kata-kata

“Boleh aku berkeluh padamu?”

Kupecahkan keheningan yang beberapa saat ini ada di antara kita. Kembali aku duduk di hadapanmu, dengan muka yang masih sama, dengan perasaan yang kembali gundah. Sekilas tampak keenggananmu untuk menanggapiku untuk kesekian kalinya lagi. Akan tetapi, dalam sekejap, dirimu mengubah ekspresi dan memberikan sepenuh perhatian untukku, untuk kesekian kalinya juga.

“Kamu masih mempunyai persoalan yang serupa dengan yang lalu?” balasmu dengan nada yang datar.

“Entahlah. Tentang persoalan ini ataukah yang itu. Kau sudah paham benar tentangku ini. Tetapi itu semua adalah muara dari apa yang sebenarnya berujung dari satu persoalan sepertinya.”

“Tentang apa itu?”

“Tentang kata-kata. Waktu telah berjalan begitu pesat dan meninggalkan kesadaran untuk memahaminya. Kata-kata telah lama hilang dariku.”

Mengucapkan kenyataan ini rasanya semakin memberikan sayatan tajam. Luruhlah ego yang membuat pertahanan semu untuk tidak berkehendak mengakui hal ini. Tercabik-cabik sudah kepura-puraan untuk beranggapan bahwa segala sesuatu wajar adanya.

Kehilangan, jika itu adalah tentang apa yang sebelumnya begitu lekat dengan diri, akan sangat memberikan pengaruh. Ada ganjalan perasaan yang terus menghantui. Kehilangan adalah bentuk lain dari ketidaklengkapan. Ada bagian dari sesuatu yang telah terbentuk dan tanpanya maka tiadalah menjadi sebagaimana mestinya.

Aku dan kata-kata. Aku merindu bagaimana dulu aku menuturkan kata-kata. Entah dalam lisan ataupun tulisan. Dengan sepenuh penghayatan tertuang ada di dalamnya. Ia adalah ekspresi yang terwujud benar menggambarkan kepribadian. Ada kekuatan yang terpancar darinya. Ia tidak menjadi hal yang dibuat-buat. Apa adanya, murni, dan bermakna.

Sorot mataku menerawang mencoba melakukan kilas balik di masa lalu. Susah. Sudah sejak kapan ini terjadi aku tak tahu. Dirimu berdeham memberikanku isyarat untuk memberikan penjelasan. Aku benarkan posisi dudukku, meminum segelas air untuk membasahi tenggorok yang terasa kering, dan memulai memberikan penjelasan tentang kata-kata ini.

“Kata-kata. Kata ada dalam apa yang terucap oleh lisan dan apa yang tergores dalam tulisan. Dulu, lisanku adalah tentang apa yang terlontar spontan dari hati yang bahagia. Dulu, hati ini akan menyembunyikan segala bentuk emosi yang menyedihkan dan menumpah-ruah-kan energi kebahagiaan. Dulu, tulisanku adalah tentang hasil pemikiran yang telah dipikir dengan matang. Dulu, pikiran ini terus menerus menangkap ide, menjabarkannya, mengolahnya, dan kemudian membentuknya dengan kata-kata,” kehampaan semakin kuat merasuki diri saat menjelaskannya lebih rinci lagi padamu.

“Sekarang kata-kata itu hilang. Lisanku kacau. Ia berbicara sekena dan semaunya. Tak memandang bagaimana situasinya dan sering membuat ricuh. Persoalan demi persoalan terjadi karena inilah yang rupanya menjadi penyebabnya,” kutundukkan kepalaku. Suaraku semakin rintih karena luka kehilangan ini semakin tak bisa kusembunyikan.

Aku sangat menyesali tentang apa yang baru kusadari. Banyak masalah yang terjadi dan diatasi hanya sekenanya saja. Satu masalah selesai dan kemudian beralihlah persoalan lainnya. Hampir-hampir tak ada sejenak waktu untuk benar-benar menilai ulang. Kesalahan serupa akan terus terjadi bilamana tak diketahui apa penyebabnya.

Kuhela nafas sembari melanjutkan, “Sedangkan tentang tulisan. Kau tahu sendiri. Lama sudah kumeninggalkannya. Terasa benar kata-kata sudah jauh dariku sekarang. Kala kucoba merangkainya menjadi jalinan cerita, hasilnya adalah kekacauan yang rumit untuk dibenahi. Ide-ide yang semula hinggap menunggu untuk diejawantahkan, sekejap menghilang dan sulit untuk didapat kembali. Aku ingin kata-kata itu kembali ada dalam benak pikiranku. Menari-nari dan saling berpasangan hingga kemudian baris demi baris, bait demi bait, penggalan demi penggalan akan terbentuk dan bersatu utuh menjadi tulisan.”

“Jadi, persoalannya adalah tentang kata-kata? Lalu, kenapa kata-kata meninggalkanmu? Seharusnya pikirkanlah apa yang menjadi penyebab kata-kata itu hilang darimu. Itulah persoalan utamamu,” timpalmu dengan tatapan mata yang tajam.

Aku terhenyak. Tak kusangka inilah tanggapanmu. Seperti tamparan yang berusaha untuk menyadarkan. Kemelut mendung yang merundungi pikiranku menjadi tersibak. Benar apa yang kaukatakan. Adalah tentang kenapa kata-kata itu tidak muncul kembali yang perlu untuk ditelusuri.

“Benar juga. Lalu, bagaimana aku untuk mengetahui apa penyebab utamanya?”

“Sederhana saja sepertinya. Dirimu sendiri yang telah lalai untuk menjaga kata-kata. Kata-kata itu adalah benih-benih yang tersemai. Ibaratkan saja seperti itu. Maka, jika ia adalah benih, ia perlu dirawat, dipelihara, dan selalu dijaga,” ucapanmu kusimak lekat-lekat. Dirimu adalah tempat yang selalu kupercaya untuk mengadu, berkeluh, dan mendalami hikmah akan sesuatu dari pengalamanmu.

“Bagaimana caranya untuk menjaga kata-kata? Pertama, niat itu harus ada pada permulaan dan terus diperbarui. Bahwa jika ada tekad untuk berkutat dengan kata-kata, maka hidupkanlah terus itu. Jangan biarkan ia layu sebelum berkembang. Kedua, berlatihlah. Jangan biarkan sekalipun kata-kata itu dibiarkan. Ia adalah aliran air yang tak dapat dibendung. Biarkanlah ia mengalir dengan salurannya. Walaupun bisa jadi tak sesuai yang diinginkan, biarkan saja. Mereka butuh perhatian, jika sekejap ditinggalkan maka besar usaha untuk dapat menangkapnya kembali. Maka, rajin-rajinlah berurusan dengannya, setiap hari, setiap ada waktu yang dapat diluangkan, setiap ada sekelebat ide yang datang untuk dituangkan.”

Kepalaku mengangguk-angguk mendengar nasehat darimu. Aku memahaminya sekarang. Tentang niat dan latihan, dua hal yang memang aku tinggalkan sehingga kata-kata kini tak lagi terjaga.

“Lalu, yang ketiga adalah tentang contoh. Janganlah terlalu sibuk mengurus diri sendiri dan terjebak dalam kesempitan wawasan. Kata-kata itu mempunyai jutaan rangkaian yang kemudian dapat dicontoh dari orang lain. Carilah contoh yang menurutmu tepat dan belajarlah darinya. Namun, ingat, keaslian kata-kata adalah hal penting. Kata-kata yang kaurangkai adalah jati dirimu yang tak akan sama dengan yang lain.”

Tentang contoh. Ya, ia juga berpengaruh. Lisan akan sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan karena lingkunganlah yang memberikan contoh. Jadi, guna mendapat tutur lisan yang baik haruslah memperhatikan bagaimana orang baik berbicara. Sedangkan tulisan, contoh didapat dari hasil membaca. Menulis dan membaca adalah dua hal yang saling berkaitan. Dengan membaca memberikan contoh bagaimana tulisan orang lain dibuat dan menginspirasi dalam tulisan yang dibuat sendiri.

“Bagaimana? Itu pendapatku. Apakah penjelasanku ini memberikan pencerahan bagimu?” ujarmu meminta tanggapanku.

“Tak ada satu hal pun yang dapat kusanggah darimu. Setiap perkataanmu itu sudah sesuai. Aku kini semakin memahami duduk persoalan yang kuhadapi. Kini semua kembali kepadaku. Apakah nasehat yang telah kauutarakan ini benar-benar kuterapkan,” balasku sembari memberikannya senyuman. Terasa lega dan lepas kini untuk tersenyum kembali. Pikiran yang semula seperti kabut kini telah terang benderang. Beban ganjalan berangsur-angsur menghilang.

“Percakapan kita ini sebenarnya juga adalah suatu bentuk rangkaian kata-kata, bukan?” ia membalas dengan senyuman yang lebih hangat. “Aku tunggu dirimu dengan kata-kata kebahagiaan yang menghidupkanmu kembali dalam lisan maupun tulisan. Ayo, bergeraklah!”

“Baiklah! Terima kasih kawan!”

Perjumpaan pun harus diakhiri. Semoga akan ada kesempatan bersua kembali untuk mendapatkan nasehat darimu. Aku sangat mengharapkan itu.

Iklan

4 thoughts on “kata-kata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s