menerima realita

“Bagaimana bisa keadaan menjadi serunyam seperti ini?”

Sore ini aku mengeluhkan hal yang sama kembali. Aku merasa seakan terjebak. Aku tiada berdaya. Hal-hal tak terduga terjadi begitu saja di luar apa yang diperkirakan. Sedangkan kamu duduk dengan tenangnya di kursimu. Masih berekspresi datar saja menganggap kesemuanya itu tak ada dampaknya apa pun bagimu.

“Kamu tidak merasa terusik sama sekali? Bagaimana bisa dirimu setenang ini menghadapi persoalan bertubi-tubi seperti ini?”

Kepalamu mendongak ke arahku. Kertas-kertas yang sedari tadi membuatmu sibuk berkutat dengannya tak lagi kau urusi. Matamu menatap lekat beradu dengan mataku. Sikapmu kausempurnakan. Sikap duduk yang nyaris sempurna.

“Karena memang tidak ada yang menurutku perlu untuk aku hiraukan.”

Masih sedatar itu ekspresimu. Aku sudah menebaknya sebelum kamu memberitahukan jawabanmu itu. Namun, itu yang membuatku sangat heran. Macam apa sebenarnya kamu itu. Semacam batukah? Masak sama sekali tidak ada pengaruh apa pun kejadian yang baru saja terjadi? Persoalan rumit yang hampir-hampir saja mengacaukan kesemuanya itu bukan sesuatu yang patut kauhiraukan?

“Ini sudah pada batas yang menurutku sendiri sudah terlampaui. Dengan keadaan seperti ini, aku tak tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk kondisi sekarang ini.”

Aku mengalihkan pandanganku pada ruang kosong yang ada di antara kita. Pikiranku semakin berkelana entah ke mana membayangkan selanjutnya apa yang terjadi. Aku sudah sedari tadi cemas dan sangat perlu menenangkan diri. Ketenangan yang kamu miliki itu membuatku iri. Ah, andai saja ketenangan itu menulariku sekarang ini. Aku begitu gusar.

“Masalahmu yang sebenarnya bukanlah tentang persoalan yang tengah kita hadapi. Persoalan itu wajar terjadi karena semuanya sudah kita prediksi sebelumnya. Ada tindakan yang membawa konsekuensi atas opsi yang kita pilih.”

“Iya, aku tahu itu. Dulu kamulah yang mengucapkannya juga. Aku masih ingat itu. Aku masih ingat kalau kau bilang akan ada kondisi terburuk yang akan kita hadapi. Tetapi dengan kejadian yang lebih buruk seperti ini? Sungguh-sungguh tak kuduga menjadi seperti ini. Keterlaluan.”

Aku menenggak segelas air minum yang ada di sampingku. Tekak sekali rasanya tenggorokan ini. Persoalan ini menguras energiku benar. Tak hanya pikiran yang terus berkutat, tubuh ini juga merasakan capai yang diakibatkan olehnya.Segelas air ini semoga dapat mengalirkan kesejukan yang kuharapkan. Aku masih perlu melanjutkan perbincangan ini.

“Lalu, menurutmu sebenarnya apa persoalanku?”

Kamu semakin menyempurnakan posisi dudukmu. Tatapan matamu semakin tajam. Namun, kali ini dihiasi dengan senyuman yang entah apa itu maksudnya.

“Persoalanmu itu adalah tentang menerima realita.”

Menerima realita? Hah? Kamu anggap aku seseorang yang tidak menerima realita? Apa maksud ucapanmu? Aku tersentak dengan jawabanmu itu. Sesederhana itukah kamu menganggap masalah ini? Adalah hanya tentang menerima realita belaka?

“Apa maksudmu?” aku menekankan pertanyaanku ini. Sampai-sampai aku tak sempat mengucapkan apa yang tergumam di pikiranku. Aku masih tertegun dengan jawabanmu yang singkat itu.

“Ya beginilah yang harus kita hadapi. Apa perlu kemudian kita persoalkan kembali bagaimana ini bisa terjadi? Apa perlu kita mengungkit-ungkit siapa yang sebenarnya bersalah akan kesemuanya ini? Jika terlalu sibuk dengan pikiran seperti itu, tidak ada gunanya,” kali ini kamu menjawab dengan nada suara yang lebih tinggi. Ketegasanmu tampak dari suara dan perkataan yang kauucapkan.

“Masalah masihlah tetap ada. Masalah perlu diselesaikan dengan baik dan menyelesaikannya itu perlu dengan pikiran yang tenang. Pikiran yang tidak terusik oleh apa yang telah lalu. Akan tetapi, pikiran yang fokus pada apa yang harus dilakukan selanjutnya.”

“Aku justru sedang memikirkan apa yang harus kita lakukan. Aku terusik dengan hal itu,” aku menyela sebelum kau pungkas perkataanmu. Aku saingi nada suaramu yang tinggi itu.

“Lalu, apa hasilnya? Sudah kaurumuskan benar-benar? Aku tidak melihatnya. Aku masih ingat apa yang kau katakan tadi. Kamu menanyakan bagaimana bisa keadaan menjadi serunyam ini. Itu tanda yang jelas kalau kau masih mempersoalkan realita yang terjadi. Kamu tidak menerimanya.”

Lemas seketika tubuh ini. Mendengar timpalanmu itu membuat ketegangan yang sempat merasukiku kini menguap begitu saja. Perkataanmu itu menyadarkanku. Satu demi satu ucapanmu itu mulai dapat kupahami. Dengan sendirinya aku kemudian menyimpulkan. Ya, aku tidak menerima realita yang sedang kuhadapi sekarang ini.

“Memang tampak sepertinya aku begitu. Ini adalah hal yang tidak aku harapkan sama sekali. Aku menolaknya. Pikiranku bersikeras terus mempersoalkan tentang apa yang terjadi. Tak ada yang bisa kusimpulkan untuk menyelesaikannya. Bingung jadinya.”

“Begitulah. Sekarang kau tahu apa yang sebenarnya menjadi persoalanmu itu. Kamu memerlukan ketenangan. Jangan rumitkan masalah yang sudah ada dengan memikirkan hal yang tidak perlu.”

“Jadi ini yang membuatmu setenang ini? Energiku habis rasanya hanya untuk persoalan ini.”

“Ya begitulah adanya. Aku tidak berkehendak menjadikan persoalan ini sampai-sampai mengalihkanku pada hal-hal lain yang juga membutuhkan perhatianku. Seperti kertas-kertas di hadapanku ini. Ini lebih penting untuk aku urusi segera ketimbang mempersoalkan masalah yang mengganggumu itu.”

Aku menundukkan kepalaku. Adalah perasaan konyol yang kemudian aku alami. Semua yang kau katakan itu benar. Aku telah terporsir untuk mempersoalkan hal yang bisa ditunda penyelesaiannya sekarang ini. Persoalan ini rumit memang. Tetapi untuk menyelesaikannya jangan sampai terburu-buru sehingga tidak tuntas atau bahkan menjadi tambah rumit jika dipaksakan selesai sekarang.

“Tenangkan dirimu dulu. Cari hal kesukaanmu yang dapat mengalihkanmu dari persoalan ini. Kalau kau sudah tenang, mari kita bahas bersama apa yang perlu kita lakukan untuk menyelesaikannya. Bagaimana?”

Aku menghela nafas sembari menegakkan kembali sikap dudukku menghadapmu. Wajahmu terlihat menyeruakkan kebijakan yang menenangkan. Tak salah aku mengajakmu berbincang. Aku perlu belajar darimu. Ada hikmah pada setiap apa yang kudapati dari perkataanmu.

Menerima realita. Kukira aku sudah menerima apa yang terjadi padaku saat ini. Rupanya tidak. Lebih tepatnya aku malah menyesali apa yang terjadi dan terus menerus mengeluhkan begitu tidak kusukainya apa yang kuhadapi ini. Seperti yang kamu katakan, masalah itu masihlah tetap ada. Ia ada bukan untuk selalu dipikirkan saja kenapa bisa terjadi. Ia ada untuk diselesaikan dengan tenang dan bijak. Realita memang tak akan pernah semanis apa yang selalu kita bayangkan.

(Painan, 21 November 2014)

Iklan

2 thoughts on “menerima realita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s