tingkatan peran

Butuh waktu untuk mendalami peran agar dapat paham benar akan apa yang dikerjakan. Tak bisa secara instan. Tak tepat juga mengeluh sudah jenuh untuk terus belajar. Tak sepatutnya ketidaksabaran yang malah menguasai diri.

Rentang waktu sejauh ini belumlah layak dianggap sebagai ukuran mumpuni untuk sudah benar-benar paham akan peran. Sekarang, tanyakan saja pada diri, sudah sejauh manakah penguasaan keahlian yang diperlukan? Sudah cakapkah benar?

Jenuh ataupun beberapa prahara polemik yang menyertai menjadi pengaruh kuat untuk ingin segera lepas dari beban peran yang diberikan. Namun, perlu ditilik kembali, sebelum lepas dari kesemuanya itu sudah adakah pembelajaran dan hasil yang memuaskan?

Tahapan sekarang ini menginjak pada ujian kedewasaan peran. Mengerjakan apa yang harus dilakukan dan menjadi terbiasa itu sudah semestinya begitu, tetapi berikan juga nilai tambahnya. Jika kejenuhan itu meminta hal-hal yang baru, maka piculah kreasi-kreasi segar dan naiklah pada level yang lebih sulit lagi. Zona nyaman itu memberikan jebakan untuk tidak berkembang dan melangkah lebih jauh lagi.

Itulah peran yang matang, tak setengah-tengah. Peran yang berdigdaya, memberikan manfaat yang lebih dan dengan sendirinya merasuk pada pribadi diri.

Jika peran itu sudah menjadi satu bagian dari kepribadian, kearifan peranlah yang menjadi tingkatan tertinggi. Ilmu yang telah dijalankan dan sangat dipahami luar dalam akan menjadi harta paling berharga yang dibagikan dengan keikhlasan kepada khalayak luas. Berbagi semacam ini adalah kebermanfaatan yang berlipat-lipat.

Dari awalnya membiasakan akan menjalankan peran, perlu kemudian pendewasaan dengan pembelajaran yang lebih intens dan tingkatan yang lebih tinggi. Ketika bekal penguasaan keahlian sekiranya sudah cukup, maka jangan endapkan harta berharga ini. Bagikan ilmu itu dan jadikan lebih menyatu dengan kepribadian. Dengan cara inilah, kearifan berperan akan tercapai.

Entah sampai kapan memang peran ini harus diemban. Waktu berjalan terus dan peran menuntut perkembangannya. Ada keinginan untuk memberikan usaha terbaik dalam menjalankan peran, maka tak seharusnya peran ini hanya berhenti pada satu tahap yang sebenarnya masih belum ada apa-apanya…

(Painan, 18 Desember 2013)
*terinspirasi dari nasehat dari seseorang sekali lagi tentang peran

Iklan

7 thoughts on “tingkatan peran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s