berdamai dengan apa yang telah terjadi

Kecewa itu wajar muncul ketika realita tak sesuai dengan harapan. Walaupun sudah bersiap akan segala kemungkinan yang terjadi, realita bisa jadi menghantam lebih keras di luar dugaan. Persiapan yang sematang atau serinci apa pun itu tetaplah tak bisa memastikan tentang bagaimana hasil yang akan diperoleh. Ada kuasa-kuasa lain yang turut berpengaruh terhadap suatu hasil selain apa yang telah diusahakan diri.

Bukanlah hal yang mudah untuk dapat menyikapi kegagalan. Apalagi jika kegagalan atas apa yang telah diusahakan itu telah menyisakan perasaan kecewa yang begitu dalam. Tidak semua kegagalan itu bisa dianggap seperti angin yang telah berlalu begitu saja. Pada beberapa kejadian yang sangat sentimental, kekecewaan yang membekas dapat membentuk trauma. Pahitnya kegagalan membuat tak ingin untuk dirasakan kembali. Hal inilah yang membuat trauma itu muncul.

Bangkit dari kegagalan membutuhkan usaha yang keras apalagi jika ada trauma yang menghantui. Bayangan masa lalu tentang apa yang sudah terjadi akan terus mengintai dalam setiap langkah mencoba memulai kembali perjuangan. Seringnya dampak dari suatu kegagalan mengantarkan pada kelelahan, kemuraman, dan kepasrahan dengan apa yang telah diterima. Lelah muncul dengan energi yang sudah terkuras dinilai sia-sia tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Muram terjadi dengan menerawang masa depan yang tak lagi indah dan berat untuk dijalani. Kelelahan dan kemuraman ini rentan menyebabkan kepasrahan. Pasrah menerima inilah garis suratan takdir sebagai orang yang gagal, tak perlu lagi berusaha untuk memperbaiki, dan semakin acuh dengan keadaan sekitar.

Trauma yang membekas dalam tentang kegagalan akibat dari rasa kecewa yang berlebihan itu menyebabkan orang yang mengalaminya hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Kemampuan untuk berempati dengan lingkungan sekitar semakin berkurang. Bahkan, tak jarang terbentuk pikiran bahwa tak ada satu orang pun yang berempati dengan kegagalan yang telah terjadi. Inilah bentuk kesendirian yang tidak baik, terkungkung dengan sempitnya cara berpikir dan asumsi liar yang dibentuk sendiri. Jika sudah terjadi demikian, nasihat dari orang lain akan ditolak mentah-mentah dan diri tetap bertahan dengan konyolnya untuk berkabung atas kegagalan yang entah kapan akan berakhir.

Tidak baik untuk meratapi kegagalan dalam waktu yang lama. Semakin lama waktu untuk bertahan dengan keadaan yang sama atas kegagalan yang terjadi, semakin menguatkan trauma yang terbentuk jauh di dalam benak alam bawah sadar. Pikiran harus kembali dibuka untuk melihat peluang-peluang perbaikan yang bisa dilakukan. Tidak ada kegagalan yang abadi dan terus menerus terjadi. Percayalah, sebagaimana pepatah menyebutkan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Perlu usaha kesekian kalinya untuk dapat bangkit dari kegagalan karena kegagalan adalah hal yang sebenarnya biasa dan maklum terjadi. Tidak ada yang sia-sia dalam usaha yang telah dilakukan, semua itu telah memberikan pelajaran berharga tersendiri.

Yang menentukan untuk dapat mengakhiri masa berduka atas kegagalan adalah diri sendiri. Bisa jadi dengan dibukanya pikiran akan menghadirkan inspirasi-inspirasi dari pihak lain untuk berubah, tetapi kesemuanya itu kembali pada diri sendiri. Hal penting yang perlu dilakukan untuk pertama kali adalah berdamai dengan apa yang telah terjadi. Damai yang dimaksud ini bukanlah tentang kepasrahan. Damai ini adalah mengarifi dengan bijak bahwa kegagalan telah terjadi dan sesegeranya untuk beranjak bangkit kembali memulai lembaran baru.

Yang telah terjadi biarlah terjadi. Yang lalu tak akan bisa diubah lagi, tetapi untuk selanjutnya harus bersemangat kembali untuk mengupayakan keadaan yang lebih baik dan harus tetap percaya bahwa harapan itu masih ada. Keberhasilan itu suatu saat akan terjadi, hanyalah persoalan waktunya saja yang tak tahu kapan akan dirasakan. Usaha demi usaha harus selalu diupayakan untuk memperbaiki keadaan. Jangan mau untuk terjebak pada kubangan kekalahan. Lawan arus negativitas yang selalu mencoba memengaruhi untuk tak melakukan usaha apa pun. Terus bangun dan bakar semangat memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.

Damai itu indah. Akan ada kelegaan dan kenikmatan tersendiri dalam berdamai dengan apa yang telah terjadi. Hasil yang didapat tak lagi menjadi persoalan, realita dapat diterima walau ia kentara jauh dari harapan. Keikhlasan menjadi sikap utama yang ditonjolkan. Menyadari tentang apa yang salah dan konsekuensi apa yang menyertai adalah bentuk kedewasaan diri. Tak perlu mengungkit-ungkit kesalahan atau menyesal secara berlebihan karena itu akan menguras energi. Cukup menyadarinya saja dan berusaha untuk tak mengulanginya saja.

Tersenyumlah pada masa lalu walau ia pernah memberikan luka yang menyayat. Dengan lukanya itu telah membekas guratan hikmah yang dikenang dengan sebaik-baiknya sikap. Mengingatnya kembali tak akan menghadirkan sakit yang sama karena semua telah disudahi dengan perdamaian yang indah.

Malang, 27 Juni 2018 22.24

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s