klimaks sebelum pergi

Bagi mereka, segala urusan dan kepentingan mereka harus segera terpenuhi. Jangan sampai kesempatan terlewat begitu saja. Jangan sampai ada kendala yang merintangi kehendak mereka. Urusan mereka sudah begitu dianggap sedemikian penting hingga mendesak agar benar-benar terselesaikan.

Itu keinginan mereka dan ya terlihat kemudian betapa berbagai cara ditempuh oleh mereka untuk mencapai itu. Manuver-manuver pun dilakukan. Pertimbangan etika dan proses adaptasi dengan situasi baru tak perlu sampai dipikirkan terlalu lama. Malah terkesan begitu diabaikan dan tanpa perasaan sungkan sesedikitpun, mereka langsung menyerbu sasaran empuk yang begitu menggoda untuk mereka dapatkan.

Ah, sungguh melihat semacam fenomena ini, betapa sudah kemuakan ini mencapai tingkat klimaksnya. Sungguh, muka-muka asli mereka terkuak dengan sendirinya. Tanpa ada tabir lagi, tanpa ada basa-basi, tanpa ada malu yang menyertai. Kemauan mereka sudah mencapai kompromi yang dipaksakan sebelah pihak saja. Kehendak mereka harus dipenuhi mau apa pun persyaratan atau konsekuensi macam bagaimana yang akan menyertai. Urusan masalah yang terjadi di kemudian hari tak sesedikit pun terlintas di benak mereka. Mereka hanya memikirkan tentang sekarang ini, tentang pemenuhan keinginan mereka, tentang bagaimana kepentingan mereka terakomodasi.

Aku pun sudah berencana dari jauh-jauh hari untuk dapat pergi rehat sejenak dari macam kesemrawutan ini. Sebelumnya alasan untuk pergi ini hanyalah sekadar untuk mendapatkan rehat sejenak setelah berpeluh atas pekerjaan yang begitu bertubi-tubi. Kini, kepergian ini bukan hanya tentang itu, ini harus menjadi momen pemulihan diri. Betapa sungguh diperlukan netralisasi pikiran dan perasaan dari kondisi yang membelit ini.

Nantinya ketika kembali lagi, tantangan sudah menghadang di depan mata. Mereka masih bergeliat dengan aksi-aksinya yang entah macam apa lagi. Ya, tak bisa kemudian memilih untuk menghindar dan menghilang pergi lagi. Kekuatan untuk benar-benar menangkis setiap serangan harus semakin ditingkatkan. Minimal kekuatan untuk bertahan mengalihkan kemuakan ini perlu lebih dilatih juga. Ini akan menjadi momen pembuktian mengenai integritas posisi dan bagaimana mereka harus respect atas posisi ini.

Kali ini, ketika klimaks dari segala pergelutan itu kembali terulang, ya aku mendapati masih begitu banyak hal yang perlu diperhatikan dan diambil hikmahnya. Dalam perjalanan kepergian yang sementara ini semoga menjadi momen yang tepat untuk lebih merenungi dan mengolah pelajaran dari apa-apa yang sudah terjadi.

(Painan, 24 Januari 2014)

Iklan

8 thoughts on “klimaks sebelum pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s