sudah sebandingkah?

Tugas-tugas itu begitu menyesakkan dada dan pikiran. Ia meminta waktu lebih dari yang diperkirakan. Ia tak cukup dengan sudah sedemikian banyaknya jatah waktu yang telah diberikan. Ia berusaha merenggut hak-hak pribadi yang sebenarnya jatahnya pun sudah sangat terbatas.

Ragu rasanya menilai kemampuan diri. Namun, apa daya, kondisi seringkali memaksa dan kemudian semuanya berujung menentu pada diri. Hanya seorang dirilah yang dianggap layak untuk tugas-tugas itu dan harus bertanggung jawab atas penyelesaiannya.

Pada satu sisi, ya ini menunjukkan adanya kepercayaan yang tinggi untuk diamanahi tugas-tugas. Akan tetapi, menjaga kepercayaan dengan menyelesaikannya sebaik mungkin itu benar-benar tantangan. Tak jarang hanya karena satu tugas yang kemudian hasilnya buruk akan berimbas berantai membuat semuanya berantakan. Ini bukan lagi tentang coba-coba dan terserah hasilnya seperti apa. Tugas yang ada bukanlah hal sembarangan. Posisi yang sedemikian strategis ini ada pada diri. Jika berhasil prestasi akan diraih, dan akan menjadi sebaliknya jika gagal yang terjadi, kekacauan demi kekacauan yang harus dihadapi.

Di tengah bergelutnya penyelesaian tugas ini, seringkali terbersit pertanyaan yang begitu mengganggu. Sudah sebandingkah apa yang telah diberikan dengan apa yang didapatkan kemudian?

Ya, keberhasilan tugas adalah suatu kebanggaan. Namun, apresiasi keberhasilan dari pihak lain apakah sudah mumpuni? Jika kemudian perlakuan masih sama dengan lainnya yang tidak menanggung tugas seberat ini, lalu apa bagusnya?

Hal semacam ini kadang bisa ditepis dengan mengalihkan fokus pada tugas itu sendiri atau hal lainnya. Namun, rasa teraniaya itu tak dapat dihindari pada beberapa kali kesempatan. Pengorbanan yang telah dilakukan dengan energi dan waktu yang begitu banyak terasa hambar. Memang apresiasi itu tak mesti menjadi tuntutan, tetapi minimalnya ada semacam penghargaan (respect) yang sepantasnya untuk apa yang telah dilakukan.

Kerja keras ini janganlah dianggap hal yang tidak berarti dan diremehkan. Sungguh tersinggung rasanya jika ada yang kemudian menjadikan kesemuanya yang telah dilakukan ini adalah perkara yang biasa saja. Padahal ada banyak hal personal lainnya di luar pengerjaan tugas-tugas ini yang membutuhkan perhatian dan itu semuanya sering dikorbankan. Mencari gantinya untuk hal ini pada kesempatan lain pun adalah persoalan lain yang juga menguras tenaga.

Ada yang sudah menasehati memang. Mungkin pengaturan dalam bekerja yang perlu lebih diperbaiki seiring dengan bertambahnya beban dan kesulitan yang dihadapi. Ada yang kemudian mengingatkan bahwa bagaimanapun tugas itu memaksa untuk diperhatikan penuh, tetap ada hal lain yang kemudian diprioritaskan lebih pada waktu yang telah ditentukan. Lakukan hal lain itu dan tinggalkan tugas-tugas itu sejenak. Jika sudah selesai, maka kembali lagi pada urusan menyelesaikannya.

Beginilah realitanya dan rupanya sebelumnya bukan hanya seorang diri yang mengalami. Ada orang-orang yang telah merasakannya dan sudah mengambil sikapnya sendiri. Cerita dari mereka membuat diri terperangah. Apresiasi dan penghargaan itu memang hal yang langka menurut cerita mereka. Mereka pun merasakan betapa tidak sebandingnya perlakuan atas kerja keras yang diberikan.

Ah, begitu pelik memang jika terlalu menimbang-timbang apa yang sudah dilakukan dan apa yang didapat. Pada saat yang tepat, menimbang hal demikian adalah hal yang baik untuk evaluasi. Namun, jika yang kemudian terjadi adalah tuntutan demi tuntutan disertai dengan kekecewaan yang terus menguat, maka pengaruh buruk sangat mungkin terjadi. Kinerja yang baik semula dapat berubah menjadi kecaman bertubi-tubi atas kurang optimalnya pekerjaan karena terlampau menuntut.

Untuk sekarang ini, diri perlu berlatih ikhlas dan sabar menghadapi kesemuanya itu. Lebih baik untuk lebih fokus pada penyelesaian tugas daripada larut pada kekecewaan sendiri. Kinerja yang baik adalah hal yang sangat bermanfaat bagi semua orang dan hasilnya pun akan tampak baik secara langsung atau tidak langsung. Ini adalah suatu bentuk ujian. Amanah yang diberikan tak boleh dikhianati. Terus bekerja dan buktikan bahwa memang diri sudah sepantasnya menjadi andalan yang dipercayai.

(Painan, 19 Mei 2014)

Iklan

6 thoughts on “sudah sebandingkah?

    • padahal kan yang namanya keseimbangan itu kan sesuatu yang harus ada pada setiap hal apa pun itu kan…

      ada aspek keadilan juga yang bukan berarti disamaratakan, tetapi proporsional sesuai tempatnya

    • dari grafiknya nih man, sejak awal jadi bendahara mpe sekarang itu bbbbeuh level kesulitannya makin tinggi… jadi dilematis ketika menunjukkan performa terbaik e terus jadi andalan yang kemudian malah tambah keseringan tambah tugas ini itu… pengen jadi ‘orang biasa’ aja tapi ya greget juga sdm kantor belum ada yang mumpuni untk bbrapa hal jadilah terpaksa ngerjain ~_~a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s