kuliah kembali : bertemu lagi dengan akuntansi

Alhamdulillah sudah berjalan satu tahun masa pendidikan tugas belajar S-1 yang sedang saya jalani pada jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Menempuh jenjang pendidikan ini setelah sekitar 6 tahun tidak mengecap bangku kuliah, ada suka-duka tersendiri yang saya alami. Sebelumnya saya lulus dari jenjang Diploma III spesialisasi Akuntansi pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (Politeknik Keuangan Negara STAN, sekarang) di tahun 2010. Perjalanan hidup yang kemudian mengantarkan saya bertemu kembali dengan akuntansi ini merupakan satu bagian yang hendak saya kenang bagaimana hingga saya dapat meraih kesempatan ini.

Melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dulu termasuk hal yang membuat saya banyak berpikir untuk memutuskannya. Banyak kesempatan dan alternatif yang tersedia untuk dapat diambil, namun seringnya terjadi tarik-ulur untuk berusaha meraihnya hingga tanpa disadari waktu berjalan hingga 6 tahun lamanya. Sebagai lulusan STAN yang terikat dengan peraturan mengenai kedinasan dan instansi tempat saya bekerja, saya tidak diperbolehkan untuk langsung melanjutkan pendidikan setelah tamat program diploma. Menurut aturan saat itu, saya baru diperbolehkan melanjutkan kuliah setelah dua tahun dari masa kerja.

Pada tahun 2012-lah, kesempatan itu datang pertama kalinya dengan dibukanya seleksi program diploma IV STAN. Saya mengikutinya dengan persiapan yang belum optimal karena saat itu pekerjaan begitu masif pada akhir tahun anggaran. Hasilnya saya tidak lolos pada seleksi tersebut. Sangat mengecewakan bagi saya saat itu, apalagi dengan adanya rekan sejawat yang dinyatakan lolos. Memang kemudian pada tahun selanjutnya, tahun 2013, seleksi DIV STAN dibuka kembali dan lagi-lagi pada penghujung tahun. Saya mengikutinya kembali dan mengalami kegagalan juga.

Tahun 2014, pengumuman mengenai seleksi penerimaan mahasiswa tugas belajar/beasiswa semakin banyak, baik itu DIV STAN, S-1 STAR BPKP, dan lainnya. Di tahun inilah juga berdasarkan aturan, saya diperbolehkan untuk menjalani pendidikan ke jenjang lebih tinggi atas inisiatif sendiri, bukan tugas belajar atau sederhananya kerja sambil kuliah yang nantinya diakui oleh instansi. Namun sayangnya pada saat itu, saya kurang bersemangat untuk dapat bangkit belajar kembali setelah dua kali kegagalan berturut-turut. Pada tahun itu pula, pekerjaan saya semakin bertambah dan kompleks, sehingga seringkali saya terlampau fokus pada pekerjaan.

Barulah kemudian pada tahun selanjutnya, 2015, saya tertarik dengan seleksi penerimaan beasiswa internal instansi saya. Sebelumnya di tahun 2014 juga sudah diumumkan seleksi serupa, namun saya belum memenuhi persyaratan, yaitu dua tahun masa PNS. Seleksi penerimaan ini bekerjasama dengan beberapa universitas ternama di Indonesia dan skemanya juga masih tugas belajar. Saya cenderung untuk mengejar skema tugas belajar karena saya tidak yakin apabila mengambil skema pendidikan atas inisiatif sendiri apakah saya mampu membagi waktu dan tenaga untuk bekerja sekaligus kuliah.

Seleksi penerimaan beasiswa internal S-1 Direktorat Jenderal Perbendaharaan tahun 2015 pun saya ikuti. Bentuknya hampir serupa dengan tes seleksi DIV STAN pada saat itu dengan  ujian TOEFL dan Tes Potensi Akademik (TPA) menjadi bahan ujian ditambah psikotes. Perbedaan yang cukup menjadi kendala adalah lokasi ujiannya. Untuk ujian DIV biasanya diselenggarakan di Padang (yang lebih dekat dengan kota tempat saya tugas saat itu, Painan), sedangkan seleksi S-1 ini diselenggarakan di Medan dengan ongkos perjalanan ditanggung oleh peserta sendiri. Perbedaan lainnya pada kekuatan persaingan, seleksi DIV merupakan seleksi yang ketat dengan jumlah peminat yang lebih banyak dan meliputi seluruh eselon I pada Kementerian Keuangan, sedangkan pada seleksi internal peminatnya lebih sedikit dengan kemungkinan diterima yang lebih besar (peserta hanya dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan saja).

Walaupun saya sudah membekali diri dengan persiapan yang lebih baik daripada pengalaman saya ikut seleksi DIV dulu, sayangnya saya dinyatakan tidak lolos dalam seleksi internal pada tahun ini. Menanggapi kegagalan ini, saya tidak terlalu ambil pusing dan kembali sibuk dengan pekerjaan. Barulah pada tahun 2016, seleksi penerimaan beasiswa internal dibuka kembali dan saya mengikutinya. Tahun ini adalah tahun spesial bagi saya dengan status saya yang sudah tidak single lagi, sudah ada pendamping hidup yang selalu mendukung saya.

Memang pada tahun 2016 ini, persiapan saya lebih santai dan saya sudah lebih legowo dengan apapun hasilnya dari seleksi ini. Pada seleksi-seleksi sebelumnya saya selalu dihantui dengan ketakutan akan kegagalan, namun pada tes kali ini tidak saya temui hal serupa. Dukungan psikis dan doa dari istri selalu menguatkan saya. Dari tes pertama pada seleksi ini, yaitu seleksi administratif, berlanjut ujian tertulis, dan akhirnya seleksi wawancara saya lalui, selalu ada keoptimisan yang menjadi penyemangat saya. Hingga kemudian diumumkan kandidat final untuk penerima beasiswa internal S-1 pada tahun 2016, nama saya muncul di dalamnya dengan jurusan yang diterima pada Akuntansi Universitas Brawijaya (UB), Malang.

Ya, saya memilih Akuntansi kembali. Padahal untuk seleksi S-1 ini jurusan yang ditawarkan tidak hanya akuntansi saja. Sengaja saya memilih akuntansi karena dalam urusan pekerjaan saya rupanya sangat bersinggungan dengan urusan akuntansi ini. Pada masa-masa awal saya bekerja dulu sebagai bendahara sekaligus penyusun laporan keuangan kantor, jelas pemahaman akuntansi sangat dibutuhkan untuk dapat melakukannya. Kemudian saat saya dipindahkan pada seksi Verifikasi, Akuntansi, dan Kepatuhan Internal, dari namanya saja pekerjaan saya hampir selalu berkaitan dengan akuntansi. Bahkan saat itu, saya pun ditugaskan untuk berbagi ilmu dan wawasan mengenai akuntansi yang diterapkan pemerintah untuk operator satuan kerja dalam bentuk sosialisasi/pendampingan/bimbingan teknis. Walaupun ada kalanya akuntansi terasa menjemukan dan rumit, tetapi saya merasakan akuntansi adalah pilihan yang tepat.

Dalam perjalanan pendidikan lanjutan ini, saya temui akuntansi lebih luas lagi cakupannya dan lebih menantang. Dengan jeda selama sekitar 6 tahun tidak kuliah, seringkali membuat saya susah menyesuaikan dengan pola akademis yang sangat intens dengan diskusi, penugasan, dan media olah pikiran lainnya. Materi-materi yang saya dapati untuk perkuliahan S-1 ini juga lebih kompleks dari yang saya pelajari dulu di D-III STAN. Walaupun hampir serupa konsentrasi/spesialisasinya untuk akuntansi sektor publik/pemerintahan, materi akuntansi STAN sangat dominan dengan praktek terapan baku dari akuntansi pemerintahan yang ada di Indonesia, sedangkan materi akuntansi S-1 UB ini lebih luas cakupannya dengan memperkenalkan keterkaitan dengan materi-materi lainnya. Hal yang cukup memberikan perbedaan lainnya adalah pengalaman pekerjaan saya dulu dengan akuntansi menjadikan saya lebih paham dan terbuka mengenai bagaimana penerapan teori akuntansi pada prakteknya ketimbang dulu saat D-III hanya mengenal teorinya saja, belum dapat membandingkan dengan praktek yang ada di lapangan.

Sekarang tersisa dua semester (satu tahun) lagi yang harus saya jalani untuk dapat menyelesaikan jenjang S-1 ini. Dalam perjalanan menuju akhir ini, semakin intens dan rasanya hampir mendekati klimaks. Walaupun skema tugas belajar membebaskan pegawai untuk fokus pada kuliah tidak perlu bekerja, tetap saja membutuhkan perhatian yang khusus untuk mendapatkan hasil yang optimal. Beberapa waktu yang lalu, sempat tubuh saya drop dan mengalami sakit demam berdarah sekaligus typhus yang sepertinya disebabkan oleh bertubi-tubinya beban akademik. Dari pengalaman ini, menjadikan saya harus lebih menyeimbangkan sesuatunya.

Saya menginginkan hasil yang terbaik dari perkuliahan yang saya tempuh pada beasiswa internal S-1 ini, tidak semata mengenai IPK yang bagus, tetapi juga pemahaman yang lebih mumpuni untuk diterapkan pada dunia pekerjaan selanjutnya. Mengingat kesempatan beasiswa ini juga merupakan kesempatan yang berharga dan saya dapatkan setelah penantian yang lama, sehingga tidak boleh disia-siakan tentunya. Semoga untuk bagian selanjutnya dapat saya jalani lebih lancar dan baik lagi hingga pada akhirnya nanti.

(dalam hitungan hari sebelum Semester 3 dari program 4 semester akan dimulai)

Malang, 24 Agustus 2017

Iklan

4 thoughts on “kuliah kembali : bertemu lagi dengan akuntansi

    • Syarat bisa berubah setiap tahunnya.. per tahun kemarin terakhir saya lupa bgmn syaratnya.. tapi sepertinya sih ada ketentuannya mengenai tinggi badan ini.. bisa disearch di internet dan pastikan sumbernya dari web kemenkeu langsung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s