sebersit iri

Hati, apa yang terjadi padamu? Kenapa ada rasa yang mengganggu ini? Kenapa terasa begitu sangat bersalah? Kenapa selalu saja ada hal yang membuatmu tak nyaman?

Hanya karena sebersit iri. Sungguh, baru tersadar kesemuanya itu berujung pada satu hal ini. Merasa begitu tak puas dengan apa yang dimiliki dan menginginkan apa yang dimiliki oleh yang lain.

Kalaulah kau tahu, hati. Iri itu sebenarnya hal yang bisa kau enyahkan dengan seketika. Namun, kau terlampau berlama-lama teralihkan oleh karenanya. Syukuri apa yang ada, hati. Jika memang bukan kesempatanmu untuk dapat merasakan apa yang kau inginkan, berlapanglah seluas yang kau sanggup…

Kau harus ingat bagaimana apa yang telah berlalu. Sebersit iri itu telah menjadikanmu dulu makhluk yang bertingkah buruk. Pikiranmu terkelabui oleh aura hitam pekat dan sulit mencerna secercah hikmah yang sebenarnya bisa dipetik. Kau malah mengabaikannya dan memilih naif untuk tetap bersikeras pada sisi kelam itu..

Maka, syukur adalah kuncinya. Bahagialah melihat mereka yang telah berbahagia. Tak usahlah terucap gumam mengeluh akan kondisi dan keterbatasanmu kini. Akan ada saat di mana kau sadar ternyata selama ini kau telah mendapatkan hal-hal yang terbaik. Dengan itulah kamu seharusnya bersyukur dan menepis jauh-jauh iri dengan berbagai macam bentuknya itu…

(Bandung, 18 Agustus 2014)

Iklan

6 thoughts on “sebersit iri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s