kesegaran itu dapat terasa di air terjun timbulun

Air alami yang mendinginkan di tengah panas terik matahari, rimbunan pepohonan lebat berwarna kehijauan yang meneduhkan pandang mata, dan bebatuan raksasa yang tersebar di mana-mana untuk tempat berpijak, tiga unsur inilah yang merangkai menjadi satu dalam mahakarya Tuhan bernama Air Terjun Timbulun. Salah satu pesona Painan yang memberikan kesegaran setelah berpenat diri atas kesibukan duniawi. Timbulun dan airnya yang segar itu membawa kebersihan diri dan kesejukan bagi siapa saja yang merasakannya.

P1030535Saya selalu menyukai tempat yang satu ini. Air Terjun Timbulun adalah suatu pemandangan yang senantiasa membuat saya tak habis-habis terpukau akannya. Airnya terus menerus turun dari atas ke bawah tanpa henti membentuk kolam air yang tenang dan berlanjut mengaliri sungai yang berhilir di laut. Kolam inilah yang menawarkan kesegaran khas Timbulun itu. Orang-orang dapat bermain air dan mandi di sana dengan asyiknya, pun termasuk saya yang sudah beberapa kali ke sana.

Timbulun termasuk air terjun yang unik. Yang saya ketahui, air terjun ini terdiri dari dua tingkatan. Tingkatan pertama merupakan air terjun dengan ketinggian yang cenderung rendah hanya sekitar belasan meter. Pada tingkatan ini, air terjun mengalir turun pada lazimnya tiga aliran utama yang bercabang. Kolam di bawahnya berupa cekungan yang dibatasi dengan berserakannya batu-batu besar sebelum kemudian air mengalir menuju sungai. Pada tingkatan kedua yang dapat ditempuh dengan jalan setapak mendaki di sebelah kiri daerah air terjun tingkat pertama, akan ditemukan air terjun yang lebih tinggi dengan air yang cenderung jatuh mengalir di antara bebatuan yang tersusun curam. Inilah yang lebih membuat mata tercengang akan keajaiban alam yang terbentuk di Timbulun. Selain air terjunnya sendiri, terdapat tebing bebatuan raksasa menjulang tinggi di sebelah kanan air terjun. Kolam air juga ada pada tingkatan ini dengan ukuran yang relatif sama pada tingkatan pertama. Kabarnya, selain dua tingkatan yang sudah saya ketahui ini, Timbulun masih mempunyai tingkatan lain di atas yang relatif sulit dijangkau. Air terjun bertingkat-tingkat ini jelas berbeda daripada jenis air terjun pada umumnya.

P1060306Adalah warna hijau yang sangat mendominasi pemandangan mata di daerah Timbulun. Pepohonan serta tanaman tumbuh dengan lebatnya di sini dan tentu dedaunanlah yang berperan memberikan kesan hijau. Tak hanya hijaunya pepohonan, air di kolamnya terwarnai dengan nuansa hijau. Ya, sepertinya lumut-lumut hijau di dasar kolam yang mewarnainya. Gradasi warna hijau pada kolam ini menunjukkan tanda kedalaman air. Semakin tua warna hijaunya, maka itu tandanya air di daerah itu sudah dalam. Warna hijau yang mendominasi ini memang layak berada di Timbulun. Warna yang identik dengan kesegaran dan kealamian ini sangatlah menggambarkan apa yang bisa diperoleh di sini.

Tak perlu susah payah untuk dapat pergi ke Air Terjun Timbulun. Letaknya yang sekitaran 4 km dari pusat kota ini mudah ditemukan. Sebelum memasuki daerah Perumnas di Painan Timur, akan ditemukan gerbang selamat datang pada Objek Wisata Air Terjun Timbulun beratap gonjong khas Rumah Gadang Minang. Dari gerbang ini, tinggal ikuti jalan beraspal lurus sekitar 1,5 km hingga akhirnya ada belokan setelah jalan menurun. Ambil arah ke kanan keluar dari jalan beraspal menuju jalan beton yang pendek. Jalan ini hanya sampai pada undakan tangga yang kemudian berlanjut dengan jalan setapak. Memasuki daerah jalanan setapak ini, pemandangan mulai berubah. Aliran sungai tampak di sebelah kiri dan alam mulai membentang dengan pepohonan nan rindang dan hijau. Ikuti saja jalur setapak satu-satunya ini yang akan mengantarkan hingga ke tujuan utama, Air Terjun Timbulun.

Kenangan pertama saya dengan Timbulun adalah suatu perjuangan ketika itu. Dengan berbekal info seadanya tentang arah Timbulun, saya berangkat dengan jalan kaki mempertimbangkan relatif dekatnya jarak yang sekitar 4 km itu. Walau sedekat itu, ternyata dengan cuaca terik panas khas Painan yang dekat pantai ini lumayan membuat deras peluh keringat bercucuran. Kepanasan saya ini seketikanya terhambur menguap begitu saja ketika menemukan aliran sungai sebelum air terjun utama. Peluh yang sedari tadi membanjiri tubuh dibasuh dengan air yang sangat menyegarkan dari Timbulun. Dari aliran sungai ini, saya susuri hingga menuju air terjun utama.

P1030519Dari kejauhan, sudah terdengar derasnya air yang terjun mengalir. Semakin mendekati arah suara ini, mata saya langsung terpana melihat langsung penampakan dari Air Terjun Timbulun tingkatan pertama. Jiwa kekanak-kanakan keluar dengan sendirinya dan asyik gembira riang bermain dengan air kolam di sekitar. Setelah puas dari situ, iseng-iseng menyusuri jalan mendaki ke atas dan lagi-lagi terdengar gemuruh derasnya air. Saya seakan diberikan kejutan level kedua di sini. Dengan ketinggian air yang lebih tinggi dan kolam yang relatif lebih dangkal serta banyaknya bebatuan untuk berpijak, tempat ini menjadi tempat kesukaan saya.

Sudah beberapa kali saya pergi ke tempat ini dan kesan pertama yang saya rasakan tak pernah berkurang. Saya akan selalu girang bermain air dan mengagumi pemandangan alam yang mengesankan ini. Bahkan pun, beberapa teman telah saya ajak ke tempat ini dan juga berpendapat hal yang serupa. Painan menjadi satu paket wisata yang lengkap dengan pesona pantainya, panorama bukitnya, dan ditambah dengan kesegaran air terjunnya.

Air Terjun Timbulun ini memang terhitung masih belum dikenalkan ke khalayak publik. Banyak orang yang sepertinya belum mengetahui adanya permata alam tersembunyi di daerah Painan Timur ini. Malah dulu saat pertama kali mengunjunginya, sepertinya hanya saya seorang saja yang berada di sana. Ahahaha seakan menjadi kesempatan pribadi yang eksklusif untuk dapat merasakan kesegaran ini sendiri.

Sepinya daerah ini ternyata selain dipengaruhi oleh belum dikenali oleh banyak orang, juga dipengaruhi oleh masih perawannya lingkungannya di sini. Hal ini berarti diperkirakan masih ada fauna-fauna liar yang berkeliaran di sekitar sini, termasuk yang berbahaya yaitu ular. Menyadari hal ini sempat membuat saya urung berkunjung ke sana selama beberapa bulan karena takut akan bahaya semacam itu. Namun, setelah dipertimbangkan dan kerinduan yang teramat sangat dapat merasakan kesegerannya itu, selama berhati-hati dan selalu waspada di sini, insya Allah tidak ada hal buruk yang terjadi. Belakangan ini juga saya baru tahu bahwa Timbulun ini menjadi daerah dilakukannya balimau paga, semacam tradisi bersih diri sebelum memasuki bulan puasa yang dilakukan oleh Orang Minang.

Namun, beberapa saat lalu, saya menghampirinya kembali, ada beberapa perubahan yang mengganggu tempat ini. Kealamian daerah Timbulun ini dirusak dengan semakin banyak sampah bertebaran di mana-mana. Jelaslah hal demikian akan merusak lingkungan, seharusnya ada kesadaran dan fasilitas agar sampah itu dibuang pada tempat semestinya. Selain itu, di samping daerah Timbulun ini sedang dikerjakan proyek pembangunan pipa penyaluran air yang besar-besar dan panjang menuju kota. Pada satu sisi ini adalah kabar baik dengan adanya penambahan kapasitas aliran air yang dialirkan untuk kebutuhan masyarakat, tetapi pada sisi sebaliknya pembangunan selalu membawa konsekuensi tidak ramah lingkungan jika tidak dilakukan analisis mendalam mengenai dampak lingkungan secara tepat.

Timbulun dengan kesegarannya itu selalu membuat saya ingin ke sana apalagi jika cuaca Painan sedang panas-panasnya. Airnya yang begitu jernih dan terasa dingin ini akan melepas kekotoran yang ada pada diri. Lebatnya hutan hijau yang terbentang di sekitarnya akan menjadi pemanja mata dengan keteduhannya. Bebatuannya dalam berbagai macam bentuk dan tersebar di mana-mana akan menjadi tempat untuk duduk dan menenangkan diri mengagumi karya alam ini. Di sinilah kesegaran akan dapat dirasa, melepas setiap penat entah itu dari cuaca bumi yang memang kian hari kian memanas atau juga dari setiap jenuh rutinitas kehidupan.

carocok, nama yang sudah masyhur

Satu hal yang pertama kali saya kenal tentang Painan adalah tentang pantainya, yaitu Pantai Carocok. Pada setiap informasi yang saya cari tentang Painan dari dunia maya sebelum saya benar-benar singgah di sana, hampir kesemuanya mengaitkan Painan dengan Pantai Carocok ini. Benar-benar membuat saya penasaran saat itu. Seperti apakah Pantai Carocok ini sampai begitu lekat sebagai ikon Painan? Ketika itu, saya yang terhitung jarang mengunjungi pantai, sangat antusias untuk dapat benar-benar merasakan langsung pesona pantai ini. Dari foto yang beredar saja, saya sudah merasakan betapa menyenangkannya jika ada kesempatan untuk ke sana.

P1070834Saya ingat awal-awal ketika saya pertama kali berada di Painan ini. Imaji tentang Pantai Carocok begitu sering mengusik saya. Informasi yang saya dapat dari pegawai sekantor mengatakan bahwa letak dari pantai ini terhitung masih dekat lokasinya dari kantor. Ya, kota Painan ini sebenarnya bisa dibilang kecil, ke mana-mana tidak membutuhkan jarak perjalanan yang jauh sampai ke batas kota. Hal sepertilah yang membuat saya terusik, kalau memang mudah untuk dapat menemukan pantai ini dan juga jarang-jarang ada pantai dalam jarak yang sepertinya terhitung masih dekat ini, kenapa tak bersegera saja mengunjunginya?

Sekitar dua kilometeran rasanya jarak antara kantor saya dengan pantai ini. Dua kilometeran! Jarak yang memang dekat sekali. Kesempatan pertama kali saya ke sana ketika itu iseng sendirian dan meminta petunjuk dengan diantarkan oleh tukang ojek setempat. Dengan ongkos Rp 2.000,- saat itu dan perjalanan yang hanya dalam hitungan menit, saya sudah sampai di pantai yang disebut-sebut ikonnya Kota Painan itu.

Melihat pantai ini, saya langsung kalap gembira keriangan. Saya yang memang bisa dibilang sudah terbiasa dengan alam lereng pegunungan khas Salatiga, begitu senang dapat menemukan pantai yang jarang-jarang saya lihat kalau bukan diniatkan untuk kesempatan wisata. Ya, kali ini tanpa harus merencanakan suatu wisata dalam perjalanan jauh pun, saya dapat mengunjungi suatu pantai dengan mudahnya di sini. Mungkin inilah juga yang menjadikan pantai ini sedemikiannya terkenal untuk Painan. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota dan akses transportasi ke sana pun juga mudah.

P1030114“Selamat datang di Objek Wisata Pantai Carocok” tulisan pada suatu lereng landai inilah yang menjadi penanda kalau sudah sampai di Pantai Carocok. Memasuki area pantai ini, ada jalan setapak yang sedikit menanjak kemudian berbelok menurun hingga menuju kawasan utama pantai. Ah, saya jadi teringat. Awal mula saya ke sini, saya malah mengira kawasan utama pantai ini adalah pada lahan area parkirnya. Ahahaha, beginilah jadinya kalau datang pertama kali sendirian tanpa pemandu. Lahan luas yang berbatasan laut dan dibatasi dengan bebatuan penahan ombak itu saya kira dulunya adalah area utama. Walau baru sebatas sampai di area parkir saja, saya sudah terpesona dengan pemandangan yang ada. Saya dapat melihat tampak jauh kota Painan ini yang rupanya berupa teluk dan Pantai Carocok ini berada pada semenanjung sebelah utaranya. Berhadapan persis dengan area parkir pantai ini ada barisan perbukitan hijau dan pelabuhan kecil Panasahan yang merupakan semenanjung sebelah selatan. Terlihat dari sini, air laut pada teluk ini yang ombaknya kecil menggoyang-goyangkan perahu-perahu bagan nelayan. Pemandangan yang masih orisinil menurut saya.

Itu baru area parkir saja yang sudah menyajikan pesonanya, saat masuk area utama, saya semakin kegirangan. Pantai ini layak memang menjadi ikon Painan! Pantai ini dihiasi dengan jembatan-jembatan dermaga yang dapat dilintasi untuk menyusuri pantai. Sayang pada saat itu jembatan yang masih berupa kayu-kayu ini tampaknya kurang meyakinkan dapat bertahan lama. Selain jembatan yang melingkari kawasan pantai, ada juga jembatan khusus yang menghubungkan pantai dengan pulau yang sangat dekat dengan pantai ini, yaitu Pulau Kereta. Pulau ini relatif kecil dan tampak seperti gundukan bebatuan yang penuh dengan pepohonan sebenarnya. Beberapa warung tampak berjejeran di pinggir pulau dan ada juga beberapa perahu kecil yang ditambatkan dekat dengan pulau ini. Adanya pulau kereta tampaknya juga menjadi keunikan dari Pantai Carocok.

P1030123Kesan pertama kali mengunjungi Pantai Carocok sangatlah berkenang bagi saya. Saya mendatanginya di saat yang tepat. Saat itu saya mendatanginya seusai pulang kantor dan bertepatan dengan momen matahari tenggelam yang tampak dari pantai ini. Seolah-olah di hadapan saya ketika itu tersaji lukisan alam yang tiada duanya dengan pulasan warna langit khas senja. Sayang, saya tak sempat menikmati momen ini sampai mentari benar-benar bersembunyi, ada urusan yang saya perlu benahi kala itu.

Jelasnya dengan pengalaman pertama kali seperti itu, membuat saya tak puas hanya mengunjungi pantai ini hanya sekali. Bahkan pun, hingga sekarang bisa dibilang saya sudah berkali-kali mengunjunginya, tetapi tetap saja tak ada kata bosan yang menghampiri benak saya saat berada di sana. Saya malah merasakan pada setiap kali kunjungan ke pantai ini, ada-ada saja pesona yang baru kali itu saya temukan dan membuat saya merasa dekat dengannya.

Bermain-main melewati air laut yang menggenang surut dan tampak batu karang ditumbuhi rumput-rumput laut itu adalah hal yang menjadi kesukaan saya untuk dilakukan di sini. Jernihnya air laut juga tak jarang membuat saya berkesempatan melihat banyak ikan-ikan unik khas tropis berenang dengan lincahnya. Sekadar iseng melintasi jembatan dermaga dan menikmati pemandangan juga sering saya lakukan. Beberapa tempat menjadi persinggahan kesukaan saya, seperti di sekitaran pinggir pulau Kereta yang berupa bebatuan atau gazebo kecil yang sayang kurang terawat. Menyantap serat kelapa muda dan airnya langsung dari buahnya juga merupakan kenikmatan tersendiri di tengah panasnya khas Pantai Carocok di siang hari.

Pantai Carocok bisa dibilang sebagai salah satu dari bagian kesatuan paket wisata Painan. Ya, dari pantai ini, tidak perlu jauh-jauh untuk dapat menikmati pesona Painan lainnya. Dengan menyeberang melalui perahu-perahu speedboat kecil selama sekitar 5 menit, maka Pulau Cingkuak sudah dapat dijangkau. Pulau ini malah menurut saya menyimpan lebih banyak pesona daripada Pantai Carocok. Pantainya yang putih, reruntuhan puing benteng Portugis, dan terumbu karang yang tersebar di sana merupakan hal yang masih asli dan alami yang dapat ditemukan. Selain Pulau Cingkuak, ada juga Bukit Langkisau yang masyhur juga sebagai ikon Painan. Melalui perjalanan menanjak menyusuri jalan beraspal, akan dapat disaksikan panorama khas dari ketinggian yang sering membuat takjub banyak orang.

Ada banyak perubahan memang yang saya dapati dengan membandingkan kenangan pertama ke sini dengan kondisi sekarang. Perluasan lahan areal parkir dengan penimbunan pantai secara masif, perbaikan jembatan dermaga dengan mengganti kayu-kayu yang sudah lapuk dengan beton yang lebih awet, pemangkasan perbukitan yang saya dengar katanya akan dibangun jalur jalan alternatif menuju ke pantai sini, dan berbagai macam pembangunan yang terus bergeliat memodifikasi pantai ini.

Ah, modifikasi pantai. Untuk saya yang sebenarnya pecinta orisinalitas suatu daerah, agak menyayangkan hal seperti ini. Kealamian yang saya temui dari pantai ini pertama kali sudah mulai berubah sekarang. Memang pada satu sisi ini adalah hal baik dengan pembenahan sarana-sarana penunjang untuk wisatawan dapat menikmati pantai. Namun, konsekuensi pembangunan yang sering tak ramah dengan lingkungan ini menggerus kealamian yang sebenarnya menjadi pesona tersendiri untuk Pantai Carocok.

Apalagi belakangan ini arus wisatawan yang datang ke sini dapat terbilang meningkat pesat. Bahkan pun, setiap akhir pekan saya ke sini, pantai sudah sesak dipenuhi oleh para wisatawan. Keramaian semacam ini yang malah sering membuat saya tak nyaman karena tak bisa bebas menikmati pesona pantai sepenuhnya. Akibat dari keramaian ini juga menimbulkan pemandangan sampah yang banyak berserakan di mana-mana dan jelaslah ini merusak kealamian dan keindahan Pantai Carocok.

Memang pembangunan ini masihlah dalam tahapan proses, belum rampung benar sehingga kekacauan-kekacauan ini sedikit mengganggu saat berada di sini. Dengan peningkatan arus wisatawan semacam ini memang dibutuhkan perluasan lahan dan pembenahan tata ruang pada pantai ini. Semoga saja pemerintah dapat mengatur kebijakan yang tepat untuk Pantai Carocok agar pesonanya itu tidak semakin memudar, bahkan akan lebih terkenal lagi tak hanya di Ranah Minang ini saja.

Saya yakin suatu saat jika pengelolaan kawasan wisata ini berjalan dengan penuh tanggung jawab, menyeimbangkan keharmonisan alam, tak hanya orientasi pada profit semata, dan juga dengan perencanaan tata ruang yang matang, maka Pantai Carocok ini akan terus menjadi ikonnya Kota Painan dan namanya juga akan masyhur menyebar luas ke seluruh Nusantara