bergantung pada rasa

Keengganan itu makin menguat. Mau seberapa kuat memaksa untuk bergerak selangkah pun seperti percuma. Ujung-ujungnya kemudian akan kembali pada titik semula. Tidak ada perkembangan yang berpengaruh. Ini adalah dampak dari begitu tergantungnya pada rasa.

Ya, jika perasaan yang menjadi pengarah yang berkuasa, tak dapat dipastikan bahwa segala  sesuatunya dapat berjalan lancar mulus tanpa hambatan. Karena perasaan adalah hal yang begitu dinamis, senantiasa berubah dan tak menentu. Adakah tepat jika hal yang demikian itu semata menjadi pijakan untuk mengambil sikap?

Walau memang rasa tetaplah sesuatu yang penting. Malah ia sangat strategis sebenarnya. Coba saja jika rasa mengarahkan dengan begitu semangat akan suatu pilihan. Maka, rasa mampu melejitkan capaian pun hingga pada hasil yang melampaui dari harapan. Namun, seperti pisau yang bermata dua. Dari manfaatnya itu, ia bisa beralih pada hal sebaliknya. Ia sanggup untuk mematikan hasrat dan gelora untuk melakukan sesuatu.

Rasa itu perlu dikendalikan. Untuk setiap hal itu ada takaran dan porsinya masing-masing membutuhkan seberapa kuat rasa untuk berpengaruh tentangnya. Hal yang berlebihan dan melewati dari batas takaran atau porsi itu tentunya akan mengakibatkan dampak yang tak diharapkan.

Namun, hal tentang rasa adalah sesuatu yang unik. Karena rasa terbentuk bukan hanya oleh dalam diri saja, ia juga bisa berubah drastis akibat apa-apa yang terjadi di sekitar. Kadang ada peristiwa saat sebenarnya rasa sudah diusahakan untuk dikondisikan, tetapi dalam sekejap berubah dengan situasi yang di luar dugaan. Kendali sekali lagi diperlukan untuk menjaga tatanan rasa kembali pada jalur yang tepat.

Sederhananya saja tentang hal ihwal rasa. Kesimpulannya akan mengarah pada satu pertanyaan yang jawabannya akan menunjukkan kondisi sebenarnya. Apakah untuk melakukan sesuatu itu perlu menunggu tergugah oleh rasa atau menjalaninya sekarang jua, memaksa diri entah ada rasa yang berpengaruh atau tidak? Jika masih menunggu, jelas sudah keadaannya bahwa rasa sudah begitu dominan mengendalikan, bukan justru menjadi hal yang seharusnya untuk dikendalikan diri.

(Painan, 26 Juni 2014)

Iklan

2 thoughts on “bergantung pada rasa

  1. Sesungguhnya jika rasa itu cokelat, maka jilatlah. Jika rasa itu stroberi, maka kunyahlah. Dan jika rasa itu nano-nano, maka nikmatilah setiap pergantiannya. Kena apa? Karena rasa pun bisa berbohong. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s