kusutnya agustus

Oh Agustus, kenapa kau begitu kusut? Apakah dunia telah berhasil membuatmu pening untuk berurusan dengannya? Saat bersamamu telah kulihat kian beragam hal yang telah terjadi pada dunia kita. Macam-macam rasa telah kita geluti bersama. Tentunya hal demikianlah yang menjadikanmu kusut sedemikian rupa kini. Aku maklumi itu.

Karena bila kau diperbandingkan dengan lainnya, seperti Hari-hari di Januari, Memori Februari, Meretas Maret, Kerikil April, My May, Kejutan Juni, Lilitan Juli, dirimu semakin lebih berwarna dari mereka. Waktu ternyata telah menjadikan dalam tiap beralihnya bulan,maka pengalaman hidup kan bertambah kaya dengan sendirinya…

kusutnya agustus4 Agustus 2012, “Monza, Teman Kelana Yang Baru”

Monza adalah suatu nama yang cantik, bukan, Agustus? Namun, nama yang cantik itu terkemas dalam fisik yang tangguh rupanya. Ketangguhannya akan diuji bersamaku karena ia akan menjadi teman kelana baruku. Ya, teman kelana baru, untuk lebih menikmati saat-saat yang ada di kota kecil rantau ini. Berkelana untuk menyusuri seluk-beluk tempat yang belum dikunjungi. Kupilih dia karena dia ramah pada lingkungan. Dia mampu meyakinkanku bahwa berkelana bersamanya akan memberikan nilai tambah tersendiri.

Tentu, sepeda baru yang memang nama jenis produknya Monza ini akan menjadi teman kelana yang sangat bermanfaat.

8 Agustus 2012, “Thanks Mulpid For Closing Blogging Section in MP!”

Apa salah ya, Agustus, kalau orang berbagi tulisan tentang cerita kehidupannya sendiri? Apa salah ya, Agustus, kalau orang menjalin suatu pertemanan di dunia maya melalui komentar-komentar percakapan? Apa salah ya, Agustus, kalau orang telah menjadi sedemikiannya nyaman untuk berinteraksi sehingga apa yang ada di dunia maya seakan begitu terasa pada dunia nyata?

Entahlah. Memang katanya kepentingan duniawi bisa membuat orang sudah tak pedulikan hal-hal semacam itu lagi. Baginya yang terpenting adalah bagaimana tujuan utamanya tercapai, jangan sampai hal-hal yang bukan fokus menjadi hal utama. Buang apa yang sudah tak diperlukan lagi, walau apa yang dibuang itu sebenarnya adalah hal yang sangat membuatnya berjaya di masa lampau.

Thanks Mulpid. Setidaknya memang apa yang hingga kini telah terasa bersamanya adalah suatu kenangan yang sangat berharga. Walau tetap saja tentunya, keputusan untuk tidak lagi tersedianya tempat untuk berbagi adalah suatu hal yang sangat disayangkan…

Satu Desember nanti, entah apa yang akan kita rasa di saat itu… Tanggal di mana semua interaksi yang telah begitu membekas dan berkesan akan terhapus sendirinya secara sepihak… L

14 Agustus 2012, “Tarawih yang Syahdu Bersamanya”

Di suatu malam pada bulan yang berkah ini akan menjadi hal yang akan kuingat terus nantinya, Agustus. Sebenarnya tidak ada yang spesial pada mulanya pada hari itu. Semuanya berjalan sebagaimana biasanya. Namun, kala beranjak malam, kau dapati bahwa kesibukan masih menggangguku hingga tak sempat bersiap untuk beralih fokus pada ibadah. Malam itu malam yang berbeda. Kau lihat aku baru pertama kalinya untuk terpaksa memilih ibadah di tempat bekerja.

Kecewa tentunya pada mulanya. Ah, kenapa urusan dunia lagi-lagi menggangguku hingga menjadi begini? Ya sudahlah kemudian, aku terima dan jalani saja nasib semacam ini. Malam itu hanya ada aku dan seorang sosok yang sudah dekat denganku. Kau tentu sudah mengenalnya, Agustus, sosok yang selalu kuceritakan sebagai sosok bukan travelmate biasa J…

Dia, ternyata memang sosok yang begitu membuatku semakin terperangah dan takjub kian hari. Dia sungguh pribadi yang istimewa, berbeda dengan tipikal orang pada seusianya. Di malam itu, Agustus, aku dapati dia menjadi imam bagiku untuk beribadah dan dia memberikanku nasehat-nasehat untuk kehidupan yang begitu mudah kucerna.

Sungguh, betapa bersyukur diri ini telah dipertemukan sosok yang spesial seperti dirinya…

16-17 Agustus 2012, “Menempuh Perjalanan Mudik”

Setiap orang wajar untuk mempunyai hasrat untuk kembali ke tempat di mana dulu ia dibesarkan dan tempat di mana orang-orang yang ia sayangi berada. Begitu pula denganku. Momen semacam menjelang hari raya yang mana orang berbondong-bondong untuk kembali ke kampung halamannya tentu menjadi hal yang dinanti-nanti. Aku, jelas juga begitu. Apalagi bagi seorang perantau yang terpisah jarak ribuan kilometer dari kampungnya.

Maka, ditempuhlah perjalanan untuk mudik kembali. Biaya, tenaga, dan waktu mungkin akan habis terkuras dengan sendirinya untuk hajat yang satu ini. Akan tetapi, kau tahu dan paham akan konsekuensi semacam ini adalah hal yang harus terasa karena ada hal berharga yang kau kejar untuk itu.

19 Agustus 2012, “Idul Fitri di Kota Lahir”

Apa yang berbeda pada hari raya di tahun ini? Bukankah selalu kita dapati hal-hal yang berjalan seperti tahun-tahun yang sebelumnya? Sholat Ied, sajian khas hari raya, ziarah dan mendoakan keluarga yang telah meninggal, silaturahim dengan keluarga dan tetangga, dan lainnya, bukan, Agustus?

Namun, kala dalam satu keluarga itu ada yang tidak lengkap, tentu terasa kehilangan. Di tahun ini, hari raya terasa sepi, Agustus, karena saudaraku tak berlebaran bersama. Dirinya berada di kota lain bersama dengan keluarga suaminya. Ah, suatu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa seorang wanita akan menjadi milik seorang pria dan keluarganya jika ia telah menikah. Kita dapat memahami itu dan menjadikan itu hal yang tidak apa-apa walau hingga kemudian aku harus beranjak kembali ke rantau, aku belum dapat menemuinya…

22 Agustus 2012, “Menyusuri Kenangan di Kota Lahir”

Sejenak saja di kota lahir menjadikan kita selalu penasaran seperti apakah kota ini berkembang selang waktu aku tak menyambangi dalam tempo yang lama. Agustus, kiranya Salatiga adalah suatu kota yang masih sama pada dasarnya, tetapi tetap saja kita melihat adanya perubahan di sana.

Kau dapati betapa megahnya Masjid Agung Darul Amal yang kini telah benar-benar jadi. Masjid yang dulunya hanya masjid kampus yang relatif sederhana kini telah berubah menjadi masjid ikon kota dengan kekhasan arsitekturnya dan kemegahannya yang belum tertandingi oleh masjid lainnya di kota ini. Di depan masjid ini, masih terbentang Lapangan Pancasila alun-alun kota yang menjadi tempat nyaman untuk rehat sejenak dan bercengkrama. Pepohonan yang rimbun dan berbagai macam kuliner makanan tersedia di sana.

Lalu, kau masih ingat kan, Agustus, akan keisengan kita mengunjungi kembali bangunan SMP tempat aku pernah bersekolah, SMP N 1 Salatiga. Ya, bangunan yang kini telah berwarna serba hijau itu tidak tampak terlalu kusam dengan gaya bangunan peninggalan jaman Belanda. Beberapa bangunan dan kelas baru tampak di kompleks sekolah itu yang dulu di masaku belum didirikan. Ah, sayang tak bisa kita masuki area kompleks itu karena pintu gerbang tertutup, jadi hanya penampilan luar saja yang bisa kita lihat. Semoga saja ada kesempatan untuk dapat berkunjung di dalamnya dan mengais-ais memori yang dulu pernah tertinggal di dalamnya.

Jalanan kota ini tak terlalu berubah pula. Masih senyaman yang dulu aku dapati. Cocok untuk seorang pejalan kaki yang tengah berhasrat menyusuri kenangannya di kota lahirnya.

22 Agustus 2012, “Thanks For Your Coffee, Dudes”

Mungkin hari semacam ini patut untuk disandangkan sebagai hari untuk mengenang memang. Tak hanya untuk menyusuri kenangan dengan sekadar jalan-jalan menyusuri kota, pada hari semacam ini ada kesempatan tak terduga untuk mengalirkan secara deras memori-memori yang tersimpan rapat.

Hari itu tak disangka sebelumnya ada ajakan untuk berkumpul bersama. Ya, berkumpul bersama teman-teman sekolahku dulu, Agustus. Ajakan yang begitu tiba-tiba dan spontan terjadi. Hari itu menjadi satu hari persis sebelum aku harus kembali ke perantauan dan mereka sudah tahu akan hal itu, oleh karenanya diusahakannya acara berkumpul bersama.

Ah, sungguh padahal tak terencana sekilas di benakku untuk mengagendakan berkumpul bersama teman semasa aku sekolah dulu, Agustus. Pada hari yang teralokasikan sejenak untuk hari raya ini, sebenarnya aku inginkan cukup untuk keluarga saja. Akan tetapi, mereka masih ingat akan diriku, Agustus. Sungguh kemudian, kesempatan semacam ini tak boleh kulewatkan. Aku jelasnya merasa tersanjung untuk masih dapat dikenang oleh mereka dan diajak berkumpul kembali.

Sajian kopi di malam itu oleh mereka kemudian menghantarkan obrolan-obrolan tentang kehidupan di masa lalu, masa di mana kami pernah bersama. Ah, begitu banyak cerita yang terlontar, bahkan pun ada kisah yang baru kuketahui di saat ini tentang mereka. Pembicaraan lebih pun didominasi oleh nuansa keceriaan dan gelak tawa akan kisah-kisah lampau yang diutarakan masing-masing. Pada tiap pribadi yang kini telah berubah entah secara fisik dan perilakunya, termasuk juga aku, kita dapati bahwa masing-masing masih menyimpan karakter kepribadiannya yang masih kuat sebagaimana yang dulu kukenal.

Meminum kopi sembari bermain kartu serta mengobrol kisah-kisah dulu di warung kopi hingga tengah malam tak terasa adalah hal yang baru kali ini aku lakukan bersama mereka. Canggung memang pada awalnya karena ini bukan hal yang lazim kulakukan, tetapi canggung itu tertutupi kemudian oleh aliran deras memori yang sangat menyenangkan bagiku untuk kurasakan kembali.

23 Agustus 2012, “Kembali ke Perantauan”

Hanya sementara saja, terhitung hanya beberapa hari saja, keberadaan diri di kota lahir untuk menikmati momen hari raya bersama orang yang disayangi, Agustus. Terasa pahit memang jika terus dipikirkan karena banyak orang lainnya yang mendapatkan kesempatan lebih lama untuk itu. Namun, kau ingatkan aku akan tanggung jawabku di rantau. Ya, aku harus kembali. Peranku cukup penting di sana sebagai penjaga harta. Keengganan yang sempat hinggap di benak diri ini harus segera ditepis. Anggaplah saja ini semacam pengorbanan dan tuntutan untuk lebih mengikhlaskan diri…

***

Begitulah, Agustus. Dengan aku utarakan cerita saat kita bersama ini, sudah terasa dan hadir kembali tiap-tiap dari kekusutan pada cerita itu. Kekusutan ini tak boleh kita biarkan seperti itu berketerusan. Kekusutan itu hendaknya kita uraikan kembali dan buat jalinan yang rapi. Jalinan yang rapi akan memudahkan kita mengambil pengalaman berharga dari setiap momen yang telah kita lalui bersama, Agustus.

Dan cerita ini adalah suatu bentuk untuk merapikan kekusutan bersamamu…

Painan, 14 September, 00.19

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s