sekaliber september

Oktober sebentar lagi akan berlalu, namun kisah akanmu belum jua aku selesaikan. September, alasan apalagikah yang pantas aku utarakan untuk meminta maafmu yang sebenarnya bermuara pada satu persoalan belaka yang berlarut-larut, yakni kemalasanku untuk menuliskan kisah akanmu.

Ini bukan berarti setiap momen yang ada bersamamu telah kuabaikan begitu saja, September. Sungguh tak ada secuil pun niatan seperti itu muncul di benakku. Kau adalah spesial sebagaimana spesialnya tiap-tiap bulan yang sudah berlalu seperti  Januari dengan Hari-harinya, Februari dengan Memorinya, Maret dengan Retasannya, April dengan Kerikilnya, Mei dengan Kemilikannya, Juni dengan Kejutannya, Juli dengan Lilitannya, dan Agustus dengan Kekusutannya.  Sekaliber dirimu tak patut sekali aku abaikan untuk tak kuceritakan.

sekaliber septemberMomen-momen bersamamu terjadi dan nyatanya ia sekaliber dirimu, September. Ia tangguh, tahan banting, dan begitu sarat akan ujian yang membuktikan seberapa kuat dirinya. Simaklah kembali cerita bersama kita yang telah lewat dan jadilah nanti saat kubertemu kembali denganmu, kau akan tumbuh bahkan melampaui kemampuanmu yang sekaliber ini di saat ini…

1-2 September 2012, “Berlatih Pelayanan Prima”

Persiapan kantor percontohan ternyata masih belum usai jua. Bahkan pun masih banyak tahapan yang harus diselesaikan dalam tempo waktu yang singkat sebelum dideklarasikan secara tegas untuk status yang satu ini. Kali ini, tuntutan yang harus dipenuhi adalah adanya pelatihan pelayanan prima. Ya seperti itulah, September, kantor percontohan mengharuskan sumber daya manusia yang bekerja di dalamnya mempunyai pemahaman akan pelayanan prima dan mampu mengimplementasikannya dalam bekerja melayani tugas perbendaharaan.

Bertempatkan di Aula KPPN Padang, bersama seluruh pegawai KPPN Painan dan KPPN Padang, dengan disampaikan materi oleh pembicara dari Kanwil BRI Sumatera Barat, acara pelatihan ini berlangsung. Diri menempuh pembelajaran mengenai pelayanan prima yang sudah lazim diterapkan pada pelayanan perbankan yang terkenal sudah teruji dan bagaimana untuk menyesuaikannya ke dalam kultur budaya kerja kantor sendiri.

Hal-hal sederhana dalam pelayanan seperti etika bertemu dan berkomunikasi begitu ditekankan dalam pelatihan ini. Ternyata hal sederhana semacam inilah kemudian baru dipahami dan disadari apabila dilakukan dengan benar dan seoptimal mungkin akan memberikan efek samping pelayanan yang begitu prima sebagaimana yang diharapkan.

Ya, semangat pelayanan memang harus ada untuk hajat kantor percontohan ini. Tuntutan publik pada era sekarang ini tak hanya sekadar puas telah diberikan produk layanan atas hasil kerja, namun harus diberikan lebih dari itu untuk kinerja dan performa yang terbaik.

6 September 2012, “Interogasi Karena Suatu Surat”

Tiba-tiba saja, September, ada beberapa orang yang mendatangi kantor di tanggal enam. Engkau tentu masih ingat akan kejadian itu, bukan? Banyak orang yang bertanya-tanya akan maksud kedatangan tim ini, sampai-sampai menimbulkan berbagai macam praduga. Bahkan pun kemudian mereka meminta disediakan ruang khusus untuk wawancara dan setiap pegawai dipanggil satu demi satu berbincang dengan tim itu.

Ada apakah gerangan? Adakah sesuatu yang salah telah terjadi di kantor ini? Tak pernah kejadian semacam ini terjadi sebelumnya. Lazimnya pula jika ada tim semacam ini datang, mereka sudah memberitahukan sebelumnya maksud kedatangannya dan mengadakan tatap muka dengan seluruh pegawai menjelaskan agenda mereka. Namun kali ini hal itu tidak dilakukan.

Hingga kemudian tibalah giliranku setelah serentetan pegawai dipanggil dan diwawancara oleh mereka. Aku masuk ke dalam ruang khusus itu dan mereka pun akhirnya menyampaikan duduk persoalan alasan mengapa mereka ke kantor ini.

September, sungguh tak kusangka dan kaget mengetahui alasan mengapa mereka datang dan apa yang tengah mereka lakukan ternyata. Mereka mengungkapkan bahwa ada suatu surat dari salah seorang pegawai kantor ini yang ditujukan kepada Menteri Keuangan dan isinya mengenai laporan bahwa telah terjadinya konfrontasi antara dirinya dengan pimpinan kantor ini yang sudah berlalu dulu. Pada surat itu, pegawai itu terkesan begitu menyudutkan dan menyalahkan pimpinan atas terjadinya konfrontasi yang memalukan dulu itu.

Ah, sungguh terlalu. Padahal kukira permasalahan itu cukuplah dianggap sudah berlalu. Ternyata walau api konflik tidak tampak lagi di permukaan, bara-bara itu masih begitu menyala di dalamnya dan kini tampak kembali ke permukaan.

Dan kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Memang kalau ditelisik kembali masalah itu semua pihak ada salahnya. Namun kau tahu, September, siapa yang nyatanya kemudian menjadikan masalah ini semakin berlarut dan dikobar-kobarkan. Perilakunya yang semacam ini terasa benar kelewat batas dan terlihat begitu frontal menantang konflik lagi.

Ah, kau pun sendirinya sudah tahu. Orang yang sudah kita juluki sebagai Sang Penghasut ini memang terlalu banyak ulahnya meresahkan. Semoga kita terlindungi dari bahaya hasutannya itu.

8-9 September 2012, “Muaro Untuk yang Kesekian Kalinya”

Muaro adalah tempat favoritku memang, September. Berapa kali sudah kukunjunginya dan ia tetaplah memberikan kesan yang sama bagiku. Panjangnya bibir pantai, ombak yang tidak terlalu besar, bebatuan pemecah ombak, dan aktivitas nelayan di tempat itu adalah hal yang berkesan akannya. Ternyata dalam kesekian kalinya aku mengunjunginya baru kusadari selama ini Muaro menjadi tempatku berkelana dan menikmati sendiri. Cukup dengan diriku saja, tanpa ditemani siapa pun, terasa sangat kesan-kesan yang ada padanya.

Hingga kemudian, ajakan spesial travelmate membuatku mengunjunginya lagi. Kali ini tentu ada hal yang berbeda. Dengan ditemani spesial travelmate, maka aku tak sendiri di sana. Kesan dan pesona Muaro pun kami nikmati bersama, tak berkurang jika dibandingkan dengan kesan yang didapati saat sendiri, bahkan pun lebih dari itu. Ya, spesial travelmate-ku ini memang mampu membuat suatu perjalanan bernilai lebih. Terima kasih, Bapak J

10 September 2012, “Hasil yang Menggemparkan”

Memang tiada habisnya bahan cerita untuk mengutarakan hal-hal yang terjadi serangkaian dengan persiapan kantor percontohan. Engkau masih ingat akan betapa gemparnya hampir seluruh pegawai mengetahui hasil akan tes assessment kantor percontohan, bukan, September?

Ya, bagaimana tidak menggemparkan. Tes yang sudah berlalu di bulan Mei itu akhirnya terpampang jua bagaimana hasilnya. Tes yang menjadi momok sebagai kepatutan pegawai dalam menyandang status pegawai kantor percontohan tentu begitu penasaran ingin diketahui hasilnya oleh pegawai yang mengikutinya. Apalagi hasil tes ini baru keluar setelah berbulan-bulan lamanya semenjak tes ini telah berlangsung. Kau tentu ingat pula cerita dengan Maret dan April akan betapa tes ini dipersiapkan sebegitunya dengan proses pembelajaran yang intensif.

Gemparlah kemudian saat hasil itu dibaca oleh setiap pegawai. Ekspresi bahagia tampak mendominasi di antara mereka karena sebagian besar telah dinyatakan lulus. Walau ya ada kekecewaan yang jelas tersirat dengan masih adanya tiga orang yang mengalami ketidaklulusan.

Sebagaimana yang telah kuceritakan, aku tak perlu mengikuti tes yang dilakukan bulan Mei ini karena sudah dinyatakan lulus pada tes semacam ini sebelumnya. Jadi, ya pada kegemparan pengumuman ini tidak terlalu berimbas banyak padaku, September. Ketidaklulusan beberapa pegawai untuk tes ini juga ternyata akan dites ulang sebagai kesempatan untuk dapat dinyatakan lulus dan berhak sebagai pegawai kantor percontohan.

14 September2012, “Kekaguman yang Lain”

Berbicara tentang setiap momen bersama spesial travelmate juga sepertinya tidak akan habisnya untuk dibahas kembali. September, kau bisa mengingat kembali bagaimana momen berkesan kali ini terjadi. Ya, momen ini cukup unik karena ia bukanlah perjalanan yang kerap kami lakukan bersama. Momen ini terjadi berupa hadirnya dirinya bersama aku pada suatu undangan acara dari penjual warung favorit tempat nongkrong kami.

Tak kusangka, ternyata ia begitu sangat mementingkan untuk menghadirkan undangan yang ditujukan kepada kami dalam rangka peringatan hari kematian pihak keluarga dari penjual warung favorit kami. Beliau memberikan nasehat berharga kepadaku agar selalu mementingkan dipenuhinya suatu undangan karena itu merupakan salah satu hak Muslim yang harus dipenuhi. Kau tahu sendiri juga pastinya, September, ajaran agama memang mengajarkan demikian dan nasehat itu begitu praktisnya beliau terapkan di hadapanku.

Memang saat itu, kami datang terlambat karena salah informasi waktu. Namun, sambutan tuan rumah begitu hangat dan obrolan mengalir seperti biasanya kami nongkrong di warung mereka. Momen yang berkesan kemudian adalah saat spesial travelmate ini berinisiatif memimpin memberikan doa untuk almarhum walau acara sudah berakhir. Kata beliau, tujuan utama memenuhi undangan ini, yakni mendoakan almarhum yang diperingati kematiannya jangan sampai terlupa.

Ah, sungguh, September. Tak habis pikir bagaimana bisa ada orang seunik spesial travelmate yang satu ini. Beliau begitu mudah mengakrabkan diri dengan masyarakat sekitar dan kemudian memberikan pelajaran-pelajaran berharga dalam berinteraksi sosial. Betapa kekaguman ini sepertinya terus bertambah kepada dirinya dan ya tentu aku berharap sangat bisa mencontoh perilaku teladannya itu, September…

16 September 2012, “Perlunya Menenangkan Diri”

Kehidupan semakin terasa penat saat-saat tiap pertikaian terasa begitu menajam di tempat aku bekerja, September. Menenangkan diri atas gejolak-gejolak itu menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau tidak, bisa jadi aku ikut larut terjebak dalam himpitan kepenatan persoalan-persoalan yang ada, September.

Maka dari itu, pergi kembali bersama spesial travelmate menikmati Muaro di pagi hari, pergi menelusuri sungai dekat daerah Timbulun yang sedang dibangun kanal-kanal penahan banjirnya di sore hari, dan duduk sendiri menerawang pesona bintang-bintang gemerlapan di malam hari menjadi suatu langkah penetralisasi menenangkan diri atas gejolak yang tengah begitu tak ingin kualami terjadi ini.

Aku pun bisa kembali tenang dan mampu untuk bersiap diri menghadapi apa pun yang kemudian bisa terjadi di tengah gelayut konflik berkepanjangan ini. Semoga saja masih ada kekuatan hingga nantinya konflik ini kemudian bisa berakhir dengan baik.

18 September 2012, “Terkejar oleh Pekerjaan”

Aku kembali terkejar oleh sedemikian menumpuknya pekerjaaan yang harus diselesaikan dalam waktu segera, September. Ya aku akui memang sebelumnya tak kuperkirakan hal ini akan terjadi. Namun bagaimana lagi memang kondisi kemudian berubah dan hanya sedikit waktu untuk mempersiapkan. Kondisi berubah karena pimpinan kantor hendak menjalankan ibadah haji, sehingga kemudian setiap berkas yang harus beliau setujui sudah harus siap sebelum beliau berangkat.

Dan ternyata, September, dua hari sebelum keberangkatan beliau itulah aku dapati ada beban berkas yang sedemikian banyak untuk aku buat dan ajukan persetujuannya kepada beliau. Mau tak mau harus aku kerjakan karena persetujuan berkas itu tak dapat ditunda, apalagi berhubungan dengan keuangan yang mana juga menjadi hajat kepentingan banyak pihak terkait.

Maka, kemudian kau saksikan sendiri, September. Betapa baru kali inilah aku berdiam diri terlalu lama di kantor untuk mempersiapkan semua berkas itu hingga larut malam. Urusan ini pun juga tak bisa sembarang dibantu oleh pegawai yang lain, ada banyak dokumen yang memang sangat bergantung pada kedudukanku untuk penyusunannya. Jadilah, kesendirian dalam mengerjakan pekerjaan menumpuk ini terasa membebani pada awalnya. Namun, September, kau tahu kemudian aku menjalaninya dengan tenang dan santai, hingga akhirnya semua tuntutan pekerjaan itu alhamdulillah bisa selesai dengan sendirinya.

30 September 2012, “Sebelum Diperiksa Kembali”

Pekerjaan yang telah kulakukan pada tempo waktu tertentu akan menjalani proses pemeriksaan atas ketepatan dan kesesuaian dengan prosedur yang berlaku. Proses pemeriksaan inilah yang lebih lazim disebut dengan pembinaan oleh unit instansi atasan langsung. Pembinaan menjadi suatu momok yang dipersepsikan membebani karena segala dokumen dan berkas yang hendak diperiksa tentunya sudah dipastikan tidak ada masalah agar kemudian dilaporkan hasil yang memuaskan.

Kau tahu sendiri, September, bagaimana pola aku bekerja selama ini. Tampak masih sebegitunya serampangan dan belum teratur menemukan pola yang tepat. Sehingga, tentu berdampak pada belum beresnya dipersiapkan dokumen-dokumen itu untuk siap diperiksa. Ah, harusnya aku bersiap dari jauh-jauh hari dan mengubah pola bekerjaku ini agar tak perlu terlampau ribet mempersiapkan pemeriksaan ini dalam waktu yang terbilang singkat ini.

Semoga saja tidak ada masalah yang tak bisa ditangani kalau nantinya selama proses pembinaan ini berlangsung dan tentunya segalanya sudah siap untuk diperiksa oleh tim sebelum mereka melakukan proses ini.

***

Sekaliber itulah dirimu, September. Cerita bersamamu telah menyiratkan begitu banyak pergolakan entah itu suka atau duka terjadi. Sekaliber inilah yang harus dijalani dalam warna warni kehidupan yang semakin menegaskan semburatnya untuk dipahami dan dipelajari. Pada kisah ini, tersirat pesan bahwa hidup menuntut diri untuk lebih bertahan lagi menjadi sekaliber September atau lebih dari itu…

Painan, 30 Oktober 2012, 00.52

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s