di bawah tekanan

Tumpukan tugas itu jelas tampak di hadapan mata. Lalu, yang ada di benak perasaan adalah sebegitunya kesal untuk menghadapi kesemuanya itu. Keengganan menguat dan alih alih terus mencari dalih untuk dapat lepas dan seakan tak mengakui bahwa apa yang ada di hadapan itu jelas adanya.

Sepertinya terlampau gampang jadinya untuk menjadi sedemikian payah seperti ini. Semangat terasa menjadi hal yang langka. Padahal kalau ia ada, niscaya peristiwa semacam ini tak akan terjadi. Situasi sekitar mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi. Lemahnya kendali diri untuk dapat menyesuaikan dengan situasi akhirnya menjadikan larut. Lingkungan yang acuh dan sama sekali tak mau peduli, sangat mungkin mewarnai diri dengan karakter yang serupa. Diri menjadi ikut mengacuhkan apa yang menjadi tanggung jawab untuk segera diselesaikan.

Tuntutanlah yang kemudian menghantui. Apa yang membutuhkan untuk segera dituntaskan menuntut penyelesaiannya. Sedang diri yang terlampau naif untuk tak mempedulikan hal-hal yang tertinggal dan terus menumpuk itu, menyibukkan dengan hal lain yang menjadi pelarian sementara. Pihak lain yang merasakan dirugikan dan sama sekali belum puaslah yang akan menuntut. Padahal sebenarnya di dalam benak pikiran, walaupun berkehendak mengacuhkannya, tetap saja terus terbayang tanpa perlu pihak lain itu memberikan peringatan.

Waktu pun bergerak terus melaju hingga menjadi saksi bagaimana berubahnya para penuntut itu. Dari yang semula mereka penuh harap, kemudian berubah menjadi pemberi peringatan. Peringatan demi peringatan yang telah disampaikan dan hanya sepintas lalu diperhatikan, hingga kemudian tuntutan semakin tegas dan mengeras. Tuntutan mengubah keadaan menjadi di bawah tekanan.

Di bawah tekanan inilah yang menjadikan situasi lebih genting. Keterdesakan para penuntut tak memperbolehkan sekalipun untuk masih tetap mengacuhkan perhatian. Keterpaksaan pun muncul dan pada satu sisi yang masih sama, keengganan malah semakin menguat. Ya, kemudian tugas itu akan dikerjakan, hanya saja apa jaminannya itu benar-benar diselesaikan dengan baik, jika awal mulanya sebenarnya tak ada niatan untuk itu.

Niat itu memang penting pada awalnya dan memastikan keberlanjutan tugas selama mengerjakan itu perlu diiringi dengan semangat. Mengubah persepsi bahwa tugas ini bukanlah sesuatu yang tidak menyenangkan itulah yang seharusnya dibentuk. Malah kalau bisa jadikan bahwa itu adalah yang menyenangkan dan tidak membebani. Persepsi sangat mempengaruhi dan untuk menjadikannya mengarah pada hal yang tepat itu adalah tantangan yang sulit. Meyakinkan diri untuk berpikir dengan cara lain yang lebih positif itu kalau tidak dibiasakan, maka tenggelamlah dalam cara pandang yang salah.

Sederhana saja sebenarnya, ini adalah persoalan tentang cara berpikir. Cara berpikir yang tepat akan menghasilkan tindakan yang sesuai dengan harapan dan jelas manfaatnya. Lalu, sederhanakan saja lebih lagi. Jika di bawah tekanan itu adalah keadaan yang sangat dihindari dan tak ingin terjadi, maka ubah cara pandang tentang kesemuanya itu, maka akan terasa kemudian kemerdekaan dalam menjalani apa-apa yang mesti dikerjakan.

Satu hal yang pasti, mau tak mau apa pun tugas yang ditujukan pada diri haruslah selesai dan jangan sekali pun terbersit untuk menjadikannya terbengkalai jika sebenarnya masih bisa untuk menyanggupinya.

(Painan, 11 April 2014)

*di tengah deraan derasnya tuntutan demi tuntutan yang semakin menjadikan di bawah tekanan

Iklan

7 thoughts on “di bawah tekanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s