mengubah kebiasaan

Kalau sudah menjadi kebiasaan, susah sekali untuk mengubah hal-hal yang sudah dibiasakan itu. Ada yang sudah menjadi bagian dari watak dan mengakar erat dalam kepribadian. Kebiasaan terbentuk dari hal yang berulang kali dilakukan dan dengan sendirinya terjadi otomatisasi perilaku dalam kehidupan. Dalam menghadapi rutinitas, secara langsung tanpa perlu pertimbangan banyak, terjadilah kegiatan dengan cara-cara menurut kebiasaan yang telah terbentuk.

Lalu, hal macam apakah yang menjadi bagian dari kebiasaan itu? Hal yang memang termasuk kebaikan atau justru malah sebaliknya? Inilah yang kemudian perlu momen untuk menyadarinya. Karena sudah sangat terbiasa dengan apa yang dilakukan, maka kebiasaan dengan lumrahnya sering dianggap sebagai kelaziman yang sudah semestinya. Ia tak sampai dipikirkan masuk ke dalam jenis apakah kebiasaan itu.

Kebiasaan sudah menjadi satu bagian dari diri. Kalau terlalu sampai berlarut berpikir menimbang-timbang kebiasaan, ada ketakutan bahwa jika kebiasaan diubah, lalu secara langsung pasti kepribadian juga akan berubah sebagai konsekuensinya. Apalagi jika pada sosok kepribadian yang kini dijalani itu ternyata sudah pada capaian tingkat kenyamanannya.

Hingga kemudian pada suatu titik akan ada paksaan untuk benar-benar mempertimbangkan tentang hal ihwal kebiasaan ini. Hukum sebab akibat selalu berlaku pada setiap apa yang dilakukan dan diterima. Akibat-akibat yang selanjutnya terjadi di masa depan dan menjadikan adanya kemungkinan persoalan masalah, maka tentu harus dicari sebabnya. Satu indikasi yang mungkin jika suatu persoalan datang berulang kali, maka ada kebiasaan yang sebenarnya mempengaruhi dan perlu diperbaiki. Ada yang perlu diubah jika memang kebiasaan itu setelah dipertimbangkan adalah penyebabnya dan ternyata adalah hal yang tidak baik.

Dari banyak nasehat orang, hal tersulit dalam melakukan perubahan kebiasaan adalah tentang bagaimana cara memulai hal yang baru dan cara membiasakannya. Tidak ada tips, trik, atau kiat macam apa pun yang menjadi jalan pemintas. Kesemua nasehat akan berujung pada satu hal penting yang menjadi modal untuk hal ini, yaitu niat/tekad yang kuat. Memulai hal baru bisa saja hal yang mudah dilakukan sebenarnya, tetapi mempertahankannya berulang kali hingga membekas membentuk kebiasaan butuh tenaga yang kuat dan hanya niat/tekad yang bisa mendukungnya.

Mengubah kebiasaan jelas membutuhkan proses yang tidak instan. Maka, perlu waktu yang tidak hanya sebentar dalam mengharap hasil dari proses ini. Kesabaran menjadi hal berikutnya diperlukan juga sebagai faktor pendukung keberhasilan proses. Tidak dapat dipungkiri juga akan ada kendala-kendala yang menyertai, daya tahan untuk tetap konsisten akan diuji sampai sejauh mana. Ada kalanya ada pengecualian yang mau tak mau menjadikan pengubahan kebiasaan tidak berjalan mulus, apalagi jika kendala itu dari luar kendali diri. Namun, ini seharusnya tidak menjadi alasan pembenar dan kemudian berlanjut pada dalih-dalih yang diada-adakan sehingga menelantarkan kebiasaan yang hendak dibentuk.

Akibat-akibat itu kini sudah terasa dan sudah jelas pula duduk persoalan yang tengah dihadapi. Nyata-nyatanya setelah dipikirkan berulang kali dan diingatkan entah sekian kalinya, semuanya kembali pada satu kesimpulan sederhana. Ada kebiasaan yang perlu diubah. Hanya itu saja. Lalu, di manakah niat/tekad yang kuat untuk dapat melakukannya?

(Cimanggis, 30 Januari 2014)

Iklan

10 thoughts on “mengubah kebiasaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s