treasury passion: sebuah introspeksi

Di jaman sekarang ini sering didengungkan akan adanya passion dalam bekerja. Bekerja sekarang bukanlah sekadar untuk mencari nafkah dan tidak lagi dianggap sebagai salah satu bagian siklus kehidupan manusia yang harus dilakukan. Bekerja dituntut lebih dari itu. Passion harus menyertai dalam diri seseorang ketika ia bekerja agar apa yang dikerjakan itu menjadi salah satu bukti aktualisasi potensi keahlian diri yang bermanfaat untuk khalayak masyarakat yang lebih luas. Tanpa passion, orang hanya dapat bekerja ala kadarnya dan larut dalam rutinitas kehidupan yang terasa menjemukan karena tak ada penggerak yang memotivasi untuk memicu berbuat sebaik mungkin.

treasury passionItulah passion. Sebagaimana yang diutarakan oleh Rene Suhardono dalam bukunya “Your Job Is Not Your Career” bahwa dalam kehidupan seseorang harus mempunyai passion untuk mencapai tujuan hidup gemilang yang dicita-citakan dan membahagiakan. Passion adalah keunikan seseorang yang akan muncul dari segala aktivitas/hal yang diminati berasal dari hati tulus, dijalankan dengan sepenuh hati, senang, dan gembira. Passion sendiri dalam konteks ini lebih dari sekadar alih bahasa dari kata gairah pada bahasa Indonesia, passion lebih dari itu. Begitulah Rene menerangkan arti passion dan pentingnya passion ini dalam perkembangan karir profesi seseorang.

Lalu, bagaimanakah dengan saya, seorang PNS Ditjen Perbendaharaan yang masih terhitung baru mengecap segelintir pengalaman pada instansi ini? Apakah passion itu ada dalam pekerjaan yang saya tempuh selama ini? Sudah adakah rasa menyenangkan yang mampu menghasilkan kontribusi yang terbaik untuk organisasi? Pertanyaan semacam ini terus membuat saya mengevaluasi diri dan terasa sekali dalam perjalanan ini, passion ini mengalami dinamikanya. Passion terkadang begitu meletup-letup, tetapi tak jarang juga terasa begitu kabur dan sulit ditemukan.

Dengan menyepakati poin pentingnya passion ada dalam pekerjaan, pada dunia profesi yang tengah saya geluti sekarang ini, treasury passionpassion yang saya istilahkan dan khususkan untuk menghayati pekerjaan dalam bidang ini–, telah mempunyai ceritanya pada fase-fasenya sepanjang pengalaman saya bergabung…

Awal Mula Bergabung : Menumbuhkan Harapan dan Passion

Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Nama instansi ini awalnya menjadi nama yang asing untuk saya. Sekilas dulu di masa perkuliahan sudah dikenalkan akan instansi ini sebenarnya, namun hanya secuplik saja dari berbagai macam materi yang telah dipelajari. Pendalaman pengenalan akan instansi ini rasanya belumlah cukup didapat dari masa kuliah dahulu dengan materi semacam Akuntansi Pemerintahan dan Hukum Administrasi Keuangan Negara yang cukup intens membahas perbendaharaan negara.

Untungnya dua materi kuliah ini merupakan perkuliahan yang menarik bagi saya. Dari titik mula ini, treasury passion mulai tumbuh. Materi kuliah yang dulu pernah saya minati akan didalami lebih menyeluruh lagi dengan bergabungnya saya pada instansi yang bersinggungan erat akan hal ini. Saya mulai mengingat-ingat materi-materi kuliah dulu itu dan berharap dapat dimanfaatkan saat bekerja nantinya. Passion ini saya rasakan benar menjadi penyemangat saya pada masa awal sekaligus sebagai upaya menepis berbagai opini negatif yang sering saya dengar dari orang-orang mengenai instansi tempat saya bergabung.

Dari kabar yang beredar di antara teman-teman saya waktu itu, memang citra Direktorat Jenderal Perbendaharaan tidaklah mendapat perhatian khusus dan menarik, tidak seperti unit eselon I lainnya yang lebih terkenal pamornya. Malah yang ada dan tersebar dengan demikian cepat adalah kabar-kabar negatif yang menyebabkan instansi ini termasuk instansi yang kurang diminati. Kabar itu seperti penempatan kantor daerah yang lebih terpencil di seluruh pelosok Indonesia, rendahnya penghasilan yang akan diterima dibandingkan dengan unit yang lain, kecilnya kesempatan untuk meraih pendidikan lanjutan, dan lain sebagainya.

Menyebarnya kabar negatif ini menyebabkan semacam fenomena kekecewaan yang tersirat pada sebagian teman-teman saya setelah ia tahu ditempatkan dan diikat bekerja pada instansi ini. Namun, apa yang dapat kami lakukan pada saat itu? Inilah bentuk konsekuensi yang ditanggung oleh lulusan perguruan tinggi kedinasan. Kami tidak bisa memilih instansi manakah tempat kami bekerja nantinya dan menerima dengan lapang hati kebijakan penempatan instansi di mana pun itu. Hal yang harus dilakukan ketika mengetahui di instansi apa ditempatkan adalah membuka lembaran dan harapan baru dengan bergabungnya pada unit instansi yang sudah jelas dan menyudahi kekecewaan atas preferensi yang tidak terealisasi. Babak baru dalam kehidupan harus dimulai dengan melangkah maju, bukan mundur ke belakang dengan larut menyesali atas suatu kebijakan.

Mungkin pada kenyataannya nanti, kabar negatif itu memang benar apa adanya. Akan tetapi, jika pada langkah awalnya saja sudah tidak bersemangat dan menaruh kekecewaaan terus menerus akan instansi  ini, maka treasury passion tidak akan dapat tumbuh. Pekerjaan yang akan dihadapi selanjutnya akan terasa sebagai rutinitas yang membelenggu, hal yang akan terus dielak dan muak untuk dijalani, dan dampak terburuk yang dapat terjadi adalah keinginan yang kuat untuk keluar dan bebas dari ikatan instansi.

Saya tidak ingin menjadi orang seperti itu dan saya memilih untuk menumbuhkan treasury passion ini karena saya ingin dalam pekerjaan yang saya lakukan nantinya ada harapan positif yang menggerakkan kemampuan terbaik saya untuk organisasi.

Dengan keputusan semacam ini, perlahan passion itu tumbuh dengan sendirinya. Dari yang semula tumbuh dari minat materi kuliah yang ternyata merupakan bidang yang dibahas instansi ini, beranjak pada ketertarikan akan pengenalan pertama gambaran organisasi saat masa orientasi. Pada kegiatan ini, secara gamblang tugas instansi dipaparkan langsung oleh para praktisinya. Beberapa program unggulan dikenalkan dan memberikan kekaguman atas prestasi yang dicapai oleh instansi ini dalam melakukan tugasnya. Konsep Sistem Perbendaharaan Anggaran Negara yang digadang memanfaatkan teknologi terkini, manajemen pengelolaan kas dengan diberlakukan Treasury Single Account guna menjamin keakuratan data dan pelaporan, penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat yang sudah memberikan keyakinan memadai akan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan negara, dan masih banyak hal lainnya yang sebenarnya dapat membuat kebanggaan tersendiri telah bergabung pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

Masa Transisi Magang : Mengamati Passion di Sekitar

Kegiatan orientasi dan perkenalan organisasi hanya berlangsung selama beberapa hari. Perkenalan yang sempat membuat saya tertarik ini belumlah cukup untuk menyatakan benar-benar adanya treasury passion. Tahap selanjutnya harus dijalani terlebih dahulu agar pengenalan budaya dan sistem organisasi dapat dipahami. Tahap ini sering disebut dengan masa magang. Masa ini merupakan masa transisi. Magang menjadi kegiatan yang lebih menekankan proses pengamatan dan pembelajaran sebelum sepenuhnya akan diberikan tanggung jawab penuh akan pekerjaan.

Pada tahap ini, menjadi pengamat sekilas tampak begitu mudah. Tak perlu banyak hal yang harus dilakukan, pekerjaan relatif tidak berpotensi resiko tinggi, belum diberikannya tanggung jawab penuh dan juga uraian pekerjaan yang permanen. Program magang diarahkan menjadi pengenalan berdasar kondisi lapangan dari tiap-tiap unit organisasi. Hampir semua unit dari perbendaharaan yang harus dikenali dan itu dilakukan dengan pergiliran jadwal secara periodik berganti dari satu unit ke unit lainnya dalam tempo yang begitu cepat. Seharusnya diperlukan waktu yang lebih lama untuk memahami materi teknis yang harus dikuasai dan pengalaman lapangan dari kasus-kasus yang terjadi. Mengingat keterbatasan ini, magang lebih saya jadikan sebagai momen untuk mengamati bagaimana treasury passion itu ada pada pegawai-pegawai yang telah terikat jelas dengan unit kerja mereka.

imagesMaka, saya dapati ada beberapa yang ternyata dapat begitu asyik dengan kesenangannya sendiri di saat urusan pekerjaan itu selesai dikerjakan. Malah waktu bersenang-senangnya itu lebih diutamakan agar dapat disegerakan ketimbang memastikan benar-benar pekerjaannya itu selesai dengan baik. Mereka akan lebih begitu tampak menikmati momen bersenang-senangnya daripada saat mengerjakan tugasnya. Tampak ada kontras yang begitu jelas di antara peralihan dari tidak bekerja dan bekerja pada sosok mereka. Pekerjaan menjadikan mereka seakan seperti robot yang terpacu pada level-level pencapaian tertentu dan ketika sudah selesai maka ketegangan yang tadinya ada berganti dengan relaksasi hiburan kesenangan yang justru lebih dinikmati.

Pada orang-orang semacam ini, mereka dapat menikmati waktu bekerja mereka. Tetapi yang dinikmati adalah waktu senggang selepas menunaikan kewajiban pekerjaan. Adakah treasury passion menyertai dalam apa yang mereka kerjakan? Saya ragu akan hal itu. Treasury passion akan menjadikan seseorang dapat serius menekuni pekerjaan sekaligus menikmatinya, bukan memilah antara pekerjaan dan kesenangan menjadi dua hal yang berbeda.

Pada contoh yang lainnya, saya mengamati mereka yang terjebak pada rutinitas pekerjaan yang kurang dimaknai. Pekerjaan klerikal yang terus menerus berulang kali dilakukan ternyata telah menjadikan treasury passion mereka tidak tampak sama sekali. Malah mungkin saja mereka hanya memedulikan bahwa pekerjaan yang dilakukan akan diganjar dengan penghasilan yang sebanding. Tendensi untuk bekerja cukuplah sebatas sebagai pemenuh hajat hidup, tak perlu sampai harus dinikmati segala.

Aspek material memang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan tentang apa yang dapat diraih dari pekerjaan yang dilakukan. Namun, jika bisa mendapat lebih dari itu, bisa menikmati dan tertarik untuk mempelajari lebih mendalam akan bidang yang dijalani, bukankah itu jauh lebih menguntungkan daripada penghasilan semata? Passion akan memberikan penggerak seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan belenggu rutinitas semu. Jika hal ihwal perbendaharaan dapat membuat orang tergerak olehnya tentu akan banyak karya-karya brilian yang bermanfaat pada berkembangnya khasanah ilmu perbendaharaan.

Tidak semua orang memang mempunyai treasury passion entah karena keacuhannya atau kekurang mampuannya mengeksplorasi passion. Keterikatan dengan organisasi pun belum tentu murni atas kehendak sendiri. Ada kalanya keberuntungan diperoleh dengan manfaat-manfaat yang dapat dirasakan oleh pribadi dari organisasi, namun kekecewaan juga sering terjadi dengan kebijakan-kebijakan organisasi yang dirasakan merugikan dan membatasi. Konsekuensi atas keterikatan ini seharusnya dapat memberikan pemahaman bahwa apa pun yang terjadi harus dapat diterima dengan lapang. Kekecewaan yang mungkin terjadi berulang kali akan menjadi tantangan untuk mengembangkan treasury passion. Maka, hal ini harus dapat ditepis dan dialihkan dengan berpikir positif mensyukuri keadaan yang diterima.

Treasury passion pada masa seperti ini menjadi sekilas bayangan ke depannya apa yang lebih beragam lagi akan ditemui. Masa magang memang lebih banyak menjadi momen untuk mengamati daripada berkecimpung pada urusan teknis. Pernah terasa mengeluh untuk dapat segera benar-benar beranjak bertanggung jawab penuh lepas dari prosesi magang ini, ingin totalitas menggeluti pekerjaan teknis tak hanya sekadar membantu urusan administrasi belaka yang sering diberikan karena status sebatas magang. Potensi diri rasanya belum terasah benar dan harusnya dibebankan urusan yang lebih teknis lagi anggapan pada masa itu. Namun, pergulatan pikiran semakin kuat pada beberapa pertanyaan. Sudah benar-benar siapkah saya untuk ditempatkan di daerah? Sudah tepatkah momen yang ada untuk terjun pada urusan yang lebih teknis? Mampukah treasury passion ini berkembang lebih dengan selesainya masa magang dan beralihnya pada penempatan definitif?

Realita di Daerah : Passion itu Perlu Dipertahankan

Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Painan. Pada unit vertikal inilah kemudian cerita berlanjut. Kantor inilah yang menjadi penempatan pertama saya dan di sinilah tugas secara penuh akan diberikan, tidak sebatas pengamatan seperti ketika magang. Kota Painan adalah kota yang semula asing bagi saya, kota kecil ini yang terletak pada pesisir barat Pulau Sumatera baru saya ketahui setelah melihat peta persebaran unit KPPN di seluruh Indonesia. Benar rupanya dugaan yang menjadi ketakutan banyak teman saya, penempatan kami ternyata benar-benar tersebar ke seluruh penjuru pelosok negeri ini.

Bayangan pikiran ketika pertama mengetahui penempatan itu bermacam-macam. Kota yang sama sekali belum pernah disambangi akan menjadi tempat bermukim dan bekerja dalam jangka waktu relatif lama. Pada momen ini terasa treasury passion diuji kembali. Hal yang dulu ditepis agar tidak menyurutkan passion ternyata benar terjadi. Ada rasa kecewa yang terbersit dan muncul kembali. Jujur terasa susah awalnya menepis kekecewaan itu, tetapi hal ini dapat dilakukan dengan mensyukuri atas sisi baiknya dari penempatan ini.

kppn painan editedSaya bersyukur Painan merupakan kota yang relatif dekat dengan ibukota Provinsi dan mempunyai beberapa objek wisata. Pada setiap daerah itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kekurangannya memerlukan adaptasi agar dapat menyesuaikan dan kelebihannya inilah menjadi penguat penepis kekecewaan atas kebijakan penempatan.

Status magang dan definitif penempatan ternyata mempunyai perbedaan yang jelas. Apa yang sebelumnya hanya berkutat dengan pengamatan lapangan, mengkaji peraturan, dan pekerjaan klerikal berganti dengan tingkat intensitas pekerjaan yang lebih tinggi dan beragam. Tugas memang sudah dispesialisasikan pada satu bagian tertentu, namun ini yang menjadi perhatian bahwa penguasaan keahlian atas tugas tersebut harus diperoleh dengan baik.

Saya masih ingat pekerjaan pertama yang diberikan kepada saya. Pekerjaan itu adalah menjadi petugas Customer Service melayani konsultasi dan penanganan masalah yang dikeluhkan oleh mitra kerja satker KPPN dalam menjalankan fungsi perbendaharaan. Tugas ini seharusnya diemban oleh pegawai yang sudah berpengalaman dan saya yang masih sedikit paham tentang teknis tentu mengalami kesulitan menjalaninya. Atas tugas ini, saya dituntut untuk belajar dalam waktu yang singkat dan sering dipandu oleh senior melalui praktek langsung.

Lama kelamaan saya merasakan dapat menikmati tugas yang satu ini. Menikmati pekerjaan adalah tanda bahwa treasury passion ini masih ada. Saya menyukai tugas saya untuk memberikan pengajaran kepada satker. Pada tugas ini, tidak hanya pembelajaran mengenai teknis perbendaharaan yang didapatkan, tetapi juga mengenai komunikasi dan interaksi dengan mitra kerja. Manfaatnya juga terasa dengan bertambahnya pengetahuan manakala ada penanganan suatu masalah yang membutuhkan referensi teknis yang belum diketahui sebelumnya.

Pengalaman dari tugas ini sangat bermanfaat untuk tugas saya yang selanjutnya. Hanya beberapa bulan tugas ini berlangsung dan digantikan dengan amanah dari kantor untuk menjadi bendahara. Pada kesempatan tugas kali ini malah saya tidak lagi berfungsi membantu teknis perbendaharaan satker, melainkan justru menjalankan teknis perbendaharaan pada operasional kantor saya sendiri. Hal ihwal yang semula saya pelajari untuk kemudian diajarkan ke pihak lain kini akan saya terapkan dan jalankan sendiri dengan tanggung jawab penuh yang melekat.

Menjadi bendahara jelas bukan tugas yang mudah. Bagi saya ini adalah tingkatan yang lebih tinggi dari tugas semula dengan resiko dan konsekuensi yang lebih tinggi juga. Pengalaman saya sebagai customer service tidak serta merta menjadikan saya langsung lancar mengerjakan tugas ini, tetap dibutuhkan proses belajar intensif. Treasury passion sangat dibutuhkan agar semangat belajar terus ada dan bermanfaat untuk pelaksanaan pekerjaan.

Tugas bendahara ini ternyata tidak secara langsung menghapus tugas customer service. Karena keterbatasan personel, maka saya juga merangkap bergantian dengan pegawai lain. Tidak hanya itu, tugas bertambah dengan fungsi wakil supervisor database. Saya harus belajar keahlian yang lain lagi dan cukup membuat terbebani ketika awal menjalaninya. Ternyata ilmu yang baru ini menjadi pembangkit treasury passion bagi saya. Dari posisi sebagai supervisor terasa manfaatnya untuk dapat memahami alur prosedur aplikasi dari seluruh seksi teknis, menjadikan saya mempunyai pemahaman lebih luas lagi tidak terkurung pada satu urusan teknis belaka. Semakin banyaknya tambahan pengetahuan dan keinginan untuk mendalaminya merupakan hal yang berdampak positif bagi pengembangan treasury passion. Pelatihan, sosialisasi, atau bimbingan teknis juga sering diadakan oleh kantor pusat dan hal ini sangat berguna untuk pemahaman komprehensif atas teknis tugas terkait.

Pada rentang waktu tertentu, treasury passion ini dapat dibangkitkan dengan ketertarikan akan ilmu baru dan menikmati proses pekerjaan yang diberikan. Namun, bukan berarti passion ini tidak mengalami hambatan dalam perjalanannya. Faktor internal kadang mempengaruhi dengan adanya rasa bosan, jenuh, dan malas dalam pekerjaan, tetapi faktor lingkungan menjadi ancaman yang sulit ditepis untuk masih dapat mempertahankan passion.

Di daerah, kasus-kasus perilaku pegawai yang dulunya saya amati semasa magang jauh lebih kompleks lagi. Treasury passion yang ada pada tiap pegawai terasa lebih beragam dan dinamikanya dapat berimbas satu sama lain. Ada pegawai yang ternyata hanya dapat mengerjakan tugas klerikal dan sulit memahami teknis. Ada pegawai yang meningkat kualitas pekerjaan jika ada imbalan materiil yang diharapkan menyertai. Ada pegawai yang lebih sibuk dengan urusan lain yang harusnya menjadi sampingannya selama ada di kantor. Ada berbagai macam dan sayangnya variasi kasus itu cenderung pada hal-hal yang dapat mengaburkan apakah masih ada treasury passion pada pegawai semacam ini.

yjinycLingkungan mempunyai kesempatan untuk mempengaruhi. Jika lingkungan didominasi oleh persepsi yang cenderung negatif, maka perlu kekuatan lebih untuk dapat menepis dan membangun passion. Perlu ada keyakinan kuat tidak semua pegawai dalam satu kantor itu memiliki persepsi negatif seluruhnya. Pada contohnya di kantor saya masih ada role model yang patut dicontoh walaupun jumlah pegawainya sedikit untuk itu. Ada beberapa senior yang masih memiliki treasury passion dan menjadi andalan pelaksanaan tugas kantor. Kinerja mereka diakui memiliki performa yang baik, walau untuk melihat apakah mereka benar-benar menikmati tugasnya masih belum tampak jelas.

Tak dapat dipungkiri sesekali passion ini meredup mengikut arus dominasi lingkungan. Pada saat semacam ini butuh pemicu lebih untuk tetap bersemangat apalagi jika dalam diri sendiri sedang dilanda kemalasan dan rasa jenuh. Padahal pada beberapa situasi dibutuhkan passion yang kuat agar dapat lebih lancar dan tenang menyelesaikan tugas yang banyak dan mendesak untuk itu. Tindakan tepat pada momen seperti ini yaitu  mengabaikan pengaruh lingkungan, mengingat kuat pentingnya treasury passion, dan lihat pegawai-pegawai yang mampu berdedikasi penuh atas pekerjaannya.

Seburuk apa pun lingkungan, tetaplah berusaha yang terbaik dengan passion yang lebih kuat. Pekerjaan jika tak bisa jiwai dan nikmati, apalah artinya. Nafkah penghasilan memang tetap saja akan diterima, tetapi adakah kepuasan batin dalam mengerjakannya, ini yang perlu dicamkan. Justru dengan lingkungan yang negatif itu, seharusnya dapat diambil kesimpulan bahwa seperti itulah yang terjadi jika tak ada passion yang menyertai. Maukah dirimu seperti mereka?

Inilah suatu bentuk introspeksi perjalanan selama bergabung dengan instansi ini. Perbendaharaan, sudah dapatkah saya menjiwai bidang yang satu ini? Perjalanan masih panjang selanjutnya, dinamika yang sekarang ini dirasakan mungkin belumlah sekompleks apa yang akan dialami pada periode selanjutnya. Mempertahankan passion merupakan hal yang penting agar dapat menikmati pekerjaan dan menghasilkan kinerja yang memuaskan.

Untuk bisa menjadi kuat dan bertahan sebaik mungkin dalam pekerjaan sebenarnya tidak memerlukan keahlian teknis yang bagus, tetapi membutuhkan syarat yang sederhana, nikmati pekerjaan itu sepenuh hati. Inilah passion, lebih khususnya pada hal perbendaharaan, treasury passion.

Your strength is not what you’re good at. It is what you enjoy the most! It’s your passion (Rene Suhardono dalam bukunya “Your Job is Not Your Career”)

Painan, 30 Oktober 2013, 19.26

Iklan

18 thoughts on “treasury passion: sebuah introspeksi

  1. nazhalitsnaen said
    Pada setiap daerah itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kekurangannya memerlukan adaptasi agar dapat menyesuaikan dan kelebihannya inilah menjadi penguat penepis kekecewaan atas kebijakan penempatan.

    Saya sependapat sekali.
    Suatu daerah pasti ada hal-hal yang mengasyikkan, itulah kenapa saya betah di Batam, yg sudah lebih dari 10 tahun berjalan. Padahal dulu kesannya seperti daerah baru selesai perang 🙂

    • belum bersua dengan Batam nih, mas…
      padahal udah ada direct link flightnya hehehe

      ni saya juga melihat ada geliat kemajuan di Painan, semoga juga menjadi penambah kebetahan di sini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s