dua sembilan : untuk terus memperbaiki diri

Angka itu telah bertambah kini. Hanya bertambah satu saja sebenarnya, tetapi dalam penambahannya itu telah banyak hal yang terjadi. Terasa ada kontradiksi yang nyata pada rentang periode waktu yang telah dilewati. Ia cepat berlalu. Akan tetapi dengan kepadatan segala macam peristiwa di dalamnya, lamban rasanya untuk dapat mengurainya kembali. Pada kenyataannya, bertambahnya angka ini adalah berkurangnya kesempatan jatah hidup dari yang telah ditentukan. Angka demi angka dari usia yang terus berjalan, menunjukkan bahwa pada kehidupan yang telah dijalani telah sedemikian banyaknya hal yang telah terjadi.

Dua sembilan. Angka itulah yang kini dienyam oleh diri. Pada usia yang nyaris menginjak tiga dasawarsa lamanya, perlu ada satu titik untuk berhenti dan menerawang kembali semua kilasan kejadian dalam hidup. Seperti kumpulan benang-benang yang kusut, mengurai kejadian demi kejadian itu tidaklah mudah. Sangat mungkin ada yang terlewat dan terlalu rumit untuk dapat diurai menjadi suatu garis lurus kesimpulan. Garis ini yang dibutuhkan untuk dapat menghubungkan antara apa yang telah berlalu dengan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pada titik pemberhentian sementara ini, dibutuhkan garis lurus yang menjadi pedoman agar tak goyah dalam berpribadi, memperkaya diri dengan hikmah pengalaman yang berharga, dan selalu berusaha menjadi insan terbaik dalam segala langkah yang dihadapi.

Lalu, apa yang didapati dari kilasan peristiwa lampau di masa dahulu?

Pada kilasan yang pertama, muncul bayangan tentang apa yang telah dilakukan diri sebagai seorang ayah dan pemimpin keluarga. Ini menjadi perubahan drastis yang kentara berbeda daripada usia sebelumnya. Kehadiran buah hati untuk pertama kalinya telah memberikan semarak dalam hidup. Peranan yang baru membutuhkan pembelajaran berkelanjutan. Dalam melakukannya seringkali ada kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan atau kurangnya perhatian. Walaupun begitu, sungguh kebahagiaan yang tidak ada duanya manakala melihat perkembangannya hari demi hari.

Anak adalah amanah Tuhan yang harus dirawat dengan baik. Anak menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya yang terus dikumandangkan dalam doa. Anak merupakan generasi pelanjut yang diharapkan menjadi insan yang terbaik. Dengan demikian, seorang ayah harus benar-benar mendedikasikan pengajaran nilai kehidupan dan limpahan kasih sayang yang terbaik untuk anaknya. Walaupun untuk melakukannya, tentu akan menguras banyak energi baik itu dari secara fisik maupun mental. Pesan yang berharga untuk perjalanan kehidupan selanjutnya adalah harus lebih banyak berkorban lagi demi kebahagiaan keluarga, perlu totalitas dengan lebih menyediakan waktu dan metode terbaik membersamai keluarga. Pesan ini menjadi satu simpulan yang dapat dirangkai untuk menjadi suatu garis yang lurus.

Pada kilasan yang kedua, muncul bayangan tentang apa yang telah dijalani diri dari jenjang pendidikan terkini. Saat ini sudah memasuki masa akhir dari pendidikan. Dua tahun telah berjalan dengan sekian banyak hal-hal baru yang harus dipelajari. Wawasan keilmuan telah berkembang dan membutuhkan pembuktian dengan adanya tugas akhir. Dalam pengerjaannya, diperlukan kesungguhan untuk memastikan selalu ada kemajuan yang telah diperoleh. Tahap demi tahap harus ditempuh dengan sebaik mungkin. Jika ada kesalahan harus segera diperbaiki, jangan sampai menunda-nunda untuk dikerjakan. Selain itu, harus senantiasa sabar dalam berkomunikasi dengan pihak lain dan tidak boleh tergesa-gesa.

Tugas akhir menjadi penentu kelulusan dari jenjang pendidikan yang telah ditempuh. Tugas akhir menuntut adanya kontribusi nyata untuk perbaikan organisasi yang diteliti. Tugas akhir adalah rangkuman yang menguji pemahaman akademis dari seluruh proses pembelajaran yang telah diperoleh. Sehingga, dalam menyusunnya perlu tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikannya dengan baik, lancar, dan tepat pada waktunya. Ada kalanya memang ditemui berbagai hambatan yang mengganggu penyelesaian tugas ini, tetapi harus segera berbenah dan bangkit kembali untuk mengatasinya. Ini menjadi pesan dalam simpulan yang kedua pada rangkaian garis lurus yang telah terurai.

Pada kilasan yang ketiga, muncul bayangan tentang peran-peran apa yang telah dilakukan diri pada masyarakat. Dalam mengembangkan kapasitas dan potensi diri, tak bisa hanya terus berkutat pada peranan yang telah dilakukan pada keluarga dan pekerjaan semata. Ada tuntutan peran yang lebih luas daripada hal itu, yaitu pada masyarakat. Sebagai bagian di dalamnya, harus ada kebaikan dalam diri yang dibagikan kepada khalayak umum yang lebih luas. Bentuknya adalah dengan keterlibatan pada kegiatan-kegiatan positif, saling berinteraksi dan berbagi dalam kebaikan. Keterlibatan itu tentunya membutuhkan pengasahan potensi dan keterampilan yang sesuai. Keahlian semacam mampu berbicara di hadapan publik dengan baik, mengungkapkan opini dalam bentuk tulisan, dan melakukan aksi nyata lainnya untuk memberikan perubahan itu perlu dilatih dan terus dikembangkan.

Melatih diri untuk lebih terbuka dengan lingkungan sekitar merupakan hal yang sepatutnya dilakukan untuk dapat diakui keberadaan diri pada masyarakat. Memberanikan diri untuk mengungkapkan pendapat dengan penuturan yang terbaik adalah salah satu upaya terlibat dalam memberikan kontribusi perubahan kepada masyarakat ke arah yang lebih baik. Dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial akan menjadikan diri lebih kaya dengan pengalaman-pengalaman berharga dan patut untuk dikenang. Masyarakat yang madani terbentuk dari berkumpulnya insan-insan yang aktif terlibat dalam gerakan kebaikan. Tentu ada harapan besar pada diri untuk menjadi salah satu insan yang dimaksud tersebut. Harapan ini menjadi pesan yang perlu untuk senantiasa diingat dan diperhatikan untuk ditindaklanjuti. Peranan dalam masyarakat yang lebih aktif lagi disertai dengan pelatihan yang memadai menjadi pesan simpulan ketiga yang didapati.

Pemberhentian sementara ini telah menyimpulkan tiga pesan yang tertaut pada suatu garis lurus. Mungkin masih banyak pesan yang bisa diambil dalam kekusutan peristiwa yang belum terurai. Namun, tidak boleh berlama-lama dalam pemberhentian ini. Waktu terus berjalan dan semakin bertumpuknya peristiwa-peristiwa yang terjadi rentan menyebabkan keruwetan yang lebih bermasalah. Cukup tiga simpulan pesan ini dulu saja. Dari ketiganya itu, sebenarnya bisa disederhanakan menjadi satu pesan utama. Pesan utama itu adalah teruslah belajar pada angka-angka usia yang terus bertambah.

Tidak ada sosok yang sempurna, pasti di dalam dirinya terdapat satu paket berupa kelebihan dan kekurangan. Paket inilah yang menjadi bekal untuk belajar. Kelebihan yang dimiliki dijadikan untuk belajar berbagi kepada sesama dan kekurangan yang ada dijadikan untuk belajar terus menerus mengatasinya dengan cara yang tepat. Bisa jadi akan ada banyak peristiwa yang membuat diri terhentak dan jatuh dengan kekurangan yang ada. Walaupun begitu, harus dibangun kepercayaan diri untuk bangkit kembali dan belajar untuk menangani apa yang bisa diperbaiki.

Kesiapan diri juga menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Tanpa persiapan akan ditemui lebih rumit permasalahan yang dihadapi. Apa pun yang terjadi dalam hidup, harus siap untuk dihadapi. Permasalahan yang muncul kemudian bukan untuk dikeluhkan atau diratapi kesulitannya. Lebih tegarlah untuk menghadapi semuanya dan yakinlah untuk dapat melewati semua rintangan yang ada.

Angka dua sembilan inilah yang sekarang ada pada diri. Apakah angka usia ini masih akan bertambah lagi selanjutnya? Tak ada yang tahu kecuali Yang Maha Kuasa. Jika dengan rahmat dan izin-Nya masih diberikan kesempatan untuk melewati angka usia yang selanjutnya, semoga diri memperhatikan benar tiga simpulan pesan yang telah diperoleh. Hingga kemudian pada angka usia yang selanjutnya, tiga dasawarsa, semoga terbentuk karakter insan yang lebih baik lagi pada diri.

Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, jangan disia-siakan karena dialah ladang untuk dunia akhirat. Hidup bukan untuk hanya mengalir saja mengikuti arus, tetapi dikendalikan menuju arah mau dibawa ke mana tujuan pamungkas yang diinginkan. Angka usia sepatutnya menjadi patokan untuk terus memperbaiki diri. Berhenti untuk introspeksi pada angka usia yang bertambah, liat kembali kilasan peristiwa yang terjadi, dan ambil pesan simpulan apa yang menjadi pegangan untuk masa mendatang.

Malang, 2 Juni 2018 14.46

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s