untuk menulis kembali

Sudah lama saya membiarkan blog ini seperti rumah kosong yang ditinggalkan oleh penghuninya. Tercatat postingan saya terakhir pada bulan Januari 2017 lalu, yang berarti hampir tujuh bulan lamanya blog ini terbengkalai. Sangat disayangkan memang. Semula saya menginginkan untuk dapat rajin mengisi blog ini dalam basis harian, nyatanya terlampau lama ditinggal hingga berbulan-bulan baru dapat diisi kembali.

Sebenarnya ada banyak hal yang hendak saya ceritakan dan dituangkan dalam postingan blog, namun kesemuanya berhenti pada sebatas gagasan saja. Tidak dikembangkan, ditindaklanjuti, dilakukan, hingga kemudian gagasan itu pergi lenyap entah ke mana. Pun untuk sekadar bercerita berbagi pengalaman peristiwa-peristiwa yang saya alami pun juga urung direalisasikan. Padahal dulunya berbagi cerita semacam ini begitu mudah saya lakukan dan bagi melalui blog. Apalagi niatan saya untuk mendokumentasikan kenangan peristiwa berharga dalam kehidupan saya melalui blog begitu kuat di jaman dulu. Sekarang ini? Perlu berpikir sampai berkali-kali untuk dapat menuangkan tulisan yang sekadar berbagi kenangan dan pengalaman.

Hal inilah yang membuat saya perlu melakukan introspeksi. Ada apakah yang terjadi? Kenapa sangat jarang mengisi blog lagi? Belakangan saya merasa malu dan tidak relevan lagi jika saya menyebutkan hobi saya adalah menulis melalui media blog. Itu hobi saya yang sudah dulu lama ditinggalkan dan sekarang terhenti sayangnya. Memang kalau dicari-cari alasan kenapa tidak rajin mengisi blog lagi, ada saja yang dapat dijadikan sebagai pembenaran. Padahal sebenarnya ada waktu yang dapat diluangkan untuk dapat bertutur tulisan melalui blog setiap harinya.

Memang saya merasakan mulai menurun aktivitas menulis saat saya sudah menikah. Awalnya saya berkeinginan untuk lebih produktif sesudah beristri, tetapi banyak peristiwa yang terjadi dalam sekejap hingga akhirnya rasanya tak ada waktu untuk menulis. Mungkin inilah hal yang terjadi kepada beberapa teman-teman saya sesama penulis saat dulu pernah saya komentari semakin jarang menulis semenjak mereka menikah. Dengan berkeluarga dan juga rutinitas kehidupan lainnya, menjadikan waktu luang untuk menulis sangatlah berharga. Walaupun begitu, masih ada banyak teman saya penulis yang menjadi contoh teladan tetap rutin menulis sesibuk apapun mereka. Saya sangat salut kepada mereka.

Pada catatan yang saya simpan, banyak terdapat gagasan yang terserak untuk dapat dikembangkan menjadi tulisan. Setelah menikah juga, sebenarnya ada banyak sekali hal yang dapat diceritakan. Banyak momen perubahan yang saya alami sebagai bahan cerita yang dapat digali, dari pernikahan (dari kisah bagaimana perikatan terjadi, awal penyesuaian hidup berdua, dan banyak kisah lainnya cukup dari tema ini), beasiswa pendidikan S-1 yang saya dapatkan, kesan tentang kota Malang yang saya tinggali sekarang ini, dan berbagai macam momen lainnya. Saya sangat menyayangkan jika momen-momen seperti itu berlalu tanpa ada jejak tulisan yang suatu saat nanti akan mengingatkan kepada saya kembali bagaimana momen itu terjadi.

Untuk dapat menulis sebuah gagasan ataupun sekadar cerita pengalaman sekarang ini rasanya agak susah. Menilik ulang isi blog saya selama ini, memang ada perubahan gaya dalam menulis. Perubahan ini seiring dengan perkembangan pemahaman saya akan idealnya suatu tulisan yang dapat dipublikasikan melalui blog. Dulu postingan saya terhitung lumayan banyak dengan gaya tulisan yang kelewat santai, ringan, bahkan kalau dalam istilah sekarang ini cenderung ‘alay’. Belakangan ini saya mencoba mengarahkan blog saya dengan tema yang spesifik seperti introspeksi harian dan juga makna dari suatu foto. Tema ini rupanya membuat saya lebih berpikir dalam mengisi blog dan tentu membutuhkan alokasi waktu serta tenaga yang lebih banyak untuk dapat menyelesaikannya.

Dengan perlu waktu yang lebih lama dalam menuntaskan suatu tulisan yang menurut saya pantas untuk diposting pada blog, hal ini sepertinya yang menjadikan saya lebih banyak menggunakan platform media sosial lainnya ketimbang blogging. Padahal pada media sosial lain sebenarnya belumlah memberikan kepuasan yang setara dari blogging. Saya cenderung lebih menyukai tulisan yang panjang baik sebagai penulis maupun pembaca. Dari blogwalking sering didapati banyak inspirasi dan juga tambahan wawasan serta interaksi yang lebih sehat. Dengan sering blogging pada saat dulu, saya merasakan hangatnya budaya saling mengunjungi postingan antar-blogger dan komentar  yang akrab darinya. Namun, seiring dengan intensitas blogging saya yang berkurang,maka hal ini semakin berkurang juga.

Era sekarang ini juga membuat saya perlu lebih hati-hati dalam membuat tulisan. Dengan memuat suatu tulisan, akan ada konsekuensi yang menyertai walaupun itu tulisan ringan sebenarnya. Kebanyakan pembaca tulisan sekarang ini lebih ganas dan pedas dalam berkomentar. Jika mengangkat suatu gagasan dan belum siap untuk dikomentari, maka lebih baik untuk urung dalam mempublikasikannya. Sering saya ingin mengangkat dan membahas isu hangat terkini yang berkembang di masyarakat, tetapi mengingat pada platform media sosial sering terjadi benturan pendapat, saya belum siap untuk menghadapi hal semacam itu pada blog saya sendiri. Saya lebih menginginkan blog saya ini menjadi media untuk berbagi wawasan yang positif bukan menjadi media untuk berdebat dan malah memicu perseteruan.

Saya rindu untuk dapat merasakan aktivitas blogging seperti dulu lagi. Butuh komitmen, niat, dan tekad yang kuat sebagai kunci yang selalu harus dipegang untuk dapat lebih giat dalam blogging. Menulis dan berbagi memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Seringkali saya lupa bahwa menulis itu sebenarnya adalah proses yang ditujukan untuk kepentingan pribadi, sebagai media untuk menyimpan memori dan media aktualisasi diri. Walaupun memang dengan berbagi tulisan melalui blog mengubah suatu tulisan menjadi konsumsi publik, tetaplah blog adalah media privat yang menjadi ruang pribadi bagi penulisnya. Dengan begitu, melalui blog, seharusnya seorang penulis lebih bebas untuk mengungkapkan berbagai macam gagasan dan ceritanya.

Tema semacam ini yang berusaha untuk meneguhkan kembali kebiasaan menulis sudah berkali-kali saya wacanakan dalam berbagai tulisan. Perlu sering ada pengingat memang untuk dapat konsisten melakukan sesuatu. Naik turunnya suatu aktivitas adalah hal yang wajar, tetapi perlu dikendalikan agar tetap pada jalur yang tepat. Begitu juga dengan menulis pada platform blog ini. Saya sangat tertarik dengan dunia tulis menulis dan mempunyai cita-cita untuk berkarya dalam media tulisan. Setidaknya blog menjadi wadah yang tepat untuk dapat melatih diri dalam meraih hal tersebut. Oleh karena itu, saya mulai kembali bangkit untuk menata semangat agar dapat menulis kembali. Semoga saja tidak perlu lagi ada tulisan yang saya buat untuk mengingatkan pada suatu saat nantinya tentang betapa pentingnya menulis itu. Jika semangat menulis meredup, kiranya cukup mencamkan satu nasehat yang pernah saya tulis dan selalu menampar saya untuk bangkit kembali…

“Sempatkanlah menulis sebagaimana kamu lebih menyempatkan hal-hal yang sebenarnya tak jauh lebih penting dari menulis…”

Malang, 11 Juli 2017

Iklan

4 thoughts on “untuk menulis kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s