tentang masa depan

Aku tahu apa yang kamu risaukan. Aku tahu apa yang belakangan ini telah menyita perhatianmu sebegitunya. Aku pastinya tahu bahwa apa yang dihadapi oleh dirimu bukanlah perkara yang mudah.

Di dalam benakmu, kau simpan keraguan yang akhirnya tampak menyeruak. Awalnya hanyalah sekadar angan yang melintas. Namun, itu kemudian membuatmu terus berpikir. Dirimu membentuk pertahanan dengan berbagai macam asumsi dan prasangka yang baik. Namun, itu goyah di saat ujung penentu yang hampir, hampir sangat dekat.

Masa depan. Ya, anganmu melayang tinggi menembus batas waktu. Melintas pada dimensi-dimensi dan ruang yang hanyalah Tuhan yang Maha Mengetahui sebenarnya. Adegan-adegan tertampang di hadapan. Kamu melihat dirimu sendiri di masa depan.

Sekilas aku lihat pada dirimu sepertinya terlampau khawatir. Ada jarak yang tidak akan pernah mendekatkanmu dengan masa depan. Memang pasti akan begitu. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Hal semacam ini adalah kewajaran yang lazim dimaklumi. Orang boleh saja berpikir tentang masa depan, tetapi bukanlah ia semata yang bisa menentukan akan seperti apa jadinya.

Saat diambilnya suatu keputusan selalu saja menjadi momen yang dilematis. Ada konsekuensi menyertai yang entah itu bisa jadi baik, buruk, atau bercampur di antara keduanya. Apa yang terjadi di masa depan terbentuk dan dipengaruhi oleh apa-apa yang telah diputuskan di masa lampau.

Aku tahu. Anganmu telah membentuk perkiraan tentang masa depan akan hal-hal yang membuatmu susah untuk memutuskan. Kamu tahu sekalinya keputusan diambil, maka tak bisa kembali surut ke belakang. Maka, angan itu berubah menjadi hantu yang membayangimu selalu. Satu kali salah mengambil keputusan, ia akan mengacaukan masa depan.

Di ujung penentu ini, semuanya mengabur tidak jelas. Ada kabut yang perlu dielak agar tampak sesuatunya. Satu demi satu pertimbangan akan menampakkan wujudnya. Saat itulah saat untuk memutuskan. Demi masa depan yang engkau takutkan itu….

(Pada angkasa antara Jakarta dan Padang, 17 November 2014)

Iklan

3 thoughts on “tentang masa depan

  1. ah, kamunya pasti si penulis :p

    btw ya, tulisan mas Nanas makin lama makin okeh. emang betul, ya, rumus nulis itu cuma tiga: nulis, nulis, dan nulis. *terus malu karena jarang update blog :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s