lilitan juli

Tulislah semua yang sudah kita alami, Juli. Maka kau akan mengingat kembali bagaimana sungguh terasa bertubi-tubi lilitan demi lilitan yang ada dalam perjalanan kita bersama. Kita paham bahwa lilitan itu bisa menjadikan kian sulit menempuh perjalanan bernama kehidupan ini. Akan tetapi, bersamamu, Juli, kau jadikan aku lebih tangguh daripada apa yang kukira, hingga akhirnya perjalanan ini beralih pada tahapan yang selanjutnya.

Juli, walau perjalanan denganmu dihiasi lilitan, tetapi kau sebagaimana Februari dengan memorinya (Memori Februari), Maret dengan retasannya (Meretas Maret), April dengan kerikilnya (Kerikil April), Meiku tersayang (My May), dan Juni yang penuh kejutan (Kejutan Juni), kesemuanya itu merupakan satu bagian perpaduan dari harmonisasi kehidupan yang terus akan berjalan hingga menuju akhirnya kelak.

lilitan juliJuli, inilah kisah kita bersama…

1 Juli 2012, “Lilitan Perpisahan: Selamat Tinggal, Medan”

Tugas telah berakhir dan kesempatan untuk berkunjung di kota yang satu ini akhirnya sudah habis jua, Juli. Di kota ini, kita dapati pengalaman baru menyambangi daerah yang belum pernah kita jejaki sebelumnya. Kita berlagak seakan-akan seorang wisatawan yang begitu antusias menelusuri keunikan dan pesona-pesona dari kota yang satu ini. Medan memang patut dibilang sebagai kota yang besar di Pulau Sumatera ini. Tak hanya tentang menunaikan tugas semata, Medan telah memberikan kesan perjalanan dengan tempat-tempat baru dan jua ikatan silaturahim dengan beberapa kawan yang dulu begitu akrab di masa yang lampau.

Terima kasih, Medan. Semoga ada kesempatan lagi untuk menyambangimu. Selamat tinggal.

3-5 Juli 2012, “Lilitan Pekerjaan: Laporan Keuangan Kantor Semester I”

Setengah tahun sudah berlangsung tugas sebagai penjaga harta. Pada satu periode waktu inilah kemudian, Juli, kau tahu ada kewajiban yang harus dilaksanakan. Penyusunan Laporan Keuangan Kantor Semester I. Suatu tugas yang kita perkirakan menjadi hal yang berat mengingat waktu dan sumber daya yang begitu terbatas untuk mengerjakannya. Kita begitu terpacu oleh tuntutan, apalagi dari berbagai kehendak untuk dapat menyelesaikannya lebih cepat dari tenggat waktu yang telah ditentukan.

Ah, sungguh, Juli, aku tak dapat mengira kekuatan macam apa yang kemudian dapat mendorongku sehingga kemudian tak kusadari laporan itu tiba-tiba selesai begitu saja. Padahal kau tahu, dengan keadaanku yang baru saja selesai dari tugas di luar kota, tentu hanya mempunyai waktu teramat sedikit untuk dapat selesaikan semua itu. Tak disangka memang, walau kemudian laporan itu harus diperbaiki beberapa kali, tetapi merupakan pencapaian yang memuaskan dapat selesai lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Tentunya tak bisa diabaikan besar pengaruh dari kinerja anggota tim penyusun lainnya, tak hanya aku sendiri, dalam pembuatan laporan ini. Kerja sama menjadi satu hal yang penting agar suatu tugas dapat diselesaikan. Itu menjadi pembelajaran sekali bagiku, Juli…

14-15 Juli 2012, “Lilitan Perjalanan: Ke Lubuk Sikaping”

Dari satu tugas beralihlah pula ke tugas lainnya. Satu tugas selesai, menunggu sudah tugas selanjutnya. Begitulah demikian yang kita alami, Juli. Terasa sekali melilit semua tugas-tugas itu. Akan tetapi, di tengah serba lilitan itu, kita sadari ada begitu banyak pembelajaran atau hal baru yang kita dapatkan, bukan, Juli?

Kau tentu ingat akan perjalanan dalam suatu tugas menuju suatu kota bernama Lubuk Sikaping. Kota yang cukup jauh itu. Kau dapati bahwa dunia ini nyatanya begitu masih luas terhampar dan ada banyak daerah yang belum kita sambangi. Lubuk Sikaping, di sanalah kita kemudian menunaikan tugas selanjutnya, tak hanya sekadar bersenang-senang atau berwisata saja.

Studi antarkantor, inilah tugas yang kita emban di kota ini. Mempelajari bagaimana kantor di kota ini sudah menerapkan standar-standar dari kantor percontohan yang merupakan hajat besar instansi tempat kubekerja di tahun ini. Tak hanya itu tentunya, kita dapati bersama bertambahnya kenalan dari rekan sejawat dan pertukaran pengalaman yang bermanfaat. Tentang kotanya sendiri, tak begitu jauh berbeda dari Painan, kota kecil yang masih belum tersentuh oleh keramaian manusia dan alamnya tampak masih begitu asri…

21 Juli 2012, “Lilitan Perantauan: Ramadhan in Painan Chapter 2”

Inilah kali kedua, bukan lagi untuk pertama kalinya dalam merasakan nuansa Ramadhan di ranah rantau Minang ini. Kita dapati diri kita begitu lebih mempersiapkan diri karena sudah ada pengalaman pertama setahun lalu dalam menjalaninya. Kau dapat lihat, Juli, bahwa ada perbedaan dalam edisi kedua kali ini. Kau dapati diriku lebih berusaha mandiri, tak mau terlalu bergantung dengan orang lain. Walau memang dengan keputusan semacam itu, acapkali terasa berat bebanmu untuk menjalaninya. Sungguh Ramadhan di rantau edisi kedua ini merupakan suatu tantangan dan semoga saja kita dapat menjalaninya sebaik yang kita bisa, Juli…

24 Juli 2012, “Lilitan Cuaca: Malam yang Mencekam”

Juli, kau tentu ingat ada suatu malam mencekam yang kita alami bersama. Malam itu, hujan badai turun begitu menderu serbu di kota yang kita tinggali. Kita tak bisa berkutik, hanya diam di tempat perlindungan kita. Tak ada cahaya menerangi kala itu karena listrik dipadamkan. Cuaca sungguh menampakkan perubahan drastis dari yang semula dikira tak akan terjadi apa-apa.

Maka, kita dapati di keesokan pagi harinya, berita di media massa mulai menceritakan bahwa lilitan cuaca ini menimbulkan petaka di kota Padang dan sekitarnya. Banjir bandang telah terjadi akibat hujan badai semalam dan tentu ini menjadi ujian yang sangat berat bagi para penduduk di sana dalam menjalankan bulan nan suci ini.

Di kota yang kita tinggali, untung saja tak terjadi kerusakan atau petaka semacam itu. Akan tetapi, tetap saja, bukankah kita harusnya perih pula merasakan penderitaan para korban dan mampu memberikan pertolongan, pun sekecil-kecilnya doa, untuk mereka, bukan, Juli?

31 Juli 2012, “Lilitan Perseteruan: Kala Sang Penghasut Berulah Lagi”

Alur kisah parodi dunia kerja ternyata tak sudah cukup pada beberapa bagian yang sudah kita ketahui bersama, Juli. Ternyata, pada satu tokoh yang bernama Sang Penghasut itu, rasa-rasanya tak cukup baginya hanya sekadar tampil pada satu atau dua bagian babak belaka. Kali ini ia lebih menggelegarkan hasutannya, lebih menjadi-menjadi perangainya, dan lebih menunjukkan kehasutannya itu.

Hanyalah bermula pada suatu kekecewaan akan kebijakan tertentu dari pimpinan tempat kubekerja menjadi suatu bahan pancingan yang begitu menggoda bagi Sang Penghasut, Juli. Ia sangat memanfaatkan peluang itu dan menjadikan kondisi yang ada semakin keruh. Permusuhan semakin terlihat nyata. Emosi bergejolak bermain tiap antar satu lakon sama lain.

Juli, padahal kita sadar bulan nan penuh berkah ini tak seharusnya dihiasi semacam lilitan perseteruan ini. Sungguh terlalu. Dalam benak kita, selalu saja mempertanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi. Bagaimana manusia terlalu mengedepankan egonya. Bagaimana manusia terlalu menonjolkan emosinya. Bagaimana manusia terlalu merasa benar atas pendapatnya sendiri.

Dan dialah Sang Penghasut memang penyebab semua ini. Dia bagaikan serigala berbulu domba. Terlihat oleh kebanyakan orang, dia macam domba yang baik. Sosok yang dianggap memperjuangkan kepentingan bersama, menjunjung tinggi keadilan, dan berani lantang mengungkapkan apa yang ia anggap benar.

Namun, kita tahu, bulu dombanya kian lama kian menipis sehingga terlihat kulit aslinya sebagai serigala. Gigi taringnya semakin tajam dengan hasutannya. Seusai perseteruan itu pun, kau dapati bahwa dia semakin mengganas dengan hasutannya itu. Ceracau ocehan semakin mengaburkan sosok kedombaannya itu.

Yang mengherankan hingga sekarang adalah bagaimana ia berhasil dengan hasutannya itu dan banyak yang masih terpedaya akannya. Ia mampu menangkap kekecewaan-kekecewaan yang terpendam di benak tiap lakon dan kemudian ia kemas dengan cantik menjadi suatu bumbu perseteruan. Sungguh, Juli, hal demikian inilah yang menjadikanku kian takut dan menjauh dari dirinya. Bisa jadi di suatu saat nanti, taring hasutannya yang berbisa itu menusukku. Semoga saja tidak akan terjadi…

***

Juli, demikianlah lilitan-lilitan itu membelit perjalanan kita bersama. Lilitan itu memang terasa menyesakkan pada satu sisi, tetapi kita dapat pahami sekali lagi bahwa lilitan itulah yang menjadikan semakin belajar akan kehidupan ini. Hingga kemudian pada saatnya kita dapat terbebas dari lilitan itu dan menjadikan kita lebih leluasa lagi dalam menempuh perjalanan bersama, di saat itulah nanti seharusnya tak boleh kita lupakan jua lilitan-lilitan yang mendewasakan kita kini…

Painan, 13 Agustus, 22.41

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s