keliling ibukota itu mudah, ikuti saja rute busway transjakarta

Jakarta itu luas kata banyak orang. Sedemikian luasnya hingga untuk menempuh satu daerah ke daerah lainnya saja membutuhkan waktu yang begitu lama. Bukan perkara jarak tempuh sebenarnya, tetapi kesemrawutan dan padatnya transportasi yang memang masih menjadi kendala untuk bepergian di Jakarta. Walau begitu, rute busway Trans-Jakarta menjadi alternatif menarik untuk dapat berkeliling di ibukota ini. Dengan biaya yang relatif murah dan bus shelter yang sudah tersebar hampir seluruh titik akan memudahkan Anda berkelana. Ya begitulah, tetapi dengan konsekuensi klise berdesak-desakan dan kemacetan khas Ibukota tentunya.

P1080557Fasilitas transportasi Trans-Jakarta dapat dikatakan sebagai salah satu kekhasan Ibukota. Dengan berbagai koridor jalur yang sudah terbentuk dan juga armada bis yang cukup banyak, menjadikan sarana serupa Trans-Jakarta belum dapat ditemukan di kota besar lainnya di Indonesia. Mengingat Trans-Jakarta pada era saya masih kuliah, saya termasuk yang penasaran ingin menggunakannya karena sarana ini memang masih dikenal sebagai hal yang baru. Dengan personanya yang sering tampil di media publik waktu itu, saya berasumsi sebelumnya bahwa Trans-Jakarta ini kelihatannya fasilitas transportasi modern yang memang cocok dengan kemajuan pesat Ibukota.

Canggung, inilah yang saya alami saat pertama kali berkendara dengan sarana transportasi yang satu ini. Trans-Jakarta memang berbeda dari sarana transportasi yang ada di Jakarta pada umumnya. Tidak bisa sembarangan untuk dapat menaikinya, kita harus membeli karcis pada loket dan kemudian sabar mengantri di shelter. Untunglah pada kesempatan pertama untuk menggunakan fasilitas ini saya didampingi oleh kawan saya yang sudah berpengalaman. Saat itu saya dan kawan-kawan hendak mencari buku-buku perkuliahan di daerah Kwitang, Senen. Koridor jalur yang kami lewati berawal dari halte Blok M hingga Harmoni dilanjutkan dengan jalur lain Harmoni-Pulogadung dan berhenti di halte Senen.

Sesudah pengalaman pertama itu, saya tidak lagi menggunakan fasilitas Trans-Jakarta dalam kurun waktu yang lama karena jarangnya saya bepergian ke Ibukota. Sebenarnya ingin sekali memanfaatkan sarana transportasi ini, tetapi entahlah keinginan ini kemudian terabaikan begitu saja. Mungkin dulu saya menimbang-timbang terlalu ribet juga kalau menggunakan Trans-Jakarta karena dari kampus menuju halte terdekat (yakni Blok M) cukup jauh jaraknya dan termasuk rute yang rawan macet. Hingga kemudian saat saya benar-benar menjadi penduduk Ibukota (kampus saya dapat dibilang belumlah termasuk wilayah Ibukota sebenarnya) dengan magang tempat bekerja ada di sana, maka keinginan menggunakan Trans-Jakarta mulai muncul kembali.

P1150171Bahkan, pada saat itu muncullah gagasan unik yang terbersit pada benak saya. Terinspirasi oleh rute busway yang ada pada agenda saku tahunan saya, saya berkeinginan untuk berkeliling Jakarta dengan mencoba seluruh rute koridor jalur yang tersedia oleh Trans-Jakarta ini. Ya, dari rute yang tersaji pada agenda saya ini, tampak bahwa hampir seluruh area Jakarta dapat dijangkau oleh Trans-Jakarta. Harga tiket Trans-Jakarta sebesar Rp 3.500,- (bahkan saat pagi hari sebelum jam tertentu, harga tiket hanya Rp 2.000,- saja) cukup menjadi modal untuk jalan-jalan Jakarta dan dapat berpindah dari satu jalur ke jalur lainnya, asalkan tidak sampai pada halte akhir agar tidak perlu membeli tiket lagi untuk perjalanan kembalinya.

Maka, dimulailah perjalanan keliling saya Jakarta dengan Trans-Jakarta. Namun, perjalanan ini tak bisa saya tempuh dalam sekali waktu. Rute-rute yang saya tempuh saya pisah-pisah pada beberapa kali kesempatan. Era magang bekerja waktu itu menjadikan hampir setiap akhir pekan saya menjadi pengguna Trans-Jakarta dengan rute yang berbeda-beda. Bisa dapat dikatakan dulu, keliling rute busway semacam ini menjadi pengisi kegiatan di kala waktu senggang akhir pekan dan juga untuk mengenali Ibukota lebih dekat.

Koridor yang paling sering saya gunakan pada mulanya adalah rute halte Harmoni-Pulogadung (koridor II) dan rute Kampung Melayu-Senen-Ancol (koridor V). Koridor ini merupakan koridor yang dekat dengan tempat saya magang bekerja dan juga kos saya di Ibukota waktu itu. Dua koridor ini memiliki dua halte sentral yaitu halte Harmoni dan Senen yang menjadi halte transit dari berbagai jalur koridor lainnya. Dari dua jalur inilah kemudian saya iseng-iseng mencoba rute lain seperti Blok M-Harmoni-Kota (koridor I), Harmoni-Pasar Baru-Kalideres (koridor III), dan Harmoni-Lebak Bulus (koridor VIII). Rute lain itu saya tempuh dari halte awal hingga halte terakhir kecuali pada koridor III, untuk koridor ini saya hanya sampai halte Jembatan Gantung saja, tidak sampai ke halte akhir Kalideres.

Koridor lainnya tentu kemudian menjadi ketertarikan saya untuk mencobanya. Koridor VI dari halte Ragunan-Kuningan saya coba saat itu karena iseng juga hendak mengunjungi kantor cabang tempat saya bekerja, yakni KPPN Jakarta V, yang berlokasi di Jalan TB Simatupang dekat dengan halte Deptan pada jalur tersebut. Koridor IX dari halte Pluit-Pinang Ranti termasuk dalam daftar keisengan saya untuk bisa sampai ke halte Taman Mini Garuda yang mana dekat dengan lokasi wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Koridor X dari halte Cililitan-Tanjung Priok menjadikan saya dapat berkunjung melihat seperti apa daerah pelabuhan Tanjung Priok. Koridor IV halte Dukuh Atas 2-Pulogadung juga pernah saya lewati walau tidak sampai ke halte akhir Pulogadung, cukup sampai halte Sunan Giri saja. Koridor VII halte Kampung Melayu-Kampung Rambutan juga sama, saya tidak sampai ke halte akhir Kampung Rambutan, berhenti sampai halte Flyover Bogor saja. Dengan demikian, semua koridor rute busway sudah saya lewati saat saya magang di Ibukota, walau memang pada beberapa rute tidak sampai pada terminal akhir.

Kesan yang saya dapati selama perjalanan saya berkeliling menggunakan Trans-Jakarta itu bermacam-macam sebenarnya. Namun, kesan ini dapat dipilah menjadi dua bagian sederhana. Yang pertama adalah kesan positif dengan puasnya saya dapat mengenali daerah-daerah Ibukota. Yang kedua, kesan negatif dengan kadang berdesak-desakan di dalam bus dan juga menunggu kedatangan bus dalam waktu yang lama. Hal ini memang kejelekan dari sarana transportasi ini, namun malah sebenarnya memberikan dampak positif dengan memberikan pelajaran agar lebih sabar dalam perjalanan. Kehati-hatian dan kewaspadaan juga menjadi lebih diperhatikan selama perjalanan mengingat rawannya kriminalitas pada kerumunan orang yang berdesak-desakan, apalagi untuk saya yang seringkali sendirian dalam perjalanan keliling saya ini. Alhamdulillah pengalaman saya selama menggunakan fasilitas yang satu ini, tidak terjadi kriminalitas pada diri saya.

Saya memang dapat dibilang nekat mencoba-coba rute-rute busway Trans-Jakarta. Akan tetapi, berkeliling Jakarta dengan Trans-Jakarta dapat dibilang juga tidak akan menjadikan saya menjadi tersesat dalam perjalanan. Memang pada pengalaman pertama mencoba rute akan didapati daerah-daerah asing yang belum diketahui. Namun, santai saja, dengan adanya para petugas yang stand by di dalam bus, tanya saja sampai mana rute yang dilewati, walau memang tak semua petugas Trans-Jakarta ramah dalam memberikan info perjalanan. Dengan dua jalur bersebelahan bolak-balik dari kebanyakan rute busway juga memberikan keyakinan kalau perjalanan sudah menempuh arah yang salah, berhenti saja pada salah satu halte dan kemudian beralih pada bus pada arah yang berlawanan untuk kembali ke titik semula. Tentunya rute busway yang sudah ada pada agenda saku saya sangatlah bermanfaat juga sebagai panduan arah saya agar tidak tersesat pada rute perjalanan keliling dengan Trans-Jakarta ini.

Seusainya masa magang bekerja saya dan beralihnya tempat kerja saya nun jauh dari Ibukota, pada saat itulah saya sudah merasa puas telah berkeliling Ibukota dengan Trans-Jakarta ini. Perjalanan keliling semacam ini telah menjadikan saya yang semula buta dengan Ibukota menjadi lebih paham bagaimana caranya mencapai suatu daerah tertentu di sana. Ketika me-review ulang kembali rute-rute yang pernah saya tempuh dengan sarana ini, saya dapati suatu kesimpulan sederhana bahwa sebenarnya keliling Ibukota itu mudah, cukup ikuti saja rute busway Trans-Jakarta…

Iklan

6 thoughts on “keliling ibukota itu mudah, ikuti saja rute busway transjakarta

  1. bagi penikmat ibukota sehari-hari, ada kalanya sangat perlu alternatif transportasi, sering saya satu jam menunggu busway di shelter sampai terlambat masuk kelas kursus, tapi kadang juga memilih menunggu satu jam itu demi lebih aman dibanding sy naik metromini atau mayasari, hehe…

    • metromini atau mayasari… sensasi roller coaster bagi saya huhuhu…
      dan ya di metromini juga pernah kehilangan hp karena didempet2 gak jelas saat balik dari mudik…

      dan sekarang saat berada di luar Jakarta seperti ini malah jadi bikin ndeso kumat kalau liat ada transjakarta pengen nyoba lagi 😀

      • kalau masalah kehilangan dompet, seingat saya hampir satu setengah tahun di jakarta, sudah 3 x kehilangan dompet, atm, dan kartu identitas, smp mbak mbak BRI kenal karena terlalu sering ganti kartu ATM, -_-
        smg sudah cukup kehilangan2 begitu 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s