menyikapi komentar

Komentar adalah hal yang wajar. Komentar adalah hal yang terlontar sendirinya oleh orang lain dalam menyikapi apa yang ada pada diri. Sebenarnya tidak ada yang perlu dipersoalkan dari komentar jika ia adalah hal yang lazim dan kerap ditemui. Namun, jika komentar itu menimbulkan suatu ketidaknyamanan dan menyinggung sisi-sisi yang sensitif, sepertinya komentar semacam ini bukanlah komentar yang dapat dengan mudahnya diabaikan begitu saja.

Ada suatu saat mengharap komentar istimewa dari seseorang yang dimintai pendapat, tetapi kemudian yang diterima adalah sesuatu yang ternyata dianggap biasa saja. Harapan yang tidak sesuai dengan realita itulah yang memunculkan kekecewaan. Kecewa rentan menyebabkan salah penyikapan. Ada dua hal yang mungkin terjadi, bahwa ada penyesalan untuk melakukan hal serupa yang telah diberikan, tetapi bisa jadi juga dari kecewa itu ada semangat untuk memperbaiki dan berusaha lebih baik lagi daripada sebelumnya. Jika berdampak baik seperti ini, tentu inilah yang menjadi hal bermanfaat. Lalu, jika kekecewaan malah menyebabkan penurunan derajat, ini yang perlu diwanti-wanti dan diolah agar tidak terjerembab pada keterpurukan.

Tidak mudah memang mengatasi hal semacam ini. Kecewa merupakan sikap yang jelas kentara dari ketersinggungan atas pendapat dari hasil yang diberikan. Ada pengaruh memang dari seberapa level penerimaan komentar yang bisa ditoleransi agar tidak memunculkan ketersinggungan itu. Level itu bervariasi tergantung pada bagaimana sensitivitas perasaan. Tentu yang menjadikan pendapat yang tidak sesuai harapan sebagai pemicu persoalan adalah manakala diberikannya pendapat itu pada waktu yang tidak tepat, di saat perasaan begitu sensitif dan mudah tersinggung.

Padahal komentar itu hanyalah kata-kata. Yang bisa jadi oleh yang mengeluarkannya tidak sampai sebegitunya terpikir dengan baik dan tepat untuk disampaikan. Lalu, ketersinggungan semacam tadi menyebabkan reaksi berlebihan rupanya. Apa yang berlebihan sepatutnya mendapatkan penetralisir agar tidak kelewat batas dan berakibat runtun. Penetralisir ini mudahnya adalah menenangkan diri, mencerna baik-baik komentar itu, dan memandangnya pada sudut pandang penyikapan yang lebih positif.

Ya, komentar yang berat diterima bisa jadi sebenarnya adalah suatu bentuk masukan berharga untuk perkembangan diri. Oleh karena itu, perlu sangat memandang positif apa pun bentuk komentar. Bahkan pun, komentar yang baik juga bisa menjerumuskan pada zona nyaman semu yang ternyata malah memberikan keadaan stagnan tanpa perkembangan apa pun. Betapa jelas disimpulkan menyikapi komentar itu dalam bentuk baik atau buruknya bisa memberikan pengaruh yang beragam.

Kesemuanya itu butuh kedewasaan dan kelapangan yang tepat mengambil tindak lanjut yang sesuai untuk berkembang lebih baik. Kedewasaan yang matang akan memudahkan untuk memilah mana komentar yang perlu digubris mana yang tidak. Kelapangan perasaan akan memudarkan ketersinggungan dari harapan yang tidak sesuai apabila komentar itu suatu hal yang pahit dan benar adanya harus diterima.

Komentar adalah bentuk pendapat yang juga perlu dihargai. Ya, bukan berarti dengan segala macam variasi bentuk pengaruh komentar itu menjadikan diri malah berantipati akan setiap komentar yang didapati, membiarkan kesemuanya terabaikan, dan bertahan pada persepsi pribadi yang belum tentu sepenuhnya benar. Perlu disaring terlebih dahulu dengan kedewasaan dan kelapangan perasaan. Telusur lebih dalam lagi apa maksud dari komentar orang dan temukan lebih banyak alasan positif bagaimana komentar itu bisa terlontar. Dari sinilah komentar bisa disikapi lebih arif lagi dan memberikan manfaat yang nyata untuk perkembangan diri.

(Painan, 21 Maret 2014)

 

 

Iklan

6 thoughts on “menyikapi komentar

  1. Ketika kita siap menerima komentar dari orang lain, maka bersiaplah untuk komentar paling buruk. Komentar buruk jangan dianggap serangan, anggap aja itu masukan agar nanti kita tidak dapat komentar seperti itu lagi.

    • sangat menyepakati… mesti ada semacam resistensi saat menerima komentar buruk, tapi menyikapi dengan memacu agar tidak terulang komentar buruk terjadi lagi adalah salah satu bentuk penyikapan yang baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s