raanjhanaa : a love story for all ages

M_Id_379323_raanjhanaaSelamat tinggal…

Selamat berakhir kisah yang telah memiliki berbagai warna. Dari semenjak kecil kisah ini telah bersemi dan kini kiranya ia bagai daun berguguran penghabisan, sudah hampir pada penghujung akhirnya. Aku sudah berada di akhir hayatku dan terlintas betapa apa yang telah terjadi seperti kisah Ranjha yang larut dalam pesona cintanya kepada Heer. Aku merasakan aku adalah Ranjha untukmu dan kisah ini menjadi kisah cinta untuk semua usia, kisah yang akan tetap melegenda  dan kisah menjadi pengingat akan betapa berharganya cinta itu…

Hanya Kamu (interpretasi “Bas Tum Tak”)

Tanpa sengaja aku bertemu denganmu dan terpesona oleh keindahan yang terpancar darimu. Ah, takdir betapa baiknya engkau memberikan aku kesempatan begitu berharga semacam ini. Kebahagiaan menjalar pada setiap ruas tubuhku saat mengingatmu, bahkan pun ketika bertemu denganmu, kebahagiaan itu telah menjelma menjadi kegilaan hanya untukmu.

Kau tahu aku akan selalu berada di belakangmu, dengan malu-malu mengawasi gerak-gerikmu, dan pada setiap yang aku lihat itu, pesonamu kian bertambah membunga penuhi hatiku. Kala kumulai memberanikan berhadapan dan mengutarakan isi hati padamu, kau dengan arogannya menampik diriku.

Kau mungkin menganggapku hanya bermain-main belaka. Namun, aku tekadkan untuk menunjukkan keseriusanku akan perasaan ini. Semua jalan akan kutempuh untuk memenuhi keinginanku hanya bersamamu, agar kau pun juga membersamai keinginan semacam ini pula, dan setiap gundah gulana hati akan tenang dengan adanya dirimu. Hanya kamulah yang menjadikanku sebegitunya gila semacam ini, untuk mendambamu dan ingin membersamaimu selalu…

Sang Kekasih Gila (interpretasi “Raanjhanaa”)

Sempat kita berpisah karena ada penghalang yang tak menginginkan kita selalu bersama. Selang waktu itu yang telah bersemi senantiasa tumbuh dan aku percaya suatu saat nanti kau akan kembali, memancarkan pesona yang telah membuatku tertarik.

Hari itu pun tiba dan begitu hati ini gegap gempita hendak memberikan penyambutan yang istimewa untukmu. Aku hendak menari mengungkapkan kegembiraan semacam ini, memberikan selebrasi perayaan semasyhur mungkin agar semua orang tahu aku telah menjadi sang kekasih gila hanya untukmu.

Setibanya kau di kota yang penuh pesona ini, kau semakin melengkapi pesona kota ini. Aku terperangah melihat penampilanmu kini. Ah, sayang kau melewati aku dengan acuhnya. Apa kau sudah tak mampu mengenali diriku lagi, sang kekasih gilamu di masa kecil yang penuh keluguan itu? Keacuhanmu itu memang sedikit menyakitkan, tetapi pesonamu itu membuatku semakin tergila-gila padamu. Maka, aku tak patah arang untuk mencoba menjalin kembali kisah yang dulu pernah bersemi di antara kita. Aku coba segala aksi agar kau kembali ingat akan kisah-kisah masa kecil kita. Kau pun ingat dan kisah ini melangkah pada babak yang baru. Niatku pun masih sama, inginku menjadi Ranjha bagimu, sang kekasih gila yang memujamu selalu…

Gaya Banarasiya (interpretasi “Banarasiya”)

Kudengar ada kabar tak menyenangkan tentangmu dari banyak orang. Orang tuamu hendak mempersuntingmu dengan orang lain selain aku. Ah, sungguh betapa tak menyenangkannya kabar ini.

Aku pun marah denganmu. Perjuanganku mendekatimu seakan sia-sia. Aku menghardikmu dan meminta penjelasan darimu. Yang kudapati kemudian ternyata hal yang malah membuatku bergembira. Rupanya kau sendiri pun tak berkenan akan semacam perjodohan sepihak ini. Maka, terbersitlah ide dariku untuk membuat skenario agar perjodohan ini tidak akan terjadi.

Ide yang sebenarnya sederhana, tetapi inilah trik yang akan manjur menggagalkan perjodohan yang konyol ini. Cukup dengan memanfaatkan momen-momen penuh trik iseng agar orang yang dijodohkan denganmu itu memberikan kesan yang buruk bagi orang tuamu dan kemudian tidak berkenan melanjutkan perjodohan.

Ya, trik sederhana ini nyatanya sangatlah ampuh dan berjalan sesuai dengan rencana. Hahaha sebutlah ini gaya khas orang Banaras, Gaya Banarasiya. Gaya ini sebenarnya sederhana saja, tetapi ampuh dalam segala hal. Maka, tak usahlah kau ragu untuk bersamaku. Semua masalahmu akan terselesaikan dengan gaya khas Banarasiya ini…

Tak Ada Lelaki yang Lain (interpretasi “Nazar Laaye”)

Kini apa lagi yang menjadi penghalang kebersamaanku denganmu? Rintangan perjodohan orang tuamu usai sudah. Tak perlu kau hiraukan lagi, cintaku sudah membuktikan sendiri betapa kuatnya ia. Kita akan berbahagia bersama, memadu kisah cinta kembali. Kau pun semakin mendekat padaku, semakin sering bertutur cerita padaku.

Tetapi andai saja ceritamu yang satu itu tidak kauungkapkan mungkin akan menjadi cerita lain. Betapa tega kauceritakan tentang kisah cintamu, tetapi bukan denganku. Bahkan pun kau dengan acuhnya bercerita bahwa tak ada lelaki lain yang mampu membuatmu jatuh hati selain dirinya.

Apa kau tak tahu apa yang telah kulakukan semua ini adalah bukti cinta yang sangat kuat selama ini? Apa kau anggap hubungan yang ada kini hanyalah sebatas pertemanan belaka dari semenjak kecil? Apa kau kira aku membantumu hanya karena menganggap kamu adalah teman biasa, tak lebih dari itu?

Sedemikian tinggi amarah ini meletup seketikanya kau ceritakan ada sosok lelaki lain itu. Muak aku dengan segala perangaimu. Cukup sudah, aku tak berkehendak mendengar cerita apa pun itu darimu.

Cukup.

Bukan Teman ataupun Kekasih (interpretasi dari “Aye Sakhi”)

Sejak ceritamu itu, semuanya menjadi memburuk. Kehidupanku seketika menjadi ambruk. Beginilah hancurnya hati jika cinta bertepuk sebelah tangan. Tak ada lagi yang aku perlu hiraukan dari hiruk pikuk dunia. Aku mengucilkan diri dan bahkan bersempit pikir untuk mengakhiri hidup yang tak lagi ceria ini. Apalah gunanya jika hati tak bisa ditautkan pada apa yang diharapkannya.

Kehidupanmu juga sepertinya semakin rumit dengan semakin kuatnya orangtuamu hendak menjodohkanmu. Dirimu mengalami kekalutan dan tak tahu apa yang harus kau lakukan. Ya, kita mengalami hal yang hampir serupa. Aku dengan hancurnya hati karena ceritamu tentang lelaki lain dan kamu dengan hancurnya hati karena orang tua yang hendak menjodohkanmu dengan lelaki yang takkau kehendaki.

Entah apa yang kemudian terbersit di pikiranmu untuk ingin bertemu denganku. Apa kau hendak mengakui kesalahanmu atas ceritamu yang menghancurkan hatiku? Tidak ternyata. Dirimu malah meminta tolong untuk meyakinkan orang tuamu akan sosok lelaki dambaanmu itu. Hati ini serasa dilucuti. Aku pun mengeluarkan semua gundah yang kualami karena dirimu. Kau pun terisak menangis dan berkata bahwa begitu jelas perbedaan menghalangi di antara kita. Agama, kebudayaan, latar belakang, dan bermacam alasan perbedaan kau utarakan. Dirimu berkelit dan semakin membujuk untuk membantu. Dengan semacam ketegaran luar biasa, akhirnya aku menyanggupi permohonanmu.

Pikiran ini tampak sedemikiannya kacau dan entah hati ini mungkin linglung. Bagaimana bisa aku rela menjadikanmu akan terikat pada sosok lelaki yang lain? Satu sisi ketidakrelaan itu sangat kuat, tetapi aku tak tahan melihat kepedihanmu itu. Cukup hati inilah yang mengalah. Bahkan pun mungkin cintaku ini berkehendak agar kau berbahagia, tak lagi bermuram durja, ceria kembali seperti biasa.

Dengan kerumitan ini, aku tak bisa lagi menentukan diriku apakah sekadar teman biasa atau sang kekasih gila seperti dulu. Aku pun beranjak untuk tak terus bersedih karenamu, bahkan pun jika kau ingin bersanding dengan lelaki lain, aku pun juga akan melakukan hal yang sama. Ada teman yang selalu mengejar-kejar diriku dan ya akan kupinang saja dirinya. Betapa bahagianya dia akan pinanganku dan aku semakin tak bisa menentukan apakah hubungan teman dengannya selama ini bisa berubah menjadi sepasang kekasih.

Teman atau kekasih, ya aku semakin tak peduli akan macam hubungan itu…

Kebersatuan Diri (interpretasi “Tu Mun Shudi”)

Hari itu.

Berat bagiku untuk menjalaninya. Kesedihan begitu menggelayuti diri. Aku akan menempuh jalan takdir yang takkukehendaki, sedangkan kau akan berbahagia dengan ikatanmu bersama lelaki idamanmu. Melihat penampilanku sebagai sang pengantin menjadikanku semakin terluka. Ya, aku akan menjadi sang pengantin, tetapi tidak denganmu.

Dalam luka yang seperti itu, saat aku ketahui fakta tentang lelaki idamanmu, kesedihan itu berubah menjadi amarah. Ya, ternyata lelaki idamanmu bukanlah orang yang baik. Ia telah menipu identitasnya dan tak seperti yang diduga kebanyakan orang. Ia juga beragama, berbudaya, berlatar belakang sangatlah kontras denganmu. Identitasnya yang terbongkar itu hampir sama denganku, mempunyai perbedaan jelas yang tak akan direstui untuk sebuah ikatan pernikahan.

Aku marah untuk hal itu. Kau telah menolakku dengan alasan semacam itu dan rupanya kau malah sudi berikat janji dengan orang yang sebenarnya patut kautolak dengan alasan yang sama. Aku pun dengan berani mengungkapkan kebohongannya dan kemarahanku di hadapanmu, dia, dan seluruh keluargamu.

Apa yang kulakukan ini jelas akan menyebabkan petaka. Lelaki idamanmu itu dihakimi oleh seluruh keluargamu. Bahkan yang sampai tak aku tahu, rupanya keluargamu sampai-sampai menyiksa dirinya. Hal ini yang tak sampai aku kira. Amarah keluargamu sudah melampaui batas. Aku temukan dia sekarat, hampir saja takkukenali lagi.

Ya, memang masih ada amarah pada lelaki itu, tetapi melihatnya seperti itu membuatku merasa iba. Aku coba menyelamatkannya dan beruntung dirinya masih sadar. Pada saat-saat kritisnya itu, dia bertutur cerita padaku. Ya, dirinya mengakui telah berbohong dan inilah konsekuensi yang ia harus terima.

Mendengar penuturannya, rasa bersalah begitu menghantuiku. Akulah yang menyebabkannya menjadi seperti ini. Aku yang dengan naif dan amarah yang membabibuta telah merusak kebahagiaan orang lain. Pada cerita yang lain, dia tuturkan bagaimana kisah cintanya bermula denganmu. Dia tunjukkan betapa cinta telah membersatukan mereka di masa-masa yang lalu. Kebersatuan diri semacam inilah yang ternyata telah kurusak dan tak hanya dia yang kini sekarat, ternyata kamu juga bergelimang kesedihan hingga nyaris hendak membunuh dirimu sendiri.

Mempertemukan Cinta Itu Kembali (interpretasi “Piya Milenge”)

Rasa bersalah itu sangat menghantuiku. Dirimu yang tergeletak tak berdaya akan pilu ikatan suci yang tak lagi dapat dijalin dan lelaki idamanmu yang sekarat akibat penghakiman atas penipuan identitas yang telah kubeberkan. Semuanya ini terjadi karena ulahku. Aku terus berpikir bagaimana caranya agar rasa bersalah ini dapat ditepis. Aku tak bisa melarikan diri. Bahkan pun masalah semakin pelik dengan janji yang takkutepati pada seorang gadis yang menanti untuk kupinang. Semuanya telah menjadi kacau dan aku harus memperbaiki apa yang bisa aku lakukan atas kekacauan ini.

Maka, aku dengan tegar memberanikan bertemu dengan kemarahanmu. Ya, tatapan penuh dendam sangat tersirat dari matamu. Kau sudah membenciku dengan apa yang telah lalu terjadi. Walau dengan semacam perlakuanmu itu, tekad sudah membulat bagiku untuk memperbaiki semua ini. Aku akan mempertemukanmu kembali dengan lelaki idamanmu itu. Mencoba membersatukan kembali kebersatuan dirimu dengannya seperti yang kauharapkan. Demi cinta yang masih ada di diri ini untukmu, aku rela untuk menerima ini. Inilah suatu bentuk penebusan atas kesalahan yang aku lakukan.

Perjalanan pun kita lalui bersama. Kota demi kota kita lewati untuk menuju tempat lelaki idamanmu berada. Namun, wajah penuh kebencianmu tak kunjung berubah. Kau pun diam seribu bahasa. Kau telah berubah dari sosok yang begitu penuh pesona menjadi sosok yang menjadikanku semakin terhantui oleh kesalahanku.

Setibanya di tempat yang kita tuju, sosokmu berubah menjadi sosok yang penuh harap akan bertemu dengan kekasihnya kembali. Di dalam diriku berkecamuk berbagai rasa. Bagaimanakah aku harus bersikap? Bagaimanakah untuk menyembuhkan hati ini nantinya?  Pertanyaan-pertanyaan ini mengusikku semakin dalam, tetapi selalu kuingat inilah bentuk penebusan dan hukuman untukku.

Tetapi takdir berkata lain. Apa yang terjadi bukanlah apa yang aku kira, pun dirimu tak pula mengira. Lelaki idamanmu itu kini sudah tiada. Dirinya sudah terlampau kesakitan dengan luka yang ia alami dan semakin parah hingga kematian telah menjemputnya kini. Di hadapanku jenazah lelaki idamanmu sedang didoakan. Aku tak dapat berkata-kata dan tak menyangka ini terjadi. Kali ini aku lebih memilih untuk lari. Lari sejauh-jauhnya dari realita ini. Kesalahanku telah sebegitunya parah seperti ini.

Dari tempat suci ke tempat suci lainnya, aku coba memohon ampunan kepada Yang Maha Kuasa atas dosa-dosaku ini. Kenaifan cintaku telah menghancurkanku dan juga orang lain. Aku semakin terperosok dalam kubangan rasa bersalah atas dosa ini. Hati dan pikiranku tak pernah tenang.

Pelarian semacam ini nyatanya membuatku semakin tampak menyedihkan. Hingga seorang bijak menasehatiku. Aku tak boleh lari dan kemudian memilih untuk mengucilkan diri dari dunia serta mencoba untuk membersihkan diri tanpa memperbaiki kesalahan yang sudah terlanjur terjadi. Petuah ini menyadarkanku dan menyemangatiku untuk bertemu denganmu kembali. Meminta maaf padamu dan melakukan segala apa pun itu untuk dapat menyudahi kesalahan di masa lalu.

Jangan Lihat Diriku dari Sisi Itu (interpretasi “Aise Na Dekho”)

Aku menemukanmu di tengah kesemrawutan dan hiruk pikuk metropolis ibukota, Delhi. Di kota ini, kau tampak lantang menyuarakan pendapat politismu bersama kawan seperjuanganmu. Karakter yang sama sekali tak pernah kusangka ada pada dirimu. Wajahmu masih tampak memunculkan amarah dan sakit hati yang sama. Apalagi ketika mata kita beradu sama lain. Saat kau mengetahui keberadaanku, keacuhan itu nyata-nyatanya adalah suatu bentuk kebencian yang sangat tegas.

Maka, dari sinilah perjuangan meminta maafmu dimulai. Aku coba mendekatimu dan mengharap dirimu berubah dari sikap yang begitu dingin ini. Aku membaktikan diriku untuk membantu pada perjuangan suara rakyat yang tengah kauusung. Aku berinteraksi dengan kawan seperjuanganmu demi suatu saat perhatianmu itu ada untukku. Aku melebur dalam setiap aktivitas kehidupan di sekitarmu agar kau dapat menganggap keberadaan diriku. Itu semua demi maaf yang sangat kuiba dari dirimu.

Waktu berjalan telah begitu lama dan kau masih kukuh dengan kebencianmu itu. Bahkan hingga suatu saat kebencian itu akhirnya meledak tak dapat kau tahan lagi. Kau ungkapkan siapa diriku ini di depan kawan seperjuanganmu yang telah dekat denganku. Kau teriakkan aku sebagai pembunuh. Ya, akulah sang pembunuh lelaki idamanmu. Ya, akulah sang pembunuh pemimpin pergerakan yang kau usung bersama kawan-kawanmu itu. Ya, aku mengakui semua itu dan semua orang tahu kini bahwa kau masih teramat sangat membenciku.

Entah bagaimana alur kehidupan ini tampak begitu tak diduga-duga. Aku yang semula hanyalah seorang asing di antara kawan-kawanmu kini tengah dielu-elukan untuk menyuarakan kepentingan pergerakan politismu itu. Aku dengan gaya Banarasiya yang kupunyai ini telah memberikan banyak solusi atas masalah-masalah yang dialami pergerakan ini. Ini menjadikan kebencianmu semakin mengarat tanpa kukehendaki. Bersama pihak-pihak yang hendak menghancurkan pergerakanmu itu, kebencianmu itu membutakanmu dan mempersiapkan skenario yang buruk untukku.

Ya, hanya demi maafmulah sebenarnya aku lakukan semua ini. Janganlah kau pandang diriku dari sisi itu, sisi yang kaukira berusaha untuk menguasaimu dan merebut posisi hatimu dari lelaki idamanmu yang sudah tiada lagi. Tak ada niatan lain, pun untuk menggantikan posisi lelaki idamanmu. Ini semua berjalan dengan sendirinya dan ternyata apa yang telah kulakukan malah menjadikan hatimu kian tertutup oleh amarah.

Amarahmu yang sudah teramat sering kutemui itu mendadak berubah menjadi sikap yang tak lagi dingin. Hari itu, aku menemukan sosok dirimu yang rapuh. Kebencianmu telah meluluh walau tak hilang benar. Hari itu, di saat aku diminta untuk berjuang menyuarakan pergerakanmu itu, dirimu menyempatkan diri dan sudi untuk mengantarkanku. Kebencianmu telah kautepis dan kaugantikan dengan sosok yang menampakkan diri dengan kesedihan yang selama ini menggelayutimu atas kematian lelaki idamanmu. Hari itu, kau telah memandangku dari sisi yang berbeda.

Kau mengatur penampilanku serupa dengan lelaki idamanmu. Tangismu tak dapat kaubendung mengingatnya. Kau katakan bahwa dirimu begitu berkecamuk atas semua ini dan berharap seandainya sosok dirimu bisa kembali ke masa lampau dulu, sosok ceria yang telah membuatku jatuh hati. Kau utarakan seandainya tak ada batasan perbedaan yang berkehendak memisahkan kita. Dirimu semakin terisak dan menyuruhku untuk pergi. Pergi menuju ajang perhelatan pergerakan demi tujuan-tujuan mulia yang dulu diusung oleh lelaki idamanmu.

Sebelum pergi, maka aku pun berpesan padamu. Aku katakan bahwa kesemrawutan ini biarlah terjadi. Kini, tak usah pedulikan apa yang telah lalu. Cinta yang telah membuatku naif itu biarlah bertepuk sebelah tangan. Kini, lihatlah di depan sana telah menanti. Aku menjanjikanmu untuk memenangkan perjuanganmu. Aku akan melakukan apa pun yang kaupinta. Jika kau minta aku untuk pergi, maka aku akan pergi.

Aku pergi menuju podium untuk melantangkan suara perjuangan pergerakanmu. Namun, aku merasa begitu hampa, tak dapat berkata-kata. Hingga ledakan besar seketika membuyarkan semuanya. Kekacauan tengah terjadi. Orang-orang panik hendak menyelamatkan diri. Saat itulah, aku menyadari ini mungkin saat terakhirku, kesempatan yang masih tersisa untuk membereskan kekacauan ini. Aku turun dan mencoba melerai kepanikan ini. Namun, selongsong peluru entah dari mana menembus badanku. Aku terjatuh dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Inilah saat terakhirku.

Kekacauan itulah skenario buruk yang telah kaupersiapkan dengan para penghasut politis yang telah mempengaruhimu. Selepasnya diriku pergi, kau beranjak menuju musuh pergerakanmu, hendak berafiliasi dengan mereka, dan berdalih atas insiden yang terjadi. Kebencianmu muncul timbul dan tenggelam. Pesanku sebelum pergi mengusik dirimu, seluruh momen yang telah terjadi dalam hidupmu terngiang kembali, dirimu perlahan membuka diri dari kebutaanmu atas tragedi masa lalu.

Skenario itu kau gagalkan sendiri. Dirimu menyadari ini adalah suatu bentuk kesalahan. Kebencianmu sama seperti apa yang telah kualami. Amarah yang dulu pernah membuatmu lelaki idamanmu meninggal itu telah berimbas sama seperti amarah yang kini membuatmu buta melakukan kekacauan ini. Amarah yang sama ini selalu meminta merenggut nyawa.

***

Teman yang selalu mendukungku mengejar-kejar dirimu, gadis yang mendedikasikan hidupnya untukku dan berharap pinangan dariku, segenap kehangatan dari keluarga dan orang-orang terdekat di Banaras, dan juga dirimu yang selalu membuatku terpesona, oh betapa sungguh menyedihkannya untuk berpisah dari semuanya itu.

Akan tetapi, aku telah mencapai rasa lelah yang teramat sangat. Kekacauan demi kekacauan telah terjadi hanya karena kenaifan cinta yang tak terkendali. Enam belas kali tamparan telah kauberikan untukku karena telah lancang berusaha mendekatimu dan untuk kali ini rasanya sudah menjadi tamparan terakhir darimu untuk menuntaskan kesemuanya. Namun, jika ada kesempatan untuk hidup kembali, maka aku tak jemu untuk dapat bertemu dengan sosok sepertimu, mengejar cintamu kembali, dan ya semoga kisah semacam itu dapat berakhir bahagia, kisah yang benar-benar layak untuk semua usia, menepis semua perbedaan, dan menghangatkan gegap gempita Banaras.

imagesPainan, 2 September 2013, 21.30

 *tulisan ini terinspirasi oleh alur plot film dan urutan lagu soundtrack film Raanjhanaa (2013)

devdas : a grand saga of timeless love

gal-1293530214devdas_posterBagai Pelita yang Tak Pernah Padam

Selang jarak dan waktu telah memisahkan kita dan selama itu pula kau tetap menungguku. Kesetiaan itu begitu naif, polos, dan lugu. Kau wujudkan kesetiaanmu itu dalam nyala pelita yang kau jaga. Ah, sungguh aku tak mengerti. Bagaimana rasa ini terjalin di antara kita, tumbuh dan berkembang seiring waktu. Padahal jarak dan waktu telah menjadi dinding pembatas yang begitu jelas, tetapi tetap saja ia terus menembus batas. Rasa itulah menghubungkan kita dan seakan terus menyala bagai pelita yang terus kau jaga untuk tak pernah padam…

Kekasih yang Sungguh Kejam

Maka takdir pun mempertemukan kita kembali. Di saat kita sudah paham dan memahami bahwa apa yang telah lalu bukanlah sekadar keluguan belaka. Rasa itu jelas bertambah menguat dan menjadikan setiap momen bersamamu adalah hal yang begitu kukenang. Namun, adakalanya kau begitu mempermainkan perasaanku. Keangkuhanmu sesekali membuyarkan tanda-tanda rasa di antara kita. Entah sengaja atau tidak, kau buat aku seakan tak berdaya oleh pesonamu. Takluk dan tunduk. Dan kau pun sangat pandai mempermainkanku. Sungguh, dirimu adalah kekasih yang sungguh kejam.

Adakah kau tahu bahwa sebenar-benarnya diriku sangat mendamba dirimu? Seraya kupanjatkan keluh kepada Tuhan, bagaimanakah aku menyampaikan ini padanya? Kepada siapakah aku dapat mengutarakan kegundahan ini? Ah, tidak ada satu pun yang mengetahuinya. Lebih baiknya kupendam saja ini sendiri…

Kaulah Milikku

Lihatlah kemudian, betapa hatiku ini penuh dengan rasa ketakutan. Hari demi hari, aku kupupuk perasaan ini dengan hati-hati. Ada ketakutan membayangi diri. Akankah kau benar-benar nantinya menjadi milikku? Aku begitu takut kehilangan dirimu, begitu takut apabila tak bisa memiliki dirimu. Dan rasa itu pun menyeruak merasuk ke dalam lubuk kalbu. Sekelebat pikiran terus menggelayuti dan angan-angan semakin menguat bahwa engkaulah milikku nantinya. Aku terbutakan oleh perasaanku tanpa kusadari. Aku begitu posesif untuk menginginkan dirimu…

Kenapa Dia Menggodaku

Semuanya seakan berputar terbalik. Angan tinggallah sekadar menjadi angan belaka. Apa yang kuimpikan menjadi sirna. Ternyata takdir tak ingin menyatukan kita berdua. Ketakutanku telah mewujud menjadi nyata kala kutahu bahwa tak ada yang menghendaki hubungan di antara kita berdua ini. Sudahlah, aku memilih lari dari kenyataan. Cukup penat kurasakan begitu peliknya takdir ini. Aku begitu kalah dalam semua hal ini. Aku menjadi pecundang.

Dan entahlah tiba-tiba dari mana datangnya sosok penghibur itu. Dia menari-nari dan bersenandung akan kisah cinta yang begitu syahdu. Kisah tentang Khrisna yang tergoda oleh pesona kecantikan sang Radha. Ah, apa sang penghibur itu berpikir bahwa dirinya seolah-olah sang Radha yang sedang menggodaku? Tak tahukah dia bahwa karena cintalah diriku merana? Terlalu, dirinya sungguh terlalu. Aku juga tak mau digoda oleh penghibur picisan seperti dirinya. Walau sempat terlintas pertanyaan di benakku, kenapa dia mau menggodaku? Apa yang bisa ia harapkan dari seorang pecundang seperti aku ini?

Aku Akan Mencintaimu Selamanya

Aku pun memberanikan diri untuk menghampiri dirimu sekali lagi kala momen itu sudah pasti akan memisahkan kita. Aku tak peduli sebenarnya sudah seterlambat apakah aku ini, yang jelas aku masih melihat ada kesempatan untuk kita bersatu nantinya. Aku memegang harapan semu itu dan ya sekali lagi kenaifanku akanmu begitu menguasaiku.

Kau pun berbicara padaku. Dengan getir terasa pada setiap ucapanmu, kau utarakan bahwa semuanya sudah terlambat. Kesempatan itu adalah hal yang sungguh mustahil untuk tercapai. Pemisah yang jelas sudah berada di antara kita. Momen itu akan segera tiba dan kau pun memilih untuk tetap menjalaninya. Luka-luka di masa lalu masih begitu menganga bagimu, walau kutahu semburat cinta itu masih ada di matamu.

Semburat cinta itulah yang kubekaskan padamu dengan sebentuk tanda nyata. Tanda yang menjadi pengenang akan apa yang selama ini telah kita lalui, tanda yang menjadi pengenang akan rasa yang dulu pernah tumbuh. Kenangan itu janganlah kau hapus dalam memorimu. Bagaimanapun jua aku adalah bagian dari masa lalumu dan aku memilih untuk mencintaimu selamanya walau pembatas yang jelas itu benar-benar menjadi halangan untuk kita bersatu. Aku akan mencintaimu selamanya…

Kenikmatan ini Membunuhku

Hahaha aku sungguh terbutakan oleh cintaku padamu. Ironi kelam ini menjadi suatu hal yang terus menghantui diriku. Aku begitu rapuh olehnya, tak kuasa kutahan semua derita karena cinta yang bertepuk sebelah tangan ini.

Maka sang penghibur pun kembali di hadapanku. Dia pun bersenandung sembari menari gemulai untuk menghibur pesakitanku. Sungguh seakan-akan tariannya menjadi hal yang manjur untukku melupakan dirimu. Namun, kemanjuran itu sebenar-benarnya adalah petaka manakala kupilih diriku untuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Sembari menikmati tarian penghibur itu, aku nikmati pula sedikit demi sedikit tetes-tetes minuman keras.

Kenikmatan inilah yang membunuhku. Dengan cara seperti ini, sekilas aku bisa melupakan sengsara karenamu. Nikmat rasanya, namun perlahan tapi pasti, ia menggerogoti kesempatan hidupku. Aku sungguh tak peduli dengan kehidupan ini. Biar kenikmatan haram ini menjadikan pembunuh bagiku, asal aku dapat melupakan sengsara ini.

Wajahmu Serupa Rembulan Membayangi Anganku

Kesadaranku kian hari kian payah. Di pikiranku yang tersisa hanyalah angan-angan untuk bersama dirimu. Wajahmu terus terbayang. Apalagi di saat malam purnama nan terang benderang, sosokmu seakan hadir di hadapanku. Ya, wajahmu serupa rembulan itu. Sungguh cantik dan mempesona. Hanya saja, aku sadari kemudian diriku hanyalah ibarat pungguk yang merindukan rembulan. Tak akan pernah bersatu…

Berdebar dan Bergejolak

Dirimu dan sang penghibur pun bertemu, membicarakan tentangku, dan saling bertutur cerita. Kau tak rela aku berkubang dalam kenistaan ini. Kau pun datang menghampiri sang penghibur dan memintanya untuk mengembalikanku. Hahaha percuma saja apa yang kau lakukan. Aku tak ada bersamanya, aku menghilang sementara waktu ini karena sebenarnya pula aku tak tahan terus berlama-lama bersama sang penghibur itu. Kenikmatan bersamanya itu kurasakan menjadi alat pembunuh bagiku.

Usahamu gagal, tetapi kau dapatkan arti pertemanan dengan sang penghibur itu. Kau menemukan sosok yang sama sepertimu, terperangkap dalam masa lalu cinta dengan sang pecundang seperti diriku ini. Maka kau dan dia pun saling mengutarakan isi hati, menyanyi dalam gegap gempita perayaan cinta, menebarkan setiap debaran dan gejolak yang kalian rasa.

Tak tahukah kalian, debaran dan gejolak yang kalian nyanyikan itu nun jauh dari tempatku berada itu hanyalah kesia-siaan belaka karena begitu kurasa tak ada gunanya aku hidup di dunia ini? Sedari awal sudah terlanjur aku menenggelamkan diri dalam sengsara ini dan inginku sengsara ini cepat kuakhiri…

Semarak Bunyi-bunyian

Sepertinya aku hanya tinggal menghitung hari lagi. Semakin singkat rasanya nafas ini masih dapat terhembus. Ah, dalam waktu yang tinggal sedikit ini, baiklah kiranya aku bersenang-senang diri saja. Menyanyikan suatu senandung pelipur lara bersama teman-teman sembari menikmati berdencingnya bunyian botol-botol minuman keras yang saling beradu sehabis kami minum bersama.

Semarak bunyi-bunyian itu menggembirakan kami. Senandung pun melantun dengan sendirinya mengisahkan tentang sengsaranya kisah cintaku. Sungguh suatu bentuk pelampiasan diri yang tepat untuk meluapkan semua ini. Aku gembira walau sesaat dengan gegap gempitanya suasana, aku sedih melantukan kisah akan diriku. Hahaha semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Sang penghibur pun datang kembali. Ah, dirinya kini seakan-akan sosok Meera, sang pemuja Khrisna, walau dirinya tahu Khrisna dan Radha adalah pasangan sejati. Seperti Meera, dia pun menyenandungkan kegembiraannya bersamaku. Menari, bercanda, tertawa, menghibur diriku.

Aku pun larut dalam suasana itu sampai tak kusadari kesakitanku sudah berada pada puncaknya. Tubuhku ini tidak kuat lagi menahan binasa dari minuman keras yang masuk ke dalamnya. Aku pun sekarat dan sudah merasakan ajal ini begitu dekat.

Saat Terakhir

Sebagaimana janji yang pernah terucap, aku akan datang menghampirimu di saat akhir kehidupanku. Menemuimu dan memberikanmu kesempatan untuk merawatku di saat-saat terakhirku sebagaimana yang kau pinta. Aku kira inilah waktunya, aku pun menuju tempatmu dalam keadaan sangat sekarat. Aku pun sampai di depan pintu kediamanmu dan tergeletak menunggu kehadiranmu.

Begitu lama kumenunggu kau hadir di hadapanku. Kesadaranku timbul tenggelam dalam penantian ini. Ah, apakah kau tak sadar aku menunggumu? Aku menyahutmu dengan rintih dan energi yang masih tersisa. Hanya itu yang bisa kulakukan dan semoga kau mendengarnya.

Maka kau pun merasa ada keganjalan di hari itu. Kau pun mencari tahu dan akhirnya kau mengetahui keberadaanku pula. Seketikanya itu, kau pun berlari, mengejar kesempatan yang mungkin saja tak akan bisa terkejar lagi. Sekilas dari kejauhan kulihat dirimu menghampiriku, akan tetapi pintu kediamanmu mulai ditutup.

Kau terus berlari dan mengencangkan langkah demi langkah untuk menggapaiku. Teriakanmu dan tangismu menggema ke seluruh penjuru. Namun, pintu itu semakin tertutup, hingga akhirnya menjadi pembatas yang jelas sebagaimana jarak dan waktu yang dulu pernah memisahkan kita.

Pelita itu pun seketikanya padam dan hembusan nafas pun sudah menjadi yang terakhir kalinya…

images2Painan, 23 Agustus 2011, 23.40

*tulisan ini terinspirasi oleh alur plot film dan urutan lagu soundtrack film Devdas (2002)