inilah kota kesayanganku, salatiga

Sudah sekian lamanya saya pernah bermukim pada suatu kota kecil yang bernama Salatiga. Terhitung semenjak lahir hingga saya menyelesaikan pendidikan SMA, saya tinggal dan menetap di sana. Tentu selama kurang lebih 18 tahun itu, ada berbagai kenangan yang tertorehkan antara saya dengan kota itu.

salatigaSalatiga telah menjadi kota kenangan bagi saya yang kini menjadi perantau di ibu kota sementara waktu ini. Begitu banyak interaksi telah terjadi selama rentang waktu yang cukup lama selama saya berada di sana. Bersama keluarga saya yang mendiami rumah sederhana di Jalan Veteran no 29, kehangatan dan kebersamaan keluarga jelas kental terasa. Bersama teman-teman dari SD Negeri Ledok 2 Salatiga, SMP Negeri 1 Salatiga, dan SMA Negeri 1 Salatiga, saya mempunyai berbagai macam kisah pertemanan dengan suka-dukanya masing-masing. Bersama masyarakat Salatiga, saya rasakan keberagaman dan kebersamaan khas orang Jawa.

Kali ini, sehubungan dengan momen saya kembali pulang lagi ke kota ini, maka saya hendak berbagi cerita tentang Salatiga. Menyusuri perjalanan dari ibu kota menuju kota kecil ini, membuat saya begitu ingin membahas tentang kota ini. Karena kota ini telah menjadi bagian dari sejarah saya dengan kenangan-kenangan yang menjadikannya saksi bisu atas semua itu.

Well, baiklah kita akan mulai dari pengetahuan umum tentang kota Salatiga.

Salatiga dapat dikatakan sebagai kota yang cukup identik dengan posisi tengah menurut saya. Kota ini termasuk dalam jajaran pemerintah tingkat II setara dengan kabupaten di provinsi yang ada nama “tengah”-nya, yakni Jawa Tengah. Selain itu, kota ini berada di tengah-tengah daerah Kabupaten Semarang yang mengelilinginya. Letak geografisnya sering dikatakan cukup strategis karena berada pada tengah jalur jalan negara antara Kota Semarang dengan Kota Surakarta, dua kota besar di provinsi Jawa Tengah. Uniknya lagi, bila disinggung kembali tentang letak geografisnya, kota ini juga berada di bagian tengah dari Gunung Merbabu. Maksud tengah di sini sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai lereng, sekadar memaksakan korelasi hubungan antara Salatiga dengan kata tengah he ^_^.

Tentang nama kota ini, kebanyakan orang sering menjadikannya sebagai bahan lelucon yang sudah lazim. Setiap kali ada tebakan, “kota apa yang nilai ujiannya selalu tujuh?”, pasti langsung dijawab, “Salatiga” :D. Hm namanya yang unik dan bisa dijadikan lelucon ini tentu punya sejarah tersendiri bagaimana ia berasal mula. Bukan karena penduduk kota ini kalau ada ujian nilainya mesti tujuh terus. Saya sebagai penduduknya bisa saja mendapatkan nilai 97 karena soalnya ada 100 :P, tidak mesti nilainya tujuh terus he.

Menurut wikipedia, asal usul kota ini ditandakan dengan adanya suatu prasasti yaitu Prasasti Plumpungan yang menyebutkan sudah adanya kota ini sejak tahun 750 Masehi silam. Bisa dikatakan Salatiga ini kota yang cukup tua di Indonesia dengan adanya bukti demikian. Tanggal tertulisnya prasasti tersebut, 24 Juli 750 Masehi, dijadikan sebagai hari jadi kota Salatiga, sehingga sekarang kota ini sudah berusia 1250 tahun (wah, tuanya). Munculnya nama Salatiga karena diduga adanya penyerapan istilah dari nama kota ini sebelumnya, seperti trisala.

Itu versi yang dapat dipercaya karena merupakan sejarah hasil penelitian. Nah, yang lebih terkenal di kalangan masyarakat adalah versi asal-usul kota Salatiga berdasarkan legenda. Disebutkan dalam legenda bahwa nama Salatiga muncul dari kisah perjalanan Ki Ageng Pandanaran, seorang bupati daerah yang kini dikenal dengan nama Semarang dan juga merupakan murid dari Sunan Kalijaga. Alkisah, suatu hari Ki Ageng Pandanaran diberikan tugas oleh gurunya untuk pergi ke suatu tempat. Dalam perjalanannya menuju tempat yang dituju itu, ia bertemu dengan tiga orang perampok yang hendak merebut paksa harta yang dia bawa. Namun, karena salah satu persyaratan dari gurunya yang tidak memperbolehkannya membawa harta selama perjalanan, maka dia dengan lantang menyerukan kepada tiga orang perampok itu dengan ucapan “salah telu” (salah tiga, red.). Dari kisah inilah kemudian tempat bertemunya Ki Ageng Pandanaran dengan tiga perampok itu tadi disebut dengan Salatiga, hasil serapan istilah dari “salah telu”.

Seperti itulah tadi cuplikan sejarah asal-usul kota Salatiga. Beranjak dari topik sejarah, maka selanjutnya kita bahas mengenai apa saja hal-hal yang terkenal dari Salatiga.

Hm tentang apa yang terkenal dari Salatiga ini, dulu sewaktu penjajahan Belanda, kota ini dijadikan obyek peristirahatan dengan nuansanya begitu asri dan sejuk khas daerah pegunungan, sampai-sampai mendapatkan julukan “Kota Salatiga yang Terindah di Jawa Tengah”. Hingga sekarang pun, masih dapat ditemui beberapa obyek peristirahatan yang menyuguhkan pemandangan khas pegunungan, contohnya di daerah Kopeng. Jejak-jejak penjajahan Belanda pun kini masih dapat disaksikan dengan masih adanya beberapa bangunan kuno khas Belanda yang dijadikan sebagai cagar budaya. SMP saya pun, SMP Negeri 1 Salatiga, hingga kini masih mempergunakan bangunan warisan Belanda juga lo, jadi agak serem gimana gitu he.

Bila dilihat dari sisi sejarah lagi, kota ini juga menjadi saksi bisu perjanjian antara antara Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said (kelak menjadi KGPAA Mangkunegara I) di satu pihak dan Kasunanan Surakarta dan VOC di pihak lain. Perjanjian ini menjadi dasar hukum berdirinya Kadipaten Mangkunegaran, sebuah kerajaan pecahan kecil dari Kerajaan Mataram Islam akibat politik devide et impera Belanda.

Hm kalau disinggung tentang obyek terkenal berupa obyek wisata, jujur kalau menurut saya, Salatiga itu hanya ada sedikit obyek wisatanya. Kebanyakan berupa obyek wisata alam karena kontur geografisnya yang cukup mendukung untuk wisata semacam ini. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ada Kopeng yang menawarkan wisata pegunungan, selain itu ada juga wisata perkebunan di daerah Tlogo (Tuntang) dan Banaran (perkebunan kopi), pemancingan dan mata air di daerah Senjoyo dan Muncul. Padahal sebenarnya itu obyek-obyek itu tadi lebih tepatnya di daerah Kabupaten Semarang perbatasan dengan daerah Kota Salatiga he.

Walaupun sedikit obyek wisatanya, kota Salatiga dapat membuat orang nyaman berada di sana. Nuansanya yang masih asri dan sejuk khas daerah lereng pegunungan menjadikannya tempat yang cocok untuk peristirahatan atau tempat tinggal untuk menetap. Airnya masih murni dan jernih, rasanya juga dingin, makanya banyak obyek wisata perairan juga di sini. Penghijauan kota ini juga tampaknya masih dijaga dengan adanya pohon-pohon peneduh di sekitar jalanan. Ini yang membuat saya terkadang nyaman jalan ke sana ke mari walaupun di saat siang hari. Begitulah kealamian Salatiga yang telah membuat saya terpesona.

Dari segi kehidupan sosialnya pun, selama ini saya tidak pernah mendapati kejadian rusuh yang sampai sebegitunya terjadi di kota kecil ini. Di sini, relatif semuanya tenang, tertib, dan terkendali keadaannya. Ada berbagai macam keberagaman yang saya lihat dari berbagai macam suku, ras, agama, dan budaya. Bahkan, kalau menurut saya, budaya Salatiga adalah budaya campuran, tidak ada aslinya karena sudah tercampur-baur dengan perpaduan budaya yang ada. Really, this city has became so cozy according to myself.

Akan tetapi, bagaimana pun jua, kota ini juga memiliki beberapa kekurangan. Sentral ekonomi di sini masih dikuasai dan didominasi oleh masyarakat etnis Tionghoa. Sebenarnya sih tidak apa-apa dengan fenomena ini, asalkan dominasi tersebut dalam relatif kewajaran. Namun, saya lihat fenomena yang ada, malah semakin lama semakin memarjinalkan kalangan pribumi. Kita tentunya akan lebih bangga apabila sektor ekonomi daerah kita cukup berdaya dengan kekuatan sendiri, bukan dari kalangan pendatang. Tentunya saya juga mengharap demikian untuk kota saya ini.

Satu lagi fenomena yang membuat ironi. Gerakan kristiani terlihat begitu menonjol di kota saya ini, apalagi dengan adanya walikota yang agamanya juga kristen (walikota yang sebenarnya beragama Islam, tetapi sudah meninggal dunia dalam masa jabatan, sehingga digantikan oleh wakilnya kini yang beragama kristen tersebut). Hal ini juga ditunjang dengan adanya universitas kristen yang sangat terkenal dan memberikan pengaruh yang cukup kuat di Salatiga, yaitu UKSW. Saya ingat dulu banyak teman SMA saya yang muslim hanya karena terpukau dengan reputasi serta keterjangkauan universitas tersebut kemudian malah masuk kuliah di sana.

Fenomena ini mungkin muncul akibat masih kurangnya pengaruh Islam di kota saya ini. Menurut saya pribadi, pergerakan ormas-ormas Islam di sini masih kurang kentara hasilnya. Apalagi masyarakat Salatiga kebanyakan lebih berpaham nasionalis daripada agamis, sehingga celah ini juga yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan kristiani.

Timpangnya penerapan nilai agama dengan perubahan budaya juga semakin terasa di kota saya. Sempat beberapa waktu yang lalu, ada kasus pornografi yang dilakukan oleh pelajar dari kota saya. Ini merupakan indikasi kuat betapa semakin lama kota saya ini tercemari dengan budaya-budaya asing yang tidak baik. Jelas dengan adanya ini, seharusnya lebih ditekankan lagi filterisasi budaya dengan penerapan nilai agama yang lebih intens lagi di Salatiga.

Hal ini terkadang yang membuat saya berpikir, apa yang sudah saya lakukan untuk kebaikan kota saya tercinta ini. Di saat saya semakin menyadari kerentanan posisinya itu, saat itu pula saya tahu bahwa semakin lama semakin tipis kemungkinan saya dapat berkontribusi pada perubahan karena minimnya interaksi saya sekarang ini di sini.

Saya sebagai orang yang pernah tinggal lama di dalamnya hanya bisa berharap dan berdoa. Harapan saya agar Salatiga masih menjadi kota yang asri dan benar-benar mencerminkan semboyannya, yakni HATTI BERIMAN (sehat, tertib, bersih, indah, dan nyaman) dan juga doa yang tengah saya panjatkan agar Salatiga dipimpin oleh sosok yang amanah dan dapat memberikan perubahan yang lebih baik dengan adanya Pemilihan Walikota yang insya Alloh akan diselenggarakan pada bulan Mei 2011 mendatang.

Saat-saat seperti sekarang ini, bisa merasakan kenangan kembali bersama kota ini, sungguh begitu berharga. Adanya kemungkinan bahwa nantinya saya akan ditempatkan di tempat yang jauh dari Salatiga, membuat saya ingin memiliki waktu sebanyak mungkin yang saya bisa untuk berada di sini selama kesempatan itu masih ada. Keberadaan yang walau sejenak itu juga, saya inginkan menjadi hal yang bermanfaat, minimalnya untuk saya sendiri agar dapat merecharge kembali semangat.

Salatiga akan selalu ada di hati saya (wah, melo banget ya). Silakan berkunjung langsung ke kota ini apabila ada rasa penasaran untuk membuktikan apa yang telah saya tulis ini he. Insya Alloh kalau saya sedang berada di sini, saya bersedia menjadi guide tour untuk multiply-ers yang mampir he. Jadi inget juga, salah satu plesetan nama kota Salatiga dari teman SMA saya, yakni Salatiga itu Seoulotiga, saking dia juga begitu cinta dengan kota ini dan juga sedang seneng-senengnya dengan hal-hal berbau Korea. So, visit Seoulotiga ya hehehe… ^_^b

Salatiga, 18 Februari 2011, 23.32 (edited in 29 April 2013)

Iklan

31 thoughts on “inilah kota kesayanganku, salatiga

  1. hmm. berarti benar. Kata teman saya, Salatiga memang dijadikan sebagai pusat kristenisasi di Jawa Tengah.

    • jadi dulu tuh konsep tulisan ini dibuat tuh biar ada sisi positif dan juga negatif dari kota yang cantik ini…
      emang sih jatuhnya ke SARA-nya.
      hmm sepertinya butuh dibuat tulisan yang lebih fresh lagi dan lebih general lagi harusnya ya mas hehehe

  2. mas.. ojo sebut soal perbedaan agama dong!! wong salatiga itu paling toleran dalam mensikapi perbedaan lho..!! Sampeyan koyo’e dudu wong salatiga ya….

    • Justru kalau ada perbedaan pendapat mengenai bagaimana salatiga itu harusnya juga dapat ditoleransi kan? Ini adalah tulisan saya pendapat pribadi tentang salatiga. Pendapat belum tentu benar. Tulisan ini memang akan saya edit agar lebih diterima semua kalangan. Tetapi ya dengan komentar anda semacam ini saya kok jadinya merasa tidak ada toleransi dan malah mendiskreditkan penulis tidak tahu salatiga sama sekali? 🙂

    • kota salatiga mungkin agak terbatas dari fasilitas publik tetapi dengan diapit oleh dua kota besar di jateng ya kalau ndak ada sesuatu bisa ke semarang/solo 😁… kota yang relatif kecil tetapi aman nyaman tentram insya Allah.. selamat datang di salatiga

  3. perguruan silat e apa wae yo? mbiyen ono kancaku SMPN 3 jenenge triyono – silat Trenggani. nang Salatiga ono SH Winongo kah? Salam yo kanggo mantan dosen ku Pak Haryanto karo Bu Kristin nang FH – UKSW. sekalian kanggo Prapto & Retno – pengacara. yen sampeyan nang salatigo jo lali mampir ugo nang kopeng, muncul, bukit cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s