benci sendiri

“Sendiri itu tidak mudah,” kalimatmu meluncur begitu saja di hadapanku. Spontanitas keluar tersampaikan dan membuyarkan diam yang ada di antara kita.

Warna jingga senja semakin memulas kuat seantero langit. Deburan ombak semakin kuat menderu bibir pantai. Pasir yang kita pijak membekaskan jejak-jejak langkah. Kita duduk berdua saja di situ. Hening. Hanya ada suara alam. Perkataanmu itulah yang memecahkan keheningan ini.

“Aku kira sendiri itu adalah saat yang terbaik. Saat untuk lebih memahami dan memudahkan mengerti.”

Kata-katamu seketika terhenti. Seperti ada yang tersendat di tenggorokanmu untuk mengeluarkan suara. Pandanganmu masih jauh ke seberang lautan. Menerawang sesuatu yang tidak jelas. Kehampaan merasuk dirimu dan membuat dirimu tercekat untuk bersuara. Mungkin seperti itu.

Kamu berdeham beberapa kali. Mencoba untuk melegakan tubuh untuk meleluasakan dirimu berkata-kata.

“Kalau sedang sendiri, bukankah kita mempunyai kesempatan untuk sejenak lepas dari kesemrawutan hiruk pikuk duniawi kan? Lepas.. Bebas dari siapa pun.. Melakukan sepenuh hati apa yang kita kehendaki…”

Aku tertegun. Apa yang kamu sampaikan membuatku terhenyak. Kehampaaan yang ada pada dirimu begitu kuat dan hendak mencoba menulariku. Aku berpaling dari menatap wajahmu. Menghadap ke arah yang sama seperti yang kau tuju. Sudut antah berantah tidak berujung pada garis cakrawala.

Aku larut dalam lamunan acak yang menguasaiku. Kata-katamu membawaku ke dunia lain. Dunia yang hanya ada aku saja di sana. Sendiri saja seperti burung yang melintas lalu di hadapan kita. Dia melayang begitu pelan. Kepak sayapnya ia sesekali lakukan. Mengayun pelan kadang rendah kadang tinggi.

Burung itu sendiri. Pemandangan yang tepat menggambarkan apa yang baru saja kau ucapkan. Tentang bebas, lepas, semau apa pun yang disukai. Betapa burung itu membuatku merasa iri. Ingin rasanya terbang setenang itu mengarungi alam yang terbentang luas. Kamu mungkin memikirkan hal yang sama juga.

“Seperti burung itu ya. Iri aku dibuatnya. Saat ini ia sendiri dan begitu menikmati terbangnya itu,” aku mencoba menanggapi ucapanmu itu.

“Namun, setiap burung akan kembali ke peraduannya bukan? Ia akan pulang seperti manusia. Berkumpul dengan sesamanya menghabiskan sisa hari,” lanjutku.
Mendengar apa yang aku ucapkan membuatmu menoleh menghadapku langsung. Sorot matamu tajam. Kehampaan tidak lagi tampak menguasaimu.

“Ah, manusia! Selalu ada saja yang membuat di antara sesamanya itu saling membutuhkan. Kesendirian menjadi hal yang seakan tidak mungkin. Sejenak saja pasti sudah terasa tidak nyaman. Terlalu mudah bergantung,” balasmu dengan semakin menyungutkan wajah dan meninggikan suara.

“Ya, begitulah. Itulah yang memang telah Tuhan desain. Seperti itu. Seperti saat ini. Ada aku, ada kamu.”

Kamu menghela nafasmu dan kepalamu menunduk pelan.

“Aku begitu ingin sendiri. Aku begitu mengharap banyak darinya. Aku begitu berangan tidak ada kerumitan bertubi-tubi menghardikku. Biarkan aku mempunyai ruang sendiri. Namun, susah. Susah sekali mewujudkannya.”

Kata-katamu mengalir menyampaikan emosi kekecewaan yang hendak kau tunjukkan padaku. Di saat seperti ini, lebih baik aku menyimak seksama akan ceritamu. Luapkan saja apa yang telah kaubendung. Ada aku yang sebenarnya tidak membuatmu sendiri dan memberikanmu pandangan lain.

“Seperti saat ini. Ya, aku naif dengan apa yang aku utarakan ini. Membahas tentang kesendirian tetapi paradoksnya aku bersamamu kini,” sepertinya emosimu mulai tertata kembali dan membuatmu lebih logis dalam berpikir.

“Aku mengajakmu bertemu kembali setelah sekian lama kita tak pernah bersua. Kamu menduga ada alasan apa bukan? Hal ini kulakukan karena aku belum jua menemukan kesendirian yang aku cari.”

“Hingga pada satu kesimpulan yang akhirnya aku coba pahami. Sendiri itu tidak mudah. Aku…”

Semilir angin pantai menerpa wajah kami. Sejuk rasanya. Pepohonan kelapa tampak melambai-lambai dibuatnya. Apa itu yang membuatmu tercekat kembali?

“Aku membutuhkanmu bersamaku. Menemaniku. Seperti inilah persis yang aku inginkan. Jika hanya sendiri, maka aku terjerumus pada sempitnya pikiranku. Kamu membukakan sisi lain yang seharusnya aku buka lebar-lebar untuk bisa lebih memahami segala sesuatunya.”

Angin semakin kencang menerpa. Deburan ombak bergulung-gulung kemudian pecah dan menyuarakan keriuhan. Samar kudengar perkataanmu itu. Suara alam membuatku tidak yakin akan apa yang baru saja kau sampaikan.

“Kamu benci sendiri? Apakah seperti itu maksudmu?” Aku mencoba meyakinkan simpulan akan perkataanmu. Aku malu jika langsung memastikan benar-benar apa yang kudengar tadi.

Wajahmu tersenyum. Cantik seperti cantiknya jingga senja ini. Ada semburat merah merona yang aku lihat pada dirimu.

“Benci sendiri. Simpulan yang tepat untuk apa yang telah kita bahas saat ini. Apa kau tak dengar aku bilang aku membutuhkan bersamamu? Sendiri yang telah lalu itu membuatku membencinya karena begitu sulit untuk menjalaninya.”

Entah apa yang menyeruak di dalam benak seketika. Begitu berbuncah melimpah ruah. Aku serasa melambung begitu tinggi seperti burung tadi yang telah melanglang di angkasa. Aku senang akan perkataanmu itu. Yakin sudah apa yang kudengar tadi. Tidak salah sepenggal kata pun.

“Maka, akan tiba saatnya sendiri itu harus segera diakhiri. Mungkin nantinya terbersit keinginan untuk kembali sendiri. Biarkan saja, tidak apa-apa. Tapi sadarlah bahwa akan selalu ada yang menantimu untuk bersama. Itulah aku yang siap menggantikan kesendirianmu,” seruku dengan begitu percaya diri.

“Berarti memang ini sudah saatnya,” katamu sambil menatapku lekat-lekat.

“Ya. Aku juga merasa begitu. Aku sangat yakin,” kupegang tanganmu dan kuajak melangkahkan kaki beranjak dari tempat pelamunan kita ini.

Kita melangkah bersama lagi. Menyusuri jalan yang entah apa pun terjadi nantinya. Ada tujuan yang jelas kita ingin capai bersama. Satu hal yang jelas. Kita akan bersama untuk itu, tidak bisa sendiri lagi…

(Painan, 4 September 2014)

Iklan

4 thoughts on “benci sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s