miskin cerita

Ada banyak hal yang telah dijalani. Pada setiap bagiannya itu ada cerita yang menyertai. Ada peristiwa yang terjadi walau itu hanya melibatkan seorang diri. Cerita itu jelasnya ada. Tidak dapat dipungkiri. Kalau mengelak tiada cerita, lalu mau disebut apa lagi yang telah lalu itu?

Cerita memang beragam. Pada satu penggalan ia adalah hal biasa saja, semua orang pernah mengalaminya sehingga menuturkannya tidaklah terlalu perlu. Rutinitas misalnya. Itu juga cerita. Basa basi mula percakapan lazim membahas semacam ini. Bila mengemasnya dengan tutur yang memikat, bisa jadi cerita yang remeh sebenarnya menjadi sorotan perhatian bagi yang lain.

Sederhana rasanya hal tentang cerita. Apa pun bisa menjadi bahan untuk diceritakan sebenarnya dengan peristiwa satu yang silih berganti dengan peristiwa lainnya. Menuturkan cerita yang menjadi pembeda. Jika ingin cerita benar-benar sampai diterima pendengarnya, maka perlu pengemasan yang tepat untuk itu. Bahan yang sederhana akan tampak sangat berbeda jika ia telah diolah sedemikian rupa menyesuaikan karakter pendengarnya.

Lalu, jika berdalih akan miskinnya cerita untuk disampaikan, sudah tepatkah itu?

Tak semua orang bisa menjadi pencerita yang baik. Tetapi bukan berarti hanyalah orang terpilihlah atau mempunyai bakat sedari lahir yang bisa bercerita dengan apik. Hal apa pun itu ada ilmu yang menyertai, termasuk ilmu untuk bercerita.

Sudah banyak pencerita ulung yang benar-benar belajar caranya menuturkan cerita dengan baik. Mereka melatih diri mereka sendiri terus menerus. Cerita yang baik dari mereka bukanlah dari proses yang instan, seketika saja jadi. Ia adalah hasil dari usaha gigih serta kombinasi pengaruh lainnya.

Jika ingin menjadi pencerita yang baik, maka bersungguh-sungguhlah untuk melakukannya. Berikan totalitas, tidak setengah-tengah melakukannya.

Inspirasi itu benar adanya tersebar di mana pun berada. Hikmah itu seakan tercecer dan tersedia bagi siapa pun yang berniat untuk memungutnya. Itulah bahan cerita yang akan terus mengalir dan tidak akan memungkinkan hal semacam miskin cerita itu bisa terjadi..

(Painan, 1 September 2014)

Iklan

5 thoughts on “miskin cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s