writing camps DJPB: “sharing kepenulisan bersama a. fuadi”

Ahmad Fuadi. Siapa yang tak tahu tentang pencerita terkenal satu ini? Dia menuliskan pengalaman hidupnya yang diolah menjadi fiksi dalam trilogi novel Negera 5 Menara. Pada Writing Camps DJPB, pencerita yang satu ini menyempatkan diri berbagi pengalamannya tentang tulis menulis.

“Menulis Untuk Bermanfaat dan Mendunia” begitulah paparan awal dari Ahmad Fuadi saat memulai berbagi. Kalimat sederhana ini yang diutarakannya menjadi alasan kuat baginya untuk menuliskan kisah trilogi novelnya. Alasan yang kuat akan mendorong lahirnya tulisan yang punya pesan kuat. Alasan menulis bisa jadi sering berubah bagi seorang pencerita, tetapi yang mengantarkannya sampai pada akhir kisah yang utuh adalah kuatnya alasan tadi.

Lebih lanjut, selama berbagi pengalamannya, ada beberapa kutipan menarik dari Ahmad Fuadi yang sangat menginspirasi…

Kata lebih hebat dari peluru”. Dari pepatah ini ia simpulkan bahwa suatu cerita itu yang baik mengandung tiga unsur, menginformasikan suatu pesan, menginspirasikan banyak pembacanya, dan menggerakkan mereka untuk melakukan pesan itu.

Menulis membuat awet muda”. Ini yang menggerakkannya lebih kuat menulis lagi karena pepatah yang dikutipnya menyadarkan bahwa karya tulisan melintasi batas ruang dan waktu. Sosok seorang pencerita akan abadi dengan karyanya walaupun dirinya telah tiada di dunia.

Menulis mendunia”. Dengan terkenalnya karya Ahmad Fuadi hingga ke mancanegara, tema yang menggali tentang kekayaan khasanah budaya Indonesia adalah hal yang membuatnya seperti itu. Gali budaya, terjemahkan dalam bahasa lain, kenalkan karya, gerakkan dengan media sosial, dan pelajari jalan penulis terkenal. Maka, tulisan akan mendunia dengan sendirinya.

Creating content first, then the content will transform to many forms”. Suatu tulisan pada intinya mengandung suatu isi cerita yang bentuknya bisa berubah menjadi media lain. Negara Lima Menara contohnya, dari tulisan novel ini sudah berubah bentuk menjadi film, musik, aplikasi, dan berbagai bentuk lainnya yang terinspirasi dari satu isi cerita yang sama.

Menulis adalah proses menemukan diri”. Seorang penulis saat menuangkan idenya dalam bentuk cerita memudahkannya untuk menyimpulkan pesan-pesan bermakna yang dapat dikaitkannya dengan pengalaman hidupnya.

Writing is Art and Craft”. Tulisan adalah salah satu bentuk seni. Tulisan sangat dipengaruhi oleh keberuntungan, bakat, dan kerja keras dari penulisnya. Pada sisi lainnya, tulisan adalah bentuk dari keterampilan yang bisa dipelajari bagi siapa pun yang mau belajar untuk menulis.

Menulis adalah seni melumatkan ego”. Cerita yang bagus sayang untuk hanya dikonsumsi oleh penulisnya sendiri. Buat tulisan yang memang ditujukan untuk dibaca oleh banyak orang. Dengan orientasi ini, maka tulisan perlu diedit dan disesuaikan dengan keadaan pembaca. Ego penulis yang menganggap bahwa suatu cerita sudah sempurna adalah hal yang tidak tepat jika ingin tulisannya menjadi diterima.

Tulis cerita yang menggerakkan diri sendiri dan jatuh cinta tentangnya. Tulislah cerita dari hati dan yang membuatmu tak sabar menuliskannya segera

Tentang proses menulis cerita, Ahmad Fuadi memberikan pelajaran singkat untuk dapat menulis novel seperti yang telah ia susun…

Ask Why. Tanyakan kepada diri sendiri alasan apa yang mendasari dibuatnya suatu cerita. Sebagaimana yang telah diutarakan pada awal pemaparannya, semakin kuat alasan kenapa harus menuliskan suatu cerita, maka semakin kuat isi cerita itu.

Ask What. Tulis hal-hal yang paling dikenal, dipedulikan, familiar, dan diketahui untuk dituangkan dan dikaitkan pada tulisan sehingga menjadikan cerita lebih nyata dan meyakinkan.

Ask How. Menulis adalah hal yang dapat dipelajari dari teori-teori kedisiplinan ilmu yang sudah membahas bagaimana cara untuk membuatnya. Referensi sangat diperlukan agar tulisan yang dibuat tidak terkesan ngawur tanpa panduan. Kamus, thesaurus kata, dan buku panduan adalah referensi yang tepat untuk membuat cerita menjadi kaya. Selain mempelajari teori, untuk lebih mengembangkan cerita melalui tulisan dapat dilakukan dengan pengamatan dan penelitian sederhana. Caranya dapat berupa membongkar catatan-catatan lama tentang pengalaman pribadi, cerita dari orang lain yang menginspirasi, atau arsip foto-foto yang mampu membangkitkan kembali kenangan lama.

Ask When. Jika memang sudah siap dengan isi cerita dan sudah meluruskan niat dengan alasan yang kuat, maka untuk hanya ada satu jawaban tentang kapan suatu cerita itu dibuat. Sekarang! Jangan menunda waktu untuk bercerita. Lakukan sedikit demi sedikit untuk mengurai cerita dalam bentuk tulisan. Jangan sampai menyerah untuk bertutur cerita. Jika benar-benar menjaga konsistensi untuk tetap bertutur cerita melalui tulisan, suatu buku cerita (novel) sudah jadi dengan sendirinya.

Iklan

5 thoughts on “writing camps DJPB: “sharing kepenulisan bersama a. fuadi”

    • yap, ini yang baru saya pahami juga…
      nulis ya tidak sekadar untuk diri sendiri dan cukup berpuas di situ…
      untuk konsumsi yang lebih luas, ya harus “melumat ego” untuk diedit dan disesuaikan karena tidak ada tulisan yang benar-benar 100% sempurna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s