mengenang momen dalam perjalanan

Mungkin sudah keberapa kalinya perjalanan ini ditempuh menuju kota yang bernama Bandung itu. Ya, setelah kesekian kalinya, kini kembali terulang untuk menjejakkan langkah kaki di sana. Namun, kesempatan kali ini berbeda. Ini bukan untuk berkelana wisata semata atau bertugas atas perwakilan tempat bekerja seperti yang dulu pernah dilakoni. Kali ini, terusung nama pribadi yang diemban pada diri, atas suatu karya yang telah ditorehkan.

Maka, perjalanan ini menjadi terasa berbeda dari awal mulanya. Pertemuan dengan orang-orang yang baru, menginap di tempat yang baru, suasananya serba baru. Ini menandakan bahwa langkah baru seharusnya dapat dimulai pada diri. Entah itu berupa semangat, niat, ataupun kiat nyata dalam pembaharuan babak kehidupan.

Menuju kota Bandung itu pada perjalanan ini juga mengingatkan kesan ibukota yang sekilas terlewati. Ya, ibukota masih sama saja seperti yang dahulu. Atau mungkin ia berubah pada intensitas yang lebih tinggi dengan kemacetan khas dan gedung-gedung berderet begitu rapat. Ah, sungguh pengalaman yang dulu pernah dikecap dalam tempo sekian bulan itu rasa-rasanya belum memberikan rasa kebal untuk tidak merasa jengkel atas kesemrawutan jalanan khas ibukota. Jakarta, begitu banyak orang yang menaruh harapan kepadamu agar berubah, tapi kenapa setelah lama takkusambangi kau nyatanya malah masih seperti ini?

Ah, sudahlah. Memang hampir semua orang yang tidak menyukai kemacetan. Lazimnya seperti itu. Akan tetapi, jika bersama kawan-kawan baru yang begitu antusias dalam perjalanan ini, kemacetan itu menjadi hal yang terabaikan dengan sendirinya. Bercakap berbagi kisah pribadi yang saling bertimpal balik menjadikan kemacetan itu hanyalah latar belakang. Biarkan saja ia terjadi, biar saja ia akan berlalu dengan sendiri. Kemacetan ini pasti akan terurai dengan sendirinya dan ketika benar-benar hal ini terjadi kemudian, lupa sudah segala macam kejengkelan akan kemacetan itu.

Dalam perjalanan ini juga sempat terlihat kilauan cahaya lampu-lampu bertebaran di sepanjang jalan. Entah itu lampu gedung yang megah, entah itu lampu kendaraan yang lalu lalang melintas. Melihat hal semacam ini membuatku merasakan perbedaan yang begitu nyata dengan apa yang ada di ranah rantau. Jalanan di sana tidaklah seramai ini dengan kilauan cahaya-cahaya itu. Cantik sebenarnya, terasa kemeriahan suasana, nuansa yang lebih hidup dan ramai. Sayang saja, pada sekelebat cahaya yang melintas itu, susah sekali ditemukan kealamian pemandangan di sekitar. Mungkin jika sudah terlalu sering dengan cahaya semacam ini, kegelapan yang lebih alami akan menjadikanku lebih rindu dan lebih memilih untuk itu.

Perjalanan, kata orang memang menjadi momen untuk dapat lebih memahami apa yang telah terjadi pada kehidupan dan merenung sejenak. Ada waktu yang tersedia di antara kota tujuan dan asal. Pada waktu itulah diri ini berdiam dan tergerakkan sendiri hingga ke tujuan. Kalau hanya menurutkan kelembaman fisik saja selama perjalanan, maka perjalanan itu tiadalah berkesan. Ia hanya sekadar kelelahan tanpa arti dan waktu sepertinya begitu sayang dibuang begitu saja…

(Lembang, 27 November 2013)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s