carocok, nama yang sudah masyhur

Satu hal yang pertama kali saya kenal tentang Painan adalah tentang pantainya, yaitu Pantai Carocok. Pada setiap informasi yang saya cari tentang Painan dari dunia maya sebelum saya benar-benar singgah di sana, hampir kesemuanya mengaitkan Painan dengan Pantai Carocok ini. Benar-benar membuat saya penasaran saat itu. Seperti apakah Pantai Carocok ini sampai begitu lekat sebagai ikon Painan? Ketika itu, saya yang terhitung jarang mengunjungi pantai, sangat antusias untuk dapat benar-benar merasakan langsung pesona pantai ini. Dari foto yang beredar saja, saya sudah merasakan betapa menyenangkannya jika ada kesempatan untuk ke sana.

P1070834Saya ingat awal-awal ketika saya pertama kali berada di Painan ini. Imaji tentang Pantai Carocok begitu sering mengusik saya. Informasi yang saya dapat dari pegawai sekantor mengatakan bahwa letak dari pantai ini terhitung masih dekat lokasinya dari kantor. Ya, kota Painan ini sebenarnya bisa dibilang kecil, ke mana-mana tidak membutuhkan jarak perjalanan yang jauh sampai ke batas kota. Hal sepertilah yang membuat saya terusik, kalau memang mudah untuk dapat menemukan pantai ini dan juga jarang-jarang ada pantai dalam jarak yang sepertinya terhitung masih dekat ini, kenapa tak bersegera saja mengunjunginya?

Sekitar dua kilometeran rasanya jarak antara kantor saya dengan pantai ini. Dua kilometeran! Jarak yang memang dekat sekali. Kesempatan pertama kali saya ke sana ketika itu iseng sendirian dan meminta petunjuk dengan diantarkan oleh tukang ojek setempat. Dengan ongkos Rp 2.000,- saat itu dan perjalanan yang hanya dalam hitungan menit, saya sudah sampai di pantai yang disebut-sebut ikonnya Kota Painan itu.

Melihat pantai ini, saya langsung kalap gembira keriangan. Saya yang memang bisa dibilang sudah terbiasa dengan alam lereng pegunungan khas Salatiga, begitu senang dapat menemukan pantai yang jarang-jarang saya lihat kalau bukan diniatkan untuk kesempatan wisata. Ya, kali ini tanpa harus merencanakan suatu wisata dalam perjalanan jauh pun, saya dapat mengunjungi suatu pantai dengan mudahnya di sini. Mungkin inilah juga yang menjadikan pantai ini sedemikiannya terkenal untuk Painan. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota dan akses transportasi ke sana pun juga mudah.

P1030114“Selamat datang di Objek Wisata Pantai Carocok” tulisan pada suatu lereng landai inilah yang menjadi penanda kalau sudah sampai di Pantai Carocok. Memasuki area pantai ini, ada jalan setapak yang sedikit menanjak kemudian berbelok menurun hingga menuju kawasan utama pantai. Ah, saya jadi teringat. Awal mula saya ke sini, saya malah mengira kawasan utama pantai ini adalah pada lahan area parkirnya. Ahahaha, beginilah jadinya kalau datang pertama kali sendirian tanpa pemandu. Lahan luas yang berbatasan laut dan dibatasi dengan bebatuan penahan ombak itu saya kira dulunya adalah area utama. Walau baru sebatas sampai di area parkir saja, saya sudah terpesona dengan pemandangan yang ada. Saya dapat melihat tampak jauh kota Painan ini yang rupanya berupa teluk dan Pantai Carocok ini berada pada semenanjung sebelah utaranya. Berhadapan persis dengan area parkir pantai ini ada barisan perbukitan hijau dan pelabuhan kecil Panasahan yang merupakan semenanjung sebelah selatan. Terlihat dari sini, air laut pada teluk ini yang ombaknya kecil menggoyang-goyangkan perahu-perahu bagan nelayan. Pemandangan yang masih orisinil menurut saya.

Itu baru area parkir saja yang sudah menyajikan pesonanya, saat masuk area utama, saya semakin kegirangan. Pantai ini layak memang menjadi ikon Painan! Pantai ini dihiasi dengan jembatan-jembatan dermaga yang dapat dilintasi untuk menyusuri pantai. Sayang pada saat itu jembatan yang masih berupa kayu-kayu ini tampaknya kurang meyakinkan dapat bertahan lama. Selain jembatan yang melingkari kawasan pantai, ada juga jembatan khusus yang menghubungkan pantai dengan pulau yang sangat dekat dengan pantai ini, yaitu Pulau Kereta. Pulau ini relatif kecil dan tampak seperti gundukan bebatuan yang penuh dengan pepohonan sebenarnya. Beberapa warung tampak berjejeran di pinggir pulau dan ada juga beberapa perahu kecil yang ditambatkan dekat dengan pulau ini. Adanya pulau kereta tampaknya juga menjadi keunikan dari Pantai Carocok.

P1030123Kesan pertama kali mengunjungi Pantai Carocok sangatlah berkenang bagi saya. Saya mendatanginya di saat yang tepat. Saat itu saya mendatanginya seusai pulang kantor dan bertepatan dengan momen matahari tenggelam yang tampak dari pantai ini. Seolah-olah di hadapan saya ketika itu tersaji lukisan alam yang tiada duanya dengan pulasan warna langit khas senja. Sayang, saya tak sempat menikmati momen ini sampai mentari benar-benar bersembunyi, ada urusan yang saya perlu benahi kala itu.

Jelasnya dengan pengalaman pertama kali seperti itu, membuat saya tak puas hanya mengunjungi pantai ini hanya sekali. Bahkan pun, hingga sekarang bisa dibilang saya sudah berkali-kali mengunjunginya, tetapi tetap saja tak ada kata bosan yang menghampiri benak saya saat berada di sana. Saya malah merasakan pada setiap kali kunjungan ke pantai ini, ada-ada saja pesona yang baru kali itu saya temukan dan membuat saya merasa dekat dengannya.

Bermain-main melewati air laut yang menggenang surut dan tampak batu karang ditumbuhi rumput-rumput laut itu adalah hal yang menjadi kesukaan saya untuk dilakukan di sini. Jernihnya air laut juga tak jarang membuat saya berkesempatan melihat banyak ikan-ikan unik khas tropis berenang dengan lincahnya. Sekadar iseng melintasi jembatan dermaga dan menikmati pemandangan juga sering saya lakukan. Beberapa tempat menjadi persinggahan kesukaan saya, seperti di sekitaran pinggir pulau Kereta yang berupa bebatuan atau gazebo kecil yang sayang kurang terawat. Menyantap serat kelapa muda dan airnya langsung dari buahnya juga merupakan kenikmatan tersendiri di tengah panasnya khas Pantai Carocok di siang hari.

Pantai Carocok bisa dibilang sebagai salah satu dari bagian kesatuan paket wisata Painan. Ya, dari pantai ini, tidak perlu jauh-jauh untuk dapat menikmati pesona Painan lainnya. Dengan menyeberang melalui perahu-perahu speedboat kecil selama sekitar 5 menit, maka Pulau Cingkuak sudah dapat dijangkau. Pulau ini malah menurut saya menyimpan lebih banyak pesona daripada Pantai Carocok. Pantainya yang putih, reruntuhan puing benteng Portugis, dan terumbu karang yang tersebar di sana merupakan hal yang masih asli dan alami yang dapat ditemukan. Selain Pulau Cingkuak, ada juga Bukit Langkisau yang masyhur juga sebagai ikon Painan. Melalui perjalanan menanjak menyusuri jalan beraspal, akan dapat disaksikan panorama khas dari ketinggian yang sering membuat takjub banyak orang.

Ada banyak perubahan memang yang saya dapati dengan membandingkan kenangan pertama ke sini dengan kondisi sekarang. Perluasan lahan areal parkir dengan penimbunan pantai secara masif, perbaikan jembatan dermaga dengan mengganti kayu-kayu yang sudah lapuk dengan beton yang lebih awet, pemangkasan perbukitan yang saya dengar katanya akan dibangun jalur jalan alternatif menuju ke pantai sini, dan berbagai macam pembangunan yang terus bergeliat memodifikasi pantai ini.

Ah, modifikasi pantai. Untuk saya yang sebenarnya pecinta orisinalitas suatu daerah, agak menyayangkan hal seperti ini. Kealamian yang saya temui dari pantai ini pertama kali sudah mulai berubah sekarang. Memang pada satu sisi ini adalah hal baik dengan pembenahan sarana-sarana penunjang untuk wisatawan dapat menikmati pantai. Namun, konsekuensi pembangunan yang sering tak ramah dengan lingkungan ini menggerus kealamian yang sebenarnya menjadi pesona tersendiri untuk Pantai Carocok.

Apalagi belakangan ini arus wisatawan yang datang ke sini dapat terbilang meningkat pesat. Bahkan pun, setiap akhir pekan saya ke sini, pantai sudah sesak dipenuhi oleh para wisatawan. Keramaian semacam ini yang malah sering membuat saya tak nyaman karena tak bisa bebas menikmati pesona pantai sepenuhnya. Akibat dari keramaian ini juga menimbulkan pemandangan sampah yang banyak berserakan di mana-mana dan jelaslah ini merusak kealamian dan keindahan Pantai Carocok.

Memang pembangunan ini masihlah dalam tahapan proses, belum rampung benar sehingga kekacauan-kekacauan ini sedikit mengganggu saat berada di sini. Dengan peningkatan arus wisatawan semacam ini memang dibutuhkan perluasan lahan dan pembenahan tata ruang pada pantai ini. Semoga saja pemerintah dapat mengatur kebijakan yang tepat untuk Pantai Carocok agar pesonanya itu tidak semakin memudar, bahkan akan lebih terkenal lagi tak hanya di Ranah Minang ini saja.

Saya yakin suatu saat jika pengelolaan kawasan wisata ini berjalan dengan penuh tanggung jawab, menyeimbangkan keharmonisan alam, tak hanya orientasi pada profit semata, dan juga dengan perencanaan tata ruang yang matang, maka Pantai Carocok ini akan terus menjadi ikonnya Kota Painan dan namanya juga akan masyhur menyebar luas ke seluruh Nusantara

Iklan

6 thoughts on “carocok, nama yang sudah masyhur

    • ah pernyataan ini yang sedari tadi saya lupa untuk digabungin di tulisan ini secara simpelnya, mas…
      kalau ke Painan belum ke dua tempat ini belum bisa dikatakan sudah datang ke Painan hehehe…
      makanya jadi ikon terkenalnya…

  1. […] Semenjak saya merantau di daerah yang geografisnya berupa pantai, mulai saat itulah saya menyukai pantai sebagai tempat untuk menyegarkan diri dari kepenatan rutinitas pekerjaan. Apalagi di sana, untuk pergi ke pantai tidak perlu susah payah, cukup mudah dijangkau. Pantai yang sering saya kunjungi adalah Pantai Carocok, pantai yang sudah cukup masyhur namanya. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s