujuan utama seluruh rangkaian kegiatan dimaksudkan, yakni untuk memperkenalkan kisah-kisah nusantara insan perbendaharaan dapat tercapai.

Agar semua orang tahu bahwa Perbendaharaan mempunyai cerita, cerita tentang para insannya yang begitu berwarna-warni. Tidak sekadar angka, tetapi mewujud dalam tulisan kata…

*catatan dari salah seorang pencerita*

[PR] The Liebster Award: Tentang Sebelas Hal

liebster-awardPostingan berantai atau timpukan ternyata masih ada juga walau sudah berganti platform blog sekarang ini. Dulu saat masih di multiply, postingan semacam ini begitu banyak dan ramai dibahas oleh teman-teman kontak saya. Sekarang barulah kali ini, dengan ajang Liebster Award, saya kembali mengerjakan postingan timpukan kembali. Tidak ada salahnya mengerjakan postingan timpukan, saya malah merasakan kebermanfaatannya. Dengan mengerjakan postingan semacam ini, bisa menjadikan suasana keseruan, keakraban, dan lebih mengenal lagi karakter-karakter blogger yang menjadi kontak.

Jadi, sebagaimana aturan dalam Liebster Award ini, tentu saya harus berterima kasih sekali kepada mas Rifki (jampang.wordpress.com) yang untuk kesekian kalinya juga memberikan timpukan berantai ini kepada saya :D. Mas Rifki ini benar-benar jadi inspirasi banget dalam hal perblogan. Contoh teladan yang pas buat move on dari multiply yang sudah meninggal dunia dan sama-sama beralih ke wordpress sekarang ini. Apalagi mas Rifki juga masih konsisten rajin posting pula sama seperti dulu era multiply, sedangkan saya untuk bisa nulis saben hari itu rasanya sulit mengolah ide untuk dituangkan, padahal banyak yang bisa dibahas sebenarnya. Salut sekali dah sama mas Rifki nih.

Oya, sebagai informasi juga, saya sampaikan mengenai ajang The Liebster Award kali ini. Caranya yang pertama adalah post award ke blog anda dan sampaikan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan award ini & link back ke blognya. Selanjutnya, share 11 hal tentang diri anda dan jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada anda. Terakhir, pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang anda inginkan.

Baiklah, dan inilah balasan jawaban postingan timpukan The Liebster Award yang diajukan ke saya ini lebih lengkapnya…

Sebelas Hal Tentang Diri

Seseorang yang lahir dan besar di Salatiga dan masih ber-KTP-kan penduduk Salatiga 😀

Saya lahir pada tanggal 21 Mei 1989 (jadi saat ini baru saja sedang menjalani paruh seperempat abad yang pertama) di suatu kota di Jawa Tengah, yaitu Salatiga. Sejak kecil, saya tinggal di rumah beralamatkan Jalan Veteran No. 29, Salatiga dan jenjang pendidikan dari TK sampai SMA saya semuanya dijalani di Salatiga. Salatiga bagi saya pribadi walaupun kotanya masih terhitung kecil, tetapi sangatlah nyaman di lereng Gunung Merbabu ini dan dengan masih adanya keluarga saya di sana, akan tetap menjadi kota yang selalu dirindukan. Oleh karena itulah, hingga sekarang pun belum ada niatan untuk berpindah alamat pada KTP selain dari kota spesial yang satu ini, Salatiga.

Seorang anak lelaki bungsu dari dua bersaudara Keluarga Hasan Asror

Keluarga saya merupakan keluarga yang kecil terdiri dari bapak, ibu, saya, dan satu saudara perempuan saya. Bapak sudah meninggal dunia sejak saya berusia sekitar tiga tahun dan sejak itu ibu menjadi single-parent bagi kami anak-anaknya. Bapak meninggalkan jatah pensiun Purnawirawan ABRI kepada kami, ibu saya seorang ibu rumah tangga, dan mbak saya seorang dokter yang bersuamikan ahli ekonomi.

Seorang pengguna platform blog multiply (atau MP-ers) yang sedang “move on” ke platform wordpress

Ya, saya termasuk salah satu MP-ers yang aktif selama beberapa tahun. Awalnya bermula dari keisengan belaka dan kemudian akhirnya menjadi hobi yang menyenangkan. Sayangnya, saat baru suka-sukanya dengan platform blog ini, rupanya platform ini berganti kebijakan. Dengan ditiadakan sesi blognya (dan kemudian benar-benar bangkrut), saya sempat vakum dalam ngeblog. Hingga akhirnya baru sekitar setahun inilah saya merasakan lumayan nyaman di wordpress ini.

Seseorang yang dulu pernah menyebut dirinya “chemistry lover”

Sebelum saya menentukan pendidikan tinggi setelah SMA, dulu saya sangat suka dengan pelajaran Kimia semasa SMA. Pelajaran ini dengan mudahnya dapat saya pahami dan banyak prestasi yang membanggakan dengan kesukaan saya akan materi yang satu ini. Pada tahun 2006, saya menjadi finalis hingga ke seleksi nasional dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kimia, walau tidak mendapat medali saat itu. Benarlah kata orang, kalau kita sudah suka akan sesuatu, maka banyak capaian yang akan diperoleh. That’s passion!

Seorang alumni program diploma perguruan tinggi kedinasan STAN

Sayangnya walau mempunyai keinginan untuk meneruskan pendidikan tinggi di bidang kimia, saya memutuskan untuk berpindah bidang, yaitu akuntansi pemerintahan. Padahal saat itu saya sudah terdaftar menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Kimia, Universitas Diponegoro, namun karena banyak pertimbangan, saya mengundurkan diri setelah diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) spesialisasi Akuntansi Pemerintahan. Di sana, tepat selama tiga tahun masa pendidikan, saya berhasil lulus menjalaninya dan memperoleh gelar ahli madya.

Seorang perantau Jawa yang didinaskan di Ranah Minang

Seusainya masa pendidikan, sebagai konsekuensi seorang alumni perguruan tinggi kedinasan, maka saya harus bersedia ditempatkan pada instansi apa pun sesuai arahan pimpinan. Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, instansi inilah yang kemudian menjadi jodoh saya dalam berkarir selanjutnya. Instansi yang dikenal mempunyai kantor cabang tersebar di seluruh penjuru Indonesia ini pun kemudian menempatkan saya pada salah satu cabangnya yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Sekarang ini sudah menjalani tahun ketiga sejak saya didinaskan di suatu kota bernama Painan, Kabupaten Pesisir Selatan.

Seorang bendahara yang bertugas di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

Kantor saya adalah Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara atau lebih dikenal dengan singkatan KPPN. Kantor ini hanya membuka layanan untuk bendahara/unit keuangan satuan kerja kantor pemerintahan yang mendapatkan alokasi anggaran dari APBN. Tugas kantor ini di daerah adalah sebagai Kuasa Bendahara Umum Negara atau Menteri Keuangan dalam menjalankan fungsi pengaturan arus masuk (penerimaan) dan keluar (belanja) dari pelaksanaan anggaran. Nah, di kantor yang mengurusi tentang perbendaharaan inilah, saya ditugasi juga sebagai bendahara yang mana berarti tugas ini adalah hal yang sudah harus dipahami sebagai insan perbendaharaan.

Seorang pembelajar dalam setiap perjalanan petualangan alam bersama kawan-kawannya

Di daerah tempat merantau ini, saya beserta beberapa kawan saya termasuk yang suka jalan-jalan. Dari perjalanan itu, saya dapatkan banyak pelajaran kehidupan dari kawan saya yang lebih senior. Hal ini yang menjadi inspirasi sebagian besar dari isi blog saya. Dengan masih asrinya alam di sekitar daerah ini, maka banyak opsi objek yang bisa dikunjungi. Pantai, air terjun, jeram sungai, perbukitan, dan sebagainya adalah hal yang mudah didapati dan menjadikan lebih dekat dengan alam.

Seorang penggandrung film-film sinema Hindi 😀

Kalau sudah mengakrabi isi postingan blog saya, pastilah sudah tahu seberapa gandrungnya saya akan film-film sinema Hindi. Saya sudah menyediakan satu halaman khusus bertajuk “bolly freak” yang memuat setiap tulisan saya yang mengulas tentang sinema Hindi. Bermula dari kesukaan kakak saya yang kemudian menular ke saya, akhirnya saya jadi tertarik untuk lebih mengetahui sinema Hindi. Rupanya pada film-film sinema Hindi ini tidak seperti lazimnya di-stereotype-kan oleh banyak orang, tak hanya tentang joget-joget atau romantisme yang ada di sinema Hindi, ada banyak genre yang menarik dan lebih variatif untuk ditonton dan saya sangat salut kepada sineas Hindi yang selalu membawa ciri khas kebudayaan mereka dalam setiap filmnya.

Seseorang yang berkarakter campuran melankolis pada satu sisi dan satu sisi lainnya cenderung sanguinis

Berbicara tentang karakter kepribadian saya, kalau mengacu pada teori kepribadian Hipokrates, maka secara mudahnya saya dapat dikategorikan sebagai orang melankolis-sanguinis. Dua tipe ini memang kontras, tetapi pada diri saya inilah yang terjadi. Pada satu saat, saya menjadi begitu pendiam perenung khas tipe melankolis, tetapi pada saat lainnya saya sering juga menjadi orang yang heboh dan tidak bisa diam :).

Seseorang yang masih berusaha dalam menggenapkan separuh agama 🙂

Hingga menginjak usia ini yang mana kebanyakan dari teman seangkatan saya sudah menjadi bapak-bapak beranak satu atau dua, saya masih dalam tahapan harus sabar menanti untuk bisa melangkah pada tahapan kedewasaan selanjutnya, yaitu berkeluarga. Yah, mohon doanya agar saya dapat dipertemukan dengan jodoh saya pada waktu yang tepat nantinya dan semoga keberkahan selalu menyertai dalam perjalanan selanjutnya.        

Menjawab Sebelas Hal

Sejak kapan Anda nge-blog dan di mana?

Sebetulnya bukanlah platform Multiply yang menjadi tempat saya ngeblog pertama kali. Saya dulu memulai blog pada domain blog.com yang kemudian terbengkalai tidak diperbarui lagi. Mulai sekitar bulan Oktober 2005-lah, saya aktif di Multiply dan hingga medio 2012 saya setia di sana. Setelah itu, sempat mencoba beberapa platform blog lain, hingga kemudian lebih mantap di wordpress sekarang ini.

Apa manfaat nge-blog menurut Anda?

Manfaat blog itu tergantung dari apa yang telah dibagikan oleh blogger dalam setiap postingannya. Dengan gaya menulis saya yang seperti ini, saya dapati manfaat blog itu sebagai penyalur pikiran dan perasaan saya akan sesuatu yang saya alami. Yah, sederhananya sebagai tempat curhatlah :D. Selain itu juga, blog saya juga bermanfaat sebagai perekam memori saya akan momen-momen yang sangat berkenang dalam hidup saya dan saya jadikan blog sebagai dokumentasi untuk hal itu.

Pernahkah Anda mendapatkan kebahagiaan atau kesedihan karena nge-blog? Tentang apa itu?

Pernah tentunya dan ini saya alami saat aktif di Multiply. Kesedihan karena ngeblog itu yang saya sangat ingat itu akan dua hal, saat ada kabar Multiply hendak menonaktifkan fitur blognya (ini sempat menjadikan saya enggan ngeblog dalam waktu yang lama) dan adanya satu postingan blog saya yang salah dipahami oleh banyak teman saya sehingga perlu ada klarifikasi untuk itu. Mengenai kebahagiaan, yang jelas sangat teringat adalah pada kesempatan berjumpa langsung dengan kawan-kawan kontak blogger (kopdar). Semua kopdar memiliki cerita uniknya masing-masing dan menjadi kebahagiaan yang terwujud karena ngeblog.

Apa pekerjaan impian Anda?

Sekarang ini saya mempunyai impian untuk menjadi penulis buku yang bergenre pada pelajaran-pelajaran hikmah kehidupan. Kira-kira sama genrenya seperti bukunya Mas Rifki, Jejak-jejak yang Terserak. Selain itu, saya berharap ada perkembangan karir yang signifikan dan berpengaruh luas pada bidang perbendaharaan.

Apa makanan favorit Anda?

Kalau makanan favorit, dari lauk yang saya sukai adalah variasi dari masakan ayam, entah itu digoreng, dibakar, atau bentuk lainnya. Sebenarnya sih saya bukan tipikal penikmat kuliner yang sering berkelana mencicip masakan, saya termasuk tipe rumahan yang memfavoritkan masakan ibu saya sebagai masakan yang terenak versi saya mau apa pun itu bentuk makanannya :). Kalau cemilan saya cenderung suka yang renyah dan kriuk-kriuk, seperti variasi keripik, gorengan, dan sebagainya.

Apakah tempat yang paling sering Anda kunjungi untuk refreshing?

Semenjak saya merantau di daerah yang geografisnya berupa pantai, mulai saat itulah saya menyukai pantai sebagai tempat untuk menyegarkan diri dari kepenatan rutinitas pekerjaan. Apalagi di sana, untuk pergi ke pantai tidak perlu susah payah, cukup mudah dijangkau. Pantai yang sering saya kunjungi adalah Pantai Carocok, pantai yang sudah cukup masyhur namanya.

Apa judul buku atau film yang paling berkesan bagi Anda?

Karena saya adalah penggandrung sinema Hindi, tentu film yang berkesan bagi saya adalah film Hindi juga. Ada dua, yaitu Devdas dan Raanjhanaa. Keduanya bergenre love tragedy dan aktingnya menurut saya betul-betul dihayati. Untuk selain film Hindi, ada film The Kite Runner dan Pursuit of Happyness yang juga sangat menyentuh. Mengenai buku, kesannya hampir sama, sehingga sulit saya tentukan mana yang paling berkesan. Genre buku yang saya minati adalah buku tentang hikmah-hikmah Islami, fiksi klasik, dan kadang juga hal-hal lain yang pada saat saya membacanya saya sedang membutuhkan untuk mengetahuinya.

Kapan momen terindah dalam hidup Anda?

Saya belum bisa menjadikan suatu momen tertentu menjadi yang paling indah buat saya. Kalaupun mengurai memori kembali, maka saat-saat di mana saya mencapai penghargaan atas capaian prestasi saya itulah yang menjadi momen terindah. Seperti dulu berkesempatan menjadi finalis kompetisi nasional dan finalis lomba tulisan pada instansi saya, walau tidak menjadi pemenang, tetapi mengikuti rangkaian acara dalam selebrasi kompetisi itu terasa begitu membanggakan. Selain itu juga, momen indah yang saya alami adalah menjadi wali mbak saya untuk menikahkannya.

Kapan momen terburuk dalam hidup Anda?

Ada dua momen tak menyenangkan yang saya pernah alami. Momen pertama adalah saat bimbangnya saya menentukan pendidikan tinggi lanjutan mana yang saya pilih. Momen kedua adalah saat saya tidak merasakan nyaman tinggal di salah satu kerabat jauh saya karena pertikaian keluarga yang selalu diungkit-ungkit kembali.

Tuliskan satu hal yang ingin kalian wujudkan di tahun ini?

Dengan status masih single-nya saya saat ini, sederhana saja keinginan untuk tahun ini yang semoga dapat diwujudkan, yaitu dapat menggenapkan separuh agama dengan jodoh yang terbaik untuk saya. Prioritas kedua setelah keinginan ini adalah melanjutkan pendidikan sarjana untuk lebih mengasah kemampuan akademis kembali. Mohon doanya agar dapat lancar tercapai :D.

Apa hal-hal yang meningkatkan semangat dan motivasi kalian?

Saya termasuk orang yang sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan. Maka, untuk dapat meningkatkan semangat dan motivasi, saya harus bergabung dengan lingkungan yang tepat dan mendukung saya dalam setiap perjuangan dalam mencapai tujuan. Saya juga termasuk orang yang mempunyai soundtrack lagu-lagu di saat-saat yang tepat, sehingga kalau sedang mengerjakan sesuatu diiringi dengan lagu yang pas, maka bisa meningkatkan semangat dan motivasi.

Melanjutkan Sebelas Hal

Seperti biasanya, khasnya postingan saya di era Multiply dulu, postingan ini rasanya sudah terlampau panjang isinya. Mohon maaf jika membuat kelelahan dalam membacanya :D. Postingan semacam ini sangat menggelitik saya untuk mengurai lebih rinci lagi hal-hal yang bisa saya bahas dan merangkumnya lebih singkat lagi malah menjadi hal yang susah.

Nah, untuk bagian ketiga dari award ini, rasanya saya tidak akan mengkhususkan pekerjaan berantai ini pada kontak tertentu. Jika ada yang sudah membaca postingan ini dan tertarik untuk membuatnya, silakan saja. Saya sangat mengharapkan setiap pembaca postingan saya akan melakukan balasan yang serupa, sehingga kita dapat lebih mengenali karakter masing-masing sebagai manfaat dari ajang seperti ini. Mengenai sebelas pertanyaan yang hendak diajukan, sepertinya pertanyaan dari mas Rifki ini saya teruskan kembali sama persis untuk dapat dijawab bagi yang menghendaki. Selamat mengerjakan 🙂

betapa indahnya…

mencoba merutinkan kembali kebiasaan lama yang memberikan pengaruh luar biasa di pagi hari… rasanya sama seperti yang dahulu, ketenangan dan merasakan keindahan itu kembali… 🙂
Shobaakhul Khair 🙂

backup nanazh.multiply.com

Betapa indahnya pagi ini
bila seorang hamba berada di rumah penguasa hatinya
menyedekahkan setiap ruas-ruas sendi tubuhnya dengan ibadah
menghadapkan diri pada dinding hitam layaknya rumah suci-Nya
ditemani dengan kicauan burung yang ikut bertasbih
dengan terpaan cahaya kemilau pagi keemasan
menjadikan hati begitu tenang dan damai
walau sejenak sempat terasa kesemrawutan dunia
dengan membaca firman-Nya secara perlahan dan tenang
menjadikan pemulih yang ampuh untuk keresahan hati
seiring doa pun terlantunkan dengan khusyu’
“Ya Allah di pagi ini,
nikmat apa pun yang kuterima atau Kau berikan melalui salah seseorang dari makhluk-Mu,
tiada lain adalah dari-Mu yang Esa, bagi-Mu segala puji dan rasa syukur”
semoga hari ini ia lalui dengan sebaik-baiknya amal…
adh dhuha
Gedung Prijadi I Lantai 4, 5 April 2011, 07.53

Lihat pos aslinya

terima kasih, tulisan

Tentang Menulis…

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, itu yang dikatakan oleh Umar Khayam. Ada pula yang mengatakan “Scribo Ergo Sum (aku menulis maka aku ada)” untuk menunjukkan keberadaan hakikat pribadinya. Bagiku sendiri yang sangat membuatku selalu terngiang adalah ungkapan “menulis itu menyembuhkan”. Lupa aku dari mana ungkapan ini kudapatkan. Tetapi kata-kata seperti ini seolah menghidupkanku.

Menulis itu memang menyembuhkan! Ia punya energi yang begitu melimpah untuk menampung segala luapan emosi dan pikiran. Mengingat momen kehidupan yang telah lalu, sungguh betapa tulisan telah mempunyai kekuatan untuk itu. Tulisan menjadi media yang tepat menyalurkan segala macam rasa dan ia mentransformasikan menjadi simpanan memori yang cukup disudahi. Tak perlu lagi ada gundah perasaan atau pikiran yang terusik, semuanya sudah dituntaskan pada tulisan.

Begitulah tulisan telah menyembuhkan. Tulisan juga adalah suatu bentuk rekaman mengabadikan momen penting dan berharga. Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan dan itu memberikan ruang yang penuh dan sesak pada memori ingatan. Kalau tak ada rekaman yang dapat dibuka sewaktu-waktu, bisakah momen berkesan itu kembali terkuak dalam ingatan? Ah, belum tentu. Memori seakan lekang oleh waktu, jika ia terabaikan saja di ruang-ruangnya itu, usanglah ia. Apalagi yang bisa dikenang dari memori usang?

Maka, aku begitu sangat ingin terus menulis. Menulis setiap sakit dan ketidaksenangan dalam hidup ini yang perlu aku sembuhkan. Menulis setiap momen agar ia terus abadi dan dapat dikenang pada waktu-waktu yang seterusnya. Menulis agar diri ini merasa ada dan terus berkarya, membuktikan bahwa hidup ini telah mempunyai jejak rekamnya yang berguna untuk diri dan juga semoga untuk semua orang yang membacanya…

Tentang LUKISAN…

Momen tiga tahun telah bergabung dengan instansi birulah yang kemudian melahirkan tulisan berjudul “Treasury Passion: Sebuah Introspeksi”. Suatu tulisan yang dibuat dengan menguak setiap fragmen memori dalam rentang waktu masa-masa yang telah dilalui. Tiga masa yang pada setiap terjadinya memberikan kesan tersendiri. Pada masa mula bergabung dengan menumbuhkan harapan dan passion, pada masa transisi dengan mengamati passion di sekitar, dan masa penempatan daerah dengan passion itu perlu dipertahankan.

Aku tuliskan kesemuanya yang telah membuat passion ini naik turun selama perjalanan ini. Ini adalah cerita tentang aku dan tak mengada-ada, aku biarkan ia lugas bertutur dan menegaskan setiap poin pembelajaran penting yang dapat diperoleh. Tulisan ini memang jadinya begitu panjang, tetapi bagiku ia sudah cukup merangkum semuanya. Aku coba taruh setiap pergolakan perasaan dan pikiran tentang tema yang telah kupilih ini dan ya seperti inilah hasilnya.

Tulisan ini kemudian menjadikanku ternasehati dengan sendirinya. Di tengah deraan ketidaknyamanan dalam pekerjaan yang belakangan ini semakin sering terjadi, tulisan kembali telah menyembuhkanku. Kubaca ulang alur yang tersaji pada tulisan ini dan seakan aku tak percaya aku sendiri yang telah menuliskannya. Aku merasakan ada sosok lain yang bertutur cerita kepadaku dan banyak pengingat berharga yang kudapat darinya. Padahal ini adalah kisah memoriku sendiri. Kudapati bahwa pada apa yang sudah dilalui dalam hidup ini, akan ada pelajaran-pelajaran kehidupan. Itu akan ditemukan jika ada kemauan untuk mengupas dan menelaah lebih dalam tentang apa-apa yang terjadi pada hidup tentunya.

Kucoba kemudian mengangkat cerita ini untuk maju pada Lomba Unjuk Kisah Nusantara (LUKISAN), wadah yang kuanggap tepat untuk dapat berbagi pelajaran kehidupan yang telah kurangkum pada cerita itu. Tak ada angan yang begitu tinggi agar tulisan ini nantinya akan tersaring menjadi beberapa cerita terpilih. Aku ingin berbagi dan memberikan kebermanfaatan tulisan pada ranah yang lebih luas, tak hanya tertahan pada diriku saja. Inilah alasan kenapa aku ikut serta pada lomba ini.

Kisah nusantara yang diusung pada lomba ini mengingatkanku akan sebersit pemikiran yang dulu pernah ada, tentang berkumpulnya kisah-kisah para punggawa perbendaharaan di seluruh penjuru negeri bercerita akan apa momen berharga yang terjadi pada saat mereka bertugas. Berbagi kisah yang menginspirasi dan pengalaman yang bermanfaat bagi sesama agar semua orang tahu bahwa perbendaharaan punya cerita unik dan mempunyai ciri khasnya tersendiri. Aku ingin cerita tentang passion ini menjadi salah satu bagian dari kumpulan kisah semacam ini.

Tentang Treasury Writers Festival…

Lima belas tulisan terpilih pada LUKISAN pun diumumkan. Aku tidak menyangka tulisan yang kubuat sendiri ini ikut terjaring di dalamnya. Sempat beberapa kali berusaha meyakinkan diri bahwa benar adanya tulisan ini telah dipilih. Saat menyadarinya, begitu terucap penuh syukur tulisan ini telah terapresiasi dan menjadi pembuka langkah untuk mengikuti Treasury Writers Festival

Treasury Writers Festival adalah ajang untuk lebih mengungkapkan makna tulisan yang telah terkumpul dan dipilih dari banyak tulisan pada LUKISAN. Ajang ini juga memberikan kesempatan pembelajaran yang lebih luas bagi para penulis perbendaharaan dengan dibekali berbagai macam hal. Di sini, penulis akan mendapatkan pelajaran yang erat kaitannya dengan dunia kepenulisan, seperti bedah buku, sharing mengenai blogging (media tulisan yang marak di dunia maya), film-film yang menginspirasi tentang tulisan, dan writing clinic (berbagi cara-cara tepat untuk menulis). Tentu, bagi yang merasakan menulis telah menjadi passion dalam dirinya, maka acara semacam ini akan begitu dinanti-nanti dan diharapkan banyak manfaat dapat diperoleh saat mengikutinya.

Tak semuanya berjalan mulus sebagaimana yang diharapkan pada kenyataannya. Sebelum dapat mengikuti acara ini, ternyata beban pekerjaan begitu bertubi-tubi harus segera diselesaikan. Pimpinan berpesan agar jangan sampai ada yang luput dan menjadi persoalan saat aku tidak berada di kantor untuk bertugas seperti biasanya. Semula pesimis rasanya dapat menuruti pesan itu, tetapi saat dijalaninya dengan runtut satu demi satu, syukurlah kemudian kesemuanya dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Aku ingin dapat fokus nantinya pada acara ini dan kantor berjalan lancar tanpa adanya diriku bertugas sementara waktu ini. Terima kasih tentunya dihaturkan untuk kawan yang telah bersedia menggantikan dan membantu sehingga pekerjaan dapat tuntas sebelum berangkat.

Treasury Writers Festival kemudian digelar. Bertempat di alam dingin khas Lembang, daerah Bandung, menjadikan para peserta acara ini terlepas dari hiruk pikuk keramaian perkotaan dan lebih menyatu dengan alam. Acara ini akhirnya mempertemukanku dengan para penulis perbendaharaan lainnya. Mereka adalah penulis yang mempunyai gaya cerita spesial dan uniknya masing-masing. Kisah-kisah yang mereka sajikan mengandung kesan yang kuat dan menarik berbeda satu dengan lainnya. Ah, sungguh dibandingkan dengan tulisanku yang rasa-rasanya belumlah seberapa ini, tulisan mereka jauh lebih berkesan dan kuat dalam mengantarkan emosi pembacanya.

Beberapa hari lamanya kami dipertemukan dan dikumpulkan pada acara ini. Interaksi dan komunikasi terjalin satu sama lain. Ada yang baru pertama kalinya bertemu, tetapi dalam tempo yang singkat, rasanya sudah mengenal dekat. Entah apa yang menghubungkan di antara kami saat itu. Mungkin semacam kesamaan passion dalam menulis yang menjadikan kami cocok. Ya seperti yang aku pahami, passion itu di mana pun itu akan selalu menggerakkan dan mendekatkan orang-orang yang memilikinya.

Acara ini bagiku seakan dunia baru yang kukenal dan di dalamnya kutemui berbagai macam kejutan menarik. Tak hanya tentang kegiatan tulis-menulis yang dilakukan, ada juga kegiatan pengenalan budaya seperti mengikuti pementasan Angklung Interaktif. Pada kegiatan ini terasa sangat terkagum-kagum oleh betapa uniknya budaya Indonesia. Ini baru satu budaya yang dikenalkan, masih ada beragam budaya lainnya yang dapat dinikmati. Permainan angklung ini memeriahkan suasana, menghidupkan kembali kesenangan di masa kecil, asyik bermain bersama, dan euforia yang tak henti menyebar hingga selesainya acaranya.

Tangkuban Perahu menjadi destinasi yang dikunjungi oleh para penulis selama kegiatan berlangsung. Di sana, alam yang terbentang luas memberikan ketakjuban dan perenungan atas pemandangan yang terpampang di hadapan. Rasanya di sini para penulis dibiarkan mencari inspirasi yang terserak di sana. Banyak momen yang terjadi selama di sana dan semakin mengeratkan keakraban di antara yang mengikuti.

Pada klimaks acara Treasury Writers Festival ini, dipilih empat tulisan yang menjadi terbaik dari yang terbaik. Ya, memang ini adalah perlombaan yang akan memunculkan siapa yang menang. Tapi acara ini bukanlah kompetisi yang bersaing ketat pada pesertanya. Justru di sinilah ditemukan keunikannya dengan bentuk festivalnya. Dengan kefestivalannya ini terasa sekali bahwa Treasury Writers Festival adalah kemeriahan perayaan apresiasi literasi tulisan dan sastra pada perbendaharaan. Menang ataupun tidak bukanlah persoalan. Mendapatkan kesempatan untuk dapat mengikuti acara ini saja sudah menjadi penghargaan tersendiri tiada bandingnya.

Setiap karya pada LUKISAN memberikan kesan yang saling mengisi satu sama lain. Beragam warna pulasan cerita berpadu harmonis pada kanvas dan membentuk nyata-nyata lukisan (seperti nama yang dipilih untuk lomba ini). Lukisan ini tersaji dengan indah dan memberikan keberagaman yang dapat dinikmati. Unsur-unsurnya tidak berbeda kontras antara bagian satu dengan lain. Akan tetapi kini, ia adalah kesatuan yang tak bisa dilihat hanya sepotong unsur saja. Ada garis penghubung yang menjalin kesemuanya dan menunjukkan bahwa perbendaharaan dapat mengunjukkan kisahnya yang berbeda, berwarna, dan berkesan.

Terima kasih, tulisan. Bagaimana pun yang terjadi, semuanya ini bermula dari hal tentang menulis. Jika tak ada tulisan yang tergagas dari diri ini, maka tak ada kesempatan untuk dapat mengikuti momen yang berharga semacam Treasury Writers Festival ini. Begitu banyak kesan yang tertoreh melekat di memori selama mengikuti acara ini dan para penulis hebat ini sungguh menginspirasi. Bersyukur teramat sangat telah diberikan kesempatan ini dan memberikan salut penghargaan berulang kali pada para inisiator dan panitia kegiatan ini yang telah berusaha menjadikan acara ini terwujud.

penulis1Treasury Writers Festival 2013. Ya, acara ini menjadi salah satu momen penutup yang manis di penghujung akhir tahun ini 🙂

Painan, 2 Desember 2013, 22.21