yang dipelajari dari mendaki

Darinya aku belajar hal tentang pendakian dan apa yang didapati selama menjalaninya. Belumlah seberapa memang, hanyalah sebatas bukit yang terhitung kecil sebenarnya. Tetapi dalam perjalanan itu, banyak hal yang ia ceritakan dan ia bagi.

Tentang bagaimana keingintahuan menjadi penguat untuk selalu meneruskan perjalanan. Darinya aku dapati betapa sebelum menemukan apa yang dicanangkan sebagai tujuan, maka perjalanan tak boleh putus di tengah jalan. Lelah jelas sangat mendera, tetapi perjalanan yang telah ditempuh jangan sampai hanya sia-sia belaka.

Tentang bagaimana kehati-hatian dan kesiagaan yang menjadi hal utama tak boleh luput atau sekilas lalai darinya. Bukit yang dirambah adalah tempat yang menyimpan berbagai kemungkinan dan bahaya ada di mana-mana. Langkah demi langkah harus diatur dengan seksama. Tak boleh asal jalan tanpa mengikuti alur yang lazim dilewati. Harus jeli melihat keadaan sekitar dan menilai mungkin tidaknya untuk dapat dilalui. Pada jalan yang menanjak, pastikan selalu untuk menumpu pada bebatuan yang kuat agar tak tergelincir dan terjerembab terjatuh.

Tentang bagaimana kelelahan itu perlu diatur agar tidak sampai membuat kepayahan selama perjalanan. Jarak yang ditempuh dalam pendakian terhitung jauh dan membutuhkan energi dalam waktu yang lama. Energi ini perlu diatur jangan sampai habis di tengah jalan. Istirahat sejenak adalah hal yang mesti dilakukan secara berkala. Tarik napas dalam-dalam, tahan, keluarkan perlahan, dan rasakan detak jantung hingga berkurang denyutannya tak lagi berdegup kencang karena kelelahan.

Tentang bagaimana selama pendakian itu haruslah sopan dan berusaha berinteraksi sebaik mungkin dengan sesama penjelajah yang bertemu di jalan. Bahkan pun dapat dibilang ada tuntutan untuk menganggap mereka adalah saudara sendiri. Persaudaraan di sini yang dimaksud karena adanya pertalian senasib sepenanggungan dalam perjalanan yang dilewati. Mereka bisa jadi adalah pihak yang sangat membantu dan menolong dalam kesulitan dalam perjalanan. Keterbatasan dan keterkucilan pada daerah sekitar menjadikan adanya hubungan ketergantungan dan sepatutnya untuk saling tolong menolong sesama penjelajah.

Tentang bagaimana mengambil manfaat dari apa yang telah tersedia oleh alam selama perjalanan. Ya, dengan peralatan yang terbatas, terasa ada hal-hal kebutuhan yang harus dipenuhi agar masih dapat bertahan. Kebutuhan itu ternyata bisa jadi dapat diambil dari alam sekitar walau hanyalah seadanya seperti air untuk minum dan makanan. Manfaat yang dapat diambil dari alam juga adalah hal tentang menikmati kesegaran alam yang sudah tersedia dan jarang didapati. Air yang jernih dan menyegarkan akan memulihkan kondisi tubuh yang letih dan penat serta udara yang asri akan membuat napas terasa lebih lega.

Tentang yang paling utama didapati dari pelajaran tentang mendaki. Hal ini adalah tentang mengelola emosi. Mendaki adalah proses yang akan menguras energi secara fisik dan juga emosi. Dari keduanya itu jika emosi begitu dicurahkan keluar maka perjalanan akan semakin terasa melelahkan walaupun sebenarnya fisik masih menyanggupi perjalanan. Ketenangan dan meredakan segala kekhawatiran yang rentan membuat panik itu sangat perlu agar tidak menguras emosi. Panik akan hal-hal yang terjadi di luar bayangan dan secara sembrono mengeluarkan emosi adalah hal yang jelas dihindari karena keduanya tidak punya pengaruh baik dalam perjalanan, justru sebaliknya.

Begitulah pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan mendaki. Alam memang menyimpan berbagai pesona tersembunyi di dalamnya dan bagi siapa pun yang memperhatikan pelajaran semacam ini, ia akan berhasil menempuh apa yang ia tuju. Mendaki sendiri adalah suatu proses pembelajaran, bukan sekadar tentang pencapaian tujuan akhir.

Dari seseorang yang telah berpengalaman dengan pendakian berbagai tempat sebagai kegemarannya, aku baru pertama kalinya mendapat pembelajaran semacam ini. Menurutnya, jalannya pendakian itu dapat diibaratkan dan diserupakan dengan perjalanan kehidupan. Ada banyak hal yang dapat diterapkan tentang hikmah pendakian dalam hidup. Aku yang barulah seumur jagung rasanya mengecap hidup ini belumlah seberapa ketimbang asam garam kehidupan yang telah ia jalani dan ambil hikmahnya. Terima kasih, bapak, telah menyarikan pelajaran dari mendaki yang dapat aku pahami untuk diterapkan dalam hidup selanjutnya…

(Painan, 16 Maret 2014)

Iklan

2 thoughts on “yang dipelajari dari mendaki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s